Rasulullah
SAW adalah keturunan Nabi Ibrahim as, dari perkawinannya dengan Hajar,istri
yang kedua. Perkawinan ini mendapatkan putra, Nabi Ismail as.
Suku
Quraisy adalah keturunan Fihr, yang dinamakan juga Quraisy, yang berarti
saudagar. Ia hidup di abad 3 Masehi. Fihr adalah keturunan Ma’ad. Ma’ad adalah
anak Adnan yang merupakan keturunan langsung dari Nabi Ismail as.
Qushay,
salah seorang keturunan Fihr yang hidup di abad 5 Masehi, berhasil
mempersatukan semua suku Quraisy, dan menguasai seluruh Hijaz, yaitu daerah
selatan Jazirah Arab, yang di dalamnya terdapat kota Makkah, Madinah, Ta’if,
dan Jeddah. Ia memperbaiki Ka’bah, mendirikan istana, menarik pajak, dan
menyediakan makan serta air peziarah Ka’bah yang datang setahun sekali. Tradisi
ziarah ini sekarang, di masa Islam, menjadi ibadah haji.. Qushai meninggal
tahun 480 M. Posisinya digantikan putranya, Abdud Dar.
Anak
kedua Qushai, Abdul Manaf, lebih disegani warga. Anak Abdul Manaf adalah
Muthalib, serta kembar siam Hasyim dan Abdu Syam yang harus dipisah dengan
pisau. Anak-anak Abdul Manaf mencoba merebut hak menjaga Baitullah dari
anak-anak Abdud-Dar yang kurang berwibawa di masyarakat.
Sepeninggal
Abdud Dar, terjadilah sengketa antara keturunan Abdud Dar dan anak-anak Abdul
Manaf. Selanjutnya diadakan pembagian tugas. Abdus Syam, anak Abdul Manaf,
bertugas menyediakan air dan mengumpulkan pajak. Sedangkan cucu-cucu Abdud Daar
bertugas menjaga Ka’bah, istana, dan bendera peperangan.
Setelah
beberapa waktu Abdus Syam menyerahkan tugas ini kepada adiknya, Hasyim. Hasyim
merupakan seorang tokoh terkenal di negeri Arab pada waktu itu karena
keberanian dan kejujurannya. Anak Abdu Syam, Umayah, mencoba merebut mandat
itu. Hakim memutuskan bahwa hak tersebut tetap pada Hasyim. Umayah, sesuai
perjanjian, dipaksa meninggalkan Makkah. Salah seorang keturunan Umayah adalah
Abu Sofyan. Putra Abu Sofyan, Muawiyah, kelak mendirikan dinasti Umayah.
Hasyim
menikah dengan Salma binti Amr dari Bani Khazraj, perempuan sangat terhormat di
Yatsrib atau Madinah. Mereka berputra Syaibah, yang dikenal juga dengan nama
Abdul Muthalib. Abdul Muthalib inilah kakek Rasulullah SAW.
Hasyim
meninggal tahun 510 M, dan posisinya digantikan saudaranya, Muthalib.
Sepeninggal Muthalib tanggung jawab kekuasaannya dipegang oleh Abdul Muthalib.
Abdul Muthalib mula-mula tinggal di Madinah sampai Muthalib yang menggantikan
Hasyim wafat.
Tanah
Kelahiran Rasulullah
Tanah
semenanjung tempat kelahiran Rasulullah terletak di bagian barat daya benua
Asia, bernama Jazirah Arab,yang adalah daerah gurun pasir dengan luas sekitar
12.000 mil persegi, dan hampir sepertiganya adalah tanah pasir. Sekarang
(th.2001) berada dalam pemerintahan Kerajaan Saudi Arabia.
Hasil
tanah Arab waktu itu adalah kurma. Binatang yang hidup di sana adalah
unta, di samping kuda Arab.
Kota
tempat lahir Nabiyullah adalah kota Makkah (Mecca). Kota ini sejak lama sudah
menjadi kota pusat keagamaan, tempat berkumpul, dan melaksanakan upacara bagi
tanah Arab. Di dalam kota Makkah terdapat Ka’bah, yaitu rumah suci pertama di
dunia. Ka’bah semenjak jaman yang amat tua telah menjadi tujuan ziarah dari
segenap penjuru tanah Arab, dan di dana terpasang batu hitam di salah satu
sudutnya (Hajar Aswad), yang sampai sekarang dimuliakan orang, dicium oleh
orang-orang yang mengerjakan ibadah haji.
Keadaan
Bangsa Arab Masa Itu
Pada
masa itu keadaan bangsa Arab disebut berada di jaman jahiliyah. Mayoritas
adalah penyembah berhala. Di Ka’bah sendiri terdapat tidak kurang dari 360
berhala untuk disembah. Di beberapa tempat ada juga yang beragama Nasrani dan
Yahudi.
Keadaan
wanita pada masa itu sangat memprihatinkan. Seorang lelaki boleh beristri
berapapun. Jika ia meninggal dunia, istri-istrinya bisa diwariskan kepada ahli
warisnya. Kaum wanita tidak punya hak untuk mendapat waris dari suami, ayah, atau
keluarga mereka.
Kehinaan
derajat perempuan pada masa itu menyebabkan banyak yang tidak suka jika
mempunyai anak perempuan. Jika seorang bayi lahir ternyata perempuan, maka
ditimbunlah anak tersebut dengan tanah langsung dikubur.
Keadaan
ini menyebabkan populasi kaum wanita menjadi berkurang, sehingga lahirlah
perkawinan poliandri, yaitu seorang perempuan bersuamikan beberapa laki-laki.
Di samping itu, seorang lelaki bisa berhubungan secara tidak syah dengan
perempuan lain. Seorang wanita yang sudah bersuami dapat mendapat ijin dari
suaminya untuk berhubungan dengan laki-laki lain.
Perjudian
dan minuman keras di kalangan bangsa Arab masa itu dianggap sebagai tanda
kehormatan.
Perbudakan
meluas. Mereka memperlakukan budak-budak sebebas-bebasnya. Bahkan hidup dan
mati seorang budak tergantung pada tuannya.
Penggalian
Sumur Zam-Zam
Tugas
menyediakan bahan makanan dan air minum bagi jamaah haji merupakan hal yang
sangat sulit pada waktu itu. Untuk mengatasi kesulitan air tersebut, Abdul
Muthalib berencana untuk menggali kembali sumur (zam-zam) yang telah lama
tertimbun. Ini adalah pekerjaan sulit dan banyak memerlukan tenaga. Pada waktu
itu Abdul Muthalib baru mempunyai seorang anak saja, Harith. Sedangkan untuk
minta bantuan orang lain sukar diharapkan.
Untuk
melaksanakan rencana tersebut Abdul Muthalib berdoa agar diberi anak yang
banyak. Bahkan ia bernadzar akan menyembelih salah seorang anaknya untuk kurban
bila doanya dikabulkan. Beberapa tahun kemudian lahirlah anak-anaknya, di
antaranya adalah Abu Thalib, Abbas, Abu Lahab, Zubair, dan Abdullah. Penggalian
sumur pun dapat dilaksanakan oleh Abdul Muthalib dengan bantuan putra-putranya.
Setelah
penggalian sumur selesai, Abdul Muthalib berniat melaksanakan nadzarnya, yaitu
menyembelih salah seorang putranya sebagai kurban. Dengan disaksikan banyak
orang, Abdul Muthalib membawa anak-anaknya ke dekat Ka’bah, lalu diundi siapa
yang akan dijadikan kurban. Dari undian itu ditentukan bahwa Abdullah yang akan
di-kurban-kan.
Abdul
Muthalib kemudian membawa Abdullah ke tempat penyembelihan di dekat sumur
zam-zam, dan bersiap-siap untuk menyembelih Abdullah. Masyarakat menentang
rencana Abdul Muthalib. Mereka menyarankan agar menghubungi perempuan ahli
nujum di Yatsrib. Di hadapan wanita ini dilakukan undian lagi, yang akhirnya
Abdullah tidak jadi disembelih. Sebagai gantinya disembelih 100 ekor unta.
Peristiwa ini menjadikan nama Abdul Muthalib dan Abdullah terkenal di seluruh
tanah Arab. Tidak lama kemudian Abdullah menikah dengan Aminah dan tinggal di
Mekkah.
Abrahah
Pada
tahun kelahiran Nabi ada peristiwa besar. Pasukan berkendaraan Gajah yang
dipimpin oleh Abrahah berniat hendak menghancurkan Ka’bah. Ka’bah sebagai rumah
Tuhan setiap tahun diziarahi orang-orang Arab. Hal ini menyebabkan kota Makkah
menjadi ramai dan penduduk Makkah yang menguasai Ka’bah mendapat penghidupan
yang layak.
Abrahah
adalah seorang panglima perang Kerajaan Habsyi (kini Ethiopia) yang beragama
Nasrani, yang mengangkat diri sebagai Gubernur Yaman setelah ia menghancurkan
Kerajaan Yahudi di wilayah itu. Ia membangun gereja besar dan berusaha
membelokkan orang-orang agar berziarah ke gerejanya. Namun demikian bangsa Arab
tetap menziarahi Ka’bah setiap tahunnya, dan tidak mau menziarahi gereja
Abrahah. Abrahah lalu berniat hendak menghancurkan Ka’bah. Ia mengira jika
Ka’bah hancur, pasti orang-orang akan tidak akan mengunjungi Makkah lagi, dan
berziarah ke gerejanya.
Abrahah
mengerahkan pasukan besar dan berkendaraan gajah untuk menyerbu Makkah. Di
dekat kota Makkah pasukan itu berhenti. Abrahah mengutus kurir, Hunata, untuk
menemui Abdul Muthalib. Abdul Muthalib hanya pasrah karena ia bersama rakyat
Makkah tidak mampu melawan pasukan Abrahah tersebut. Ia bersama penduduk Makkah
mengungsi ke luar kota Makkah. Abrahah merasa girang karena tidak mendapat
perlawanan. Kemudian ia bersama pasukannya memasuki kota Makkah dan hendak
menghancurkan Ka’bah.
Tetapi
tiba-tiba Allah SWT menampakkan kekuasaan-Nya, dengan mengutus burung-burung Ababil yang membawa batu yang bernama Sijjiil. Batu-batu itu dijatuhkan kepada pasukan Gajah
sehingga pasukan itu mati bersama Gajahnya. Kejadian itu membuat Abrahah panik
dan melarikan diri kembali ke Yaman. Tetapi Abrahah pun menemui ajalnya. Al
Qur’an menceritakan peristiwa ini dalam Surat Al-Fil.
“Apakah
kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara
bergajah? Bukankan Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan
Ka’bah) itu sia-sia ? Nan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang
berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu-batu cadas yang terbakar,
maka Dia jadikan mereka bagai daun dimakan ulat”.
Kelahiran
Rasulullah SAW
Usia
AbduluMuttalib sudah hampir mencapai 70 tahun atau lebih tatkala Abrahah
mencoba menyerang Mekkah dan menghancurkan Rumah Purba. Ketika itu umur
Abdullah, anaknya sudah 24t tahun, dan sudah tiba masanya dikawinkan. Pilihan
Abdul Muttalib jatuh kepada Aminah bint Wahb bin Abd Manaf bin Zuhra, –
pemimpin suku Zuhra ketika itu yang sesuai pula usianya dan mempunyai kedudukan
terhormat.
Pada
hari perkawinan Abdullah dengan Aminah itu, Abdul Muttalib juga kawin dengan
Hala, puteri pamannya. Dari perkawinan ini lahirlah Hamzah, paman Nabi dan yang
seusia dengan dia. Abdullah dengan Aminah tinggal selama tiga hari di rumah
Aminah, sesuai dengan adat kebiasaan Arab bila perkawinan dilangsungkan di
rumah keluarga pengantin puteri. Sesudah itu mereka pindah bersama-sama ke
keluarga Abdul Muttalib.
Beberapa
saat setelah perkawinan, Abdullah pun pergi dalam suatu usaha perdagangan ke
Suria dengan meninggalkan isteri yang dalam keadaan hamil. Dalam perjalanannya
itu Abdullah tinggal selama beberapa bulan. Dalam pada itu ia pergi juga ke
Gaza dan kembali lagi. Kemudian ia singgah ke tempat saudara-saudara ibunya di
Medinah sekadar beristirahat sesudah merasa letih selama dalam perjalanan.
Sesudah itu ia akan kembali pulang dengan kafilah ke Mekkah. Akan tetapi
kemudian ia menderita sakit di tempat saudara-saudara ibunya itu.
Kawan-kawannyapun pulang lebih dulu meninggalkan dia.
Abdul
Muttalib mengutus Harits, anaknya yang sulung ke Medinah, supaya membawa
kembali bila ia sudah sembuh. Tetapi sesampainya di Medinah ia mengetahui bahwa
Abdullah sudah meninggal dan sudah dikuburkan pula, sebulan sesudah kafilahnya
berangkat ke Mekkah. Kembalilah Harits kepada keluarganya dengan membawa
perasaan pilu atas kematian adiknya itu. Rasa duka dan sedih menimpa hati Abdul
Muttalib, menimpa hati Aminah, karena ia kehilangan seorang suami yang selama
ini menjadi harapan kebahagiaan hidupnya. Peninggalan Abdullah sesudah wafat
terdiri dari 5 ekor unta, sekelompok ternak kambing dan seorang budak
perempuan, yaitu Umm Ayman – yang kemudian menjadi pengasuh Nabi. Boleh jadi
peninggalan serupa itu bukan berarti suatu tanda kekayaan, tapi tidak juga
merupakan suatu kemiskinan.
Aminah
melahirkan beberapa bulan kemudian. Selesai bersalin dikirimnya berita kepada
Abdul Muttalib di Ka’bah, bahwa ia melahirkan seorang anak laki-laki. Alangkah
gembiranya orang tua itu setelah menerima berita. Sekaligus ia teringat kepada
Abdullah anaknya. Gembira sekali hatinya karena ternyata pengganti anaknya
sudah ada. Cepat-cepat ia menemui menantunya itu, diangkatnya bayi itu lalu
dibawanya ke Ka’bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini tidak umum di kalangan
orang Arab tapi cukup dikenal.
Mengenai
tahun ketika Muhammad dilahirkan, beberapa ahli berlainan pendapat. Sebagian
besar mengatakan pada Tahun Gajah. Ibn Abbas mengatakan ia dilahirkan pada
Tahun Gajah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan tanggal
22 April 571 M. Ini adalah pendapat Ibn Ishaq dan yang lain. Pada hari ketujuh
kelahirannya itu Abdul-Muttalib minta disembelihkan unta. Hal ini kemudian
dilakukan dengan mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui
bahwa anak itu diberi nama Muhammad, mereka bertanya-tanya mengapa ia tidak
suka memakai nama nenek moyang. “Kuinginkan dia akan menjadi orang yang
Terpuji, bagi Tuhan di langit dan bagi makhluk-Nya di bumi,” jawab Abdul
Muttalib.
Masa
Kanak-Kanak Rasulullah SAW
Sudah menjadi kebiasaan bangsawan-bangsawan
Arab di Mekkah bahwa anak yang baru lahir disusukan kepadakepada salah seorang
Keluarga Sa’d. Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan itu Aminah
menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak perempuan pamannya, Abu Lahab.
Selama beberapa waktu ia disusukan, seperti Hamzah yang juga kemudian
disusukannya. Jadi mereka adalah saudara susuan. Thuwaiba hanya beberapa hari
saja menyusukan.
Akhirnya
datang juga wanita-wanita keluarga Sa’d yang akan menyusukan itu ke Mekah.
Mereka memang mencari bayi yang akan mereka susukan. Akan tetapi mereka
menghindari anak-anak yatim, karena mereka mengharapkan upah yang lebih. Sedang
dari anak-anak yatim sedikit sekali yang dapat mereka harapkan. Oleh karena itu
di antara mereka itu tak ada yang mau mendatangi Muhammad. Salah seorang dari
mereka, Halimah bint Abi-Dhua’ib, ternyata tidak mendapat bayi lain sebagai
gantinya. Setelah mereka akan meninggalkan Mekkah, Halimah memutuskan untuk
mengambil Muhammad. Dia bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa
mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunyapun bertambah. Tuhan
telah memberkati semua yang ada padanya. Selama dua tahun Muhammad tinggal di
sahara, disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh Syaima’, puterinya. Udara sahara
dan kehidupan pedalaman yang kasar menyebabkannya cepat sekali menjadi besar,
dan menambah indah bentuk dan pertumbuhan badannya.
Setelah
cukup dua tahun dan tiba masanya disapih, Halimah membawa anak itu kepada
ibunya dan sesudah itu membawanya kembali ke pedalaman. Hal ini dilakukan
karena kehendak ibunya, kata sebuah keterangan, dan keterangan lain mengatakan
karena kehendak Halimah sendiri. Ia dibawa kembali supaya lebih matang, juga
memang dikuatirkan dari adanya serangan wabah Mekkah. Dua tahun lagi anak itu
tinggal di sahara, menikmati udara pedalaman yang jernih dan bebas, tidak
terikat oleh sesuatu ikatan jiwa, juga tidak oleh ikatan materi.
Pada
masa itu, sebelum usianya mencapai tiga tahun, ketika itulah terjadi cerita
yang banyak dikisahkan orang. Yakni, bahwa sementara ia dengan saudaranya yang
sebaya sesama anak-anak itu sedang berada di belakang rumah di luar pengawasan
keluarganya, tiba-tiba anak yang dari Keluarga Sa’d itu kembali pulang sambil
berlari, dan berkata kepada ibu-bapanya: “Saudaraku yang dari Quraisy itu telah
diambil oleh dua orang laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan, perutnya
dibedah, sambil di balik-balikan.” Dan tentang Halimah ini ada juga
diceritakan, bahwa mengenai diri dan suaminya ia berkata: “Lalu saya pergi
dengan ayahnya ke tempat itu. Kami jumpai dia sedang berdiri. Mukanya
pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami tanyakan:
“Kenapa kau, nak?” Dia menjawab: “Aku didatangi oleh dua orang laki-laki
berpakaian putih. Aku di baringkan, lalu perutku di bedah. Mereka mencari
sesuatu di dalamnya. Tak tahu aku apa yang mereka cari.”
Keluarga
itu kemudian ketakutan, kalau-kalau terjadi sesuatu pada anak itu. Sesudah itu,
dibawanya anak itu kembali kepada ibunya di Mekkah. Atas peristiwa ini Ibn
Ishaq membawa sebuah Hadis Nabi sesudah kenabiannya. Dalam riwayat yang
diceritakan Ibn Ishaq, dikatakan bahwa sebab dikembalikannya kepada ibunya
bukan karena cerita adanya dua malaikat itu, melainkan ada beberapa orang
Nasrani Abisinia memperhatikan Muhammad dan menanyakan kepada Halimah tentang
anak itu. Dilihatnya belakang anak itu, lalu mereka berkata: “Biarlah kami bawa
anak ini kepada raja kami di negeri kami. Anak ini akan menjadi orang penting.
Kamilah yang mengetahui keadaannya.” Halimah lalu cepat-cepat menghindarkan
diri dari mereka dengan membawa anak itu.
Lima
tahun masa yang ditempuhnya itu telah memberikan kenangan yang indah sekali dan
kekal dalam jiwanya. Demikian juga Ibu Halimah dan keluarganya tempat dia
menumpahkan rasa kasih sayang dan hormat selama hidupnya itu. Penduduk daerah
itu pernah mengalami suatu masa paceklik sesudah perkawinan Muhammad dengan
Khadijah. Bilamana Halimah kemudian mengunjunginya, sepulangnya ia dibekali
dengan harta Khadijah berupa unta yang dimuati air dan empat puluh ekor kambing.
Dan setiap dia datang dibentangkannya pakaiannya yang paling berharga untuk
tempat duduk Ibu Halimah sebagai tanda penghormatan. Ketika Syaima, puterinya
berada di bawah tawanan bersama-sama pihak Hawazin setelah Ta’if dikepung,
kemudian dibawa kepada Muhammad, ia segera mengenalnya. Ia dihormati dan
dikembalikan kepada keluarganya sesuai dengan keinginan wanita itu.
Kemudian
Abdul Muttalib yang bertindak mengasuh cucunya itu. Ia memeliharanya
sungguh-sungguh dan mencurahkan segala kasih-sayangnya kepada cucu ini.
Biasanya buat orang tua itu – pemimpin seluruh Quraisy dan pemimpin Mekkah –
diletakkannya hamparan tempat dia duduk di bawah naungan Ka’bah, dan
anak-anaknya lalu duduk pula sekeliling hamparan itu sebagai penghormatan
kepada orang tua. Tetapi apabila Muhammad yang datang maka didudukkannya ia di
sampingnya diatas hamparan itu sambil ia mengelus-ngelus punggungnya. Melihat
betapa besarnya rasa cintanya itu paman-paman Muhammad tidak mau membiarkannya
di belakang dari tempat mereka duduk itu.
Wafatnya
Ibunda Siti Aminah
Ketika Nabi berusia 6 tahun, Aminah membawanya
ke Medinah untuk diperkenalkan kepada saudara-saudara kakeknya dari pihak
Keluarga Najjar. Dalam perjalanan itu dibawanya juga Umm Aiman, budak perempuan
yang ditinggalkan ayahnya dulu. Sesampai mereka di Medinah kepada anak itu
diperlihatkan rumah tempat ayahnya meninggal dulu serta tempat ia dikuburkan.
Itu adalah yang pertama kali ia merasakan sebagai anak yatim. Dan barangkali
juga ibunya pernah menceritakan dengan panjang lebar tentang ayah tercinta itu,
yang setelah beberapa waktu tinggal bersama-sama, kemudian meninggal dunia di
tengah-tengah pamannya dari pihak ibu.
Sesudah
cukup sebulan mereka tinggal di Medinah, Aminah bersama rombongan kembali
pulang dengan dua ekor unta yang membawa mereka dari Mekah. Tetapi di tengah
perjalanan, ketika mereka sampai di Abwa’,2 ibunda Aminah menderita sakit, yang
kemudian meninggal dan dikuburkan pula di tempat itu. Anak itu oleh Umm Aiman
dibawa pulang ke Mekah, pulang menangis dengan hati yang pilu, sebatang kara.
Ia makin merasa kehilangan; sudah ditakdirkan menjadi anak yatim. Terasa
olehnya hidup yang makin sunyi, makin sedih. Baru beberapa hari yang lalu ia
mendengar dari Ibunda keluhan duka kehilangan Ayahanda semasa ia masih dalam kandungan.
Kini ia melihat sendiri dihadapannya, ibu pergi untuk tidak kembali lagi,
seperti ayah dulu. Tubuh yang masih kecil itu kini dibiarkan memikul beban
hidup yang berat, sebagai yatim-piatu. Lebih-lebih lagi kecintaan Abdul
Muttalib kepadanya. Tetapi sungguhpun begitu, kenangan sedih sebagai anak
yatim-piatu itu bekasnya masih mendalam sekali dalam jiwanya sehingga di dalam
Qur’an pun disebutkan, ketika Allah mengingatkan Nabi akan nikmat yang
dianugerahkan kepadanya itu:
“Bukankah
engkau dalam keadaan yatim-piatu? Lalu diadakanNya orang yang akan
melindungimu? Dan menemukan kau kehilangan pedoman, lalu ditunjukkanNya jalan
itu?” (Qur’an, 93: 6-7)
Nabi
kemudian di bawah asuhan kakeknya, Abdul Muttalib. Tetapi orang tua itu juga
meninggal tak lama kemudian, dalam usia delapanpuluh tahun, sedang Muhammad
waktu itu baru berumur delapan tahun. Sekali lagi Muhammad dirundung kesedihan
karena kematian kakeknya itu, seperti yang sudah dialaminya ketika ibunya
meninggal. Begitu sedihnya dia, sehingga selalu ia menangis sambil mengantarkan
keranda jenazah sampai ketempat peraduan terakhir.
Bersama
Abu Thalib
Kemudian pengasuhan Muhammad di pegang oleh
Abu Talib, sekalipun dia bukan yang tertua di antara saudara-saudaranya.
Saudara tertua adalah Harith, tapi dia tidak seberapa mampu. Sebaliknya Abbas
yang mampu, tapi dia kikir sekali dengan hartanya. Oleh karena itu ia hanya
memegang urusan siqaya (pengairan) tanpa mengurus rifada (makanan). Sekalipun
dalam kemiskinannya itu, tapi Abu Talib mempunyai perasaan paling halus dan
terhormat di kalangan Quraisy. Dan tidak pula mengherankan kalau Abdul Muttalib
menyerahkan asuhan Muhammad kemudian kepada Abu Talib. Abu Talib mencintai
kemenakannya itu sama seperti Abdul Muttalib juga. Karena kecintaannya itu ia
mendahulukan kemenakan daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad
yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah yang lebih menarik hati
pamannya.
Perjalanan
Pertama ke Syam
Ketika usia Nabi baru duabelas tahun, ia turut
dalam rombongan kafilah dagang bersama Abu Talib ke negeri Syam. Diceritakan,
bahwa dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan rahib Bahira, dan bahwa rahib
itu telah melihat tanda-tanda kenabian padanya sesuai dengan petunjuk
cerita-cerita Kristen. Rahib itu menasehatkan keluarganya supaya jangan
terlampau dalam memasuki daerah Syam, sebab dikuatirkan orang-orang Yahudi yang
mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadap dia.
Dalam
perjalanan itulah, Nabiyullah mendapat pengalaman dan wawasan yang berguna.
Beliau dapat melihat luasnya padang pasir, menatap bintang-bintang yang
berkilauan di langit yang jernih cemerlang. Dilaluinya daerah-daerah Madyan,
Wadit’l-Qura serta peninggalan bangunan-bangunan Thamud. Didengarnya dsegala
cerita orang-orang Arab dan penduduk pedalaman tentang bangunan-bangunan itu,
tentang sejarahnya masa lampau. Dalam perjalanan ke daerah Syam ini ia berhenti
di kebun-kebun yang lebat dengan buab-buahan yang sudah masak, yang akan membuat
ia lupa akan kebun-kebun di Ta’if serta segala cerita orang tentang itu.
Taman-taman yang dilihatnya dibandingkannya dengan dataran pasir yang gersang
dan gunung-gunung tandus di sekeliling Mekah itu. Di Syam Muhammad mengetahui
berita-berita tentang Kerajaan Rumawi dan agama Kristennya, didengarnya berita
tentang Kitab Suci mereka serta oposisi Persia dari penyembah api terhadap
mereka dan persiapannya menghadapi perang dengan Persia. Sekalipun usianya baru
dua belas tahun, tapi dia sudah mempunyai persiapan kebesaran jiwa, kecerdasan
otak, tinjauan yang begitu dalam, ingatan yang cukup kuat, serta segala
sifat-sifat semacam itu yang diberikan Allah kepadanya sebagai suatu persiapan
akan menerima risalah (misi) maha besar yang sedang menantinya. Ia melihat ke
sekeliling, dengan sikap menyelidiki, meneliti. Ia tidak puas terhadap segala
yang didengar dan dilihatnya. Ia bertanya kepada diri sendiri: Di manakah
kebenaran dari semua itu?
Masa
Remaja Rasulullah SAW
Muhammad
yang tinggal dengan pamannya, menerima apa adanya. Ia melakukan pekerjaan yang
biasa dikerjakan oleh mereka yang seusia dia. Bila tiba bulan-bulan suci,
kadang ia tinggal di Mekah dengan keluarga, kadang pergi bersama mereka ke
pekan-pekan yang berdekatan dengan ‘Ukaz, Majanna dan Dhu’l-Majaz, mendengarkan
sajak-sajak yang dibawakan oleh penyair-penyair Mudhahhabat dan Mu’allaqat,
yang melukiskan lagu cinta dan puisi-puisi kebanggaan, melukiskan nenek moyang
mereka, peperangan mereka, kemurahan hati dan jasa-jasa mereka. Didengarnya ahli-ahli
pidato di antaranya orang-orang Yahudi dan Nasrani yang membenci paganisma
Arab. Mereka bicara tentang Kitab-kitab Suci Isa dan Musa, dan mengajak kepada
kebenaran menurut keyakinan mereka. Dinilainya semua itu dengan hati nuraninya,
dilihatnya ini lebih baik daripada paganisma yang telah menghanyutkan
keluarganya itu. Tetapi tidak sepenuhnya ia merasa lega.
Dengan
demikian sejak muda-belia takdir telah mengantarkannya ke jurusan yang akan
membawanya ke suatu saat bersejarah, saat mula pertama datangnya wahyu, tatkala
Tuhan memerintahkan ia menyampaikan risalah-Nya itu. Yakni risalah kebenaran
dan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Kalau Muhammad sudah mengenal
seluk-beluk jalan padang pasir dengan pamannya Abu Talib, sudah mendengar para
penyair, ahli-ahli pidato membacakan sajak-sajak dan pidato-pidato dengan
keluarganya dulu di pekan sekitar Mekah selama bulan-bulan suci, maka ia juga
telah mengenal arti memanggul senjata, ketika ia mendampingi paman-pamannya
dalam Perang Fijar.
Perang
Fijar
Perang Fijar bermula dari peristiwa pembunuhan
yang dilakukan oleh Barradz bin Qais dari kabilah Kinana kepada ‘Urwa ar-Rahhal
bin ‘Utba dari kabilah Hawazin pada bulan suci yang sebenarnya dilarang untuk
berperang. Seorang pedagang, Nu’man bin’l-Mundhir, setiap tahun mengirimkan
sebuah kafilah dari Hira ke ‘Ukaz, tidak jauh dari ‘Arafat. Barradz
menginginkan membawa kafilah itu ke bawah pengawasan kabilah Kinana. Demikian
juga ‘Urwa menginginkan mengiringi kafilah itu. Nu’man memilih ‘Urwa (Hawazin),
dan hal ini menimbulkan kejengkelan Barradz (Kinana). Ia kemudian mengikutinya
dari belakang, lalu membunuhnya dan mengambil kabilah itu. Maka terjadilah
perang antara mereka itu. Perang ini hanya beberapa hari saja setiap tahun,
tetapi berlangsung selama empat tahun terus-menerus dan berakhir dengan suatu
perdamaian model pedalaman, yaitu yang menderita korban manusia lebih kecil
harus membayar ganti sebanyak jumlah kelebihan korban itu kepada pihak lain.
Maka dengan demikian Quraisy telah membayar kompensasi sebanyak duapuluh orang
Hawazin. Perang fijar ini terjadi ketika Nabi berusia antara limabelas tahun
sampai duapuluh tahun.
Beberapa
tahun sesudah kenabiannya Rasulullah menyebutkan tentang Perang Fijar itu
dengan berkata: “Aku mengikutinya bersama dengan paman-pamanku, juga ikut
melemparkan panah dalam perang itu; sebab aku tidak suka kalau tidak juga aku
ikut melaksanakan.”
Perang
Fijar itu berlangsung hanya beberapa hari saja tiap tahun. Sedang selebihnya
masyarakat Arab kembali ke pekerjaannya masing-masing. Pahit-getirnya
peperangan yang tergores dalam hati mereka tidak akan menghalangi mereka dari
kegiatan perdagangan, menjalankan riba, minum minuman keras serta pelbagai
macam kesenangan dan hiburan sepuas-puasnya
Akan
tetapi Nabi telah menjauhi semua itu, dan sejarah cukup menjadi saksi. Yang
terang ia menjauhi itu bukan karena tidak mampu mencapainya. Mereka yang
tinggal di pinggiran Mekah, yang tidak mempunyai mata pencarian, hidup dalam
kemiskinan dan kekurangan, ikut hanyut juga dalam hiburan itu. Jiwa besarnya
yang selalu mendambakan kesempurnaan, itu lah yang menyebabkan dia menjauhi
foya-foya, yang biasa menjadi sasaran utama pemduduk Mekah. Ia mendambakan
cahaya hidup yang akan lahir dalam segala manifestasi kehidupan, dan yang akan
dicapainya hanya dengan dasar kebenaran. Kenyataan ini dibuktikan oleh julukan
yang diberikan orang kepadanya dan bawaan yang ada dalam dirinya. Itu sebabnya,
sejak masa ia kanak-kanak gejala kesempurnaan, kedewasaan dan kejujuran hati
sudah tampak, sehingga penduduk Mekah semua memanggilnya Al-Amin (artinya ‘yang
dapat dipercaya’).
Yang
menyebabkan dia lebih banyak merenung dan berpikir, ialah pekerjaannya
menggembalakan kambing sejak dalam masa mudanya itu. Dia menggembalakan kambing
keluarganya dan kambing penduduk Mekah. Dengan rasa gembira ia menyebutkan
saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala itu. Di antaranya ia berkata:
“Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing.” Dan katanya
lagi: “Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku
diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad.” Gembala kambing
yang berhati terang itu, dalam udara yang bebas lepas di siang hari, dalam
kemilau bintang bila malam sudah bertahta, menemukan suatu tempat yang serasi
untuk pemikiran dan permenungannya.
Pemikiran
dan permenungan demikian membuat ia jauh dari segala pemikiran nafsu manusia
duniawi. Ia berada lebih tinggi dari itu sehingga adanya hidup palsu yang
sia-sia akan tampak jelas di hadapannya. Oleh karena itu, dalam perbuatan dan
tingkah-lakunya Muhammad terhindar dari segala penodaan nama yang sudah
diberikan kepadanya oleh penduduk Mekah, dan memang begitu adanya: Al-Amin.
Pada suatu hari ia ingin bermain-main seperti pemuda-pemuda lain. Hal ini
dikatakannya kepada kawannya pada suatu senja, bahwa ia ingin turun ke Mekah,
bermain-main seperti para pemuda di gelap malam, dan dimintanya kawannya
menjagakan kambing ternaknya itu. Tetapi Allah SWT selalu melindunginya,
sesampainya di ujung Mekah, perhatiannya tertarik pada suatu pesta perkawinan
dan dia hadir di tempat itu. Tetapi tiba-tiba ia tertidur. Pada malam
berikutnya datang lagi ia ke Mekkah, dengan maksud yang sama. Terdengar olehnya
irama musik yang indah, seolah turun dari langit. Ia duduk mendengarkan. Lalu
tertidur lagi sampai pagi.
Kenikmatan
yang dirasakan Muhammad sejak masa pertumbuhannya yang mula-mula yang telah
diperlihatkan dunia sejak masa mudanya adalah kenangan yang selalu hidup dalam
jiwanya, yang mengajak orang hidup tidak hanya mementingkan dunia. Ini dimulai
sejak kematian ayahnya ketika ia masih dalam kandungan, kemudian kematian
ibunya, kemudian kematian kakeknya. Kenikmatan demikian ini tidak memerlukan
harta kekayaan yang besar, tetapi memerlukan suatu kekayaan jiwa yang kuat.
sehingga orang dapat mengetahui: bagaimana ia memelihara diri dan
menyesuaikannya dengan kehidupan batin.
Pernikahan
dengan Siti Khadijah ra.
Ketika Nabi itu berumur duapuluh lima tahun.
Abu Talib mendengar bahwa Khadijah sedang menyiapkan perdagangan yang akan
dibawa dengan kafilah ke Syam. Abu Talib lalu menghubungi Khadijah untuk
mengupah Muhammad untuk menjalankan perdagangannya. Khadijah setuju dengan upah
empat ekor unta. Setelah mendapat nasehat paman-pamannya Muhammad pergi dengan
Maisara, budak Khadijah. Dengan mengambil jalan padang pasir kafilah itupun
berangkat menuju Syam, dengan melalui Wadi’l-Qura, Madyan dan Diar Thamud serta
daerah-daerah yang dulu pernah dilalui Muhammad dengan pamannya Abu Talib.
Dengan
kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad mampu benar memperdagangkan
barang-barang Khadijah, dengan cara perdagangan yang lebih banyak menguntungkan
daripada yang dilakukan orang lain sebelumnya. Demikian juga dengan karakter
yang manis dan perasaannya yang luhur ia dapat menarik kecintaan dan
penghormatan Maisara kepadanya. Setelah tiba waktunya mereka akan kembali,
mereka membeli segala barang dagangan dari Syam yang kira-kira akan disukai
oleh Khadijah. Setelah kembali di Mekkah, Muhammad bercerita dengan bahasa yang
begitu fasih tentang perjalanannya serta laba yang diperolehnya, demikian juga
mengenai barang-barang Syam yang dibawanya. Khadijah gembira dan tertarik
sekali mendengarkan. sesudah itu, Maisara bercerita juga tentang Muhammad,
betapa halusnya wataknya, betapa tingginya budi-pekertinya. Hal ini menambah
pengetahuan Khadijah di samping yang sudah diketahuinya sebagai pemuda Mekkah
yang besar jasanya.
Dalam
waktu singkat saja kegembiraan Khadijah ini telah berubah menjadi rasa cinta,
sehingga dia – yang sudah berusia empatpuluh tahun, dan yang sebelum itu telah
menolak lamaran pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar Quraisy – tertarik juga
hatinya mengawini pemuda ini, yang tutur kata dan pandangan matanya telah
menembusi kalbunya. Pernah ia membicarakan hal itu kepada saudaranya yang
perempuan – kata sebuah sumber, atau dengan sahabatnya, Nufaisa bint Mun-ya –
kata sumber lain. Nufaisa pergi menjajagi Muhammad seraya berkata: “Kenapa kau
tidak mau kawin?” “Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan,” jawab
Muhammad. “Kalau itu disediakan dan yang melamarmu itu cantik, berharta,
terhormat dan memenuhi syarat, tidakkah akan kauterima?” “Siapa itu?” Nufaisa
menjawab hanya dengan sepatah kata: “Khadijah.” “Dengan cara bagaimana?” tanya
Muhammad. Sebenarnya ia sendiri berkenan kepada Khadijah sekalipun hati
kecilnya belum lagi memikirkan soal perkawinan, mengingat Khadijah sudah
menolak permintaan hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy. Setelah
atas pertanyaan itu Nufaisa mengatakan: “Serahkan hal itu kepadaku,” maka iapun
menyatakan persetujuannya.
Tak
lama kemudian Khadijah menentukan waktunya yang kelak akan dihadiri oleh
paman-paman Muhammad supaya dapat bertemu dengan keluarga Khadijah guna
menentukan hari perkawinan. Kemudian perkawinan itu berlangsung dengan diwakili
oleh paman Khadijah, Umar bin Asad, sebab Khuwailid ayahnya sudah meninggal
sebelum Perang Fijar. Di sinilah dimulainya lembaran baru dalam kehidupan
Muhammad. Dimulainya kehidupan itu sebagai suami-isteri dan ibu-bapa,
suami-isteri yang harmonis dan sedap dari kedua belah pihak, dan sebagai ibu-bapak
yang telah merasakan pedihnya kehilangan anak sebagaimana pernah dialami
Muhammad yang telah kehilangan ibu-bapak semasa ia masih kecil.
Rumah
Tangga Rasulullah SAW
Dengan
20 ekor unta muda sebagai mas kawin Muhammad melangsungkan perkawinannya itu dengan
Khadijah. Ia pindah ke rumah Khadijah dalam memulai hidup barunya itu, hidup
suami-isteri dan ibu-bapa, saling mencintai cinta sebagai pemuda berumur
duapuluh lima tahun. Ia tidak mengenal nafsu muda yang tak terkendalikan, juga
ia tidak mengenal cinta buta yang dimulai seolah nyala api yang melonjak-lonjak
untuk kemudian padam kembali. Dari perkawinannya itu ia beroleh beberapa orang
anak, laki-laki dan perempuan. Kematian kedua anaknya, al-Qasim dan Abdullah
at-Tahir at-Tayyib telah menimbulkan rasa duka yang dalam sekali. Anak-anak
yang masih hidup semua perempuan. Alangkah besarnya pengaruh yang terjalin
dalam hidup kasih-sayang antara dia dengan Khadijah sebagai isteri yang sungguh
setia itu. Pergaulan Muhammad dengan penduduk Mekah tidak terputus, juga
partisipasinya dalam kehidupan masyarakat hari-hari.
Selama
itu Muhammad tetap bergaul dengan penduduk Mekkah dalam kehidupan masyarakat
sehari-hari. Ia menemukan dalam diri Khadijah teladan wanita terbaik; wanita
yang subur dan penuh kasih, menyerahkan seluruh dirinya kepadanya, dan telah
melahirkan anak-anak laki-laki: al-Qasim dan Abdullah yang dijuluki at-Tahir
dan at-Tayyib, serta puteri-puteri: Zainab, Ruqayya, Umm Kulthum dan Fatimah.
Tentang al-Qasim dan Abdullah tidak banyak yang diketahui, kecuali disebutkan
bahwa mereka mati kecil pada zaman Jahiliah dan tak ada meninggalkan sesuatu
yang patut dicatat. Tetapi yang pasti kematian itu meninggalkan bekas yang
dalam pada orangtua mereka. Demikian juga pada diri Khadijah terasa sangat
memedihkan hatinya.
Kepada
anak-anaknya yang perempuan juga Muhammad memberikan perhatian. Setelah dewasa,
Zainab yang sulung dikawinkan dengan Abu’l-’Ash bin’r-Rabi’ b.’Abd Syams –
ibunya masih bersaudara dengan Khadijah – seorang pemuda yang dihargai
masyarakat karena kejujuran dan suksesnya dalam dunia perdagangan. Perkawinan
ini serasi juga, sekalipun kemudian sesudah datangnya Islam – ketika Zainab
akan hijrah dan Mekkah ke Medinah – mereka terpisah. Ruqayya dan Umm Kulthum
dikawinkan dengan ‘Utba dan ‘Utaiba anak-anak Abu Lahab, pamannya. Kedua isteri
ini sesudah Islam terpisah dari suami mereka, karena Abu Lahab menyuruh kedua
anaknya itu menceraikan isteri mereka, yang kemudian berturut-turut menjadi
isteri Usman. Ketika itu Fatimah masih kecil dan perkawinannya dengan Ali baru
sesudah datangnya Islam.
Pembangunan
Ka’bah
Ketika Muhammad Saw
berusia 35 tahun menurut catatan Ibn Ishaq, pada waktu itu masyarakat sedang
sibuk karena bencana banjir besar yang turun dari gunung, pernah menimpa dan
meretakkan dinding-dinding Ka’bah yang memang sudah rapuk. Penduduk Mekkah
kemudian membangun Ka’bah kembali. Sudut-sudut Ka’bah itu oleh Quraisy dibagi
empat bagian tiap kabilah mendapat satu sudut yang harus dirombak dan dibangun
kembali. Mereka ramai-ramai merombaknya dan memindahkan batu-batu yang ada. Dan
Muhammad ikut pula membawa batu itu. Setelah mereka berusaha membongkar batu
hijau yang terdapat di situ dengan pacul tidak berhasil, dibiarkannya batu itu
sebagai fondasi bangunan. Dan gunung-gunung sekitar tempat itu sekarang
orang-orang Quraisy mulai mengangkuti batu-batu granit berwarna biru, dan
pembangunanpun segera dimulai. Sesudah bangunan itu setinggi orang berdiri dan
tiba saatnya meletakkan Hajar Aswad yang disucikan di tempatnya semula di sudut
timur, maka timbullah perselisihan di kalangan Quraisy, siapa yang seharusnya
mendapat kehormatan meletakkan batu itu di tempatnya.
Demikian
memuncaknya perselisihan itu sehingga hampir saja timbul perang saudara
karenanya. Keadaan mereda setelah Abu Umayya bin’l-Mughira dari Banu Makhzum,
orang yang tertua di antara mereka, dihormati dan dipatuhi, berkata kepada
mereka: “Serahkanlah putusan kamu ini di tangan orang yang pertama sekali
memasuki pintu Shafa ini.” Tatkala mereka melihat Muhammad adalah orang pertama
memasuki tempat itu, mereka berseru: “Ini al-Amin; kami dapat menerima
keputusannya.” Lalu mereka menceritakan peristiwa itu kepadanya. Iapun
mendengarkan dan sudah melihat di mata mereka betapa berkobarnya api permusuhan
itu. Ia berpikir sebentar, lalu katanya: “Kemarikan sehelai kain,” katanya.
Setelah kain dibawakan dihamparkannya dan diambilnya batu itu lalu
diletakkannya dengan tangannya sendiri, kemudian katanya; “Hendaknya setiap
ketua kabilah memegang ujung kain ini.” Mereka bersama-sama membawa kain tersebut
ke tempat batu itu akan diletakkan. Lalu Muhammad mengeluarkan batu itu dari
kain dan meletakkannya di tempatnya. Dengan demikian perselisihan itu berakhir
dan bencana dapat dihindarkan.
Ka’bah
dibangun sampai setinggi 18 hasta (± 11 meter), dan ditinggikan dari tanah
sedemikian rupa, sehingga mereka dapat menyuruh atau melarang orang masuk. Di
dalam itu mereka membuat enam batang tiang dalam dua deretan dan di sudut barat
sebelah dalam dipasang sebuah tangga naik sampai ke teras di atas lalu meletakkan
Hubal (berhala mereka) di dalam Ka’bah. Juga di tempat itu diletakkan
barang-barang berharga lainnya, yang sebelum dibangun dan diberi beratap
menjadi sasaran pencurian.
Wahyu
Pertama
Sudah
menjadi kebiasaan orang-orang Arab masa itu bahwa golongan berpikir mereka
selama beberapa waktu tiap tahun menjauhkan diri dari keramaian orang,
berkhalwat dan mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka dengan bertapa dan
berdoa, mengharapkan diberi rejeki dan pengetahuan. Pengasingan untuk beribadat
semacam ini mereka namakan tahannuf dan tahannuth. Demikian juga halnya dengan
Muhammad Saw. Ia mengasingkan diri guna mendalami pikiran dan renungan yang
berkecamuk dalam dirinya. Ia mendapatkan ketenangan dalam din-nya serta obat
penawar hasrat hati yang ingin menyendiri, ingin mencari jalan memenuhi
kerinduannya yang selalu makin besar, ingin mencapai ma’rifat serta mengetahui
rahasia alam semesta. Di puncak Gunung Hira, – sebelah utara Mekah -terletak
sebuah gua yang baik sekali buat tempat menyendiri dan tahannuth. Sepanjang
bulan Ramadan tiap tahun ia pergi ke sana dan berdiam di tempat itu, cukup
hanya dengan bekal sedikit yang dibawanya. Ia tekun dalam renungan dan ibadat,
jauh dari segala kesibukan hidup dan keributan manusia.
Bilamana
bulan Ramadan sudah berlalu dan ia kembali kepada Khadijah, pengaruh pikiran
yang masih membekas padanya membuat Khadijah menanyakannya selalu, karena
diapun ingin lega hatinya bila sudah diketahuinya ia dalam keadaan baik-baik
saja. Bila telah tiba pula bulan Ramadan tahun berikutnya, ia pergi ke Hira’,
sehingga sedikit demi sedikit ia bertambah matang, jiwanyapun semakin penuh.
Ketika
Nabiyullah Saw berusia empat puluh tahun, tatkala ia berada dalam gua itu,
datang malaikat membawa sehelai lembaran seraya berkata kepadanya: “Bacalah!”
Dengan terkejut Muhammad menjawab: “Saya tak dapat membaca”. Ia merasa seolah
malaikat itu mencekiknya, kemudian dilepaskan lagi seraya katanya lagi:
“Bacalah!” Masih dalam ketakutan akan dicekik lagi Muhammad menjawab: “Apa yang
akan saya baca.” Seterusnya malaikat itu berkata:
“Bacalah!
Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan
kepada manusia apa yang belum diketahuinya …” (Qur’an 96:1-5)
Lalu
ia mengucapkan bacaan itu. Malaikatpun pergi, setelah kata-kata itu terpateri
dalam kalbunya. Nabi Saw sendiri kemudian ketakutan, sambil bertanya-tanya
kepada dirinya: Gerangan apakah yang dilihatnya?! Ataukah kesurupan yang
ditakutinya itu kini telah menimpanya?! Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi
tak melihat apa-apa.
Khawatir
akan apa yang terjadi dalam gua itu, ia lari dari tempat itu. Semuanya serba
membingungkan. Tak dapat ia menafsirkan apa yang telah dilihatnya itu.
Cepat-cepat ia pergi menyusuri celah-celah gunung, sambil bertanya-tanya dalam
hatinya: siapa gerangan yang menyuruhnya membaca itu?! Ia memasuki pegunungan
itu masih dalam ketakutan, masih bertanya-tanya. Tiba-tiba ia mendengar ada
suara memanggilnya. Dahsyat sekali terasa. Ia melihat ke permukaan langit.
Tiba-tiba yang terlihat adalah malaikat dalam bentuk manusia. Dialah yang
memanggilnya. Ia makin ketakutan sehingga tertegun ia di tempatnya. Ia
memalingkan muka dari yang dilihatnya itu. Tetapi dia masih juga melihatnya di
seluruh ufuk langit. Sebentar melangkah maju ia, sebentar mundur, tapi rupa
malaikat yang sangat indah itu tidak juga lalu dari depannya. Seketika lamanya
ia dalam keadaan demikian.
Setelah
rupa malaikat itu menghilang Muhammad pulang sudah berisi wahyu yang
disampaikan kepadanya. Jantungnya berdenyut, hatinya berdebar-debar ketakutan.
Sesampainya di rumah, dijumpainya Khadijah sambil ia berkata: “Selimuti aku!”
Ia segera diselimuti. Tubuhnya menggigil seperti dalam demam. Setelah rasa
ketakutan itu berangsur reda dipandangnya isterinya dengan pandangan mata ingin
mendapat kekuatan. “Khadijah, kenapa aku?” katanya. Kemudian diceritakannya apa
yang telah dilihatnya, dan dinyatakannya rasa kekuatirannya akan teperdaya oleh
kata hatinya atau akan jadi seperti juru nujum saja. Khadijah yang penuh rasa
kasih-sayang, adalah tempat ia melimpahkan rasa damai dan tenteram kedalam hati
yang besar itu, hati yang sedang dalam kekuatiran dan dalam gelisah. Khadijah
berusaha untuk membesarkan menghibur hati Muhammad Saw hingga ia merasa tenang
kembali.
Pemeluk-Pemeluk
Islam Pertama
Khadijah
ra kemudian ia pergi menjumpai saudara sepupunya (anak paman), Waraqa b.
Naufal, seorang penganut agama Nasrani yang sudah mengenal Bible dan sudah pula
menterjemahkannya sebagian ke dalam bahasa Arab. Ia menceritakan apa yang
pernah dilihat dan didengar Muhammad dan menceritakan pula apa yang dikatakan
Muhammad kepadanya. Waraqa memastikan bahwa Muhammad Saw adalah Nabi umat ini.
Setelah mendapat keterangan demikian, Khadijah pulang.
Sampai
di rumah, dilihatnya Muhammad masih tidur. Dipandangnya suaminya itu dengan
rasa kasih dan penuh ikhlas, bercampur harap dan cemas. Tiba-tiba Rasulullah
Saw menggigil, napasnya terasa sesak dengan keringat yang sudah membasahi
wajahnya. Ia terbangun, ketika itu malaikat datang membawakan wahyu kepadanya:
“Orang
yang berselimut! Bangunlah dan sampaikan peringatan. Dan agungkan Tuhanmu.
Pakaianmupun bersihkan. Dan hindarkan perbuatan dosa. Jangan kau memberi,
karena ingin menerima lebih banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkan hatimu.” (Qur’an
74: 17)
Khadijah
menenteramkan hatinya, dan menceritakan apa yang didengarnya dari Waraqa tadi.
Khadijah kemudian menyatakan dirinya beriman atas kenabiannya itu. Sesudah
peristiwa itu, pada suatu hari Muhammad pergi akan mengelilingi Ka’bah. Di
tempat itu Waraqa b. Naufal menjumpainya. Sesudah Muhammad menceritakan
keadaannya, Waraqa berkata: “Demi Dia Yang memegang hidup Waraqa. Engkau adalah
Nabi atas umat ini. Engkau telah menerima Namus Besar seperti yang pemah
disampaikan kepada Musa. Pastilah kau akan didustakan orang, akan disiksa, akan
diusir dan akan diperangi. Kalau sampai pada waktu itu aku masih hidup, pasti
aku akan membela yang di pihak Allah dengan pembelaan yang sudah diketahuiNya
pula.”
Rasulullah
Saw memikirkan, bagaimana akan mengajak Quraisy supaya turut beriman; padahal
ia tahu benar mereka sangat kuat mempertahankan kebatilan itu. Mereka bersedia
berperang dan mati untuk itu. Ditambah lagi mereka masih sekeluarga dan sanak
famili yang dekat. Sungguhpun begitu, tetapi mereka dalam kesesatan.
Ia
menantikan bimbingan wahyu dalam menghadapi masalahnya itu, menantikan adanya
penyuluh yang akan menerangi jalannya. Tetapi ternyata, wahyu itu tidak turun.
Malaikat Jibrilpun tidak datang lagi kepadanya. Kembali ia merasa dalam
ketakutan seperti sebelum turunnya wahyu. Ia masih dalam ketakutan. Perasaan
ini juga yang mendorongnya lagi akan pergi ke bukit-bukit dan menyendiri lagi
dalam gua Hira’. Ia ingin membubung tinggi dengan seluruh jiwanya, menghadapkan
diri kepada Tuhan, akan menanyakan: Kenapa ia lalu ditinggalkan sesudah
dipilihNya? Sementara ia sedang dalam kekuatiran demikian itu – sesudah sekian
lama terhenti – tiba-tiba datang wahyu membawa firman Tuhan:
“Demi
pagi cerah yang gemilang. Dan demi malam bila senyap kelam. Tuhanmu tidak
meninggalkan kau, juga tidak merasa benci. Dan sungguh, hari kemudian itu lebih
baik buat kau daripada yang sekarang. Dan akan segera ada pemberian dari Tuhan
kepadamu. Maka engkaupun akan bersenang hati. Bukankah Ia mendapati kau seorang
piatu, lalu diberiNya tempat berlindung? Dan Ia mendapati kau tak tahu jalan,
lalu diberiNya kau petunjuk? Karena itu, terhadap anak piatu, jangan kau
bersikap bengis. Dan tentang orang yang meminta, jangan kau tolak. Dan tentang
kurnia Tuhanmu, hendaklah kau sebarkan.”(Qur’an, 93: 1-11)
Rasa
cemas dan takut dalam diri Muhammad Saw hilang setelah wahyu turun kembali.
Ketika Allah Swt telah mengajarkan Nabi bersembahyang, maka iapun
bersembahyang, begitu juga Khadijah ikut pula sembahyang. Selain
puteri-puterinya, tinggal bersama keluarga itu Ali bin Abi Talib sebagai anak
muda yang belum balig. Lalu Rasulullah Saw mengajak sepupunya itu
beribadat kepada Allah semata tiada bersekutu serta menerima agama yang dibawa
nabi utusan-Nya.
Ali
adalah anak pertama yang menerima Islam. Kemudian Zaid b. Haritha, bekas budak
Nabi. Dengan demikian Islam masih terbatas hanya dalam lingkungan keluarga
Muhammad: dia sendiri, isterinya, kemenakannya dan bekas budaknya. Masih juga
ia berpikir-pikir, bagaimana akan mengajak kaum Quraisy itu. Tahu benar ia,
betapa kerasnya mereka itu dan betapa pula kuatnya mereka berpegang pada
berhala yang disembah-sembah nenek moyang mereka itu. Pada waktu itu Abu Bakr
b. Abi Quhafa dari kabilah Taim, teman akrab Muhammad, adalah orang dewasa
pertama yang diajaknya menyembah Allah Yang Esa dan meninggalkan penyembahan
berhala. Abu Bakr tidak ragu-ragu lagi memenuhi ajakan Muhammad dan beriman
pula akan ajakannya itu.
Keimanannya
kepada Allah dan kepada Rasul-Nya itu segera diumumkan oleh Abu Bakr di
kalangan teman-temannya. Dari kalangan masyarakatnya yang dipercayai oleh Abu
Bakr diajaknya mereka kepada Islam. Usman b. ‘Affan, Abdurrahman b. ‘Auf, Talha
b. ‘Ubaidillah, Sa’d b. Abi Waqqash dan Zubair bin’l-’Awwam mengikutinya pula
menganut Islam. Kemudian menyusul pula Abu ‘Ubaida bin’l-Djarrah, dan banyak
lagi yang lain dari penduduk Mekah. Mereka yang sudah Islam itu lalu datang
kepada Nabi menyatakan Islamnya, yang selanjutnya menerima ajaran-ajaran agama
itu dari Nabi sendiri.
Mengetahui
adanya permusuhan yang begitu bengis dari pihak Quraisy terhadap segala sesuatu
yang melanggar paganisma, maka kaum Muslimin yang mula-mula masih
sembunyi-sembunyi. Apabila mereka akan melakukan salat, mereka pergi ke
celah-celah gunung di Mekah. Keadaan serupa ini berjalan selama tiga tahun,
sementara Islam tambah meluas juga di kalangan penduduk Mekah. Ajaran Muhammad
sudah tersebar di Mekah, orang sudah berbondong-bondong memasuki Islam, pria
dan wanita.
Dakwah
Secara Terang-Terangan
Tiga tahun kemudian sesudah kerasulannya,
perintah Allah datang supaya ia mengumumkan ajaran yang masih disembunyikan
itu, perintah Allah supaya disampaikan. Ketika itu wahyu datang:
“Dan
berilah peringatan kepada keluarga-keluargamu yang dekat. Limpahkanlah
kasih-sayang kepada orang-orang beriman yang mengikut kau. Kalaupun mereka
tidak mau juga mengikuti kau, katakanlah, ‘Aku lepas tangan dari segala
perbuatan kamu.’” (Qur’an 26: 214-216) “Sampaikanlah apa yang sudah
diperintahkan kepadamu, dan tidak usah kauhiraukan orang-orang musyrik
itu.”(Qur’an 15: 94)
Muhammad
pun mengundang makan keluarga-keluarga itu ke rumahnya, dicobanya bicara dengan
mereka dan mengajak mereka kepada Allah. Tetapi Abu Talib, pamannya, lalu
menyetop pembicaraan itu. Ia mengajak orang-orang pergi meninggalkan tempat.
Keesokan harinya sekali lagi Muhammad mengundang mereka. Selesai makan, katanya
kepada mereka: “Saya tidak melihat ada seorang manusia di kalangan Arab ini
dapat membawakan sesuatu ke tengah-tengah mereka lebih baik dari yang saya
bawakan kepada kamu sekalian ini. Kubawakan kepada kamu dunia dan akhirat yang
terbaik. Tuhan telah menyuruh aku mengajak kamu sekalian. Siapa di antara kamu
ini yang mau mendukungku dalam hal ini?” Mereka semua menolak, dan sudah
bersiap-siap akan meninggalkannya. Tetapi tiba-tiba Ali bangkit – ketika itu ia
masih anak-anak, belum lagi balig. “Rasulullah, saya akan membantumu,” katanya.
“Saya adalah lawan siapa saja yang kautentang.” Banu Hasyim tersenyum, dan ada
pula yang tertawa terbahak-bahak. Kemudian mereka semua pergi meninggalkannya
dengan ejekan.
Sesudah
itu Muhammad kemudian mengalihkan seruannya dari keluarga-keluarganya yang
dekat kepada seluruh penduduk Mekah. Suatu hari ia naik ke Shafa2 dengan
berseru: “Hai masyarakat Quraisy.” Tetapi orang Quraisy itu lalu membalas:
“Muhammad bicara dari atas Shafa.” Mereka lalu datang berduyun-duyun sambil
bertanya-tanya, “Ada apa?” “Bagaimana pendapatmu sekalian kalau kuberitahukan
kamu, bahwa pada permukaan bukit ini ada pasukan berkuda. Percayakah kamu?”
“Ya,” jawab mereka. “Engkau tidak pernah disangsikan. Belum pernah kami melihat
engkau berdusta.” “Aku mengingatkan kamu sekalian, sebelum menghadapi siksa
yang sungguh berat,” katanya, “Banu Abd’l-Muttalib, Banu Abd Manaf, Banu Zuhra,
Banu Taim, Banu Makhzum dan Banu Asad Allah memerintahkan aku memberi
peringatan kepada keluarga-keluargaku terdekat. Baik untuk kehidupan dunia atau
akhirat. Tak ada sesuatu bahagian atau keuntungan yang dapat kuberikan kepada
kamu, selain kamu ucapkan: Tak ada tuhan selain Allah.” Tetapi kemudian
Abu Lahab berdiri sambil meneriakkan: “Celaka kau hari ini. Untuk ini kau
kumpulkan kami?” Muhammad tak dapat bicara. Dilihatnya pamannya itu. Tetapi
kemudian sesudah itu datang wahyu membawa firman Tuhan: “
Celakalah
kedua tangan Abu Lahab, dan celakalah ia. Tak ada gunanya kekayaan dan usahanya
itu. Api yang menjilat-jilat akan menggulungnya” (Qur’an 102:1-8)
Kemarahan
Abu Lahab dan sikap permusuhan kalangan Quraisy yang lain tidak dapat merintangi
tersebarnya dakwah Islam di kalangan penduduk Mekah itu. Setiap hari niscaya
akan ada saja orang yang Islam – menyerahkan diri kepada Allah. Lebih-lebih
mereka yang tidak terpesona oleh pengaruh dunia perdagangan untuk sekedar
melepaskan renungan akan apa yang telah diserukan kepada mereka. Akan tetapi
bagi Abu Lahab, Abu Sufyan dan bangsawan-bangsawan Quraisy terkemuka lainnya,
hartawan-hartawan yang gemar bersenang-senang, mulai merasakan, bahwa ajaran
Muhammad itu merupakan bahaya besar bagi kedudukan mereka. Jadi yang mula-mula
harus mereka lakukan ialah menyerangnya dengan cara mendiskreditkannya, dan
mendustakan segala apa yang dinamakannya kenabian itu.
Langkah
pertama yang mereka lakukan dalam hal ini ialah membujuk penyair-penyair
mereka: Abu Sufyan bin’l-Harith, ‘Amr bin’l-’Ash dan Abdullah ibn’z-Ziba’ra,
supaya mengejek dan menyerangnya. Dalam pada itu penyair-penyair Muslimin juga
tampil membalas serangan mereka tanpa Muhammad sendiri yang harus melayani.
Sementara
itu, selain penyair-penyair itu beberapa orang tampil pula meminta kepada
Muhammad beberapa mujizat yang akan dapat membuktikan kerasulannya:
mujizat-mujizat seperti pada Musa dan Isa. Kenapa bukit-bukit Shafa dan Marwa
itu tidak disulapnya menjadi emas, dan kitab yang dibicarakannya itu dalam
bentuk tertulis diturunkan dari langit? Dan kenapa Jibril yang banyak
dibicarakan oleh Muhammad itu tidak muncul di hadapan mereka? Kenapa dia tidak
menghidupkan orang-orang yang sudah mati, menghalau bukit-bukit yang selama ini
membuat Mekah terkurung karenanya? Kenapa ia tidak memancarkan mata air yang
lebih sedap dari air sumur Zamzam, padahal ia tahu betapa besar hajat penduduk
negerinya itu akan air?
Tidak
hanya sampai disitu saja kaum musyrikin itu mau mengejeknya dalam soal-soal
mujizat, malahan ejekan mereka makin menjadi-jadi, dengan menanyakan: kenapa
Tuhannya itu tidak memberikan wahyu tentang harga barang-barang dagangan supaya
mereka dapat mengadakan spekulasi buat hari depan? Debat mereka itu
berkepanjangan. Tetapi wahyu yang datang kepada Muhammad menjawab debat mereka
“Katakanlah:
‘Aku tak berkuasa membawa kebaikan atau menolak bahaya untuk diriku sendiri,
kalau tidak dengan kehendak Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib-gaib,
niscaya kuperbanyak amal kebaikan itu dan bahayapun tidak menyentuhku. Tapi aku
hanya memberi peringatan dan membawa berita gembira bagi mereka yang beriman.”
(Qur’an 7: 188)
Perlindungan
Abi Talib
Abu Talib pamannya belum lagi menganut
Islam. Tetapi tetap ia sebagai pelindung dan penjaga kemenakannya itu. Ia sudah
menyatakan kesediaannya akan membelanya. Atas dasar itu pemuka-pemuka bangsawan
Quraisy – dengan diketahui oleh Abu Sufyan b. Harb – pergi menemui Abu Talib.
“Abu Talib,” kata mereka, “kemenakanmu itu sudah memaki berhala-berhala kita,
mencela agama kita, tidak menghargai harapan-harapan kita dan menganggap sesat
nenek-moyang kita. Soalnya sekarang, harus kauhentikan dia; kalau tidak biarlah
kami sendiri yang akan menghadapinya. Oleh karena engkau juga seperti kami
tidak sejalan, maka cukuplah engkau dari pihak kami menghadapi dia.” Akan
tetapi Abu Talib menjawab mereka dengan baik sekali.
Perlindungan
Bani Hasyim dan Bani Muttalib
Sementara itu Muhammad juga tetap gigih menjalankan tugas
dakwahnya dan dakwa itupun mendapat pengikut bertambah banyak. Quraisy segera
berkomplot menghadapi Muhammad itu. Sekali lagi mereka pergi menemui Abu Talib.
Sekali ini disertai ‘Umara bin’l-Walid bin’l-Mughira, seorang pemuda yang
montok dan rupawan, yang akan diberikan kepadanya sebagai anak angkat, dan
sebagai gantinya supaya Muhammad diserahkan kepada mereka. Tetapi inipun
ditolak. Muhammad terus juga berdakwah, dan Quraisypun terus juga berkomplot.
Untuk ketiga kalinya mereka mendatangi lagi Abu Talib. “Abu Talib’” kata
mereka, “Engkau sebagai orang yang terhormat, terpandang di kalangan kami. Kami
telah minta supaya menghentikan kemenakanmu itu, tapi tidak juga kaulakukan.
Kami tidak akan tinggal diam terhadap orang yang memaki nenek-moyang kita,
tidak menghargai harapan-harapan kita dan mencela berhala-berhala kita –
sebelum kausuruh dia diam atau sama-sama kita lawan dia hingga salah satu pihak
nanti binasa.”
Berat
sekali bagi Abu Talib akan berpisah atau bermusuhan dengan masyarakatnya. Juga
tak sampai hati ia menyerahkan atau membuat kemenakannya itu kecewa. Dimintanya
Muhammad datang dan diceritakannya maksud seruan Quraisy. Lalu katanya:
“Jagalah aku, begitu juga dirimu. Jangan aku dibebani hal-hal yang tak dapat
kupikul.” Pamannya ini seolah sudah tak berdaya lagi membela dan memeliharanya.
Sedang kaum Muslimin masih lemah, mereka tak berdaya akan berperang, tidak
dapat mereka melawan Quraisy yang punya kekuasaan, punya harta, punya persiapan
dan jumlah rmanusia. Sebaliknya dia tidak punya apa-apa selain kebenaran.
Tetapi jiwa Rasulullah Saw tetap teguh, ia berkata kepada pamannya: “Paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan
kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku
meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah yang
akan membuktikan kemenangan itu ditanganku, atau aku binasa karenanya.”
Gemetar
orang tua ini mendengar jawaban Muhammad Saw. Seketika lamanya Abu Talib masih dalam
keadaan terpesona. Kemudian dimintanya Muhammad datang lagi, yang lalu katanya:
“Anakku, katakanlah sekehendakmu. Aku tidak akan menyerahkan engkau
bagaimanapun juga!” Sikap dan kata-kata kemenakannya itu oleh Abu Talib
disampaikan kepada Banu Hasyim dan Banu al-Muttalib. Pembicaranya tentang
Muhammad itu terpengaruh oleh suasana yang dilihat dan dirasakannya ketika itu.
Dimintanya supaya Muhammad dilindungi dari tindakan Quraisy. Mereka semua
menerima usul ini, kecuali Abu Lahab.
Sikap
permusuhan Quraisy terhadap kaum muslimin pun semakin menjadi-jadi. Setiap
kabilah itu langsung menyerbu kaum Muslimin yang ada di kalangan mereka:
disiksa dan dipaksa melepaskan agamanya. Dikisahkan seorang budak yang telah
muslim, Bilal, disiksa ke atas pasir di bawah terik matahari yang membakar,
dadanya ditindih dengan batu dan akan dibiarkan mati. Dalam kekerasan semacam
itu Bilal hanya berkata: “Ahad, Ahad, Hanya Yang Tunggal!” Ia memikul semua
siksaan itu demi agamanya. Hingga suatu hari Abu Bakr melihat Bilal mengalami
siksaan begitu rupa, ia dibelinya lalu dibebaskan.
Tidak
sedikit budak-budak yang mengalami kekerasan serupa itu oleh Abu Bakr dibeli –
diantaranya budak perempuan Umar bin’l-Khattab, dibelinya dari Umar [sebelum
masuk Islam]. Ada pula seorang wanita yang disiksa sampai mati karena ia tidak
mau meninggalkan Islam kembali kepada kepercayaan leluhurnya. Kaum Muslimin di
luar budak-budak itu, dipukuli dan dihina dengan berbagai cara. Muhammad juga
tidak terkecuali mengalami gangguan-gangguan – meskipun sudah dilindungi oleh
Banu Hasyim dan Banu al-Muttalib. Umm Jamil, isteri Abu Jahl, melemparkan najis
ke depan rumahnya. Tetapi cukup Muhammad hanya membuangnya saja. Dan pada waktu
sembayang, Abu Jahl melemparinya dengan isi perut kambing yang sudah disembelih
untuk sesajen kepada berhala-berhala. Ditanggungnya gangguan demikian itu dan
ia pergi kepada Fatimah, puterinya, supaya mencucikan dan membersihkannya
kembali.
Di
samping semua itu, kaum Muslimin harus menerima kata-kata biadab dan keji
kemana saja mereka pergi. Cukup lama hal serupa itu berjalan. Penyair-penyair
memakinya, orang-orang Quraisy berkomplot hendak membunuhnya di Ka’bah.
Rumahnya dilempari batu, keluarga dan pengikut-pengikutnya diancam. Perioda
yang telah dilalui dalam hidup Muhammad Saw ini adalah perioda yang paling
dahsyat yang pernah dialami oleh sejarah umat manusia.
Islamnya
Hamzah ra
Islamnya Hamzah ra
terjadi kira-kira pada tahun ke enam kerasulan beliau. Pada suatu hari Abu Jahl
bertemu dengan Muhammad, ia mengganggunya, memaki-makinya dan mengeluarkan
kata-kata yang tidak pantas dialamatkan kepada agama ini. Tetapi Muhammad tidak
melayaninya. Hamzah, pamannya dan saudaranya sesusu, yang masih berpegang pada
kepercayaan Quraisy, adalah seorang laki-laki yang kuat dan ditakuti. Ketika
itu ia baru kembali dari berburu, dan terlebih dulu mengelilingi Ka’bah sebelum
langsung pulang ke rumahnya.Ketika ia mengetahui bahwa kemenakannya itu
mendapat gangguan Abu Jahl, ia meluap marah. Ia pergi ke Ka’bah, tidak lagi ia
memberi salam kepada yang hadir di tempat itu seperti biasanya, melainkan terus
masuk kedalam mesjid menemui Abu Jahl. Setelah dijumpainya, diangkatnya
busurnya lalu dipukulkannya keras-keras di kepalanya. Beberapa orang dan Banu
Makhzum mencoba mau membela Abu Jahl. Tapi tidak jadi. Kuatir mereka akan
timbul bencana dan membahayakan sekali, dengan mengakui bahwa ia memang mencaci
maki Muhammad dengan tidak semena-mena. Sesudah itulah kemudian Hamzah
menyatakan masuk Islam. Ia berjanji kepada Muhammad akan membelanya dan akan
berkurban di jalan Allah sampai akhir hayatnya.
Pihak
Quraisy merasa sesak dada melihat Muhammad dan kawan-kawannya makin hari makin
kuat. Terpikir oleh Quraisy akan membebaskan diri dari Muhammad, dengan cara
seperti yang mereka bayangkan, memberikan segala keinginannya. Utba b. Rabi’a,
seorang bangsawan Arab terkemuka, mencoba membujuk Quraisy ketika mereka dalam
tempat pertemuan dengan mengatakan bahwa ia akan bicara dengan Muhammad dan
akan menawarkan kepadanya hal-hal yang barangkali mau menerimanya. Mereka mau
memberikan apa saja kehendaknya, asal ia dapat dibungkam.
Ketika
itulah ‘Utba bicara dengan Muhammad. “Anakku,” katanya, “seperti kau ketahui,
dari segi keturunan, engkau mempunyai tempat di kalangan kami. Engkau telah
membawa soal besar ketengah-tengah masyarakatmu, sehingga mereka cerai-berai
karenanya. Sekarang, dengarkanlah, kami akan menawarkan beberapa masalah,
kalau-kalau sebagian dapat kauterima Kalau dalam hal ini yang kauinginkan
adalah harta, kamipun siap mengumpulkan harta kami, sehingga hartamu akan
menjadi yang terbanyak di antara kami. Kalau kau menghendaki pangkat, kami
angkat engkau diatas kami semua; kami takkan memutuskan suatu perkara tanpa ada
persetujuanmu. Kalau kedudukan raja yang kauinginkan, kami nobatkan kau sebagai
raja kami. Jika engkau dihinggapi penyakit saraf yang tak dapat kautolak
sendiri, akan kami usahakan pengobatannya dengan harta-benda kami sampai kau
sembuh.”
Selesai
ia bicara, Muhammad membacakan Surah as-Sajda (41 = Ha Mim). ‘Utba diam
mendengarkan kata-kata yang begitu indah itu. Dilihatnya sekarang yang berdiri
di hadapannya itu bukanlah seorang laki-laki yang didorong oleh ambisi harta,
ingin kedudukan atau kerajaan, juga bukan orang yang sakit, melainkan orang
yang mau menunjukkan kebenaran, mengajak orang kepada kebaikan. Ia
mempertahankan sesuatu dengan cara yang baik, dengan kata-kata penuh mujizat.
Selesai
Muhammad membacakan itu ‘Utba pergi kembali kepada Quraisy. Apa yang dilihat
dan didengarnya itu sangat mempesonakan dirinya. Ia terpesona karena kebesaran
orang itu. Penjelasannya sangat menarik sekali. Persoalannya ‘Utba ini tidak
menyenangkan pihak Quraisy, juga pendapatnya supaya Muhammad dibiarkan saja,
tidak menggembirakan mereka, sebaliknya kalau mengikutinya, maka kebanggaannya
buat mereka. Maka kembali lagilah mereka memusuhi Muhammad dan
sahabat-sahabatnya dengan menimpakan bermacam-macam bencana, yang selama ini
dalam kedudukannya itu ia berada dalam perlindungan golongannya dan dalam
penjagaan Abu Talib, Banu Hasyim dan Banu al-Muttalib.
Hijrahnya
Muslimin ke Abisinia
Gangguan terhadap kaum Muslimin makin
menjadi-jadi, sampai-sampai ada yang dibunuh, disiksa dan semacamnya. Waktu itu
Muhammad menyarankan supaya mereka terpencar-pencar. Rasulullah Saw menyarankan
supaya mereka pergi ke Abisinia (Ethiopia) yang rakyatnya menganut agama
Kristen. “Tempat itu diperintah seorang raja dan tak ada orang yang dianiaya
disitu. Itu bumi jujur; sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua.”
Sebagian kaum Muslimin ketika itu lalu berangkat ke Abisinia guna menghindari
fitnah dan tetap berlindung kepada Tuhan dengan mempertahankan agama.
Kaum
Quraisy tahu akan hal ini, kemudian mengutus dua orang menemui Najasyi. Mereka
membawa hadiah-hadiah berharga guna meyakinkan raja supaya dapat mengembalikan
kaum Muslimin itu ke tanah air mereka. Kedua orang utusan itu ialah ‘Amr
bin’l-’Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’a. Sebenarnya kedua utusan itu telah
mengadakan persetujuan dengan pembesar-pembesar istana kerajaan, setelah mereka
menerima hadiah-hadiah dari penduduk Mekah, bahwa mereka akan membantu usaha
mengembalikan kaum Muslimin itu kepada pihak Quraisy. Pembicaraan mereka ini
tidak sampai diketahui raja. Tetapi baginda menolak sebelum mendengar sendiri
keterangan dari pihak Muslimin. Lalu dimintanya mereka itu datang menghadap
“Agama apa ini yang sampai membuat tuan-tuan meninggalkan masyarakat tuan-tuan
sendiri, tetapi tidak juga tuan-tuan menganut agamaku, atau agama lain?” tanya
Najasyi setelah mereka datang.
Yang
diajak bicara ketika itu ialah Ja’far b. Abi b. Talib. Ia menjelaskan kepada
Raja mengenai prinsip-prinsip islam. Ketika diminta untuk membacakan ajaran
islam, Ja’far membacakan Surah Mariam sampai
ayat 29-33. Setelah mendengar bahwa keterangan itu membenarkan apa yang
tersebut dalam Injil, pemuka-pemuka istana itu terkejut. Kemudian mereka
menolak untuk menyerahkan kaum muslimin.
Tetapi
‘Amr bin’l-’Ash tidak berputus asa. ‘Amr bin’l-’Ash kembali menghadap Raja
dengan mengatakan, bahwa kaum Muslimin mengeluarkan tuduhan yang luar biasa
terhadap Isa anak Mariam. Maka dipanggillah mereka dan ditanyakan apa yang
mereka katakan itu. Ja’far menerangkan bahwa : ‘Dia adalah hamba Allah dan
UtusanNya, RuhNya dan FirmanNya yang disampaikan kepada Perawan Mariam.Setelah
dari kedua belah pihak itu didengarnya, ternyatalah oleh Najasyi, bahwa kaum
Muslimin itu mengakui Isa, mengenal adanya Kristen dan menyembah Allah. Selama
di Abisinia itu kaum Muslimin merasa aman dan tenteram.
Mereka
berangkat dengan melakukan 2 kali hijrah. Yang pertama terdiri dari 11 orang
pria dan 4 wanita. Dengan sembunyi-sembunyi mereka keluar dari Mekah mencari
perlindungan. Kemudian mereka mendapat tempat yang baik di bawah Najasyi.
Bilamana kemudian tersiar berita bahwa kaum Muslimin di Mekah sudah selamat
dari gangguan Quraisy, merekapun lalu kembali pulang.
Tetapi
setelah ternyata kemudian mereka mengalami kekerasan lagi dari Quraisy melebihi
yang sudah-sudah, kembali lagi mereka ke Abisinia. Sekali ini terdiri dari
delapanpuluh orang pria tanpa kaum isteri dan anak-anak. Mereka tinggal di
Abisinia sampai sesudah hijrah Nabi ke Yatsrib.
Islamnya
‘Umar ibn’l-Khattab
Hal ini terjadi masih di tahun yang
sama, tahun ke-6. ‘Umar ibn’l-Khattab adalah pemuda yang gagah perkasa, berusia
antara 30 dan 35 tahun. Dari kalangan Quraisy dialah yang paling keras memusuhi
kaum Muslimin. Tatkala itu Muhammad sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya
yang tidak ikut hijrah, dalam sebuah rumah di Shafa. Di antara mereka ada
Hamzah pamannya, Ali bin Abi Talib sepupunya, Abu Bakr b. Abi Quhafa dan Muslimin
yang lain. Pertemuan mereka ini diketahui ‘Umar. Iapun pergi ketempat mereka,
ia mau membunuh Muhammad.
Di
tengah jalan ia bertemu dengan Nu’aim b. Abdullah. Setelah mengetahui
maksudnya, Nuiaim berkata: “Umar, engkau menipu diri sendiri. Kaukira keluarga
‘Abd Manaf. akan membiarkan kau merajalela begini sesudah engkau membunuh
Muhammad? Tidak lebih baik kau pulang saja ke rumah dan perbaiki keluargamu
sendiri?!” Pada waktu itu Fatimah, saudaranya, beserta Sa’id b. Zaid suami
Fatimah sudah masuk Islam. Tetapi setelah mengetahui hal ini dari Nu’aim, Umar
cepat-cepat pulang dan langsung menemui mereka.
Di
tempat itu ia mendengar ada orang membaca Qur’an. Setelah mereka merasa ada
orang yang sedang mendekati, orang yang membaca itu sembunyi dan Fatimah
menyembunyikan kitabnya. “Aku mendengar suara bisik-bisik apa itu?!” tanya
Umar. Karena mereka tidak mengakui, Umar membentak lagi dengan suara lantang:
“Aku sudah mengetahui, kamu menjadi pengikut Muhammad dan menganut agamanya!”
katanya sambil menghantam Sa’id keras-keras. Fatimah, yang berusaha hendak
melindungi suaminya, juga mendapat pukulan keras. Kedua suami isteri itu jadi
panas hati. “Ya, kami sudah Islam! Sekarang lakukan apa saja,” kata meteka.
Tetapi
Umar jadi gelisah sendiri setelah melihat darah di muka saudaranya itu. Ketika
itu juga lalu timbul rasa iba dalam hatinya. Dimintanya kepada saudaranya
supaya kitab yang mereka baca itu diberikan kepadanya. Setelah dibacanya,
wajahnya tiba-tiba berubah. Menggetar rasanya ia setelah membaca isi kitab itu.
Ia langsung menuju ke tempat Muhammad dan sahabat-sahabatnya itu sedang
berkumpul di Shafa. Ia minta ijin akan masuk, lalu menyatakan dirinya masuk
Islam. Dengan adanya Umar dan Hamzah dalam Islam, maka kaum Muslimin telah
mendapat benteng dan perisai yang lebih kuat. Ia masuk Islam tidak
sembunyi-sembunyi, malah terang-terangan diumumkan di depan orang banyak dan
untuk itu ia bersedia melawan mereka. Islamnya Umar ra ini telah
memperkuat kedudukan kaum Muslimin.
Pemboikotan
dan Propaganda
Dengan Islamnya Umar ra ini, Quraisy
lalu membuat rencana lagi mengatur langkah berikutnya. Mereka sepakat bahkan
secara tertulis untuk memboikot total terhadap Banu Hasyim dan Banu
Abd’l-Muttalib: untuk tidak saling kawin-mengawinkan, tidak saling berjual-beli
apapun. Piagam persetujuan ini kemudian digantungkan di dalam Ka’bah sebagai
suatu pengukuhan dan registrasi bagi Ka’bah. Akan tetapi ternyata Muhammad
sendiri malah makin teguh berpegang pada tuntunan Allah, juga keluarganya, dan
mereka yang sudah berimanpun makin gigih mempertahankannya. Menyebarkan seruan
Islam sampai keluar perbatasan Mekah itu pun tak dapat pula dihalang-halangi.
Maka tersiarlah dakwah itu ke tengah-tengah masyarakat Arab dan
kabilah-kabilah, sehingga membuat agama yang baru ini, yang tadinya hanya
terkurung ditengah-tengah lingkaran gunung-gunung Mekah, kini berkumandang
gemanya ke seluruh jazirah.
Mereka,
kaum Quraisy itu, juga menyusun suatu alat propaganda anti Muhammad. Lebih
gigih lagi mereka memikirkan hal ini sesudah orang-orang yang berziarah itu
diajak juga oleh Rasulullah Saw supaya beribadah hanya kepada Allah Yang Esa.
Beberapa orang dari kalangan Quraisy berunding dan mengadakan pertemuan di
rumah Walid bin’l-Mughira. Walid mengusulkan supaya kepada peziarah-peziarah orang-orang
Arab itu dikatakan bahwa dia (Muhammad) seorang juru penerang yang
mempesonakan, apa yang dikatakannya merupakan pesona yang akan memecah-belah
orang dengan orangtuanya, dengan saudaranya, dengan isteri dan keluarganya. Dan
apa yang dituduhkan itu pada orang-orang Arab pendatang itu merupakan bukti,
sebab penduduk Mekah sudah ditimpa perpecahan dan permusuhan.
Di
samping propaganda itu Quraisy harus punya propaganda lain lagi. Untuk
propaganda itu Quraisy akan mengandalkan pada Nadzr b. Harith. Orang ini pernah
pergi ke Hira dan mempelajari cerita raja-raja Persia, peraturan-peraturan
agamanya, ajaran-ajarannya tentang kebaikan dan kejahatan serta tentang
asal-usul alam semesta. Setiap dalam suatu pertemuan Muhammad mengajak orang
kepada Allah, ia lalu datang menggantikan tempat Muhammad dalam pertemuan itu.
Maka berceritalah ia kepada Quraisy tentang sejarah dan agamanya, lalu katanya:
Dengan cara apa Muhammad membawakan ceritanya lebih baik daripada aku? Bukankah
Muhammad membacakan cerita-cerita orang dahulu seperti yang kubacakan juga?
Orang-orang Quraisy menuduh, bahwa sebagian besar apa yang dibawa Muhammad
berasal dari seorang budak Nasrani yang bernama Jabr. Untuk itulah datang
Firman Tuhan:
“Kami
sungguh mengetahui bahwa mereka berkata; yang mengajarkan itu adalah seorang
manusia. Bahasa orang yang mereka tuduhkan itu bahasa asing, sedang ini adalah
bahasa Arab yang jelas sekali.” (Qur’an: 16: 103)
Selama
3 tahun berturut-turut piagam yang dibuat pihak Quraisy untuk memboikot
Muhammad dan mengepung Muslimin itu tetap berlaku. Dalam pada itu Muhammad dan
keluarga serta sahabat-sahabatnya sudah mengungsi ke celah-celah gunung di luar
kota Mekah, dengan mengalami pelbagai macam penderitaan, sehingga untuk
mendapatkan bahan makanan sekadar menahan rasa laparpun tidak ada. Baik kepada
Muhammad atau kaum Muslimin tidak diberikan kesempatan bergaul dan
bercakap-cakap dengan orang, kecuali dalam bulan-bulan suci.
Pada
bulan-bulan suci itu orang-orang Arab berdatangan ke Mekkah berziarah, segala
permusuhan dihentikan – tak ada pembunuhan, tak ada penganiayaan, tak ada
permusuhan, tak ada balas dendam. Pada bulan-bulan itu Muhammad turun, mengajak
orang-orang Arab itu kepada agama Allah, diberitahukannya kepada mereka arti
pahala dan arti siksa. Segala penderitaan yang dialami Muhammad demi dakwah itu
justru telah menjadi penolongnya dari kalangan orang banyak. Mereka yang telah
mendengar tentang itu lebih bersimpati kepadanya, lebih suka mereka menerima
ajakannya. Blokade yang dilakukan Quraisy kepadanya, kesabaran dan ketabahan
hatinya memikul semua itu demi risalahnya, telah dapat memikat hati orang
banyak.
Gagalnya
Pemboikotan
Akan tetapi, penderitaan yang begitu lama,
begitu banyak dialami kaum Muslimin karena kekerasan pihak Quraisy – padahal
mereka masih sekeluarga: saudara, ipar. sepupu – banyak diantara mereka itu
yang merasakan betapa beratnya kekerasan dan kekejaman yang mereka lakukan itu.
Dan sekiranya tidak ada dari penduduk yang merasa simpati kepada kaum Muslimin,
membawakan makanan ke celah-celah gunung1 tempat mereka mengungsi itu, niscaya
mereka akan mati kelaparan. Hisyam ibn ‘Amr adalah salah orang yang termasuk
paling simpati kepada Muslimin. Tengah malam ia datang membawa unta yang sudah
dimuati makanan atau gandum. Bilamana ia sudah sampai di depan celah gunung
itu, dilepaskannya tali untanya lalu dipacunya supaya terus masuk ke tempat
mereka dalam celah itu.
Merasa
kesal melihat Muhammad dan sahabat-sahabatnya dianiaya demikian rupa, ia
mengajak beberapa orang untuk membatalkan piagam pemboikotan itu. Demikianlah
piagam itu batal dengan sendirinya, walaupun beberapa tokoh Quraisy seperti Abu
Jahl menentangnya. Beberapa penulis biografi dalam hal ini berpendapat, bahwa
diantara mereka yang bertindak menghapuskan piagam itu terdapat orang-orang
yang masih menyembah berhala. Sesudah piagam disobek, Muhammad dan
pengikut-pengikutnyapun keluar dari lembah bukit-bukit itu. Seruannya
dikumandangkan lagi kepada penduduk Mekah dan kepada kabilah-kabilah yang pada
bulan-bulan suci itu datang berziarah ke Mekah. Meskipun ajakan Muhammad sudah
tersiar kepada seluruh kabilah Arab di samping banyaknya mereka yang sudah
menjadi pengikutnya, tapi sahabat-sahabat itu tidak selamat dari siksaan
Quraisy, juga dia tidak dapat mencegahnya.
Wafatnya
Abu Talib dan Siti Khadijah ra
Pada tahun ke sepuluh kerasulan Nabi Saw, yaitu beberapa
bulan kemudian sesudah penghapusan piagam itu, secara tiba-tiba sekali dalam
satu tahun saja Muhammad mengalami dukacita yang sangat menekan perasaan, yakni
kematian Abu Talib dan Khadijah secara berturut-turut. Waktu itu Abu Talib
sudah berusia delapanpuluh tahun lebih. Ketika Abu Talib meninggal hubungan
Muhammad dengan pihak Quraisy lebih buruk lagi dari yang sudah-sudah. Dan
sesudah Abu Talib, disusul pula dengan kematian Khadijah, Khadijah yang menjadi
sandaran Muhammad, Khadijah yang telah mencurahkan segala rasa cinta dan
kesetiaannya, dengan perasaan yang lemah-lembut, dengan hati yang bersih,
dengan kekuatan iman yang ada padanya. Khadijah, yang dulu menghiburnya bila ia
mendapat kesedihan, mendapat tekanan dan yang menghilangkan rasa takut dalam
hatinya. Ia adalah bidadari yang penuh kasih sayang. Pada kedua mata dan
bibirnya Muhammad melihat arti yang penuh percaya kepadanya, sehingga ia
sendiripun tambah percaya kepada dirinya.
Sesudah
kehilangan dua orang yang selalu membelanya itu Muhammad melihat Quraisy makin
keras mengganggunya. Yang paling ringan diantaranya ialah ketika seorang pandir
Quraisy mencegatnya di tengah jalan lalu menyiramkan tanah ke atas kepalanya. Tahukah
orang apa yang dilakukan Muhammad? Ia pulang ke rumah dengan tanah yang masih
diatas kepala. Fatimah puterinya lalu datang mencucikan tanah yang di kepala
itu. Ia membersihkannya sambil menangis. Tak ada yang lebih pilu rasanya dalam
hati seorang ayah dari pada mendengar tangis anaknya, lebih-lebih anak
perempuan.
Tha’if
Terasing seorang diri, ia pergi ke Tha’if, dengan tiada
orang yang mengetahuinya. Ia pergi ingin mendapatkan dukungan dan suaka dari
Thaqif terhadap masyarakatnya sendiri, dengan harapan merekapun akan dapat
menerima Islam. Tetapi ternyata mereka juga menolaknya secara kejam sekali.
Kalaupun sudah begitu, ia masih mengharapkan mereka jangan memberitahukan
kedatangannya minta pertolongan itu, supaya jangan ia disoraki oleh masyarakatnya
sendiri. Tetapi permintaannya itupun tidak didengar. Bahkan mereka menghasut
orang-orang pandir agar bersorak-sorai dan memakinya. Ia pergi lagi dari sana,
berlindung pada sebuah kebun kepunyaan ‘Utba dan Syaiba anak-anak Rabi’a.
Ketika itu keluarga Rabi’a sedang memperhatikannya dan melihat pula kemalangan
yang dideritanya.
Mereka
merasa iba dan kasihan melihat nasib buruk yang dialaminya itu. Budak mereka,
seorang beragama Nasrani bernama ‘Addas, diutus kepadanya membawakan buah
anggur dari kebun itu. Sambil meletakkan tangan di atas buah-buahan itu
Muhammad berkata: “Bismillah!” Lalu buah itu dimakannya. ‘Addas memandangnya
keheranan. Kemudian Nabi Saw menerangkan itu adalah ajaran islam. Saat itu
‘Addas lalu membungkuk mencium kepala, tangan dan kaki Muhammad.
Peristiwa
Nabi Saw ke Ta’if itu kemudian diketahui pula oleh Quraisy sehingga
gangguan mereka kepada Muhammad makin menjadi-jadi. Tetapi hal ini tidak
mengurangi kemauan Muhammad menyampaikan dakwah Islam. Kepada kabilah-kabilah
Arab pada musim ziarah, itu ia memperkenalkan diri, mengajak mereka mengenal
arti kebenaran. Muhammad Saw sendiri tidak cukup hanya memperkenalkan diri
kepada kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah di Mekah saja, bahkan ia
mendatangi kabilah-kabilah dan rumah-rumah mereka. Tapi tak seorangpun dari
mereka yang mau mendengarkan.
Isra
Mi’raj
Pada tahun yang sama, tahun ke-10 kerasulan
Nabi saw, pada masa itulah Isra’ dan Mi’raj terjadi. Malam itu Muhammad sedang
berada di rumah saudara sepupunya, Hindun puteri Abu Talib yang mendapat nama
panggilan Umm Hani’. Pada tengah malam yang sunyi dan hening, datanglah
Malaikat Jibril menemui Nabi untuk berisra’ dari Masjidil Haram Mekah ke
Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis) di Palestina. Nabi Saw berisra’ dengan
mengendarai seekor hewan ajaib, yaitu buraq. Dalam perjalanan itu ia ditemani
oleh malaikat. Lalu berhenti di gunung Sinai di tempat Nabi Musa menerima wahyu
dari Allah Swt. Kemudian berhenti lagi di Bethlehem tempat Isa dilahirkan.
Seterusnya mereka sampai ke Bait’l-Maqdis. Do tempat ini Nabi Saw sudah
ditunggu oleh nabi-nabi, antara lain Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, Nabi
sulaiman sa, dan Nabi Isa as. Mereka bersembahyang bersama-sama dengan
Rasulullah Saw sebagai imam. Setelah sambutan-sambutan oleh mereka dan diakhiri
oleh Rasulullah Saw, kemudian dibawakan tangga yang disebut Sulam Jannah, yang
dipancangkan diatas batu Ya’qub.
Dengan
tangga itu Muhammad naik ke langit bersama-sama dengan malaikat Jibril. Langit
pertama terbuat dari perak murni dengan bintang-bintang yang digantungkan
dengan rantai-rantai emas. Tiap langit itu dijaga oleh malaikat, supaya jangan
ada setan-setan yang bisa naik ke atas atau akan ada jin yang akan mendengarkan
rahasia-rahasia langit. Di langit inilah Muhammad memberi hormat kepada Adam.
Di tempat ini pula semua makhluk memuja dan memuji Tuhan.
Pada
langit ke-2 Muhammad Saw bertemu dengan Nabi Yahya as dan Nabi Isa as. Kemudian
di langit ke-3 bertemu dengan Nabi Yusuf as. Di langit ke-4 bertemu dengan Nabi
Idris as. Dilangit ke-5 bertemu dengan Nabi Harun as. Di langit ke-6 Rasulullah
Saw bertemu dengan Nabi Musa as. Di sini Nabi Musa as berpesan agar Nabi Saw
singgah sebentar pada perjalanan pulang nanti. Kemudian Nabi Saw naik lagi ke
langit ke-7. Di sini Rasulullah Saw berjumpa dengan Nabi Ibrahim as. Nabi
Ibrahim as menasehatkan agar umat Muhammad Saw banyak-banyak membaca “Laa haula
walaa quwwata illaa billaahil ’aliyil ’adziim” sebagai tanaman surga.
Kemudian
Rasulullah naik lagi bersama-sama malaikat Jibril ke Sidratul Muntaha.
Selanjutnya malaikat Jibril mengajak Rasul Saw untuk menyaksikan surga dan juga
neraka. Setelah itu Nabi Saw naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi tanpa
malaikat Jibril. Jibril menyatakan bahwa ia tidak sanggup untuk naik ke tingkat
yang lebih tinggi. Kemudian sampailah Rasulullah Saw ke tingkat yang dinamakan
‘Arasy. Beliau berjumpa dengan Allah Swt dan menerima perintah sholat sebanyak
50 kali setiap hari bagi umatnya.
Kemudian
Muhammad Saw kembali turun dari langit, ia singgah di tempat Nabi Musa as
sesuai pesan sebelumnya. Nabi Musa as menyarankan agar Rasulullah Saw meminta
keringanan karena dianggapnya perintah itu terlalu berat bagi umat Rasul Saw.
Demikianlah, Rasul Saw sampai berkali-kali menghadap Allah Swt untuk meminta
keringanan atas usul Nabi Musa as, hingga berakhir dengan ketentuan yang lima
kali. Setelah selesai Mi’raj, Nabi Saw kembali ke bumi dengan tangga Sulam
Jannah. Setelah itu beliau pulang ke Mekah dengan Buraq.
Orang-orang
Quraisy tidak dapat memahami arti isra’, juga mereka yang sudah Islam banyak yang
tidak memahami artinya seperti sudah disebutkan tadi. Itu sebabnya, ada
kelompok yang lalu meninggalkan Muhammad yang tadinya sudah sekian lama menjadi
pengikutnya.
Setelah
Isra’ Mi’raj itu Rasulullah masih tetap tinggal di Mekah beberapa tahun, walaupun
Quraisy tambah keras menentangnya. Apabila musim ziarah sudah tiba, orang-orang
dari segenap jazirah Arab sudah berkumpul lagi di Mekah, iapun mulai menemui
kabilah-kabilah itu. Diajaknya mereka memahami kebenaran agama yang dibawanya
itu.
Perjanjian
Aqabah Pertama
Sementara itu, ada dua kabilah di Yatsrib, Aus
dan Khazraj, yang saling bermusuhan. Di sana terdapat juga orang-orang Yahudi.
Hubungan tetangga dan hubungan dagang Yahudi membuat Arab -Aus dan
Khazraj -lebih banyak mengetahui cerita-cerita kerohanian dan masalah-masalah
agama lainnya di banding dengan golongan Arab yang lain. Dengan demikian
penduduk Yatsrib ini relatif lebih mudah menerima dakwah Rasul Saw.
Pada
waktu itu telah terjadi pertempuran sengit antara Aus dan Khazraj. Baik yang
menang maupun yang kalah dari kalangan Aus dan Khazraj sama-sama berpendapat
tentang akibat buruk yang telah mereka lakukan itu, karena sejak itu
orang-orang Yahudi dapat mengembalikan kedudukannya di Yatsrib. Ketika itu
musim ziarah tiba setelah isra’ mi’raj Nabi Saw, beberapa orang dari Yatsrib
pergi ke Mekah . Setelah Nabi bicara dengan mereka dan diajaknya mereka
bertauhid kepada Allah, mereka menyambut dengan baik dan menyatakan diri masuk
Islam. Orang-orang itu lalu kembali ke Medinah. Dua orang diantara mereka itu
dari Banu’n-Najjar, keluarga Abd’l-Muttalib dari pihak ibu Ternyata merekapun
menyambut pula dengan senang hati agama ini.
Tiba
tahun berikutnya, bulan-bulan sucipun datang lagi bersama datangnya musim
ziarah ke Mekah, dan ke tempat itu datang pula duabelas orang penduduk Yatsrib.
Mereka ini bertemu dengan Nabi di ‘Aqaba. Di tempat inilah mereka menyatakan
ikrar atau berjanji kepada Nabi (yang kemudian dikenal dengan nama) Ikrar
‘Aqaba pertama. Mereka berikrar kepadanya untuk tidak menyekutukan Tuhan, tidak
mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak mengumpat dan
memfitnah. Jangan menolak berbuat kebaikan. Barangsiapa mematuhi semua itu ia
mendapat pahala surga, dan kalau ada yang mengecoh, maka soalnya kembali kepada
Tuhan. Tuhan berkuasa menyiksa, juga berkuasa mengampuni segala dosa.
Kemudian Muhammad Saw menugaskan kepada Mush’ab bin ‘Umair supaya mengajarkan
Islam serta seluk-beluk hukum agama. Setelah adanya ikrar ini Islam makin
tersebar di Yathrib. Mush’ab bertugas memberikan pelajaran agama di kalangan
Muslimin Aus dan Khazraj.
Perjanjian
Aqabah ke-2
Pada musim haji tahun berikutnya mereka
datang lagi ke Mekah dalam jumlah yang lebih besar dengan iman kepada Tuhan
yang sudah lebih kuat. Tahun itu – 622 M – jemaah haji dari Yathrib praktis
jumlahnya banyak sekali, terdiri dari tujuhpuluh lima orang, tujuhpuluh tiga
pria dan dua wanita. Rasulullah Saw mengusulkan untuk mengadakan suatu ikrar,
yang berupa ikrar pakta persekutuan. Mereka kemudian berjanji untuk bertemu di
‘Aqaba pada tengah malam pada hari-hari Tasyriq. Peristiwa ini oleh Muslimin
Yathrib tetap dirahasiakan dari kaum musyrik yang datang bersama-sama mereka.
Sesampai mereka di gunung ‘Aqaba, mereka semua memanjati lereng-lereng gunung
tersebut. Rasulullah Saw bersama pamannya ‘Abbas b. Abd’l-Muttalib – yang pada
waktu itu masih menganut kepercayaan golongannya sendiri.
Inilah
kata-kata ‘Abbas yang pertama kali bicara. “Saudara-saudara dari Khazraj!” kata
‘Abbas. “Posisi Muhammad di tengah-tengah kami sudah sama-sama tuan-tuan
ketahui. Kami dan mereka yang sepaham dengan kami telah melindunginya dari
gangguan masyarakat kami sendiri. Dia adalah orang yang terhormat di kalangan
masyarakatnya dan mempunyai kekuatan di negerinya sendiri. Tetapi dia ingin
bergabung dengan tuan-tuan juga. Jadi kalau memang tuan-tuan merasa dapat
menepati janji seperti yang tuan-tuan berikan kepadanya itu dan dapat
melindunginya dari mereka yang menentangnya, maka silakanlah tuan-tuan
laksanakan. Akan tetapi, kalau tuan-tuan akan menyerahkan dia dan membiarkannya
terlantar sesudah berada di tempat tuan-tuan, maka dari sekarang lebih baik
tinggalkan sajalah.”
Kemudian
giliran Rasulullah Saw : “Saya minta ikrar tuan-tuan akan membela saya seperti
membela isteri-isteri dan anak-anak tuan-tuan sendiri.” Di antara mereka adalah
Al-Bara’ b. Ma’rur, yang tertua di antara mereka. Ia segera mengulurkan tangan
menyatakan ikrarnya seraya berkata: “Rasulullah, kami sudah berikrar. Kami
adalah orang peperangan dan ahli bertempur yang sudah kami warisi dari leluhur
kami.” Tetapi sebelum Al-Bara’ selesai bicara, Abu’l-Haitham ibn’t-Tayyihan,
seorang di antara mereka menyela: “Rasulullah, kami dengan orang-orang itu –
yakni orang-orang Yahudi – terikat oleh perjanjian, yang sudah akan kami
putuskan. Tetapi apa jadinya kalau kami lakukan ini lalu kelak Tuhan memberikan
kemenangan kepada tuan, tuan akan kembali kepada masyarakat tuan dan
meninggalkan kami?” Muhammad tersenyum, dan katanya: “Tidak, saya sehidup
semati dengan tuan-tuan. Tuan-tuan adalah saya dan saya adalah tuan-tuan. Saya
akan memerangi siapa saja yang tuan-tuan perangi, dan saya akan berdamai dengan
siapa saja yang tuan-tuan ajak berdamai.” Demikianlah, mereka lalu menyatakan
ikrar kepadanya.
Keesokan
harinya pagi-pagi baru mereka bangun. Akan tetapi pagi itu juga Quraisy sudah
mengetahui berita adanya ikrar itu. Mereka terkejut sekali. Pagi itu
pemuka-pemuka Quraisy mendatangi Khazraj di tempatnya masing-masing. Ketika itu
juga orang-orang musyrik dari kalangan Khazraj bersumpah-sumpah bahwa hal
semacam itu tidak ada sama sekali. Sedang Muslimin malah diam saja setelah dilihatnya
Quraisy lagaknya akan mempercayai keterangan orang-orang yang seagama dengan
mereka itu. Ketika Quraisy akhirnya mengetahui, bahwa berita itu memang benar.
Tetapi mereka sudah pulang ke Yatsrib.
Hijrahnya
Muslimin ke Yatsrib
Setelah ikrar Aqaba ke 2 itu, dimintanya
sahabat-sahabatnya supaya menyusul kaum Anshar ke Yatsrib. Hanya saja dalam
meninggalkan Mekah hendaknya mereka terpencar-pencar, supaya jangan sampai
menimbulkan kepanikan pihak Quraisy terhadap mereka. Mulailah kaum Muslimin
melakukan hijrah secara sendiri-sendiri atau kelompok-kelompok kecil. Akan
tetapi hal itu rupanya sudah diketahui oleh pihak Quraisy. Mereka segera
bertindak, berusaha mengembalikan yang masih dapat dikembalikan itu ke Mekah
untuk kemudian dibujuk supaya kembali kepada kepercayaan mereka, kalau tidak
akan disiksa dan dianiaya. Sampai-sampai tindakan itu ialah dengan cara
memisahkan suami dari isteri; kalau si isteri dari pihak Quraisy ia tidak
dibolehkan pergi ikut suami. Yang tidak menurut, isterinya yang masih dapat mereka
kurung, dikurung. Akan tetapi mereka takkan dapat berbuat lebih dari itu.
Mereka kuatir akan pecah perang saudara antar-kabilah jika mereka mencoba
membunuh salah seorang dari kabilah itu. Berturut-turut kaum Muslimin hijrah ke
Yathrib. Sementara itu Muhammad Saw tetap tinggal.
Setelah
banyak orang yang berhijrah, Quraisy mengadakan pertemuan di Dar’n-Nadwa
membahas semua persoalan itu serta cara-cara pencegahannya. Mereka memutuskan,
dari setiap kabilah akan diambil seorang pemuda yang dipersenjatai dengan
sebilah pedang yang tajam, yang secara bersama-sama sekaligus mereka akan
menghantamnya, dan darahnya dapat dipencarkan antar-kabilah. Dengan demikian
Banu ‘Abd Manaf takkan dapat memerangi mereka semua. Mereka menyetujui
pendapat ini dan merasa cukup puas. Mereka mengadakan seleksi di kalangan
pemuda-pemuda mereka.
Ali
ra Menggantikan Rasulullah SAW
Quraisy
berencana membunuh Muhammad, karena dikuatirkan ia akan hijrah ke Medinah.
Ketika itu kaum Muslimin sudah tak ada lagi yang tinggal kecuali sebagian
kecil. Ketika perintah dari Allah Swr datang supaya beliau haijrah, beliau
meminta Abu Bakr supaya menemaninya dalam hijrahnya itu. Sebelum itu Abu Bakr
memang sudah menyiapkan dua ekor untanya yang diserahkan pemeliharaannya kepada
Abdullah b. Uraiqiz sampai nanti tiba waktunya diperlukan.
Pada
malam akan hijrah itu pula Muhammad membisikkan kepada Ali b. Abi Talib supaya
memakai mantelnya yang hijau dari Hadzramaut dan supaya berbaring di tempat
tidurnya. Dimintanya supaya sepeninggalnya nanti ia tinggal dulu di Mekah
menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan kepadanya.
Demikianlah, ketika pemuda-pemuda Quraisy mengintip ke tempat tidur Nabi Saw,
mereka melihat sesosok tubuh di tempat tidur itu dan mengira bahwa Nabi Saw
masih tidur.
Bersembunyi
di Gua Tsur
Menjelang larut malam, Rasulullah Saw keluar
tanpa setahu mereka. Bersama-sama dengan Abu Bakr beliau bertolak ke arah
selatan menuju gua Thaur. Hanya empat orang yang tahu keberadaan beliau berdua,
yaitu Abdullah b. Abu Bakr, Aisyah dan Asma (puteri-puteri Abu Bakr), serta
pembantu mereka ‘Amir b. Fuhaira. Bila hari sudah sore Asma, datang membawakan
makanan buat mereka. Abdullah setiap hari berada di tengah-tengah Quraisy untuk
memantau perkembangan yang terjadi untuk disampaikan pada beliau pada malam
harinya. ‘Amir tugasnya menggembalakan kambing Abu Bakr’, memerah susu dan
menyiapkan daging. Apabila Abdullah b. Abi Bakr kembali dari tempat mereka
bersembunyi di gua itu, datang ‘Amir mengikutinya dengan kambingnya guna
menghapus jejaknya.
Sementara
itu pihak Quraisy berusaha sungguh-sungguh mencari mereka. Pemuda-pemuda
Quraisy membawa pedang dan tongkat sambil mondar-mandir mencari ke segenap
penjuru. Ketika itu mereka bergerak menuju ke gua tempat sembunyi. Lalu
orang-orang Quraisy itu datang menaiki gua itu, tapi kemudian ada yang turun
lagi. “Kenapa kau tidak menjenguk ke dalam gua?” tanya kawan-kawannya. “Ada
sarang laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad
lahir,” jawabnya. “Saya melihat ada dua ekor burung dara hutan di lubang gua
itu. Jadi saya mengetahui tak ada orang di sana.”
Demikanlah,
kalau saja mereka ada yang menengok ke bawah pasti akan melihat beliau berdua.
Tetapi orang-orang Quraisy itu makin yakin bahwa dalam gua itu tak ada manusia
tatkala dilihatnya ada cabang pohon yang terkulai di mulut gua. Tak ada jalan
orang akan dapat masuk ke dalamnya tanpa menghalau dahan-dahan itu. Ketika
itulah mereka lalu surut kembali. Rasulullah s.a.w. tinggal dalam gua selama
tiga hari tiga malam. Tentang cerita gua ini dikisahkan dalam firman
Allah Swt:
“Ingatlah
tatkala orang-orang kafir (Quraisy) itu berkomplot membuat rencana terhadap
kau, hendak menangkap kau, atau membunuh kau, atau mengusir kau. Mereka membuat
rencana dan Allah membuat rencana pula. Allah adalah Perencana terbaik.”
(Qur’an, 8: 30) “Kalau kamu tak dapat menolongnya, maka Allah juga Yang telah
menolongnya tatkala dia diusir oleh orang-orang kafir (Quraisy). Dia salah
seorang dari dua orang itu, ketika keduanya berada dalam gua. Waktu itu ia
berkata kepada temannya itu: ‘Jangan bersedih hati, Tuhan bersama kita!’ Maka
Tuhan lalu memberikan ketenangan kepadanya dan dikuatkanNya dengan pasukan yang
tidak kamu lihat. Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu juga yang
rendah dan kalam Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Kuasa dan Bijaksana.”
(Qur’an, 9: 40)
Pada
hari ketiga, ketika keadaan sudah tenang, unta kedua orang itu didatangkan.
Asma datang makanan. Dikisahkan, Asma merobek ikat pinggangnya lalu sebelahnya
dipakai menggantungkan makanan dan yang sebelah lagi diikatkan, sehingga ia
lalu diberi nama “dhat’n-nitaqain” (yang bersabuk dua). Mereka kemudian
berangkat.
Karena
mengetahui pihak Quraisy sangat gigih mencari mereka, maka perjalanan ke
Yathrib itu mereka mengambil jalan yang tidak biasa ditempuh orang. Abdullah b.
‘Uraiqit – dari Banu Du’il – sebagai penunjuk jalan, membawa mereka ke arah
selatan di bawahan Mekah, kemudian menuju Tihama di dekat pantai Laut
Merah. Kedua orang itu beserta penunjuk jalannya sepanjang malam dan di
waktu siang berada di atas kendaraan. Memang, Rasulullah Saw sendiri tidak
pernah menyangsikan, bahwa Tuhan akan menolongnya, tetapi “jangan kamu
mencampakkan diri ke dalam bencana.” Allah menolong hambaNya selama hamba
menolong dirinya dan menolong sesamanya.
Suraqa
Ketika itu Quraisy
mengadakan sayembara, barangsiapa bisa menyerahkan Muhammad akan diberi hadiah
seratus ekor unta. Mereka sangat giat mencari Rasulullah Saw. Ketika terdengar
kabar bahwa ada rombongan tiga orang sedang dalam perjalanan, mereka yakin itu
adalah Muhammad dan beberapa orang sahabatnya. Suraqa b. Malik b. Ju’syum,
salah seorang dari Quraisy, juga ingin memperoleh hadiah seratus ekor
unta. Tetapi ia ingin memperoleh hadiah seorang diri saja. Ia mengelabui orang-orang
dengan mengatakan bahwa itu bukan Muhammad. Tetapi setelah itu ia segera pulang
ke rumahnya. Dipacunya kudanya ke arah yang disebutkan tadi seorang diri.
Demikian
bersemangatnya Suraqa mengejar Nabi Saw hingga kudanya dua kali tersungkur
ketika hendak mencapai Nabi. Tetapi melihat bahwa ia sudah hampir kedua orang
itu, ia tetap memacu kudanya karena rasanya Muhammad sudah di tangan. Akan
tetapi kuda itu tersungkur sekali lagi dengan keras sekali, sehingga
penunggangnya terpelanting dari punggung binatang itu dan jatuh
terhuyung-huyung dengan senjatanya. Suraqa merasa itu suatu alamat buruk jika
ia bersikeras mengejar sasarannya itu. Sampai di situ ia berhenti dan hanya
memanggil-manggil:
“Saya
Suraqa bin Ju’syum! Tunggulah, saya mau bicara. Saya tidak akan melakukan
sesuatu yang akan merugikan tuan-tuan.” Setelah kedua orang itu berhenti
melihat kepadanya, dimintanya kepada Muhammad supaya menulis sepucuk surat
kepadanya sebagai bukti bagi kedua belah pihak. Dengan permintaan Nabi, Abu
Bakr lalu menulis surat itu di atas tulang atau tembikar yang lalu
dilemparkannya kepada Suraqa. Setelah diambilnya oleh Suraqa surat itu ia
kembali pulang. Sekarang bila ada orang mau mengejar Nabi Saw, maka dikaburkan
olehnya, sesudah tadinya ia sendiri yang mengejarnya.
Perjalanan
Hijrah Rasulullah SAW
Selama tujuh hari
terus-menerus rombongan Rasulullah Saw berjalan, mengaso di bawah panas membara
musim kemarau dan berjalan lagi sepanjang malam mengarungi lautan padang pasir
dengan perasaan kuatir. Hanya karena adanya iman kepada Allah Swt membuat hati
dan perasaan mereka terasa lebih aman. Ketika sudah memasuki daerah kabilah
Banu Sahm dan datang pula Buraida kepala kabilah itu menyambut mereka, barulah
perasaan kuatir dalam hatinya mulai hilang. Jarak mereka dengan Yathrib kini
sudah dekati.
Selama
mereka dalam perjalanan yang sungguh meletihkan itu, berita-berita tentang
hijrah Nabi dan sahabatnya yang akan menyusul kawan-kawan yang lain, sudah
tersiar di Yathrib. Penduduk kota ini sudah mengetahui, betapa kedua orang ini
mengalami kekerasan dari Quraisy yang terus-menerus membuntuti. Oleh karena itu
semua kaum Muslimin tetap tinggal di tempat itu menantikan kedatangan
Rasulullah dengan hati penuh rindu ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur
katanya. Banyak di antara mereka itu yang belum pernah melihatnya, meskipun
sudah mendengar tentang keadaannya dan mengetahui pesona bahasanya serta
keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka rindu sekali ingin bertemu,
ingin melihatnya.
Masyarakat
Madinah
Tersebarnya Islam di Yatsrib dan
keberanian kaum Muslimin di kota itu sebelum hijrah Nabi ke tempat tersebut
sama sekali di luar dugaan kaum Muslimin Mekah. Beberapa pemuda Muslimin bahkan
berani mempermainkan berhala-berhala kaum musyrik di sana. Seseorang yang
bernama ‘Amr bin’l-Jamuh mempunyai sebuah patung berhala terbuat daripada kayu
yang dinamainya Manat, diletakkan di daerah lingkungannya seperti biasa
dilakukan oleh kaum bangsawan. ‘Amr ini adalah seorang pemimpin Banu Salima dan
dari kalangan bangsawan mereka pula. Sesudah pemuda-pemuda golongannya itu
masuk Islam malam-malam mereka mendatangi berhala itu lalu di bawanya dan
ditangkupkan kepalanya ke dalam sebuah lubang yang oleh penduduk Yathrib biasa
dipakai tempat buang air. Bila pagi-pagi berhala itu tidak ada ‘Amr mencarinya
sampai diketemukan lagi, kemudian dicucinya dan dibersihkan lalu diletakkannya
kembali di tempat semula, sambil ia menuduh-nuduh dan mengancam. Tetapi
pemuda-pemuda itu mengulangi lagi perbuatannya mempermainkan Manat ‘Amr itu,
dan diapun setiap hari mencuci dan membersihkannya. Setelah ia merasa kesal
karenanya, diambilnya pedangnya dan digantungkannya pada berhala itu seraya ia
berkata: “Kalau kau memang berguna, bertahanlah, dan ini pedang bersama kau.”
Tetapi keesokan harinya ia sudah kehilangan lagi, dan baru diketemukannya
kembali dalam sebuah sumur tercampur dengan bangkai anjing. Pedangnya sudah tak
ada lagi. Sesudah kemudian ia diajak bicara oleh beberapa orang pemuka-pemuka
masyarakatnya dan sesudah melihat dengan mata kepala sendiri betapa sesatnya
hidup dalam syirik dan paganisma itu, yang hakekatnya akan mencampakkan jiwa
manusia ke dalam jurang yang tak patut lagi bagi seorang manusia, iapun masuk
Islam.
Masjid
Quba
Ketika rombongan Rasulullah Saw
sampai di Quba’, mereka tinggal empat hari ia di sana dan membangun mesjid
Quba’. Di tempat ini Ali b. Abi-Talib ra menyusul, setelah mengembalikan
barang-barang amanat – yang dititipkan oleh rasulullah Saw – kepada pemilik-pemiliknya
di Mekah. Ali ra menempuh perjalanannya ke Yathrib dengan berjalan kaki.
Malam hari ia berjalan, siangnya bersembunyi. Perjuangan yang sangat meletihkan
itu ditanggungnya selama dua minggu penuh, yaitu untuk menyusul
saudara-saudaranya seagama.
Tiba
di Madinah
Demikanlah akhirnya rombongan Rasulullah
selamat sampai Madinah. Hari itu adalah hari Jum’at dan Muhammad berjum’at di
Medinah. Di tempat itulah, ke dalam mesjid yang terletak di perut Wadi Ranuna
itulah kaum Muslimin datang, masing-masing berusaha ingin melihat serta
mendekatinya. Mereka ingin memuaskan hati terhadap orang yang selama ini belum
pernah mereka lihat, hati yang sudah penuh cinta dan rangkuman iman akan
risalahnya, dan yang selalu namanya disebut pada setiap kali sembahyang.
Orang-orang terkemuka di Medinah menawarkan diri supaya ia tinggal pada mereka.
Tetapi
ia dengan halus meminta maaf kepada mereka. Kembali ia ke atas unta betinanya,
dipasangnya tali keluannya, lalu ia berjalan melalui jalan-jalan di Yathrib, di
tengah-tengah kaum Muslimin yang ramai menyambutnya dan memberikan jalan
sepanjang jalan yang diliwatinya itu. Seluruh penduduk Yathrib, baik Yahudi
maupun orang-orang pagan menyaksikan adanya hidup baru yang bersemarak dalam
kota mereka itu, menyaksikan kehadiran Rasulullah Saw, seorang pendatang baru,
orang besar yang telah mempersatukan Aus dan Khazraj, yang selama itu saling
bermusuhan, dan saling berperang.
Sesampainya
ke sebuah tempat penjemuran kurma kepunyaan dua orang anak yatim dari
Banu’n-Najjar, unta itu berlutut (berhenti). Ketika itulah Rasul turun dari
untanya dan bertanya: “Kepunyaan siapa tempat ini?” tanyanya. “Kepunyaan Sahl
dan Suhail b. ‘Amr,” jawab Ma’adh b. ‘Afra’. Dia adalah wali kedua anak yatim
itu. Ia akan membicarakan soal tersebut dengan kedua anak itu supaya mereka
puas. Dimintanya kepada Muhammad supaya di tempat itu didirikan mesjid.
Muhammad mengabulkan permintaan tersebut dan dimintanya pula supaya di tempat
itu didirikan mesjid dan tempat-tinggalnya.

No comments:
Post a Comment