assalamu'alaikum
perhatikan,,
btapa kita ini amat lemah?
perhatikan !
betapa kita ini amat kecil?
perhatikan !
kita ini makhluk yg terbatas kepandainnya,
kita ini amat miskin akn segalanya.
kita amat buruk terhadap penampilan hati.
kadang seuatu yg amat kita hina itu manjadi hal yg terbaik bgi kita...pernah sahabt alami itu ?
yahhhh,,, Allah itu adalah dzat yg tak mungkin akal ini dpat menterjemahkannya dlm bentuk real,,,atu imajinasi manusia.ia adalah dzat maha kuasa maha besar,,maha segalanya....
kita sebagai hamba hendaknya berpikir akn kematiannyg pastiakn datang menghampiri,,, sgala bentuk kenikmatan jasmani taw rohani akn habis waktunya,,,hendaknya kita berpikir dalam knpa bumi ini semkin rentan,pohon menjdi tua layu dan mati...dan knpa para binatang umurnya bnyak yang dipendekkan...
seharusnya kita lebih lebih dan lebih berpikir lagi.... knpa kita nanti akn hadapi yg namanya mati?
yah agar supaya kita berpikir lbih dalam kearah hati,bkan hnya dngan pikiran.
kita pasti akn mati dan tak ada obat atw sesuatu hal yg bisa menghalangi kdtangannya..
berpikir itu penting..!!
krena Allah menciptakan bumi dan isinya bgi mereka yg mau berpikir.
sahabt saatnya kita rubah pandangan hidup kita yang " selama masih muda dpke senang2"
agama,iman dan dirimu sebarnya telah terkoyak2 oleh setan yang terkutuk lagi jahannam...
jdikanlah motto hidup mu jdi "selama hidup akan ku persembahkan nyg terbaik,bgi Allah"
salam semangat dakwah salam !!!!
Friday, May 27, 2011
Thursday, May 26, 2011
Bunga Istimewa
Bunga adalah simbol kesegaran, keceriaan dan kebahagiaan. Bisa
jadi ada makna yang lebih dalam dari penamaan Rasulullah atas putri
tercintanya, Fatimah Az Zahra. Az Zahra sendiri berarti “bunga”. Tidaklah
mengherankan jika Fatimah menjadi anak yang paling disayang dibanding
saudara-saudara Fatimah lainnya. Hal itu terlihat dari ungkapan
Rasulullah, “Siapa yang membuatnya sedih, berarti juga membuat aku sedih,
dan barang siapa menyenangkannya, berarti menyenangkanku pula”.
“Bunga” Fatimah yang tumbuh dan berkembang dalam binaan langsung dari
ayahanda Rasul yang baik, lemah lembut dan terpuji menjadikannya seorang
gadis yang juga penuh kelembutan, berwibawa, mencintai kebaikan plus
akhlak terpuji meneladani sang ayah. Maka tidaklah aneh, bunga yang
dinisbatkan Rasul menjadi wanita penghulu surga itu menjadi primadona di
kalangan para sahabat Rasulullah.
Tercatat, beberapa sahabat utama seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab
pernah mencoba melamar Fatimah. Hanya saja, sayangnya dengan halus
Rasulullah menolak lamaran para sahabat itu. Hingga akhirnya datanglah Ali
bin Abi Thalib untuk meminang Fatimah. “Aku mendatangi Rasulullah untuk
meminang putri beliau, yaitu Fatimah. Aku berkata: Demi Allah aku tidak
memiliki apa-apa, namun aku ingat kebaikan Rasulullah, maka aku beranikan
diri untuk meminangnya”. Akhirnya, Rasulullah pun menerima pinangan Ali
meski hanya mempersembahkan baju besi al khuthaimah (yang juga merupakan
pemberian Rasul).
Fatimah adalah bunga yang terpelihara, tidak tanggung-tanggung yang
mendidik, membina, memeliharanya adalah manusia agung nan mulia Muhammad
Rasul Allah, yang memiliki segala keterpujian. Bunga yang indah dengan
segala keistimewaannya, harus dipelihara dan dijaga oleh orang yang
istimewa dan memiliki berbagai kelebihan pula, dalam hal ini Ali bin Abi
Thalib. Siapa yang meragukan kapasitas Abu Bakar dan Umar bin Khattab,
yang keduanya kemudian berturut-turut menjadi khalifah meneruskan
perjuangan kaum muslimin menggantikan Rasul. Lalu kenapa ayahanda sang
bunga itu menolaknya?
Pertanyaan selanjutnya, kenapa Ali yang hanya bermodalkan baju besi (yang
juga pemberian Rasul) menjadi pilihan Rasul untuk mendampingi Fatimah?
Meski memang Rasulullah yang paling tahu alasan itu (termasuk juga alasan
menolak pinangan dua sahabat yang juga istimewa), namun kita bisa melihat
sisi kelebihan dari Ali bin Abi Thalib, pemuda pemberani ini. Ali adalah
lelaki istimewa, masuk dalam assabiquunal awwaluun (golongan pertama yang
masuk Islam) dengan usia termuda. Soal keberanian, jangan pernah
menyangsikan lelaki satu ini. Perang badar yang diikuti oleh seluruh
manusia pemberani didikan Rasul, terselip satu lelaki muda yang dengan
gagahnya maju ke depan ketika seorang pemuka dan ahli perang kaum kafir
menantang untuk berduel. Meski awalnya dilecehkan karena dianggap masih
kecil, namun Ali dengan kehebatannya mampu mengalahkan musuh duelnya itu.
Tidak sampai disitu, yang membuat Rasulullah tak bisa melupakannya adalah
jasa besar dan keberanian Ali menggantikan Rasul tidur di pembaringannya
saat Rasulullah ditemani Abu Bakar menyelinap ke luar saat hijrah. Padahal
resikonya adalah mati terpenggal oleh balatentara kafir yang telah
mengepungnya.
Tentu masih banyak dan tidak akan cukup satu halaman untuk mencatat
kelebihan Ali yang menjadikannya begitu istimewa. Satu yang bisa kita
tangkap secara jelas, bahwa wanita istimewa memang dipersiapkan untuk
lelaki istimewa. Seperti halnya, “bunga” Fatimah yang hanya Ali bin Abi
Thalib yang diizinkan Rasulullah untuk memetiknya. Oleh karenanya, jangan
pernah berharap akan datangnya seseorang istimewa jika tak pernah
menjadikan diri ini istimewa. Wallahu a’lam bishshowaab
sumber : http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM
jadi ada makna yang lebih dalam dari penamaan Rasulullah atas putri
tercintanya, Fatimah Az Zahra. Az Zahra sendiri berarti “bunga”. Tidaklah
mengherankan jika Fatimah menjadi anak yang paling disayang dibanding
saudara-saudara Fatimah lainnya. Hal itu terlihat dari ungkapan
Rasulullah, “Siapa yang membuatnya sedih, berarti juga membuat aku sedih,
dan barang siapa menyenangkannya, berarti menyenangkanku pula”.
“Bunga” Fatimah yang tumbuh dan berkembang dalam binaan langsung dari
ayahanda Rasul yang baik, lemah lembut dan terpuji menjadikannya seorang
gadis yang juga penuh kelembutan, berwibawa, mencintai kebaikan plus
akhlak terpuji meneladani sang ayah. Maka tidaklah aneh, bunga yang
dinisbatkan Rasul menjadi wanita penghulu surga itu menjadi primadona di
kalangan para sahabat Rasulullah.
Tercatat, beberapa sahabat utama seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab
pernah mencoba melamar Fatimah. Hanya saja, sayangnya dengan halus
Rasulullah menolak lamaran para sahabat itu. Hingga akhirnya datanglah Ali
bin Abi Thalib untuk meminang Fatimah. “Aku mendatangi Rasulullah untuk
meminang putri beliau, yaitu Fatimah. Aku berkata: Demi Allah aku tidak
memiliki apa-apa, namun aku ingat kebaikan Rasulullah, maka aku beranikan
diri untuk meminangnya”. Akhirnya, Rasulullah pun menerima pinangan Ali
meski hanya mempersembahkan baju besi al khuthaimah (yang juga merupakan
pemberian Rasul).
Fatimah adalah bunga yang terpelihara, tidak tanggung-tanggung yang
mendidik, membina, memeliharanya adalah manusia agung nan mulia Muhammad
Rasul Allah, yang memiliki segala keterpujian. Bunga yang indah dengan
segala keistimewaannya, harus dipelihara dan dijaga oleh orang yang
istimewa dan memiliki berbagai kelebihan pula, dalam hal ini Ali bin Abi
Thalib. Siapa yang meragukan kapasitas Abu Bakar dan Umar bin Khattab,
yang keduanya kemudian berturut-turut menjadi khalifah meneruskan
perjuangan kaum muslimin menggantikan Rasul. Lalu kenapa ayahanda sang
bunga itu menolaknya?
Pertanyaan selanjutnya, kenapa Ali yang hanya bermodalkan baju besi (yang
juga pemberian Rasul) menjadi pilihan Rasul untuk mendampingi Fatimah?
Meski memang Rasulullah yang paling tahu alasan itu (termasuk juga alasan
menolak pinangan dua sahabat yang juga istimewa), namun kita bisa melihat
sisi kelebihan dari Ali bin Abi Thalib, pemuda pemberani ini. Ali adalah
lelaki istimewa, masuk dalam assabiquunal awwaluun (golongan pertama yang
masuk Islam) dengan usia termuda. Soal keberanian, jangan pernah
menyangsikan lelaki satu ini. Perang badar yang diikuti oleh seluruh
manusia pemberani didikan Rasul, terselip satu lelaki muda yang dengan
gagahnya maju ke depan ketika seorang pemuka dan ahli perang kaum kafir
menantang untuk berduel. Meski awalnya dilecehkan karena dianggap masih
kecil, namun Ali dengan kehebatannya mampu mengalahkan musuh duelnya itu.
Tidak sampai disitu, yang membuat Rasulullah tak bisa melupakannya adalah
jasa besar dan keberanian Ali menggantikan Rasul tidur di pembaringannya
saat Rasulullah ditemani Abu Bakar menyelinap ke luar saat hijrah. Padahal
resikonya adalah mati terpenggal oleh balatentara kafir yang telah
mengepungnya.
Tentu masih banyak dan tidak akan cukup satu halaman untuk mencatat
kelebihan Ali yang menjadikannya begitu istimewa. Satu yang bisa kita
tangkap secara jelas, bahwa wanita istimewa memang dipersiapkan untuk
lelaki istimewa. Seperti halnya, “bunga” Fatimah yang hanya Ali bin Abi
Thalib yang diizinkan Rasulullah untuk memetiknya. Oleh karenanya, jangan
pernah berharap akan datangnya seseorang istimewa jika tak pernah
menjadikan diri ini istimewa. Wallahu a’lam bishshowaab
sumber : http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM
Semesta pun Kehilangan Pelita Terindahnya
Semesta pun Kehilangan Pelita Terindahnya
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Nabi demam kembali, kini panasnya semakin tinggi. Lemah ia berbaring, menghadapkan wajah pada Fatimah anak kesayangan. Sudah beberapa hari terakhir, kesehatannya tidak lagi menawan. Senin itu, kediaman manusia paripurna didatangi seorang berkebangsaan Arab dengan wajah rupawan. Di depan pintu, ia mengucapkan salam "Assalamu alaikum duhai para keluarga Nabi dan sumber kerasulan, bolehkah saya menjumpai kekasih Allah?". Fatimah yang sedang mengurusi ayahnya, tegak dan berdiri di belakang pintu "Wahai Abdullah, Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri". Fatimah berharap tamu itu mengerti dan pergi, namun suara asing semula kembali mengucapkan salam yang pertama.
"Alaikumussalam, hai hamba Allah" kali ini Nabi yang menjawabnya.
"Anakku sayang, tahukah engkau siapakah yang kini sedang berada di luar?"
"Tidak tahu ayah, bulu kudukku meremang mendengar suaranya"
"Sayang, dengarkan baik-baik, di luar itu adalah dia, pemusnah kesenangan dunia, pemutus nafas di raga dan penambah ramai para ahli kubur". Jawaban nabi terakhir membuat fatimah jatuh terduduk. Fatimah menangis seperti anak kecil.
"Ayah, kapan lagi aku akan mendengar dirimu bertutur, harus bagaimana aku menuntaskan kerinduan kasih sayang engkau, tak akan lagi ku memandang wajah kesayangan ayahanda" pedih Fatimah. Nabi tersenyum, lirih ia memanggil " Sayang, mendekatlah, kemarikan pendengaranmu sebentar". Fatimah menurut, dan Kekasih Allah itu berbisik mesra di telinga anaknya, "Engkau adalah keluargaku yang pertama kali menyusul sebentar kemudian". Seketika wajah fatimah tidak lagi pasi tapi bersinar.
Lalu kemudian, Fatimah mempersilahkan tamu itu masuk. Malaikat pencabut maut berparas jelita itu pun kini berada di samping Muhammad.
"Assalamu alaikum ya utusan Allah" dengan takzim malaikat memberi salam.
"Salam sejahtera juga untukmu pelaksana perintah Allah, apakah tugasmu saat ini, berziarah ataukah mencabut nyawa si lemah?" tanya nabi. Angin berhembus dingin.
"Aku datang untuk keduanya, berziarah dan mencabut nyawamu, itupun setelah engkau perkenankan, jika tidak Allah memerintahkanku untuk kembali"
"Di manakah engkau tinggalkan Jibril? Duhai izrail?"
"Ia ku tinggal di atas langit dunia".
Tak lama kemudian, Jibril pun datang dan memberikan salam kepada seseorang yang juga dicintanya karena Allah.
"Ya Jibril, gembirakanlah aku saat ini" pinta Al-Musthafa.
Terdengar Jibril bersuara pelan di dekat telinga manusia pilihan, "Sesungguhnya pintu langit telah di buka, dan para Malaikat tengah berbaris menunggu sebuah kedatangan, bahkan pintu-pintu surga juga telah di lapangkan hingga terlihat para bidadari yang telah berhias menyongsong kehadiran yang paling ditunggu-tunggu".
"Alhamdulillah, betapa Allah maha penyayang" sendu Nabi, wajahnya masih saja pucat pasi.
"Dan Jibril, masukkan kesenangan dalam hati ini, bagaimana keadaan ummatku nanti".
"Aku beri engkau sebuah kabar akbar, Allah telah berfirman, "Sesungguhnya Aku, telah mengharamkan surga bagi semua Nabi, sebelum engkau memasukinya pertama kali, dan Allah mengharamkan pula sekalian umat manusia sebelum pengikutmu yang terlebih dahulu memasukinya" Jawaban Jibril itu begitu berpengaruh. Maha suci Allah, wajah Nabi dilingkupi denyar cahaya. Nabi tersenyum gembira. Betapa ia seperti tidak sakit lagi. Dan ia pun menyuruh malaikat izrail mendekat dan menjalankan amanah Allah.
Izrail, melakukan tugasnya. Perlahan anggota tubuh pembawa cahaya kepada dunia satu persatu tidak bergerak lagi. Nafas manusia pembawa berita gembira itu semakin terhembus jarang. Pandangan manusia pemberi peringatan itu kian meredup sunyi. Hingga ketika ruhnya telah berada di pusat dan dalam genggaman Izrail, nabi sempat bertutur, "Alangkah beratnya penderitaan maut". Jibril berpaling tak sanggup memandangi sosok yang selalu ia dampingi di segala situasi.
"Apakah engkau membenciku Jibril"
"Siapakah yang sampai hati melihatmu dalam keadaan sekarat ini, duhai cinta," jawabnya sendu.
Sebelum segala tentang manusia terindah ini menjadi kenangan, dari bibir manis itu terdengar panggilan perlahan "Ummatku Ummatku .". Dan ia pun dengan sempurna kembali. Nabi Muhammad Saw, pergi dengan tersenyum, pada hari senin 12 Rabi'ul Awal, ketika matahari telah tergelincir, dalam usia 63 tahun.
Muhammad, Nabi yang Ummi, Kekasih para sahabat di masanya dan di sepanjang usia semesta, meninggalkan gemilang cahaya kepada dunia. Muhammad, pemberi peringatan kepada semua manusia, menorehkan dalam-dalam tinta keikhlasan di lembaran sejarah. Muhammad, yang bersumpah dengan banyak panorama indah alam: "demi siang bila datang dengan benderang cahaya, demi malam ketika telah mengembang, demi matahari sepenggalah naik", telah membumbungkan Islam kepada cakrawala megah di angkasa sana. Ia, Muhammad, menembus setiap gendang telinga sahabatnya dengan banyak kuntum-kuntum sabda pengarah dalam menjalani kehidupan. Ia, Muhammad, yang di sanjung semua malaikat di setiap tingkatan langit, berbicara tentang surga, sebagai tebusan utama, bagi setiap amalan yang dikerjakan. Ia, Muhammad yang selalu menyayangi fakir miskin dan anak yatim, menggelorakan perintah untuk senantiasa memperhatikan manusia lain yang berkekurangan. Dan Ia, Muhammad, tak akan pernah kembali lagi.
Sungguh, Madinah berubah kelabu. Banyak manusia terlunta di sana.
Dan Aisyah ra, yang pangkuannya menjadi tempat singgah kepala Rasulullah di saat terakhir kehidupannya, menyenandungkan syair kenangan untuk sang penerang, suaranya bening. Syahdunya membumbung ke jauh angkasa. Beginilah Aisyah menyanjung sang Nabi yang telah pergi:
Wahai manusia yang tidak sekalipun mengenakan sutera,
Yang tidak pernah sejeda pun membaringkan raga pada empuknya tilam
Wahai kekasih yang kini telah meninggalkan dunia,
Ku tau perut mu tak pernah kenyang dengan pulut lembut roti gandum
Duhai, yang lebih memilih tikar sebagai alas pembaringan
Duhai, yang tidak pernah terlelap sepanjang malam karena takut sentuhan neraka Sa ir
Dan Umar r.a yang paling dekat dengan musuh di setiap medan jihad itu, kini menghunus pedang. Pedang itu menurutnya diperuntukkan untuk setiap mulut yang berani menyebut kekasih kesayangannya telah kembali kepada Allah. Umar tatap wajah-wajah para sahabat itu setajam mata pedangnya, meyakinkan mereka bahwa Umar sungguh-sungguh. Umar terguncang. Umar bersumpah. Umar berteriak lantang. Umar menjadi sedemikian garang. Ia berdiri di hadapan para sahabat yang terlunta-lunta menunggu kabar manusia yang dicinta.
Dan Abu Bakar, sahabat yang paling lembut hatinya, melangkah pelan menuju jasad manusia mulia. Langkahnya berjinjit, khawatir kan mengganggu seseorang yang tidur berkekalan, pandangannya lurus pada sesosok cinta yang dikasihinya sejak pertama berjumpa. Raga berparas rembulan itu kini bertutup kain selubung. Abu bakar hampir pingsan. Nafasnya berhenti berhembus, tertahan. Sekuat tenaga, ia bersimpuh di depan jasad wangi al-Musthafa. Ingin sekali membuka penutup wajah yang disayangi arakan awan, disanjung hembusan angin dan dielu-elukan kerlip gemintang, namun tangannya selalu saja gemetar. Lama Abu bakar termenung di depan jenazah pembawa berkah. Akhirnya, demi keyakinannya kepada Allah, demi matahari yang masih akan terbit, demi mendengar rintihan pedih ummat di luar, Abu bakar mengais sisa-sisa keberanian. Jemarinya perlahan mendekati penutup tubuh suci Rasulullah, dan dijumpailah, wajah yang tak pernah menjemukan itu. Abu bakar memesrai Nabi dengan mengecup kening indahnya. Hampir tak terdengar ia berucap, "Demi ayah dan bunda, indah nian hidupmu, dan indah pula kematianmu. Kekasih, engkau memang telah pergi". Abu bakar menunduk. Abu Bakar mematung. Abu Bakar berdoa di depan tubuh nabi yang telah sunyi.
Dan Bilal bin Rabah, yang suaranya selalu memenuhi udara Madinah dengan lantunan adzan itu, tak lagi mampu berseru di ketinggian menara mesjid. Suaranya selalu hilang pada saat akan menyebut nama kekasih Muhammad . Di dekat angkasa, seruannya berubah pekik tangisan. Tak jauh dari langit, suaranya menjelma isak pedih yang tak henti. Setiap berdiri kukuh untuk mengumandangkan adzan, bayangan Purnama Madinah selalu saja jelas tergambar. Tiap ingin menyeru manusia untuk menjumpai Allah, lidahnya hanya mampu berucap lembut, "Aku mencintaimu duhai Muhammad, aku merindukanmu kekasih". Bilal, budak hitam yang kerap di sanjung Nabi karena suara merdunya, kini hanya mampu mengenang Sang kekasih sambil menatap bola raksasa pergi di kaki langit.
Dan, terlalu banyak cinta yang menderas di setiap jengkal lembah madinah. Yang tak pernah bisa diungkapkan. Semesta menangis.
***
Sahabat, Sang penerang telah pergi menemui yang Maha tinggi. Purnama Madinah telah kembali, menjumpai kekasih yang merindui. Dan semesta, kehilangan pelita terindahnya. Saya mengenangmu ya Rasulullah, meski hanya dengan setitik tinta pena. Saya mengingatimu duhai pembawa cahaya dunia, meski hanya dengan selaksa kata. Dan saya meminjam untaian indah peredam gemuruh dada, yang dilafadzkan Hasan Bin Tsabit, salah seorang sahabat penyair dari masa mu:
Engkau adalah ke dua biji mata ini
Dengan kepergianmu yang anggun,
Aku seketika menjelma menjadi seorang buta
Yang tak perkasa lagi melihat cahaya
Siapapun yang ingin mati mengikutimu
Biarlah ia pergi menemui ajalnya,
Dan Aku,
Hanya risau dan haru dengan kepergian terindah mu
Sahabat, kenanglah Nabi Muhammad Saw, meski dalam kelengangan yang sempurna, agar hal ini menjadi obat ajaib, penawar dan penyembuh kegersangan hati yang kerap berkunjung. Agar, di akhirat kelak, dengan agung Nabi memanggil semua manusia yang senantiasa merindukan dan mencintainya. Adakah yang paling mempesona dihadapanmu, ketika suara suci Nabi menyapamu anggun, menjumpaimu dengan paras yang tak pernah kau mampu bayangkan sebelumnya. Adakah yang paling membahagiakan di kedalaman hatimu, ketika sesosok yang paling kau cinta sepenuh jiwa dan raga, berada nyata di dekatmu dan menemuimu dengan senyuman yang paling manis menembusi relung kalbu. Dan adakah di dunia ini yang paling menerbangkan perasaanmu ke angkasa, ketika jemari terkasih menggapaimu untuk memberikan naungan perlindungan dari siksa pedih azab neraka. Adakah sahabat???
Jika saat ini ada yang bening di kedua sudut kelopak matamu, berbahagialah, karena mudah-mudahan ini sebuah pertanda. Pertanda cinta tak bermuara. Dan, ketika kau tak dapati air mata saat ini, kau sungguh mampu menyimpan cinta itu di dasar hatimu.
Salam saya, untuk semua sahabat. Mari bersama bergenggaman, saling mengingatkan, saling memberikan keindahan ukhuwah yang telah Rasulullah tercinta ajarkan. Mari Sahabat!
sumber :http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Nabi demam kembali, kini panasnya semakin tinggi. Lemah ia berbaring, menghadapkan wajah pada Fatimah anak kesayangan. Sudah beberapa hari terakhir, kesehatannya tidak lagi menawan. Senin itu, kediaman manusia paripurna didatangi seorang berkebangsaan Arab dengan wajah rupawan. Di depan pintu, ia mengucapkan salam "Assalamu alaikum duhai para keluarga Nabi dan sumber kerasulan, bolehkah saya menjumpai kekasih Allah?". Fatimah yang sedang mengurusi ayahnya, tegak dan berdiri di belakang pintu "Wahai Abdullah, Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri". Fatimah berharap tamu itu mengerti dan pergi, namun suara asing semula kembali mengucapkan salam yang pertama.
"Alaikumussalam, hai hamba Allah" kali ini Nabi yang menjawabnya.
"Anakku sayang, tahukah engkau siapakah yang kini sedang berada di luar?"
"Tidak tahu ayah, bulu kudukku meremang mendengar suaranya"
"Sayang, dengarkan baik-baik, di luar itu adalah dia, pemusnah kesenangan dunia, pemutus nafas di raga dan penambah ramai para ahli kubur". Jawaban nabi terakhir membuat fatimah jatuh terduduk. Fatimah menangis seperti anak kecil.
"Ayah, kapan lagi aku akan mendengar dirimu bertutur, harus bagaimana aku menuntaskan kerinduan kasih sayang engkau, tak akan lagi ku memandang wajah kesayangan ayahanda" pedih Fatimah. Nabi tersenyum, lirih ia memanggil " Sayang, mendekatlah, kemarikan pendengaranmu sebentar". Fatimah menurut, dan Kekasih Allah itu berbisik mesra di telinga anaknya, "Engkau adalah keluargaku yang pertama kali menyusul sebentar kemudian". Seketika wajah fatimah tidak lagi pasi tapi bersinar.
Lalu kemudian, Fatimah mempersilahkan tamu itu masuk. Malaikat pencabut maut berparas jelita itu pun kini berada di samping Muhammad.
"Assalamu alaikum ya utusan Allah" dengan takzim malaikat memberi salam.
"Salam sejahtera juga untukmu pelaksana perintah Allah, apakah tugasmu saat ini, berziarah ataukah mencabut nyawa si lemah?" tanya nabi. Angin berhembus dingin.
"Aku datang untuk keduanya, berziarah dan mencabut nyawamu, itupun setelah engkau perkenankan, jika tidak Allah memerintahkanku untuk kembali"
"Di manakah engkau tinggalkan Jibril? Duhai izrail?"
"Ia ku tinggal di atas langit dunia".
Tak lama kemudian, Jibril pun datang dan memberikan salam kepada seseorang yang juga dicintanya karena Allah.
"Ya Jibril, gembirakanlah aku saat ini" pinta Al-Musthafa.
Terdengar Jibril bersuara pelan di dekat telinga manusia pilihan, "Sesungguhnya pintu langit telah di buka, dan para Malaikat tengah berbaris menunggu sebuah kedatangan, bahkan pintu-pintu surga juga telah di lapangkan hingga terlihat para bidadari yang telah berhias menyongsong kehadiran yang paling ditunggu-tunggu".
"Alhamdulillah, betapa Allah maha penyayang" sendu Nabi, wajahnya masih saja pucat pasi.
"Dan Jibril, masukkan kesenangan dalam hati ini, bagaimana keadaan ummatku nanti".
"Aku beri engkau sebuah kabar akbar, Allah telah berfirman, "Sesungguhnya Aku, telah mengharamkan surga bagi semua Nabi, sebelum engkau memasukinya pertama kali, dan Allah mengharamkan pula sekalian umat manusia sebelum pengikutmu yang terlebih dahulu memasukinya" Jawaban Jibril itu begitu berpengaruh. Maha suci Allah, wajah Nabi dilingkupi denyar cahaya. Nabi tersenyum gembira. Betapa ia seperti tidak sakit lagi. Dan ia pun menyuruh malaikat izrail mendekat dan menjalankan amanah Allah.
Izrail, melakukan tugasnya. Perlahan anggota tubuh pembawa cahaya kepada dunia satu persatu tidak bergerak lagi. Nafas manusia pembawa berita gembira itu semakin terhembus jarang. Pandangan manusia pemberi peringatan itu kian meredup sunyi. Hingga ketika ruhnya telah berada di pusat dan dalam genggaman Izrail, nabi sempat bertutur, "Alangkah beratnya penderitaan maut". Jibril berpaling tak sanggup memandangi sosok yang selalu ia dampingi di segala situasi.
"Apakah engkau membenciku Jibril"
"Siapakah yang sampai hati melihatmu dalam keadaan sekarat ini, duhai cinta," jawabnya sendu.
Sebelum segala tentang manusia terindah ini menjadi kenangan, dari bibir manis itu terdengar panggilan perlahan "Ummatku Ummatku .". Dan ia pun dengan sempurna kembali. Nabi Muhammad Saw, pergi dengan tersenyum, pada hari senin 12 Rabi'ul Awal, ketika matahari telah tergelincir, dalam usia 63 tahun.
Muhammad, Nabi yang Ummi, Kekasih para sahabat di masanya dan di sepanjang usia semesta, meninggalkan gemilang cahaya kepada dunia. Muhammad, pemberi peringatan kepada semua manusia, menorehkan dalam-dalam tinta keikhlasan di lembaran sejarah. Muhammad, yang bersumpah dengan banyak panorama indah alam: "demi siang bila datang dengan benderang cahaya, demi malam ketika telah mengembang, demi matahari sepenggalah naik", telah membumbungkan Islam kepada cakrawala megah di angkasa sana. Ia, Muhammad, menembus setiap gendang telinga sahabatnya dengan banyak kuntum-kuntum sabda pengarah dalam menjalani kehidupan. Ia, Muhammad, yang di sanjung semua malaikat di setiap tingkatan langit, berbicara tentang surga, sebagai tebusan utama, bagi setiap amalan yang dikerjakan. Ia, Muhammad yang selalu menyayangi fakir miskin dan anak yatim, menggelorakan perintah untuk senantiasa memperhatikan manusia lain yang berkekurangan. Dan Ia, Muhammad, tak akan pernah kembali lagi.
Sungguh, Madinah berubah kelabu. Banyak manusia terlunta di sana.
Dan Aisyah ra, yang pangkuannya menjadi tempat singgah kepala Rasulullah di saat terakhir kehidupannya, menyenandungkan syair kenangan untuk sang penerang, suaranya bening. Syahdunya membumbung ke jauh angkasa. Beginilah Aisyah menyanjung sang Nabi yang telah pergi:
Wahai manusia yang tidak sekalipun mengenakan sutera,
Yang tidak pernah sejeda pun membaringkan raga pada empuknya tilam
Wahai kekasih yang kini telah meninggalkan dunia,
Ku tau perut mu tak pernah kenyang dengan pulut lembut roti gandum
Duhai, yang lebih memilih tikar sebagai alas pembaringan
Duhai, yang tidak pernah terlelap sepanjang malam karena takut sentuhan neraka Sa ir
Dan Umar r.a yang paling dekat dengan musuh di setiap medan jihad itu, kini menghunus pedang. Pedang itu menurutnya diperuntukkan untuk setiap mulut yang berani menyebut kekasih kesayangannya telah kembali kepada Allah. Umar tatap wajah-wajah para sahabat itu setajam mata pedangnya, meyakinkan mereka bahwa Umar sungguh-sungguh. Umar terguncang. Umar bersumpah. Umar berteriak lantang. Umar menjadi sedemikian garang. Ia berdiri di hadapan para sahabat yang terlunta-lunta menunggu kabar manusia yang dicinta.
Dan Abu Bakar, sahabat yang paling lembut hatinya, melangkah pelan menuju jasad manusia mulia. Langkahnya berjinjit, khawatir kan mengganggu seseorang yang tidur berkekalan, pandangannya lurus pada sesosok cinta yang dikasihinya sejak pertama berjumpa. Raga berparas rembulan itu kini bertutup kain selubung. Abu bakar hampir pingsan. Nafasnya berhenti berhembus, tertahan. Sekuat tenaga, ia bersimpuh di depan jasad wangi al-Musthafa. Ingin sekali membuka penutup wajah yang disayangi arakan awan, disanjung hembusan angin dan dielu-elukan kerlip gemintang, namun tangannya selalu saja gemetar. Lama Abu bakar termenung di depan jenazah pembawa berkah. Akhirnya, demi keyakinannya kepada Allah, demi matahari yang masih akan terbit, demi mendengar rintihan pedih ummat di luar, Abu bakar mengais sisa-sisa keberanian. Jemarinya perlahan mendekati penutup tubuh suci Rasulullah, dan dijumpailah, wajah yang tak pernah menjemukan itu. Abu bakar memesrai Nabi dengan mengecup kening indahnya. Hampir tak terdengar ia berucap, "Demi ayah dan bunda, indah nian hidupmu, dan indah pula kematianmu. Kekasih, engkau memang telah pergi". Abu bakar menunduk. Abu Bakar mematung. Abu Bakar berdoa di depan tubuh nabi yang telah sunyi.
Dan Bilal bin Rabah, yang suaranya selalu memenuhi udara Madinah dengan lantunan adzan itu, tak lagi mampu berseru di ketinggian menara mesjid. Suaranya selalu hilang pada saat akan menyebut nama kekasih Muhammad . Di dekat angkasa, seruannya berubah pekik tangisan. Tak jauh dari langit, suaranya menjelma isak pedih yang tak henti. Setiap berdiri kukuh untuk mengumandangkan adzan, bayangan Purnama Madinah selalu saja jelas tergambar. Tiap ingin menyeru manusia untuk menjumpai Allah, lidahnya hanya mampu berucap lembut, "Aku mencintaimu duhai Muhammad, aku merindukanmu kekasih". Bilal, budak hitam yang kerap di sanjung Nabi karena suara merdunya, kini hanya mampu mengenang Sang kekasih sambil menatap bola raksasa pergi di kaki langit.
Dan, terlalu banyak cinta yang menderas di setiap jengkal lembah madinah. Yang tak pernah bisa diungkapkan. Semesta menangis.
***
Sahabat, Sang penerang telah pergi menemui yang Maha tinggi. Purnama Madinah telah kembali, menjumpai kekasih yang merindui. Dan semesta, kehilangan pelita terindahnya. Saya mengenangmu ya Rasulullah, meski hanya dengan setitik tinta pena. Saya mengingatimu duhai pembawa cahaya dunia, meski hanya dengan selaksa kata. Dan saya meminjam untaian indah peredam gemuruh dada, yang dilafadzkan Hasan Bin Tsabit, salah seorang sahabat penyair dari masa mu:
Engkau adalah ke dua biji mata ini
Dengan kepergianmu yang anggun,
Aku seketika menjelma menjadi seorang buta
Yang tak perkasa lagi melihat cahaya
Siapapun yang ingin mati mengikutimu
Biarlah ia pergi menemui ajalnya,
Dan Aku,
Hanya risau dan haru dengan kepergian terindah mu
Sahabat, kenanglah Nabi Muhammad Saw, meski dalam kelengangan yang sempurna, agar hal ini menjadi obat ajaib, penawar dan penyembuh kegersangan hati yang kerap berkunjung. Agar, di akhirat kelak, dengan agung Nabi memanggil semua manusia yang senantiasa merindukan dan mencintainya. Adakah yang paling mempesona dihadapanmu, ketika suara suci Nabi menyapamu anggun, menjumpaimu dengan paras yang tak pernah kau mampu bayangkan sebelumnya. Adakah yang paling membahagiakan di kedalaman hatimu, ketika sesosok yang paling kau cinta sepenuh jiwa dan raga, berada nyata di dekatmu dan menemuimu dengan senyuman yang paling manis menembusi relung kalbu. Dan adakah di dunia ini yang paling menerbangkan perasaanmu ke angkasa, ketika jemari terkasih menggapaimu untuk memberikan naungan perlindungan dari siksa pedih azab neraka. Adakah sahabat???
Jika saat ini ada yang bening di kedua sudut kelopak matamu, berbahagialah, karena mudah-mudahan ini sebuah pertanda. Pertanda cinta tak bermuara. Dan, ketika kau tak dapati air mata saat ini, kau sungguh mampu menyimpan cinta itu di dasar hatimu.
Salam saya, untuk semua sahabat. Mari bersama bergenggaman, saling mengingatkan, saling memberikan keindahan ukhuwah yang telah Rasulullah tercinta ajarkan. Mari Sahabat!
sumber :http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM
Kecintaannya kepda Rosullullah
Kecintaannya kepda Rosullullah
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Seperti yang dituturkan oleh al-Baghawi bahwa Tsauban adalah budak Rasulullah yang sangat cinta sekali pada beliau, tetapi sedikit kesabarannya. Suatu hari, saat Rasulullah menjumpainya, serta-merta raut wajahnya berubah.
Lalu Rasulullah bertanya padanya, ''Mengapa rona wajahmu berubah?'' Jawabnya, ''Saya tidak sakit, ya Rasulullah, kecuali hanya saya tidak dapat memandangmu. Saya merasa begitu sepi dan dicekam ketakutan yang luar biasa. Ketakutan dan kesepian itu baru hilang sampai saat saya berjumpa denganmu.
Lalu saya ingat pada akhirat dan saya pun kembali diliputi oleh rasa takut kalau-kalau saya tidak dapat melihat engkau karena engkau diangkat dan dikumpulkan dengan para Nabi lainnya. Sedangkan saya, jika saya masuk surga mungkin saya tidak bisa tinggal dekat denganmu. Namun, jika tidak masuk surga, tentu saya tidak akan dapat memandangmu lagi selama-lamanya.''
Setelah itu, turunlah ayat: ''Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang jujur, orang-orang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.'' (QS An-Nisa: 69).
Itulah sepenggal cerita cinta para sahabat kepada Nabinya. Sebuah cinta yang tulus suci, yang tiada tendensi dan kepentingan lain kecuali, rida Allah. Jauh sebelumnya, orang-orang Quraisy sangat terpesona pada penampilan Nabi. Keterpesonaan itu kian menguat setelah masyarakat Quraisy memeluk Islam, sehingga banyak berinteraksi dengan Nabi.
Untuk menjelmakan ketulusan cintanya itu, para sahabat tidak hanya mengorbankan tenaga, fisik, dan harta, tetapi juga mempersembahkan nyawa. Zaid bin Datsinah hanyalah contoh kecil dari para sahabat yang namanya terukir sebagai martir demi menebus cintanya pada Nabi.
Abu Sofyan, yang kala itu masih musyrik, berkata kepada Zaid bin Datsinah (yang akan dibunuh), ''Kau sangat hina Zaid! Sukakah kau, jika kini Muhammad menggantikan posisimu dengan dipenggal batang lehernya? Dan kau kembali bersama keluargamu?''
Jawab Zaid, ''Demi Allah! Aku tidak akan senang jika Nabi kini yang berada di tempatnya terkena duri sekalipun, sedang aku duduk bersama keluargaku!''
Mendengar jawaban itu, Abu Sofyan pun berujar, ''Tak pernah kulihat seorang manusia mencintai manusia lainnya, seperti para sahabat Muhammad mencintai Muhammad.''
Kini bandingkan dengan cinta kita. Alih-alih mengorbankan nyawa, kadang mengamalkan sunahnya pun kita enggan.
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Seperti yang dituturkan oleh al-Baghawi bahwa Tsauban adalah budak Rasulullah yang sangat cinta sekali pada beliau, tetapi sedikit kesabarannya. Suatu hari, saat Rasulullah menjumpainya, serta-merta raut wajahnya berubah.
Lalu Rasulullah bertanya padanya, ''Mengapa rona wajahmu berubah?'' Jawabnya, ''Saya tidak sakit, ya Rasulullah, kecuali hanya saya tidak dapat memandangmu. Saya merasa begitu sepi dan dicekam ketakutan yang luar biasa. Ketakutan dan kesepian itu baru hilang sampai saat saya berjumpa denganmu.
Lalu saya ingat pada akhirat dan saya pun kembali diliputi oleh rasa takut kalau-kalau saya tidak dapat melihat engkau karena engkau diangkat dan dikumpulkan dengan para Nabi lainnya. Sedangkan saya, jika saya masuk surga mungkin saya tidak bisa tinggal dekat denganmu. Namun, jika tidak masuk surga, tentu saya tidak akan dapat memandangmu lagi selama-lamanya.''
Setelah itu, turunlah ayat: ''Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang jujur, orang-orang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.'' (QS An-Nisa: 69).
Itulah sepenggal cerita cinta para sahabat kepada Nabinya. Sebuah cinta yang tulus suci, yang tiada tendensi dan kepentingan lain kecuali, rida Allah. Jauh sebelumnya, orang-orang Quraisy sangat terpesona pada penampilan Nabi. Keterpesonaan itu kian menguat setelah masyarakat Quraisy memeluk Islam, sehingga banyak berinteraksi dengan Nabi.
Untuk menjelmakan ketulusan cintanya itu, para sahabat tidak hanya mengorbankan tenaga, fisik, dan harta, tetapi juga mempersembahkan nyawa. Zaid bin Datsinah hanyalah contoh kecil dari para sahabat yang namanya terukir sebagai martir demi menebus cintanya pada Nabi.
Abu Sofyan, yang kala itu masih musyrik, berkata kepada Zaid bin Datsinah (yang akan dibunuh), ''Kau sangat hina Zaid! Sukakah kau, jika kini Muhammad menggantikan posisimu dengan dipenggal batang lehernya? Dan kau kembali bersama keluargamu?''
Jawab Zaid, ''Demi Allah! Aku tidak akan senang jika Nabi kini yang berada di tempatnya terkena duri sekalipun, sedang aku duduk bersama keluargaku!''
Mendengar jawaban itu, Abu Sofyan pun berujar, ''Tak pernah kulihat seorang manusia mencintai manusia lainnya, seperti para sahabat Muhammad mencintai Muhammad.''
Kini bandingkan dengan cinta kita. Alih-alih mengorbankan nyawa, kadang mengamalkan sunahnya pun kita enggan.
Renungan untuk kita semua
Renungan untuk kita semua
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Saudaraku, Sesungguhnya Allah maha adil. Apapun yang Allah berikan kepada kita saat ini, tentunya Dia yang lebih tahu apa yang kita butuhkan untuk menjalani hidup. Apapun yang tidak kita miliki saat ini, seharusnya kita yakini, bahwa kita belum membutuhkannya sekarang, karena pada akhirnya, kita akan menyadari hikmah dari setiap takdir-Nya.
Dia memberikan kelebihan kepada satu manusia dan kelebihan pada manusia yang lainnya. Demikian juga dengan kekurangan, tak ada satu manusia yang tak memiliki kekurangan pada dirinya. Namun kelebihan manusia yang satu terhadap lainnya, sesunggunya terletak pada bagaimana mensikapi kelebihan dan kekurangan tersebut. Sering kali manusia mengumpat atas kekurangan yang diterimanya, padahal pada saat bersamaan, sejumlah kelebihan ia miliki, namun tak pernah disyukurinya.
Saat ini, cobalah menengok kembali perjalanan kita di dunia. Lahir tanpa memiliki apapun, tak bersepatu dan berpakaian. Kini, satu lemari pakaian kita punya. Kenapa? Waktu itu kita belum membutuhkan sepatu dan pakaian bagus. Dulu kita sangat menikmati berjalan kaki atau berdesakan dalam bus, dan kini setelah memiliki kendaraan pribadi, kemudian berpikir, karena dulu belum merasa perlu untuk memiliki kendaraan sendiri. Kuncinya adalah, bagaimana setiap kita menikmati setiap pemberian yang Allah berikan pada kita saat ini dan mensyukurinya. Jika tidak, tak kan pernah nikmat lainnya menghampiri kita, karena janji-Nya memang demikian. Wallahu a’lam bishshowaab
sumber : http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM/
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Saudaraku, Sesungguhnya Allah maha adil. Apapun yang Allah berikan kepada kita saat ini, tentunya Dia yang lebih tahu apa yang kita butuhkan untuk menjalani hidup. Apapun yang tidak kita miliki saat ini, seharusnya kita yakini, bahwa kita belum membutuhkannya sekarang, karena pada akhirnya, kita akan menyadari hikmah dari setiap takdir-Nya.
Dia memberikan kelebihan kepada satu manusia dan kelebihan pada manusia yang lainnya. Demikian juga dengan kekurangan, tak ada satu manusia yang tak memiliki kekurangan pada dirinya. Namun kelebihan manusia yang satu terhadap lainnya, sesunggunya terletak pada bagaimana mensikapi kelebihan dan kekurangan tersebut. Sering kali manusia mengumpat atas kekurangan yang diterimanya, padahal pada saat bersamaan, sejumlah kelebihan ia miliki, namun tak pernah disyukurinya.
Saat ini, cobalah menengok kembali perjalanan kita di dunia. Lahir tanpa memiliki apapun, tak bersepatu dan berpakaian. Kini, satu lemari pakaian kita punya. Kenapa? Waktu itu kita belum membutuhkan sepatu dan pakaian bagus. Dulu kita sangat menikmati berjalan kaki atau berdesakan dalam bus, dan kini setelah memiliki kendaraan pribadi, kemudian berpikir, karena dulu belum merasa perlu untuk memiliki kendaraan sendiri. Kuncinya adalah, bagaimana setiap kita menikmati setiap pemberian yang Allah berikan pada kita saat ini dan mensyukurinya. Jika tidak, tak kan pernah nikmat lainnya menghampiri kita, karena janji-Nya memang demikian. Wallahu a’lam bishshowaab
sumber : http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM/
Renungan hari ini Amanah adalah tanggung jawab
Renungan hari ini Amanah adalah tanggung jawab
oleh KATA MUTIARA ISLAM
PADA suatu hari ketika sedang berkecamuk Perang Uhud, Rasulullah
mengangkat pedang, lalu bersabda kepada para sahabat yang ada waktu itu,
"Siapakah di antara kalian yang mau menerima dan menggunakan pedang
ini?"
Para sahabat hampir semua mengulurkan tangannya seraya berkata, "Saya,
saya," sahut mereka.
Melihat reaksi para sahabat demikian kemudian Rasulullah bersabda lagi
dengan suara agak tinggi, "Siapakah di antara kalian yang mau menerima
dan menggunakan pedang ini dengan penuh tanggung jawab"?
Karena disertai dengan kata-kata tanggung jawab, untuk beberapa saat
tidak ada yang menjawab. Akan tetapi, tidak terlalu lama, kemudian Abu
Dujanah salah seorang di antara mereka yang duduk cukup jauh dari
baginda Rasul, berteriak sambil berkata, "Wahai utusan Allah insya Allah
saya mau menerimanya dengan penuh tanggung jawab".
Tanpa berpikir kembali kemudian Rasulullah memberikan pedang tersebut
kepadanya sambil berkata, "Semoga engkau bisa menggunakannya dengan
sebaik-baiknya".
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada peperangan tersebut Abu
Dujanah berhasil memenggal leher orang-orang musyrik yang akan
membahayakan kaum Muslimin.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Dujanah adalah seorang sahabat
Rasul yang tidak begitu populer di kalangan kaum Muslimin. Kalau
kebetulan Rasulullah mengadakan suatu musyawarah dengan para sahabat
yang lainnya tentang sesuatu hal, Abu Dujanah senantiasa mengikutinya
dengan baik, ia memiliki perhatian besar terhadap keselamatan kaum
Muslimin dan perjuangan Rasulullah sekalipun kalau ada
musyawarah/pertemuan tertentu duduknya selalu berjauhan dengan baginda
Rasul.
Abu Dujanah menerima pedang dari Rasulullah dalam keadaan kritis dan
krisis sehingga ini merupakan amanah yang cukup berat. Ia tahu memegang
pedang bukan untuk tidak berbuat apa-apa, hanya sensasi atau hanya untuk
membela diri sendiri yang kemudian disalahgunakan. Akan tetapi, ia harus
berbuat banyak untuk kepentingan bersama, kepentingan kaum Muslimin
bahkan kalau perlu ia harus berani memenggal leher musuh yang
nyata-nyata memang akan membahayakan Rasulullah dan kaum Muslimin.
Demikian prinsip Abu Dujanah.
Dari cerita singkat di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa pertama
memilih pemimpin yang betul-betul bertanggung jawab itu memang susah.
Kedua, bagi kaum Muslimin dalam memilih seseorang yang akan memangku
jabatan atau kedudukan tertentu, harus betul-betul pandai memilih orang
yang profesional, amanah, memiliki visi dan misi yang jelas, setiap
kebijakannya siap untuk dipertanggungjawabkan baik kepada yang
memilihnya itu sendiri, atau kepada Allah SWT.
Ketiga, dalam memilih orang yang akan memangku jabatan tertentu, tidak
mesti orang yang hanya memiliki kepopuleran dan terkenal, sementara
kemampuannya masih dipertanyakan.
Keempat, dalam konteks lain Rasulullah pernah mewanti-wanti kepada kita
bahwa dalam suatu proses pemilihan pemimpin, jangan sekali-kali suaramu
diberikan (memilih) kepada calon pemimpin yang terlalu ambisius.
Adalah diri sendiri, pemimpin keluarga, pemimpin masyarakat termasuk
pemimpin bangsa dan negara merupakan amanah yang mau tidak mau, senang
ataupun tidak, akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Mahkamah
Yang Mahaagung Allah SWT. Yang tidak mungkin ada kekeliruan yang benar
menjadi salah, yang salah menjadi benar, manipulasi data, laporan
fiktif, dan lain sebagainya.
Setiap perkara yang diajukan kepadaNya didasarkan kepada laporan
jaringan makro yang bernilai kontrol lensa Sunatullah. Bukan hanya
kiprah lahiriah, tetapi bisikan batin yang paling halus di dasar kalbu
pun bisa dideteksi secara cermat dan akurat.
Oleh karena itu, pandai-pandailah dalam memilih pemimpin dan
hati-hatilah apabila hendak memegang amanah. Wallahu 'alam bi
al-shawab.***
sumber : http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM/
oleh KATA MUTIARA ISLAM
PADA suatu hari ketika sedang berkecamuk Perang Uhud, Rasulullah
mengangkat pedang, lalu bersabda kepada para sahabat yang ada waktu itu,
"Siapakah di antara kalian yang mau menerima dan menggunakan pedang
ini?"
Para sahabat hampir semua mengulurkan tangannya seraya berkata, "Saya,
saya," sahut mereka.
Melihat reaksi para sahabat demikian kemudian Rasulullah bersabda lagi
dengan suara agak tinggi, "Siapakah di antara kalian yang mau menerima
dan menggunakan pedang ini dengan penuh tanggung jawab"?
Karena disertai dengan kata-kata tanggung jawab, untuk beberapa saat
tidak ada yang menjawab. Akan tetapi, tidak terlalu lama, kemudian Abu
Dujanah salah seorang di antara mereka yang duduk cukup jauh dari
baginda Rasul, berteriak sambil berkata, "Wahai utusan Allah insya Allah
saya mau menerimanya dengan penuh tanggung jawab".
Tanpa berpikir kembali kemudian Rasulullah memberikan pedang tersebut
kepadanya sambil berkata, "Semoga engkau bisa menggunakannya dengan
sebaik-baiknya".
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada peperangan tersebut Abu
Dujanah berhasil memenggal leher orang-orang musyrik yang akan
membahayakan kaum Muslimin.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Dujanah adalah seorang sahabat
Rasul yang tidak begitu populer di kalangan kaum Muslimin. Kalau
kebetulan Rasulullah mengadakan suatu musyawarah dengan para sahabat
yang lainnya tentang sesuatu hal, Abu Dujanah senantiasa mengikutinya
dengan baik, ia memiliki perhatian besar terhadap keselamatan kaum
Muslimin dan perjuangan Rasulullah sekalipun kalau ada
musyawarah/pertemuan tertentu duduknya selalu berjauhan dengan baginda
Rasul.
Abu Dujanah menerima pedang dari Rasulullah dalam keadaan kritis dan
krisis sehingga ini merupakan amanah yang cukup berat. Ia tahu memegang
pedang bukan untuk tidak berbuat apa-apa, hanya sensasi atau hanya untuk
membela diri sendiri yang kemudian disalahgunakan. Akan tetapi, ia harus
berbuat banyak untuk kepentingan bersama, kepentingan kaum Muslimin
bahkan kalau perlu ia harus berani memenggal leher musuh yang
nyata-nyata memang akan membahayakan Rasulullah dan kaum Muslimin.
Demikian prinsip Abu Dujanah.
Dari cerita singkat di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa pertama
memilih pemimpin yang betul-betul bertanggung jawab itu memang susah.
Kedua, bagi kaum Muslimin dalam memilih seseorang yang akan memangku
jabatan atau kedudukan tertentu, harus betul-betul pandai memilih orang
yang profesional, amanah, memiliki visi dan misi yang jelas, setiap
kebijakannya siap untuk dipertanggungjawabkan baik kepada yang
memilihnya itu sendiri, atau kepada Allah SWT.
Ketiga, dalam memilih orang yang akan memangku jabatan tertentu, tidak
mesti orang yang hanya memiliki kepopuleran dan terkenal, sementara
kemampuannya masih dipertanyakan.
Keempat, dalam konteks lain Rasulullah pernah mewanti-wanti kepada kita
bahwa dalam suatu proses pemilihan pemimpin, jangan sekali-kali suaramu
diberikan (memilih) kepada calon pemimpin yang terlalu ambisius.
Adalah diri sendiri, pemimpin keluarga, pemimpin masyarakat termasuk
pemimpin bangsa dan negara merupakan amanah yang mau tidak mau, senang
ataupun tidak, akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Mahkamah
Yang Mahaagung Allah SWT. Yang tidak mungkin ada kekeliruan yang benar
menjadi salah, yang salah menjadi benar, manipulasi data, laporan
fiktif, dan lain sebagainya.
Setiap perkara yang diajukan kepadaNya didasarkan kepada laporan
jaringan makro yang bernilai kontrol lensa Sunatullah. Bukan hanya
kiprah lahiriah, tetapi bisikan batin yang paling halus di dasar kalbu
pun bisa dideteksi secara cermat dan akurat.
Oleh karena itu, pandai-pandailah dalam memilih pemimpin dan
hati-hatilah apabila hendak memegang amanah. Wallahu 'alam bi
al-shawab.***
sumber : http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM/
Renungan hari ini
Renungan hari ini
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Bila Rumah Tangga Cinta Dunia
”Dan tiadalah kehidupan di dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesunguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui” Al-Ankabut ayat 64
Seakan telah menjadi bagian yang sangat standar dari skenario kehidupan ini, bahwa hampir sepanjang rentang usia dunia hingga saat ini, betapa banyak orang yang selama hidupnya begitu disibukkan oleh kerja keras, peras keringat banting tulang dalm mencari penghidupan, persis seperti ketakutan tidak kebagian makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpul-kumpulkan dan ditimbun dengan seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.
Ada juga orang yang dalam hidupnya teramat merindukan penghargaan dan penghormatan, sehingga hari-harinya begitu disibukan dengan memperindah rumah, mematut-matut diri, membeli aneka asesori, dan sebagainya, yang semua itu notabene dilakukan semata-mata ingin dihargai orang.
Inilah fenomena kehidupan yang menunjukan betapa manusia dalam kehidupannya akan selalu berpeluang dekat dengan hawa nafsu yan merugikan. Oleh sebab itu, bagi siapa pun yang berniat mengayuh bahtera rumah tangga, hendaknya jangan membayangkan rumah tangga akan beroleh kebahagiaan dan ketenangan bila hanya dipenuhi dengan hal-hal duniawi belaka. Karena, segala asesoris duniawi diberikan oleh Alloh kepada orang yang terlaknat sekalipun.
Sekiranya tujuan sebuah rumah tangga hanya duniawi belaka, maka batapa para penghuninya akan merasakan letih lahir batin karena energinya akan lebih banyak terkuras oleh segala bentuk pemikiran tentang taktik dan siasat, serta nafsu menggebu untuk mengejar-ngejarnya terus menerus siang malam. Padahal, apa yang didapatkannya tak lebih dari apa yang telah ditetapkan Alloh untuknya. Walhasil, hari-harinya akan terjauhkan dari ketenteraman batin dan keindahan hidup yang hakiki karena tak ubahnya seorang budak. Ya, budak dunia !
Alloh ‘Azza wa jalla memang telah berfirman untuk siapa pun yang menyikapi dunia dengan cara apa pun : cara hak maupun cara bathil. “Hai dunia, titah-Nya, “ladeni orang yang sungguh-sungguh mengabdikan dirinya kepada-Ku. Akan tetapi sebaliknya, perbudak orang yang hidupnya hanya menghamba kepada-Mu” !
Rumah tangga yang hanya ingin dipuji karena asesoris duniawi yang dimilikinya, yang sibuk hanya menilai kebahagiaan dan kemuliaan datang dari perkara duniawi, adalah rumah tangga yang pasti akan diperbudak olehnya.
Rumah tangga yang tujuannya hanya Alloh, ketika mendapatkan karunia duniawi, akan bersimpuh penuh rasa syukur kehadiratnya. Sama sekali tidak akan pernah kecewa dengan seberapa pun yang Alloh berikan kepada-Nya. Demikian pun manakala Alloh mengamininya kembali dari tangannya, sekali-kali tiidak akan pernah kecewa karena yakin bahwa semua ini hanyalah titipannya belaka.
Pendek kata adanya duniawi di sisinya tidak membuatnya sombong tiadanya pun tiada pernah membuatnya menderita dan sengsara, apalagi jadi merasa rendah diri karenanya. Lebih-lebih lagi dalam hal ikhtiar dalam mendapatkan karunia duniawi tersebut. Baginya yang penting bukan perkara dapat atau tidak dapat, melainkan bagaimana agar dalam rangka menyongsong hati tetap terpelihara, sehingga Alloh tetap ridha kepadanya. Jumlah yang didapat tidaklah menjadi masalah, namun kejujuran dalam menyongsongnya inilah yang senantiasa diperhatikan sungguh-sungguh. Karena, nilainya bukanlah dari karunia duniawi yang diperolehnya, melainkan dari sikap terhadapnya.
Oleh karena itu, rumah tangga yang tujuannya Alloh Azza wa Jalla sama sekali tidak akan silau dan terpedaya oleh ada atau tidak adanya segala perkara duniawi ini. Karena, yang penting baginya,ketika aneka asesoris duniawi itu tergenggam di tangan, tetap membuat Alloh suka. Sebaliknya, ketika semua itu tidak tersandang, Alloh tetap ridha. Demikian pun gerak ikhtiarnya akan membuahkan cinta darinya.
Merekalah para penghuni rumah tanggga yang memahami hakikat kehidupan dunia ini. Dunia, bagaimana pun hanyalah senda gurau dan permainan belaka, sehingga yang mereka cari sesungguhnya bukan lagi dunianya itu sendiri, melainkan Dzat yang Maha memiliki dunia. Bila orang-orang pencinta dunia bekerja sekeras-kerasanya untuk mencari uang, maka mereka bekerja demi mencari dzat yang Maha membagikan uang kalau orang lain sibuk mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama manusia, maka mereka pun akan sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan penghargaan dan pujian dari Dia yang Maha menggerakan siapapun yang menghargai dan memuji
Perbedaan itu, jadinya begitu jelas dan tegas bagaikan siang dan malam. Bagi rumah tangga yang tujuannya yang hanya asesoris duniawi pastilah aneka kesibukannya itu semata-mata sebatas ingin mendapatkan ingin mendapatkan yang satu itu saja sedangkan bagi rumah tangga yang hanya Alloh yahg menjadi tujuan dan tumpuan harapannnya, maka otomatis yang dicarinya pun langsung tembus kepada Dzat Maha pemilik dan penguasa segala-galanya.
Pastikan rumah tangga kita tidak menjadi pencinta dunia. Karena, betapa banyak rumah tangga yang bergelimang harta, tetapi tidak pernah berbahagia. Betapa tak sedikit rumah tangga yang tinggi pangkat, gelar dan jabatannya, tetapi tidak pernah menemukan kesejukan hati. Memang, kebahagian yang hakiki itu hanyalah bagi orang-orang yang disukai dan dicintai oleh-Nya.
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, periasam dan bermegah-megahan diantara kamu, serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menguning, kemudian menjadi hancur dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Alloh serta keridoannya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Q.S.Al-Hadid ayat 20]. Wallahu ‘alam
sumber : http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Bila Rumah Tangga Cinta Dunia
”Dan tiadalah kehidupan di dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesunguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui” Al-Ankabut ayat 64
Seakan telah menjadi bagian yang sangat standar dari skenario kehidupan ini, bahwa hampir sepanjang rentang usia dunia hingga saat ini, betapa banyak orang yang selama hidupnya begitu disibukkan oleh kerja keras, peras keringat banting tulang dalm mencari penghidupan, persis seperti ketakutan tidak kebagian makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpul-kumpulkan dan ditimbun dengan seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.
Ada juga orang yang dalam hidupnya teramat merindukan penghargaan dan penghormatan, sehingga hari-harinya begitu disibukan dengan memperindah rumah, mematut-matut diri, membeli aneka asesori, dan sebagainya, yang semua itu notabene dilakukan semata-mata ingin dihargai orang.
Inilah fenomena kehidupan yang menunjukan betapa manusia dalam kehidupannya akan selalu berpeluang dekat dengan hawa nafsu yan merugikan. Oleh sebab itu, bagi siapa pun yang berniat mengayuh bahtera rumah tangga, hendaknya jangan membayangkan rumah tangga akan beroleh kebahagiaan dan ketenangan bila hanya dipenuhi dengan hal-hal duniawi belaka. Karena, segala asesoris duniawi diberikan oleh Alloh kepada orang yang terlaknat sekalipun.
Sekiranya tujuan sebuah rumah tangga hanya duniawi belaka, maka batapa para penghuninya akan merasakan letih lahir batin karena energinya akan lebih banyak terkuras oleh segala bentuk pemikiran tentang taktik dan siasat, serta nafsu menggebu untuk mengejar-ngejarnya terus menerus siang malam. Padahal, apa yang didapatkannya tak lebih dari apa yang telah ditetapkan Alloh untuknya. Walhasil, hari-harinya akan terjauhkan dari ketenteraman batin dan keindahan hidup yang hakiki karena tak ubahnya seorang budak. Ya, budak dunia !
Alloh ‘Azza wa jalla memang telah berfirman untuk siapa pun yang menyikapi dunia dengan cara apa pun : cara hak maupun cara bathil. “Hai dunia, titah-Nya, “ladeni orang yang sungguh-sungguh mengabdikan dirinya kepada-Ku. Akan tetapi sebaliknya, perbudak orang yang hidupnya hanya menghamba kepada-Mu” !
Rumah tangga yang hanya ingin dipuji karena asesoris duniawi yang dimilikinya, yang sibuk hanya menilai kebahagiaan dan kemuliaan datang dari perkara duniawi, adalah rumah tangga yang pasti akan diperbudak olehnya.
Rumah tangga yang tujuannya hanya Alloh, ketika mendapatkan karunia duniawi, akan bersimpuh penuh rasa syukur kehadiratnya. Sama sekali tidak akan pernah kecewa dengan seberapa pun yang Alloh berikan kepada-Nya. Demikian pun manakala Alloh mengamininya kembali dari tangannya, sekali-kali tiidak akan pernah kecewa karena yakin bahwa semua ini hanyalah titipannya belaka.
Pendek kata adanya duniawi di sisinya tidak membuatnya sombong tiadanya pun tiada pernah membuatnya menderita dan sengsara, apalagi jadi merasa rendah diri karenanya. Lebih-lebih lagi dalam hal ikhtiar dalam mendapatkan karunia duniawi tersebut. Baginya yang penting bukan perkara dapat atau tidak dapat, melainkan bagaimana agar dalam rangka menyongsong hati tetap terpelihara, sehingga Alloh tetap ridha kepadanya. Jumlah yang didapat tidaklah menjadi masalah, namun kejujuran dalam menyongsongnya inilah yang senantiasa diperhatikan sungguh-sungguh. Karena, nilainya bukanlah dari karunia duniawi yang diperolehnya, melainkan dari sikap terhadapnya.
Oleh karena itu, rumah tangga yang tujuannya Alloh Azza wa Jalla sama sekali tidak akan silau dan terpedaya oleh ada atau tidak adanya segala perkara duniawi ini. Karena, yang penting baginya,ketika aneka asesoris duniawi itu tergenggam di tangan, tetap membuat Alloh suka. Sebaliknya, ketika semua itu tidak tersandang, Alloh tetap ridha. Demikian pun gerak ikhtiarnya akan membuahkan cinta darinya.
Merekalah para penghuni rumah tanggga yang memahami hakikat kehidupan dunia ini. Dunia, bagaimana pun hanyalah senda gurau dan permainan belaka, sehingga yang mereka cari sesungguhnya bukan lagi dunianya itu sendiri, melainkan Dzat yang Maha memiliki dunia. Bila orang-orang pencinta dunia bekerja sekeras-kerasanya untuk mencari uang, maka mereka bekerja demi mencari dzat yang Maha membagikan uang kalau orang lain sibuk mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama manusia, maka mereka pun akan sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan penghargaan dan pujian dari Dia yang Maha menggerakan siapapun yang menghargai dan memuji
Perbedaan itu, jadinya begitu jelas dan tegas bagaikan siang dan malam. Bagi rumah tangga yang tujuannya yang hanya asesoris duniawi pastilah aneka kesibukannya itu semata-mata sebatas ingin mendapatkan ingin mendapatkan yang satu itu saja sedangkan bagi rumah tangga yang hanya Alloh yahg menjadi tujuan dan tumpuan harapannnya, maka otomatis yang dicarinya pun langsung tembus kepada Dzat Maha pemilik dan penguasa segala-galanya.
Pastikan rumah tangga kita tidak menjadi pencinta dunia. Karena, betapa banyak rumah tangga yang bergelimang harta, tetapi tidak pernah berbahagia. Betapa tak sedikit rumah tangga yang tinggi pangkat, gelar dan jabatannya, tetapi tidak pernah menemukan kesejukan hati. Memang, kebahagian yang hakiki itu hanyalah bagi orang-orang yang disukai dan dicintai oleh-Nya.
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, periasam dan bermegah-megahan diantara kamu, serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menguning, kemudian menjadi hancur dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Alloh serta keridoannya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Q.S.Al-Hadid ayat 20]. Wallahu ‘alam
sumber : http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM
Mayat Yang Tak Dapat Ridho Allah
Mayat Yang Tak Dapat Ridho Allah
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Dari Milist tetangga, buat sekedar renungan guna menguatkan Iman dan Taqwa
kita kehadhirat Allah SWT. Amiin...
Ini adalah kisah nyata, kisah proses penguburan seorang
pejabat di sebuah kota di Jawa Timur. Nama dan alamat sengaja
tidak disebutkan untuk menjaga nama baik jenazah dan keluarga
yang ditinggalkan. Insya Allah kisah ini menjadi hikmah dan
cermin bagi kita semua sebelum ajal menjemput.
Kisah ini diceritakan langsung oleh seorang Modin (pengurus
jenazah)kepada saya. Dengan gaya bertutur, selengkapnya
ceritanya begini :
Saya terlibat dalam pengurus jenazah lebih dari 16 tahun,
Berbagai pengalaman telah saya lalui, sebab dalam jangka atau
kurun waktu tersebut macam macam jenis mayat sudah saya
tangani. Ada yang meninggal dunia akibat kecelakaan, sakit
tua, sakit jantung, bunuh diri dan sebagainya.
Bagaimanapun, pengalaman mengurus satu jenazah seorang
pejabat yang kaya serta berpengaruh ini, menyebabkan saya
dapat kesempatan 'istimewa' sepanjang hidup. Inilah pertama
saya bertemu dengan satu jenazah yang cukup aneh,
menyedihkan, menakutkan dan sekaligus memberikan banyak hikmah.
Peristiwa ini terjadi pertengahan bulan Februari 2001 dan
kebetulan sebagai Modin tetap di desa, saya diminta oleh anak
almarhum mengurus jenazah Bapaknya. Saya terus pergi ke
rumahnya. Ketika saya tiba sampai ke rumah almarhum tercium
bau jenazah itu sangat busuk. Baunya cukup memualkan perut
dan menjijikan. Saya telah mengurus banyak jenazah tetapi
tidak pernah saya bertemu dengan mayat yang sebusuk ini.
Ketika saya lihat wajah almarhum, sekali lagi saya tersentuh.
Saya tengok wajahnya seperti dirundung oleh macam macam
perasaan takut, cemas, kesal dan macam-macam. Wajahnya
seperti tidak mendapat nur dari Allah SWT. Kemudian saya pun
ambil kain kafan yang dibeli oleh anak almarhum dan saya
potong. Secara kebetulan pula, disitu ada dua orang yang
pernah mengikuti kursus "fardu kifayah" atau pengurus jenazah
yang pernah saya ajar. Saya ajak mereka membantu saya dan
mereka setuju.
Tetapi selama memandikan mayat itu, kejadian pertama pun
terjadi, sekedar untuk pengetahuan pembaca, apabila
memandikan jenazah, badan mayat itu perlu dibangunkan sedikit
dan perutnya hendaklah diurut-urut untuk mengeluarkan kotoran
yang tersisa. Maka saya pun urut urut perut almarhum. Tapi
apa Yang terjadi, pada hari itu sangat mengejutkan. Allah
SWT berkehendak dan menunjukkan kekuasaannya karena pada hari
tersebut, kotoran tidak keluar dari pada dubur akan tetapi
melalui mulutnya.
Hati saya berdebar debar. Apa yang sedang terjadi di depan
saya ini ? Telah dua kali mulut mayat ini memuntahkan
kotoran, saya harap hal itu tidak terulang lagi karena saya
mengurut perutnya untuk kali terakhir.
Tiba tiba ketentuan Allah SWT berlaku, ketika saya urut
perutnya keluarlah dari mulut mayat itu kotoran bersama
beberapa ekor ulat yang masih hidup. Ulat itu adalah seperti
ulat kotoran (belatung). Padahal almarhum meninggal dunia
akibat diserang jantung dan waktu kematiannya dalam tempo
yang begitu singkat mayatnya sudah menjadi demikian rupa ?
saya lihat wajah anak almarhum. Mereka seperti terkejut.
Mungkin malu, terperanjat dan aib dengan apa yang berlaku
pada Bapaknya, kemudian saya tengok dua orang pembantu tadi,
mereka juga terkejut dan panik. Saya katakan kepada mereka,
"Inilah ujian Allah terhadap kita".
Kemudian saya minta salah satu seorang dari pada pembantu
tadi pergi memanggil semua anak almarhum. Almarhum pada
dasarnya seorang yang beruntung karena mempunyai tujuh orang
anak, kesemuanya laki-laki. Seorang berada di luar negeri dan
enam lagi berada di rumah. Ketika semua anak almarhum masuk,
saya nasehati mereka. Saya mengingatkan mereka bahwasanya
tanggung jawab saya hanyalah mambantu menguruskan jenazah
Bapak mereka, bukan menguruskan semuanya, tanggung jawab ada
pada ahli warisnya. Sepatutnya sebagai anak, mereka yang
lebih afdal menguruskan jenazah Bapak mereka itu, bukan hanya
iman, hanya bilal, atau guru. Saya kemudian meminta ijin
serta bantuan mereka untuk menunggingkan mayat itu.
Takdir Allah ketika ditunggingkan mayat tersebut, tiba tiba
keluarlah ulat-ulat yang masih hidup, hampir sebaskom
banyaknya. Baskom itu kira-kira besar sedikit dari pada
penutup saji meja makan.
Suasana menjadi makin panik. Benar benar kejadian yang luar
biasa sulit diterima akal fikiran manusia biasa. Saya terus
berdoa dan berharap tidak terjadi lagi kejadian yang lebih
ganjil. Selepas itu saya memandikan kembali mayat tersebut
dan saya ambilkan wudlu. Saya meminta anak anaknya untuk kain kafan.
Saya bawa mayat ke dalam kamarnya dan tidak diijinkan seorang
pun melihat upacara itu terkecuali waris yang terdekat sebab
saya takut kejadian yang lebih aib akan terjadi.
Peristiwa apa pula yang terjadi setelah jenazah diangkat ke
kamar dan hendak dikafani, takdir Allah jua yang menentukan,
ketika mayat ini diletakkan di atas kain kafan, saya dapati
kain kafan itu hanya cukup menutupi ujung kepala dan kaki
tidak ada lebih, maka saya tak dapat mengikat kepala dan
kaki. Tidak keterlaluan kalau saya katakan ia seperti kain
kafan itu tidak mau menerima mayat tadi. Tidak apalah,
mungkin saya yang khilaf di kala memotongnya. Lalu saya ambil
pula kain, saya potong dan tampung di tempat tempat yang
kurang. Memang kain kafan jenazah itu jadi sambung
menyambung, tapi apa mau dikata, itulah yang dapat saya
lakukan. Dalam waktu yang sama saya berdoa kepada Allah "Ya
Allah, jangan kau hinakan jenazah ini ya Allah, cukuplah
sekedar peringatan kepada hambaMu ini."
Selepas itu saya beri taklimat tentang sholat jenazah tadi,
satu lagi masalah timbul, jenazah tidak dapat dihantar ke
tanah pekuburan karena tidak ada mobil jenazah/mobil
ambulance. Saya hubungi kelurahan, pusat Islam, masjid, dan
sebagainya, tapi susah. Semua sedang terpakai, beberapa
tempat tersebut juga tidak punya kereta jenazah lebih dari
satu karena kereta yang ada sedang digunakan pula. Suatu hal
yang saya fikir bukan sekedar kebetulan. Dalam keadaan itu
seorang hamba Allah muncul menawarkan bantuan. Lelaki itu
meminta saya menunggu sebentar untuk mengeluarkan van/sejenis
Mobil pickup dari garasi rumahnya. Kemudian muncullah sebuah
van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat untuk meletakkan
vannya itu di rumah almarhum tiba-tiba istrinya keluar.
Dengan suara yang tegas dia berkata di khalayak ramai : "Mas,
saya tidak perbolehkan mobil kita ini digunakan untuk angkat
jenazah itu, sebab semasa hayatnya dia tidak pernah
mengijinkan kita naik mobilnya."
Renungkanlah kalau tidak ada apa apanya, tidak mungkin
seorang Wanita yang lembut hatinya akan berkata demikian.
Jadi saya suruh tuan punya van itu membawa kembali vannya.
Selepas itu muncul pula seseorang lelaki menawarkan
bantuannya. Lelaki itu mengaku dia anak murid saya. Dia
meminta ijin saya dalam 60 menit membersihkan mobilnya itu.
Dalam jangka waktu yang ditetapkan itu, muncul mobil
tersebut, tapi dalam keadaan basah kuyup. Mobil yang
dimaksudkan itu sebenarnya lori. Dan lori itu digunakan oleh
lelaki tadi untuk menjual ayam ke pasar, dalam perjalanan
menuju kawasan pekuburan, saya berpesan kepada dua pembantu
tadi supaya masyarakat tidak usah membantu kami menguburkan
jenazah, cukup tinggal di kampung saja akan lebih baik. Saya
tidak mau mereka melihat lagi peristiwa ganjil.
Rupanya apa yang saya takutkan itu berlaku sekali lagi,
takdir Allah yang terakhir amat memilukan. Sesampainya
jenazah tiba di tanah pekuburan, saya perintahkan tiga orang
anaknya turun ke dalam liang dan tiga lagi menurunkan
jenazah. Allah berkehendak semua atas makhluk ciptaanNya
berlaku, saat jenazah itu menyentuh ke tanah tiba tiba air
hitam yang busuk, baunya keluar dari celah tanah yang pada
asal mulanya kering.
Hari itu tidak ada hujan, tapi dari mana datang air itu ?
sukar untuk saya menjawabnya. Lalu saya arahkan anak
almarhum, supaya jenazah bapak mereka dikemas dalam peti
dengan hati hati. Saya takut nanti ia terlentang atau
telungkup na'udzubillah. Kalau mayat terlungkup, tak ada
harapan untuk mendapat safa'at Nabi. Papan keranda diturunkan
dan kami segera timbun kubur tersebut. Selepas itu kami injak
injak tanah supaya mampat dan bila hujan ia tidak
mendap/ambrol. Tapi sungguh mengherankan, saya perhatikan
tanah yang diinjak itu menjadi becek. Saya tahu, jenazah yang
ada di dalam telah tenggelam oleh air hitam yang busuk itu.
Melihat keadaan tersebut, saya arahkan anak-anak almarhum
supaya berhenti menginjakkan tanah itu. Tinggalkan lobang
kubur 1/4 meter. Artinya kubur itu tidak ditimbun hingga ke
permukaan lubangnya, tapi ia seperti kubur berlobang.
Tidak cukup dengan itu, apabila saya hendak bacakan talqin,
saya lihat tanah yang diinjak itu ada kesan serapan air.
Masya Allah, dalam sejarah peristiwa seperti itu belum pernah
terjadi. Melihat keadaan itu, saya ambil keputusan untuk
selesaikan penguburan secepat mungkin. Sejak lama terlibat
dalam penguburan jenazah, inilah mayat yang saya tidak
alqimkan. Saya bacakan tahlil dan doa yang paling ringkas.
Setalah saya Pulang ke rumah almarhum dan mengumpulkan
keluarganya. Saya bertanya kepada istri almarhum, apakah yang
telah dilakukan oleh almarhum semasa hayatnya.
1. Apakah dia pernah menzalimi orang alim ?
2. Mendapat harta secara merampas, menipu dan mengambil yang
bukan haknya? 3. Memakan harta masjid dan anak yatim ? 4.
Menyalahkan jabatan untuk kepentingan sendiri ? 5. Tidak
pernah mengeluarkan zakat, shodaqoh atau infaq ?
Istri almarhum tidak dapat memberikan jawabannya. Memikirkan
mungkin dia malu Untuk memberi tahu, saya tinggalkan nomor
telepon rumah. Tapi sedihnya hingga sekarang, tidak seorang
pun anak almarhum menghubungi saya. Untuk pengetahuan umum,
anak almarhum merupakan orang yang berpendidikan tinggi
hingga ada seorang yang beristri orang Amerika, seorang dapat
istri orang Australia dan seorang lagi istrinya orang Jepang.
Peristiwa ini akan tetap saya ingat. Dan kisah ini benar
benar nyata bukan rekaan atau isapan jempol.
Semua kebenaran saya kembalikan kepada Allah SWT pencipta
jagad raya ini. 'Kepada kita semua pembaca setia renungan
Media Informasi ini, tanyalah diri kita akankah kita
menginginkan peristiwa itu terjadi pada diri kita sendiri,
ibu, bapak kita, anak kita atau kaum keluarga kita ? Renungkanlah...
Pada akhirnya setelah semalam merenungkan artikel ini dalam
hati terbersit
do'a: "Ya Allah jauhkanlah Aku dan keluargaku dari peristiwa
itu dan peristiwa yang semacam dengan itu." "Ya Allah
jauhkanlah Aku dan keluargaku dari akhlaq yang menjadikan
peristiwa itu dan peristiwa yang semacam dengan itu."
sumber :http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Dari Milist tetangga, buat sekedar renungan guna menguatkan Iman dan Taqwa
kita kehadhirat Allah SWT. Amiin...
Ini adalah kisah nyata, kisah proses penguburan seorang
pejabat di sebuah kota di Jawa Timur. Nama dan alamat sengaja
tidak disebutkan untuk menjaga nama baik jenazah dan keluarga
yang ditinggalkan. Insya Allah kisah ini menjadi hikmah dan
cermin bagi kita semua sebelum ajal menjemput.
Kisah ini diceritakan langsung oleh seorang Modin (pengurus
jenazah)kepada saya. Dengan gaya bertutur, selengkapnya
ceritanya begini :
Saya terlibat dalam pengurus jenazah lebih dari 16 tahun,
Berbagai pengalaman telah saya lalui, sebab dalam jangka atau
kurun waktu tersebut macam macam jenis mayat sudah saya
tangani. Ada yang meninggal dunia akibat kecelakaan, sakit
tua, sakit jantung, bunuh diri dan sebagainya.
Bagaimanapun, pengalaman mengurus satu jenazah seorang
pejabat yang kaya serta berpengaruh ini, menyebabkan saya
dapat kesempatan 'istimewa' sepanjang hidup. Inilah pertama
saya bertemu dengan satu jenazah yang cukup aneh,
menyedihkan, menakutkan dan sekaligus memberikan banyak hikmah.
Peristiwa ini terjadi pertengahan bulan Februari 2001 dan
kebetulan sebagai Modin tetap di desa, saya diminta oleh anak
almarhum mengurus jenazah Bapaknya. Saya terus pergi ke
rumahnya. Ketika saya tiba sampai ke rumah almarhum tercium
bau jenazah itu sangat busuk. Baunya cukup memualkan perut
dan menjijikan. Saya telah mengurus banyak jenazah tetapi
tidak pernah saya bertemu dengan mayat yang sebusuk ini.
Ketika saya lihat wajah almarhum, sekali lagi saya tersentuh.
Saya tengok wajahnya seperti dirundung oleh macam macam
perasaan takut, cemas, kesal dan macam-macam. Wajahnya
seperti tidak mendapat nur dari Allah SWT. Kemudian saya pun
ambil kain kafan yang dibeli oleh anak almarhum dan saya
potong. Secara kebetulan pula, disitu ada dua orang yang
pernah mengikuti kursus "fardu kifayah" atau pengurus jenazah
yang pernah saya ajar. Saya ajak mereka membantu saya dan
mereka setuju.
Tetapi selama memandikan mayat itu, kejadian pertama pun
terjadi, sekedar untuk pengetahuan pembaca, apabila
memandikan jenazah, badan mayat itu perlu dibangunkan sedikit
dan perutnya hendaklah diurut-urut untuk mengeluarkan kotoran
yang tersisa. Maka saya pun urut urut perut almarhum. Tapi
apa Yang terjadi, pada hari itu sangat mengejutkan. Allah
SWT berkehendak dan menunjukkan kekuasaannya karena pada hari
tersebut, kotoran tidak keluar dari pada dubur akan tetapi
melalui mulutnya.
Hati saya berdebar debar. Apa yang sedang terjadi di depan
saya ini ? Telah dua kali mulut mayat ini memuntahkan
kotoran, saya harap hal itu tidak terulang lagi karena saya
mengurut perutnya untuk kali terakhir.
Tiba tiba ketentuan Allah SWT berlaku, ketika saya urut
perutnya keluarlah dari mulut mayat itu kotoran bersama
beberapa ekor ulat yang masih hidup. Ulat itu adalah seperti
ulat kotoran (belatung). Padahal almarhum meninggal dunia
akibat diserang jantung dan waktu kematiannya dalam tempo
yang begitu singkat mayatnya sudah menjadi demikian rupa ?
saya lihat wajah anak almarhum. Mereka seperti terkejut.
Mungkin malu, terperanjat dan aib dengan apa yang berlaku
pada Bapaknya, kemudian saya tengok dua orang pembantu tadi,
mereka juga terkejut dan panik. Saya katakan kepada mereka,
"Inilah ujian Allah terhadap kita".
Kemudian saya minta salah satu seorang dari pada pembantu
tadi pergi memanggil semua anak almarhum. Almarhum pada
dasarnya seorang yang beruntung karena mempunyai tujuh orang
anak, kesemuanya laki-laki. Seorang berada di luar negeri dan
enam lagi berada di rumah. Ketika semua anak almarhum masuk,
saya nasehati mereka. Saya mengingatkan mereka bahwasanya
tanggung jawab saya hanyalah mambantu menguruskan jenazah
Bapak mereka, bukan menguruskan semuanya, tanggung jawab ada
pada ahli warisnya. Sepatutnya sebagai anak, mereka yang
lebih afdal menguruskan jenazah Bapak mereka itu, bukan hanya
iman, hanya bilal, atau guru. Saya kemudian meminta ijin
serta bantuan mereka untuk menunggingkan mayat itu.
Takdir Allah ketika ditunggingkan mayat tersebut, tiba tiba
keluarlah ulat-ulat yang masih hidup, hampir sebaskom
banyaknya. Baskom itu kira-kira besar sedikit dari pada
penutup saji meja makan.
Suasana menjadi makin panik. Benar benar kejadian yang luar
biasa sulit diterima akal fikiran manusia biasa. Saya terus
berdoa dan berharap tidak terjadi lagi kejadian yang lebih
ganjil. Selepas itu saya memandikan kembali mayat tersebut
dan saya ambilkan wudlu. Saya meminta anak anaknya untuk kain kafan.
Saya bawa mayat ke dalam kamarnya dan tidak diijinkan seorang
pun melihat upacara itu terkecuali waris yang terdekat sebab
saya takut kejadian yang lebih aib akan terjadi.
Peristiwa apa pula yang terjadi setelah jenazah diangkat ke
kamar dan hendak dikafani, takdir Allah jua yang menentukan,
ketika mayat ini diletakkan di atas kain kafan, saya dapati
kain kafan itu hanya cukup menutupi ujung kepala dan kaki
tidak ada lebih, maka saya tak dapat mengikat kepala dan
kaki. Tidak keterlaluan kalau saya katakan ia seperti kain
kafan itu tidak mau menerima mayat tadi. Tidak apalah,
mungkin saya yang khilaf di kala memotongnya. Lalu saya ambil
pula kain, saya potong dan tampung di tempat tempat yang
kurang. Memang kain kafan jenazah itu jadi sambung
menyambung, tapi apa mau dikata, itulah yang dapat saya
lakukan. Dalam waktu yang sama saya berdoa kepada Allah "Ya
Allah, jangan kau hinakan jenazah ini ya Allah, cukuplah
sekedar peringatan kepada hambaMu ini."
Selepas itu saya beri taklimat tentang sholat jenazah tadi,
satu lagi masalah timbul, jenazah tidak dapat dihantar ke
tanah pekuburan karena tidak ada mobil jenazah/mobil
ambulance. Saya hubungi kelurahan, pusat Islam, masjid, dan
sebagainya, tapi susah. Semua sedang terpakai, beberapa
tempat tersebut juga tidak punya kereta jenazah lebih dari
satu karena kereta yang ada sedang digunakan pula. Suatu hal
yang saya fikir bukan sekedar kebetulan. Dalam keadaan itu
seorang hamba Allah muncul menawarkan bantuan. Lelaki itu
meminta saya menunggu sebentar untuk mengeluarkan van/sejenis
Mobil pickup dari garasi rumahnya. Kemudian muncullah sebuah
van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat untuk meletakkan
vannya itu di rumah almarhum tiba-tiba istrinya keluar.
Dengan suara yang tegas dia berkata di khalayak ramai : "Mas,
saya tidak perbolehkan mobil kita ini digunakan untuk angkat
jenazah itu, sebab semasa hayatnya dia tidak pernah
mengijinkan kita naik mobilnya."
Renungkanlah kalau tidak ada apa apanya, tidak mungkin
seorang Wanita yang lembut hatinya akan berkata demikian.
Jadi saya suruh tuan punya van itu membawa kembali vannya.
Selepas itu muncul pula seseorang lelaki menawarkan
bantuannya. Lelaki itu mengaku dia anak murid saya. Dia
meminta ijin saya dalam 60 menit membersihkan mobilnya itu.
Dalam jangka waktu yang ditetapkan itu, muncul mobil
tersebut, tapi dalam keadaan basah kuyup. Mobil yang
dimaksudkan itu sebenarnya lori. Dan lori itu digunakan oleh
lelaki tadi untuk menjual ayam ke pasar, dalam perjalanan
menuju kawasan pekuburan, saya berpesan kepada dua pembantu
tadi supaya masyarakat tidak usah membantu kami menguburkan
jenazah, cukup tinggal di kampung saja akan lebih baik. Saya
tidak mau mereka melihat lagi peristiwa ganjil.
Rupanya apa yang saya takutkan itu berlaku sekali lagi,
takdir Allah yang terakhir amat memilukan. Sesampainya
jenazah tiba di tanah pekuburan, saya perintahkan tiga orang
anaknya turun ke dalam liang dan tiga lagi menurunkan
jenazah. Allah berkehendak semua atas makhluk ciptaanNya
berlaku, saat jenazah itu menyentuh ke tanah tiba tiba air
hitam yang busuk, baunya keluar dari celah tanah yang pada
asal mulanya kering.
Hari itu tidak ada hujan, tapi dari mana datang air itu ?
sukar untuk saya menjawabnya. Lalu saya arahkan anak
almarhum, supaya jenazah bapak mereka dikemas dalam peti
dengan hati hati. Saya takut nanti ia terlentang atau
telungkup na'udzubillah. Kalau mayat terlungkup, tak ada
harapan untuk mendapat safa'at Nabi. Papan keranda diturunkan
dan kami segera timbun kubur tersebut. Selepas itu kami injak
injak tanah supaya mampat dan bila hujan ia tidak
mendap/ambrol. Tapi sungguh mengherankan, saya perhatikan
tanah yang diinjak itu menjadi becek. Saya tahu, jenazah yang
ada di dalam telah tenggelam oleh air hitam yang busuk itu.
Melihat keadaan tersebut, saya arahkan anak-anak almarhum
supaya berhenti menginjakkan tanah itu. Tinggalkan lobang
kubur 1/4 meter. Artinya kubur itu tidak ditimbun hingga ke
permukaan lubangnya, tapi ia seperti kubur berlobang.
Tidak cukup dengan itu, apabila saya hendak bacakan talqin,
saya lihat tanah yang diinjak itu ada kesan serapan air.
Masya Allah, dalam sejarah peristiwa seperti itu belum pernah
terjadi. Melihat keadaan itu, saya ambil keputusan untuk
selesaikan penguburan secepat mungkin. Sejak lama terlibat
dalam penguburan jenazah, inilah mayat yang saya tidak
alqimkan. Saya bacakan tahlil dan doa yang paling ringkas.
Setalah saya Pulang ke rumah almarhum dan mengumpulkan
keluarganya. Saya bertanya kepada istri almarhum, apakah yang
telah dilakukan oleh almarhum semasa hayatnya.
1. Apakah dia pernah menzalimi orang alim ?
2. Mendapat harta secara merampas, menipu dan mengambil yang
bukan haknya? 3. Memakan harta masjid dan anak yatim ? 4.
Menyalahkan jabatan untuk kepentingan sendiri ? 5. Tidak
pernah mengeluarkan zakat, shodaqoh atau infaq ?
Istri almarhum tidak dapat memberikan jawabannya. Memikirkan
mungkin dia malu Untuk memberi tahu, saya tinggalkan nomor
telepon rumah. Tapi sedihnya hingga sekarang, tidak seorang
pun anak almarhum menghubungi saya. Untuk pengetahuan umum,
anak almarhum merupakan orang yang berpendidikan tinggi
hingga ada seorang yang beristri orang Amerika, seorang dapat
istri orang Australia dan seorang lagi istrinya orang Jepang.
Peristiwa ini akan tetap saya ingat. Dan kisah ini benar
benar nyata bukan rekaan atau isapan jempol.
Semua kebenaran saya kembalikan kepada Allah SWT pencipta
jagad raya ini. 'Kepada kita semua pembaca setia renungan
Media Informasi ini, tanyalah diri kita akankah kita
menginginkan peristiwa itu terjadi pada diri kita sendiri,
ibu, bapak kita, anak kita atau kaum keluarga kita ? Renungkanlah...
Pada akhirnya setelah semalam merenungkan artikel ini dalam
hati terbersit
do'a: "Ya Allah jauhkanlah Aku dan keluargaku dari peristiwa
itu dan peristiwa yang semacam dengan itu." "Ya Allah
jauhkanlah Aku dan keluargaku dari akhlaq yang menjadikan
peristiwa itu dan peristiwa yang semacam dengan itu."
sumber :http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM
Siapkah apabila sakaratul maut tiba
Siapkah apabila sakaratul maut tiba
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Sakaratul Maut, Siapkah kita untuk menghadapinya ?
"Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar." (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri) (QS. Al-Anfal {8} : 50).
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu !" Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". (Qs. Al- An'am : 93).
Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Alloh, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan.
"Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang". (H.R. Ibnu Abu Dunya).
Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka'at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Alloh Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Alloh Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.
"Assalamu'alaikum, yaa Nabi Alloh". Salam Malaikat Izrail,
"Wa'alaikum salam wa rahmatulloh". Jawab Nabi Idris a.s.
Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail.
Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya "menghadap". Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja. Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan "tamunya" itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan.
"Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita". pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).
"Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)" kata Nabi Idris a.s.
"Kenapa ?" Malaikat Izrail pura-pura terkejut.
"Buah-buahan ini bukan milik kita". Ungkap Nabi Idris a.s. Kemudian Beliau berkata: "Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram".
Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan ? pikir Nabi Idris a.s.
"Siapakah engkau sebenarnya ?" tanya Nabi Idris a.s.
"Aku Malaikat Izrail". Jawab Malaikat Izrail.
Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.
"Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?" selidik Nabi Idris a.s serius.
"Tidak" Senyum Malaikat Izrail penuh hormat.
"Atas izin Alloh, aku sekedar berziarah kepadamu". Jawab Malaikat Izrail.
Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.
"Aku punya keinginan kepadamu". Tutur Nabi Idris a.s
"Apa itu ? katakanlah !". Jawab Malaikat Izrail.
"Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Alloh SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku". Pinta Nabi Idris a.s.
"Tanpa seizin Alloh, aku tak dapat melakukannya", tolak Malaikat Izrail.
Pada saat itu pula Alloh SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s. Dengan izin Alloh Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat.
Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Alloh SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Alloh mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali.
"Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku ?" Tanya Malaikat Izrail.
"Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti". Jawab Nabi Idris a.s.
"Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu". Kata Malaikat Izrail.
MasyaAlloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s. Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita ?
Siapkah kita untuk menghadapinya ?
sumber :http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Sakaratul Maut, Siapkah kita untuk menghadapinya ?
"Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar." (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri) (QS. Al-Anfal {8} : 50).
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu !" Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". (Qs. Al- An'am : 93).
Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Alloh, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan.
"Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang". (H.R. Ibnu Abu Dunya).
Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka'at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Alloh Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Alloh Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.
"Assalamu'alaikum, yaa Nabi Alloh". Salam Malaikat Izrail,
"Wa'alaikum salam wa rahmatulloh". Jawab Nabi Idris a.s.
Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail.
Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya "menghadap". Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja. Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan "tamunya" itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan.
"Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita". pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).
"Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)" kata Nabi Idris a.s.
"Kenapa ?" Malaikat Izrail pura-pura terkejut.
"Buah-buahan ini bukan milik kita". Ungkap Nabi Idris a.s. Kemudian Beliau berkata: "Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram".
Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan ? pikir Nabi Idris a.s.
"Siapakah engkau sebenarnya ?" tanya Nabi Idris a.s.
"Aku Malaikat Izrail". Jawab Malaikat Izrail.
Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.
"Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?" selidik Nabi Idris a.s serius.
"Tidak" Senyum Malaikat Izrail penuh hormat.
"Atas izin Alloh, aku sekedar berziarah kepadamu". Jawab Malaikat Izrail.
Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.
"Aku punya keinginan kepadamu". Tutur Nabi Idris a.s
"Apa itu ? katakanlah !". Jawab Malaikat Izrail.
"Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Alloh SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku". Pinta Nabi Idris a.s.
"Tanpa seizin Alloh, aku tak dapat melakukannya", tolak Malaikat Izrail.
Pada saat itu pula Alloh SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s. Dengan izin Alloh Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat.
Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Alloh SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Alloh mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali.
"Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku ?" Tanya Malaikat Izrail.
"Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti". Jawab Nabi Idris a.s.
"Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu". Kata Malaikat Izrail.
MasyaAlloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s. Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita ?
Siapkah kita untuk menghadapinya ?
sumber :http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM
Tanda-tanda Ajal Mendekat
Tanda-tanda Ajal Mendekat
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Ada seorang hamba yang begitu taat kepada Allah, sebut saja namanya Fulan. Dia tak pernah lalai dalam beribadah kepada Allah SWT. Suatu hari Izrail, malaikat pencabut nyawa, datang bertamu kepadanya. Terjadilah tanya jawab antara Fulan dengan tamunya itu."Wahai Izrail! Apakah perihal kedatanganmu ke mari adalah atas perintah Allah untuk mencabut nyawaku, ataukah hanya kunjungan biasa?" "Ya, Fulan ! Kedatanganku kali ini tidak dalam rangka mencabut nyawamu. Kedatanganku ini hanya kunjungan biasa. Mendengar penjelasan Izrail, maka seketika bersinarlah wajah Fulan karena gembiranya. Mereka lalu bercakap-cakap sampai tiba saatnya Izrail akan pamit.
"Wahai sahabatku, Izrail! Sebagai tanda persahabatan kita, aku ada harapan kepadamu kiranya engkau tidak berkeberatan untuk mengabulkannya." "Gerangan apakah permohonanmu itu, hai Fulan sahabatku?" "Begini, ya Izrail. Jika nanti kau datang lagi kepadaku dengan maksud untuk mencabut nyawaku, maka mohon kiranya engkau mau mengirimkan utusan kepadaku terlebih dahulu. Jika demikian, maka aku ada waktu untuk bersiap-siap menyambut kedatanganmu." "Oh, begitu? Hai, Fulan, kalau hanya itu permohonanmu, aku kabulkan. Aku berjanji akan mengirimkan utusan itu kepadamu."
Waktu pun berjalan. Tahun berganti tahun. Tak terasa bahwa pertemuan antara Fulan dengan Izrail telah sekian lama berlalu. Kehidupan berlangsung terus sampai suatu ketika Fulan kaget sekali. Tak disangka-sangka sebelumnya Izrail muncul di rumahnya. Fulan merasa bahwa kedatangan Izrail ini begitu mendadak, padahal ada komitmen janji Izrail kepadanya.
"Wahai, Izrail sahabatku! Mengapa engkau tak mengirimkan utusanmu kepadaku? Mengapa engkau ingkar janji?" Dengan tersenyum, Izrail menjawab, "Wahai Fulan, sahabatku! Sesungguhnya aku sudah mengirimkan utusanku itu kepadamu, hanya kamu sendiri yang mungkin tidak menyadarinya. Coba perhatikan punggungmu, dulu ia tegak tetapi sekarang bungkuk. Perhatikan caramu berjalan, dulu kamu begitu tegap perkasa, sekarang gemetaran dengan ditopang tongkat. Perhatikan penglihatanmu, dulu ia bersinar sehingga orang luluh kena sorotnya tetapi sekarang kabur dan lemah. Ya, Fulan, bukankah pikiran-pikiranmu sekarang mudah putus asa padahal dulu begitu enerjik dan penuh berbagai harapan? Tempo hari kamu hanya menginginkan satu utusan saja dariku, tetapi aku telah mengirimkan begitu banyak utusanku kepadamu!"
Sahabat, itu adalah tanda ajal yang pasti mendekat. Banyak juga manusia yang mendapat ajal tanpa mengalami tanda-tanda tersebut. Namun ada juga telah mendapatkan tanda-tanda tapi tidak menghiraukannya. Semoga kita diberikan waktu dan kesiapan untuk membekali diri sebelum ajal menimpa kita.
sumber : http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Ada seorang hamba yang begitu taat kepada Allah, sebut saja namanya Fulan. Dia tak pernah lalai dalam beribadah kepada Allah SWT. Suatu hari Izrail, malaikat pencabut nyawa, datang bertamu kepadanya. Terjadilah tanya jawab antara Fulan dengan tamunya itu."Wahai Izrail! Apakah perihal kedatanganmu ke mari adalah atas perintah Allah untuk mencabut nyawaku, ataukah hanya kunjungan biasa?" "Ya, Fulan ! Kedatanganku kali ini tidak dalam rangka mencabut nyawamu. Kedatanganku ini hanya kunjungan biasa. Mendengar penjelasan Izrail, maka seketika bersinarlah wajah Fulan karena gembiranya. Mereka lalu bercakap-cakap sampai tiba saatnya Izrail akan pamit.
"Wahai sahabatku, Izrail! Sebagai tanda persahabatan kita, aku ada harapan kepadamu kiranya engkau tidak berkeberatan untuk mengabulkannya." "Gerangan apakah permohonanmu itu, hai Fulan sahabatku?" "Begini, ya Izrail. Jika nanti kau datang lagi kepadaku dengan maksud untuk mencabut nyawaku, maka mohon kiranya engkau mau mengirimkan utusan kepadaku terlebih dahulu. Jika demikian, maka aku ada waktu untuk bersiap-siap menyambut kedatanganmu." "Oh, begitu? Hai, Fulan, kalau hanya itu permohonanmu, aku kabulkan. Aku berjanji akan mengirimkan utusan itu kepadamu."
Waktu pun berjalan. Tahun berganti tahun. Tak terasa bahwa pertemuan antara Fulan dengan Izrail telah sekian lama berlalu. Kehidupan berlangsung terus sampai suatu ketika Fulan kaget sekali. Tak disangka-sangka sebelumnya Izrail muncul di rumahnya. Fulan merasa bahwa kedatangan Izrail ini begitu mendadak, padahal ada komitmen janji Izrail kepadanya.
"Wahai, Izrail sahabatku! Mengapa engkau tak mengirimkan utusanmu kepadaku? Mengapa engkau ingkar janji?" Dengan tersenyum, Izrail menjawab, "Wahai Fulan, sahabatku! Sesungguhnya aku sudah mengirimkan utusanku itu kepadamu, hanya kamu sendiri yang mungkin tidak menyadarinya. Coba perhatikan punggungmu, dulu ia tegak tetapi sekarang bungkuk. Perhatikan caramu berjalan, dulu kamu begitu tegap perkasa, sekarang gemetaran dengan ditopang tongkat. Perhatikan penglihatanmu, dulu ia bersinar sehingga orang luluh kena sorotnya tetapi sekarang kabur dan lemah. Ya, Fulan, bukankah pikiran-pikiranmu sekarang mudah putus asa padahal dulu begitu enerjik dan penuh berbagai harapan? Tempo hari kamu hanya menginginkan satu utusan saja dariku, tetapi aku telah mengirimkan begitu banyak utusanku kepadamu!"
Sahabat, itu adalah tanda ajal yang pasti mendekat. Banyak juga manusia yang mendapat ajal tanpa mengalami tanda-tanda tersebut. Namun ada juga telah mendapatkan tanda-tanda tapi tidak menghiraukannya. Semoga kita diberikan waktu dan kesiapan untuk membekali diri sebelum ajal menimpa kita.
sumber : http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM
Kitapun Segera Meninggalkan Dunia
Kitapun Segera Meninggalkan Dunia
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Suatu ketika, beberapa hari setelah pemakaman nenek, saya
berjalan melewati kamar nenek dan melihat pintu kamarnya terbuka lebar. Saya
berhenti sejenak, tertegun, dan melayangkan pandangan ke dalam kamar. Semua
masih tampak seperti biasa. Semua barang-barang nenek masih berada di
tempatnya. Lemari, pakaian, susunan perabot di dalam kamar, serta isinya
yang lain, semua masih tampak sama seperti sediakala. Saya lantas merenung.
Ternyata seorang manusia yang meninggal dunia itu benar-benar meninggalkan
dunia. Meninggalkan semua barang-barang yang pernah dimilikinya semasa hidup
di dunia.
Beberapa bulan yang lalu ketika suami saya sedang tidak ada di rumah,
disuatu malam menjelang subuh, saya bangun dari tidur dan menemukan puteri
kedua saya yang berusia 8 bulan, sudah meninggal dunia. Terpikir oleh saya
bahwa malaikat maut telah datang ke rumah saya malam itu tanpa seorangpun
yang menyadarinya. Tetapi yang diambil bukan saya atau puteri pertama saya,
tetapi puteri kedua saya tersebut. Ia meninggal dalam tidurnya.
Setelah kepergian puteri kedua saya, saya pun membereskan barang-barangnya.
Semua masih sama jumlahnya, tidak berkurang sedikitpun juga. Yang berbeda
adalah kini puteri saya sudah tidak tinggal lagi di dunia. Ia pergi tanpa
membawa apapun kecuali kain kafan. Ia tinggalkan mainan yang kami belikan
untuknya. Ia tinggalkan baju-baju cantik pemberian keluarga dan kenalan saya
ketika saya belum lama melahirkannya. Ia tinggalkan Papa, Mama, kakaknya. Ia
tinggalkan semuanya.
Siapapun kita ini, sesungguhnya selamanya berada di hadapan Allah. Betapapun
panjangnya umur kita, namun kita sebenarnya sedang dalam perjalanan
menuju-Nya. Sekaya apapun diri kita, sesehat apapun diri kita, sekuat apapun
diri kita, pendeknya apapun keadaan diri kita saat ini, suatu saat pasti
akan kembali kepada Allah. Di saat itulah kita meninggalkan semua yang
pernah sangat kita cintai dan kita jaga di dunia ini.
Lalu jika kita pulang tanpa membawa apa-apa, lantas apa yang akan kita bawa
jika kita tidak selalu berusaha untuk mencari keridhoan-Nya? Wallaahu 'a'lam
bishshowaab
sumber : http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM
oleh KATA MUTIARA ISLAM
Suatu ketika, beberapa hari setelah pemakaman nenek, saya
berjalan melewati kamar nenek dan melihat pintu kamarnya terbuka lebar. Saya
berhenti sejenak, tertegun, dan melayangkan pandangan ke dalam kamar. Semua
masih tampak seperti biasa. Semua barang-barang nenek masih berada di
tempatnya. Lemari, pakaian, susunan perabot di dalam kamar, serta isinya
yang lain, semua masih tampak sama seperti sediakala. Saya lantas merenung.
Ternyata seorang manusia yang meninggal dunia itu benar-benar meninggalkan
dunia. Meninggalkan semua barang-barang yang pernah dimilikinya semasa hidup
di dunia.
Beberapa bulan yang lalu ketika suami saya sedang tidak ada di rumah,
disuatu malam menjelang subuh, saya bangun dari tidur dan menemukan puteri
kedua saya yang berusia 8 bulan, sudah meninggal dunia. Terpikir oleh saya
bahwa malaikat maut telah datang ke rumah saya malam itu tanpa seorangpun
yang menyadarinya. Tetapi yang diambil bukan saya atau puteri pertama saya,
tetapi puteri kedua saya tersebut. Ia meninggal dalam tidurnya.
Setelah kepergian puteri kedua saya, saya pun membereskan barang-barangnya.
Semua masih sama jumlahnya, tidak berkurang sedikitpun juga. Yang berbeda
adalah kini puteri saya sudah tidak tinggal lagi di dunia. Ia pergi tanpa
membawa apapun kecuali kain kafan. Ia tinggalkan mainan yang kami belikan
untuknya. Ia tinggalkan baju-baju cantik pemberian keluarga dan kenalan saya
ketika saya belum lama melahirkannya. Ia tinggalkan Papa, Mama, kakaknya. Ia
tinggalkan semuanya.
Siapapun kita ini, sesungguhnya selamanya berada di hadapan Allah. Betapapun
panjangnya umur kita, namun kita sebenarnya sedang dalam perjalanan
menuju-Nya. Sekaya apapun diri kita, sesehat apapun diri kita, sekuat apapun
diri kita, pendeknya apapun keadaan diri kita saat ini, suatu saat pasti
akan kembali kepada Allah. Di saat itulah kita meninggalkan semua yang
pernah sangat kita cintai dan kita jaga di dunia ini.
Lalu jika kita pulang tanpa membawa apa-apa, lantas apa yang akan kita bawa
jika kita tidak selalu berusaha untuk mencari keridhoan-Nya? Wallaahu 'a'lam
bishshowaab
sumber : http://www.facebook.com/pages/KATA-MUTIARA-ISLAM
Sunday, May 22, 2011
Cinta Dan Rindu buat siapa

Firman Allah: "Dan Tuhan kamu berfirman: Berdoalah kepada-Ku nescaya Aku akan perkenankan. Sesungguhnya orang yang sombong takbur daripada beribadat dan berdoa kepada-Ku, akan dimasukkan neraka Jahanam dalam keadaan hina." Al-Mukmin : 60
Cinta Dan Rindu buat siapa
BismillahiRohmaniRohiim Berbicara tentang rindu dan cinta, tidak dapat lari daripada soal hati dan rasa. Ya, rindu dan cinta letaknya di hati - raja dalam kerajaan diri manusia. Sabda Rasulullah saw: "Bahawasanya di dalam jasad anak Adam ada seketul ...daging. Apabila baik daging itu, baiklah seluruh anggotanya. Sebaliknya, jika jahat daging itu, jahatlah seluruh anggotanya. Ketahuilah daging itu ialah hati." Riwayat Al-Bukhari Ini bermakna, rindu dan cinta yang harus bersemi di hati mestilah rindu dan cinta yang ‘baik'. Barulah hati akan menjadi baik, dan seluruh anggota jadi baik. Tapi jika rindu dan cinta itu ‘jahat' maka jahatlah hati. Akibatnya jahatlah seluruh anggota. Kata orang, "berhati-hatilah menjaga hati." Jangan dibiarkan hati itu penuh dengan rindu dan cinta yang salah... akibatnya terlalu buruk. Umpama menyerahkan kepimpinan negara kepada seorang yang jahat. Kita tentu tahu apa akibatnya bukan? Pemimpin yang jahat akan melakukan kemungkaran, penzaliman, rasuah dan lain-lain kejahatan yang akan menghancurkan sebuah negara. Maka begitulah hati yang jahat, akan menyebabkan seluruh diri kita terarah kepada kejahatan. Jadi, berhati-hatilah menjaga hati dengan berhati-hati memberi cinta dan rindu. Sebenarnya, pada siapa kita harus cinta? Pada siapa kita mesti rindu? Mungkin ada diantara kita yang tertanya-tanya. Pada kekasih hati? Atau si dia yang sentiasa diingati. Oh, bukan, bukan... Sebenarnya hati setiap manusia secara fitrahnya mencintai dan merindui Allah. Kenapa dikatakan begitu? Dan benarkah begitu? Baiklah, mari kita fikirkan dan renungkan bersama... Setiap hati inginkan kasih-sayang, keadilan, kekayaan, keindahan dan lain-lain sifat yang mulia, baik dan sempurna. Tidak ada seorang manusiapun yang tidak inginkan kebaikan, kemuliaan dan kesempurnaan. Ketika dilanda kemiskinan, manusia inginkan kekayaan. Ketika dipinggirkan, kita inginkan kasih-sayang. Ketika dizalimi, kita inginkan keadilan. Baiklah, hakikat itulah bukti yang sebenarnya manusia cinta dan rindukan Tuhan. Justeru, Tuhan sahaja yang memiliki segala-gala yang diingini oleh manusia. Bukankah Allah memiliki kekayaan yang diingini oleh si miskin? Allah mempunyai kasih sayang yang diidamkan oleh mereka yang terpinggir. Allah Maha Adil dan mampu memberi keadilan yang didambakan oleh yang tertindas. Oleh kerana itulah Tuhan mempunyai nama-nama yang baik (Asmaul Husna), yang menggambarkan keindahan, keadilan, kasih-sayang yang segala sifat kesempurnaan-Nya. Diantara nama-nama Allah itu ialah Al Adil (Yang Maha Adil)? Al Ghani (Maha Kaya)? Ar Rahman (Maha Pengasih)? Dan Ar Rahim (Maha Penyayang)? Sebutlah... apa sahaja keinginan manusia tentang kebaikan dan kesempurnaan, maka di situ sebenarnya (secara langsung ataupun tidak), manusia sedang merindui dan mencintai Allah. Inilah rasa yang tidak dapat dihapuskan. Selagi manusia punya hati dan perasaan. Rasa bertuhan inilah yang menurut Imam Ghazali, tidak akan dapat dinafikan oleh hati sekalipun kerap dinafikan oleh sifat keegoan manusia. Inilah benih rindu dan cinta yang telah dibina (‘install') secara fitrah (tabie) dalam diri setiap manusia sejak di alam roh lagi. Firman Allah: "Bukankah aku ini Tuhanmu? Maka semua (roh manusia) menjawab: ‘Benar, kami (Engkaulah Tuhan kami) menjadi saksi." Al-A'raf : 172 Bahkan, pakar-pakar psikologi manusia juga turut mengakui. Manusia sebenarnya mempunyai keinginan kepada suatu kuasa yang dapat mengatasi segala kekurangan dan kelemahan. Ini memang satu naluri yang semulajadi. Prof Dr Ramachandran dari California University misalnya, telah menemui ‘Titik Tuhan' - ‘God Spot' dalam sistem otak manusia yang sentiasa mencari makna kehidupan - asal-usulnya, apa maksud kedatangannya ke dunia, dan ke mana akan pergi selepas mati. Dan di hujung semua persoalan itu pasti manusia akan menemui kewujudan Tuhan. Inilah hakikatnya pencarian dan kembara manusia. Inilah asas segala kerinduan dan cinta! Jadi sadarlah. Apabila hati kita resah dan gelisah inginkan pembelaan, hakikatnya pada ketika itu hati kita sedang merindui yang Maha Adil. Ketika kasih-sayang terputus atau cinta terkandas, kita inginkan sambungan... maka ketika itu sebenarnya kita sedang merindui Ar Rahman dan Ar Rahim (Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang). Ketika bersalah, kita merintih inginkan keampunan dan kemaafan, maka pada saat itu kita sebenarnya merindui Al Ghafar (Pengampun) dan mencintai Al Latif (Maha Lembut). Semua keinginan itu hanya akan dapat dipenuhi apabila manusia merapatkan dirinya kepada Allah. Allah yang punya segala-galanya itu. Allah sentiasa mahu dan mampu memberi apa yang diinginkan oleh setiap manusia. Firman Allah: "Dan Tuhan kamu berfirman: Berdoalah kepada-Ku nescaya Aku akan perkenankan. Sesungguhnya orang yang sombong takbur daripada beribadat dan berdoa kepada-Ku, akan dimasukkan neraka Jahanam dalam keadaan hina." Al-Mukmin : 60 Menerusi nama-nama Allah yang baik inilah seharusnya kita merintih, merayu dan memohon kepada Allah. Firman Allah: "Allah memiliki Asmaa' ulHusna, maka memohonlah kepadaNya dengan menyebut nama-nama yang baik itu... " Al A'raaf : 180 Manusia hakikatnya tidak punya apa-apa yang diingini oleh manusia lain. Mereka mungkin mahu memberi, tetapi tidak mampu. Ada pula yang mampu memberi tetapi tidak mahu melakukannya. Mungkin hartawan punya harta, tetapi dia tidak punya sifat pemurah. Mugkin ada si miskin punya hati yang pemurah, tetapi tidak memiliki harta yang dipinta oleh si miskin yang lain. Tegasnya, manusia tidak sempurna. Hanya Tuhan yang mempunyai segala apa yang diinginkan oleh seluruh manusia. Ya, ditegaskan sekali lagi bahawa keinginan manusia kepada satu kuasa yang Maha sempurna ini adalah lanjutan daripada ‘perkenalan' dan ‘percintaan' manusia dengan Allah di Alam Roh lagi (yakni alam sebelum alam dunia ini) . Bukankah sejak di alam roh lagi manusia telah mengetahui dan mengakui akan kewujudan dan keagungan Allah. Firman Allah: "Bukankah aku ini Tuhanmu? Maka semua (roh manusia) menjawab: ‘Benar, kami (Engkaulah Tuhan kami) menjadi saksi." Al-A'raf : 172 Itulah pertanyaan Allah sekaligus keakuran roh manusia atas pertanyaan itu. Ya, ketika itu semua roh manusia telah mengenali Allah. Bukan itu sahaja, bahkan roh manusia telah mengakui Allah sebagai pemilik, pentadbir dan pengatur alam ini. Inilah yang dimaksudkan cintakan Allah itu adalah fitrah setiap hati. Tetapi soalnya, mampukah cinta itu terus suci dan abadi di dalam hati setiap manusia? Sungguhpun begitu, perkenalan dan percintaan manusia dengan Allah di alam roh itu kerap tercemar. Sebaik sahaja lahir ke alam dunia, manusia yang dulunya begitu mengenali dan mencintai Allah mula dipisahkan daripada kecintaan dan kerinduannya itu. Yang sejati luntur, yang ilusi muncul. Perkenalan dengan Allah mula dicemari. Manusia mula dipisahkan dari Tuhan. Dan amat malang, kerapkali yang memisahkan anak-anak daripada Allah ialah ibu-bapa anak-anak itu sendiri. "Setiap anak-anak dilahirkan putih bersih, kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Majusi atau Nasrani." Justeru, untuk mengelakkan agar cinta yang suci itu tidak terus dikotori... maka awal-awal lagi apabila seorang bayi dilahirkan, dia terlebih dahulu diazankan dan diiqamatkan. Inilah usaha awal untuk meneruskan perkenalan bayi itu dengan Allah. Tidak cukup sekadar itu sahaja, malah para ibu-bapa juga wajib mengenalkan kepada anak-anak mereka segala sifat kesempurnaan Allah secara mudah tetapi konsisten. Sabda Rasululah: "Awal-awal agama ialah mengenal Allah." Alangkah indahnya jika semua itu berjalan lancar. Sejak kecil lagi putik cinta dan rindu Allah itu tumbuh, berbunga dan akhirnya berbuah apabila menjelang dewasa. Malangnya, ramai anak tidak diperkenalkan kepada Allah oleh ibu-bapanya. Sebaliknya, didedahkan kepada unsur-unsur yang melindungi kebesaran Allah. Seringkali, didikan, ajaran, malah lagu, filem, bahan bacaan yang didedahkan kepada anak-anak menggugat perkenalannya dengan Allah. Akibatnya, kerinduan dan kecintaan yang sedia ada di alam roh itu tidak bersambung, bahkan tercemar. Cinta terputus di tengah jalan. Setiap manusia memiliki hanya satu hati, tidak dua, tidak tiga. Bila cinta Allah dicemari, cinta yang lain datang mengganti. Dua cinta tidak akan berkumpul di dalam satu hati. Hanya satu cinta akan bertakhta di dalam satu jiwa. Bila cinta Allah terpinggir maka terpinggir jugalah segala kebaikan dan kesuciannya. Maka yang tumbuh selepas itu ialah cinta selain Allah seiring suburnya segala kejahatan dan kekejiannya! Bagaimanakah caranyanya membersihkan semula hati yang telah dicemari dan diracuni? Cukupkah hanya dengan ucapan dan penyesalan? Ya, usaha untuk membersihkan hati adalah usaha yang sukar. Tetapi hanya itulah satu-satunya jalan. Tidak ada jalan mudah untuk mendapat cinta itu semula. Setiap cinta menagih pengorbanan. Begitulah jua cinta Allah. Sabda Rasulullah: "Iman itu bukanlah angan-angan, bukan pula ucapan, tetapi sesuatu yang menetap di dalam dada, lalu dibuktikan dengan perbuatan." Perjuangan itu pahit, kerana syurga itu manis. Kecintaan kepada Allah terlalu mahal. Bayangkan untuk mendapat cinta seorang wanita yang rupawan, jejaka yang hartawan, putera yang bangsawan, itupun sudah terlalu sukar, maka apatah lagi untuk mendapat cinta Allah zat yang Maha Agung dan Maha Sempurna itu. Siapa tidak inginkan kecantikan, harta, nama dan kuasa? Semua itu mahal harganya. Namun semua itu tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan cinta Allah - sumber segala kekayaan, kecantikan, kuasa dan keagungan. Cintakan gadis yang cantik, kecantikan akan luntur. Cintakan harta yang banyak, harta akan musnah atau ditinggalkan. Cinta pada kuasa, suatu hari pasti dijatuhkan atau berakhir dengan kematian. Namun cinta Allah, adalah cinta yang hakiki, sejati dan abadi. Keindahan Pencipta (Khalik) tidak akan dapat ditandingi oleh ciptaannya (makhluk). Keagungan, kekuasaan dan kekayaan Allah akan kekal abadi selamanya. Bila kekasih di kalangan manusia sudah berpaling, maka sedarilah bahawa Allah tetap melihat dengan pandangan rahmat-Nya. Apabila kita mencintai Allah, kita hakikatnya akan memiliki segala-galanya. Inilah cinta yang tidak akan terpisah oleh kejauhan, kematian dan kemiskinan. Sebaliknya bila kita kehilangan cinta Allah, kita sebenarnya telah kehilangan segala-galanya. Sekiranya kita telah disukai oleh seorang raja, maka anda akan turut disukai oleh pelayan-pelayannya, dikurniakan pangkat, dijamin makan-minum, bebas di bergerak di istananya dan macam-macam lagi kurniaannya. Maka begitulah sekiranya seorang yang mencintai Allah. Para malaikat akan menjaganya. Orang-orang soleh turut mendoakannya. Rezkinya akan dipenuhi dengan segala kecukupan dan keberkatan. Apa nak dihairankan? Bukankah ‘talian hayat' kekasih-kekasih Allah ini sentiasa terhubung kepada satu kuasa yang tiada tolok bandingnya! Hadis Qudsi: Allah swt berfirman: "Aku menurut sangkaan hamba kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila dia ingat kepada-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dan dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil. (Sahih Bukhari) Namun begitu, seperti yang ditegaskan sebelumnya, cinta Allah yang begitu agung dan suci, pasti ada tagihannya. Jalan mencintai Allah tidak semudah yang disangkakan. Sudah adat, setiap yang mahal, sukar mendapatkannya. Bandingannya seperti pasir dengan permata. Pasir, murah harganya... kerana ia boleh dicari di merata-rata. Sebaliknya, permata begitu tinggi nilainya, maka perlu menyelam ke dasar lautan untuk mendapatkannya. Tidak ada kesukaran, tidak ada ganjaran. Begitulah jua dengan cinta Allah yang hakikatnya jauh lebih tinggi nilainya daripada intan atau permata. Justeru, pasti ada ‘harga' atau mahar yang mahal terpaksa dibayar untuk mendapatkannya. Untuk mendapat cinta Allah kita perlu berkorban. Cinta dan pengorbanan sudah sinonim dan tidak sekali-kali dapat dipisahkan. Kita perlu membayar harga cinta itu dengan segala yang ada pada kita - masa, tenaga, harta bahkan nyawa. Namun apa yang lebih penting bukanlah masa, tenaga atau sesuatu yang berbentuk lahiriah. Itu cuma lambang sahaja. Yang lebih penting ialah hati di sebalik pengorbanan itu. Lihat sahaja hati yang dimiliki oleh Habil berbanding Qabil dalam pengorbanannya untuk Allah. Hati yang bersih akan mengorbankan sesuatu yang terbaik untuk Allah. Lalu kerana ketulusan hatinya, Habil mengorbankan hasil ternakannya yang terbaik untuk Allah. Manakala Qabil pula menyerahkan hasil pertanian yang kurang bermutu untuk membuktikan cintanya yang tidak seberapa. Lalu ini menjadi sebab, Allah menolak pengorbanan Qabil, sebaliknya menerima pengorbanan Habil. Kita bagaimana? Sudahkah kita mengorbankan segala yang terbaik hasil dorongan hati yang baik? Ke manakah kita luangkan masa, usia, tenaga, harta kita yang terbaik? Untuk kebaikan yang disuruh oleh Allah atau ke arah kejahatan yang dilarang-Nya? Tepuk dada tanyalah hati, apakah ada cinta yang mendalam di dalam hati itu? Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya ALLAH tidak melihat gambaran lahir amalan kamu dan rupa kamu tapi ALLAH melihat hati kamu". Riwayat Muslim Pengabdian kita kepada Tuhan adalah bukti cinta kepada-nya. Pepatah Arab mengatakan: "Setiap orang menjadi hamba kepada apa yang dicintanya." Maksudnya, pengabdian adalah umpama ‘hadiah' yang kita ingin berikan kepada Allah sebagai bukti cinta kita. Ia mesti didorong oleh hati yang bersih. Tidak dicemari riyak dan syirik. Maha suci Allah daripada dipersekutukan oleh hamba-Nya dengan sesuatu. Jika amal itu dicemari oleh kekotoran hati - riyak (syirik kecil), sifat menunjuk-nunjuk, syirik besar - mempersekutukan Allah) maka amalan itu tidak bernilai walaupun ia seluas lautan atau setinggi gunung. Sebaliknya, jika hati seseorang itu ikhlas, amalnya yang sekecil manapun akan menjadi besar dan bernilai di sisi Allah. Insya-Allah, ‘hadiah' itu akan diterima oleh Allah. Firman Allah: "Barang siapa yang ingin menemui Tuhannya, hendaklah dia beramal soleh dan tidak mempersekutukan Allah dengan amalannya itu." Surah Al-Kahfi: 110 Hakikatnya Allah Maha Kaya dan DIA tidak mengkehendaki apa jua manfaat daripada hamba-hamba-Nya sekalipun amalan dan kebaikan yang mereka lakukan. Maha Suci Allah daripada bersifat miskin - punya keinginan untuk mendapat manfaat daripada para hamba-Nya. Amalan dan kebaikan yang dilakukan oleh manusia bukan untuk Allah tetapi manfaat itu kembali kepada manusia semula. Bila kita solat misalnya, solat itu manfaatnya akan dirasai oleh kita juga. Firman Allah: "Sesungguhnya sembahyang itu akan mencegah daripada kemungkaran dan kejahatan." Surah Al-Ankabut: 45 Ya, solat akan menyebabkan kita terhalang daripada melakukan kejahatan dan kemungkaran. Itulah manfaat solat. Itu amat berguna kepada diri manusia. Manusia yang baik akan dikasihi oleh manusia lain. Hidup yang selamat daripada kemungkaran dan kejahatan, adalah hidup yang tenang, aman dan bahagia. Begitu juga apabila Allah menyuruh kita melakukan sesuatu atau melarang kita melakukannya, itu adalah kerana Allah ingin berikan kebaikan kepada kita bukan untuk-Nya. Inilah rasionalnya di sebalik pengharaman riba, arak, zina, pergaulan bebas, pendedahan aurat dan lain-lain. Susah atau senangnya untuk manusia bukan untuk Allah. Tegasnya, jika patuh, manfaatnya untuk manusia. Jika engkar, mudaratnya juga untuk manusia. Namun, walau sesukar mana sekalipun kita berusaha menghampirkan diri kepada Allah, kita akan merasa mudah jika Allah sendiri memberi bantuan-Nya. Jika Allah sudah permudahkan, walaupun seberat mana sekalipun, kita akan mampu mengatasinya. Allah akan permudahkan kita dengan mengurniakan sifat sabar, istiqamah, syukur dan redha kepada-Nya. Lihatlah sejarah perjuangan para Rasul dan nabi serta sahabat-sahabat Rasulullah... kita akan tertanya-tanya mengapa mereka sanggup menderita, tersiksa bahkan terkorban nyawa untuk mendapat cinta Allah? Renungilah betapa Sumayyah rela mengorbankan nyawanya. Begitu juga Mus'ab bin Umair, Hanzalah, Jaafar bin Abi Talib, Abdullah ibnu Rawahah... mereka semuanya telah syahid di jalan Allah. Apakah itu susah buat mereka? Mereka sangat menghayati apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW: "Jagalah Allah, nescaya engkau akan temukan DIA di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika dalam keadaan lapang nescaya DIA akan mengenalmu dalam keadaan sempit. Ketahuilah segala sesuatu yang luput daripadamu tidak akan menimpamu dan sesuatu yang menimpamu tidak akan dapat luput darimu. Ketahuilah bahawa kemenangan itu menyertai kesabaran, kelapangan itu menyertai kesempitan dan kemudahan itu menyertai kesukaran." Riwayat Ahmad, Hakim, Thabrani, Ibnu Sunni, Ajiri dan Dhiya'agal Mereka sesungguhnya merasa bahagia dalam mengharungi penderitaan, merasa mulia dengan mengorbankan nyawa. Ini semua mudah buat mereka kerana Allah telah melembutkan hati-hati mereka. Benarlah bila hendak seribu daya, bila mahu sejuta cara. Kemahuan dan keinginan mereka itu hakikat didorong oleh Allah. Untuk itu, mintalah simpati dari Allah untuk memudahkan kita mendekatkan diri kepada-Nya. Bagaimana memohon simpati daripada Allah? Tidak lain dengan cara berdoa kepada-Nya. Doa itu adalah senjata orang mukmin. Maksudnya, doa ialah alat atau ubat yang paling mustajab dan mujarab untuk mendapat hati yang lunak dengan Allah. Namun harus diingat, doa bukanlah usaha ‘pemberitahuan' kehendak-kehendak kita kepada Allah ( kerana tanpa diberitahupun Allah sedia mengetahui), namun doa hakikatnya usaha ‘penyerahan' diri kita kepada-Nya. Orang yang berdoa ialah orang yang mengakui segala sifat kehambaannya di hadapan kekuasaan Allah. Apakah sifat-sifat kehambaan itu? Antaranya, rasa lemah, hina, jahil, miskin, berdosa, hodoh dan segala sifat-sifat kekurangan. Berdoa ertinya kita menyerah pasrah kepada Allah. Kita nafikan segala kelebihan diri. Yang kita akui hanya sifat keagungan dan kebesaran Allah. Lalu kita inginkan hanya bantuan-Nya. Kita tagihkan simpati, kasihan dan keampunan-Nya sahaja. Hanya dengan mengaku lemah di hadapan Allah kita akan memperolehi kekuatan. Hanya dengan mengaku miskin di hadapan Allah kita akan dikayaka-Nya. Tegasnya, hanya dengan merasai segala sifat kehambaan barulah kita akan mendapat kekuatan, kemuliaan dan kelebihan dalam mengharungi hidup yang penuh cabaran ini. Bila Allah telah hadiahkan kasih dan rindu-Nya kepada kita, kita akan merasa kebahagiaan dan ketenangan yang tiada taranya lagi. Dalam apa jua keadaan kita akan mendapat ketenagan. Susah, kita sabar. Senang, kita syukur. Kita bersalah, mudah meminta maaf. Jika orang meminta maaf, kita sedia dan rela pula memaafkan. Alangkah bahagianya punya keikhlasan hati yang sebegini? Itulah hakikatnya syukur - pada lidah, hati dan amalan. Syukur dengan lidah, mengucapkan tahmid (pujian) kepada Allah. Syukur dengan hati, merasakan segala nikmat hakikatnya daripada Allah bukan daripada usaha atau ikhktiar diri kita. Tadbir kita tidak punya apa-apa kesan berbanding takdir Allah. Dan akhirnya syukur dengan tindakan, yakni menggunakan segala nikmat daripada Allah selaras dengan tujuan Allah mengurniakan nikmat itu. Jika Allah berikan harta, kita gunakan ke arah kebaikan dan kebajikan. Jika diberi ilmu, kita mengajar orang lain. Diberi kuasa, kita memimpin dengan adil dan saksama! Syukur itulah tujuan utama kita dikurniakan nikmat. Ertinya, kita kembalikan nikmat kepada yang Empunya nikmat (Allah). Author;;Ust.Pahrol Muhd Joui(malaysia) Post::R... Lihat Selengkapnya
Oleh: Gentra Pusaka Wangi
:::Beban Segelas Air:::

:::Beban Segelas Air:::
Seorang dosen sedang memberi kuliah tentang Stress Management.
Dia mengangkat segelas air dan bertanya kepada mahasiswa,
...“Berapa beratkah segelas air ini pada pikiran Anda semua?”
Mahasiswa mengatakan beratnya anggaran dari 20 gram hingga 500 gram.
“Ini bukanlah masalah berat secara total, tetapi tergantung kepada berapa lama Anda memegangnya.
Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah.
Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit .
Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin Anda harus memanggil ambulan untuk saya.
Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan bertambah “.
” Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi.
Beban itu akan meningkat beratnya “.
“Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi”.
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari kantor dan sebagainya, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada di bahu Anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat ambilnya kembali.Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya!!
PS: Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat atau disentuh, tetapi hanya dapat dirasakan jauh di relung hati Anda.
:::R:::
http://karaheut.wordpress.com/2011/05/16/beban-segelas-air/
KESALAHAN dan KESALAHAN
KESALAHAN dan KESALAHAN akan membuat kita tak tentu arah! Penyesalan menyerang perasaan, ditambahkan oleh berbagai saran-saran keliru yang merusak sekaligus dapat membuat seseorang berhenti setelah melakukan kesalahan. Kesimpulan mudah untuk mengatasi hal ini adalah berubah.
Bagaimana caranya?
Akui jika memang bersalah
Ini akan membebaskan mental kita. Mangakui kesalahan akan lebih membuat kita lega dan mampu melihat permasalahan dengan lebih jelas daripada kita mengeluh, menyalahkan orang lain, atau menyalahkan keadaan.
Hadapi kesalahan
Kesalahan adalah fitrah, suatu yang lumrah terjadi pada semua manusia. Oleh itu, kita tidak mungkin menghindarinya. Semakin menghindari semakin terseksa! Hadapilah dan carilah solusinya. Dengan melarikan diri hanya membuat kita semakin menderita!
Fleksibel dengan informasi baru
Merubah pikiran bukan satu kesalahan andai ia demi kebaikan atau malah lebih baik. Maka jika kita melakukan kesalahan, tidak ada salahnya untuk mengubah pikiran. Jika ada informasi baru yang lebih baik, mengapa harus ditolak?
Terimalah perubahan
Informasi baru dapat mengubah pikiran dan perasaan kita terhadap tindakan kita di masa lalu. Jika ini terjadi terimalah perubahan itu. Perubahan pikiran dan perasaan akan mengubah hasil yang akan dicapai.
Tidak ada orang yang sempurna, terimalah kesalahan. Dengan menerimanyalah kita mampu melakukan perbaikan. Bagaimana kita dapat melakukan perubahan jika kita tidak merasa bersalah?
sumber :Gentra Pusaka Wangi
Friday, May 20, 2011
jagalah hati maka kmu akn menang !!!!
jagalah hati maka kmu akn menang !!!!
INDAHNYA ISLAM KITA
KEMATIAN DAN HIDUP SETELAH MATI
Di seberang pintu gerbang ini, yaitu kehidupan di akhirat, kita akan memasuki surga atau neraka tergantung pada iman kita yang murni pada keesaan Allah dan ridha Allah atas amal perbuatan kita di dunia ini.
Kematian hanyalah akhir dari suatu jangka waktu saja. Kematian sama dengan membunyikan bel di sekolah, yang menandai berakhirnya ujian. Allah memberi jangka waktu yang berbeda untuk menguji setiap manusia. Ada yang diberi waktu tiga puluh tahun, ada pula yang menikmati hidup selama seratus tahun. Seperti halnya Allah memutuskan tanggal lahir kita, yang merupakan awal ujian kita, Allah memutuskan pula waktu berakhirnya jangka waktu tersebut. Dengan kata lain, hanya Allah yang tahu pada umur berapa kalian akan meninggal.
Bagaimana Seharusnya Kita Memikirkan Kematian?
Kematian, yaitu berakhirnya masa ujian kita di dunia ini, adalah sumber kebahagiaan dan kenikmatan bagi orang beriman. Kita hampir tidak pernah menyesali orang yang berhasil melalui ujian, bukan? Merasa berduka karena seseorang meninggal sama saja lucunya. Mungkin benar kalian kehilangan kerabat dekat atau seseorang yang kalian cintai. Namun, orang yang beriman mengetahui bahwa kematian pasti bukanlah perpisahan abadi, dan bahwa seseorang yang meninggal hanya sekadar menyelesaikan masa ujian di dunia ini. Dia tahu bahwa di akhirat, Allah akan mengumpulkan kaum Muslimin yang hidup menurut perintah-Nya dan memberi mereka balasan surga. Dalam hal ini, mereka akan merasakan kebahagiaan besar, bukan rasa penyesalan.
Allah bisa mengambil jiwa kita kapan pun. Oleh sebab itu, kita harus berjuang untuk memperoleh ridha Allah.
Kesimpulannya, kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah gerbang yang mengantar kita menuju akhirat. Kehidupan di akhirat adalah kehidupan sesungguhnya yang akan abadi, dan kita perlu bersiap-siap untuk itu. Apakah kalian berpikir bahwa seseorang yang menjalani ujian ingin tetap dalam ujian itu selamanya? Tentu tidak. Dia hanya ingin menjawab pertanyaan dengan benar, lalu meninggalkan kelas.
Di dunia ini pun, seorang manusia harus berjuang untuk melalui ujiannya, mendapatkan ridha Allah, dan mencapai surga-Nya.
Dalam dunia ini, tujuan terpenting manusia haruslah untuk mencintai Allah dan mendapatkan ridha-Nya. Hal ini karena Allah, Yang Maha Penyayang, mencintai kita dan melindungi kita di segala waktu. Salah satu ayat Al Qur'an, yang menyebutkan perkataan salah seorang nabi, berbunyi:
Allah bisa mengambil jiwa kita kapan pun. Oleh sebab itu, kita harus berjuang untuk memperoleh ridha Allah.
Kesimpulannya, kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah gerbang yang mengantar kita menuju akhirat. Kehidupan di akhirat adalah kehidupan sesungguhnya yang akan abadi, dan kita perlu bersiap-siap untuk itu. Apakah kalian berpikir bahwa seseorang yang menjalani ujian ingin tetap dalam ujian itu selamanya? Tentu tidak. Dia hanya ingin menjawab pertanyaan dengan benar, lalu meninggalkan kelas.
Di dunia ini pun, seorang manusia harus berjuang untuk melalui ujiannya, mendapatkan ridha Allah, dan mencapai surga-Nya.
Dalam dunia ini, tujuan terpenting manusia haruslah untuk mencintai Allah dan mendapatkan ridha-Nya. Hal ini karena Allah, Yang Maha Penyayang, mencintai kita dan melindungi kita di segala waktu. Salah satu ayat Al Qur'an, yang menyebutkan perkataan salah seorang nabi, berbunyi:
“…Tuhanku adalah Pelindung segalanya.” (QS Hud: 57)
Akhirat
Allah menggambarkan sifat sementara dunia ini dalam banyak ayat Al Qur'an dan menegaskan bahwa tempat tinggal manusia yang sebenarnya adalah di akhirat. Manusia yang diuji di dunia ini suatu hari akan diambil melalui kematian, sehingga memulai kehidupan barunya di akhirat. Inilah hidup tanpa akhir. Di kehidupan yang abadi, jiwa manusia tidak akan hilang. Allah menciptakan nikmat yang tak terhingga di dunia ini. Dia menciptakan kehidupan di dunia ini untuk melihat bagaimana kita berbuat untuk mensyukuri nikmat yang kita peroleh. Sebagai pahala atau siksa, Allah juga menciptakan surga dan neraka.
Allah memberi tahu kita bagaimana seseorang diberi balasan di akhirat, di hadapan Allah:
Allah memberi tahu kita bagaimana seseorang diberi balasan di akhirat, di hadapan Allah:
Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). (QS Al-An’am: 160)
Allah Maha Penyayang kepada manusia. Dia memberi mereka pahala dengan berlimpah. Tetapi orang yang memperoleh siksa hanyalah dibalas sesuai dengan kejahatan mereka. Allah tidak menzalimi siapa pun. Manusialah yang mungkin memperlakukan orang lain dengan tidak adil. Di dunia ini, seseorang yang berdosa bisa saja menipu atau menyesatkan orang lain, tetapi di akhirat, jika dia tidak beriman kepada Allah dan keesaan-Nya, Allah pasti akan menghukumnya, dan jika dia adalah seorang Muslim, Allah mungkin akan menghukum atau memaafkannya. Allah Maha Melihat dan Mendengar segalanya, sehingga Dia membalas segala perbuatan.
Surga dan Neraka
Surga dan neraka adalah dua tempat terpisah. Di kedua tempat ini manusia akan menghabiskan kehidupannya setelah mati. Al Qur'an-lah yang memberi kita informasi yang benar tentang kedua tempat ini.
Kamu mungkin pernah pergi ke daerah-daerah yang pemandangannya indah atau melihat adegan-adegan yang menegangkan dalam film. Mungkin ada tempat-tempat yang tidak ingin kalian tinggalkan. Surga tidak dapat dibandingkan keindahannya dengan tempat-tempat apa pun yang kalian sebutkan itu. Makanan yang dinikmati orang-orang beriman dalam surga jauh lebih lezat daripada makanan di dunia ini.
Allah, Pencipta segala keindahan di dunia, memberi tahu kita bahwa Dia menciptakan keindahan yang jauh lebih hebat di surga bagi orang-orang beriman yang ikhlas.
Kamu mungkin pernah pergi ke daerah-daerah yang pemandangannya indah atau melihat adegan-adegan yang menegangkan dalam film. Mungkin ada tempat-tempat yang tidak ingin kalian tinggalkan. Surga tidak dapat dibandingkan keindahannya dengan tempat-tempat apa pun yang kalian sebutkan itu. Makanan yang dinikmati orang-orang beriman dalam surga jauh lebih lezat daripada makanan di dunia ini.
Allah, Pencipta segala keindahan di dunia, memberi tahu kita bahwa Dia menciptakan keindahan yang jauh lebih hebat di surga bagi orang-orang beriman yang ikhlas.
Kesulitan di Dunia Ini Membuat Kita Lebih Memahami Keindahan Surga
Kita mengalami berbagai kesulitan di dunia ini. Kita sakit, kita mengalami patah tangan atau kaki, kita merasa sangat dingin atau panas, perut kita lapar, atau kulit kita memar, dll. Lihatlah foto orang tua kalian yang masih muda, dan pikirkanlah tentang wajah mereka sekarang. Kalian akan melihat perbedaan.
Allah khusus menciptakan kelemahan seperti itu bagi manusia di dunia ini. Tak satu pun kelemahan itu ditemukan di akhirat. Begitu kelemahan di dunia ini direnungkan, kita bisa mengenal kehebatan surga dengan baik. Memasuki surga menghapus semua penderitaan. Pikirkanlah hal-hal yang tidak kalian sukai di dunia ini... Di akhirat, semua itu tidak akan ada lagi.
Surga dihias dengan nikmat-nikmat yang paling disukai oleh manusia. Segala hal terbaik dari yang kita makan dan minum di dunia ini ada di surga, dalam bentuk yang sempurna. Manusia tidak pernah merasakan dingin atau panas di surga. Mereka tidak pernah sakit, takut, berduka, atau menjadi tua. Kalian tidak akan menemukan orang jahat di sana. Ini karena orang jahat, yaitu orang yang tidak percaya pada Allah dan mengingkari-Nya, akan tinggal di neraka, tempat yang pantas buat mereka. Orang-orang di surga berbicara dengan lemah lembut satu sama lain. Mereka tidak pernah mengumpat, marah, berteriak, atau saling menyakiti. Seluruh orang baik yang mempunyai keimanan sejati atas keesaan Allah, dan orang yang beramal demi ridha Allah, sehingga pantas mendapat surga, akan berada di sana, berkumpul sebagai teman selamanya.
Dari Al Qur'an kita tahu bahwa hal-hal luar biasa terdapat dalam surga: kediaman yang luar biasa, taman-taman yang teduh, dan sungai yang mengalir menambah sukacita penghuni surga. Memang, apa yang telah kita gambarkan di atas belumlah cukup untuk melukiskan nikmatnya surga. Keindahan surga berada di luar khayalan kita.
Dalam Al Qur'an, Allah memberi tahu kita bahwa dalam surga, manusia akan mendapatkan lebih dari yang mereka pikirkan. Pikirkanlah sesuatu yang kamu ingin miliki atau tempat yang ingin kalian kunjungi. Dengan kehendak Allah, kalian akan mendapatkan semua itu dalam sekejap. Dalam satu ayat, Allah menyatakan bahwa:
Allah khusus menciptakan kelemahan seperti itu bagi manusia di dunia ini. Tak satu pun kelemahan itu ditemukan di akhirat. Begitu kelemahan di dunia ini direnungkan, kita bisa mengenal kehebatan surga dengan baik. Memasuki surga menghapus semua penderitaan. Pikirkanlah hal-hal yang tidak kalian sukai di dunia ini... Di akhirat, semua itu tidak akan ada lagi.
Surga dihias dengan nikmat-nikmat yang paling disukai oleh manusia. Segala hal terbaik dari yang kita makan dan minum di dunia ini ada di surga, dalam bentuk yang sempurna. Manusia tidak pernah merasakan dingin atau panas di surga. Mereka tidak pernah sakit, takut, berduka, atau menjadi tua. Kalian tidak akan menemukan orang jahat di sana. Ini karena orang jahat, yaitu orang yang tidak percaya pada Allah dan mengingkari-Nya, akan tinggal di neraka, tempat yang pantas buat mereka. Orang-orang di surga berbicara dengan lemah lembut satu sama lain. Mereka tidak pernah mengumpat, marah, berteriak, atau saling menyakiti. Seluruh orang baik yang mempunyai keimanan sejati atas keesaan Allah, dan orang yang beramal demi ridha Allah, sehingga pantas mendapat surga, akan berada di sana, berkumpul sebagai teman selamanya.
Dari Al Qur'an kita tahu bahwa hal-hal luar biasa terdapat dalam surga: kediaman yang luar biasa, taman-taman yang teduh, dan sungai yang mengalir menambah sukacita penghuni surga. Memang, apa yang telah kita gambarkan di atas belumlah cukup untuk melukiskan nikmatnya surga. Keindahan surga berada di luar khayalan kita.
Dalam Al Qur'an, Allah memberi tahu kita bahwa dalam surga, manusia akan mendapatkan lebih dari yang mereka pikirkan. Pikirkanlah sesuatu yang kamu ingin miliki atau tempat yang ingin kalian kunjungi. Dengan kehendak Allah, kalian akan mendapatkan semua itu dalam sekejap. Dalam satu ayat, Allah menyatakan bahwa:
…. Kalian akan memperoleh di dalamnya apa yang kalian minta. (QS Fussilat: 31)
Beberapa ayat dalam Al Qur'an yang menceritakan keindahan surga adalah sebagai berikut:
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa: Di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai khamar arak yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring, dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka… (QS Muhammad: 15)
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. (QS Al-'Ankabut: 58)
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. (QS Al-'Ankabut: 58)
(Bagi mereka) surga Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang emas, serta dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. (QS Fatir: 33)
Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa saja yang mereka minta. (QS Ya Sin: 55-57)
Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa saja yang mereka minta. (QS Ya Sin: 55-57)
Di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak pernah berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. (QS Al-Waqi'ah: 28-34)
Allah juga memberi tahu kita bahwa orang-orang yang pantas mendapatkan surga akan tinggal di dalamnya selamanya:
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekadar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya. (QS Al-A’raaf: 42)
Pada dasarnya, seorang yang beriman akan memperoleh kesenangan karena mendapatkan ridha Allah. Mengetahui dan merasakan hal ini adalah kesenangan terbesar yang kita rasakan di dunia.
Siksa Neraka Akan Abadi Selamanya
Orang yang durhaka kepada Allah dan menolak mengakui adanya Allah juga akan diberi balasan karena apa yang mereka lakukan itu. Mereka tidak mengakui Allah dan tidak percaya bahwa Allah-lah Yang telah menciptakan segalanya, dan mereka bersikap sombong, tidak mampu melakukan ibadah yang diperintahkan kepada mereka, sehingga mereka membangkang di dunia ini. Karena semua ini, mereka akan disiksa dalam neraka.
Beberapa orang melakukan berbagai kejahatan di dunia ini. Ketika tidak ada orang yang melihat mereka, mereka mungkin tidak akan dihukum. Tetapi orang-orang ini tidak tahu bahwa Allah melihat mereka setiap waktu, dan Allah bahkan mengetahui pikiran mereka.
Setiap orang akan diberi balasan atas perbuatan baik maupun jahat yang mereka lakukan. Allah memiliki keadilan tak terbatas, dan dalam ayat-ayat Al Qur'an, Allah memberikan kabar gembira, bahwa bahkan perbuatan sekecil apa pun akan diberi balasan yang berlipat ganda. Allah juga memberi tahu kita bahwa manusia akan diberi pahala jika mereka menyesal dan memohon ampun kepada-Nya. Akan tetapi, Allah mengancam orang-orang yang tidak beriman kepada-Nya, tidak mau mematuhi perintah dalam Al Qur'an, dan berpikir bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian.
Neraka adalah ganjaran untuk orang-orang berdosa, dan orang-orang yang melakukan kesalahan karena durhaka kepada Allah. Allah menggambarkan keadaan orang-orang ini dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Beberapa orang melakukan berbagai kejahatan di dunia ini. Ketika tidak ada orang yang melihat mereka, mereka mungkin tidak akan dihukum. Tetapi orang-orang ini tidak tahu bahwa Allah melihat mereka setiap waktu, dan Allah bahkan mengetahui pikiran mereka.
Setiap orang akan diberi balasan atas perbuatan baik maupun jahat yang mereka lakukan. Allah memiliki keadilan tak terbatas, dan dalam ayat-ayat Al Qur'an, Allah memberikan kabar gembira, bahwa bahkan perbuatan sekecil apa pun akan diberi balasan yang berlipat ganda. Allah juga memberi tahu kita bahwa manusia akan diberi pahala jika mereka menyesal dan memohon ampun kepada-Nya. Akan tetapi, Allah mengancam orang-orang yang tidak beriman kepada-Nya, tidak mau mematuhi perintah dalam Al Qur'an, dan berpikir bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian.
Neraka adalah ganjaran untuk orang-orang berdosa, dan orang-orang yang melakukan kesalahan karena durhaka kepada Allah. Allah menggambarkan keadaan orang-orang ini dalam Al Qur'an sebagai berikut:
(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan olok-olok, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (QS Al-A'raf: 51)
Di neraka, siksa yang mengerikan, yang tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit seperti apa pun di dunia ini, telah menunggu penghuni neraka. Neraka adalah tempat yang penuh dengan api, rasa sakit, putus asa, dan ketidakbahagiaan. Penghuni neraka berdoa kepada Allah dan memohon dikeluarkan dari neraka. Tetapi, begitu telah berada di neraka, sudah terlambat untuk merasa sesal atau sedih. Telah dibahas di depan tentang penyesalan yang dirasakan oleh Firaun. Allah memberi manusia kesempatan hingga saat kematiannya. Tetapi, begitu ia meninggal dan memulai kehidupan di akhirat, rasa sesal tidak akan lagi berguna.
Penghuni neraka menjalani kehidupan yang jauh lebih buruk daripada kehidupan binatang. Satu-satunya makanan yang mereka temui hanyalah buah dari duri pahit dan pohon Zaqqum. Mereka meminum darah dan nanah. Dengan kulit mengelupas, daging terbakar, dan darah berceceran di mana-mana, mereka menjalani kehidupan yang menghinakan. Dengan tangan-tangan terikat pada leher mereka, mereka dimasukkan ke tengah-tengah api. Bahkan, kehidupan seperti ini akan tetap abadi.
Banyak orang yang percaya bahwa neraka hanyalah tempat sementara, dan bahwa ketika mereka telah disiksa karena kesalahan mereka, mereka akan memasuki surga. Benar atau tidaknya hal ini hanyalah diketahui oleh Allah, Yang memberi tahu kita tentang hal berikut ini dalam Al Qur'an:
Penghuni neraka menjalani kehidupan yang jauh lebih buruk daripada kehidupan binatang. Satu-satunya makanan yang mereka temui hanyalah buah dari duri pahit dan pohon Zaqqum. Mereka meminum darah dan nanah. Dengan kulit mengelupas, daging terbakar, dan darah berceceran di mana-mana, mereka menjalani kehidupan yang menghinakan. Dengan tangan-tangan terikat pada leher mereka, mereka dimasukkan ke tengah-tengah api. Bahkan, kehidupan seperti ini akan tetap abadi.
Banyak orang yang percaya bahwa neraka hanyalah tempat sementara, dan bahwa ketika mereka telah disiksa karena kesalahan mereka, mereka akan memasuki surga. Benar atau tidaknya hal ini hanyalah diketahui oleh Allah, Yang memberi tahu kita tentang hal berikut ini dalam Al Qur'an:
Mereka berada di dalam neraka yang tertutup rapat. (QS Al-Balad: 20)
Hal itu adalah karena mereka mengaku, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari yang bisa dihitung.” Mereka teperdaya dalam agama mereka karena apa yang selalu mereka ada-adakan. (QS Ali Imran: 24)
Hal itu adalah karena mereka mengaku, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari yang bisa dihitung.” Mereka teperdaya dalam agama mereka karena apa yang selalu mereka ada-adakan. (QS Ali Imran: 24)
Akan tetapi, yang harus dilakukan oleh seorang Muslim yang mengatahui kesalahannya dan perbuatannya yang keliru adalah menyesali semua itu, berdoa, dan memohon pengampunan dari Allah. Dalam Al Qur'an, Allah memberi tahu kita bahwa Allah mengampuni segala dosa asalkan kita bertobat. Ayat yang menyatakannya adalah sebagai berikut:
Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Penyayang. (QS Az-Zumar: 53)
Manusia perlu mengetahui kesalahannya dan meminta pengampunan dari Allah untuk menghindari sesal yang tak berkesudahan di akhirat, dan untuk menyelamatkan diri mereka dari siksa yang tak tertahankan di neraka.
sumber : Harun yahya
Wednesday, May 18, 2011
Cara Islam Menegakkan Hukum dan Keadilan
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Maa-idah:8]
Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk selalu menegakkan kebenaran dan berlaku adil.
Seorang wanita di jaman Rasulullah Saw sesudah fathu Mekah telah mencuri. Lalu Rasulullah memerintahkan agar tangan wanita itu dipotong. Usamah bin Zaid menemui Rasulullah untuk meminta keringanan hukuman bagi wanita tersebut. Mendengar penuturan Usamah, wajah Rasulullah langsung berubah. Beliau lalu bersabda : “Apakah kamu akan minta pertolongan untuk melanggar hukum-hukum Allah Azza Wajalla?” Usamah lalu menjawab, “Mohonkan ampunan Allah untukku, ya Rasulullah.” Pada sore harinya Nabi Saw berkhotbah setelah terlebih dulu memuji dan bersyukur kepada Allah. Inilah sabdanya : “Amma ba’du. Orang-orang sebelum kamu telah binasa disebabkan bila seorang bangsawan mencuri dibiarkan (tidak dihukum), tetapi jika yang mencuri seorang yang miskin maka dia ditindak dengan hukuman. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya. Apabila Fatimah anak Muhammad mencuri maka aku pun akan memotong tangannya.” Setelah bersabda begitu beliau pun kembali menyuruh memotong tangan wanita yang mencuri itu. (HR. Bukhari)
Begitulah sabda Nabi Muhammad. Hukum harus ditegakkan tidak peduli orang itu kaya atau miskin. Hukum harus dijalankan tidak peduli dia orang asing atau anak kita sendiri.
Tidak boleh uang menyebabkan seseorang lolos dari hukuman. Tidak pantas jika karena uang atau hal lainnya akhirnya yang salah jadi benar dan yang benar disalahkan. Jika tidak, maka bangsa itu akan rusak.
Sering seorang pejabat atau penegak hukum tidak dapat berlaku adil jika dia mendapat uang sogokan atau yang dihukum adalah keluarganya sendiri. Padahal itu adalah perbuatan dosa.
Pernah seorang Yahudi di Mesir yang menolak digusur rumahnya untuk perluasan masjid oleh Gubernur Mesir, ‘Amr bin ‘Ash. Padahal dia dapat ganti rugi yang pantas. Akhirnya orang Yahudi itu pergi ke Madinah untuk menemui Khalifah Umar bin Khaththab ra.
Setelah menceritakan masalahnya, Umar ra mengambil sebuah tulang unta kemudian menorehkan garis lurus dari atas ke bawah kemudian dari kiri ke kanan sehingga berbentuk silang. Oleh Umar ra, tulang itu diserahkan kepada orang Yahudi tersebut.
“Bawalah tulang ini dan berikan kepada Gubernur Mesir, ‘Amr bin ‘Ash. Katakan ini dari Umar bin Khaththab”, begitu kata Umar ra.
Orang Yahudi itu meski merasa aneh, namun memberikan tulang itu kepada ‘Amr bin ‘Ash. Muka ‘Amr bin ‘Ash segera pucat pasi begitu melihat tulang yang digaris dengan pedang itu. Dia segera mengembalikan rumah orang Yahudi tersebut tanpa pikir panjang.
Orang Yahudi itu bertanya mengapa ‘Amr begitu melihat tulang itu begitu ketakutan dan segera mengembalikan rumahnya?
‘Amr bin ‘Ash menjawab, “Ini adalah peringatan dari ‘Umar bin Khaththab agar aku selalu berlaku lurus (adil) seperti garis vertikal pada tulang ini. Jika aku tidak bertindak lurus, maka Umar akan memenggal leherku sebagaimana garis horisontal di tulang ini.
Begitulah sikap seorang Kepala Negara. Dia harus mau mendengar keluhan rakyatnya yang digusur semena-mena oleh anak buahnya. Dia harus memiliki rasa keadilan dan kepedulian terhadap rakyatnya.
Seorang pemimpin harus berani menindak anak buahnya yang bersikap sewenang-wenang dan membela rakyatnya yang dizalimi. Tidak boleh membiarkan rakyatnya terlunta-lunta dan menderita karena kezaliman atau ketidak-mampuan anak buahnya.
Menjadi seorang penegak hukum atau hakim sangat berat. Dari 3 golongan, 2 golongan masuk neraka, dan hanya satu golongan saja yang masuk surga.
Hakim terdiri dari tiga golongan. Dua golongan hakim masuk neraka dan segolongan hakim lagi masuk surga. Yang masuk surga ialah yang mengetahui kebenaran hukum dan mengadili dengan hukum tersebut. Bila seorang hakim mengetahui yang haq tapi tidak mengadili dengan hukum tersebut, bahkan bertindak zalim dalam memutuskan perkara, maka dia masuk neraka. Yang segolongan lagi hakim yang bodoh, yang tidak mengetahui yang haq dan memutuskan perkara berdasarkan kebodohannya, maka dia juga masuk neraka. (HR. Abu Dawud dan Ath-Thahawi)
Hakim yang adil, masuk ke surga. Sebaliknya hakim yang zhalim masuk neraka.
Lidah seorang hakim berada di antara dua bara api sehingga dia menuju surga atau neraka. (HR. Abu Na’im dan Ad-Dailami)
Seorang hakim tidak bisa membiarkan perasaan atau emosinya mempengaruhi keputusannya.
Janganlah hendaknya seorang hakim mengadili antara dua orang dalam keadaan marah. (HR. Muslim)
Seorang hakim harus mendengarkan seluruh keterangan dari semua pihak yang bersengketa. Tidak boleh berat sebelah.
Bila dua orang yang bersengketa menghadap kamu, janganlah kamu berbicara sampai kamu mendengarkan seluruh keterangan dari orang kedua sebagaimana kamu mendengarkan keterangan dari orang pertama. (HR. Ahmad)
Saksi Palsu atau berbohong adalah dosa besar. Bahkan Nabi sampai menyamakannya dengan dosa syirik. Oleh karena itu membuat seseorang bersaksi palsu baik dengan iming-iming atau pun dengan intimidasi/penyiksaan adalah dosa yang besar.
Salah satu dosa paling besar ialah kesaksian palsu. (HR. Bukhari)
Rasulullah Saw bersabda : “Disejajarkan kesaksian palsu dengan bersyirik kepada Allah.” Beliau mengulang-ulang sabdanya itu sampai tiga kali. (Mashabih Assunnah)
Nabi Saw mengadili dengan sumpah dan saksi. (HR. Muslim)
Terkadang ada orang yang ingin menzalimi seseorang dengan memakai pengacara hitam yang pintar bicara dan pandai “mengatur” kasus. Padahal nerakalah imbalan bagi mereka.
Sesungguhnya aku mengadili dan memutuskan perkara antara kalian dengan bukti-bukti dan sumpah-sumpah. Sebagian kamu lebih pandai mengemukakan alasan dari yang lain. Siapapun yang aku putuskan memperoleh harta sengketa yang ternyata milik orang lain (saudaranya), sesungguhnya aku putuskan baginya potongan api neraka. (HR. Aththusi)
Jika kita mengetahui satu kejadian penting yang berkaitan dengan satu kasus hukum, hendaknya kita bersaksi di depan hakim.
Maukah aku beritahukan saksi yang paling baik? Yaitu yang datang memberi kesaksian sebelum dimintai kesaksiannya. (HR. Muslim)
Dalam Islam, kejahatan yang keji seperti pembunuhan dan perkosaan hukumannya adalah hukuman mati.
Tidak halal darah (dihukum mati) seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga sebab. Pertama, duda atau janda yang berzina (juga suami atau isteri). Kedua, hukuman pembalasan karena menghilangkan nyawa orang lain (Qishas), dan ketiga, yang murtad dari Islam dan meninggalkan jama’ah. (HR. Bukhari)
Dari Anas Ibnu Malik ra bahwa ada seorang gadis ditemukan kepalanya sudah retak di antara dua batu besar, lalu mereka bertanya kepadanya: Siapakah yang berbuat ini padamu? Si Fulan? atau Si Fulan? Hingga mereka menyebut nama seorang Yahudi, gadis itu menganggukkan kepalanya. Lalu ditangkaplah orang Yahudi tersebut dan ia mengaku. Maka Rasulullah SAW memerintahkan untuk meretakkan kepalanya di antara dua batu besar itu. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.
Dari Abdullah Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Masalah pertama yang akan diputuskan antara manusia pada hari kiamat ialah masalah darah.” Muttafaq Alaihi.
Dari Ibnu Umar ra bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling durhaka kepada Allah ada tiga: Orang yang membunuh di tanah haram, orang yang membunuh orang yang tidak membunuh, dan orang yang membunuh karena balas dendam jahiliyyah.” Hadits shahih riwayat Ibnu Hibban.
Pencurian dengan nilai di bawah ¼ dinar (kurang dari 1 gram emas) atau sekarang di bawah Rp 375 ribu tidak dikenakan hukuman.
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. memotong tangan pencuri dalam pencurian sebanyak seperempat dinar ke atas. (Shahih Muslim No.3189)
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Pada zaman Rasulullah saw. tangan seorang pencuri tidak dipotong pada (pencurian) yang kurang dari harga sebuah perisai kulit atau besi (seperempat dinar) yang keduanya berharga. (Shahih Muslim No.3193)
Tapi meski tidak dihukum, barang curian harus dikembalikan.
Oleh karena itu kasus nenek berumur 55 tahun yang dituduh mencuri 3 biji Kakao senilai Rp 2.100 tidaklah layak diterima oleh polisi untuk diteruskan ke pengadilan. Apalagi barang curiannya sudah dikembalikan.
Bahkan Khalifah Umar ra pernah membebaskan seorang miskin yang mengambil buah yang jatuh di jalan. Sebaliknya Umar ra menghukum orang kaya yang melaporkan hal itu karena orang itu tidak berperi-kemanusiaan dengan membiarkan tetangganya yang miskin kelaparan.
Itulah yang seharusnya kita lakukan. Hukum itu adalah untuk peri kemanusiaan dan keadilan. Bukan sekedar menghukum tanpa ada rasa kemanusiaan sedikitpun.
Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk selalu menegakkan kebenaran dan berlaku adil.
Seorang wanita di jaman Rasulullah Saw sesudah fathu Mekah telah mencuri. Lalu Rasulullah memerintahkan agar tangan wanita itu dipotong. Usamah bin Zaid menemui Rasulullah untuk meminta keringanan hukuman bagi wanita tersebut. Mendengar penuturan Usamah, wajah Rasulullah langsung berubah. Beliau lalu bersabda : “Apakah kamu akan minta pertolongan untuk melanggar hukum-hukum Allah Azza Wajalla?” Usamah lalu menjawab, “Mohonkan ampunan Allah untukku, ya Rasulullah.” Pada sore harinya Nabi Saw berkhotbah setelah terlebih dulu memuji dan bersyukur kepada Allah. Inilah sabdanya : “Amma ba’du. Orang-orang sebelum kamu telah binasa disebabkan bila seorang bangsawan mencuri dibiarkan (tidak dihukum), tetapi jika yang mencuri seorang yang miskin maka dia ditindak dengan hukuman. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya. Apabila Fatimah anak Muhammad mencuri maka aku pun akan memotong tangannya.” Setelah bersabda begitu beliau pun kembali menyuruh memotong tangan wanita yang mencuri itu. (HR. Bukhari)
Begitulah sabda Nabi Muhammad. Hukum harus ditegakkan tidak peduli orang itu kaya atau miskin. Hukum harus dijalankan tidak peduli dia orang asing atau anak kita sendiri.
Tidak boleh uang menyebabkan seseorang lolos dari hukuman. Tidak pantas jika karena uang atau hal lainnya akhirnya yang salah jadi benar dan yang benar disalahkan. Jika tidak, maka bangsa itu akan rusak.
Sering seorang pejabat atau penegak hukum tidak dapat berlaku adil jika dia mendapat uang sogokan atau yang dihukum adalah keluarganya sendiri. Padahal itu adalah perbuatan dosa.
Pernah seorang Yahudi di Mesir yang menolak digusur rumahnya untuk perluasan masjid oleh Gubernur Mesir, ‘Amr bin ‘Ash. Padahal dia dapat ganti rugi yang pantas. Akhirnya orang Yahudi itu pergi ke Madinah untuk menemui Khalifah Umar bin Khaththab ra.
Setelah menceritakan masalahnya, Umar ra mengambil sebuah tulang unta kemudian menorehkan garis lurus dari atas ke bawah kemudian dari kiri ke kanan sehingga berbentuk silang. Oleh Umar ra, tulang itu diserahkan kepada orang Yahudi tersebut.
“Bawalah tulang ini dan berikan kepada Gubernur Mesir, ‘Amr bin ‘Ash. Katakan ini dari Umar bin Khaththab”, begitu kata Umar ra.
Orang Yahudi itu meski merasa aneh, namun memberikan tulang itu kepada ‘Amr bin ‘Ash. Muka ‘Amr bin ‘Ash segera pucat pasi begitu melihat tulang yang digaris dengan pedang itu. Dia segera mengembalikan rumah orang Yahudi tersebut tanpa pikir panjang.
Orang Yahudi itu bertanya mengapa ‘Amr begitu melihat tulang itu begitu ketakutan dan segera mengembalikan rumahnya?
‘Amr bin ‘Ash menjawab, “Ini adalah peringatan dari ‘Umar bin Khaththab agar aku selalu berlaku lurus (adil) seperti garis vertikal pada tulang ini. Jika aku tidak bertindak lurus, maka Umar akan memenggal leherku sebagaimana garis horisontal di tulang ini.
Begitulah sikap seorang Kepala Negara. Dia harus mau mendengar keluhan rakyatnya yang digusur semena-mena oleh anak buahnya. Dia harus memiliki rasa keadilan dan kepedulian terhadap rakyatnya.
Seorang pemimpin harus berani menindak anak buahnya yang bersikap sewenang-wenang dan membela rakyatnya yang dizalimi. Tidak boleh membiarkan rakyatnya terlunta-lunta dan menderita karena kezaliman atau ketidak-mampuan anak buahnya.
Menjadi seorang penegak hukum atau hakim sangat berat. Dari 3 golongan, 2 golongan masuk neraka, dan hanya satu golongan saja yang masuk surga.
Hakim terdiri dari tiga golongan. Dua golongan hakim masuk neraka dan segolongan hakim lagi masuk surga. Yang masuk surga ialah yang mengetahui kebenaran hukum dan mengadili dengan hukum tersebut. Bila seorang hakim mengetahui yang haq tapi tidak mengadili dengan hukum tersebut, bahkan bertindak zalim dalam memutuskan perkara, maka dia masuk neraka. Yang segolongan lagi hakim yang bodoh, yang tidak mengetahui yang haq dan memutuskan perkara berdasarkan kebodohannya, maka dia juga masuk neraka. (HR. Abu Dawud dan Ath-Thahawi)
Hakim yang adil, masuk ke surga. Sebaliknya hakim yang zhalim masuk neraka.
Lidah seorang hakim berada di antara dua bara api sehingga dia menuju surga atau neraka. (HR. Abu Na’im dan Ad-Dailami)
Seorang hakim tidak bisa membiarkan perasaan atau emosinya mempengaruhi keputusannya.
Janganlah hendaknya seorang hakim mengadili antara dua orang dalam keadaan marah. (HR. Muslim)
Seorang hakim harus mendengarkan seluruh keterangan dari semua pihak yang bersengketa. Tidak boleh berat sebelah.
Bila dua orang yang bersengketa menghadap kamu, janganlah kamu berbicara sampai kamu mendengarkan seluruh keterangan dari orang kedua sebagaimana kamu mendengarkan keterangan dari orang pertama. (HR. Ahmad)
Saksi Palsu atau berbohong adalah dosa besar. Bahkan Nabi sampai menyamakannya dengan dosa syirik. Oleh karena itu membuat seseorang bersaksi palsu baik dengan iming-iming atau pun dengan intimidasi/penyiksaan adalah dosa yang besar.
Salah satu dosa paling besar ialah kesaksian palsu. (HR. Bukhari)
Rasulullah Saw bersabda : “Disejajarkan kesaksian palsu dengan bersyirik kepada Allah.” Beliau mengulang-ulang sabdanya itu sampai tiga kali. (Mashabih Assunnah)
Nabi Saw mengadili dengan sumpah dan saksi. (HR. Muslim)
Terkadang ada orang yang ingin menzalimi seseorang dengan memakai pengacara hitam yang pintar bicara dan pandai “mengatur” kasus. Padahal nerakalah imbalan bagi mereka.
Sesungguhnya aku mengadili dan memutuskan perkara antara kalian dengan bukti-bukti dan sumpah-sumpah. Sebagian kamu lebih pandai mengemukakan alasan dari yang lain. Siapapun yang aku putuskan memperoleh harta sengketa yang ternyata milik orang lain (saudaranya), sesungguhnya aku putuskan baginya potongan api neraka. (HR. Aththusi)
Jika kita mengetahui satu kejadian penting yang berkaitan dengan satu kasus hukum, hendaknya kita bersaksi di depan hakim.
Maukah aku beritahukan saksi yang paling baik? Yaitu yang datang memberi kesaksian sebelum dimintai kesaksiannya. (HR. Muslim)
Dalam Islam, kejahatan yang keji seperti pembunuhan dan perkosaan hukumannya adalah hukuman mati.
Tidak halal darah (dihukum mati) seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga sebab. Pertama, duda atau janda yang berzina (juga suami atau isteri). Kedua, hukuman pembalasan karena menghilangkan nyawa orang lain (Qishas), dan ketiga, yang murtad dari Islam dan meninggalkan jama’ah. (HR. Bukhari)
Dari Anas Ibnu Malik ra bahwa ada seorang gadis ditemukan kepalanya sudah retak di antara dua batu besar, lalu mereka bertanya kepadanya: Siapakah yang berbuat ini padamu? Si Fulan? atau Si Fulan? Hingga mereka menyebut nama seorang Yahudi, gadis itu menganggukkan kepalanya. Lalu ditangkaplah orang Yahudi tersebut dan ia mengaku. Maka Rasulullah SAW memerintahkan untuk meretakkan kepalanya di antara dua batu besar itu. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.
Dari Abdullah Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Masalah pertama yang akan diputuskan antara manusia pada hari kiamat ialah masalah darah.” Muttafaq Alaihi.
Dari Ibnu Umar ra bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling durhaka kepada Allah ada tiga: Orang yang membunuh di tanah haram, orang yang membunuh orang yang tidak membunuh, dan orang yang membunuh karena balas dendam jahiliyyah.” Hadits shahih riwayat Ibnu Hibban.
Pencurian dengan nilai di bawah ¼ dinar (kurang dari 1 gram emas) atau sekarang di bawah Rp 375 ribu tidak dikenakan hukuman.
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. memotong tangan pencuri dalam pencurian sebanyak seperempat dinar ke atas. (Shahih Muslim No.3189)
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Pada zaman Rasulullah saw. tangan seorang pencuri tidak dipotong pada (pencurian) yang kurang dari harga sebuah perisai kulit atau besi (seperempat dinar) yang keduanya berharga. (Shahih Muslim No.3193)
Tapi meski tidak dihukum, barang curian harus dikembalikan.
Oleh karena itu kasus nenek berumur 55 tahun yang dituduh mencuri 3 biji Kakao senilai Rp 2.100 tidaklah layak diterima oleh polisi untuk diteruskan ke pengadilan. Apalagi barang curiannya sudah dikembalikan.
Bahkan Khalifah Umar ra pernah membebaskan seorang miskin yang mengambil buah yang jatuh di jalan. Sebaliknya Umar ra menghukum orang kaya yang melaporkan hal itu karena orang itu tidak berperi-kemanusiaan dengan membiarkan tetangganya yang miskin kelaparan.
Itulah yang seharusnya kita lakukan. Hukum itu adalah untuk peri kemanusiaan dan keadilan. Bukan sekedar menghukum tanpa ada rasa kemanusiaan sedikitpun.
Subscribe to:
Comments (Atom)

