Jihad adalah berasal dari kata jahada artinya bekerja bersungguh-sungguh untuk mencapai hasil yang optimal. Tetapi banyak orang yang alergi terhadap kata jihad karena menurut benaknya jihad itu adalah kekerasan.
Jihadnya Rasulullah itu meniru jihadnya Rasul sebelumnya, yaitu memperjuangkan tegaknya hukum atau tatanan Islam agar menjadi hukum atau tatanan manusia.
Dalam jihad Rasulullah, itu ada tiga tahapan besar yaitu amanu (peride olah keilmuan furqon secara aqidah), hajaru (periode meningalkan komunitas musyrik furqon secara teritorial) dan jahadu (periode perjuangan phisik demi tegaknya diin Islam dengan melakukan segala macam upaya diplomatik,politik, ekonomi dan keamanan).
Orang-orang yang berjuang menurut sunnah Rasul adalah orang-orang yang dinyatakan menjadi kekasih Allah, yaitu orang-orang yang diberikan derajat yang tinggi :
QS.9/20 Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
QS.9/21 Robb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal,
QS.9/22 mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.
Kita diajarkan oleh orang tua dan guru kita bahwa apabila kita melakukan lima rukun Islam, maka kita akan diberikan ganjaran sorga. Kalau dilihat dari ayat-ayat diatas, orang yang melakukan ibadah tanpa berniat memperjuangkan Islam melalui amanu, hajaru, jahadu bukan orang yang dicintai Allah.
Seolah maanusia itu sudah faham mengenai qolbu lalu rme-rame berusaha memanaajemeni qolbu.
Qolbu dari qolaba, qolubun artinya bolaak-baliak, hari ini berkata "a" besok berkata lain, atau bisa juga dikatakan bolak-balik karena ada proses berfikir, merenung dan memahami, yang tentu saja perlu tahapan bolak-balik untuk menimbang-nimbang, merasa-rasa dll sebelum meutuskan.
jadi qolbu itu apa dong, ya dari artinya saja tentu alat berfikir, alat untuk memahami. Qolbu itu kombinasi dari fu'ada yaitu otak besar yang digunakan untuk menganalisa dan berfikir dalam bahasa asingnya disebut cortex, kemudian suddur alat untuk menyimpan dan memori atau pusat kesadaran dalam bahasa asingnyaa disebut cerebellum, kemudian nafs yaitu pusat rasa, naafs ini suka dibelok-belokkan sebagai hati yang ada didalam dada, dalam bahasa asingnya adalah hyphotalamus.
Ternyata tataran kehidupan manusia masih terjebak kepada nafs (hati} yaitu mementingkan rasa (hyphotalamus) daripada mementingkan proses berfikir dan kesadaran. Padahal Allah menegaskan al Quran itu hanya bisa difahami bagi orang yang pandai memanfaatkan akal dan kesadaran.
Banyak dari ulama yang menyebarkan dakwah dengan mengekploitasi rasa (nafs) ini dengan mengajak manusia untuk merasa tenang, tenteram, haru dengan dakwahnya, bahkan dengan aksi theatrical dengan bahasa santun dan menghanyutkan, dimana Allah selalu dipuji-puji diagung-agungkan, sehingga manusia menangis, tersentuh saat itu dan kemudian memiliki persepsi bahwa dakwah yang baik adalah dakwah yang menyentuh qolbu, menenangkan qolbu. Allah dalam dakwah itu dijadikan target untuk ketenangan kemudian setelah lepas dari majelis dakwah, maka Allah akan tetap disebut-sebut dan dipuji-puji, namun pujiannya itu lagi-lagi untuk sekedar sebagai alat untuk memuaskan hati.
Allah tidak pernah mengajarkan manusia untuk berdzikir-dzikir dengan tata cara seperti itu, tetapi berdzikir untuk memadukan potensi fu'ada (IQ), suddur (SQ) dan nafs (EQ) menjadi kekuatan yang seimbang didalam diri manusia. Sebab dengan mizannya potensi IQ. SQ. EQ maka seluruh gerak gerik manusia akan dipandu oleh kesadaran Ilahiyah.
Namun apabila kita membiarkan diri terjebak kepada pengertian bahwa qolbu itu adalah rasa, menafikkan rasio dan kesadaran, maka apabila kita toh diberikan intelegensia yang tinggi dan keasadaran beragama yang baik, lari-larinya hidupnya ini hanya untuk kepentingan nafs. kita nafikkan diri kita sebagai bagian dari ummat yang seharusnya mengabdi kepada diin (hukum) Allah.
Konkritnya kita berdakwah karena kita mencari makan atau kekayaan atau ketenaran, sama sekali bukan karena ingin menyadarkan manusia supaya tulus mengabdi kepada Allah yaitu menggapai ridloNya dengan menegakkan aturan Allah dimuka bumi. Kita mengaji karena ingin pahala yang 10 kali, bukan mengkaji apakah diri kita faham dengan ayat-ayat yang kita baca. Kita sholat tahajjud karena menginginkan Allah mengabulkan permintaan kita bukan mencari nafilah (nilai plus).
Kalau kita masih menganggap bahwa qolbu itu ada pada tataran rasa, maka sadar atau tidak sadar kita menjadikan kehidupan dunia ini adalah tujuan hidup kita, maka kita sudah berbuat dzalim kepada Allah, dimana kita tidak malu-malu menempatkan diri Allah menjadi abdi kita dan kita mengangkat diri kita menjadi ma'budnya, sebab setiap hari kita selalu mohon kepada Allah, tanpa ingin mengetahui apa saja sih sebenarnya yang Allah perintahkan kepada diri kita tanpa ingin tahu aapa sih kandungan al Quran sebagai taata cara Allah mengatur diri kita.
Da'wah adalah berarti mengajak, artinya seorang itu berda'wah maka sampai hari wafatnya yang diajak atau yang mengajak terus ada kelangsungan silah (hubungan) yang didasari dengan niat untuk menyampaikan semua ayat-ayat al Quran yang difahaminya, sehingga yang diajak (mad'u) mempunyai kwalitas yang sama dengan du'at (yang mengajak) dalam kesamaan persepsi, ilmu, ketaatan dan kemahiran.
Berda'wah untuk mencari hidup atau penghidupan bukanlah Sunnah Rasul, justru karena berda'wah itu tujuannya untuk menyelamatkan manusia dari penjajahan idiologi manusia, dia harus dilakukan dengan penuh tulus dan ikhlas guna menggapai ridlo Allah demi tegaknya hukum Allah.
Da'wah untuk menjual produk inovasinya (MQ, ESQ, Zikir Nasional dll), bukan da'wah, tetapi menjual ayat-ayat Allah. Nabi justru menjadi miskin setelah berda'wah. Sebab da'wah model Rasulullah adalah da'wah mempunyai konsekwensi tanggung jawab moral dihadapan Allah. Da'wah model rasul adalah dalam rangka menyamakan persepsi, ilmu, ketaatan dan kemahiran.
Da'wah menurut Nabi adalah mengkader manusia yang siap untuk diwarisi bumi oleh Allah untuk dimanage berdasarkan ilmu Allah. Jadi perubahan akhlak dari akhlak kebangsaan menjadi akhlak rahmatan lil 'alamin adalah sasaran da'wah yang mula-mula.
Da'wah hanya dilakukan pada masa kenabian (Makiyyah) tetapi dimasa kerasulan (Madaniyah) dakwah tidak diperlukan, yang ada adalah penetapan hukum, manusia mau tidak mau harus mengikuti hukum yang diberlakukan (syariat).
Masalahnya : kondisi apakah manusia berada saat ini, kalau dianggap Makiyyah, ya lakukan da'wah sesuai dengan sunnah Rasul, jangan untuk mencari hidup dan penghidupan apalagi kekayaan.
Kalau menganggap Madaniyah, apakah ada yang melihat, merasa dan yakin bahwa hukum Islam menjadi hukum manusia, dan dimana diberlakukannya ?
Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah merugi, kecuali yang beriman (menegakkan prinsip bahwa Allah adalah Robb, Malik dan Ilah)
No comments:
Post a Comment