Friday, February 7, 2014

Memaknai Hadits Dengan Pendekatan Psikologis


                                            Metode Pendekatan Hadis Secara Psikologi
Oleh : Muhammad Ali Ibrahim


Pendahuluan
Dalam mempelajari ilmu hadis kita mengenal banyak cara dalam melakukan pendekatan untuk memahami hadis. Ada beberapa pendekatan dalam mempelajari lahirnya suatu hadis diantaranya dari segi antropologi, sosiologi, sosio histories, dan psikologi. Dalam kesempatan yang telah kita lewati, telah dipelajari beberapa metode pendekatan hadis. Pada kesempatan kali ini kami kan mengulas sedikit tentang pensekatan hadis secara psikologi.

Pembahasan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, psikologi adalah ilmu yang berkaitan dengan proses mental, baik nnormal maupun abnormal dan pengaruh baik atau buruknya terhadap perilaku, dengan kata lain : ilmu pengetahuan tentang gejala kegiatan jiwa.[1] Secara bahasa psikologi berasal dari kata Yunani “psyche” yang artinya jiwa. Logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi psikologi berarti : “ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya”.[2]
Adapun yang dimaksud dengan pendekatan psikologi dalam pemahaman hadis adalah memahami hadi dengan memperhatikan kondisi psikologi Nabi dan masyarakat pada waktu itu. Beberapa hadis disabdakan oleh Nabi ketika sahabatnya bertanya perihal sesuatu, oleh karenanya dalam keadaan tertentu Nabi memperhatikan kondisi psikologi sahabat yang bertanya.[3] Ini akan menentukan pemahaman hadis secara utuh.

Sebagai contoh hadis tentang amalan yang paling utama. Ternyata hadits yang menyatakan amalan yang utama berjumlah banyak dan sangat variatif. Diantaranya hadits-hadits tersebut adalah :
عَن ابي موسى رضى الله عنه قال, قالوا يا رسول الله اْي الاسلام افضل؟ قال من سلم المسلمون من لسا نه و يده  (رواه البخاري و غيره )[4]
                                                                                                
Dari Abu Hurairoh berkata : Bahwa Rosululloh SAW ditanya (oleh seseorang), “Amalan apakan yang paling utama?” Beliau menjawab “Beriman kepada Alloh”. (Beliau) ditanya lagi “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab “Jihad di jalan Alloh.” (Beliau) ditanya lagi “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab “Haji Mabrur”. 
عن ابي هريرة ان رسول الله صل الله عليه وسلم سئل اي العمل افضل؟ فقال ايمان بالله وسوله قيل ثم ماذا؟قال الجهاد في سبيل الله قيل ثم ماذا؟ قال حج مبرور (رواه البخاري و غيره ) [5]
                                                                                                                                                
(Hadis riwayat) dari Abudullah bin Mas’ud, dia berkata : “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW : Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab : “Sholat pada waktunya”. Bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua” bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab “Jihad di jalan Alloh”.
Pada kedua hadis diatas dapati dilihat bahwasannya kedua hadis tersebut mempunyai pertanyaan yang sama akan tetapi memiliki jawaban yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Jawaban yang diberikan nabi sangat memperhatikan kondisi psikologi sang penanya. Dalam konteks ini seakan Rosulullah menjadi seorang psikiater yang memberikan jawaban kepada dua orang yang memiliki perbedaan dalam kehidupan mereka.
Pada saat sang penanya adalah seorang yang sering berbuat maksiat dan lain sebagainya, maka kapasitas Nabi disini menjadi seorang pembimbing dan menasehatinya agar menghindarkan dirinya dari maksiat.
Pada saat sang penanya merupakan orang yang terlalu sibuk dengan urusan sendirinya, sering mengulur waktu solat, bahkan sampai lupa berbakti kepada orang tuanya, maka amalan yang paling utama baginya adalah solat pada waktunya dan berbakti kepada orang tuanya.
Dalam memahami hadis dengan pendekatan ini mempunyai dua kemungkinan, yang pertama: jawaban dari Rosul hanya untuk orang yang bertanya saja, kedua: mempertimbangkan bahwasannya jawaban nabi merupakan petunjuk umum bagi kelompok masyarakat, yang dalam kesehariannya memerlukan bimbingan dengan menekan adanya amalan-amalan tertentu. Orang yang bertanya berfungsi sebagai wakil dari hadis yang diberikan Rosul untuk memberikan bimbingan bagi masyarakat.
Kesimpulan
 Dari pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa beberapa pendekatan dalam memahami hadits tersebut tidak bisa diterapkan dalam seluruh hadits nabi, tetapi dengan melihat aspek-aspek di luar teks seperti asbab wurud, setting social kondisi social keagamaan yang berkembang pada saat hadits disabdakan, tentu akan dapat diketahui pendekatan mana yang lebih tepat dalam untuk dipakai dalam memahami hadits tersebut.[6] Wallahu A’lam.




 DAFTAR PUSTAKA                                 
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka. Jakarta.
Imam Nawawi, Sahih Muslim, Darul Ma’rifat, Beirut Lebanon. Cet.2, 2002.
Imam Abi Abdillah,  Sahih Buhari, Darul Kutub al ’Imiyah, Beirut Lebanon, cet 1, 1992.
Nizar Ali, Memahami Hadis Nabi (Metode dan Pendekatan) Yogyakarta : CESaD YPI AL-Rahmah, cetakan pertama, 2001. 
Sarwono, Wirawan Sarwono, Teori-Teori Psikologi Sosial, Jakarta : Raja Grafindo Persada, cetakan ke-empat, 1998.
Werungan, Psikologi Sosial, Bandung : Eresko, cetakan ke-sebelas, 1988.


[1] Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka Jakarta. Hal 901.
[2].Wirawan Sarwono, Teori-Teori Psikologi Sosial, Jakarta : Raja Grafindo Persada, cetakan ke-empat, 1998.h. 27.
[3] Nizar Ali, Memahami Hadis Nabi, YPI Al-Rahmah Yogyakarta. Hal 108.
[4]. Shahih Bukhari, juz I, h. 14. 
[5]. Ibid. 
[6]. Ibid.

No comments:

Post a Comment