Friday, June 24, 2011

Mengingat Kematian dan Memotivasi Diri untuk Selalu Mengingatnya

Assalamu'alaykum warahmatullah wabarakaatuh.

Allah SWT berfirman, "Katakanlah, 'Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.'" (QS. al-Jumu'ah [62]:8)

Ada sebagian manusia yang sangat jarang sekali mengingat kematian. Ketika mengingatnya pun ia membencinya karena ia terlena oleh dunia. Ada pula manusia yang ketika mengingat kematian semakin bertambah takutnya kepada Allah SWT sehingga ia pun bertobat dari sesuatu yang (mungkin) tidak perlu ditobati. Mengingat kematian dapat membuatnya merasa takut, lalu bersiap-siap menghadapinya dengan benar-benar bertobat.

Ada pula orang yang membenci kematian bukan karena ia terlena oleh dunia, namun disebabkan karena sedikitnya bekal yang ia miliki dan tidak adanya persiapan untuk menghadap kepada-Nya, jadi kebenciannya ini bukan karena ia merasa enggan untuk bertemu Allah SWT. Namun tipe semacam ini tidaklah tercela, karena keinginannya untuk hidup adalah demi mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian tersebut, dimana jika bekal yang dimilikinya sudah cukup, ia pun siap untuk menghadapi-Nya.

Sedangkan orang yang dekat dengan Allah SWT selalu ingat kematian karena hal lain adalah waktu bertemunya sang kekasih dengan yang dikasihi (Allah SWT). Pengingatan ini dilakukan supaya janji kekasihnya tidak meleset. Adapun alasan meminta kematian itu bisa ditunda, dapat dilihat pada riwayat Hudzaifah ketika maut hendak menjemputnya, "Sang kekasih telah datang dengan membawa aroma kematian, maka tidak ada gunanya sebuah penyesalan. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kefakiran itu lebih baik bagiku daripada kekayaan, sakitku lebih baik bagiku dari sehatku dan kematian lebih baik bagiku daripada kehidupan, maka mudahkanlah kematian bagi diriku hingga aku dapat berjumpa dengan-Mu."

Derajat paling tinggi dalam masalah ini adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT, tidak memilih untuk tetap hidup atau mati. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang telah mencapai derajat cinta tertinggi, yaitu dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan sehingga ia tidak memilih sesuatu pun bagi dirinya kecuali apa yang telah ditentukan Allah SWT atas dirinya

wassalam.

Majelis Ta'lim Al-Husaeni 

Neng Aan Avdelina

Keagungan Seorang MUHAMMAD SAW,

Assalamu'alaikum,,,

Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.
Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.
Sayidatina ‘Aisyah menceritakan: ”Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga.
Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sembahyang.”
Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya,
“Belum ada sarapan ya Khumaira?” (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang berarti ‘Wahai yang kemerah-merahan’)
Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.” Rasulullah lantas berkata,
”Kalau begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.
Pernah baginda bersabda, “sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.”
Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda sebagai kepala keluarga.
Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai bersembahyang :
“Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?”
“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar”
“Ya Rasulullah… mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh,
kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan?
Kami yakin engkau sedang sakit…”
desak Umar penuh cemas.
Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.
“Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?”
Lalu baginda menjawab dengan lembut, ”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”
Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.
Hanya diam dan bersabar bila kain rida’nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya.
Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.
Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.
Anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam keseorangan.
Ketika pintu Syurga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh, lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemahuan jiwanya yang tinggi.
Bila ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah, “Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?”
Jawab baginda dengan lunak, “Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”
Rasulullah s. a. w. bersabda, “Sampaikan pesanku walau sepotong ayat”

Majelis Ta'lim Al-Husaeni 

Abi' Yudi

Muhammad SAW dan seorang pengemis buta.


Assalamu'alaikum,,,,,

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW yang dihinanya setiap hari. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”
Aisyah RA menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu pun kebiasaan Rasulullah yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.” “Apakah Itu?,” tanya Abubakar RA. “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana,” kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, ”Siapakah kamu?” Abubakar RA menjawab, ”Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).” ”Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu.
”Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku,” pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, ”Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”
Mendengar penjelasan Abubakar RA, seketika itu juga pengemis itu meledak tangisnya, sangat menyesal, dan dalam basahnya air mata ia berkata, ”Benarkah itu? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia, begitu agung…. ”
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.[]
 
Majelis Ta'lim Al-Husaeni
 

Wednesday, June 22, 2011

Hidup Ini Singkat

Allah berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari. Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (Al-Mu’minuun [23] : 112-114)
Ayat di atas merupakan dialog antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan orang-orang yang telah meninggalkan kehidupan dunia ini. Di situ digambarkan betapa singkatnya hidup di dunia, tidak lebih dari sehari atau setengah hari. Bahkan lebih singkat dari itu. Tidak peduli kita siap atau tidak, kehidupan ini akan berakhir dengan kematian. Ketika saatnya tiba, tidak seorang pun yang bisa menunda walaupun sesaat.
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila datang waktu kematiannya…” (Al-Munaafiqun [63]: 11)
Kita pasti mati. Tetapi itu bukan akhir dari segalanya. Bahkan inilah awal dari kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang abadi. Di sana manusia tinggal menerima risiko dari apa yang dilakukannya selama hidup di dunia. Pada akhirnya hanya ada dua pilihan ekstrim, ditempatkan di surga dan merasakan hidup penuh kebahagiaan tanpa batas. Atau sebaliknya, ditempatkan di neraka dan menderita selamanya tanpa batas. Inilah risiko terberat bagi perjalanan hidup manusia. Tidak ada yang lebih berat dari itu.
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada sesuatu yang dialami anak Adam dari apa yang diciptakan Allah lebih berat daripada kematian. Baginya kematian lebih ringan daripada apa yang akan dialaminya sesudahnya.” (Riwayat Ahmad).
Selama di dunia kita mungkin mengalami berbagai kegagalan, tetapi itu hanya sementara. Kalau kita gagal meraih keuntungan hari ini, besok kita masih bisa meraihnya. Kalau kita tidak lulus ujian sekolah, kita bisa memperbaikinya dengan mengikuti ujian perbaikan. Kalau kita tidak naik pangkat tahun ini, tahun depan atau tahun depannya lagi kita bisa mendapatkannya, asalkan ajal belum datang menjemput kita. Tetapi begitu datang kematian, tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki catatan amal kita. Tidak mungkin kita kembali ke dunia walaupun kita sangat menginginkannya.
Sebagian manusia terlena oleh kehidupan dunia ini. Mereka menganggap bahwa hidup itu hanya di dunia ini saja dan kemudian mengisinya dengan sekadar bersenang-senang, makan minum, pesta-pesta, hiburan, musik, film, dan fashion. Menikmati hidup, kata mereka. Mereka tidak menyadari ada kehidupan sesudah mati. Mereka itulah yang akan merasakan penyesalan yang luar biasa ketika tiba saat kematian. “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan amal saleh untuk hidupku ini.” (Al-Fajr [89]: 24).
Begitulah ucapan orang-orang yang tidak menyangka bahwa mereka akan memasuki kehidupan yang abadi, kehidupan yang sebenarnya. Segala kesenangan yang mereka nikmati di dunia tidak ada artinya dibandingkan penderitaan yang akan mereka tanggung. Mereka akan mendapati kehidupan dari waktu ke waktu dengan segala penderitaan yang tidak akan pernah berakhir.
Butuh Bekal
Hidup ini singkat. Kalau kita mendapatkan kesenangan di dunia, itu adalah kesenangan yang sangat singkat. Kalau kita menderita, itupun sebenarnya penderitaan yang teramat singkat. Sekali lagi, hanya sehari atau setengah hari saja, atau lebih singkat lagi. Sama sekali tidak sebanding dengan yang akan kita alami sesudah kematian.
Hidup adalah sebuah perjalanan. Sebagaimana layaknya orang yang menempuh sebuah perjalanan, kita membutuhkan bekal. Jika perjalanan kita seminggu, maka paling sedikit kita menyiapkan bekal untuk keperluan selama minggu. Tas yang kita bawa berisi pakaian ganti yang harus cukup untuk seminggu. Uang saku di dompet kita juga harus cukup untuk kebutuhan seminggu. Jika kita bepergian selama sebulan tentu bekal dan persiapan kita harus lebih besar lagi.
Perjalanan hidup sesudah mati adalah perjalanan abadi, dan tanpa batas waktu. Bagi orang yang menyadari betapa panjangnya perjalanan itu, tentu akan jauh lebih serius mempersiapkannya. Seluruh waktu dan kesempatan hidup di dunia ini, kita manfaatkan sepenuhnya untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang abadi itu. Ia akan pertaruhkan seluruh hidupnya dan apa pun yang dia miliki untuk mendapatkan kehidupan yang baik sesudah kematiannya.
Dalam kehidupan dunia ini mungkin kita pernah kehabisan bekal. Jika demikian, tentu kita akan mengalami berbagai kesulitan dan kesusahan selama perjalanan. Meskipun begitu, kita masih bisa mencari bekal itu sepanjang perjalanan. Tetapi dalam perjalanan hidup sesudah mati, di sana kita tidak mungkin lagi mengumpulkan bekal. Semua harus dicari di dunia ini. Semuanya harus siap sebelum datang kematian.
Apa yang harus dibawa dalam perjalanan itu? Tentu tidak semua yang kita miliki kita bawa. Kita harus pandai-pandai memilih yang bermanfaat. Segala sesuatu yang tidak berguna hanya akan memperberat perjalanan. Di antara yang kita bawa dalam perjalanan hidup, baik di dunia maupun di akhirat, ada yang tidak boleh tertinggal yaitu keimanan, ketakwaan, dan amal saleh kita. Itulah bekal terbaik kita. Allah berfirman:
“…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa…” (Al-Baqarah [2]: 197)
Ada yang pasti kita tinggalkan ketika kita melanjutkan perjalanan menuju akhirat. Nabi bersabda: “Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya,” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Hadits ini tentu saja tidak mengajarkan kita untuk membenci harta, sebab itu adalah bagian dari bekal untuk hidup di dunia. Juga tidak mengajak kita untuk mengabaikan keluarga dan sesama, sebab tidak mungkin kita hidup di dunia ini tanpa mereka. Secara fisik harta itu memang kita tinggalkan, tetapi nilai amal saleh dari harta itu akan abadi bersama kita. Hal itu hanya bisa terjadi apabila harta itu kita belanjakan di jalan yang diridhai Allah. Demikian juga dengan keluarga dan saudara-saudara kita, jasad mereka memang tidak menyertai kita lagi, tetapi kebaikan yang kita tanamkan dalam interaksi kita di dunia tetap akan menyertai kita. Saudara-saudara seiman itu akan senantiasa mengirimkan doanya untuk kita. Anak-anak yang saleh juga akan senantiasa memberi kebaikan kepada kita. Ilmu yang kita ajarkan kepada sesama juga akan menjadi investasi yang memberi kuntungan yang tidak pernah putus. Semuanya akan menjadi amal saleh.
Hidup ini adalah perjalanan yang singkat. Setiap detik mengantarkan kita semakin dekat dengan batas akhir. Semoga waktu yang teramat singkat ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya. *Shohibul Anwar, Ketua Departemen Dakwah PP Hidayatullah, SUARA HIDAYATULLAH, JANUARI 2011
http://majalah.hidayatullah.com

Lebih Mulia dari Bidadari

slam telah memuliakan wanita. Tetapi mengapa mereka masih silau dengan pola kehidupan Barat?
Ada kisah nyata yang mengesankan. Pada abad 13, seorang kaisar kerajaan Romawi, Frederick II, mengadakan eksperimen. Ia ingin mengetahui apakah bahasa yang akan digunakan anak-anak, bila kepada mereka tidak diajarkan bahasa apapun pada tahun pertama kehidupan mereka.
Ia memilih beberapa bayi dan merawatnya dalam suatu tempat yang khusus. Bayi-bayi itu dipelihara sebagaimana layaknya: dimandikan, dirawat dan disusui. Tetapi tidak seorang pun diperbolehkan berbicara, bersenandung atau menyanyikan lagu pengantar tidur buat mereka. Penelitian ini tidak membuahkan hasil, karena semua anak meninggal secara misterius, dan eksperimen ini tidak diulang kembali.
Bayi-bayi yang malang. Mereka meninggal karena ada hal sangat penting yang tidak didapatkannya. Ini bukti bahwa tanpa orangtua yang benar-benar sayang dengan tulus ikhlas dalam mencurahkan kasih sayang, merawat, mengasuh, memelihara dan mendidik diawal masa kehidupannya, membuat mereka tidak bisa bertahan hidup.
Sembilan bulan sepuluh hari dalam kandungan, kemudian merawat, menyusui dan menyapihnya selama dua tahun menjadikan ibu adalah orang yang terdekat dengan bayi di awal-awal kehidupannya. Dengan bahasa, ibu mengungkapkan kasih sayang. Kelembutan suaranya membuat bayi berkembang begitu pesat. Kecupan halus dan suara ibu yang mengasihinya membuat jiwanya hidup, kecerdasannya terasah sehingga terbukalah pintu kehidupan dunia baginya.
Semakin besar ketulusan dan pengharapan ibu untuk kebaikan anaknya, semakin bermakna setiap tetes air susu yang dipancarkan untuk hati, jiwa otak dan tubuh anak. Begitu berharganya, begitu tingginya harga kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) menempatkan ibu sebagai orang yang pertama yang layak di hormati.
Imam Bukhari menceritakan, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, ”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berhak aku hormati?” Rasulullah menjawab, ”Ibumu.” Jawaban itu diulang hingga tiga kali. Baru berikutnya Rasulullah SAW menyebut bapak sebagai orang yang harus dihormati.
Kisah di atas hanya salah satu dari penghargaan yang tinggi dari Islam terhadap kaum wanita sebagai seorang ibu. Wanita mendapat kedudukan terhormat dalam Islam. Lalu apa yang membuat sebagian wanita kita merasa silau dengan kehidupan Barat yang dulu nyata-nyata sangat merendahkan derajat wanita?
Pandangan Keliru
“……Perempuan adalah Hawa dan sekaligus Maria Sang Perawan Suci. Ia adalah idola, pelayan, sumber kehidupan dan juga kekuatan kegelapan. Ia adalah dukun penyembuh dan juga tukang santet, ia adalah mangsa laki-laki, tetapi laki-laki juga jatuh karena dia. Perempuan adalah segala yang tidak di miliki laki laki dan segala yang dirindukannya. Perempuan adalah penafian laki-laki dan sekaligus raison d’etre (sebab keberadaan)-nya.”
Sepenggal kutipan di atas adalah ucapan tokoh perempuan di balik gerakan eksistensialisme, Simone de Beauvoire. Ia menulis dengan sinis tentang bagaimana perempuan dimitoskan sebagai gender kelas dua, the second sex. Karena eksistensi perempuan didefinisikan oleh apa yang dilakukan, maka perilaku perempuan dimitoskan sebagai ’misterius.‘
Sigmund Freud yang pernah memuji ibunya sebagai pembentuk kepribadiannya berkata, ”Pertanyaan besar yang tak pernah terjawab, dan yang tidak bisa saya jawab, walaupun saya telah melakukan penelitian tentang jiwa perempuan selama tiga puluh tahun, adalah ‘apa sebetulnya yang di inginkan wanita?”
Pandangan sebagian tokoh tentang keberadaan wanita ini jelas merendahkan wanita. Dari ungkapan itu juga mengisyaratkan bahwa begitulah penghargaan mereka terhadap kaum wanita. Peradaban yang mereka katakan lebih mulia dari Islam ternyata menyimpan anggapan dan perlakuan yang menomorduakan kaum wanita.
Harga Tinggi Ketaatan
Islam agama mulia. Tidak ada perbedaan derajat di antara manusia, apakah itu wanita atau pria. Yang membedakan keduanya adalah derajat ketakwaan.
”Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatan, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Surat Al-Ahzab [33]: 35).
Kalaupun ada perbedaan hukum dalam Islam, itu dikarenakan fungsi dan tugas mereka masing-masing yang berbeda sehingga menuntut aturan yang jelas. Misal tentang batas aurat laki-laki, pembagian harta waris yang menentukan laki-laki lebih banyak dari wanita (karena tugas laki-laki yang harus memberi nafkah keluarga).
Tetapi harus diakui, sekarang ini kondisinya sangat berat bagi wanita beriman. Godaannya begitu berat. Agar bisa bertahan, seorang wanita beriman membutuhkan sikap tegas.
Namun perjuangan berat wanita untuk tetap istikamah menjalankan agama, sebanding dengan pahala yang disediakan. Ummu Salamah istri Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Rasulullah, ”Manakah yang lebih mulia, Ya Rasul Allah, perempuan dunia inikah atau bidadari di surga?”
Rasulullah SAW menjawab, ”Perempuan dunia lebih mulia dari bidadari laksana lebih mulia pakaian luar dari pada pakaian dalam!” (kitab Hadil Arwah, oleh Ibnu Qayim Al Jauziyah).
Tentu saja, sebab wanita di dunia akan masuk surga karena amalnya: shalatnya, salihnya, kesetiaannya kepada suami, curahan kasih sayangnya dan pengorbanannya buat keluarga dan anak-anaknya. Sedang bidadari mendapat tempat di surga dengan tidak mengetahui betapa tinggi nilai tempat yang didiaminya itu, karena ia tidak mendapatkan dengan jerih payah dan perjuangan.
Lalu nikmat mana yang kamu pertanyakan? Kedudukan tertinggi manakah yang akan engkau capai wahai wanita? Islam telah memberikan tempat yang begitu tinggi dan mulia. *Sri Lestari/Suara Hidayatullah PEBRUARI 2008


http://majalah.hidayatullah.com

Menjadi Umat Bermartabat

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” QS Ali Imron (3) : 110
Ketika Yerusalem ditaklukkan, Khalifah Umar bin Khattab datang ditemani seorang pelayannya, mengendarai seekor unta secara bergantian. Umar mengenakan pakaian biasa yang begitu sederhana, lusuh dan berdebu, karena ia telah menempuh perjalanan yang amat jauh. Sementara penguasa Yerusalem, Uskup Agung Sophronius, yang didampingi oleh pembesar gereja dan pemuka kota, siap menyambut Umar untuk menyerahkan kedaulatan Yerusalem ke tangan kaum Muslimin. Masing-masing mengenakan pakaian kebesaran sebagaimana layaknya para penguasa Romawi. Melihat hal itu kaum Muslimin sempat berkecil hati dan meminta Umar berganti pakaian yang pantas. Umar menolak dan mengatakan, “Cukuplah Islam itu yang menjadikan kita mulia!”
Begitulah kata Umar, dan begitu pula seharusnya cara pandang kita. Islam ini yang menjadikan kita mulia, bukan yang lain. Kita patut bersyukur bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala telah memilih kita di antara 6,5 milyar umat manusia yang hidup sekarang ini untuk memeluk agama yang mulia, yang mengajarkan kepada kita untuk menjaga harga diri dan kehormatan. Islam menuntun kita menjadi manusia bermartabat dan beradab, bukan dari pakaiannya, bukan karena kekayaan dan kedudukannya, tetapi karena keunggulan sifat-sifat kemanusiannya. Di sisi lain kita melihat kehidupan manusia yang hanya mempertontonkan selera yang rendah. Allah menggambarkan kehidupan mereka dalam al-Qur`an Surat Muhammad {47}: 12 :
“Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang, dan neraka Jahannam adalah tempat tinggal mereka.”
Begitulah mereka mengisi kehidupan dunia ini. Bagi mereka hidup hanya berarti 3 hal: wine, dine, entertain. Hidup hanya sekadar makan, minum, pesta, fashion, musik, film, hiburan, tak ubahnya kehidupan binatang.
Kita patut bangga menjadi pemeluk Islam, satu-satunya agama yang dijamin kebenarannya oleh Allah. Tidak ada jalan kebenaran di luar Islam. Perjalanan panjang peradaban Barat sejak Yunani kuno adalah perjalanan manusia-manusia yang senantiasa terombang-ambing dalam kebingungan. Tidak ada kebenaran yang pasti bagi mereka. Jika ada yang mengatakan sesuatu itu benar, maka yang lain sah-sah saja jika mengatakan itu salah. Semuanya relatif.
Walaupun banyak diikuti manusia dewasa ini, pandangan hidup Barat tidak menjanjikan apapun selain keraguan. Kita patut bersyukur memiliki kitab suci yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya, sementara yang lain hanya berpedoman pada prasangka dan tulisan-tulisan tangan manusia yang senantiasa harus dikoreksi dan dibongkar kembali. Kita tidak perlu ragu melangkah dalam hidup, sebagaimana jaminan Allah : “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah {2} : 147.
Kita juga patut bangga, karena Islam inilah satu-satunya agama yang telah terbukti memberi rahmat bagi seluruh alam. Sejarah menunjukkan, ketika umat Islam berkuasa di belahan bumi manapun maka di sana akan kita jumpai kedamaian dan ketentraman bagi seluruh umat manusia. Hal sebaliknya terjadi ketika orang-orang kafir yang berkuasa. Ketika gabungan tentara Salib dari Eropa menaklukkan Yerusalem, lebih dari 70 ribu manusia tidak berdosa dibantai sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki. Sebaliknya, ketika kaum Muslimin di bawah kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi merebut kembali Yerusalem, para penjahat kemanusiaan itu dipersilakan meninggalkan Yerusalem dengan aman. Tujuh ratus tahun lamanya orang-orang Kristen dan Yahudi di Eropa hidup tentram dalam kekuasaan Khilafah Bani Umayyah yang berpusat di Andalusia, tetapi ketika kekuasaan jatuh ke tangan penguasa Kristen, tak sedikitpun umat Islam disisakan untuk hidup. Hari ini kita juga menyaksikan ketika Amerika dan sekutunya menguasai dunia, kehancuran peradaban dan tragedi kemanusiaan susul-menyusul terjadi di berbagai belahan dunia. Hanya dengan Islam, kehidupan dunia yang penuh rahmat bisa diwujudkan. “Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” QS Al-Anbiya’ (21) : 107.
Menyadari betapa beruntungnya kita menjadi pemeluk Islam ini, mari kita tampil dalam arena kehidupan ini dengan penuh percaya diri. Isyahduu bi annaa muslimun, saksikan bahwa kami orang-orang Islam. Kita dakwahkan Islam ini kepada seluruh manusia dengan penuh kebanggaan, karena kita mengajarkan kemuliaan, mengajak kepada satu-satunya jalan kebenaran, membebaskan manusia dari kebingungan dan keraguan, dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Sikap seperti inilah yang ada pada diri para sahabat Nabi sejak pertama kali mereka mengenal Islam.
Abu Bakar Ash-Shiddiq misalnya, begitu menerima kebenaran ajaran Islam dari Nabi, segera ia teriakkan kalimat tauhid di tengah-tengah mayoritas orang kafir Quraisy. Walaupun kemudian babak-belur dihajar orang-orang kafir, Abu Bakar sama sekali tidak menyesali apa yang menimpa dirinya. Demikian juga ketika Umar bin Khattab masuk Islam dan melihat Nabi mendakwahkan Islam ini secara sembunyi-sembunyi, Umar menemui Nabi dan berkata : “ Ya Rasulullah, bukankah Islam ini yang hak dan mereka itu batil, mengapa tidak kita sampaikan saja Islam ini terang-terangan.” Begitulah gelora yang ada dalam diri para sahabat Nabi untuk mendakwahkan Islam karena mereka telah merasakan kemuliaannya.
Begitulah gambaran generasi terbaik dari umat ini sebagaimana firman Allah : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imron {3} : 110)
Ciri utama generasi terbaik itu adalah mereka senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Keimanan mereka mendorong mereka untuk senantiasa mengajak manusia untuk beriman dan senantiasa melakukan kebaikan. Mereka akan sangat gelisah manakala kemaksiatan tersebar di muka bumi dan selalu berusaha untuk menghapuskannya.
Kita mewarisi agama yang sama dan kitab suci yang sama. Kita juga bisa menjadi umat terbaik itu. Sungguh memprihatinkan ketika orang-orang kafir bangga dengan kekafirannya, kita malu-malu menampakkan keislaman kita. Orang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan di depan mata kita, sementara kita lebih sering berdiam diri bahkan ciut nyali untuk mengingatkannya. Padahal Nabi memerintahkan kepada kita : “Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah mereka merubah dengan tangannya. Kalau tidak mampu, maka hendaklah mengubah dengan lisannya. Kalau tidak mampu hendaklah mengubah dengan hatinya. Adapun yang demikian itu selemah-lemah iman.”
Yang lebih memprihatinkan lagi manakala segala kemaksiatan itu tidak menjadikan kita terusik. Jika demikian, kita bukan lagi berada dalam selemah-lemah iman, bisa jadi kita telah kehilangan iman itu sendiri. SUARA HIDAYATULLAH, AGUSTUS 2010
SHOHIBUL ANWAR, MHI. Ketua Departemen Dakwah Pimpinan Pusat Hidayatullah

http://majalah.hidayatullah.com

Tiga Lubang dalam Jalan Dakwah

“Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (At-Taubah [9]: 93).
Muqaddimah
Dalam kehidupan, segala usaha dan program manusia memang butuh harta, tetapi harta bukan segalanya. Harta hanyalah salah satu sarana saja untuk mewujudkan cita-cita perjuangan. Realitasnya tak sedikit di antara mereka yang tertipu dengan ujian harta ini. Mereka terbuai dan lalai dalam tugas memperjuangkan Islam.
Terkait dengan ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) menceritakan dampak yang ditimbulkan dari meninggalkan ketaatan dalam perjuangan. Pertama, sebut sebagai contoh, ujian berupa sungai yang akan dilalui tentara Thalut ketika berperang melawan Jalut. Kedua; turunnya beberapa pasukan pemanah pada perang Uhud. Ketiga; keengganan kaum Muslimin tahallul (memotong rambut) sebagai syarat membatalkan umrah pasca perjanjian Hudaibiyah.
Sejarah tak lain adalah peristiwa yang berulang, hanya konteksnya saja yang berbeda dengan kondisi kita saat ini. Karenanya, ketiga kisah bersejarah ini patut kita renungkan sebagai ibrah (pelajaran) agar kita tetap istikamah di jalan dakwah hingga ajal menjemput.
Sungai Thalut
Peristiwa ini terjadi tatkala Thalut dan tentaranya berada di tengah padang pasir yang tandus dan tiada sumber air, sementara terik matahari sangat menyengat. Allah menguji kesabaran mereka dengan sumber air tawar yang dingin, sedang mereka sendiri dalam kehausan yang sangat.
Dalam kondisi seperti itu, Thalut memperingatkan, siapa yang meminum air sungai banyak-banyak, bukanlah termasuk tentaranya. Itu tanda jika ia bukan orang yang sabar. Sebaliknya, orang yang tak meminum dan orang yang meminum sepenuh telapak tangan saja termasuk tentara Thalut. Mereka termasuk orang-orang yang sabar. Terbukti, meski dengan jumlah yang sedikit tapi didukung dengan kesabaran serta izin Allah, tentara Thalut memenangkan peperangan melawan Jalut dan pasukannya yang jauh lebih kuat.
Saudaraku…, ilmu yang belum memadai, fasilitas yang tak ada, dana perjuangan yang tidak jelas sumbernya, sementara kebutuhan keluarga menuntut harus tercukupi, tidak boleh membuat kita belok haluan apalagi mundur dari jalan dakwah. Janganlah kita berada di barisan dakwah ini karena adanya materi atau jangan pula meninggalkannya gara-gara tiada materi. Keikhlasan berbuah kesabaran yang membuat kita teguh dan konsisten dalam perjuangan ini.
Kini, berbagai macam ”sungai” akan terus menguji kita. Mungkin ada yang beralasan di balik kata-kata manis bahwa kita butuh ”air” (baca: harta) secukupnya. Namun, kenyataannya yang diambil bukan seteguk, bahkan berteguk-teguk air. Ujungnya? Gaya hidup mulai berubah. Sumber kenikmatannya yang selama ini adalah dakwah dan jihad berubah ke materi. Ketika diajak bicara tentang dakwah, beralasan lagi, “Aduh maaf saya sibuk, tidak bisa hadir.” Kita harus ekstra hati-hati dengan ujian “sungai-sungai” yang akan memalingkan kita dari ketaatan kepada Allah.
Perang Uhud
Peristiwa yang terjadi pada tahun ketiga Hijriyah ini patut menjadi renungan buat kita. Pasukan pemanah yang sedianya menjaga Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam di bukit Uhud meninggalkan tugasnya turut memungut harta rampasan perang (ghanimah). Apa daya, rupanya kaum musyrikin balik menyerang kembali. Pasukan kaum Muslimin kocak-kacir, Rasulullah berlumuran darah hingga beberapa giginya tanggal, serta 70 sahabat yang lain menjadi syuhada.
Meskipun Rasulullah telah mewanti-wanti pasukan pemanah agar tak turun, namun sebagian mereka tak tahan guna saling berebut memungut ghanimah. Sebenarnya, hal ini manusiawi karena memang manusia butuh harta. Namun, karena ketidaktaatan menjaga amanah -gara-gara harta- justru berakibat fatal, baik terhadap diri maupun kawan seperjuangan.
Terlepas dari benar tidaknya persepsi tersebut, dalam konteks kekinian, seyogyanya hal ini menjadi tanggung jawab organisasi dakwah. Misalnya, lembaga ZIS (zakat, infaq, dan sedekah), dan warga masyarakat yang berkecukupan, untuk lebih memerhatikan kesejahteraan para dai secara adil dan merata.
Adil seiring pengabdian dan pengorbanan. Merata berarti jangan sampai ada dai yang merasa dizalimi oleh yang lain. Baik dai maupun umat binaan harus mendapat perhatian yang sama. Jangan sampai hanya mau membina di tempat-tempat tertentu dan mengabaikan wilayah yang lain.
Tahallul Rasulullah
Pada bulan Dzulqaidah tahun ke-6 Hijriyah, Rasulullah beserta 1.400 sahabatnya hendak melakukan umrah. Namun kaum Quraisy menolak kedatangannya, dan akhirnya terjadi perjanjian damai antara kaum Quraisy dan Rasulullah, yang dikenang sebagai Perjanjian Hudaibiyah.
Salah satu isinya adalah Rasulullah dan kaum Muslimin harus kembali ke Madinah tiga hari kemudian dan baru boleh memasuki Makkah tahun depan. Demi memenuhi isi perjanjian ini, Rasulullah menyuruh sahabatnya membatalkan umrahnya dengan tahallul dan menyembelih qurban. Namun, tak seorang pun yang beranjak dari tempatnya memenuhi perintah tersebut meski Nabi sampai mengulanginya hingga tiga kali.
Atas saran istrinya, Ummu Salamah, Rasulullah melakukan tahallul lebih dahulu dibantu salah seorang sahabatnya dan menyembelih untanya sendiri. Melihat hal itu seluruh kaum Muslimin akhirnya ramai-ramai mengikuti langkah Rasulullah tersebut.
Apakah hikmah dari keengganan kaum Muslimin untuk tahallul? Tentu para sahabat bukan tak memiliki rambut, namun tak lebih karena memerlukan contoh dan keteladanan. Inilah metode membina umat dan jamaah. Setiap diri dituntut tidak hanya dapat menyampaikan namun harus memperagakannya terlebih dahulu.
Perintah berkorban berupa “memotong rambut” (baca; harta, atau apa saja ) meskipun hanya beberapa helai akan mandeg bila tidak diikuti contoh. Butuh keberanian untuk memulai. Tak cukup dengan perintah tapi ia butuh keteladanan.
Sebaliknya, akan semakin bermasalah jika masing-masing pelaku dakwah berlomba memanjangkan rambut dengan berbagai modelnya, tidak mau memendekkan apalagi mencukur. Sungguh ketaatan hanya akan menjadi cerita kosong.
Sesungguhnya, yang dikendaki bukanlah sekedar memotong rambutnya, namun subtansi yang diharapkan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasulnya dengan mengorbankan sedikit kehormatan diri. Dan ini tidak akan terjadi manakala tidak memiliki kemauan kuat untuk taat.
Agar ketaatan menjadi kepribadian rijal ad-dakwah (para dai) khususnya, harus ada proses internalisasi fikrah (pemikiran), kesadaran akan tanggung jawab terhadap penyelamatan umat. Juga penanaman nilai-nilai tauhid yang disertai keteladanan pelaku dakwah. Wallahu a’lam. SUARA HIDAYATULLAH JUNI 2010 *MD Karyadi, Lc, ketua DPW Hidayatullah Jakarta.

Muslim Sejati Mampu Menjadi Inovator

Menjelang bertelur, seekor burung Manyar sibuk membuat sarang. Ia menyusun patahan ranting, daun kering, dan berbagai serabut yang dikumpulkan dari berbagai tempat, dibantu pasangannya. Kemudian, jadilah sebuah rumah mungil yang siap dihuni, terutama untuk mengerami telurnya hingga menetas.
Lihatlah bahan dan struktur rumah (sarang) burung itu. Dari tahun ke tahun, bahkan dari abad ke abad, bentuknya tetap sama. Bahannya sama dan struktur bangunannya juga sama. Ini karena dalam membangun rumah, seekor burung hanya mengandalkan instingnya, sehingga tak pernah ada perubahan dan perkembangan.
Mahluk Inovatif
Mari kita bandingkan dengan bangunan rumah manusia. Dalam satu kawasan saja, kita hampir tidak menjumpai rumah yang bentuknya sama. Bahkan, di suatu perumahan yang awalnya didesain sama, baik bahan, bentuk, maupun strukturnya, setelah dihuni, tak berapa lama akan banyak yang berubah. Paling tidak wajahnya, atau warna catnya.
Masing-masing orang ingin menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang lainnya. Inilah manusia, makhluk inovatif yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Manusia disebut inovatif (berbudaya) karena dalam dirinya terdapat daya cipta, daya rasa, dan daya karsa. Bermodal ketiga daya tersebut, manusia senantiasa berubah dan berkembang.
Ketika Alexander Graham Bell, yang dianggap sebagai penemu telepon, ditanya apakah mungkin suatu saat nanti manusia bisa bertelepon tanpa kabel? Ia mengatakan, “Tidak mungkin!”
Andaikata ia hidup kembali dan menyaksikan realitas manusia saat ini, pasti ia akan terkaget-kaget, heran bercampur haru. Manusia saat ini telah terbiasa berkomunikasi menggunakan handphone, telepon tanpa kabel yang dulu disangkalnya. Ia bakal tak menyangka penemuannya telah mengalami lompatan yang luar biasa.
Semua ini karena manusia dikaruniai kemampuan untuk berinovasi . Kemampuan inilah yang dulu belum diketahui oleh para malaikat ketika mereka menanyakan penciptaan manusia yang akan dijadikan Allah Ta’ala sebagai khalifah di muka bumi (lihat Al-Baqarah [2] ayat 30).
Setelah menjalani serangkaian pembuktian, barulah para malaikat menyadari, dan akhirnya mengakuinya. Mereka sujud kepada Sang Manusia Pertama, Adam Alaihissalam (AS), kecuali Iblis. Allah Ta’ala berfirman,“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]: 31-32)
Kemampuan melakukan inovasi sebenarnya menjadi fitrah manusia. Kemampuan membuat definisi (menyebut al-asma`) dengan membedakan yang berbeda dan menyamakan yang sama, merupakan potensi dasar untuk melakukan inovasi.
Hal itu sudah dikaruniakan Allah Ta’ala kepada Nabi Adam AS dan semua anak keturunannya. Dari kemampuan dasar inilah lahir ilmu pengetahuan dan teknologi.
Itulah pula sebabnya mengapa perintah Allah Ta’ala yang pertama kali diberikan kepada manusia adalah iqra`atau bacalah. Perintah pertama ini terus berlaku sepanjang masa, sepanjang manusia masih bernyawa, kapan pun dan di mana pun juga.
Ketika semangat membaca menggelora dan menjadi budaya masyarakat Muslim di awal perkembangan Islam, maka lahirlah peradaban unggul yang tak tertandingi hingga masa kini.
Di pusat-pusat peradaban Islam berdiri perpustakaan yang lengkap dengan ratusan ribu koleksi buku. Berdiri pula universitas-universitas ternama dengan para cendikiawan dan penemu-penemu baru di bidang sains dan teknologi. Islam menjadi mercusuar di tengah dunia yang masih gelap gulita.
Tak Kenal Menyerah
Sayang, kebanyakan kita hanya bisa berbangga dengan masa lalu kita. Tampaknya kita masih menjadikan sejarah sebagai “kebanggaan”dan “kekaguman” semata, belum menjadikannya sumber inspirasi untuk melakukan hal yang sama atau lebih baik lagi.
Padahal, untuk berinovasi dibutuhkan kesabaran, keuletan, ketekunan, dan kecermatan. Di atas semua itu, seorang inovator harus berani mengambil risiko, baik risiko salah maupun risiko gagal. Orang yang dihantui perasaan takut salah dan takut gagal, tidak mungkin akan berhasil menjadi penemu.
Para pemimpin yang sukses adalah mereka yang berani mengambil inisiatif sekalipun berisiko. Dalam perhitungan mereka, mengambil inisiatif atau tidak mengambil tindakan apa-apa, sama-sama berisiko.
Bedanya, jika kita mengambil inisiatif, kemungkinan berhasilnya terbuka lebar sekalipun kemungkinan gagalnya tetap ada. Tapi jika kita tidak mengambil inisiatif, sekalipun terasa lebih nyaman, risikonya tidak hilang, sementara kemungkinan berhasilnya telah tertutup.
Bagi sang inovator, penderitaan dan kesulitan bukan halangan. Ia yakin bahwa di balik kesulitan dan penderitaan itu terdapat berbagai kemudahan. Tersedia seribu satu alasan untuk mundur atau tidak melangkah, tapi orang yang telah tertanam dalam dirinya semangat berinovasi, selalu mempunyai seribu alasan untuk tetap maju. Allah Ta’ala berfirman,”Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Al-Insyirah [94]: 5-6)
Di depan kita terdapat banyak sekali tantangan. Lihatlah betapa banyak umat yang miskin dan bodoh. Mereka sangat memerlukan solusi atas berbagai masalah yang membelit mereka. Lalu, adakah usaha kita untuk mencari pemecahannya?
Dunia merindukan datangnya inovator baru dari kalangan Muslim. Mungkin, sang inovator itu adalah Anda!
Amati, Tiru, dan Modifikasi
Mendengar bahwa kaum kafir telah bersatu untuk menyerang kota Madinah, Rasulullh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) segera bermusyawarah. Beliau mengajak para Sahabat untuk membicarakan cara menghadapi mereka.
Berbagai masukan didengar oleh beliau secara seksama, sampai beliau mendengar usulan dari Salman yang terdengar aneh. Salman mengusulkan membuat parit di sekeliling kota Madinah guna menghindari serangan musuh yang kekuatannya berlipat ganda.
Ternyata Rasulullah SAW menyetujui gagasan aneh yang diusulkan Salman tersebut. Keputusan itu pun segera dieksekusi. Kaum Muslim bahu-membahu membuat parit besar dan sangat panjang di tengah terik matahari yang menyengat.
Rasulullah SAW sendiri tidak berpangku tangan. Beliau turut menggali dan mengangkat batu, pasir, dan tanah dengan tangannya sendiri bersama para Sahabat. Proyek raksasa ini rampung sebelum kaum kafir datang.
Inilah strategi bertahan yang betul-betul baru yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab. Strategi ini ternyata benar-benar ampuh. Pasukan kafir tidak ada yang berani menyeberangi parit buatan tersebut, kecuali beberapa orang dan tewas setelah mendapat perlawanan dari kaum Muslim.
Itulah sekadar contoh bagaimana Rasulullah SAW sangat menghargai inovasi. Sekalipun awalnya terdengar aneh, tapi beliau menerima gagasan Salman setelah dikaji secara cermat dan teliti.
Salman sendiri sebetulnya tidak benar-benar membawa ide orisinil. Strategi pertahanan parit itu sudah dikenal di wilayah Parsi (Iran, sekarang). Namun, ia memodifikasi.
Inovasi memang tidak harus benar-benar orisinil. Kemajuan peradaban Islam di masa kejayaaannya justru didapat dengan cara menerjemahkan karya-karya tulis bangsa Romawi yang telah terpendam sekian lama, baik di bidang filsafat, ilmu, sain dan tehnologi.
Tentu saja umat Islam pada saat itu tidak melakukan praktik penjiplakan (plagiasi). Yang dilakukan adalah mengamati, meniru, dan memodifikasi.
Sekarang, bagaimana dengan Anda? Wallahu a’lam bish shawab.***SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2011
http://majalah.hidayatullah.com

Meraup Pahala Saat Haid

Wanita haid memang kehilangan kesempatan mendapat pahala. Tapi ada cara lain meraup pahala. Apa saja?
Setiap wanita normal tentu mengalami haid atau menstruasi. Itu sudah menjadi sunnatullah. Justru akan dibilang aneh, jika ada wanita yang tidak mendapat kunjungan “tamu” istimewa ini.
Haid adalah keluarnya darah dari alat kelamin wanita. Datang sebulan sekali, biasanya wanita mengalami haid setelah mencapai usia tertentu dan berhenti sesudah mencapai usia tertentu pula.
Dibilang istimewa, karena wanita yang sedang menerima ‘tamu’ ini mendapat dispensasi untuk tidak shalat, puasa, dan beberapa ibadah lainnya. Malah berdosa bila dalam keadaan haid, lantas shalat atau puasa.
Ada yang bilang, rugi dong wanita karena hilang kesempatan mendapat pahala. Jangan khawatir, ada cara lain meraup pahala, antara lain adalah berzikir, menghafal al-Qur’an dan Hadits, .
Berzikir
Sekalipun lagi haid, yang bersangkutan bukan saja boleh, malah dianjurkan untuk sebanyak-banyaknya membasahi bibir dengan zikir. Kapan dan di manapun. Misalnya dengan melantunkan takbir (Allahu Akbar), tasbih (Subhanallah), dan tahmid (Alhamdulillah).
Dalam sebuah Hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kebaikan dari berzikir dengan kalimat tersebut, bila dibandingkan dengan dunia dan seisinya ini, masih lebih berat kalimat tasbih, tahmid, dan takbir tersesbut.”
Berzikir bisa pula dengan membaca istighfar, memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Istighfar ini penting, karena tiada manusia tanpa dosa. Rasulullah sendiri tak kurang beristighfar 80 kali setiap hari. Itu Rasulullah yang mendapat jaminan pengampunan dosa. Kita yang tak mendapat jaminan, mestinya lebih banyak lagi beristighfar.
Ada manfaat lain dari istighfar selain pengampunan dosa. Ternyata istighfar bisa untuk membuka jalan berbagai persoalan dan juga membuka rezeki. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa melazimkan istighfar, niscaya Allah pasti akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, dan kelapangan dari setiap kesedihan, dan memberinya rejeki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Riwayat Abu Dawud)
Allah juga berfirman: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai ” ( Nuh [71]: 10-12).
Nah, tunggu apa lagi. Ayo, perbanyak istighfar.
Menghafal al-Qur`an dan Hadits
Menghafal al-Qur’an bisa mempertajam ingatan. Semakin banyak menghafal al-Qur’an semakin kuat pula daya ingat seseorang. Tak heran bila banyak orang ingin menghafal Kitab Suci ini. Barangkali, ini termasuk kemukjiatan al-Qur’an. Sekalipun ada yang bilang huruf Arab itu seperti benang ruwet, tapi kenyataannya begitu banyak orang yang berhasil menghafal al-Qur’an, mulai dari ayat pertama hingga ayat terakhir.
Tidak ada larangan wanita haid menghafal al-Qur’an. Yang menjadi perselisihan ulama adalah menyentuh mushaf al-Qur’an, boleh atau tidak. Sebagian ulama membolehkan, sebagian lagi melarang. Menghafal tentu saja bisa tanpa menyentuh mushaf, apalagi sekarang sudah banyak ayat al-Qur’an yang dipindahkan ke dalam CD atau komputer.
Wanita haid juga tidak dilarang menghafal Hadits. Itu salah satu bukti kecintaan seseorang kepada baginda Muhammad. Tidak banyak saat ini orang menghafal Hadits, padahal keutamaannya sangat besar. Dalam pembukaan kitab Arba’in Nawawi disebutkan sebuah Hadits bahwa barangsiapa hafal 40 Hadits, maka ia akan masuk surga.
Memperbanyak Infaq
Berinfaq adalah kegemaran orang-orang saleh. Kesalehan seseorang bisa diukur dari kegemaran berinfaq. Serajin apapun dia shalat, puasa, dan bahkan haji, bila ia pelit mengeluarkan harta di jalan Allah, maka patut diragukan kesalehannya.
Infaq adalah wujud dari kesalehan sosial. Setiap Muslim, selain dituntut kesalehan pribadi, juga dituntut punya kesalehan sosial. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah memperingatkan bahwa bukan termasuk umat beliau, bila ada di antara tetangga kita kelaparan, sementara kita perutnya kenyang.
Berapapun yang kita punya, wajib untuk berinfaq. Allah berfirman, “…orang-orang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran [3]: 133-134)
Biasanya, godaan berinfaq adalah takut jatuh miskin. Minimal, takut hartanya berkurang. Jika pakai matematika manusia memang begitu. Tapi bila menggunakan perhitungan Allah, harta yang dikeluarkan infaqnya justru bertambah, bukan berkurang.
“Perumpmaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa denga sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, seratus biji.” (Al-Baqarah [2]: 261)
Dalam hal berinfaq, para Sahabat adalah teladan sempurna. Begitu mendengar seruan berinfaq, tanpa pikir panjang mereka berlomba-lomba melaksanakan. Salah satunya yang pantas menjadi teladan adalah Abu Dahdaah.
Suatu kali turun ayat al-Qur’an: “Siapa yang memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu baginya dan untuknya ada pahala yang banyak.” (al-Hadiid [57]: 11)
Ketika mendengar ayat tersebut, Sahabat Abu Dahdaah menemui Rasulullah. “Ya, Rasulullah, benarkah kalau kita berinfaq sama dengan meminjami Allah sebagai qardh?” Rasulullah membenarkan perkataan Sahabatnya itu. Tanpa pikir panjang, Abu Dahdaah kemudian menginfaqkan pekarangannya yang di dalamnya ada 600 pohon kurma.
Melihat demikian itu, Rasulullah berkata, “Allah akan menggantikan untuk Abu Dahdaah sekeluarga sebuah rumah di surga yang bertahtakan intan berlian.”
Meningkatkan Silaturahim
Silaturahim itu anjuran Islam. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (muttafaq’alaih)
Sebaliknya, Rasulullah menyampaikan ancaman kepada siapa saja yang memutuskan silaturrahim. Sabdanya, “Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan silaturahim.” (muttafaq’alaih).
Saat haid datang, buatlah agenda silaturahim. Bisa ke teman, saudara, atau teman orangtua kita. Jika memungkinkan, ajaklah anak-anak dan suami/istri. Sekaligus itu bentuk rihlah keluarga.
Khususnya bila silaturahim kepada teman-teman orangtua, kita dapat dua pahala. Pahala silaturahim dan pahala birrul walidain (berbakti kepada orangtua). Dalam riwayat Muslim, Rasulullah bersabda, “Jagalah hubungan baik dengan orang-orang yang dicintai ayahmu, janganlah kamu memutuskannya yang menyebabkan Allah memadamkan cahayanya.”
Nah, kepada para wanita yang haid, jangan kecil hati karena tak dapat pahala. Banyak jalan menuju Mekkah, banyak jalan meraup pahala.* Bambang Subagyo/Suara Hidayatullah SEPTEMBER 2010

http://majalah.hidayatullah.com

Adab Cemburu

Kata orang, cemburu itu perlu. Sebaliknya, tak sedikit yang menolak dikatakan sebagai pencemburu. Itulah sifat cemburu. Layaknya mata uang, ia memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Dengannya sebuah rumahtangga bisa bertambah rekat. Namun, tak jarang justru ia menjadi awal sebuah kehancuran hidup seseorang. Berikut ini beberapa pandangan Islam mengenai sifat cemburu.
Pilihlah yang Disukai Allah
Dalam sebuah riwayat, rupanya sifat cemburu itu terbagi menjadi dua. Ada yang dicintai Allah, namun ada pula yang tak disenangi oleh-Nya. Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, “Cemburu itu ada dua macam. Ada cemburu yang dicintai Allah dan ada juga yang dibenci-Nya. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah cemburu yang disukai Allah itu?” Beliau menjawab, “Jika kedurhakaan-kedurhakaan kepada-Nya dan jika hal-hal yang diharamkan-Nya dilanggar.” Kami bertanya lagi, “Lalu apakah cemburu yang dibenci Allah?” Beliau menjawab, “Kecemburuan salah seorang di antara kalian di luar kadarnya.”
Allah pun Bisa Cemburu
Cemburu adalah salah satu sifat Allah, namun ia tak termasuk dalam Asma al-Husna (Nama-nama indah Allah). Nabi bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih cemburu selain daripada Allah. Karena itu Dia mengharamkan berbagai kekejian, yang tampak maupun yang tersembunyi.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Cemburu Para Nabi
Terhadap sebuah kemungkaran, Nabi Muhammad sangatlah pencemburu. Hal ini tergambar dalam kisah Sa’ad ibn Ubadah. Suatu ketika ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saran engkau jika saya mendapati istriku berzina dengan seorang laki-laki? Apakah saya harus menangguhkan balasan hingga mendapatkan empat orang saksi?” Nabi menjawab, “Benar!” Sa’ad berkata lagi, “Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, bagaimana jika saya memukulnya dengan punggung pedang?” Nabi menjawab, “Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada dirinya.” (Riwayat Bukhari)
Cemburu Itu Manusiawi
Saking cintanya kepada –sang suami- Rasulullah, ‘Aisyah pun tak luput dari rasa cemburu. ‘Ummu al-Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah bercerita, aku tak pernah cemburu terhadap wanita seperti kecemburuanku terhadap Khadijah. Karena Nabi seringkali menyebut namanya. Suatu hari beliau menyebut namanya, lalu aku berkata, “Apa yang engkau lakukan terhadap wanita tua yang merah kedua sudut mulutnya? Padahal Allah telah memberikan ganti yang lebih baik daripadanya kepadamu.” Nabi bersabda, “Demi Allah, Dia tidak memberikan ganti yang lebih baik daripadanya kepadaku.” (Riwayat Bukhari)
Stop Cemburu Buta
Cemburu yang dibangun di atas imajinasi dan buruk sangka hanyalah akan merusak sebuah hubungan. Ia tak lebih dari mengikuti hawa nafsu semata. Padahal ia sendiri tak mengetahui persoalan kecuali menuruti perasaan dan emosi sesaat saja. Bahkan boleh jadi cemburu tersebut lalu ditunggangi oleh pihak ketiga yang ingin merusak keutuhan rumah tangga seseorang.
Jalin Komunikasi
Menjalin komunikasi yang sehat bisa menjadi jembatan yang merekatkan kembali rumahtangga yang lagi renggang. Saling terbuka dalam segala urusan niscaya semakin memudahkan dalam menyelesaikan suatu persoalan rumahtangga.* Masykur/Suara Hidayatullah, NOPEMBER 2010

Bulan Ramadhan segera tiba. Tentu saja sebagai orang beriman, kita ingin mengisi bulan ini sebaik-baiknya. Karenanya, di antara yang perlu kita perhatikan adalah adab-adab dalam menjalankannya. Tujuannya, agar tercapai keselarasan antara perintah-perintah syariat dengan maksud pelaksanaan ibadah tersebut. Di antara adab-adab yang semestinya dilakukan antara lain: 1. Menyambutnya dengan bangga, gembira, dan bahagia. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah, ’Dengan Kurnia dan rahmat-Nya, maka dengan itu bergembiralah kalian. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” ” (Yunus [10]: 58) Bentuk sambutan itu dengan memuji Allah yang telah memberi kita bulan mulia ini. Kemudian meminta pertolongan-Nya, agar mampu melaksanakan ibadah dengan baik. 2. Senantiasa makan sahur, karena berkah yang terkandung di dalamnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena pada makanan sahur itu terdapat barakah.” (Muttafaqun ‘alaihi) Adapun makan sahur disunnahkan mengakhirkan, yakni hingga waktu sangat dekat dengan waktu fajar/shubuh. 3. Menyegerakan buka puasa. Diriwayatkan dari Sahal bin Saad, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Rasulullah bersabda: ‘Manusia (umat Islam) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka.” (Riwayat Bukhari dan Muslim). 4. Mengawali buka puasa dengan memakan kurma basah. Diriwayatakan dari Anas Radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah berbuka dengan makan beberapa ruthaab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk.” (Riwayat Abu Daud dan Hakim) 5. Selesai berbuka hendaknya berdoa. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, “Adalah Nabi Muhammad selesai berbuka beliau berdoa:——-arabnya—- Artinya, telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah.” (Riwayat Daaruquthni dan Abu Daud) 6. Memperbanyak sedekah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas. ia berkata: “Adalah Rasulullah orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada Ramadhan untuk mentadaruskan al-Qur’an dan benar-benar Rasulullah lebih dermawan tentang kebajikan (cepat berbuat kebaikan) daripada angin yang dikirim.” (Riwayat Bukhari) 7. Menggalakkan shalat malam atau shalat tarawih. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: “Adalah Rasulullah menggalakkan qiyamullail (shalat malam) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib. Beliau bersabda: ‘Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu.” (Riwayat Jama’ah) 8. Berusaha mendapatkan malam lailatul qadar. Diriwayatkan dari Aisyah: “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda: Berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir.” (Riwayat Muslim) Kita dianjurkan bersungguh-sungguh mendapatkan lailatul qadar ini karena memiliki nilai yang tinggi di sisi Allah. 9. Melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir. Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata: “Adalah Rasulullah mengamalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla.” (Riwayat Bukhari dan Muslim). Demikianlah beberapa adab puasa yang perlu kita kita ketahui. Semoga kita bisa melaksanakaannya.* Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah AGUSTUS 2010

Bulan Ramadhan segera tiba. Tentu saja sebagai orang beriman, kita ingin mengisi bulan ini sebaik-baiknya. Karenanya, di antara yang perlu kita perhatikan adalah adab-adab dalam menjalankannya. Tujuannya, agar tercapai keselarasan antara perintah-perintah syariat dengan maksud pelaksanaan ibadah tersebut. Di antara adab-adab yang semestinya dilakukan antara lain:
1. Menyambutnya dengan bangga, gembira, dan bahagia. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah, ’Dengan Kurnia dan rahmat-Nya, maka dengan itu bergembiralah kalian. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” ” (Yunus [10]: 58)
Bentuk sambutan itu dengan memuji Allah yang telah memberi kita bulan mulia ini. Kemudian meminta pertolongan-Nya, agar mampu melaksanakan ibadah dengan baik.
2. Senantiasa makan sahur, karena berkah yang terkandung di dalamnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena pada makanan sahur itu terdapat barakah.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Adapun makan sahur disunnahkan mengakhirkan, yakni hingga waktu sangat dekat dengan waktu fajar/shubuh.
3. Menyegerakan buka puasa. Diriwayatkan dari Sahal bin Saad, Rasulullah
bersabda, “Sesungguhnya Rasulullah bersabda: ‘Manusia (umat Islam) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
4. Mengawali buka puasa dengan memakan kurma basah. Diriwayatakan dari Anas Radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah berbuka dengan makan beberapa ruthaab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk.” (Riwayat Abu Daud dan Hakim)
5. Selesai berbuka hendaknya berdoa. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, “Adalah Nabi Muhammad selesai berbuka beliau berdoa:——-arabnya—-
Artinya, telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah.” (Riwayat Daaruquthni dan Abu Daud)
6. Memperbanyak sedekah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas. ia berkata: “Adalah Rasulullah orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada Ramadhan untuk mentadaruskan al-Qur’an dan benar-benar Rasulullah lebih dermawan tentang kebajikan (cepat berbuat kebaikan) daripada angin yang dikirim.” (Riwayat Bukhari)
7. Menggalakkan shalat malam atau shalat tarawih. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: “Adalah Rasulullah menggalakkan qiyamullail (shalat malam) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib. Beliau bersabda: ‘Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu.” (Riwayat Jama’ah)
8. Berusaha mendapatkan malam lailatul qadar. Diriwayatkan dari Aisyah: “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda: Berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir.” (Riwayat Muslim)
Kita dianjurkan bersungguh-sungguh mendapatkan lailatul qadar ini karena memiliki nilai yang tinggi di sisi Allah.
9. Melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir. Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata: “Adalah Rasulullah mengamalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Demikianlah beberapa adab puasa yang perlu kita kita ketahui. Semoga kita bisa melaksanakaannya.* Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah AGUSTUS 2010

Monday, June 6, 2011

Apakah Mengenal Pasangan Harus Lewat Pacaran?

Apakah Mengenal Pasangan Harus Lewat Pacaran?


ImageSebagian orang menyangka bahwa jika seseorang ingin mengenal pasangannya mestilah lewat pacaran. Kami pun merasa aneh kenapa sampai dikatakan bahwa cara seperti ini adalah satu-satunya cara untuk mengenal pasangan. Saudaraku, jika kita telaah, bentuk pacaran pasti tidak lepas dari perkara-perkara berikut ini.
Pertama: Pacaran adalah jalan menuju zina
Yang namanya pacaran adalah jalan menuju zina dan itu nyata. Awalnya mungkin hanya melakukan pembicaraan lewat telepon, sms, atau chating. Namun lambat laut akan janjian kencan. Lalu lama kelamaan pun bisa terjerumus dalam hubungan yang melampaui batas layaknya suami istri. Begitu banyak anak-anak yang duduk di bangku sekolah yang mengalami semacam ini sebagaimana berbagai info yang mungkin pernah kita dengar di berbagai media. Maka benarlah, Allah Ta’ala mewanti-wanti kita agar jangan mendekati zina. Mendekati dengan berbagai jalan saja tidak dibolehkan, apalagi jika sampai berzina. Semoga kita bisa merenungkan ayat yang mulia,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32). Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan, “Allah melarang mendekati zina. Oleh karenanya, sekedar mencium lawan jenis saja otomatis terlarang. Karena segala jalan menuju sesuatu yang haram, maka jalan tersebut juga menjadi haram. Itulah yang dimaksud dengan ayat ini.”[1] Selanjutnya, kami akan tunjukkan beberapa jalan menuju zina yang tidak mungkin lepas dari aktivitas pacaran.
Kedua:  Pacaran melanggar perintah Allah untuk menundukkan pandangan
Padahall Allah Ta'ala perintahkan dalam firman-Nya,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".” (QS. An Nur: 30). Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada para pria yang beriman untuk menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan yaitu wanita yang bukan mahrom. Namun jika ia tidak sengaja memandang wanita yang bukan mahrom, maka hendaklah ia segera memalingkan pandangannya. Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.
Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.”[2]
Ketiga: Pacaran seringnya berdua-duaan (berkholwat)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ
Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.”[3] Berdua-duaan (kholwat) yang terlarang di sini tidak mesti dengan berdua-duan di kesepian di satu tempat, namun bisa pula bentuknya lewat pesan singkat (sms), lewat kata-kata mesra via chating dan lainnya. Seperti ini termasuk semi kholwat yang juga terlarang karena bisa pula sebagai jalan menuju sesuatu yang terlarang (yaitu zina).
Keempat: Dalam pacaran, tangan pun ikut berzina
Zina tangan adalah dengan menyentuh lawan jenis yang bukan mahrom sehingga ini menunjukkan haramnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.[4]
Inilah beberapa pelanggaran ketika dua pasangan memadu kasih lewat pacaran. Adakah bentuk pacaran yang selamat dari hal-hal di atas? Lantas dari sini, bagaimanakah mungkin pacaran dikatakan halal? Dan bagaimana mungkin dikatakan ada pacaran islami padahal pelanggaran-pelanggaran di atas pun ditemukan? Jika kita berani mengatakan ada pacaran Islami, maka seharusnya kita berani pula mengatakan ada zina islami, judi islami, arak islami, dan seterusnya.
Menikah, Solusi Terbaik untuk Memadu Kasih
Solusi terbaik bagi yang ingin memadu kasih adalah dengan menikah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
« لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ »
Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.[5]
Inilah jalan yang terbaik bagi orang yang mampu menikah. Namun ingat, syaratnya adalah mampu yaitu telah mampu menafkahi keluarga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Wahai para pemuda[6], barangsiapa yang memiliki baa-ah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.”[7] Yang dimaksud baa-ah dalam hadits ini boleh jadi jima’ yaitu mampu berhubungan badan. Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud baa-ah adalah telah mampu memberi nafkah. Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullahh mengatakan bahwa kedua makna tadi kembali pada makna kemampuan memberi nafkah.[8] Itulah yang lebih tepat.
Inilah solusi terbaik untuk orang yang akan memadu kasih. Bukan malah lewat jalan yang haram dan salah. Ingatlah, bahwa kerinduan pada si dia yang diidam-idamkan adalah penyakit. Obatnya tentu saja bukanlah ditambah dengan penyakit lagi. Obatnya adalah dengan menikah jika mampu. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya obat bagi orang yang saling mencintai adalah dengan menyatunya dua insan tersebut dalam jenjang pernikahan.”[9]
Obat Bagi Yang Dimabuk Cinta
Berikut adalah beberapa obat bagi orang yang dimabuk cinta namun belum sanggup untuk menikah.
Pertama: Berusaha ikhlas dalam beribadah.
Jika seseorang benar-benar ikhlas menghadapkan diri pada Allah, maka Allah akan menolongnya dari penyakit rindu dengan cara yang tak pernah terbetik di hati sebelumnya. Cinta pada Allah dan nikmat dalam beribadah akan mengalahkan cinta-cinta lainnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sungguh, jika hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya ia tidak akan menjumpai hal-hal lain yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik daripada Allah. Manusia tidak akan meninggalkan sesuatu yang dicintainya, melainkan setelah memperoleh kekasih lain yang lebih dicintainya. Atau karena adanya sesuatu yang ditakutinya. Cinta yang buruk akan bisa dihilangkan dengan cinta yang baik. Atau takut terhadap sesuatu yang membahayakannya.”[10]
Kedua: Banyak memohon pada Allah
Ketika seseorang berada dalam kesempitan dan dia bersungguh-sungguh dalam berdo’a, merasakan kebutuhannya pada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan do’anya. Termasuk di antaranya apabila seseorang memohon pada Allah agar dilepaskan dari penyakit rindu dan kasmaran yang terasa mengoyak-ngoyak hatinya. Penyakit yang menyebabkan dirinya gundah gulana, sedih dan sengsara. Ingatlah, Allah Ta’ala berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Dan Rabbmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al Mu’min: 60)
Ketiga: Rajin memenej pandangan
Pandangan yang berulang-ulang adalah pemantik terbesar yang menyalakan api hingga terbakarlah api dengan kerinduan. Orang yang memandang dengan sepintas saja jarang yang mendapatkan rasa kasmaran. Namun pandangan yang berulang-ulanglah yang merupakan biang kehancuran. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk menundukkan pandangan agar hati ini tetap terjaga. Lihatlah surat An Nur ayat 30 yang telah kami sebutkan sebelumnya. Mujahid mengatakan, “Menundukkan pandangan dari berbagai hal yang diharamkan oleh Allah akan menumbuhkan rasa cinta pada Allah.”[11]
Keempat: Lebih giat menyibukkan diri
Dalam situasi kosong kegiatan biasanya seseorang lebih mudah untuk berangan memikirkan orang yang ia cintai. Dalam keadaan sibuk luar biasa berbagai pikiran tersebut mudah untuk lenyap begitu saja. Ibnul Qayyim pernah menyebutkan nasehat seorang sufi yang ditujukan pada Imam Asy Syafi’i. Ia berkata, “Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).”[12]
Kelima: Menjauhi musik dan film percintaan
Nyanyian dan film-film percintaan memiliki andil besar untuk mengobarkan kerinduan pada orang yang dicintai. Apalagi jika nyanyian tersebut dikemas dengan mengharu biru, mendayu-dayu tentu akan menggetarkan hati orang yang sedang ditimpa kerinduan. Akibatnya rasa rindu kepadanya semakin memuncak, berbagai angan-angan yang menyimpang pun terbetik dalam hati dan pikiran. Bila demikian, sudah layak jika nyanyian dan tontonan seperti ini dan secara umum ditinggalkan. Demi keselamatan dan kejernihan hati. Sehingga sempat diungkapkan oleh beberapa ulama nyanyian adalah mantera-mantera zina.
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Nyanyian dapat menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air dapat menumbuhkan sayuran.”  Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Nyanyian adalah mantera-mantera zina.” Adh Dhohak mengatakan, “Nyanyian itu akan merusak hati dan akan mendatangkan kemurkaan Allah.[13]
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.remajaislam.com


[1]Fathul Qodir, Asy Syaukani, 4/300, Mawqi’ At Tafaasir.
[2] HR. Muslim no. 5770
[3] HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi(shahih dilihat dari jalur lainnya).
[4] HR. Muslim no. 6925.
[5] HR. Ibnu Majah no. 1847. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Ash Shahihah no. 624.
[6] Yang dimaksud dengan syabab (pemuda) di sini adalah siapa saja yang belum mencapai usia 30 tahun. Inilah pendapat ulama-ulama Syafi’iyah. (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 9/173, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392 H)
[7] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.
[8] Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 9/173.
[9]Rodhotul Muhibbin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 212, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah Beirut, tahun 1412 H.
[10]Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 10/187, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.
[11]Majmu’ Al Fatawa, 15/394.
[12]Al Jawabul Kafi, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah
[13] Lihat Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, hal. 289, Darul Kutub Al ‘Arobi, cetakan pertama, tahun 1405 H.

Pengaruh Teman Bergaul yang Baik

Pengaruh Teman Bergaul yang Baik


Teman bergaul dan lingkungan yang Islami, sungguh sangat mendukung seseorang menjadi lebih baik dan bisa terus istiqomah. Sebelumnya bisa jadi malas-malasan. Namun karena melihat temannya tidak sering tidur pagi, ia pun rajin. Sebelumnya menyentuh al Qur’an pun tidak. Namun karena melihat temannya begitu rajin tilawah Al Qur’an, ia pun tertular rajinnya.
Perintah Agar Bergaul dengan Orang-Orang yang Sholih
Allah menyatakan dalam Al Qur'an bahwa salah satu sebab utama yang membantu menguatkan iman para shahabat Nabi adalah keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka. Allah Ta’ala berfirman,
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
"Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nyapun berada ditengah-tengah kalian? Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Ali 'Imran: 101).
Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur)." (QS. At Taubah: 119).
Berteman dengan Pemilik Minyak Misk
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”[1]
Memandangnya Saja Sudah Membuat Hati Tenang
Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang sholih.
Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,
نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ
Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.[2] Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang sholih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang sholih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang sholih lainnya.
‘Abdullah bin Al Mubarok mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.”
Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.”[3]
Ibnul Qayyim mengisahkan, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, kami segera mendatangi Ibnu Taimiyah untuk meminta nasehat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.[4]
Lihatlah Siapa Teman Karibmu!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545).
Al Ghozali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.”[5]
Oleh karena itu, pandai-pandailah memilih teman bergaul. Jauhilah teman bergaul yang jelek jika tidak mampu merubah mereka. Jangan terhanyut dengan pergaulan yang malas-malasan dan penuh kejelekan. Banyak sekali yang menjadi baik karena pengaruh lingkungan yang baik. Yang sebelumnya malas shalat atau malas shalat jama’ah, akhirnya mulai rajin. Sebaliknya, banyak yang menjadi rusak pula karena lingkungan yang jelek.
Semoga Allah mudahkan dan beri taufik untuk terus istiqomah dalam agama ini.

Disusun di Sakan 27, KSU, Ummul Hamam, Riyadh, KSA, pada 26 Syawal 1431 H (4/10/2010)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.remajaislam.com


[1]Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 4/324, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379
[2]Siyar A’lam An Nubala’, 8/435, Mawqi’ Ya’sub.
[3]Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas,  Sayyid bin Husain Al ‘Afani, hal. 466, Darul ‘Affani, cetakan pertama, tahun 1421 H
[4] Lihat Shahih Al Wabilush Shoyyib, antara hal. 91-96, Dar Ibnul Jauziy
[5] Tuhfatul Ahwadzi, Abul ‘Ala Al Mubarakfuri, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, 7/42

Menikahi Wanita Hamil Karena Zina

Menikahi Wanita Hamil Karena Zina


Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumid diin.
Fenomena yang menjamur di kalangan muda-mudi saat ini, yang sulit terelakkan lagi adalah perzinaan, sebelum mendapat label sah sebagai pasangan suami istri. Hal ini sudah dianggap biasa di tengah-tengah masyarakat kita. Si wanita dengan menahan malu telah memiliki isi dalam perutnya. Namun masalah yang timbul adalah bolehkah wanita tersebut dinikahi ketika ia dalam kondisi hamil? Lalu apa akibat selanjutnya dari perbuatan zina semacam ini.
Semoga artikel sederhana berikut ini bisa memberikan pencerahan kepada orang-orang yang ingin mencari kebenaran. Hanya Allah yang beri taufik.
Bahaya Zina
Allahh Ta’ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32)
Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al Furqon: 68). Artinya, orang yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan.
Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda, “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dia-lah yang menciptakanmu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda, “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda,
ثُمَّ أَنْ تُزَانِىَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ
Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas.[1] Di sini menunjukkan besarnya dosa zina, apalagi berzina dengan istri tetangga.
Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا زَنَى الرَّجُلُ خَرَجَ مِنْهُ الإِيمَانُ كَانَ عَلَيْهِ كَالظُّلَّةِ فَإِذَا انْقَطَعَ رَجَعَ إِلَيْهِ الإِيمَانُ
Jika seseorang itu berzina, maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya). Jika dia lepas dari zina, maka iman itu akan kembali padanya.[2]
Inilah besarnya bahaya zina. Oleh karenanya, syariat Islam yang mulia dan begitu sempurna sampai menutup berbagai pintu agar setiap orang tidak terjerumus ke dalamnya. Namun itulah yang terjadi jika hal ini dilanggar, akhirnya terjadilah apa yang terjadi. Terjerumuslah dalam dosa besar zina karena tidak mengindahkan berbagai jalan yang dapat mengantarkan pada zina seperti bentuk pacaran yang dilakukan muda-mudi saat ini. Jadilah di antara mereka hamil di luar nikah.
Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Zina
Ada beberapa fatwa ulama yang kami temukan, di antaranya adalah Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah no. 9644 mengenai syarat menikahi wanita yang dizinai, tanggal Fatwa 23 Jumadil Ula 1422 H.
Pertanyaan:
هل يجوز لشخص أن يتزوج من إمرأة زانية وهو يعلم أنها زنت قبل أن يتزوجها، وهو يريد أن يستر عليها لأنها قريبته، وأرجو الإفادة منكم ، هل يمكن معرفة المفتي . شكرا
Apakah boleh seseorang menikahi wanita yang dizinai dan ia tahu bahwa wanita tersebut betul telah dizinai sebelum menikahinya. Ia ingin menutup aibnya dengan menikahinya karena wanita tersebut masih kerabatnya. Aku ingin jawaban dari kalian mengenai hal ini. Apakah hal ini mungkin? Syukron.
Jawaban:
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه وسلم أما بعد:
فإن الزواج من الزانية مختلف فيه ، فمن العلماء من يقول بصحته، ومنهم من يقول بمنعه ، وممن قال بمنعه الإمام أحمد، وهو قول يشهد له ظاهر الآية الكريمة ( الزاني لا ينكح إلا زانية أو مشركة والزانية لا ينكحها إلا زان أو مشرك وحرم ذلك على المؤمنين ) [النور:3]
وعليه فلا يجوز لمن علم من امرأة أنها تزني أن يتزوجها إلا بشرطين: أحدهما: التوبة إلى الله تعالى، ثانيهما: استبراؤها. فإذا توفر الشرطان جاز الزواج منها ، والدليل على وجوب الاستبراء قوله صلى الله عليه وسلم فيما رواه أبو سعيد الخدري رضي الله عنه "لا توطأ حامل حتى تضع، ولا غير ذات حمل حتى تحيض حيضة". أخرجه البغوي في شرح السنة وأبو داوود وقال ابن حجر في التلخيص إسناده حسن وصححه الحاكم وقال على شرط مسلم .
والخلاصة أن الزانية إذا تابت إلى ربها وتحققت براءة رحمها من ماء السفاح جاز نكاحها بأي غرض كان ، فإذا فقد أحد الشرطين لم يجز نكاحها؟ ولو بقصد الستر عليها، والتغطية على عملها القبيح .
والله أعلم.
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:
Mengenai hukum menikahi wanita yang telah dizinai, maka ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian ulama mengatakan bahwa menikahi wanita tersebut dinilai sah. Sebagian ulama lainnya melarang hal ini. Di antara ulama yang melarangnya adalah Imam Ahmad. Pendapat ini didukung kuat dengan firman Allah Ta’ala,
الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. An Nur: 3)
Jika seseorang mengetahui bahwa wanita tersebut adalah wanita yang telah dizinai, maka ia boleh menikahi dirinya jika memenuhi dua syarat:
Pertama: Yang berzina tersebut bertaubat dengan sesungguhnya pada Allah Ta’ala.
Kedua: Istibro’ (membuktikan kosongnya rahim).
Jika dua syarat ini telah terpenuhi, maka wanita tersebut baru boleh dinikahi. Dalil yang mengharuskan adanya istibro’ adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلاَ غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً
Wanita hamil tidaklah disetubuhi hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil istibro’nya (membuktikan kosongnya rahim) sampai satu kali haidh.[3][4]
Ringkasnya, menikahi wanita yang telah dizinai jika wanita tersebut betul-betul telah bertaubat pada Allah dan telah melakukan istibro’ (membuktikan kosongnya rahim dari mani hasil zina), maka ketika dua syarat ini terpenuhi boleh menikahi dirinya dengan tujuan apa pun. Jika tidak terpenuhi dua syarat ini, maka tidak boleh menikahinya walaupun  dengan maksud untuk menutupi aibnya di masyarakat. Wallahu a’lam.[5] –Demikian Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah-.
Simpulannya, konsekuensi dari menikahi wanita hamil adalah nikahnya tidak sah, baik yang menikahinya adalah laki-laki yang menzinainya atau laki-laki lainnya. Inilah pendapat terkuat sebagaimana yang dipilih oleh para ulama Hambali dan Malikiyah karena didukung oleh dalil yang begitu gamblang. Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra’ terlebih dahulu, sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram, maka pernikahannya itu tidak sah. Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi, bila telah selesai istibra’ dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan.
Status Anak Hasil Zina
Adapun nasab anak, ia dinasabkan kepada ibunya, bukan pada bapaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ
Anak dinasabkan kepada pemilik ranjang. Sedangkan laki-laki yang menzinai hanya akan mendapatkan kerugian.[6]
Firasy adalah ranjang dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya, keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan kepada pemilik firasy. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja.
Inilah pendapat mayoritas ulama bahwa anak dari hasil zina tidak dinasabkan kepada bapaknya, alias dia adalah anak tanpa bapak. Namun anak tersebut dinasabkan pada ibu dan keluarga ibunya. Jika wanita yang hamil tadi dinikahi oleh laki-laki yang menzinainya, maka anaknya tetap dinasabkan pada ibunya. Sedangkan suami tersebut, status anaknya hanyalah seperti robib (anak tiri). Jadi yang berlaku padanya adalah hukum anak tiri. Wallahu a’lam.[7]
Bila seseorang meyakini bahwa pernikahan semacam ini (menikahi wanita hamil) itu sah, baik karena taqlid (ngekor beo) kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah, maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan itu sah, maka nasab (anak) diikutkan kepadanya, dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan kesepakatan ulama sesuai yang kami ketahui. Meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil (tidak teranggap) di hadapan Allah dan RasulNya, dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram, (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya)”.[8]
Ringkasnya, anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang menzinai ibunya (walaupun itu jadi suaminya), konsekuensinya:
  1. Anak itu tidak berbapak.
  2. Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu.
  3. Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah, maka walinya bukan laki-laki tadi, namun walinya adalah wali hakim, karena dia itu tidak memiliki wali.
PenutupSetelah kita melihat pembahasan di atas. Awalnya hamil di luar nikah (alias zina). Akhirnya karena nekad dinikahi ketika hamil, nikahnya pun tidak sah. Kalau nikahnya tidak sah berarti apa yang terjadi? Yang terjadi adalah zina. Keturunannya pun akhirnya rusak karena anak hasil zina tidak dinasabkan pada bapak hasil zina dengan ibunya. Gara-gara zina, akhirnya nasab menjadi rusak. Inilah akibat dari perbuatan zina. Setiap yang ditanam pasti akan dituai hasilnya. Jika yang ditanam keburukan, maka keburukan berikut pula yang didapat. Oleh karena itu, para salaf mengatakan,
مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.[9]
Semoga Allah senantiasa memberi taufik, memberikan kita kekuatan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya.
Diselesaikan di Pangukan-Sleman, 9 Rabi’ul Akhir 1431 H (bertepatan dengan 24/03/2010)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.remajaislam.com

[1] HR. Bukhari no. 7532 dan Muslim no. 86.
[2] HR. Abu Daud no. 4690 dan Tirmidzi no. 2625. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[3] HR. Abu Daud no. 2157. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[4] Catatan penting yang perlu diperhatikan: Redaksi hadits ini membicarakan tentang budak yang sebelumnya disetubuhi tuannya yang pertama, maka tuan yang kedua tidak boleh menyetubuhi dirinya sampai melakukan istibro’ yaitu menunggu sampai satu kali haidh atau sampai ia melahirkan anaknya jika ia hamil. Jadi jangan dipahami bahwa hadits ini membicarakan larangan untuk menyetubuhi istri yang sedang hamil.
[5] Lihat Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah, 2/4764, Asy Syamilah.
[6] HR. Bukhari no. 6749 dan Muslim no. 1457.
[7] Lihat Fatawa Asy Syabkah Al Islamiyah, 2/2587.
[8] Lihat Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 32/66-67, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H.
[9] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/417, Daar Thoyyibah, cetakan kedua, 1420 H