Wednesday, June 22, 2011

Tiga Lubang dalam Jalan Dakwah

“Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (At-Taubah [9]: 93).
Muqaddimah
Dalam kehidupan, segala usaha dan program manusia memang butuh harta, tetapi harta bukan segalanya. Harta hanyalah salah satu sarana saja untuk mewujudkan cita-cita perjuangan. Realitasnya tak sedikit di antara mereka yang tertipu dengan ujian harta ini. Mereka terbuai dan lalai dalam tugas memperjuangkan Islam.
Terkait dengan ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) menceritakan dampak yang ditimbulkan dari meninggalkan ketaatan dalam perjuangan. Pertama, sebut sebagai contoh, ujian berupa sungai yang akan dilalui tentara Thalut ketika berperang melawan Jalut. Kedua; turunnya beberapa pasukan pemanah pada perang Uhud. Ketiga; keengganan kaum Muslimin tahallul (memotong rambut) sebagai syarat membatalkan umrah pasca perjanjian Hudaibiyah.
Sejarah tak lain adalah peristiwa yang berulang, hanya konteksnya saja yang berbeda dengan kondisi kita saat ini. Karenanya, ketiga kisah bersejarah ini patut kita renungkan sebagai ibrah (pelajaran) agar kita tetap istikamah di jalan dakwah hingga ajal menjemput.
Sungai Thalut
Peristiwa ini terjadi tatkala Thalut dan tentaranya berada di tengah padang pasir yang tandus dan tiada sumber air, sementara terik matahari sangat menyengat. Allah menguji kesabaran mereka dengan sumber air tawar yang dingin, sedang mereka sendiri dalam kehausan yang sangat.
Dalam kondisi seperti itu, Thalut memperingatkan, siapa yang meminum air sungai banyak-banyak, bukanlah termasuk tentaranya. Itu tanda jika ia bukan orang yang sabar. Sebaliknya, orang yang tak meminum dan orang yang meminum sepenuh telapak tangan saja termasuk tentara Thalut. Mereka termasuk orang-orang yang sabar. Terbukti, meski dengan jumlah yang sedikit tapi didukung dengan kesabaran serta izin Allah, tentara Thalut memenangkan peperangan melawan Jalut dan pasukannya yang jauh lebih kuat.
Saudaraku…, ilmu yang belum memadai, fasilitas yang tak ada, dana perjuangan yang tidak jelas sumbernya, sementara kebutuhan keluarga menuntut harus tercukupi, tidak boleh membuat kita belok haluan apalagi mundur dari jalan dakwah. Janganlah kita berada di barisan dakwah ini karena adanya materi atau jangan pula meninggalkannya gara-gara tiada materi. Keikhlasan berbuah kesabaran yang membuat kita teguh dan konsisten dalam perjuangan ini.
Kini, berbagai macam ”sungai” akan terus menguji kita. Mungkin ada yang beralasan di balik kata-kata manis bahwa kita butuh ”air” (baca: harta) secukupnya. Namun, kenyataannya yang diambil bukan seteguk, bahkan berteguk-teguk air. Ujungnya? Gaya hidup mulai berubah. Sumber kenikmatannya yang selama ini adalah dakwah dan jihad berubah ke materi. Ketika diajak bicara tentang dakwah, beralasan lagi, “Aduh maaf saya sibuk, tidak bisa hadir.” Kita harus ekstra hati-hati dengan ujian “sungai-sungai” yang akan memalingkan kita dari ketaatan kepada Allah.
Perang Uhud
Peristiwa yang terjadi pada tahun ketiga Hijriyah ini patut menjadi renungan buat kita. Pasukan pemanah yang sedianya menjaga Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam di bukit Uhud meninggalkan tugasnya turut memungut harta rampasan perang (ghanimah). Apa daya, rupanya kaum musyrikin balik menyerang kembali. Pasukan kaum Muslimin kocak-kacir, Rasulullah berlumuran darah hingga beberapa giginya tanggal, serta 70 sahabat yang lain menjadi syuhada.
Meskipun Rasulullah telah mewanti-wanti pasukan pemanah agar tak turun, namun sebagian mereka tak tahan guna saling berebut memungut ghanimah. Sebenarnya, hal ini manusiawi karena memang manusia butuh harta. Namun, karena ketidaktaatan menjaga amanah -gara-gara harta- justru berakibat fatal, baik terhadap diri maupun kawan seperjuangan.
Terlepas dari benar tidaknya persepsi tersebut, dalam konteks kekinian, seyogyanya hal ini menjadi tanggung jawab organisasi dakwah. Misalnya, lembaga ZIS (zakat, infaq, dan sedekah), dan warga masyarakat yang berkecukupan, untuk lebih memerhatikan kesejahteraan para dai secara adil dan merata.
Adil seiring pengabdian dan pengorbanan. Merata berarti jangan sampai ada dai yang merasa dizalimi oleh yang lain. Baik dai maupun umat binaan harus mendapat perhatian yang sama. Jangan sampai hanya mau membina di tempat-tempat tertentu dan mengabaikan wilayah yang lain.
Tahallul Rasulullah
Pada bulan Dzulqaidah tahun ke-6 Hijriyah, Rasulullah beserta 1.400 sahabatnya hendak melakukan umrah. Namun kaum Quraisy menolak kedatangannya, dan akhirnya terjadi perjanjian damai antara kaum Quraisy dan Rasulullah, yang dikenang sebagai Perjanjian Hudaibiyah.
Salah satu isinya adalah Rasulullah dan kaum Muslimin harus kembali ke Madinah tiga hari kemudian dan baru boleh memasuki Makkah tahun depan. Demi memenuhi isi perjanjian ini, Rasulullah menyuruh sahabatnya membatalkan umrahnya dengan tahallul dan menyembelih qurban. Namun, tak seorang pun yang beranjak dari tempatnya memenuhi perintah tersebut meski Nabi sampai mengulanginya hingga tiga kali.
Atas saran istrinya, Ummu Salamah, Rasulullah melakukan tahallul lebih dahulu dibantu salah seorang sahabatnya dan menyembelih untanya sendiri. Melihat hal itu seluruh kaum Muslimin akhirnya ramai-ramai mengikuti langkah Rasulullah tersebut.
Apakah hikmah dari keengganan kaum Muslimin untuk tahallul? Tentu para sahabat bukan tak memiliki rambut, namun tak lebih karena memerlukan contoh dan keteladanan. Inilah metode membina umat dan jamaah. Setiap diri dituntut tidak hanya dapat menyampaikan namun harus memperagakannya terlebih dahulu.
Perintah berkorban berupa “memotong rambut” (baca; harta, atau apa saja ) meskipun hanya beberapa helai akan mandeg bila tidak diikuti contoh. Butuh keberanian untuk memulai. Tak cukup dengan perintah tapi ia butuh keteladanan.
Sebaliknya, akan semakin bermasalah jika masing-masing pelaku dakwah berlomba memanjangkan rambut dengan berbagai modelnya, tidak mau memendekkan apalagi mencukur. Sungguh ketaatan hanya akan menjadi cerita kosong.
Sesungguhnya, yang dikendaki bukanlah sekedar memotong rambutnya, namun subtansi yang diharapkan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasulnya dengan mengorbankan sedikit kehormatan diri. Dan ini tidak akan terjadi manakala tidak memiliki kemauan kuat untuk taat.
Agar ketaatan menjadi kepribadian rijal ad-dakwah (para dai) khususnya, harus ada proses internalisasi fikrah (pemikiran), kesadaran akan tanggung jawab terhadap penyelamatan umat. Juga penanaman nilai-nilai tauhid yang disertai keteladanan pelaku dakwah. Wallahu a’lam. SUARA HIDAYATULLAH JUNI 2010 *MD Karyadi, Lc, ketua DPW Hidayatullah Jakarta.

No comments:

Post a Comment