Bissmillahirrohmannirrohim
"Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami"
(QS Al -Ankabut: 69)
Dalam hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dari Anas bin Malik, Nabi bersabda: "Ada seorang lelaki yang pernah bertanya kepada RAsulullah SAW tentang hari Kiamat. Lelaki itu bertanya, "Bilakah datang hari kiamat?" Beliau balik bertanya, "Apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambutmu?" Lelaki itu menjawab, "Tidak ada yang bisa kupersiapkan. Hanya saja aku mencintai Allah dan RasuluNya." Maka Rasulullah SAW berkomentar, "Engkau akan dikumpulkan bersama orang yang engkau cintai."
Anas, berujar, "Kami tidak pernah bersenang hati sebagaimana senangnya kami ketika beliau mendengar, "Engkau akan dikumpulkan bersama orang yang engkau cintai." Sementara saya mencintai NAbi, Abu Bakar dan Umar. Saya berharap semoga saya bisa bersama mereka karena kecintaan saya kepada mereka, mskipun saya tidak mampu mengamalkan apa yang mereka amalkan."
(Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya dalam kitab Fadha'ilush Shahabah, VI bab Keutamaan Umar bin al-Khattab, hadits no. 368897/51,52)
Ya Allah sesungguhnya kami bersaksi bahwa kami mencintai Nabi kami Muhammad SAW dan para sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan melaksanakan kebajikan. Ya Allah sertakanlah kami dengan mereka dan kumpulkanlah kami bersama golongan mereka, meskipun akhlak dan amal perbuatan kami tidak sepadan dengan akhlak dan amal perbuatan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa saudara-saudara yang telah mendahului kami dengan keimanan, dan janganlah Engkau jadikan di hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Rabb, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Rabb, semoga Engkau dengarkan doa kami ini. Amin
(Sumber: Belajar Etika dari Generasi Salaf, Abdul Aziz bin NAshir al-Jalil dan Bahauddin bin Fatih Uqail. Darul Haq, 2004)
Saturday, August 29, 2009
sholat taubat
Assalamu'alaykum Wr. Wb.,
Sedikit bertanya saja dan tolong bagi yang bisa agar menjawab dengan dalil yang bisa dipertanggung jawabkan ...adakah sholat tobat itu sebenarnya ..? siapa perawinya dan bagaimana status hadis tersebut ..? apakah ada contoh dari Rasulullah ...? dikitab apa atau software apa saya bisa menemukannya ... jika ada informasi situsnya sangat saya harapkan ...
Maaf, sesekali boleh khan gantian saya yang bertanya ....semoga ada yang bisa menjawabnya.
Wassalam.,
Armansyah
http://armansyah.swaramuslim.net
Waalikum Salam, Wr Wb
Dalil yang menjelaskan disyariatkan shalat taubat adalah hadits-hadits berikut ini:
Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tiada seorang pun yang berdosa, kemudian ia berwudhu, lalu shalat serta memohon ampun kepada Allah, melainkan ia diampuni oleh-Nya." Selanjutnya beliau membaca ayat yang artinya, "Orang-orang yang mengerjakan keburukan atau menganiaya diri sendiri, lalu ingat kepada Allah serta memohon ampun atas dosa-dosanya, dan memang siapa lagi yang kuasa mengampuni dosa-dosa itu selain Allah, lagi pula mereka tidak terus-menerus berbuat dosa, sedangkan mereka juga mengetahui sendiri. Maka untuk mereka ini disediakan balasan pahala ampunan dari Tuhan serta surga yang mengalir beberapa sungai di bawahnya, mereka tetap berdiam di sana untuk selama-lamanya." (Ali Imran: 135-136) (Diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah, Baihaqi dan Tirmidzi yang berkata hadits ini adalah hasan).
Thabrani dalam kitab Alkabir dengan san
ad hasan meriwayatkan dari Abu Darda' bahwa nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Barangsiapa berwudhu' dan menyempurnakan wudhu'nya kemudian berdiri shalat dua raka'at atau empat raka'at, baik yang fardhu atau yang bukan fardu, disempurnakannya pula ruku' dan sujudnya lalu memohon ampunan kepada Allah pasti, Allah akan mengampuninya." Wallahu A'ma bi Shawwab.
----- Original Message -----
From: rayi nda
To: myquran@googlegroups.com
Sent: Wednesday, March 15, 2006 9:54 AM
Subject: [myQers] Re: mohon bantuan solusinya
Assalmualaikum warahmatullahi wabarokatuh
menurut saya, kalau mau tobat. solat tobat aja, tp yg nasuha. maksudnya, hbs tobat, jgn dilakuin lagi pbuatan dosa yg dulu itu.
masalah balesan thd org2 yg uda nyakitin di Y, pasrahin aja d sm Allah subhanahu wa ta'ala. Allah Maha Adil, kok..
klo blm pakai jilbab, mulai pakai dr sekarang. pakai jilbaba kan wajib. di dalam jilbab itulah ada kehormatan.
Dan apa yg tjadi slama ini, itu mungkin cobaan. sabar.. dan jgn sampe trjrumus lg.
klo kita uda brusaha yg tbaik dlm mencari ridho Allah, Allah selalu tau kok.
Do the best, let God do the rest.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
timi wrote:
Ass. Wr. Wb
Sahabat millis salam perkenalan sebelumnya, saya mohon batuan solusi dan nasehatnya.
Saya punya seorang sahabat wanita satu kantor dengan saya, dia sedang punya masalah mungkin sangat berat sekali untuknya. Sebutlah namanya " Y "dia anak yatim piatu. Dia punya 3 kakak laki-laki yang semuanya sudah berkeluarga, dan dia punya 2 orang adik wanita dan laki-laki. Dia bekerja keras untuk membiayai sekolah kedua adiknya sampai mereka bekerja, bahkan waktu ibunda sakit dia juga yang membiayai rumah sakit dan pengobatannya, kasihan sekali dia sedangkan kakak laki-laki lepas tangan begitu saja, mereka malah sibuk bagi-bagi warisan, sedangkan si Y membayar hutang-hutang orang tua dari uang pribadinya sendiri. Sampai suatu hari dia bertemu dengan seorang duda yang kelihatan begitu sangat memperhatikan dan sayang sama dia, mereka menjalin kasih selama 2 tahun! dan dalam 2 tahun itu dia pernah berbuat zina.Sampai akhirnya ternyata siduda tsb mengkhianatinya dan meninggalkan dia. Padahal dalam pacaran selama 2 tahun itu dia juga mengalami kekerasan fisik oleh siduda, dia lanjutin hubungan tsb krn merasa hanya siduda yang sayang sama dia, sedangkan dalam keluarga dia hanya dimanfaatkan uangnya saja.Kenyataan berbeda dari harapan nya dia juga dikuras uangnya oleh siduda bahkan dia yang bayar hutang-hutang kartu kredit atas nama si Y demi siduda sampai saat ini. Sedangkan siduda tsb tidak tahu hilang kemana.
Sahabat millis saya minta saran atas masalah yang siY hadapi krn saya pernah melihat dia coba membunuh dirinya krn tidak sanggup hadapi kenyataan hidupnya itu.Dia pernah bilang kesaya dia mau taubat, bagaimana caranya ? apakah Allah tidak sayang sama dia ? adilkah setelah apa yang dia korbankan untuk keluarga dan orang lain ? dan apak hukumannya untuk orang yang pernah berbuat zina? dia ingin cepat2 menikah tapi apakah masih ada yang mau, setelah apa yang dia perbuat dimasa lalunya? apakah dia juga harus jujur kepada calon suaminya nanti ? lalu dengan siduda tsb, apakah siduda itu akan mendapatkan hukuman dari Allah atas kezholiminan yang dia lakukan terhadap anak yatim piatu tsb, sedangkan dia punya 3 anak perempuan ? apa balalasan
Sedikit bertanya saja dan tolong bagi yang bisa agar menjawab dengan dalil yang bisa dipertanggung jawabkan ...adakah sholat tobat itu sebenarnya ..? siapa perawinya dan bagaimana status hadis tersebut ..? apakah ada contoh dari Rasulullah ...? dikitab apa atau software apa saya bisa menemukannya ... jika ada informasi situsnya sangat saya harapkan ...
Maaf, sesekali boleh khan gantian saya yang bertanya ....semoga ada yang bisa menjawabnya.
Wassalam.,
Armansyah
http://armansyah.swaramuslim.net
Waalikum Salam, Wr Wb
Dalil yang menjelaskan disyariatkan shalat taubat adalah hadits-hadits berikut ini:
Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tiada seorang pun yang berdosa, kemudian ia berwudhu, lalu shalat serta memohon ampun kepada Allah, melainkan ia diampuni oleh-Nya." Selanjutnya beliau membaca ayat yang artinya, "Orang-orang yang mengerjakan keburukan atau menganiaya diri sendiri, lalu ingat kepada Allah serta memohon ampun atas dosa-dosanya, dan memang siapa lagi yang kuasa mengampuni dosa-dosa itu selain Allah, lagi pula mereka tidak terus-menerus berbuat dosa, sedangkan mereka juga mengetahui sendiri. Maka untuk mereka ini disediakan balasan pahala ampunan dari Tuhan serta surga yang mengalir beberapa sungai di bawahnya, mereka tetap berdiam di sana untuk selama-lamanya." (Ali Imran: 135-136) (Diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah, Baihaqi dan Tirmidzi yang berkata hadits ini adalah hasan).
Thabrani dalam kitab Alkabir dengan san
ad hasan meriwayatkan dari Abu Darda' bahwa nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Barangsiapa berwudhu' dan menyempurnakan wudhu'nya kemudian berdiri shalat dua raka'at atau empat raka'at, baik yang fardhu atau yang bukan fardu, disempurnakannya pula ruku' dan sujudnya lalu memohon ampunan kepada Allah pasti, Allah akan mengampuninya." Wallahu A'ma bi Shawwab.
----- Original Message -----
From: rayi nda
To: myquran@googlegroups.com
Sent: Wednesday, March 15, 2006 9:54 AM
Subject: [myQers] Re: mohon bantuan solusinya
Assalmualaikum warahmatullahi wabarokatuh
menurut saya, kalau mau tobat. solat tobat aja, tp yg nasuha. maksudnya, hbs tobat, jgn dilakuin lagi pbuatan dosa yg dulu itu.
masalah balesan thd org2 yg uda nyakitin di Y, pasrahin aja d sm Allah subhanahu wa ta'ala. Allah Maha Adil, kok..
klo blm pakai jilbab, mulai pakai dr sekarang. pakai jilbaba kan wajib. di dalam jilbab itulah ada kehormatan.
Dan apa yg tjadi slama ini, itu mungkin cobaan. sabar.. dan jgn sampe trjrumus lg.
klo kita uda brusaha yg tbaik dlm mencari ridho Allah, Allah selalu tau kok.
Do the best, let God do the rest.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
timi
Ass. Wr. Wb
Sahabat millis salam perkenalan sebelumnya, saya mohon batuan solusi dan nasehatnya.
Saya punya seorang sahabat wanita satu kantor dengan saya, dia sedang punya masalah mungkin sangat berat sekali untuknya. Sebutlah namanya " Y "dia anak yatim piatu. Dia punya 3 kakak laki-laki yang semuanya sudah berkeluarga, dan dia punya 2 orang adik wanita dan laki-laki. Dia bekerja keras untuk membiayai sekolah kedua adiknya sampai mereka bekerja, bahkan waktu ibunda sakit dia juga yang membiayai rumah sakit dan pengobatannya, kasihan sekali dia sedangkan kakak laki-laki lepas tangan begitu saja, mereka malah sibuk bagi-bagi warisan, sedangkan si Y membayar hutang-hutang orang tua dari uang pribadinya sendiri. Sampai suatu hari dia bertemu dengan seorang duda yang kelihatan begitu sangat memperhatikan dan sayang sama dia, mereka menjalin kasih selama 2 tahun! dan dalam 2 tahun itu dia pernah berbuat zina.Sampai akhirnya ternyata siduda tsb mengkhianatinya dan meninggalkan dia. Padahal dalam pacaran selama 2 tahun itu dia juga mengalami kekerasan fisik oleh siduda, dia lanjutin hubungan tsb krn merasa hanya siduda yang sayang sama dia, sedangkan dalam keluarga dia hanya dimanfaatkan uangnya saja.Kenyataan berbeda dari harapan nya dia juga dikuras uangnya oleh siduda bahkan dia yang bayar hutang-hutang kartu kredit atas nama si Y demi siduda sampai saat ini. Sedangkan siduda tsb tidak tahu hilang kemana.
Sahabat millis saya minta saran atas masalah yang siY hadapi krn saya pernah melihat dia coba membunuh dirinya krn tidak sanggup hadapi kenyataan hidupnya itu.Dia pernah bilang kesaya dia mau taubat, bagaimana caranya ? apakah Allah tidak sayang sama dia ? adilkah setelah apa yang dia korbankan untuk keluarga dan orang lain ? dan apak hukumannya untuk orang yang pernah berbuat zina? dia ingin cepat2 menikah tapi apakah masih ada yang mau, setelah apa yang dia perbuat dimasa lalunya? apakah dia juga harus jujur kepada calon suaminya nanti ? lalu dengan siduda tsb, apakah siduda itu akan mendapatkan hukuman dari Allah atas kezholiminan yang dia lakukan terhadap anak yatim piatu tsb, sedangkan dia punya 3 anak perempuan ? apa balalasan
TIPS MENGELAK DAN MENGHINDARI DOSA
TIPS MENGELAK DAN MENGHINDARI DOSA
1. Anggaplah besar dosamu.
Abdullah bin Mas’ud ra berkata, “orang beriman melihat dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung, ia takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang fajir (suka berbuat dosa) dosanya seperti lalat yang lewat diatas hidungnya.”
2. Janganlah meremehkan dosa.
Rasulullah SAW bersabda, “ Janganlah kamu meremehkan dosa, seperti kaum yang singgah di perut lembah. Lalu seseorang datang membawa ranting dan seorang lainnya lagi datang membawa ranting sehingga mereka dapat menanak roti mereka. Kapan saja orang yang melakukan suatu dosa menganggap remeh suatu dosa, maka itu akan membinasakannya.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan)
3. Janganlah muhajarah (menceritakan dosa)
Rasulullah SAW bersabda: “ semua umatku dimaafkan kecuali muhajirun (orang yang berterus terang). Termasuk muhajarah adalah seseorang yang melakukan suatu amal (keburukan) pada malam hari kemudian pada pagi harinya ia membeberkannya, padahal Allah telah menutupinya, ia berkata, “wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan demikian dan demikian.” Pada malam harinya Tuhannya telah menutupi kesalahannya tetapi pada pagi harinya ia membuka tabir Allah yang menutupinya.” (HR Bukhari dan Muslim)
4. Taubat nasuha yang tulus
Rasulullah SAW bersabda, “Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya tatkala bertaubat daripada seorang diantara kamu yang berada di atas kendarannya di padang pasir yang tandus. Kemudian kendaraan itu hilang darinya, padahal di atas kendaraan itu terdapat makanan dan minumannya. Ia sedih kehilangan hal itu, lalu ia menuju pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keadaan bersedih terhadap kendaraannya itu. Saat ia dalam keadaan seperti itu tiba-tiba kendaraannya muncul di dekatnya, lalu ia mengambil tali kendalinya.
Kemudian ia berkata karena sangat bergembira, “Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu. Ia salah ucap karena sangat bergembira. “
(HR Bukhari dan Muslim)
5. Jika dosa berulang, maka ulangi bertaubat.
Ali bin Abi Thalib ra. Berkata, “Sebaik-baik kalian adalah setiap orang yang diuji (dengan dosa) ia bertubat. Ditanyakan, “Jika ia mengulangi lagi?” Ia menjawab, “Ia beristighfar kepada Allah da bertubat.” Ditanyakan, “Jika ia kembali berbuat dosa?”
Ia menjawab, “Ia beristighfar kepada Allah dan bertaubat.” Ditanyakan lagi “Sampai kapan?” Dia menjawab, “ Sampai setan berputus asa.”
6. Jauhi faktor-faktor penyebab kemaksiatan.
Orang yang bertubat harus menjauhi situasi dan kondisi yang biasa ia temui pada saat melakukan kemaksiatan serta menjauh darinya secara keseluruhan dan sibuk dengan selainnya.
Rasululah SAW beristighfar kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali ( dalam hadits lain 100 kali)
7. Melakukan kebajikan setelah keburukan
Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebajikan maka kebajikan itu akan menghapus keburukan tersebut, serta perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Ahmad dan Tirmidzi menilai hadits ini hasan sahih)
8. Merealisasikan tauhid
Rasulullah SAW bersabda, “Allah ‘azza wa jalla berfirman (dalam hadits qudsi), ‘Barangsiapa yang emlakukan kebajikan maka ia mendapatlan pahala sepuluh kebajikan dan Aku tambah dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka balasannya satu keburukan yang sama, atau diampuni dosanya. Barangsiapa yang mendekat kepadaKu sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta dan barangsiapa yang mendekat kepadaKu sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa, barangsiapa yang datang kepadaKu dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari. Barangsiapa yang menemuiku dengan dosa sepenuh bumi tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, maka Aku menemuinya dengan maghfirah yang sama.” (HR Muslim dan Ahmad)
9. Jangan berpisah dengan orang-orang yang baik
Persahabatan dengan orang-orang baik adalah amal shalih
Mencintai orang-orang shalih menyebabkan seseorang bersama mereka, walaupun ia tidak mencapai kedudukan mereka dalam amal
Penyesalan dan penderitaan karena melakukan kemaksiatan hanya dapat dipetik dari persahabatan yang baik
10. Jangan cela orang lain karena perbuatan dosanya
Rasulullah SAW menceritakan kepada para sahabat bahwasanya seseorang berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Allah SWT berkata, “Siapakah yang bersumpah atas namaKu bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungghnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapus amalnya.” (HR Muslim)
(Sumber: Mutiara Amaly vol 24)
1. Anggaplah besar dosamu.
Abdullah bin Mas’ud ra berkata, “orang beriman melihat dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung, ia takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang fajir (suka berbuat dosa) dosanya seperti lalat yang lewat diatas hidungnya.”
2. Janganlah meremehkan dosa.
Rasulullah SAW bersabda, “ Janganlah kamu meremehkan dosa, seperti kaum yang singgah di perut lembah. Lalu seseorang datang membawa ranting dan seorang lainnya lagi datang membawa ranting sehingga mereka dapat menanak roti mereka. Kapan saja orang yang melakukan suatu dosa menganggap remeh suatu dosa, maka itu akan membinasakannya.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan)
3. Janganlah muhajarah (menceritakan dosa)
Rasulullah SAW bersabda: “ semua umatku dimaafkan kecuali muhajirun (orang yang berterus terang). Termasuk muhajarah adalah seseorang yang melakukan suatu amal (keburukan) pada malam hari kemudian pada pagi harinya ia membeberkannya, padahal Allah telah menutupinya, ia berkata, “wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan demikian dan demikian.” Pada malam harinya Tuhannya telah menutupi kesalahannya tetapi pada pagi harinya ia membuka tabir Allah yang menutupinya.” (HR Bukhari dan Muslim)
4. Taubat nasuha yang tulus
Rasulullah SAW bersabda, “Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya tatkala bertaubat daripada seorang diantara kamu yang berada di atas kendarannya di padang pasir yang tandus. Kemudian kendaraan itu hilang darinya, padahal di atas kendaraan itu terdapat makanan dan minumannya. Ia sedih kehilangan hal itu, lalu ia menuju pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keadaan bersedih terhadap kendaraannya itu. Saat ia dalam keadaan seperti itu tiba-tiba kendaraannya muncul di dekatnya, lalu ia mengambil tali kendalinya.
Kemudian ia berkata karena sangat bergembira, “Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu. Ia salah ucap karena sangat bergembira. “
(HR Bukhari dan Muslim)
5. Jika dosa berulang, maka ulangi bertaubat.
Ali bin Abi Thalib ra. Berkata, “Sebaik-baik kalian adalah setiap orang yang diuji (dengan dosa) ia bertubat. Ditanyakan, “Jika ia mengulangi lagi?” Ia menjawab, “Ia beristighfar kepada Allah da bertubat.” Ditanyakan, “Jika ia kembali berbuat dosa?”
Ia menjawab, “Ia beristighfar kepada Allah dan bertaubat.” Ditanyakan lagi “Sampai kapan?” Dia menjawab, “ Sampai setan berputus asa.”
6. Jauhi faktor-faktor penyebab kemaksiatan.
Orang yang bertubat harus menjauhi situasi dan kondisi yang biasa ia temui pada saat melakukan kemaksiatan serta menjauh darinya secara keseluruhan dan sibuk dengan selainnya.
Rasululah SAW beristighfar kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali ( dalam hadits lain 100 kali)
7. Melakukan kebajikan setelah keburukan
Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebajikan maka kebajikan itu akan menghapus keburukan tersebut, serta perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Ahmad dan Tirmidzi menilai hadits ini hasan sahih)
8. Merealisasikan tauhid
Rasulullah SAW bersabda, “Allah ‘azza wa jalla berfirman (dalam hadits qudsi), ‘Barangsiapa yang emlakukan kebajikan maka ia mendapatlan pahala sepuluh kebajikan dan Aku tambah dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka balasannya satu keburukan yang sama, atau diampuni dosanya. Barangsiapa yang mendekat kepadaKu sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta dan barangsiapa yang mendekat kepadaKu sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa, barangsiapa yang datang kepadaKu dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari. Barangsiapa yang menemuiku dengan dosa sepenuh bumi tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, maka Aku menemuinya dengan maghfirah yang sama.” (HR Muslim dan Ahmad)
9. Jangan berpisah dengan orang-orang yang baik
Persahabatan dengan orang-orang baik adalah amal shalih
Mencintai orang-orang shalih menyebabkan seseorang bersama mereka, walaupun ia tidak mencapai kedudukan mereka dalam amal
Penyesalan dan penderitaan karena melakukan kemaksiatan hanya dapat dipetik dari persahabatan yang baik
10. Jangan cela orang lain karena perbuatan dosanya
Rasulullah SAW menceritakan kepada para sahabat bahwasanya seseorang berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Allah SWT berkata, “Siapakah yang bersumpah atas namaKu bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungghnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapus amalnya.” (HR Muslim)
(Sumber: Mutiara Amaly vol 24)
Friday, August 28, 2009
Tips Praktis Merawat Kemampuan Kreativitas Otak
Tips Praktis Merawat Kemampuan Kreativitas Otak
by: Rima Olivia, EXPERD Consultant
Friday, April 15, 2005
Sulit mengeluarkan ide segar saat meeting?
Sukar mencari cara terefisien melakukan pekerjaan Anda?
Tidak mampu melihat cara lain dari penyelesaian masalah praktis?
Keadaan di atas boleh jadi merupakan tanda-tanda benak Anda membutuhkan ‘makanan baru’. Rutinitas pekerjaan, tekanan produksi dan tenggat waktu yang ketat seringkali membuat kita melupakan kesempatan me-recharge baterai alami sekaligus prosesor komputer tercanggih yang kita miliki: Otak.
Kebiasaan beraktivitas, pola makan dan teman-teman gaul Anda, perlu diperiksa lagi agar kecanggihan mesin ajaib di tubuh kita ini dalam keadaan terawat. Kebiasaan lama ibarat jalan tol sepanjang 100 km menuju lokasi tujuan yang dilalui oleh ribuan kendaraan. Namun, aktivitas baru dapat dianalogikan dengan jalan setapak sangat mungkin berjarak 50 km ke lokasi yang Anda tuju. Jadi mendengar musik yang itu-itu saja dan membaca surat kabar yang sama setiap hari membuat Anda merasa jalan tol ini adalah rute paling ‘dekat’ menuju tujuan Anda.
Berikut ini beberapa tips yang dapat membuat Anda lebih cepat membangun dan menemukan ‘jalan setapak’ baru yang lebih singkat:
1. Baca majalah/ surat kabar / buku dengan topik yang belum pernah Anda kenali sebelumnya. Informasi yang sama sekali baru, adalah bahan bakar dari proses kreatif Anda.
2. Ikuti kelas-kelas keterampilan baru, seperti: kursus fotografi, keterampilan menulis kreatif, kursus mematung, kursus menggambar atau kursus menari India. Aktivitas motorik yang sama sekali baru dapat memberi perspektif baru dalam kegiatan sehari-hari yang Anda jalani.
3. Hasilkan sesuatu: artikel, tulisan, gambar, sketsa dan lukisan. Anda dapat juga membuat coretan berupa simbol-simbol dari alur pekerjaan Anda. Coretan berupa simbol dapat membantu Anda berpikir secara simbolis dan visual. Bila Anda terbiasa berpikir dengan kata-kata, berpikir dengan gambar, akan memudahkan lahirnya ide baru. Perasaan produktif juga dapat memacu Anda untuk menghasilkan hal lain lagi.
4. Lakukan Olahraga ritmis dan bersifat aerobik secara teratur. Berenang, jogging dan jalan cepat bermanfaat jika kita sedang tersendat saat berpikir suatu masalah. Aktivitas repetitif semacam ini memudahkan kegiatan berpikir di bawah sadar ‘meloncat’ keluar.
5. Nikmati musik. Dengarkan lagu-lagu dari jenis musik yang berbeda dari yang biasa Anda dengar. Ingin melakukan aktivitas mental yang lebih rumit? Belajar untuk memainkan instrumen musik baru.
6. Memasak. Ini serius! Mengolah makanan yang mentah menjadi sajian yang matang dan menggoda dengan seluruh proses prosedur memasak melibatkan seluruh otak Anda. Jika ingin sekalian menikmatinya, jangan lupakan kerang, ikan laut. Makanan berprotein tinggi, adalah amunisi andalan bagi otak Anda.
7. Bertemu dan bersosialisasi dengan orang baru. Membangun hubungan dengan orang baru menambah persepsi baru tentang hidup dan kehidupan. Pelajari cara orang lain memandang masalah dan menyelesaikannya.
8. Lalui rute baru di perjalanan Anda. Secara aktif mencari jalur alternatif baru selain menambah peluang menghidari kemacetan juga dapat melatih kemampuan keruangan dan daya ingat.
Jadi jangan biarkan sel-sel otak Anda diam sehingga lama-kelamaan menyusut. Rawat dan kembangkan kemampuan Anda agar benda ajaib ini dapat berproduksi optimal.
by: Rima Olivia, EXPERD Consultant
Friday, April 15, 2005
Sulit mengeluarkan ide segar saat meeting?
Sukar mencari cara terefisien melakukan pekerjaan Anda?
Tidak mampu melihat cara lain dari penyelesaian masalah praktis?
Keadaan di atas boleh jadi merupakan tanda-tanda benak Anda membutuhkan ‘makanan baru’. Rutinitas pekerjaan, tekanan produksi dan tenggat waktu yang ketat seringkali membuat kita melupakan kesempatan me-recharge baterai alami sekaligus prosesor komputer tercanggih yang kita miliki: Otak.
Kebiasaan beraktivitas, pola makan dan teman-teman gaul Anda, perlu diperiksa lagi agar kecanggihan mesin ajaib di tubuh kita ini dalam keadaan terawat. Kebiasaan lama ibarat jalan tol sepanjang 100 km menuju lokasi tujuan yang dilalui oleh ribuan kendaraan. Namun, aktivitas baru dapat dianalogikan dengan jalan setapak sangat mungkin berjarak 50 km ke lokasi yang Anda tuju. Jadi mendengar musik yang itu-itu saja dan membaca surat kabar yang sama setiap hari membuat Anda merasa jalan tol ini adalah rute paling ‘dekat’ menuju tujuan Anda.
Berikut ini beberapa tips yang dapat membuat Anda lebih cepat membangun dan menemukan ‘jalan setapak’ baru yang lebih singkat:
1. Baca majalah/ surat kabar / buku dengan topik yang belum pernah Anda kenali sebelumnya. Informasi yang sama sekali baru, adalah bahan bakar dari proses kreatif Anda.
2. Ikuti kelas-kelas keterampilan baru, seperti: kursus fotografi, keterampilan menulis kreatif, kursus mematung, kursus menggambar atau kursus menari India. Aktivitas motorik yang sama sekali baru dapat memberi perspektif baru dalam kegiatan sehari-hari yang Anda jalani.
3. Hasilkan sesuatu: artikel, tulisan, gambar, sketsa dan lukisan. Anda dapat juga membuat coretan berupa simbol-simbol dari alur pekerjaan Anda. Coretan berupa simbol dapat membantu Anda berpikir secara simbolis dan visual. Bila Anda terbiasa berpikir dengan kata-kata, berpikir dengan gambar, akan memudahkan lahirnya ide baru. Perasaan produktif juga dapat memacu Anda untuk menghasilkan hal lain lagi.
4. Lakukan Olahraga ritmis dan bersifat aerobik secara teratur. Berenang, jogging dan jalan cepat bermanfaat jika kita sedang tersendat saat berpikir suatu masalah. Aktivitas repetitif semacam ini memudahkan kegiatan berpikir di bawah sadar ‘meloncat’ keluar.
5. Nikmati musik. Dengarkan lagu-lagu dari jenis musik yang berbeda dari yang biasa Anda dengar. Ingin melakukan aktivitas mental yang lebih rumit? Belajar untuk memainkan instrumen musik baru.
6. Memasak. Ini serius! Mengolah makanan yang mentah menjadi sajian yang matang dan menggoda dengan seluruh proses prosedur memasak melibatkan seluruh otak Anda. Jika ingin sekalian menikmatinya, jangan lupakan kerang, ikan laut. Makanan berprotein tinggi, adalah amunisi andalan bagi otak Anda.
7. Bertemu dan bersosialisasi dengan orang baru. Membangun hubungan dengan orang baru menambah persepsi baru tentang hidup dan kehidupan. Pelajari cara orang lain memandang masalah dan menyelesaikannya.
8. Lalui rute baru di perjalanan Anda. Secara aktif mencari jalur alternatif baru selain menambah peluang menghidari kemacetan juga dapat melatih kemampuan keruangan dan daya ingat.
Jadi jangan biarkan sel-sel otak Anda diam sehingga lama-kelamaan menyusut. Rawat dan kembangkan kemampuan Anda agar benda ajaib ini dapat berproduksi optimal.
Idul Fitri hari Kebahagiaan dan Kemenangan
Idul Fitri hari Kebahagiaan dan Kemenangan
Ied-ud-Fithr terdiri dari dua kata, yaitu ied yang artinya hari raya,
dari
asal kata 'ayada yg ýartinya kembali. Dikatakan ied karena pada hari
itu
Allah s.w.t mengembalikan ýkegembiraan dan rasa suka cita kepada
hambaNya.
Ada yang mengatakan disebut ied ýkarena pada hari itu kembalinya
kebaikan-kebaikan dari Allah kepada hamba, pda hari itu ýseorang hamba
kembali dalam keadaan suci karena telah bertaubat kepada Allah dan
telah
ýmeminta maaf kepada sesamanya. ý
Kata kedua fithr yang artinya fitrah, kesucian dan kebersihan jiwa. Ini
karena pada hari ýitu seorang hamba merayakan kebersihannya dari
noda-noda
dosa karena beribadah dan ýbartubat secara intensif selama sebulan
penuh.
Maka ada yang menyebut hari idul fitri ýsebagai hari kemenangan karena
kita berhasil mengalahkan hawa nafsu kita selama ýsebulan penuh. ý
Tidak hanya itu, hari Idul Fitri juga menandai hari-hari besejarah.
Wahab
bin Manbah ýmeriwayatkan: "Allah menciptakan sorga pada hari Ideul
Fitri,
menanam pohon ýkeuntungan (thuuba) pda hari itu dan Allah memilih
Jibril
sebagai pembawa wahyu juga ýpada hari itu juga". ý
Idul Fitri dalam al-Qur'an
Allah s.w.t. berfirmanþ þdalam surah al-A'la (14-15)ý
ÞÏ ÃÝáÍ ãä ÊÒßì * æÐßÑ ÇÓã ÑÈå ÝÕáì *þ
ý"Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan
beriman),
dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. "ý
Qatadah dan Ata' mengatakan yang dimaksud dengan membersihkan diri
dalam
ayat ini ýadalah mengeluarkan zakat fitrah. Abu Said al-Khudri berkata:
yang dimaksud dengan ýý"ingat nama Tuhannya" adalah dengan
mengumandangkan
takbir pada hari Idul Fitri dan ýbersembahyang maksudnya sholat Ied". ý
Fadlilah Idul Fitri
Banyak fadlilah dan keutamaan yang diturunkan Allah s.w.t. pada hari
idul
fitri. Dari ýAnas bin Malik Rasulullah s.a.w. bersabda " Pada malam
Idul
Fitri Allah membayarkan ýpahala orang-orang yang berpuasa Ramadhan,
lalu
Allah memerintahkan kepada ýmalaikat-malaikatNya di pagi hari itu agar
turun ke bumi, mereka berdiri di ujung-ujung ýjalan dan pintu-pintu
masuk
perkampungan seraya menyerukan kepada mahluk di bumi ýini dengan suara
lantang yang didengarkan oleh semua mahluk bumi kecuali manusia dan
ýjin :
wahai umat Muhammad kelaurlah kepada Tuhanmu Yang Maha Besar, Menerima
ýhal kecil, Membalas dengan kebesaran, Memaafkan dosa besar. Ketika
mereka
mulai ýberduyun-duyun ke masjid-masjid dan mendirikan sholat dan
berdoa,
maka Allah tidak ýmendengar permintaan mereka kecuali mengabulkan
hajatnya, memberi permintaannya ýdan mengampui dosa-dosanya. Lalu
mereka
keluar dari masjid dalam keadaan diampuni ýoleh Allah". ý
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa malam Idul Fitri disebut malam pemberian
hadiah, pada ýmalam itu Allah berseru kepada malaikatnya: "Aku bersaksi
wahai malaikatku bahwa ýAku telah memberikan pahala puasa
hamba-hambaKu,
pahala sholat-sholat mereka. Aku ýlimpahkan kepada mereka ridal dan
ampunanKu. Kemudian Allah berfirman "Wahai ýhamba-hambaku, demi
keagungan
dan kemuliayaanKu, apapun yang kalian minta untuk ýhari akhirmu pasti
akan
Kukabulkan, apapun yang kalian minta untuk dunia kalian pasti ýakan
Kuikutkan, Aku akan tutupi kekuranganmu sejauh engkau mengingatKu,
keluarlah ýdengan ampunan dan ridlaKu". ý
Sebelum Idul Fitri Tiba
Sebelum Idul Fitri datang ada baiknya kita persiapkan hal-hal yang
selayaknya kita ýpersiapkan untuk hari mulia itu. Kita perhatikan
persiapan-persiapan itu mulai dari yang ýwajib lalu yang sunnah.
Pertama
yang harus kita kerjakan menjelang hari Iedul Fitri ýadalah membayar
Zakat
Fitrah. Zakat Fitrah waktunya adalah mulai mata hari terbenam ýmalam
Ied
hingga mulai didirikan sholat Ied. Dalam hadist riwayat Ibnu Umar,
ýRasulullah s.a.w. memerintahkan agar mengeluarkan zakat fitrah sebelum
masyarakat ýkeluar untuk menjalankan sholat Ied" (H.R. Jamaah). Hadist
Ibnu Abbas menegaskan ýbahwa "Barangsiapa mengeluarkan Zakat Fitrah
sebelum sholat Ied maka itu merupakan ýZakat Fitrah yang diterima dan
barangsiapa mengeluarkannya setelah sholat Ied maka itu ýseperti
sedekah
biasa" (H.R. Abud Dawud).ý
Amalan-amalan lain yang disunnahkan menjelang Idul Fitri adalah sbb:ý
ý1. ý Menghidupkan malam Idul Fitri dengan memperbanyak beribadah
kepada
Allah, ýbaik itu dzikir, sholat atau membaca al-Qur'an. Melantunkan
kalimat takbir juga ýmerupakan ibadah yang dianjurkan pada malam Idul
Fitri. Dalam sebuah hadist ýriwayat Udah bin Shamit Rasulullah bersabda
:"Barang siapa menghidupkan ýmalam Ied dengan beribadah kepada Allah,
niscaya hatinya tidak akan mati di hari ýdimana hati-hati manusia telah
mait" (H.R. Thabrani). ý
ý2.ý Mandi, memakai wangi-wangian, memakai pakaian yang terbaik,
memendekkan ýkuku yang panjang dan menghilangkan bau badan. ý
ý3.ý Bagi makmum disunnahkan agar datang ke masjid atau tempat sholat
Ied
dengan ýberjalan kaki dan berangkat pagi-pagi setelah sholat Subuh.
Sedangkan bagi imam ýdisunnahkan mengakhirkan kedatangannya ke masjid
hingga menjelang sholat.ý
ý4.ý Disunnahkan sarapan pagi dengan bilangan kurma ganjil sebelum
berangkat ke ýmasjid untuk sholat Ied. (H.R. Bukhari)ý
ý5.ý Menunjukkan rasa gembira dan bahagia kepada semua orang yang
ditemui
serta ýbersikap dermawan lebih dari hari-hari biasa.ý
Sholat Idul Fitri
Sholat Idul Fitri hukumnya sunnah mu'akkadah menurut Syafi'iyah dan
Malikiyah. ýSedangkan menurut Hanbali hukumnya Fardlu Kifayah dan
menurut
Hanafiyah ýhukumnya Wajib.ý
Waktu Sholat Ied adalah setelah matahari terbit setinggi tombak hingga
waktu tengah ýhari. Jadi waktu sholat Ied sama dengan wakatu sholat
Dhuha.ý
Tempat dilaksanakan sholat Ied menurut mayoritas ulama adalah di
lapangan
luar kota ýkecuali kota Makkah dimana sholat Ied lebih utama
dilaksanakan
di Masjidil Haram. ýMayoritas ulama juga berpendapat bahwa sholat Ied
di
masjid dengan tanpa sebab seperti ýhujan, hukumnya makruh. (Sesuai
hadist
Abu Dawud dll.). Hanya ulama Syafi'iyah yang ýmengatakan bahwa sholat
Ied
di masjid lebih utama dalam segala kondisi, dengan alasan ýdan dalil
bahwa
masjid merupakan tempat yang lebih mulya dari tempat apapun,
ýterkecuali
bila masjid sempit sehingga tidak menampung semua jamaah, maka
ýdisunnahkan di lapangan.ý
Slilaturrahmi dan saling meminta maaf
Kebersihan jiwa yang tercipta oleh ibadah puasa kita selama sebulan
penuh
akan lebih ýsempurna kalau dipoles dengan pembershihan diri dari
hak-hak
orang lain. Dosa kita ýkepada Allah telah kita tebus dengan ibadah dan
taubat selama sebulan penuh, kini ýsaatnya dosa-dosa kita kepada teman
dan
saudara kita juga kita hapuskan dengan saling ýmeminta maaf dan saling
mendoakan. Dalam sebuah hadist riwayat Salman al-Farisi ýRasulullah
menyatakan :"Seorang muslim ketika bertemu dengan saudaranya seiman,
lalu
ýdiambilnya tangan saudara bersalaman, maka dosa-dosa keduanya
berjatuhan
laksana ýjatuhnya daun-daun dari pepohonan kering di saat angin
berhembus,
dosa-dosa keduanya ýdiampuni meskipun sebanyak buih lautan" (H.R.
Thabrani).ý
Pada hari Idul Fitri ini juga saatnya mempererat tali silaturrahmi yang
sudah terjalin dan ýmenyambung tali silaturrahmi yang terputus. Saling
mengunjungi saudara dan sahabat ýmerupakan cara untuk meningkatkan tali
silaturrahmi tersebut. Mungkin di luar hari raya ýkita enggan untuk
berkunjung ke teman atau sahabat kita karena tidak ada alasan yang
ýtepat,
maka di hari Iedul Fitri ini kita manfaatkan untuk seling berkunjung. ý
Minal Aidin Wal Faizin
Semoga Amal Ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah Yang
Maha ýAgung.ý
Disusun oleh ý
Muhammad Niam, LLM
Ied-ud-Fithr terdiri dari dua kata, yaitu ied yang artinya hari raya,
dari
asal kata 'ayada yg ýartinya kembali. Dikatakan ied karena pada hari
itu
Allah s.w.t mengembalikan ýkegembiraan dan rasa suka cita kepada
hambaNya.
Ada yang mengatakan disebut ied ýkarena pada hari itu kembalinya
kebaikan-kebaikan dari Allah kepada hamba, pda hari itu ýseorang hamba
kembali dalam keadaan suci karena telah bertaubat kepada Allah dan
telah
ýmeminta maaf kepada sesamanya. ý
Kata kedua fithr yang artinya fitrah, kesucian dan kebersihan jiwa. Ini
karena pada hari ýitu seorang hamba merayakan kebersihannya dari
noda-noda
dosa karena beribadah dan ýbartubat secara intensif selama sebulan
penuh.
Maka ada yang menyebut hari idul fitri ýsebagai hari kemenangan karena
kita berhasil mengalahkan hawa nafsu kita selama ýsebulan penuh. ý
Tidak hanya itu, hari Idul Fitri juga menandai hari-hari besejarah.
Wahab
bin Manbah ýmeriwayatkan: "Allah menciptakan sorga pada hari Ideul
Fitri,
menanam pohon ýkeuntungan (thuuba) pda hari itu dan Allah memilih
Jibril
sebagai pembawa wahyu juga ýpada hari itu juga". ý
Idul Fitri dalam al-Qur'an
Allah s.w.t. berfirmanþ þdalam surah al-A'la (14-15)ý
ÞÏ ÃÝáÍ ãä ÊÒßì * æÐßÑ ÇÓã ÑÈå ÝÕáì *þ
ý"Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan
beriman),
dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. "ý
Qatadah dan Ata' mengatakan yang dimaksud dengan membersihkan diri
dalam
ayat ini ýadalah mengeluarkan zakat fitrah. Abu Said al-Khudri berkata:
yang dimaksud dengan ýý"ingat nama Tuhannya" adalah dengan
mengumandangkan
takbir pada hari Idul Fitri dan ýbersembahyang maksudnya sholat Ied". ý
Fadlilah Idul Fitri
Banyak fadlilah dan keutamaan yang diturunkan Allah s.w.t. pada hari
idul
fitri. Dari ýAnas bin Malik Rasulullah s.a.w. bersabda " Pada malam
Idul
Fitri Allah membayarkan ýpahala orang-orang yang berpuasa Ramadhan,
lalu
Allah memerintahkan kepada ýmalaikat-malaikatNya di pagi hari itu agar
turun ke bumi, mereka berdiri di ujung-ujung ýjalan dan pintu-pintu
masuk
perkampungan seraya menyerukan kepada mahluk di bumi ýini dengan suara
lantang yang didengarkan oleh semua mahluk bumi kecuali manusia dan
ýjin :
wahai umat Muhammad kelaurlah kepada Tuhanmu Yang Maha Besar, Menerima
ýhal kecil, Membalas dengan kebesaran, Memaafkan dosa besar. Ketika
mereka
mulai ýberduyun-duyun ke masjid-masjid dan mendirikan sholat dan
berdoa,
maka Allah tidak ýmendengar permintaan mereka kecuali mengabulkan
hajatnya, memberi permintaannya ýdan mengampui dosa-dosanya. Lalu
mereka
keluar dari masjid dalam keadaan diampuni ýoleh Allah". ý
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa malam Idul Fitri disebut malam pemberian
hadiah, pada ýmalam itu Allah berseru kepada malaikatnya: "Aku bersaksi
wahai malaikatku bahwa ýAku telah memberikan pahala puasa
hamba-hambaKu,
pahala sholat-sholat mereka. Aku ýlimpahkan kepada mereka ridal dan
ampunanKu. Kemudian Allah berfirman "Wahai ýhamba-hambaku, demi
keagungan
dan kemuliayaanKu, apapun yang kalian minta untuk ýhari akhirmu pasti
akan
Kukabulkan, apapun yang kalian minta untuk dunia kalian pasti ýakan
Kuikutkan, Aku akan tutupi kekuranganmu sejauh engkau mengingatKu,
keluarlah ýdengan ampunan dan ridlaKu". ý
Sebelum Idul Fitri Tiba
Sebelum Idul Fitri datang ada baiknya kita persiapkan hal-hal yang
selayaknya kita ýpersiapkan untuk hari mulia itu. Kita perhatikan
persiapan-persiapan itu mulai dari yang ýwajib lalu yang sunnah.
Pertama
yang harus kita kerjakan menjelang hari Iedul Fitri ýadalah membayar
Zakat
Fitrah. Zakat Fitrah waktunya adalah mulai mata hari terbenam ýmalam
Ied
hingga mulai didirikan sholat Ied. Dalam hadist riwayat Ibnu Umar,
ýRasulullah s.a.w. memerintahkan agar mengeluarkan zakat fitrah sebelum
masyarakat ýkeluar untuk menjalankan sholat Ied" (H.R. Jamaah). Hadist
Ibnu Abbas menegaskan ýbahwa "Barangsiapa mengeluarkan Zakat Fitrah
sebelum sholat Ied maka itu merupakan ýZakat Fitrah yang diterima dan
barangsiapa mengeluarkannya setelah sholat Ied maka itu ýseperti
sedekah
biasa" (H.R. Abud Dawud).ý
Amalan-amalan lain yang disunnahkan menjelang Idul Fitri adalah sbb:ý
ý1. ý Menghidupkan malam Idul Fitri dengan memperbanyak beribadah
kepada
Allah, ýbaik itu dzikir, sholat atau membaca al-Qur'an. Melantunkan
kalimat takbir juga ýmerupakan ibadah yang dianjurkan pada malam Idul
Fitri. Dalam sebuah hadist ýriwayat Udah bin Shamit Rasulullah bersabda
:"Barang siapa menghidupkan ýmalam Ied dengan beribadah kepada Allah,
niscaya hatinya tidak akan mati di hari ýdimana hati-hati manusia telah
mait" (H.R. Thabrani). ý
ý2.ý Mandi, memakai wangi-wangian, memakai pakaian yang terbaik,
memendekkan ýkuku yang panjang dan menghilangkan bau badan. ý
ý3.ý Bagi makmum disunnahkan agar datang ke masjid atau tempat sholat
Ied
dengan ýberjalan kaki dan berangkat pagi-pagi setelah sholat Subuh.
Sedangkan bagi imam ýdisunnahkan mengakhirkan kedatangannya ke masjid
hingga menjelang sholat.ý
ý4.ý Disunnahkan sarapan pagi dengan bilangan kurma ganjil sebelum
berangkat ke ýmasjid untuk sholat Ied. (H.R. Bukhari)ý
ý5.ý Menunjukkan rasa gembira dan bahagia kepada semua orang yang
ditemui
serta ýbersikap dermawan lebih dari hari-hari biasa.ý
Sholat Idul Fitri
Sholat Idul Fitri hukumnya sunnah mu'akkadah menurut Syafi'iyah dan
Malikiyah. ýSedangkan menurut Hanbali hukumnya Fardlu Kifayah dan
menurut
Hanafiyah ýhukumnya Wajib.ý
Waktu Sholat Ied adalah setelah matahari terbit setinggi tombak hingga
waktu tengah ýhari. Jadi waktu sholat Ied sama dengan wakatu sholat
Dhuha.ý
Tempat dilaksanakan sholat Ied menurut mayoritas ulama adalah di
lapangan
luar kota ýkecuali kota Makkah dimana sholat Ied lebih utama
dilaksanakan
di Masjidil Haram. ýMayoritas ulama juga berpendapat bahwa sholat Ied
di
masjid dengan tanpa sebab seperti ýhujan, hukumnya makruh. (Sesuai
hadist
Abu Dawud dll.). Hanya ulama Syafi'iyah yang ýmengatakan bahwa sholat
Ied
di masjid lebih utama dalam segala kondisi, dengan alasan ýdan dalil
bahwa
masjid merupakan tempat yang lebih mulya dari tempat apapun,
ýterkecuali
bila masjid sempit sehingga tidak menampung semua jamaah, maka
ýdisunnahkan di lapangan.ý
Slilaturrahmi dan saling meminta maaf
Kebersihan jiwa yang tercipta oleh ibadah puasa kita selama sebulan
penuh
akan lebih ýsempurna kalau dipoles dengan pembershihan diri dari
hak-hak
orang lain. Dosa kita ýkepada Allah telah kita tebus dengan ibadah dan
taubat selama sebulan penuh, kini ýsaatnya dosa-dosa kita kepada teman
dan
saudara kita juga kita hapuskan dengan saling ýmeminta maaf dan saling
mendoakan. Dalam sebuah hadist riwayat Salman al-Farisi ýRasulullah
menyatakan :"Seorang muslim ketika bertemu dengan saudaranya seiman,
lalu
ýdiambilnya tangan saudara bersalaman, maka dosa-dosa keduanya
berjatuhan
laksana ýjatuhnya daun-daun dari pepohonan kering di saat angin
berhembus,
dosa-dosa keduanya ýdiampuni meskipun sebanyak buih lautan" (H.R.
Thabrani).ý
Pada hari Idul Fitri ini juga saatnya mempererat tali silaturrahmi yang
sudah terjalin dan ýmenyambung tali silaturrahmi yang terputus. Saling
mengunjungi saudara dan sahabat ýmerupakan cara untuk meningkatkan tali
silaturrahmi tersebut. Mungkin di luar hari raya ýkita enggan untuk
berkunjung ke teman atau sahabat kita karena tidak ada alasan yang
ýtepat,
maka di hari Iedul Fitri ini kita manfaatkan untuk seling berkunjung. ý
Minal Aidin Wal Faizin
Semoga Amal Ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah Yang
Maha ýAgung.ý
Disusun oleh ý
Muhammad Niam, LLM
mengenal bid'ah
Selasa, 27 Mei 2003 - 08:52:03, Penulis : Ustadz Muslim
Abu Ishaq Al Atsari
Kategori : Hadits
Al Allamah Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa`di
rahimahullah memaparkan tentang bid`ah : "Bid`ah adalah
perkara yang diada-adakan dalam agama. Sesungguhnya agama
itu adalah apa yang datangnya dari Nabi shallallahu
'alaihi wasallam sebagaimana termaktub dalam Al Qur'an dan
As Sunnah. Dengan demikian apa yang ditunjukkan oleh Al
Qur'an dan As Sunnah itulah agama dan apa yang menyelisihi
Al Qur'an dan As Sunnah berarti perkara itu adalah bid`ah.
Ini merupakan defenisi yang mencakup dalam penjabaran arti
bid`ah. Sementara bid`ah itu dari sisi keadaannya terbagi
dua : Pertama : Bid`ah I'tiqad (bid`ah yang bersangkutan
dengan keyakinan) Bid`ah ini juga diistilahkan bid`ah
qauliyah (bid`ah dalam hal pendapat) dan yang menjadi
patokannya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam yang diriwayatkan dalam kitab sunan : "Umat ini
akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam
neraka kecuali satu golongan". Para shahabat bertanya :
"Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah ?. Beliau
menjawab : "Mereka yang berpegang dengan apa yang aku
berada di atasnya pada hari ini dan juga para shahabatku".
Yang selamat dari perbuatan bid`ah ini hanyalah ahlus
sunnah wal jama`ah yang mereka itu berpegang dengan ajaran
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan apa yang dipegangi
oleh para shahabat radliallahu anhum dalam perkara ushul
(pokok) secara keseluruhannya, pokok-pokok tauhid ,
masalah kerasulan (kenabian), takdir, masalah-masalah iman
dan selainnya. Sementara yang selain mereka dari kelompok
sempalan (yang menyempal/keluar dari jalan yang benar)
seperti Khawarij, Mu`tazilah, Jahmiyah, Qadariyah,
Rafidhah, Murji`ah dan pecahan dari kelompok-kelompok ini
, semuanya merupakan ahlul bid`ah dalam perkara i`tiqad.
Dan hukum yang dijatuhkan kepada mereka berbeda-beda,
sesuai dengan jauh dekatnya mereka dari pokok-pokok agama,
sesuai dengan keyakinan atau penafsiran mereka, dan sesuai
dengan selamat tidaknya ahlus sunnah dari kejelekan
pendapat dan perbuatan mereka. Dan perincian dalam
permasalahan ini sangatlah panjang untuk dibawakan di
sini. Kedua : Bid`ah Amaliyah (bid`ah yang bersangkutan
dengan amalan ibadah) Bid`ah amaliyah adalah penetapan
satu ibadah dalam agama ini padahal ibadah tersebut tidak
disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan perlu diketahui
bahwasanya setiap ibadah yang tidak diperintahkan oleh
Penetap syariat (yakni Allah ta`ala) baik perintah itu
wajib ataupun mustahab (sunnah) maka itu adalah bid`ah
amaliyah dan masuk dalam sabda nabi shallallahu alaihi
wasallam : "Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak
di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak". Karena
itulah termasuk kaidah yang dipegangi oleh para imam
termasuk Imam Ahmad rahimahullah dan selain beliau
menyatakan : "Ibadah itu pada asalnya terlarang (tidak
boleh dikerjakan)" Yakni tidak boleh
menetapkan/mensyariatkan satu ibadah kecuali apa yang
disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka
menyatakan pula : "Muamalah dan adat (kebiasaan) itu pada
asalnya dibolehkan (tidak dilarang)" Oleh karena itu tidak
boleh mengharamkan sesuatu dari muamalah dan adat tersebut
kecuali apa yang Allah ta`ala dan rasul-Nya haramkan.
Sehingga termasuk dari kebodohan bila mengklaim sebagian
adat yang bukan ibadah sebagai bid`ah yang tidak boleh
dikerjakan, padahal perkaranya sebaliknya (yakni adat bisa
dilakukan) maka yang menghukumi adat itu dengan larangan
dan pengharaman dia adalah ahlu bid`ah (mubtadi). Dengan
demikian, tidak boleh mengharamkan satu adat kecuali apa
yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan adat itu
sendiri terbagi tiga : Pertama : yang membantu mewujudkan
perkara kebaikan dan ketaatan maka adat seperti ini
termasuk amalan qurbah (yang mendekatkan diri kepada
Allah). Kedua : yang membantu/mengantarkan kepada
perbuatan dosa dan permusuhan maka adat seperti ini
termasuk perkara yang diharamkan. Ketiga : adat yang tidak
masuk dalam bagian pertama dan kedua (yakni tidak masuk
dalam amalan qurbah dan tidak pula masuk dalam perkara
yang diharamkan) maka adat seperti ini mubah (boleh
dikerjakan). Wallahu a`lam.***** (Al Fatawa As Sa`diyah,
hal. 63-64 sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al Mar'ah Al
Muslimah)
Abu Ishaq Al Atsari
Kategori : Hadits
Al Allamah Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa`di
rahimahullah memaparkan tentang bid`ah : "Bid`ah adalah
perkara yang diada-adakan dalam agama. Sesungguhnya agama
itu adalah apa yang datangnya dari Nabi shallallahu
'alaihi wasallam sebagaimana termaktub dalam Al Qur'an dan
As Sunnah. Dengan demikian apa yang ditunjukkan oleh Al
Qur'an dan As Sunnah itulah agama dan apa yang menyelisihi
Al Qur'an dan As Sunnah berarti perkara itu adalah bid`ah.
Ini merupakan defenisi yang mencakup dalam penjabaran arti
bid`ah. Sementara bid`ah itu dari sisi keadaannya terbagi
dua : Pertama : Bid`ah I'tiqad (bid`ah yang bersangkutan
dengan keyakinan) Bid`ah ini juga diistilahkan bid`ah
qauliyah (bid`ah dalam hal pendapat) dan yang menjadi
patokannya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam yang diriwayatkan dalam kitab sunan : "Umat ini
akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam
neraka kecuali satu golongan". Para shahabat bertanya :
"Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah ?. Beliau
menjawab : "Mereka yang berpegang dengan apa yang aku
berada di atasnya pada hari ini dan juga para shahabatku".
Yang selamat dari perbuatan bid`ah ini hanyalah ahlus
sunnah wal jama`ah yang mereka itu berpegang dengan ajaran
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan apa yang dipegangi
oleh para shahabat radliallahu anhum dalam perkara ushul
(pokok) secara keseluruhannya, pokok-pokok tauhid ,
masalah kerasulan (kenabian), takdir, masalah-masalah iman
dan selainnya. Sementara yang selain mereka dari kelompok
sempalan (yang menyempal/keluar dari jalan yang benar)
seperti Khawarij, Mu`tazilah, Jahmiyah, Qadariyah,
Rafidhah, Murji`ah dan pecahan dari kelompok-kelompok ini
, semuanya merupakan ahlul bid`ah dalam perkara i`tiqad.
Dan hukum yang dijatuhkan kepada mereka berbeda-beda,
sesuai dengan jauh dekatnya mereka dari pokok-pokok agama,
sesuai dengan keyakinan atau penafsiran mereka, dan sesuai
dengan selamat tidaknya ahlus sunnah dari kejelekan
pendapat dan perbuatan mereka. Dan perincian dalam
permasalahan ini sangatlah panjang untuk dibawakan di
sini. Kedua : Bid`ah Amaliyah (bid`ah yang bersangkutan
dengan amalan ibadah) Bid`ah amaliyah adalah penetapan
satu ibadah dalam agama ini padahal ibadah tersebut tidak
disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan perlu diketahui
bahwasanya setiap ibadah yang tidak diperintahkan oleh
Penetap syariat (yakni Allah ta`ala) baik perintah itu
wajib ataupun mustahab (sunnah) maka itu adalah bid`ah
amaliyah dan masuk dalam sabda nabi shallallahu alaihi
wasallam : "Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak
di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak". Karena
itulah termasuk kaidah yang dipegangi oleh para imam
termasuk Imam Ahmad rahimahullah dan selain beliau
menyatakan : "Ibadah itu pada asalnya terlarang (tidak
boleh dikerjakan)" Yakni tidak boleh
menetapkan/mensyariatkan satu ibadah kecuali apa yang
disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka
menyatakan pula : "Muamalah dan adat (kebiasaan) itu pada
asalnya dibolehkan (tidak dilarang)" Oleh karena itu tidak
boleh mengharamkan sesuatu dari muamalah dan adat tersebut
kecuali apa yang Allah ta`ala dan rasul-Nya haramkan.
Sehingga termasuk dari kebodohan bila mengklaim sebagian
adat yang bukan ibadah sebagai bid`ah yang tidak boleh
dikerjakan, padahal perkaranya sebaliknya (yakni adat bisa
dilakukan) maka yang menghukumi adat itu dengan larangan
dan pengharaman dia adalah ahlu bid`ah (mubtadi). Dengan
demikian, tidak boleh mengharamkan satu adat kecuali apa
yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan adat itu
sendiri terbagi tiga : Pertama : yang membantu mewujudkan
perkara kebaikan dan ketaatan maka adat seperti ini
termasuk amalan qurbah (yang mendekatkan diri kepada
Allah). Kedua : yang membantu/mengantarkan kepada
perbuatan dosa dan permusuhan maka adat seperti ini
termasuk perkara yang diharamkan. Ketiga : adat yang tidak
masuk dalam bagian pertama dan kedua (yakni tidak masuk
dalam amalan qurbah dan tidak pula masuk dalam perkara
yang diharamkan) maka adat seperti ini mubah (boleh
dikerjakan). Wallahu a`lam.***** (Al Fatawa As Sa`diyah,
hal. 63-64 sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al Mar'ah Al
Muslimah)
Berguru Kepada Allah
Berguru Kepada Allah
Sumber : http://www.dzikrullah.com/bpw_08_berguru_kepada_allah.htm
Karya : Abu Sangkan
Kalimat "berguru kepada Allah" terasa asing di telinga kebanyakan orang. namun saya terdorong untuk menggunakannya sebagai topik bahasan yang ingin saya paparkan. Saya melihat dari sisi yang lain dari setiap pengajaran suatu ilmu yang disampaikan oleh para guru maupun para pakar. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan ilmu dari membaca buku yang tersusun dari huruf-huruf maupun membaca dari setiap kejadian-kejadian unik dari fenomena alam semesta ini. Apabila kita perhatikan surat Al 'Alaq ayat 1-5, Allah menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata "membaca" :
"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah , Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya" (QS 96:1-5)
Ayat di atas jelas sekali bagaimana Allah mengajarkan membaca dengan melihat suatu kejadian penciptaan "manusia" mulai dari bentuk mudhgah (segumpal darah) hingga menjadi bentuk manusia yang sempurna. Kalau kita runtun serangkaian kejadian tersebut dengan teliti dan kita bisa ceritakan kembali kepada orang lain maka secara tidak sadar kita telah mengajarkan sebuah "ilmu". Dan kalau kita khususkan lebih dalam penelitian kita atas peristiwa kelahiran manusia mungkin kita akan lebih banyak mengetahui seperti halnya kejadian yang akan kita perhatikan. Ovum atau sel reproduksi wanita yang telah dewasa itu ditempatkan dalam jaringan yang berbentuk bisul di permukaan indung telur. Pada saatnya yang tepat, terbukalah pintu, dan ovum itu bergerak maju kebagian ruang peranakan. Sangat mengherankan, sel tersebut tidak musnah di sini, tetapi diarahkan ke ujung saluran indung telur, yaitu satu pipa saluran menuju kandungan.
Ovum atau sel reproduksi wanita didorong kedalam kandungan melalui saluran indung telur dengan sejumlah besar jari-jari halus yang menyapu sel itu dan menggerakkannya. Sementara sel tersebut melewati saluran indung telur, maka sekarang ia dapat bertemu dengan sperma apabila hubungan kelamin diadakan pada saat itu. Apabila tidak ada sperma laki-laki yang menyerang, ovum itu kemudian bergerak ke dalam kandungan, pada akhirnya musnah di sana.
Namun jikalau kedua sel itu bersatu, maka "hidup baru pun mulailah", sel baru ini akan bergerak secara perlahan untuk meneruskan perjalanannya dalam saluran indung telur, hingga sampai di kandungan. Di sanalah ia bermukim selama sembilan bulan. Kemudian sel itu berkembang menjadi bayi yang sempurna. Subhanallah .. ternyata kita bukan apa-apa, dan kita hanya menyaksikan sebuah peristiwa berlangsung. Kita hanya sebagai saksi atas 'pekerjaan' Allah yang logis dan mudah dicerna oleh siapa saja yang mau berpikir. Dengan cara demikian Allah berkomunikasi memberikan ajarannya melalui perantara "kalam" sehingga manusia menjadi tahu dan berilmu. Dari setiap system yang berlaku dalam penciptaan tersebut Allah sekaligus mengilhamkan sebuah "pengertian" atau kefahaman bagi si pembaca.
Mari kita pertegas lagi dengan surat Al Mu'minuun ayat 12-14 :
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah, kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang. Lalu tulang-belulang itu Kami bugkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha suci Allah, Pencipta yang paling baik" (QS 23:12-14)
Banyak orang mengajarkan ilmu kepada muridnya namun ia tidak mampu memberikan kepahaman, ... banyak guru mengajarkan ilmu agama namun ia tidak bisa memberikan secuil iman, dan banyak guru mengajarkan shalat dan rukunnya namun ia tidak bisa memberikan kekhusyu'an. Dan banyak majelis pembersihan jiwa namun ia tidak bisa membersihkan jiwanya (QS 24:21)
Ada peristiwa menarik yang perlu kita simak dari sekitar lingkungan kita sehari-sehari ...Saya mengajak pembaca untuk memperhatikan perilaku binatang dan tumbuh-tumbuhan yang terkadang terlupakan bagi kita untuk mengambil pelajaran.
Ada yang ingin saya ungkapkan sebuah rahasia Allah, saat kita bertutur mengenai perilaku binatang dan tumbuh-tumbuhan, bagaimana lebah menciptakan sarangnya dengan arsitektur yang indah, para semut yang bekerja dengan tekun dan kompak serta mengelompokkan dalam pekerjaan dengan menajemen yang sangat rapih. Dan kita perhatikan seperti apakah sarang semut itu? Mereka membuat sarang terdiri dari ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai gudang tempat menyimpan makanan, ruang untuk menyimpan larva, ruang makan ratu semut yang dilayani semut pekerja dan tempat bertelur, kemudian telur semut tersebut dibawa oleh pekerja ke ruangan khusus penyimpanan telur. Ruang semut jantan dan ruang semut betina terpisah. kepompong yang sudah menjadi semut sempurna diletakkan pada ruangan tersendiri dan para semut ada yang bertugas merobek kepompong untuk mengeluarkan semut-semut yang masih bayi.
Kita lihat di ruangan yang lain, semut-semut ini memelihara kepompong kupu-kupu hairstreak. Mereka merawatnya dan memberinya makanan layaknya bayinya sendiri. Mereka mengharapkan kelak anak angkatnya ini mampu membalas jasa baiknya dengan memberi madu yang manis.
Mari kita tinggalkan rumah semut yang damai dan sejahtera, menuju istana rayap yang penuh keajaiban. Sebuah gundukan tanah sarang rayap, yang kelihatannya sepele ternyata ada sebuah kecerdasan yang mengalir pada diri para penghuninya... bagaimana tidak, saat suhu udara di luar bergerak antara 35 derajat (pada malam hari) hingga 104 derajat fahrenheit (pada siang hari), suhu di dalam sarang tetap stabil. Kira-kira hanya 87 derajat fahrenheit kehebatan ini yang membuat arsitek di Zimbabwe berguru pada rayap. Mereka ingin membuat rumah yang dingin seperti rumah rayap. Ternyata ada sebuah lobang angin di bawah gundukan ... udara yang hangat di siang hari mengalir keseluruh ruang. Sementara ruang-ruang itu telah basah oleh lumpur yang dibawa rayap dari genangan dibawah tanah, makanya di dalam sarang udara tetap lembab. Jadi tak heran jika jamur yang dibutuhkan rayap sebagai makanan tumbuh subur di sini.
Belajar dari melihat dan memperhatikan apa yang dilakukan rayap, para arsitek Pearce Partnership di Harare, Zimbabwe, menerapkan ide yang sama untuk membangun sebuah kompleks perkantoran dan real estate. Maka berdirilah bangunan Eastgate. Banguan tersebut sebenarnya terdiri dari dua bangunan. Dibagian atapnya dihubungkan oleh semacam jembatan miring berbahan kaca, sehingga angin menjadi bebas masuk pada malam hari. Kipas-kipas yang dipasang disetiap ruangan mengalirkan udara dingin dari luar atrium. Udara masuk rongga di lantai dasar. Persis seperti lubang rayap, dibagian dasar ini, udara segar mengalir kesetiap ruang perkantoran melalui ventilasi lantai. Udara panas disiang hari akan keluar gedung melalui cerobong diatas atap.
Kita perhatikan makhluk yang tidak memliki akal dan tiada mampu berfikir, makhluk yang tiada daya namun siapa yang membekali ia kemampuan bersiasat, berpengertian ? Memiliki tingkat kecerdasan yang luar biasa. Bagaimana mereka mendapatkan kecerdasan dan berpengertian tersebut. Apakah mereka bisa dengan sendirinya.
Allah-lah yang bertutur kata kepada semua makhluknya. Allah yang memberikan wahyu kepada para Nabi, kepada ibu Musa, kepada lebah, kepada semut, kepada langit dan bumi, kepada manusia, kepada pencuri sekalipun !!!
Semua makhluk telah mengikuti kehendak Ilahi dan perintah Ilahi dengan terpaksa ataupun suka cita. Allah membuat hukum yang harus diikuti semua makhluk, hal ini bisa kita rasakan dalam renungan yang hening … kita perhatikan keluar masuknya nafas … kedipan mata dan degup jantung yang bergerak mengalirkan darah sambil mengirimkan nutrisi menggantikan sel-sel yang hilang … indahnya penglihatan memandang alam ... suara debur ombak menggema menembus telinga ….dan lidah merasakan lezatnya buah-buahan dan biji-bijian. Oh .. alangkah indahnya semuanya ini, manusia hanya bisa merasakan dan menyaksikan. Tidak sedikitpun kita ikut andil dalam membuat rasa semua ini !!!
Rasakan dengan penuh hikmah bahwa kita sebenarnya hanya diam terpaku dalam kesibukan Allah (Af'alullah), Allah yang menggerakkan bumi dan bintang-bintang … Allah yang mengatur senyawa-senyawa bereaksi ….dan butiran-butiran atom bergerak pada porosnya.
"dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepada kamu pendengaran dan penglihatan serta pikiran (perasaan), supaya kamu bersyukur" (QS 16:78)
Firman Allah :
"Kemudian Dia mengarah kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia berkata kepadanya dan pada bumi; silahkan kalian mengikuti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa .jawab mereka : kami mengikuti dengan suka hati" (QS 41:11)
Mari kita perhatikan Al Qur'an dalam surat Fushilat ayat 12 :
"Maka Allah menjadikannya tujuh langit dalam dua hari dan "mewahyukan" perintah-Nya pada tiap-tiap langit itu, dan Kami hiasi langit dunia dan pelita-pelita dan Kami memeliharanya, Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui"
(QS 41:12)
Allah mengajarkan manusia apa-apa yang belum diketahuinya. Allah-lah yang menuntun manusia, memberikan inspirasi, ilham dan wahyu. Tubuhnya patuh mengikuti perintah Tuhannya tidak terkecuali orang kafir. Sunnah-sunnah Allah berlaku kepada alam semesta baik yang mikro maupun yang makro. Syaikh imam An Nafiri berkata " Tuhanku bertutur kata kepadaku"… Demi keimanan bahwa sumber segala hakikat dan sumber segala pengilhaman ialah Allah Swt semata … Baiklah kita nukilkan apa yang tertera dalam kitab suci Al Qur'an setiap yang disebut wahyu itu adalah wahyu tasyri' atau wahyu syariat, tetapi ada wahyu ilham. dimana Allah memberikan perintah-perintah atau instruksi-instruksi kepada makhluknya, Firman Allah Swt:
Dan Tuhanmu " mewahyukan" kepada lebah (QS 16:18)
Dan Kami " wahyukan " kepada ibu Musa (QS 28:7)
Dan Ia "mewahyukan" kepada tiap-tiap langit itu urusan masing-masing (QS 41:12)
Kata "wahyu" yang tertera dalam ayat-ayat diatas, secara tegas bahwa Allah tidak menutup-nutupi kepada pembaca, bukan siapa-siapa yang membisikkan dan menggerakkan tubuh manusia yang oleh pakar biasa disebut alam kecil atau gambaran mini tentang alam semesta.
Dialah Allah yang bersembunyi dibalik kasat mata manusia yang buta hatinya. Ia yang menggerakkan bumi, langit, bintang-bintang, matahari ... dan mengajarkan lebah berdemokrasi dalam memilih pimpinan dan perundang-undangan pemilihan. Ia menuntun lebah-lebah ini untuk membuat konstruksi bangunan rumahnya yang indah. Masing-masing dibekali wahyu dari Tuhan untuk melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Mereka seperti rasul-rasul sang utusan, mereka begitu mematuhi perintah-Nya tanpa membantah, sehingga jalan mereka tidak berbenturan dengan fitrah Allah Yang Maha Suci.
Berpegang pada hasil kontemplasi pada alam semesta yang berada di sekililling kita, baik yang jauh seperti galaksi atau bimasakti, bintang, matahari, bulan, maupun yang dekat seperti bumi, gunung, lautan, angin, hujan dan sungai, semua makhluk yang dikatakan tak bernyawa, dan makhluk-makhluk hidup seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia, kita telah berhasil memberikan penafsiran dan pengertian yang menunjukkan adanya kecocokan antara ayat-ayat Allah di dalam kitab suci Al Qur'an dengan ayat-ayat Allah di alam semesta. Dengan perkembangannya dan sempurnanya sains kita akan mempunyai informasi yang lebih banyak tentang ayat-ayat Al Qur'an, yang sekarang belum kita fahami, dan lebih mendalam lagi ayat-ayat Al Qur'an yang kini telah dapat kita fahami sedalam apa yang dapat disajikan sains pada saat ini.
Keadaan ini dapat kita capai karena kita mengikuti perintah Allah untuk berintizhar pada alam semesta, agar kita dapat melihat ayat-ayat Allah, tanda kebesaran Allah, tanda-tanda kekuasaan-Nya serta wahyu-Nya. Ayat-ayat Allah ini boleh dibaca oleh siapa saja dan mereka akan medapatkan hikmahnya dan manfaat dari hasil membaca ayat-ayat tersebut. Maka jangan salahkan orang kafir kalau mereka bersungguh-sungguh meneliti dan mendata apa yang mereka baca dari kejadian alam lalu mendapatkan ganjaran atas manfaat membaca ayat kauniah. Dan sebaliknya Allah akan membiarkan ummat Islam terkapar, jika memang ia tidak mau menjalankan syariat secara kauniah yang merupakan ketetapan dan sunnah-sunnah-Nya.
Nyata pula bahwa melalui jalan intizhar pada isi bumi, baik yang hidup maupun yang mati serta atom dan molekul, Allah mengungkapkan hukum-hukum alam-Nya, dan mengizinkan kita untuk menganalisis kembali bagaimana bumi tercipta dan berkembang, dan makhluk hidup diciptakan serta dievolusikan Allah dalam rangka penyempurnaannya hingga tercipta manusia. Sekalipun ia tersusun dari zat-zat kimiawi yang berkelakuan sesuai ketetapan sunnatullah, manusia bukan sekedar onggokan bahan kimia atau struktur kimiawi yang mengikuti hukum-hukum alam hingga merupakan mekanisme yang memperlihatkan gejala hidup, bermetabolisme, tumbuh, berkembang biak dan sebagainya.
Dalam diri manusia terdapat suatu kesadaran, sesuatu yang tak dapat dikembalikan pada proses kimiawi atau fisis yang kita ketahui. Kita lihat dalam surat Al Hijr ayat 28-29 :
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang berstruktur, maka apabila Aku telah meniupkan kepadanya roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (QS 15:28-29).
Jadi manusia diberi roh oleh Allah, diberi kesadaran serta kemampuan abstraksi dan berkomunikasi secara lisan maupun simbolik, kemampuan analisis dan sintesis, berakal dan berpikiran. Kesemuanya itu merupakan intrumen yang disediakan dalam rangka untuk menjalankan tugas kekhalifahan. Pada bab-bab sebelumnya sudah saya singgung mengenai Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia.
Dia yang mengajarkan jiwa manusia melalui kalam baik tentang jalan kebajikan maupun jalan kejahatan. Dimana kejahatan dan kebajikan hampir tidak bisa dibedakan dalam penggunaannya. Ilmu yang yang digunakan oleh koruptor dalam mencuri uang perusahaan misalnya, ia menggunakan ilmu yang sama dengan ilmu yang digunakan oleh orang yang beriman yaitu "ilmu akuntansi". Jadi jelas bahwa Allah telah menurunkan ilmu kepada manusia melalui jiwanya, namun manusialah yang akan menentukan ilmu itu akan diarahkan kemana ia mau. Apakah jalan kebajikan ataupun jalan kejahatan. Maka beruntunglah bagi manusia yang membersihkan jiwanya sebab ia akan diberikan kemudahan oleh Allah untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Dan sebaliknya sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya sebab ia akan mendapatkan jalan kemudahan untuk berbuat kejahatan.
Dari semua uraian di atas mengenai bagaimana Allah mengajarkan manusia melalui kalam-Nya, mari kita merenungkan kembali dan melihat kebenaran dengan jujur, jangan kita membuat apologi untuk menghindar dari kebenaran yang nyata atas perbuatan Allah. Terkadang kita banyak terjebak oleh istilah yang membingungkan dan menjauhkan kita dari kegiatan Allah yang langsung kita bisa rasakan. Kebingungan kita bertambah tatkala ilmuwan-ilmuwan atheis mengatakan bahwa semua kejadian alam ini bisa bergerak dengan sendirinya atau biasa disebut "natural", insting atau gharizah Namun Al Qur'an secara tegas membantah pendapat kaum atheis itu, bahwa Allah-lah yang mengatur semuanya ini, Allah-lah yang berbicara dan memerintahkan langit, bumi, atom-atom, kepada binatang serta tumbuh-tumbuhan, kemudian Allah berbicara kepada roh manusia melalui ilham dan wahyu. Lantas mengapa kita takut mengatakan "saya berguru kepada Allah" dalam segala hal, karena Dialah Yang Maha Mengetahui akan segala sesuatu yang nyata maupun yang ghaib.
Banyak orang meragukan bagaimana kalau kita "tersesat" dan ternyata syetan yang menjadi guru kita? Saya akan kutib perkataan Syaikh Ar Rifa'i, dalam kitab Jalan Ruhani oleh Syaikh Sa'id Hawwa halaman 73 :
"Sebenarnya tujuan akhir para ulama dan para sufi adalah satu". Ini perlu kami utarakan disini, sebab beberapa ulama yang kurang faham selalu menghujat setiap orang dengan perkataan: "Orang yang tidak memiliki syaikh, maka syaikh-nya adalah syetan.
Ungkapan ini dilontarkan oleh seorang sufi yang berpropaganda untuk syaikh-nya yang alim atau dilontarkan oleh sufi yang keliru, yang tidak tahu bagaimana seharusnya ia mendudukkan tasawuf pada tempat yang sebenarnya. Sebenarnya orang yang tidak memiliki syaikh adalah orang bodoh yang tidak pernah belajar, menolak dan lari dari pendidikan. Manusia macam inilah yang bersyaikh pada syetan !!! Sedangkan yang berjalan atas dasar ilmu pengetahuan , itu berarti imam dan syaikhnya adalah ilmu dan syariat".
Syaikh Abdul Qadir Jaelani mengisahkan perjalanan keruhaniannya yang ditulis dalam kitab "Rahasia Kekasih Allah", saat dimana ia bertawajjuh dalam tafakkur dengan khusyu', saat ia meluruskan jiwanya melayang menuju yang maha ghaib, saat ia melampiaskan rohnya yang penat terkungkung oleh sibuknya dunia, ia tinggalkan seluruh ikatan syahwati yang sering mengajak kejalan kefasikan.
Ketika roh sang Syaikh mulai ekstase dalam puncak keheningan dan kecintaan yang mendalam kepada Sang Maha Kuasa, baru selangkah rohnya meluncur lepas untuk memasuki kefanaan, tiba-tiba muncul cahaya yang terang-benderang meliputi ruangan alam ruhani Syaikh. Dan kepada sang Syaikh diwangsitkan sebuah amanah yang membebaskan darinya dari ikatan "syari'at Allah" dengan memberikan alasan bahwa sang Syaikh sudah mencapai kedekatan kepada Allah.
Perjalanannya sudah sampai (wushul) dan tidak perlu lagi shalat, haji, zakat dan dihalalkan semua yang pernah Allah haramkan. Namun sang Syaikh ini rupanya telah memiliki ilmu ma'rifat kepada Allah dengan landasan Al Qur'an dan Alhadist, dimana ia diselamatkan oleh pengetahuan tentang Allah, bahwa Allah tidak sama dengan makhluq-Nya, tidak berupa suara, tidak satupun yang bisa membandingkan-Nya. Dia Maha Ghaib dan Maha Latif. Pengetahuan yang cukup, yang dimiliki sang Syaikh mengalahkan wangsit yang keliru tadi, dengan tuntunan syari'at yang ditentukan oleh Allah sendiri. Ia selamat dari jebakan syetan yang terkutuk. Allah-lah sebagai penuntun menuju hadirat-Nya. Dialah sang Mursyid sejati, tidak satupun manusia yang mampu menghantar roh manusia lain menuju ke hadirat Allah `azza wajalla.
KIta perhatikan para nabi seperti nabi Ibrahim, beliau mengetahui dengan jelas siapa yang menggoda ketika beliau mendapatkan perintah untuk mengorbankan putranya Ismail untuk disembelih. Namun nabi Ibrahim memiliki jiwa yang bersih dan berada pada wilayah keruhanian yang tinggi. Sehingga beliau mengetahui siapa sebenarnya yang menggodanya.
Sebab kedudukan dimensi syetan masih berada jauh di bawah kedudukan orang mukmin yang mukhlisin (berserah diri kepada Allah). Hal ini juga pernah dialami oleh nabi Yusuf saat gejolak syahwatnya menguasai jiwanya. namun saat itu pula nabi berserah diri dengan ikhlas kepada Allah, sehingga Allah menurunkan burhan di hatinya, yang pada akhirnya nabi Yusuf selamat dari perbuatan mesum dengan wanita cantik jelita yang menggodanya. Hal ini pernah dikeluhkan oleh syetan kepada Allah bahwa dirinya akan selalu menggoda setiap anak cucu Adam sampai hari kiamat. Namun ia tidak mampu menjerumuskan kedalam kesesatan bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.
Banyak informasi mengenai Allah yang keliru, sehingga belajar keTuhanan terkesan sulit dan sangat membingungkan. Kita lihat banyak buku-buku mengenai theologi, ia berbicara eksistensi "Tuhan" namun kita tidak pernah diajak melihat secara sederhana. Atau kita banyak berbicara mengenai Allah, tentang kekuasaan-Nya, kehebatan-Nya, dan keMahaPengasihan-Nya, akan tetapi kita merasakan sedang membicarakan sosok yang jauh disana. Padahal kita sedang berada didekat-Nya, dan sangat dekat …
Kesederhanaan firman-firman Allah dalam mengungkapkan keberadaan diri-Nya sering disalahtafsirkan. Sehingga bertambah jauhlah dia dari pengertian yang seharusnya. Kita banyak terhijab oleh pengetahuan yang menutup eksistensi Tuhan dalam hubungannya mengenai pengajaran dan bimbingan melalui "ilham". Kita sudah terlanjur terbelenggu oleh pengertian bahwa Allah tidak berkata-kata lagi kecuali hanya kepada nabi-nabi, para rasul dan para wali. Namun disisi lain mereka mengharapkan Allah memberikan jawaban-jawaban atas doa-doanya, bimbingannya, ismatnya dan taufiqnya.
Dan mereka menolaknya kalau kita katakan bahwa kita akan belajar atau berguru kepada Allah masalah hidup, masalah khusyu' masalah penyelesaian rumah tangga, atau menanyakan informasi hal-hal yang akan kita lakukan nanti. Kita telah melupakan bahwa ayat-ayat Al Qur'an banyak menyiratkan makna yang belum bisa kita lakukan. Ayat-ayat perintah atau amar seperti shalat, zakat, haji, sedekah, berjilbab, dan lain-lain, kita bisa lakukan dengan segera. Namun banyak ayat-ayat berupa penjelasan atau menceritakan keadaan (hal) orang-orang yang beriman. Dimana kita tidak akan mampu melakukannya kalau bukan karena hidayah atau tuntunan, yaitu berupa kekhusyu'an, menangis dalam shalat atau bergetar ketika dibacakan ayat-ayat Allah, merasa tenang dan tidak ada rasa khawatir. Sikap ruhiyah inilah yang kita tidak miliki !!!
Dan tidak mungkin kita bisa lakukan semudah mengangkat takbir atau membaca ayat Al Qur'an. Hidayah, bukan hak kita untuk memberikan kepada murid atau anak kita. Hidayah adalah hak Allah kepada hamba-hambaNya yang terpilih. Hidayah adalah pengalaman pribadi dan merupakan tuntunan dan tarikan ruhani. Kepada jiwa itulah cahaya Allah memberikan karunia kekusyu'an dan keimanan yang dalam. Pengalaman-pengalaman itu ditulis dalam Al Qur'an berupa keadaan yang mesti didapat secara rasa, bukan ditafsirkan. Pengalaman-pengalaman tersebut akan menjadi pemicu bagi yang merasakan sebagai penguat keimanan kepada Allah.
Rasulullah sendiri pernah mengalami kesulitan dalam memberikan wejangan kepada pamannya saat menjelang kematiannya. Dan pamannya tetap dalam keadaan kafir, sekaligus teguran kepada Rasulullah bahwa beliau ditugaskan hanya sebagai pembawa berita baik dan ancaman dari Tuhannya, bukan memberikan hidayah atau memberikan iman kepada manusia.
Dengan demikian seharusnyalah kita mengharapkan dan memfokuskan diri dalam melatih jiwa kita untuk selalu hadir berguru kepada Allah, memohon hidayah dan tuntunan. Dengan hanya berserah diri kepada Allah-lah kita akan mendapatkan hidayah dan bimbingan, seperti para nabi, para wali, lebah, semut, bumi dan langit. Semuanya mendapatkan bimbingan dan petunjuk karena mereka adalah orang-orang dan makhluk yang berserah diri secara total kepada Allah Swt. Mari kita hilangkan rasa takut tersesat. Rasa takut yang tidak beralasan inilah yang justru menjebak kita untuk berhenti mendekati Allah. Syetan telah berhasil memanfaatkan alasan "tersesat" sehingga kita lupa bahwa kita telah dan sedang tersesat, tidak berdzikir kepada Allah.
Untuk lebih jelasnya kita harus mengetahui bagaimana Allah menurunkan wahyu dan ilham kepada manusia. Dan apakah sebenarnya ilham atau wahyu itu?. Penjelasan ini penting untuk bekal bagi para pejalan keruhanian. Karena belakangan ini banyak orang menawarkan bentuk kerohanian yang bukan datang dari Islam. Kesan ruhiah Islam telah hilang, karena informasi kerohanian Islam tidak mudah didapat disembarang tempat, apalagi didepan khalayak ramai. Kondisi inilah yang menyebabkan khasanah ilmu kerohanian didominasi oleh kerohanian yang tidak berasal dari ketauhidan murni. Untuk itu wajar sekali kalau banyak kalangan yang takut belajar kerohanian, sebab yang mereka dengar dari setiap pelaku kerohanian cenderung berbicara soal 'klenik', perdukunan, ramalan, serta fenomena keadaan alam-alam ghaib yang menyeramkan.
Perbuatan Manusia
Tinjauan filsafat yang lebih menonjol terhadap manusia adalah menyangkut kebebasan. Perbuatan manusia dilihat dari segi efektivitasnya. Pandangan terhadap hal ini mempunyai akar pada konsepsi tentang hakikat manusia dan daya-daya yang dimilikinya. Apabila manusia mempunyai hakikat dengan daya-daya yang efektif pada dirinya, ia dengan sendirinya adalah pelaku perbuatan-perbuatannya. Sebaliknya, apabila manusia dipandang tidak mempunyai daya-daya yang efektif pada dirinya, perbuatan-perbuatannya, pada dasarnya, tidak berasal dari dirinya sendiri. Perbuatan-perbuatan itu merupakan hasil determinasi kekuatan-kekuatan lain diluar dirinya. Manusia dalam hal ini tempat berlakunya kekuatan-kekuatan itu.
Menurut Al Ghazaly didalam Ma'arij al quds, perbuatan adalah bagian dari gerak. Apabila gerak dikaitkan dengan manusia, maka gerak tersebut dapat dibedakan atas gerak yang tidak disadari (at thabi'i) dan gerak yang disadari (al iradiyyat). Gerak yang tidak disadari, kita sudah maklumi bahwa tubuh manusia dikatakan miniatur alam semesta, dimana unsur-unsur alam bergerak dan berkembang mengikuti perintah dan peraturan- peraturan Allah semata.
Dalam tulisan ini, yang hendak dikemukakan adalah persoalan perbuatan yang disadari, karena perbuatan inilah yang terjadi secara jelas melalui proses tertentu di dalam jiwa dan berhubungan dengan pengungkapan diri. Perbuatan yang disadari, disebut juga dengan perbuatan bebas (ikhtiyaari), perbuatan semacam ini menurut Al Ghazaly terjadi setelah melalui tiga tahap peristiwa dalam diri manusia, yaitu pengetahuan, kemauan (al iradat) dan kemampuan (al qudrat). Yang lebih dekat diantara ketiga tahap itu dengan wujud perbuatan adalah al qudrat. Al qudrat adalah daya penggerak dari jiwa sensitive yaitu makna yang tersimpan dalam otot-otot. Ia adalah momen terakhir yang secara langsung berhubungann dengan wujud perbuatan. Fungsi al qudrat pada dasarnya ialah menggerakkan tubuh. Bentuk gerakan tubuh ditentukan oleh kemauan atau iradat. Berdasarkan salah satu kecenderungan yang inheren didalamnya : positif atau negatif. Positif sebagai reaksi terhadap yang menguntungkan dan negatif sebagai reaksi terhadap hal yang merugikan. Dengan pengertian ini, semestinya pada al iradat terdapat kegiatan memilih. Al iradat (kemauan) mempunyai intensitas kepada proses sesudahnya al qudrat. Artinya ia bersifat aktif terhadap al qudrat, sehingga yang disebut terakhir ini menjadi aktual, tidak sekedar potensi. Al iradat tidak mempunyai intesitas kepada proses sebelumnya, yaitu pengetahuan, sebagaimana al qudrat tidak mempunyai intensitas kepada iradat. Al qudrat hanya mempunyai intensitas kepada wujud perbuatan. Berbeda dengan al qudrat, al iradat mempunyai "kekuasaan" yang lebih besar karena ia tidak menerima perintah dari daya sebelumnya, ia mempunyai inisiatif memilih, al iradat menentukan pilihannya berdasarkan pengetahuan.
Daya "mengetahui" mempunyai kekuasaan yang lebih besar daripada al iradat , tetapi ia mempunyai hubungan yang jauh dan terlibat secara langsung dengan perbuatan adalah al iradat dan al qudrat. Sepintas lalu proses terwujudnya perbuatan ini memperlihatkan efektivitas manusia, melalui iradat manusia mempunyai kebebasan dan melalui al qudrat manusia mempunyai kemampuan pada dirinya untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Disamping itu, Al Ghazaly menyatakan juga didalam buku-buku filsafatnya, bahwa perbuatan-perbuatan manusia terwujud dengan sebab "perbuatan Allah"
Namun demikian Al Ghazaly mendapat sorotan tajam dan dituduh sebagai biang kerok kejumudan pemikiran ummat. Hal ini disebabkan banyak kalangan yang kurang teliti melihat alur pemikiran Al Ghazali. Yang dimaksud adalah andil Allah dalam setiap perilaku manusia maupun makhluk dalam memberikan pengertian baik maupun buruk. Akan tetapi Allah sudah membekali dan memberikan kebebasan untuk memilih dua hal tersebut. Yang akan saya utarakan adalah persoalan awal sebelum kehendak dan kemampuan berbuat itu muncul. Misalnya seorang penulis, maupun pelukis, saat dimana ia melakukan perbuatan tersebut. Ia sebenarnya hanya diam menunggu inspirasi datang kemudian muncul kehendak lalu memerintahkan kemampuan atau iradat untuk melakukan gerakan.
Pengetahuan ini sering disebut dengan pengertian awwali atau ide besar yang belum berupa rangkaian huruf-huruf, bukan rumus-rumus suara, Dia ada meliputi segenap jiwa dan alam. Ialah perintah-perintah atau amar-amar Tuhan yang mengarahkan dan menggerakkan segala-sesuatu. Ialah ruh yang suci, yang tidak bisa digambarkan oleh fikiran, namun Ia hadir dengan perintahnya, tidak berupa suara dan suasana. Dia berkata-kata kepada para penulis novel, dia melukis bersama seniman, dia menuntun lebah merangkai sarangnya, dan semut-semut pun mengerti apa yang mesti dilakukan dalam hidupnya.
Pengertian-pengertian itu datang mengalir secara murni tanpa ada campur tangan makhluk apapun termasuk malaikat. Kita bisa rasakan sendiri hal ini bahwa datangnya perintah terhadap tubuh maupun alam secara alami berlaku pasrah maupun terpaksa. Kita perhatikan orang yang sedang tidur. Ia berbaring tanpa dikendalikan lagi oleh kemauan dan kekuasaan diri. Instrumen tubuh
bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing.bandingkan dengan perilaku alam yang lain seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, matahari, bumi dan planet-planet lainnya. Semua bergerak teratur menurut perintah Allah. (lihat Surat Al Fushilat ayat 11-12).
Yang membedakan antara manusia dan makhluk lain adalah adanya iradat dalam diri manusia sehingga ia bebas memilih untuk berbuat atau tidak. Akan tetapi manusia tidak bisa menentukan gerakan Ilahi yang mengalir dalam tubuhnya, yaitu gerak hakiki .
Gerak hakiki adalah gerak dimana Tuhan telah menentukan arah dan kadar fungsinya. Ia tidak akan menyimpang dari ketentuan yang ditetapkan Tuhan. Ia patuh sebagaimana alam semesta patuh. Ia bersifat pasrah yang dinamis, karena ia mengikuti gerak dan keinginan Ilahi
Para seniman Taichi berprinsip mengikuti irama gerak alam. Tubuhnya dipatok kedalam kekuasaan besar yang meliputinya, ia membiarkan tubuhnya berdiri diatas kelembutan dan kekerasan, sehingga keseimbangan dan keharmonisan segi tiga realitas menjadi puncak prinsip, mikrokosmos, makrokosmos dan metakosmos. Sehingga ia akan mengenal wujud Allah melalui tahapan wilayah-wilayah sampai kepada kesimpulan bahwa semua makhluk adalah fana kecuali wujud Allah Yang Maha Suci.
Gerak hakiki merupakan sunnatullah. Ia bergerak sesuai dengan kehendak Ilahi. Kita tidak bisa menghentikan kehendak hakiki pada tubuh kita untuk mati. Kita tidak pernah merencanakan lahir menjadi seorang laki-laki ataupun perempuan. Kadang-kadang kehendak itu bertentangan dengan kehendak kita. Kita menginginkan hidup seribu tahun lagi, namun ada gerak hakiki yang menghentikan dengan paksa untuk mati diusia belasan tahun.
Dengan mengetahui adanya dua kehendak yang berlangsung dalam diri kita, menandakan adanya bentuk hakikat dan bukan hakikat. Sehingga kehendak yang bukan hakikat semestinya mengikuti gerak hakikat yang menjadi pusat ketentuan dan ide didalam setiap gerak manusia. Maka sesungguhnya fitrah Allah dan fitrah manusia adalah sama (lihat surat Ar Rum ayat 30). Untuk mengenal hakikat Allah dan mengikuti kehendak-Nya, kita harus berupaya menjalani pendekatan melalui jalan ruhani. Karena Allah sendiri hanya memberikan tanda-tanda atau rambu-rambu dalam memberikan petunjuk menuju pengenalan akan "wujud" (eksistensi Allah). Pengenalan ini harus kita mulai dengan membuka harus kita mulai dengan membuka wawasan ilmu tauhid kepada Allah, yaitu ilmu yang bersangkut paut masalah hakikat Allah, sifat-sifat Allah, dzat Allah, Af'al Allah. Sebab kalau kita tidak mengenal ilmu ini, maka tentunya kita tidak akan tahu sampai dimana perjalanan kita menuju jalan hakikat. Jalan ruhani akan terhalang jika kita tidak mengetahui akan keadaan Allah secara ilmu. Kita akan terjebak oleh keadaan alam-alam yang menakjubkan didalam fenomena ghaib. Bisa jadi khayalan dan halusinasi seseorang yang bergembira berlebihan akan hidup berkerohanian menyebabkan memori didalam otaknya muncul tatkala ia berkonsentrasi apa yang diinginkan. Keadaan ini sering muncul atau seakan-akan ada orang yang membisikkan untuk melakukan sesuatu. Dalam berguru kepada Allah, hendaknya kita sudah mempersiapkan bekal ilmu yang disebutkan di atas, sebab kita akan memasuki dunia keTuhanan secara total.
Myskat Cahaya Ilahi
Kata cahaya adalah metafora yang diungkapkan Al Qur'an, dalam menjelaskan keadaan jiwa atau hati yang telah mendapatkan wahyu atau ilham. Dimana wahyu atau kata-kata Tuhan diungkapkan kedalam bahasa manusia, dengan meminjam kata 'cahaya', sebab wahyu sendiri tidak bisa diungkapkan dengan bahasa manusia. Wahyu adalah bahasa Allah, yang berbeda dengan bahasa manusia. Namun wahyu atau ilham bisa dipahami oleh orang yang menerimanya, bahkan hewan dan alampun mampu memahami bahasa Allah.
Didalam Mu'jam Alfadzil Qur'anil Karim, yang diterbitkan oleh Majma'ul Lughah Al Arabiyah, kata 'ilham' ditafsirkan dengan :"Disusupkannya kedalam hati perasaan yang sensitif yang dapat dipergunakan untuk membedakan antara kesesatan dan petunjuk", dan mungkin hal ini di jaman kita sekarang ini dikenal dengan istilah dhomir (kata hati). Didalam kamus Al Muhith disebutkan : "Al hamahu khaira" (Allah mengilhamkan kebaikan) yakni : Allah mengajarkan kepadanya.
Dengan alasan inilah saya memberikan judul "Berguru Kepada Allah" pada bab ini. Dan dengan demikian kita sudah menjurus kepada hal yang lebih penting lagi didalam perjalanan kita kali ini. Disamping kita sudah berbekal ilmu kema'rifatan, yaitu mengenal dzat, sifat dan af'al Allah, kita hendaknya melakukan komunikasi kepada Allah serta melakukan pemasrahan diri secara total. Kepasrahan adalah menggantungkan sikap jiwa untuk patuh kepada Allah dengan segenap syari'at yang telah ditentukan, agar kita mendapatkan cahaya keimanan yang lebih dalam.
Firman Allah Swt didalam surat An Nuur ayat 35-38:
"Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi. Perumpamaan cahaya adalah seperti lubang yang didalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam kaca. Dan kaca itu laksana bintang yang berkilauan yang dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati, yaitu minyak zaitun yang bukan dari timur dan tidak (juga) dari barat. Minyaknya hampir menerangi sekalipun tidak disentuh api. Cahaya di
atas cahaya. Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, (yaitu) di rumah-rumah, Allah memerintahkan untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, bertasbih didalam rumah itu pada waktu pagi dan petang, (yaitu) laki-laki yang tidak dilalaikan perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka takut akan hari yang berguncang padanya hati dan penglihatan, supaya Allah membalas mereka dengan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan dan menambah (lagi) karunia-Nya. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa-siapa yang Dia kehendaki dengan tiada terbatas" (QS 24:35-38)
Allah memberikan perumpamaan cahaya-Nya seperti lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada 'pelita' besar. Cahaya itu bersemayam di dalam hati orang-orang yang terpilih dan dikehendaki-Nya. Dengan cahaya itu Allah membimbing dan menuntun hati agar mampu memahami ayat-ayat Allah serta nasehat-nasehat Allah. Allah-lah yang akan 'menghantar' jiwa kita melayang menemui-Nya dan yang akan menunjukkan 'jalan ruhani' kita untuk melihat-Nya secara 'nyata'. Dengan 'cahaya-Nya', kita bisa membedakan petunjuk dari syetan atau dari Allah swt.
Firman Allah:
"Wahai orang-orang beriman jika kamu bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan bagimu furqan (pembeda) ". (QS 8:29)
Yang dimaksud dengan 'furqan' adalah cahaya yang dengannya, kita semua bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil.
Dan firman Allah :
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS 29:69)
Ayat ini menunjukkan bahwa bersungguh-sungguh atau bermujahadah dijalan Allah, memiliki pengaruh didalam memberi 'hidayah' atau 'cahaya' kepada manusia menuju jalan-jalan Allah, yaitu jalan kebenaran.
Firman Allah :
"Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagimu jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka ..." (QS 65:2-3).
Dengan demikian maka jelaslah pada ayat-ayat di atas, memberikan kepada kita 'syarat' untuk mendapatkan 'cahaya' atau 'hidayah', hendaklah melakukan amalan-amalan yang diwajibkan dan disunnahkan, yaitu melakukan dzikrullah', baik berdiri, duduk, maupun berbaring. Sebab didalam setiap peribadatan itu merupakan 'cara' untuk mengingat 'Allah'.
Dan menyebabkan 'Allah' menyambut ingatan kita, dengan sambutan kasih sayang serta memberinya 'cahaya' penerang bagi hatinya yang merelakan dan membuka untuk menerima Allah sebagai junjungannya, dengan ditandai rasa tenang yang luar biasa.
Untuk lebih jelasnya, saya akan lanjutkan perjalanan rohani kita, pada bab "Membuka Hijab". Pada bab itu akan saya jelaskan secara konkrit, masalah-masalah rohani atau fenomena kerohanian yang menjebak perjalanan kita seperti istijrad, kemampuan kasyaf, dan penyembuhan yang digandrungi oleh para pemburu 'kesaktian'. Dimensi-dimensi fisik maupun psikis akan anda temui pada bab tersebut.
Sumber : http://www.dzikrullah.com/bpw_08_berguru_kepada_allah.htm
Karya : Abu Sangkan
Kalimat "berguru kepada Allah" terasa asing di telinga kebanyakan orang. namun saya terdorong untuk menggunakannya sebagai topik bahasan yang ingin saya paparkan. Saya melihat dari sisi yang lain dari setiap pengajaran suatu ilmu yang disampaikan oleh para guru maupun para pakar. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan ilmu dari membaca buku yang tersusun dari huruf-huruf maupun membaca dari setiap kejadian-kejadian unik dari fenomena alam semesta ini. Apabila kita perhatikan surat Al 'Alaq ayat 1-5, Allah menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata "membaca" :
"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah , Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya" (QS 96:1-5)
Ayat di atas jelas sekali bagaimana Allah mengajarkan membaca dengan melihat suatu kejadian penciptaan "manusia" mulai dari bentuk mudhgah (segumpal darah) hingga menjadi bentuk manusia yang sempurna. Kalau kita runtun serangkaian kejadian tersebut dengan teliti dan kita bisa ceritakan kembali kepada orang lain maka secara tidak sadar kita telah mengajarkan sebuah "ilmu". Dan kalau kita khususkan lebih dalam penelitian kita atas peristiwa kelahiran manusia mungkin kita akan lebih banyak mengetahui seperti halnya kejadian yang akan kita perhatikan. Ovum atau sel reproduksi wanita yang telah dewasa itu ditempatkan dalam jaringan yang berbentuk bisul di permukaan indung telur. Pada saatnya yang tepat, terbukalah pintu, dan ovum itu bergerak maju kebagian ruang peranakan. Sangat mengherankan, sel tersebut tidak musnah di sini, tetapi diarahkan ke ujung saluran indung telur, yaitu satu pipa saluran menuju kandungan.
Ovum atau sel reproduksi wanita didorong kedalam kandungan melalui saluran indung telur dengan sejumlah besar jari-jari halus yang menyapu sel itu dan menggerakkannya. Sementara sel tersebut melewati saluran indung telur, maka sekarang ia dapat bertemu dengan sperma apabila hubungan kelamin diadakan pada saat itu. Apabila tidak ada sperma laki-laki yang menyerang, ovum itu kemudian bergerak ke dalam kandungan, pada akhirnya musnah di sana.
Namun jikalau kedua sel itu bersatu, maka "hidup baru pun mulailah", sel baru ini akan bergerak secara perlahan untuk meneruskan perjalanannya dalam saluran indung telur, hingga sampai di kandungan. Di sanalah ia bermukim selama sembilan bulan. Kemudian sel itu berkembang menjadi bayi yang sempurna. Subhanallah .. ternyata kita bukan apa-apa, dan kita hanya menyaksikan sebuah peristiwa berlangsung. Kita hanya sebagai saksi atas 'pekerjaan' Allah yang logis dan mudah dicerna oleh siapa saja yang mau berpikir. Dengan cara demikian Allah berkomunikasi memberikan ajarannya melalui perantara "kalam" sehingga manusia menjadi tahu dan berilmu. Dari setiap system yang berlaku dalam penciptaan tersebut Allah sekaligus mengilhamkan sebuah "pengertian" atau kefahaman bagi si pembaca.
Mari kita pertegas lagi dengan surat Al Mu'minuun ayat 12-14 :
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah, kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang. Lalu tulang-belulang itu Kami bugkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha suci Allah, Pencipta yang paling baik" (QS 23:12-14)
Banyak orang mengajarkan ilmu kepada muridnya namun ia tidak mampu memberikan kepahaman, ... banyak guru mengajarkan ilmu agama namun ia tidak bisa memberikan secuil iman, dan banyak guru mengajarkan shalat dan rukunnya namun ia tidak bisa memberikan kekhusyu'an. Dan banyak majelis pembersihan jiwa namun ia tidak bisa membersihkan jiwanya (QS 24:21)
Ada peristiwa menarik yang perlu kita simak dari sekitar lingkungan kita sehari-sehari ...Saya mengajak pembaca untuk memperhatikan perilaku binatang dan tumbuh-tumbuhan yang terkadang terlupakan bagi kita untuk mengambil pelajaran.
Ada yang ingin saya ungkapkan sebuah rahasia Allah, saat kita bertutur mengenai perilaku binatang dan tumbuh-tumbuhan, bagaimana lebah menciptakan sarangnya dengan arsitektur yang indah, para semut yang bekerja dengan tekun dan kompak serta mengelompokkan dalam pekerjaan dengan menajemen yang sangat rapih. Dan kita perhatikan seperti apakah sarang semut itu? Mereka membuat sarang terdiri dari ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai gudang tempat menyimpan makanan, ruang untuk menyimpan larva, ruang makan ratu semut yang dilayani semut pekerja dan tempat bertelur, kemudian telur semut tersebut dibawa oleh pekerja ke ruangan khusus penyimpanan telur. Ruang semut jantan dan ruang semut betina terpisah. kepompong yang sudah menjadi semut sempurna diletakkan pada ruangan tersendiri dan para semut ada yang bertugas merobek kepompong untuk mengeluarkan semut-semut yang masih bayi.
Kita lihat di ruangan yang lain, semut-semut ini memelihara kepompong kupu-kupu hairstreak. Mereka merawatnya dan memberinya makanan layaknya bayinya sendiri. Mereka mengharapkan kelak anak angkatnya ini mampu membalas jasa baiknya dengan memberi madu yang manis.
Mari kita tinggalkan rumah semut yang damai dan sejahtera, menuju istana rayap yang penuh keajaiban. Sebuah gundukan tanah sarang rayap, yang kelihatannya sepele ternyata ada sebuah kecerdasan yang mengalir pada diri para penghuninya... bagaimana tidak, saat suhu udara di luar bergerak antara 35 derajat (pada malam hari) hingga 104 derajat fahrenheit (pada siang hari), suhu di dalam sarang tetap stabil. Kira-kira hanya 87 derajat fahrenheit kehebatan ini yang membuat arsitek di Zimbabwe berguru pada rayap. Mereka ingin membuat rumah yang dingin seperti rumah rayap. Ternyata ada sebuah lobang angin di bawah gundukan ... udara yang hangat di siang hari mengalir keseluruh ruang. Sementara ruang-ruang itu telah basah oleh lumpur yang dibawa rayap dari genangan dibawah tanah, makanya di dalam sarang udara tetap lembab. Jadi tak heran jika jamur yang dibutuhkan rayap sebagai makanan tumbuh subur di sini.
Belajar dari melihat dan memperhatikan apa yang dilakukan rayap, para arsitek Pearce Partnership di Harare, Zimbabwe, menerapkan ide yang sama untuk membangun sebuah kompleks perkantoran dan real estate. Maka berdirilah bangunan Eastgate. Banguan tersebut sebenarnya terdiri dari dua bangunan. Dibagian atapnya dihubungkan oleh semacam jembatan miring berbahan kaca, sehingga angin menjadi bebas masuk pada malam hari. Kipas-kipas yang dipasang disetiap ruangan mengalirkan udara dingin dari luar atrium. Udara masuk rongga di lantai dasar. Persis seperti lubang rayap, dibagian dasar ini, udara segar mengalir kesetiap ruang perkantoran melalui ventilasi lantai. Udara panas disiang hari akan keluar gedung melalui cerobong diatas atap.
Kita perhatikan makhluk yang tidak memliki akal dan tiada mampu berfikir, makhluk yang tiada daya namun siapa yang membekali ia kemampuan bersiasat, berpengertian ? Memiliki tingkat kecerdasan yang luar biasa. Bagaimana mereka mendapatkan kecerdasan dan berpengertian tersebut. Apakah mereka bisa dengan sendirinya.
Allah-lah yang bertutur kata kepada semua makhluknya. Allah yang memberikan wahyu kepada para Nabi, kepada ibu Musa, kepada lebah, kepada semut, kepada langit dan bumi, kepada manusia, kepada pencuri sekalipun !!!
Semua makhluk telah mengikuti kehendak Ilahi dan perintah Ilahi dengan terpaksa ataupun suka cita. Allah membuat hukum yang harus diikuti semua makhluk, hal ini bisa kita rasakan dalam renungan yang hening … kita perhatikan keluar masuknya nafas … kedipan mata dan degup jantung yang bergerak mengalirkan darah sambil mengirimkan nutrisi menggantikan sel-sel yang hilang … indahnya penglihatan memandang alam ... suara debur ombak menggema menembus telinga ….dan lidah merasakan lezatnya buah-buahan dan biji-bijian. Oh .. alangkah indahnya semuanya ini, manusia hanya bisa merasakan dan menyaksikan. Tidak sedikitpun kita ikut andil dalam membuat rasa semua ini !!!
Rasakan dengan penuh hikmah bahwa kita sebenarnya hanya diam terpaku dalam kesibukan Allah (Af'alullah), Allah yang menggerakkan bumi dan bintang-bintang … Allah yang mengatur senyawa-senyawa bereaksi ….dan butiran-butiran atom bergerak pada porosnya.
"dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepada kamu pendengaran dan penglihatan serta pikiran (perasaan), supaya kamu bersyukur" (QS 16:78)
Firman Allah :
"Kemudian Dia mengarah kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia berkata kepadanya dan pada bumi; silahkan kalian mengikuti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa .jawab mereka : kami mengikuti dengan suka hati" (QS 41:11)
Mari kita perhatikan Al Qur'an dalam surat Fushilat ayat 12 :
"Maka Allah menjadikannya tujuh langit dalam dua hari dan "mewahyukan" perintah-Nya pada tiap-tiap langit itu, dan Kami hiasi langit dunia dan pelita-pelita dan Kami memeliharanya, Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui"
(QS 41:12)
Allah mengajarkan manusia apa-apa yang belum diketahuinya. Allah-lah yang menuntun manusia, memberikan inspirasi, ilham dan wahyu. Tubuhnya patuh mengikuti perintah Tuhannya tidak terkecuali orang kafir. Sunnah-sunnah Allah berlaku kepada alam semesta baik yang mikro maupun yang makro. Syaikh imam An Nafiri berkata " Tuhanku bertutur kata kepadaku"… Demi keimanan bahwa sumber segala hakikat dan sumber segala pengilhaman ialah Allah Swt semata … Baiklah kita nukilkan apa yang tertera dalam kitab suci Al Qur'an setiap yang disebut wahyu itu adalah wahyu tasyri' atau wahyu syariat, tetapi ada wahyu ilham. dimana Allah memberikan perintah-perintah atau instruksi-instruksi kepada makhluknya, Firman Allah Swt:
Dan Tuhanmu " mewahyukan" kepada lebah (QS 16:18)
Dan Kami " wahyukan " kepada ibu Musa (QS 28:7)
Dan Ia "mewahyukan" kepada tiap-tiap langit itu urusan masing-masing (QS 41:12)
Kata "wahyu" yang tertera dalam ayat-ayat diatas, secara tegas bahwa Allah tidak menutup-nutupi kepada pembaca, bukan siapa-siapa yang membisikkan dan menggerakkan tubuh manusia yang oleh pakar biasa disebut alam kecil atau gambaran mini tentang alam semesta.
Dialah Allah yang bersembunyi dibalik kasat mata manusia yang buta hatinya. Ia yang menggerakkan bumi, langit, bintang-bintang, matahari ... dan mengajarkan lebah berdemokrasi dalam memilih pimpinan dan perundang-undangan pemilihan. Ia menuntun lebah-lebah ini untuk membuat konstruksi bangunan rumahnya yang indah. Masing-masing dibekali wahyu dari Tuhan untuk melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Mereka seperti rasul-rasul sang utusan, mereka begitu mematuhi perintah-Nya tanpa membantah, sehingga jalan mereka tidak berbenturan dengan fitrah Allah Yang Maha Suci.
Berpegang pada hasil kontemplasi pada alam semesta yang berada di sekililling kita, baik yang jauh seperti galaksi atau bimasakti, bintang, matahari, bulan, maupun yang dekat seperti bumi, gunung, lautan, angin, hujan dan sungai, semua makhluk yang dikatakan tak bernyawa, dan makhluk-makhluk hidup seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia, kita telah berhasil memberikan penafsiran dan pengertian yang menunjukkan adanya kecocokan antara ayat-ayat Allah di dalam kitab suci Al Qur'an dengan ayat-ayat Allah di alam semesta. Dengan perkembangannya dan sempurnanya sains kita akan mempunyai informasi yang lebih banyak tentang ayat-ayat Al Qur'an, yang sekarang belum kita fahami, dan lebih mendalam lagi ayat-ayat Al Qur'an yang kini telah dapat kita fahami sedalam apa yang dapat disajikan sains pada saat ini.
Keadaan ini dapat kita capai karena kita mengikuti perintah Allah untuk berintizhar pada alam semesta, agar kita dapat melihat ayat-ayat Allah, tanda kebesaran Allah, tanda-tanda kekuasaan-Nya serta wahyu-Nya. Ayat-ayat Allah ini boleh dibaca oleh siapa saja dan mereka akan medapatkan hikmahnya dan manfaat dari hasil membaca ayat-ayat tersebut. Maka jangan salahkan orang kafir kalau mereka bersungguh-sungguh meneliti dan mendata apa yang mereka baca dari kejadian alam lalu mendapatkan ganjaran atas manfaat membaca ayat kauniah. Dan sebaliknya Allah akan membiarkan ummat Islam terkapar, jika memang ia tidak mau menjalankan syariat secara kauniah yang merupakan ketetapan dan sunnah-sunnah-Nya.
Nyata pula bahwa melalui jalan intizhar pada isi bumi, baik yang hidup maupun yang mati serta atom dan molekul, Allah mengungkapkan hukum-hukum alam-Nya, dan mengizinkan kita untuk menganalisis kembali bagaimana bumi tercipta dan berkembang, dan makhluk hidup diciptakan serta dievolusikan Allah dalam rangka penyempurnaannya hingga tercipta manusia. Sekalipun ia tersusun dari zat-zat kimiawi yang berkelakuan sesuai ketetapan sunnatullah, manusia bukan sekedar onggokan bahan kimia atau struktur kimiawi yang mengikuti hukum-hukum alam hingga merupakan mekanisme yang memperlihatkan gejala hidup, bermetabolisme, tumbuh, berkembang biak dan sebagainya.
Dalam diri manusia terdapat suatu kesadaran, sesuatu yang tak dapat dikembalikan pada proses kimiawi atau fisis yang kita ketahui. Kita lihat dalam surat Al Hijr ayat 28-29 :
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang berstruktur, maka apabila Aku telah meniupkan kepadanya roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (QS 15:28-29).
Jadi manusia diberi roh oleh Allah, diberi kesadaran serta kemampuan abstraksi dan berkomunikasi secara lisan maupun simbolik, kemampuan analisis dan sintesis, berakal dan berpikiran. Kesemuanya itu merupakan intrumen yang disediakan dalam rangka untuk menjalankan tugas kekhalifahan. Pada bab-bab sebelumnya sudah saya singgung mengenai Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia.
Dia yang mengajarkan jiwa manusia melalui kalam baik tentang jalan kebajikan maupun jalan kejahatan. Dimana kejahatan dan kebajikan hampir tidak bisa dibedakan dalam penggunaannya. Ilmu yang yang digunakan oleh koruptor dalam mencuri uang perusahaan misalnya, ia menggunakan ilmu yang sama dengan ilmu yang digunakan oleh orang yang beriman yaitu "ilmu akuntansi". Jadi jelas bahwa Allah telah menurunkan ilmu kepada manusia melalui jiwanya, namun manusialah yang akan menentukan ilmu itu akan diarahkan kemana ia mau. Apakah jalan kebajikan ataupun jalan kejahatan. Maka beruntunglah bagi manusia yang membersihkan jiwanya sebab ia akan diberikan kemudahan oleh Allah untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Dan sebaliknya sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya sebab ia akan mendapatkan jalan kemudahan untuk berbuat kejahatan.
Dari semua uraian di atas mengenai bagaimana Allah mengajarkan manusia melalui kalam-Nya, mari kita merenungkan kembali dan melihat kebenaran dengan jujur, jangan kita membuat apologi untuk menghindar dari kebenaran yang nyata atas perbuatan Allah. Terkadang kita banyak terjebak oleh istilah yang membingungkan dan menjauhkan kita dari kegiatan Allah yang langsung kita bisa rasakan. Kebingungan kita bertambah tatkala ilmuwan-ilmuwan atheis mengatakan bahwa semua kejadian alam ini bisa bergerak dengan sendirinya atau biasa disebut "natural", insting atau gharizah Namun Al Qur'an secara tegas membantah pendapat kaum atheis itu, bahwa Allah-lah yang mengatur semuanya ini, Allah-lah yang berbicara dan memerintahkan langit, bumi, atom-atom, kepada binatang serta tumbuh-tumbuhan, kemudian Allah berbicara kepada roh manusia melalui ilham dan wahyu. Lantas mengapa kita takut mengatakan "saya berguru kepada Allah" dalam segala hal, karena Dialah Yang Maha Mengetahui akan segala sesuatu yang nyata maupun yang ghaib.
Banyak orang meragukan bagaimana kalau kita "tersesat" dan ternyata syetan yang menjadi guru kita? Saya akan kutib perkataan Syaikh Ar Rifa'i, dalam kitab Jalan Ruhani oleh Syaikh Sa'id Hawwa halaman 73 :
"Sebenarnya tujuan akhir para ulama dan para sufi adalah satu". Ini perlu kami utarakan disini, sebab beberapa ulama yang kurang faham selalu menghujat setiap orang dengan perkataan: "Orang yang tidak memiliki syaikh, maka syaikh-nya adalah syetan.
Ungkapan ini dilontarkan oleh seorang sufi yang berpropaganda untuk syaikh-nya yang alim atau dilontarkan oleh sufi yang keliru, yang tidak tahu bagaimana seharusnya ia mendudukkan tasawuf pada tempat yang sebenarnya. Sebenarnya orang yang tidak memiliki syaikh adalah orang bodoh yang tidak pernah belajar, menolak dan lari dari pendidikan. Manusia macam inilah yang bersyaikh pada syetan !!! Sedangkan yang berjalan atas dasar ilmu pengetahuan , itu berarti imam dan syaikhnya adalah ilmu dan syariat".
Syaikh Abdul Qadir Jaelani mengisahkan perjalanan keruhaniannya yang ditulis dalam kitab "Rahasia Kekasih Allah", saat dimana ia bertawajjuh dalam tafakkur dengan khusyu', saat ia meluruskan jiwanya melayang menuju yang maha ghaib, saat ia melampiaskan rohnya yang penat terkungkung oleh sibuknya dunia, ia tinggalkan seluruh ikatan syahwati yang sering mengajak kejalan kefasikan.
Ketika roh sang Syaikh mulai ekstase dalam puncak keheningan dan kecintaan yang mendalam kepada Sang Maha Kuasa, baru selangkah rohnya meluncur lepas untuk memasuki kefanaan, tiba-tiba muncul cahaya yang terang-benderang meliputi ruangan alam ruhani Syaikh. Dan kepada sang Syaikh diwangsitkan sebuah amanah yang membebaskan darinya dari ikatan "syari'at Allah" dengan memberikan alasan bahwa sang Syaikh sudah mencapai kedekatan kepada Allah.
Perjalanannya sudah sampai (wushul) dan tidak perlu lagi shalat, haji, zakat dan dihalalkan semua yang pernah Allah haramkan. Namun sang Syaikh ini rupanya telah memiliki ilmu ma'rifat kepada Allah dengan landasan Al Qur'an dan Alhadist, dimana ia diselamatkan oleh pengetahuan tentang Allah, bahwa Allah tidak sama dengan makhluq-Nya, tidak berupa suara, tidak satupun yang bisa membandingkan-Nya. Dia Maha Ghaib dan Maha Latif. Pengetahuan yang cukup, yang dimiliki sang Syaikh mengalahkan wangsit yang keliru tadi, dengan tuntunan syari'at yang ditentukan oleh Allah sendiri. Ia selamat dari jebakan syetan yang terkutuk. Allah-lah sebagai penuntun menuju hadirat-Nya. Dialah sang Mursyid sejati, tidak satupun manusia yang mampu menghantar roh manusia lain menuju ke hadirat Allah `azza wajalla.
KIta perhatikan para nabi seperti nabi Ibrahim, beliau mengetahui dengan jelas siapa yang menggoda ketika beliau mendapatkan perintah untuk mengorbankan putranya Ismail untuk disembelih. Namun nabi Ibrahim memiliki jiwa yang bersih dan berada pada wilayah keruhanian yang tinggi. Sehingga beliau mengetahui siapa sebenarnya yang menggodanya.
Sebab kedudukan dimensi syetan masih berada jauh di bawah kedudukan orang mukmin yang mukhlisin (berserah diri kepada Allah). Hal ini juga pernah dialami oleh nabi Yusuf saat gejolak syahwatnya menguasai jiwanya. namun saat itu pula nabi berserah diri dengan ikhlas kepada Allah, sehingga Allah menurunkan burhan di hatinya, yang pada akhirnya nabi Yusuf selamat dari perbuatan mesum dengan wanita cantik jelita yang menggodanya. Hal ini pernah dikeluhkan oleh syetan kepada Allah bahwa dirinya akan selalu menggoda setiap anak cucu Adam sampai hari kiamat. Namun ia tidak mampu menjerumuskan kedalam kesesatan bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.
Banyak informasi mengenai Allah yang keliru, sehingga belajar keTuhanan terkesan sulit dan sangat membingungkan. Kita lihat banyak buku-buku mengenai theologi, ia berbicara eksistensi "Tuhan" namun kita tidak pernah diajak melihat secara sederhana. Atau kita banyak berbicara mengenai Allah, tentang kekuasaan-Nya, kehebatan-Nya, dan keMahaPengasihan-Nya, akan tetapi kita merasakan sedang membicarakan sosok yang jauh disana. Padahal kita sedang berada didekat-Nya, dan sangat dekat …
Kesederhanaan firman-firman Allah dalam mengungkapkan keberadaan diri-Nya sering disalahtafsirkan. Sehingga bertambah jauhlah dia dari pengertian yang seharusnya. Kita banyak terhijab oleh pengetahuan yang menutup eksistensi Tuhan dalam hubungannya mengenai pengajaran dan bimbingan melalui "ilham". Kita sudah terlanjur terbelenggu oleh pengertian bahwa Allah tidak berkata-kata lagi kecuali hanya kepada nabi-nabi, para rasul dan para wali. Namun disisi lain mereka mengharapkan Allah memberikan jawaban-jawaban atas doa-doanya, bimbingannya, ismatnya dan taufiqnya.
Dan mereka menolaknya kalau kita katakan bahwa kita akan belajar atau berguru kepada Allah masalah hidup, masalah khusyu' masalah penyelesaian rumah tangga, atau menanyakan informasi hal-hal yang akan kita lakukan nanti. Kita telah melupakan bahwa ayat-ayat Al Qur'an banyak menyiratkan makna yang belum bisa kita lakukan. Ayat-ayat perintah atau amar seperti shalat, zakat, haji, sedekah, berjilbab, dan lain-lain, kita bisa lakukan dengan segera. Namun banyak ayat-ayat berupa penjelasan atau menceritakan keadaan (hal) orang-orang yang beriman. Dimana kita tidak akan mampu melakukannya kalau bukan karena hidayah atau tuntunan, yaitu berupa kekhusyu'an, menangis dalam shalat atau bergetar ketika dibacakan ayat-ayat Allah, merasa tenang dan tidak ada rasa khawatir. Sikap ruhiyah inilah yang kita tidak miliki !!!
Dan tidak mungkin kita bisa lakukan semudah mengangkat takbir atau membaca ayat Al Qur'an. Hidayah, bukan hak kita untuk memberikan kepada murid atau anak kita. Hidayah adalah hak Allah kepada hamba-hambaNya yang terpilih. Hidayah adalah pengalaman pribadi dan merupakan tuntunan dan tarikan ruhani. Kepada jiwa itulah cahaya Allah memberikan karunia kekusyu'an dan keimanan yang dalam. Pengalaman-pengalaman itu ditulis dalam Al Qur'an berupa keadaan yang mesti didapat secara rasa, bukan ditafsirkan. Pengalaman-pengalaman tersebut akan menjadi pemicu bagi yang merasakan sebagai penguat keimanan kepada Allah.
Rasulullah sendiri pernah mengalami kesulitan dalam memberikan wejangan kepada pamannya saat menjelang kematiannya. Dan pamannya tetap dalam keadaan kafir, sekaligus teguran kepada Rasulullah bahwa beliau ditugaskan hanya sebagai pembawa berita baik dan ancaman dari Tuhannya, bukan memberikan hidayah atau memberikan iman kepada manusia.
Dengan demikian seharusnyalah kita mengharapkan dan memfokuskan diri dalam melatih jiwa kita untuk selalu hadir berguru kepada Allah, memohon hidayah dan tuntunan. Dengan hanya berserah diri kepada Allah-lah kita akan mendapatkan hidayah dan bimbingan, seperti para nabi, para wali, lebah, semut, bumi dan langit. Semuanya mendapatkan bimbingan dan petunjuk karena mereka adalah orang-orang dan makhluk yang berserah diri secara total kepada Allah Swt. Mari kita hilangkan rasa takut tersesat. Rasa takut yang tidak beralasan inilah yang justru menjebak kita untuk berhenti mendekati Allah. Syetan telah berhasil memanfaatkan alasan "tersesat" sehingga kita lupa bahwa kita telah dan sedang tersesat, tidak berdzikir kepada Allah.
Untuk lebih jelasnya kita harus mengetahui bagaimana Allah menurunkan wahyu dan ilham kepada manusia. Dan apakah sebenarnya ilham atau wahyu itu?. Penjelasan ini penting untuk bekal bagi para pejalan keruhanian. Karena belakangan ini banyak orang menawarkan bentuk kerohanian yang bukan datang dari Islam. Kesan ruhiah Islam telah hilang, karena informasi kerohanian Islam tidak mudah didapat disembarang tempat, apalagi didepan khalayak ramai. Kondisi inilah yang menyebabkan khasanah ilmu kerohanian didominasi oleh kerohanian yang tidak berasal dari ketauhidan murni. Untuk itu wajar sekali kalau banyak kalangan yang takut belajar kerohanian, sebab yang mereka dengar dari setiap pelaku kerohanian cenderung berbicara soal 'klenik', perdukunan, ramalan, serta fenomena keadaan alam-alam ghaib yang menyeramkan.
Perbuatan Manusia
Tinjauan filsafat yang lebih menonjol terhadap manusia adalah menyangkut kebebasan. Perbuatan manusia dilihat dari segi efektivitasnya. Pandangan terhadap hal ini mempunyai akar pada konsepsi tentang hakikat manusia dan daya-daya yang dimilikinya. Apabila manusia mempunyai hakikat dengan daya-daya yang efektif pada dirinya, ia dengan sendirinya adalah pelaku perbuatan-perbuatannya. Sebaliknya, apabila manusia dipandang tidak mempunyai daya-daya yang efektif pada dirinya, perbuatan-perbuatannya, pada dasarnya, tidak berasal dari dirinya sendiri. Perbuatan-perbuatan itu merupakan hasil determinasi kekuatan-kekuatan lain diluar dirinya. Manusia dalam hal ini tempat berlakunya kekuatan-kekuatan itu.
Menurut Al Ghazaly didalam Ma'arij al quds, perbuatan adalah bagian dari gerak. Apabila gerak dikaitkan dengan manusia, maka gerak tersebut dapat dibedakan atas gerak yang tidak disadari (at thabi'i) dan gerak yang disadari (al iradiyyat). Gerak yang tidak disadari, kita sudah maklumi bahwa tubuh manusia dikatakan miniatur alam semesta, dimana unsur-unsur alam bergerak dan berkembang mengikuti perintah dan peraturan- peraturan Allah semata.
Dalam tulisan ini, yang hendak dikemukakan adalah persoalan perbuatan yang disadari, karena perbuatan inilah yang terjadi secara jelas melalui proses tertentu di dalam jiwa dan berhubungan dengan pengungkapan diri. Perbuatan yang disadari, disebut juga dengan perbuatan bebas (ikhtiyaari), perbuatan semacam ini menurut Al Ghazaly terjadi setelah melalui tiga tahap peristiwa dalam diri manusia, yaitu pengetahuan, kemauan (al iradat) dan kemampuan (al qudrat). Yang lebih dekat diantara ketiga tahap itu dengan wujud perbuatan adalah al qudrat. Al qudrat adalah daya penggerak dari jiwa sensitive yaitu makna yang tersimpan dalam otot-otot. Ia adalah momen terakhir yang secara langsung berhubungann dengan wujud perbuatan. Fungsi al qudrat pada dasarnya ialah menggerakkan tubuh. Bentuk gerakan tubuh ditentukan oleh kemauan atau iradat. Berdasarkan salah satu kecenderungan yang inheren didalamnya : positif atau negatif. Positif sebagai reaksi terhadap yang menguntungkan dan negatif sebagai reaksi terhadap hal yang merugikan. Dengan pengertian ini, semestinya pada al iradat terdapat kegiatan memilih. Al iradat (kemauan) mempunyai intensitas kepada proses sesudahnya al qudrat. Artinya ia bersifat aktif terhadap al qudrat, sehingga yang disebut terakhir ini menjadi aktual, tidak sekedar potensi. Al iradat tidak mempunyai intesitas kepada proses sebelumnya, yaitu pengetahuan, sebagaimana al qudrat tidak mempunyai intensitas kepada iradat. Al qudrat hanya mempunyai intensitas kepada wujud perbuatan. Berbeda dengan al qudrat, al iradat mempunyai "kekuasaan" yang lebih besar karena ia tidak menerima perintah dari daya sebelumnya, ia mempunyai inisiatif memilih, al iradat menentukan pilihannya berdasarkan pengetahuan.
Daya "mengetahui" mempunyai kekuasaan yang lebih besar daripada al iradat , tetapi ia mempunyai hubungan yang jauh dan terlibat secara langsung dengan perbuatan adalah al iradat dan al qudrat. Sepintas lalu proses terwujudnya perbuatan ini memperlihatkan efektivitas manusia, melalui iradat manusia mempunyai kebebasan dan melalui al qudrat manusia mempunyai kemampuan pada dirinya untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Disamping itu, Al Ghazaly menyatakan juga didalam buku-buku filsafatnya, bahwa perbuatan-perbuatan manusia terwujud dengan sebab "perbuatan Allah"
Namun demikian Al Ghazaly mendapat sorotan tajam dan dituduh sebagai biang kerok kejumudan pemikiran ummat. Hal ini disebabkan banyak kalangan yang kurang teliti melihat alur pemikiran Al Ghazali. Yang dimaksud adalah andil Allah dalam setiap perilaku manusia maupun makhluk dalam memberikan pengertian baik maupun buruk. Akan tetapi Allah sudah membekali dan memberikan kebebasan untuk memilih dua hal tersebut. Yang akan saya utarakan adalah persoalan awal sebelum kehendak dan kemampuan berbuat itu muncul. Misalnya seorang penulis, maupun pelukis, saat dimana ia melakukan perbuatan tersebut. Ia sebenarnya hanya diam menunggu inspirasi datang kemudian muncul kehendak lalu memerintahkan kemampuan atau iradat untuk melakukan gerakan.
Pengetahuan ini sering disebut dengan pengertian awwali atau ide besar yang belum berupa rangkaian huruf-huruf, bukan rumus-rumus suara, Dia ada meliputi segenap jiwa dan alam. Ialah perintah-perintah atau amar-amar Tuhan yang mengarahkan dan menggerakkan segala-sesuatu. Ialah ruh yang suci, yang tidak bisa digambarkan oleh fikiran, namun Ia hadir dengan perintahnya, tidak berupa suara dan suasana. Dia berkata-kata kepada para penulis novel, dia melukis bersama seniman, dia menuntun lebah merangkai sarangnya, dan semut-semut pun mengerti apa yang mesti dilakukan dalam hidupnya.
Pengertian-pengertian itu datang mengalir secara murni tanpa ada campur tangan makhluk apapun termasuk malaikat. Kita bisa rasakan sendiri hal ini bahwa datangnya perintah terhadap tubuh maupun alam secara alami berlaku pasrah maupun terpaksa. Kita perhatikan orang yang sedang tidur. Ia berbaring tanpa dikendalikan lagi oleh kemauan dan kekuasaan diri. Instrumen tubuh
bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing.bandingkan dengan perilaku alam yang lain seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, matahari, bumi dan planet-planet lainnya. Semua bergerak teratur menurut perintah Allah. (lihat Surat Al Fushilat ayat 11-12).
Yang membedakan antara manusia dan makhluk lain adalah adanya iradat dalam diri manusia sehingga ia bebas memilih untuk berbuat atau tidak. Akan tetapi manusia tidak bisa menentukan gerakan Ilahi yang mengalir dalam tubuhnya, yaitu gerak hakiki .
Gerak hakiki adalah gerak dimana Tuhan telah menentukan arah dan kadar fungsinya. Ia tidak akan menyimpang dari ketentuan yang ditetapkan Tuhan. Ia patuh sebagaimana alam semesta patuh. Ia bersifat pasrah yang dinamis, karena ia mengikuti gerak dan keinginan Ilahi
Para seniman Taichi berprinsip mengikuti irama gerak alam. Tubuhnya dipatok kedalam kekuasaan besar yang meliputinya, ia membiarkan tubuhnya berdiri diatas kelembutan dan kekerasan, sehingga keseimbangan dan keharmonisan segi tiga realitas menjadi puncak prinsip, mikrokosmos, makrokosmos dan metakosmos. Sehingga ia akan mengenal wujud Allah melalui tahapan wilayah-wilayah sampai kepada kesimpulan bahwa semua makhluk adalah fana kecuali wujud Allah Yang Maha Suci.
Gerak hakiki merupakan sunnatullah. Ia bergerak sesuai dengan kehendak Ilahi. Kita tidak bisa menghentikan kehendak hakiki pada tubuh kita untuk mati. Kita tidak pernah merencanakan lahir menjadi seorang laki-laki ataupun perempuan. Kadang-kadang kehendak itu bertentangan dengan kehendak kita. Kita menginginkan hidup seribu tahun lagi, namun ada gerak hakiki yang menghentikan dengan paksa untuk mati diusia belasan tahun.
Dengan mengetahui adanya dua kehendak yang berlangsung dalam diri kita, menandakan adanya bentuk hakikat dan bukan hakikat. Sehingga kehendak yang bukan hakikat semestinya mengikuti gerak hakikat yang menjadi pusat ketentuan dan ide didalam setiap gerak manusia. Maka sesungguhnya fitrah Allah dan fitrah manusia adalah sama (lihat surat Ar Rum ayat 30). Untuk mengenal hakikat Allah dan mengikuti kehendak-Nya, kita harus berupaya menjalani pendekatan melalui jalan ruhani. Karena Allah sendiri hanya memberikan tanda-tanda atau rambu-rambu dalam memberikan petunjuk menuju pengenalan akan "wujud" (eksistensi Allah). Pengenalan ini harus kita mulai dengan membuka harus kita mulai dengan membuka wawasan ilmu tauhid kepada Allah, yaitu ilmu yang bersangkut paut masalah hakikat Allah, sifat-sifat Allah, dzat Allah, Af'al Allah. Sebab kalau kita tidak mengenal ilmu ini, maka tentunya kita tidak akan tahu sampai dimana perjalanan kita menuju jalan hakikat. Jalan ruhani akan terhalang jika kita tidak mengetahui akan keadaan Allah secara ilmu. Kita akan terjebak oleh keadaan alam-alam yang menakjubkan didalam fenomena ghaib. Bisa jadi khayalan dan halusinasi seseorang yang bergembira berlebihan akan hidup berkerohanian menyebabkan memori didalam otaknya muncul tatkala ia berkonsentrasi apa yang diinginkan. Keadaan ini sering muncul atau seakan-akan ada orang yang membisikkan untuk melakukan sesuatu. Dalam berguru kepada Allah, hendaknya kita sudah mempersiapkan bekal ilmu yang disebutkan di atas, sebab kita akan memasuki dunia keTuhanan secara total.
Myskat Cahaya Ilahi
Kata cahaya adalah metafora yang diungkapkan Al Qur'an, dalam menjelaskan keadaan jiwa atau hati yang telah mendapatkan wahyu atau ilham. Dimana wahyu atau kata-kata Tuhan diungkapkan kedalam bahasa manusia, dengan meminjam kata 'cahaya', sebab wahyu sendiri tidak bisa diungkapkan dengan bahasa manusia. Wahyu adalah bahasa Allah, yang berbeda dengan bahasa manusia. Namun wahyu atau ilham bisa dipahami oleh orang yang menerimanya, bahkan hewan dan alampun mampu memahami bahasa Allah.
Didalam Mu'jam Alfadzil Qur'anil Karim, yang diterbitkan oleh Majma'ul Lughah Al Arabiyah, kata 'ilham' ditafsirkan dengan :"Disusupkannya kedalam hati perasaan yang sensitif yang dapat dipergunakan untuk membedakan antara kesesatan dan petunjuk", dan mungkin hal ini di jaman kita sekarang ini dikenal dengan istilah dhomir (kata hati). Didalam kamus Al Muhith disebutkan : "Al hamahu khaira" (Allah mengilhamkan kebaikan) yakni : Allah mengajarkan kepadanya.
Dengan alasan inilah saya memberikan judul "Berguru Kepada Allah" pada bab ini. Dan dengan demikian kita sudah menjurus kepada hal yang lebih penting lagi didalam perjalanan kita kali ini. Disamping kita sudah berbekal ilmu kema'rifatan, yaitu mengenal dzat, sifat dan af'al Allah, kita hendaknya melakukan komunikasi kepada Allah serta melakukan pemasrahan diri secara total. Kepasrahan adalah menggantungkan sikap jiwa untuk patuh kepada Allah dengan segenap syari'at yang telah ditentukan, agar kita mendapatkan cahaya keimanan yang lebih dalam.
Firman Allah Swt didalam surat An Nuur ayat 35-38:
"Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi. Perumpamaan cahaya adalah seperti lubang yang didalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam kaca. Dan kaca itu laksana bintang yang berkilauan yang dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati, yaitu minyak zaitun yang bukan dari timur dan tidak (juga) dari barat. Minyaknya hampir menerangi sekalipun tidak disentuh api. Cahaya di
atas cahaya. Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, (yaitu) di rumah-rumah, Allah memerintahkan untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, bertasbih didalam rumah itu pada waktu pagi dan petang, (yaitu) laki-laki yang tidak dilalaikan perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka takut akan hari yang berguncang padanya hati dan penglihatan, supaya Allah membalas mereka dengan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan dan menambah (lagi) karunia-Nya. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa-siapa yang Dia kehendaki dengan tiada terbatas" (QS 24:35-38)
Allah memberikan perumpamaan cahaya-Nya seperti lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada 'pelita' besar. Cahaya itu bersemayam di dalam hati orang-orang yang terpilih dan dikehendaki-Nya. Dengan cahaya itu Allah membimbing dan menuntun hati agar mampu memahami ayat-ayat Allah serta nasehat-nasehat Allah. Allah-lah yang akan 'menghantar' jiwa kita melayang menemui-Nya dan yang akan menunjukkan 'jalan ruhani' kita untuk melihat-Nya secara 'nyata'. Dengan 'cahaya-Nya', kita bisa membedakan petunjuk dari syetan atau dari Allah swt.
Firman Allah:
"Wahai orang-orang beriman jika kamu bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan bagimu furqan (pembeda) ". (QS 8:29)
Yang dimaksud dengan 'furqan' adalah cahaya yang dengannya, kita semua bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil.
Dan firman Allah :
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS 29:69)
Ayat ini menunjukkan bahwa bersungguh-sungguh atau bermujahadah dijalan Allah, memiliki pengaruh didalam memberi 'hidayah' atau 'cahaya' kepada manusia menuju jalan-jalan Allah, yaitu jalan kebenaran.
Firman Allah :
"Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagimu jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka ..." (QS 65:2-3).
Dengan demikian maka jelaslah pada ayat-ayat di atas, memberikan kepada kita 'syarat' untuk mendapatkan 'cahaya' atau 'hidayah', hendaklah melakukan amalan-amalan yang diwajibkan dan disunnahkan, yaitu melakukan dzikrullah', baik berdiri, duduk, maupun berbaring. Sebab didalam setiap peribadatan itu merupakan 'cara' untuk mengingat 'Allah'.
Dan menyebabkan 'Allah' menyambut ingatan kita, dengan sambutan kasih sayang serta memberinya 'cahaya' penerang bagi hatinya yang merelakan dan membuka untuk menerima Allah sebagai junjungannya, dengan ditandai rasa tenang yang luar biasa.
Untuk lebih jelasnya, saya akan lanjutkan perjalanan rohani kita, pada bab "Membuka Hijab". Pada bab itu akan saya jelaskan secara konkrit, masalah-masalah rohani atau fenomena kerohanian yang menjebak perjalanan kita seperti istijrad, kemampuan kasyaf, dan penyembuhan yang digandrungi oleh para pemburu 'kesaktian'. Dimensi-dimensi fisik maupun psikis akan anda temui pada bab tersebut.
AL-QURAN
Al Quran itu adalah dari kata qoroa atau artinya bacaan, perintah
membaca adalah iqro. Al Quran itu secara tekstual sudah sempurna
demikian juga secara konseptual al Quran selalu up to date. Al Quran
adalah ilmu yang diturunkan Allah untuk memanajemeni manusia dan alam.
Oleh karena itu isi al Quran adalah 75 % berbicara mengenai alam.
Yang disebut bacaan itu bukan sekedar rangkaian huruf yang dibunyikan
tetapi mengandung suatu pelajaran yang applicable sepanjang jaman.
Adapun ceritera-ceritera mengenai nabi-nabi, sejarah dan mengenai Nabi
Muhammad sendiri adalah sebenarnya merupakan fakta-fakta (bayyinat) yang
pernah terjadi dan ramalan peristiwa yang akan terjadi jika manusia
mentaati atau mendustainya. Ceritera-ceritera itu sama sekali tidak ada
hubungannya dengan penokohan para nabi apalagi menceriterakan hal-hal
yang diluar nalar seperti mua?Tjizat dll tetapi suatu ceritera alegoris
yang menggambarkan betapa ayat-ayat Allah itu akan menjadi mu'jiz
(menguatkan) bagi setiap mu'min apabila mu'min konsekwen
melaksanakannya.
Al Quran adalah sebuah petunjuk hidup, idiologi, sebuah ajaran, sebuah
konsep sekaligus rinciannya dan contoh-contoh serta paparan faktanya.
QS.61/9 : Dialah yang mengutus rasulNya dengan petunjuk dan diin yang
haq agar dimenangkannya diin-diin itu diatas diiin-diin yang lain.
Walapun kaum musyrik itu membencinya.
Nabi-nabi itu diutus Allah dengan dua modal utama yaitu petunjuk (Al
Quran dan kitab-kitab sebelumnya) dan diin yang haq, yaitu system
kehidupan yang haq seperti yang telah ditegakkan oleh para Rasul-Rasul
terdahulu, untuk apa ?, tentu saja untuk dimenangkan atas system-system
hidup yang lain. Bumi ini milik Allah maka Allahlah yang paling berhak
mengatur segala isinya. Aturan itulah yang disebut diinul Islam atau
system ketaatan. Pengaturan oleh Allah itu baru bisa dijalankan apabila
diin Allah sudah dhohir, sudah menjadi sistem yang menguasai kehidupan
manusia dimuka bumi. Oleh karena itu semua Rasul adalah penguasa bumi,
Muhammad sebagai rahmatan Lil Alamin adalah ketika Muhammad sudah
menjadikan Madinatul Munawarah sebagai pusat kekuasaan manusia dimuka
bumi. Pada saat itulah Muhammad telah memperoleh mandat (ridlo) dari
Allah sebagai penguasa bumi yang kemudian dilanjutkan oleh para amirul
mu'minin. Dengan kekuasaan yang dilandasi dengan diin Islam dimana
manusia beraktifitas sesuai dengan fitrahnya (al Quran) yaitu saling
merahmati, maka pada saat itulah Islam menjadi rahmatan lil alamin.
Apa yang telah dicapai oleh Muhammad adalah sebuah estafet tugas yang
telah dibebankan kepada nabi-nabi sebelumnya dan system serta methode
untuk mencapainyapun sama itulah yang disebut sunnah. Sunnah-sunnah yang
telah sukses dilaksanakan oleh nabi-nabi terdahulu ini diperankan ulang
oleh Nabi Muhammad dengan sukses . Ada jaminan Allah mengenai
keberhasilan didalam pelaksanaan Al Quran sebagai wujud pengemban amanat
Allah yang dibebankan kepada manusia mu'min.
Karena al Quran ini adalah suatu hudan atau idiologi, maka idiologi ini
akan berbenturan dengan penantang-penentang idiologi Al Quran, didalam
QS.61/9 penentang tegaknya diin Al;lah adalah orang musyrik. Musyrik
adalah bersifat universal tidak dibatasi oleh idiologi, kegiatan ritual,
kepercayaan dan 'agama', musyrik berasal dari kata syirik artinya
membuat tandingan (andad) terhadap apa yang sudah baku.
Diin Allah adalah sudah baku dan merupakan diin fitrah, diin Allah tidak
pernah berubah dan bisa dirubah oleh siapapun. Jadi tidak benar Muhammad
dengan al Qurannya diutus untuk menyempurnakan ajaran manusia terdahuylu
tetapi menegakkan kembali diinul Islam sebagaimana nabi-nabi terdahulu
menegakkannya. Diin Allah mempunyai penentang yang latent yaitu diin
bathil. Pengikut diin bathil itulah disebut musyrikin. Adapun ciri-ciri
musyrikin yang diterangkan Allah didalam al Quran adalah :
1. Orang yang membuat hukum sendiri untuk bangsanya padahal Allah sedah
menyediakan hukum yang fitrah buat manusia.
2. Orang yang membuat kekuasaan sendiri, padahal kekuasaan itu adalah
hak Allah, tiada manusia yang boleh berkuasa kecuali atas ijin Allah.
3. Orang menerapkan ketaatan manusia atas manusia, padahal Allah
melarang manusia berhamba kepada manusia, manusia hanya boleh berhamba
kepada Allah.
4. Orang-orang yang menjadikan kecintaan dunia (sex, anak-anak, harta,
emas, perhiasan, kendaraan mewah, sawah ladang, binatang peliharaana)
sebagai ilah-ilahnya, tujuan hidup hanya untuk mencapai kenikmatan
duniawi ini, padahal kehidupan akhirat yaitu kehidupan yang seluruhnya
diatur dengan hukum Allah adalah jauh lebih baik.
Pendustaan terhadap al Quran :
Manusia begitu disayangi dan dicintai oleh Allah, untuk itu mereka
diberikan petunjuk hidup, agar dengan petunjuk hidup itu bisa memikirkan
bagaimana upaya-upayanya agar kehidupan seluruh manusia dan alam yang
sejahtera, adil, damai dan seimbang. Tetapi manusia telah menutup
dirinya (covered/kafir) untuk menerima al Quran sebagai panduan hidupnya
dan hanya mau menerima Islam dari 5 perkaranya saja (syahadat, sholat,
zakat, puasa dan haji), diluar ibadah itu mereka fikir bisa mengatur
dirinya dengan hukum, kekuasaan dan pengabdiannya kepada selain Allah.
Mereka mempunyai bacaan-bacaan lain yaitu berupa isme-isme yang justru
semakin menjauhkan dirinya dari Allah. Mereka enggan mengiqro kondisi
manusia dijamannya dengan al Quran, tetapi memakai isme-isme lain
(kapitalisme, yahudiisme, demokrasiisme dll)
Apa yang dirasakan damai dihati, hidup tenang, konaah, ma'rifat hanyalah
sebuah manifestasi dari perasaan pribadinya saja.Padahal tidak sekalipun
Allah menyuruh mereka untuk hidup dengan cara mereka sendiri berdasarkan
ajaran-ajaran diluar al Quran, walaupun mereka itu mengatakan
berdasarkan persangkaannya dan mempengaruhi orang lain bahwa yang mereka
yakini itu benar adalah benar.
Al Quran diterima sebatas sebagai bacaan-bacaan yang memberikan
'pahala', sebagai sarana untuk memohon kepada Allah, sebagai pembenar
keyakinannya atau ajaran-ajarannya yang dipikirkan merupakan paling baik
buat manusia, sebagai mantera-mantera, sebagai sarana mita ampun kepada
arwah-arwah, sebagai sarana istighfar, sebagai hiasan-hiasan mulut dan
rumah. Padahal al Quran adalah sebuah karunia besar bagi manusia sebagai
sarana yang paling pas bagi manusia agar dengan al Quran itu manusia
memiliki kehidupan ilahiyah berdasarkan system yang sudah dibakukan oleh
Allah.
Pendusta-pendusta al Quran menganggap al Quran tidak berkaitan dengan
sebuah proses untuk memfurqonkan manusia, untuk memisahkan mana
masyarakat yang diatur dengan system haq dan mana masyarakat yang diatur
dengan system jahil. Padahal ayat alam berkata bahwa air yang kotor
apabila dicampur dengan air yang jernih yang berlaku adalah yang kotor.
Mereka menentang ayat alam, mereka tidak berfikir bahwa untuk
mendapatkan air yang jernih harus dikeluarkan dari air itu
kotoran-kotoran yang ada didalamnya, mereka tidak memikirkan bahwa untuk
membentuk masyarakat yang ber al Quran, maka orang-orang yang mau
kembali kepadaNya, kepada ajaran fitrahNya, harus dikeluarkan dari
masyarakat yang kotor yaitu dari masyarakat yang terlanjur percaya bahwa
ibadah itu urusan masing-masing dan yang penting mereka berbudi baik
tidak perduli apakah tempat mereka itu kotor atau bersih.
Nabi-nabi mengajarkan bagaimana memproses manusia kepada fitrahnya,
proses itu dalam garis besarnya adalah melalui kondisi Makiyyah dan
Madaniyah. Kondisi Makiiyah adalah kondisi dimana masyarakat 'menyembah'
Allah tetapi mengingkari hukum Allah (masyaralat plural dan sekular),
kondisi Madaniyah adalah kondisi dimana masyarakat mengabdi kepada Allah
pada seluruh waktu hidupnya mereka menjalankan ibadah mahdiyah tetapi
juga menjalankan apa-apa yang diundangkan Allah kepada mereka
(masyarakat yang kaffah).
Al Quran selalu berceritera kondisi Makiyyah (malam/dzulumat/gelap dalam
kondisi ini diutuslah seorang Nabi untuk menerangkan nubuwah/prediksi
mengenai nasib manusia yang menolak ayat-ayat Allah dan ajron berupa
kekuasaan didunia bagi yang mengimani) dan Madaniyah (siang/nur/terang
dalam kondisi ini seorang nabi disuruh meninggalklan tugas kenabiannya
(khataman nabiy) kemudian mengemban tugas baru sebagai Rasulullah yaitu
penegak-penegak raisalah Allah). Untuk merubah kondisi Makiyyah ke
Madaniyah hanya bisa dilakukan dengan mengaplikasikan ulang ajaran Al
Quran dengan konsekwen mengikuti wahyu-wahyu yang diturunkan Allah
sesuai dengan urutan instruksional menuirut turunnya al Quran.
Pendusta-penduta al Quran tidak yakin al Quran wahyu itu akan diturunkan
lagi kepada manusia, dan tidak yakin bahwa al Quran bisa dilaksanakan
ulang, sebab mereka tidak menganggap al Quran itu sebagai sunnah para
Rasul, mereka tidak yakin bahwa mereka bisa faham al Quran karena Rasul
sudah wafat, merera tidak yakin bahwa al Quran itu berbicara mengenai
masalah pergantian kekuasaan manusia, mereka tidak yakin bahwa Nabi dan
rasul itu hanyalah sebuah jabatan yang tentu saja sifatnya sebagai
sunatullah yang tidak akan berubah sepanjang sejarah manusia dibumi dan
akan diberikan kepada siapa yang mau kembali kepada Allah, yaitu kembali
melakukan ulaAl Haqqoh sering ditafsirkan dengan hari kiyamat, hari
akhirat, padahal dalam al Haqqoh diceriterakan kehancuran bangsa-bangsa
besar dibumi karena mendustai hukum-hukum Allah, puncaknya ketika Firaun
mengatakan Ana Robbukumul 'Ala (Saya penguasa hukum tertinggi). Jelas
ini bertentangan dengan ajaran yang berlaku saat ini yang diyakini
sebagian besar manusia bahwa hari kiyamat hanya satu pengertian yaitu
hancurnya alam semesta.
Akhirat itu sebenarnya punya dua makna
(1) Hari Penghukuman kaum musyrikin, munafikun dan kafirun, dengan
memberi tenggat waktu 4 bulan (Baca QS.9/2), dimana setelah itu manusia
menerima hukumannya. Akhirat disini adalah akhir kekuasaan orang-orang
yang berhamba kepada manusia, berhamba kepada hukum konsensus manusia,
berhamba kepada penguasa yang tidak berdasarkan hukum Allah. Dalam al
Quran dikisahkan hancurnya bangsa-bangsa besar yaitu Kaum Add, Tsamud,
Firaun, Roma dan Parsi.
Manusia selepas dari kekuasaan Rasul, kemudian sudah menjadi
kebiasaannya menolak hukum Allah karena menganggap pengabdian itu hanya
masalah orang-per-orang masalah pribadi, sedang negara adalah urusan
suatu bangsa. Itulah sekedar ilustrasi kehidupan berfirqoh menurut al
Quran, yaitu kehidupan yang pluralis atau kehidupan musyrik.
Kehidupan ini disandarkan oleh kemauan orang-orang bodoh yang tidak
berilmu (yaitu menyandarkan pada suara terbanyak). Sedang kehidupan
Rasul adalah disandarkan pada kehidupan yang dipimpin oleh orang-orang
yang terpilih, orang-orang yang dicintai Allah.
Akhirat sering diartikan dengan qiyamah, yaitu kebangkitan orang mati
(qolbu) menjadi hidup (menerima kehidupan wahyu). Mereka adalah
orang-orang muqorrobun yaitu orang-orang yang dekat dan dicintai Allah,
yang mengabdikan dirinya hanya untuk 'lillah' untuk li'ilai kalimatillah
(menjunjung tinggi prinsip Lailahaillallah. Mereka itulah orang-orang
yang mampu untuk IQRO, yaitu membaca situasi bangsanya apakah dalam
kemusyrikan atau keimanan kepada Allah yang ukurannya bukan banyaknya
mesjid dan banyaknya orang sholat tetapi adalah hukum apa yang diikuti
manusia saat itu, apakah hukum Jahiliyah atau hukum Allah.
Tentu saja hari akhirat disini adalah hari hancurnya kekuasaan bangsa
besar, yang musyrik. Manusia tidak yakin bahwa Amerika Serikat akan bisa
hancur. tetapi ketika Uni Sovyet hancur, mereka sedikit berfikir. Ketika
al Quran menceriterakan Firaun dan Roma hancur, mereka tidak berfikir,
mereka menganggap itu hanya dongengan kuno yang tidak membawa pelajaran
bagi Muslim.
Orang-orang mukmin yang mengimani hari qiyamah, saat ini adalah saat
kebangkitan orang mati (qolbunya), saat mulai mengumpulkan tulang-tulang
yang berserakan, menjadi sesuatu kekuatan yang siap menyongsong jatuhnya
kedzaliman besar yang dipelopori oleh penganjur demokrasi dan
pluralisme.
(2) Akhirat kedua adalah hari kepastian, yaitu tatkala manusia sudah
mati, sudah ditetapkan amalannya dan dosanya, sudah ditetapkan pahala
dan siksanya, yang tidak mungkin dosanya simati dikurangi dengan doa-doa
dan harapan dari orang yang masih hidup (keluarga atau murid-murid atau
pengikutnya).
Makanya kalau mau menyelamatkan dan membebaskan manusia dari dosa,
bacakan dan ajarkan al Quran waktu masih hidup bukan setelah mati sebab
sudah terlambat !!! Hari telah dihisab seluruh dosa dan amalan, apakah
waktu hidup ia beramal sholeh (menjadi penolong Allah untuk menegakkan
syariatNya), atau beramal salah (sekedar berbuat baik, sholat dll tetapi
tidak untuk menegakkan aturan Allah).
Dimana letaknya akhirat ini, tidak lah jelas tetapi pasti ada apakah
disidratul munthaha atau diplanit lain. Mengimani akhirat sebagai hari
kehancuran alam semesta adalah pemikiran yang jahil yang menghinakan
Allah.
(a) Allah sebagai Robbul 'alamin (pencipta,pengatur, pemelihara), adalah
merupakan suatu kesatuan antara Dia dengan CiptaanNya. Kalau ciptaannya
dihancurkan total lalu apakah julukan Allah
bukan Robbul 'Alamin lagi ?
(b) Allah menciptakan hidup dan mati sebagai sunatullah, manusia,
binatang, tumbuhan, planet ada yang dimatikan dan diciptakan. Ini terus
berlangsung, kalau alam semesta dihancurkan, lalu apakah Allah bukan al
Kholiq lagi.
Nah ke'imanan' yang sempit tentang Allah yang justru melenceng, akan
bisa menyesatkan manusia bersikap terhadap ajaran Allah.
Kaum tasawuf dan kebanyakan orang meyakini bahwa qiyamah hanya satu
pengertian, inipun salah, yaitu hancurnya alam semesta. Mereka tidak
mengimani bahwa kiyamat adalah hancurnya systim (diin) manusia yang
mendzalimi hukum, kekuasaan dan ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu
'ibadah' mereka adalah ibadah yang mengada-ada, memperbanyak pensucian
diri melalu dzikir, sholat, puasa, haji dll kemudian menafikan
kekuasaan, hukum, ketaatan sebab mereka pikir itukan sekedar fatamorgana
yang menipu.
Padahal bagaimana Allah akan menjadi Robb manusia, kalau tidak ada
manusia yang menegakkan kekuasaan Allah ? Sungguh sayang mereka telah
tertipu oleh kepemahaman yang salah tentang hari qiyamah.
Bisakah manusia masuk sorga hanya sekedar berbuat baik ? Kalau bisa
tentu Rasulullah itu tidak usah diutus untuk mengganti system manusia
dzalim dengan system (diin) Allah, Rasulullah tidak perlu untuk mengajak
manusia keluar dari kemusyrikan. Kalau benar hanya sekedar berbuat baik
maka rasulullah cukup menerbitkan buku tuntunan sholat, puasa zakat dan
haji tidak perlu al Quran, toh al Quran oleh manusia bukan dijadikan
uswah tetapi sekedar untuk membenarkan keyakinan terhadap ajarannya
sendiri.
QS.3/142 Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum
nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata
orang-orang yang sabarng al Quran sebagai petunjuk hidup manusia.
QS.30/9 Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan
memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang
sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri)
dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari
apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka
rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah
sekali-kali tidak berlaku lalim kepada mereka, akan tetapi merekalah
yang berlaku lalim kepada diri sendiri.
kedatangan Nabi adalah untuk memperingatkan orang-orang yang memakmurkan
bumi (materialist) untuk kembali kepada System Fitrah yaitu hanya
bertaat kepada Allah. Al Haqqoh adalah konsekwensi penolakan daripada
ajakan para Nabi. Al Haqqoh adalah Kiyamatnya penguasa dunia, dan ini
setidaknya telah terjadi selama 25 kali dengan diutusnya para Rasul.
sayang didalam visinya kehidupan dunia tidaklah penting, akhirat dalam
arti akhirnya kekuasaan Syaithan tidak penting. Yang penting hari Hisab.
Apakah Malaikat Subuh sudah faham surat At Taubah, inilah hari hisab
yang sebenarnya bagi kaum musyrik didunia. Didunia dihisab diakhirat
nantipun akan dihisab.
Mungkin sunatullah itu bukan berarti apa-apa, dengan berkata 'alam taro,
Allah tidak dianggep apa-apa, sebab dikira hidup ini yang paling penting
adalah hidup setelah akhir jaman. Padahal Allah telah berapa kali
menganggap Khalif-khalifNya. Untuk apa ?, tentunya bukan untuk
memproduksi buku tuntunan sholat, zakat, puasa dan haji, tetapi untuk
memimpin manusia berkuasa dibumi. Ini yang mungkin tidak pernah terbetik
dalam pikiran Malaikat Subuh, padahal jelas-jelas Allah memberitahukan
kepada kita :
QS.24/55 : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di
antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia
telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh
Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk
mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah
mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap
menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.
Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka
itulah orang-orang yang fasik.
Itulah sunatullah dan sifat sunatullah adalah terus berlangsung dan
selalu berulang.
Zikir atau zakaro artinya mengingat (kan). Jadi aktifitas zikir adalah
aktifitas mengingatkan diri kita dan orang lain dengan alat ingat yaitu
al Quran.
Qs.2/119 : Sesungguhnya Kami telah mengutusmu dengan kebenaran; sebagai
pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan
diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.
Rasulullah diutus untu menyampaikan kabar gembira, yaitu Islam sebagai
sistem hidup manusia, dan kabar peringatan (naziiron) yaitu jangan
sekali-kali melanggar fitrahnya manusia adalah pengabdi Allah
berdasarkan ilmunya Allah tentunya.
Jadi seorang yang berzikir (Muzakkir) adalah orang yang selalu
memberikan peringatan kepada yang lain, agar orang selalu ingat perintah
dan laranan Allah. Seorang Muzakkir bukan hanya sebatas mengingatkan
tetapi juga mengajak manusia untuk menegakkan hukum Allah, sehingga
hukum bisa dilaksanakan sebab ada yang menegakkannya.
Zikir dalam arti ritual melantunkan asmaul husna bukan dzikir, tetapi
orang mengatakan sesuatu tetapi tidak berbuat apa-apa atas yang
dikatakannya :
QS.61/2 2] Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa
yang tidak kamu perbuat?
QS.61/3 Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa
yang tiada kamu kerjakan.
Sungguh orang-orang yang demikian itu sangat dibenci Allah, walaupun
didalam hatinya dengan melantunkan asmaul husna dia merasa tenteram dan
tenang.
Seorang yang sedang berzikir dengan zikir "Subhanallah, Alhamdulillah
dan Allahu Akbar", adalah orang yang selalu mengingatkan orang lain agar
selalu bersabaha (beraktifitas) untuk Allah, dengan cara-cara yang
terpuji hanya dengan cara (ilmu) Allah untuk mengakbarkan Allah sehingga
Allah itu menjadi Robbinaas, Malikinaas dan Ilahinaas.
Apabila zikir dilakukan seperti itu, maka boleh jadi ulama terkenal
dengan konsep zikirnya membawa kemurkaan Allah bagi Aceh tatkala ia
mengajak rakyat Aceh berzikir di Masjid Baitur Rahman dibulan puasa
beberapa tahun yang lalu. Tetapi karena zikirnya adalah zikir sebatas
ucapan mulut bukan tindakan nyata demi Akbarnya Allah maka balasan Allah
kepada mereka adalah ketika Allah menunjukkan bukti dari ayat QS.61/2-3
tadi.
Alhamdulillah.
membaca adalah iqro. Al Quran itu secara tekstual sudah sempurna
demikian juga secara konseptual al Quran selalu up to date. Al Quran
adalah ilmu yang diturunkan Allah untuk memanajemeni manusia dan alam.
Oleh karena itu isi al Quran adalah 75 % berbicara mengenai alam.
Yang disebut bacaan itu bukan sekedar rangkaian huruf yang dibunyikan
tetapi mengandung suatu pelajaran yang applicable sepanjang jaman.
Adapun ceritera-ceritera mengenai nabi-nabi, sejarah dan mengenai Nabi
Muhammad sendiri adalah sebenarnya merupakan fakta-fakta (bayyinat) yang
pernah terjadi dan ramalan peristiwa yang akan terjadi jika manusia
mentaati atau mendustainya. Ceritera-ceritera itu sama sekali tidak ada
hubungannya dengan penokohan para nabi apalagi menceriterakan hal-hal
yang diluar nalar seperti mua?Tjizat dll tetapi suatu ceritera alegoris
yang menggambarkan betapa ayat-ayat Allah itu akan menjadi mu'jiz
(menguatkan) bagi setiap mu'min apabila mu'min konsekwen
melaksanakannya.
Al Quran adalah sebuah petunjuk hidup, idiologi, sebuah ajaran, sebuah
konsep sekaligus rinciannya dan contoh-contoh serta paparan faktanya.
QS.61/9 : Dialah yang mengutus rasulNya dengan petunjuk dan diin yang
haq agar dimenangkannya diin-diin itu diatas diiin-diin yang lain.
Walapun kaum musyrik itu membencinya.
Nabi-nabi itu diutus Allah dengan dua modal utama yaitu petunjuk (Al
Quran dan kitab-kitab sebelumnya) dan diin yang haq, yaitu system
kehidupan yang haq seperti yang telah ditegakkan oleh para Rasul-Rasul
terdahulu, untuk apa ?, tentu saja untuk dimenangkan atas system-system
hidup yang lain. Bumi ini milik Allah maka Allahlah yang paling berhak
mengatur segala isinya. Aturan itulah yang disebut diinul Islam atau
system ketaatan. Pengaturan oleh Allah itu baru bisa dijalankan apabila
diin Allah sudah dhohir, sudah menjadi sistem yang menguasai kehidupan
manusia dimuka bumi. Oleh karena itu semua Rasul adalah penguasa bumi,
Muhammad sebagai rahmatan Lil Alamin adalah ketika Muhammad sudah
menjadikan Madinatul Munawarah sebagai pusat kekuasaan manusia dimuka
bumi. Pada saat itulah Muhammad telah memperoleh mandat (ridlo) dari
Allah sebagai penguasa bumi yang kemudian dilanjutkan oleh para amirul
mu'minin. Dengan kekuasaan yang dilandasi dengan diin Islam dimana
manusia beraktifitas sesuai dengan fitrahnya (al Quran) yaitu saling
merahmati, maka pada saat itulah Islam menjadi rahmatan lil alamin.
Apa yang telah dicapai oleh Muhammad adalah sebuah estafet tugas yang
telah dibebankan kepada nabi-nabi sebelumnya dan system serta methode
untuk mencapainyapun sama itulah yang disebut sunnah. Sunnah-sunnah yang
telah sukses dilaksanakan oleh nabi-nabi terdahulu ini diperankan ulang
oleh Nabi Muhammad dengan sukses . Ada jaminan Allah mengenai
keberhasilan didalam pelaksanaan Al Quran sebagai wujud pengemban amanat
Allah yang dibebankan kepada manusia mu'min.
Karena al Quran ini adalah suatu hudan atau idiologi, maka idiologi ini
akan berbenturan dengan penantang-penentang idiologi Al Quran, didalam
QS.61/9 penentang tegaknya diin Al;lah adalah orang musyrik. Musyrik
adalah bersifat universal tidak dibatasi oleh idiologi, kegiatan ritual,
kepercayaan dan 'agama', musyrik berasal dari kata syirik artinya
membuat tandingan (andad) terhadap apa yang sudah baku.
Diin Allah adalah sudah baku dan merupakan diin fitrah, diin Allah tidak
pernah berubah dan bisa dirubah oleh siapapun. Jadi tidak benar Muhammad
dengan al Qurannya diutus untuk menyempurnakan ajaran manusia terdahuylu
tetapi menegakkan kembali diinul Islam sebagaimana nabi-nabi terdahulu
menegakkannya. Diin Allah mempunyai penentang yang latent yaitu diin
bathil. Pengikut diin bathil itulah disebut musyrikin. Adapun ciri-ciri
musyrikin yang diterangkan Allah didalam al Quran adalah :
1. Orang yang membuat hukum sendiri untuk bangsanya padahal Allah sedah
menyediakan hukum yang fitrah buat manusia.
2. Orang yang membuat kekuasaan sendiri, padahal kekuasaan itu adalah
hak Allah, tiada manusia yang boleh berkuasa kecuali atas ijin Allah.
3. Orang menerapkan ketaatan manusia atas manusia, padahal Allah
melarang manusia berhamba kepada manusia, manusia hanya boleh berhamba
kepada Allah.
4. Orang-orang yang menjadikan kecintaan dunia (sex, anak-anak, harta,
emas, perhiasan, kendaraan mewah, sawah ladang, binatang peliharaana)
sebagai ilah-ilahnya, tujuan hidup hanya untuk mencapai kenikmatan
duniawi ini, padahal kehidupan akhirat yaitu kehidupan yang seluruhnya
diatur dengan hukum Allah adalah jauh lebih baik.
Pendustaan terhadap al Quran :
Manusia begitu disayangi dan dicintai oleh Allah, untuk itu mereka
diberikan petunjuk hidup, agar dengan petunjuk hidup itu bisa memikirkan
bagaimana upaya-upayanya agar kehidupan seluruh manusia dan alam yang
sejahtera, adil, damai dan seimbang. Tetapi manusia telah menutup
dirinya (covered/kafir) untuk menerima al Quran sebagai panduan hidupnya
dan hanya mau menerima Islam dari 5 perkaranya saja (syahadat, sholat,
zakat, puasa dan haji), diluar ibadah itu mereka fikir bisa mengatur
dirinya dengan hukum, kekuasaan dan pengabdiannya kepada selain Allah.
Mereka mempunyai bacaan-bacaan lain yaitu berupa isme-isme yang justru
semakin menjauhkan dirinya dari Allah. Mereka enggan mengiqro kondisi
manusia dijamannya dengan al Quran, tetapi memakai isme-isme lain
(kapitalisme, yahudiisme, demokrasiisme dll)
Apa yang dirasakan damai dihati, hidup tenang, konaah, ma'rifat hanyalah
sebuah manifestasi dari perasaan pribadinya saja.Padahal tidak sekalipun
Allah menyuruh mereka untuk hidup dengan cara mereka sendiri berdasarkan
ajaran-ajaran diluar al Quran, walaupun mereka itu mengatakan
berdasarkan persangkaannya dan mempengaruhi orang lain bahwa yang mereka
yakini itu benar adalah benar.
Al Quran diterima sebatas sebagai bacaan-bacaan yang memberikan
'pahala', sebagai sarana untuk memohon kepada Allah, sebagai pembenar
keyakinannya atau ajaran-ajarannya yang dipikirkan merupakan paling baik
buat manusia, sebagai mantera-mantera, sebagai sarana mita ampun kepada
arwah-arwah, sebagai sarana istighfar, sebagai hiasan-hiasan mulut dan
rumah. Padahal al Quran adalah sebuah karunia besar bagi manusia sebagai
sarana yang paling pas bagi manusia agar dengan al Quran itu manusia
memiliki kehidupan ilahiyah berdasarkan system yang sudah dibakukan oleh
Allah.
Pendusta-pendusta al Quran menganggap al Quran tidak berkaitan dengan
sebuah proses untuk memfurqonkan manusia, untuk memisahkan mana
masyarakat yang diatur dengan system haq dan mana masyarakat yang diatur
dengan system jahil. Padahal ayat alam berkata bahwa air yang kotor
apabila dicampur dengan air yang jernih yang berlaku adalah yang kotor.
Mereka menentang ayat alam, mereka tidak berfikir bahwa untuk
mendapatkan air yang jernih harus dikeluarkan dari air itu
kotoran-kotoran yang ada didalamnya, mereka tidak memikirkan bahwa untuk
membentuk masyarakat yang ber al Quran, maka orang-orang yang mau
kembali kepadaNya, kepada ajaran fitrahNya, harus dikeluarkan dari
masyarakat yang kotor yaitu dari masyarakat yang terlanjur percaya bahwa
ibadah itu urusan masing-masing dan yang penting mereka berbudi baik
tidak perduli apakah tempat mereka itu kotor atau bersih.
Nabi-nabi mengajarkan bagaimana memproses manusia kepada fitrahnya,
proses itu dalam garis besarnya adalah melalui kondisi Makiyyah dan
Madaniyah. Kondisi Makiiyah adalah kondisi dimana masyarakat 'menyembah'
Allah tetapi mengingkari hukum Allah (masyaralat plural dan sekular),
kondisi Madaniyah adalah kondisi dimana masyarakat mengabdi kepada Allah
pada seluruh waktu hidupnya mereka menjalankan ibadah mahdiyah tetapi
juga menjalankan apa-apa yang diundangkan Allah kepada mereka
(masyarakat yang kaffah).
Al Quran selalu berceritera kondisi Makiyyah (malam/dzulumat/gelap dalam
kondisi ini diutuslah seorang Nabi untuk menerangkan nubuwah/prediksi
mengenai nasib manusia yang menolak ayat-ayat Allah dan ajron berupa
kekuasaan didunia bagi yang mengimani) dan Madaniyah (siang/nur/terang
dalam kondisi ini seorang nabi disuruh meninggalklan tugas kenabiannya
(khataman nabiy) kemudian mengemban tugas baru sebagai Rasulullah yaitu
penegak-penegak raisalah Allah). Untuk merubah kondisi Makiyyah ke
Madaniyah hanya bisa dilakukan dengan mengaplikasikan ulang ajaran Al
Quran dengan konsekwen mengikuti wahyu-wahyu yang diturunkan Allah
sesuai dengan urutan instruksional menuirut turunnya al Quran.
Pendusta-penduta al Quran tidak yakin al Quran wahyu itu akan diturunkan
lagi kepada manusia, dan tidak yakin bahwa al Quran bisa dilaksanakan
ulang, sebab mereka tidak menganggap al Quran itu sebagai sunnah para
Rasul, mereka tidak yakin bahwa mereka bisa faham al Quran karena Rasul
sudah wafat, merera tidak yakin bahwa al Quran itu berbicara mengenai
masalah pergantian kekuasaan manusia, mereka tidak yakin bahwa Nabi dan
rasul itu hanyalah sebuah jabatan yang tentu saja sifatnya sebagai
sunatullah yang tidak akan berubah sepanjang sejarah manusia dibumi dan
akan diberikan kepada siapa yang mau kembali kepada Allah, yaitu kembali
melakukan ulaAl Haqqoh sering ditafsirkan dengan hari kiyamat, hari
akhirat, padahal dalam al Haqqoh diceriterakan kehancuran bangsa-bangsa
besar dibumi karena mendustai hukum-hukum Allah, puncaknya ketika Firaun
mengatakan Ana Robbukumul 'Ala (Saya penguasa hukum tertinggi). Jelas
ini bertentangan dengan ajaran yang berlaku saat ini yang diyakini
sebagian besar manusia bahwa hari kiyamat hanya satu pengertian yaitu
hancurnya alam semesta.
Akhirat itu sebenarnya punya dua makna
(1) Hari Penghukuman kaum musyrikin, munafikun dan kafirun, dengan
memberi tenggat waktu 4 bulan (Baca QS.9/2), dimana setelah itu manusia
menerima hukumannya. Akhirat disini adalah akhir kekuasaan orang-orang
yang berhamba kepada manusia, berhamba kepada hukum konsensus manusia,
berhamba kepada penguasa yang tidak berdasarkan hukum Allah. Dalam al
Quran dikisahkan hancurnya bangsa-bangsa besar yaitu Kaum Add, Tsamud,
Firaun, Roma dan Parsi.
Manusia selepas dari kekuasaan Rasul, kemudian sudah menjadi
kebiasaannya menolak hukum Allah karena menganggap pengabdian itu hanya
masalah orang-per-orang masalah pribadi, sedang negara adalah urusan
suatu bangsa. Itulah sekedar ilustrasi kehidupan berfirqoh menurut al
Quran, yaitu kehidupan yang pluralis atau kehidupan musyrik.
Kehidupan ini disandarkan oleh kemauan orang-orang bodoh yang tidak
berilmu (yaitu menyandarkan pada suara terbanyak). Sedang kehidupan
Rasul adalah disandarkan pada kehidupan yang dipimpin oleh orang-orang
yang terpilih, orang-orang yang dicintai Allah.
Akhirat sering diartikan dengan qiyamah, yaitu kebangkitan orang mati
(qolbu) menjadi hidup (menerima kehidupan wahyu). Mereka adalah
orang-orang muqorrobun yaitu orang-orang yang dekat dan dicintai Allah,
yang mengabdikan dirinya hanya untuk 'lillah' untuk li'ilai kalimatillah
(menjunjung tinggi prinsip Lailahaillallah. Mereka itulah orang-orang
yang mampu untuk IQRO, yaitu membaca situasi bangsanya apakah dalam
kemusyrikan atau keimanan kepada Allah yang ukurannya bukan banyaknya
mesjid dan banyaknya orang sholat tetapi adalah hukum apa yang diikuti
manusia saat itu, apakah hukum Jahiliyah atau hukum Allah.
Tentu saja hari akhirat disini adalah hari hancurnya kekuasaan bangsa
besar, yang musyrik. Manusia tidak yakin bahwa Amerika Serikat akan bisa
hancur. tetapi ketika Uni Sovyet hancur, mereka sedikit berfikir. Ketika
al Quran menceriterakan Firaun dan Roma hancur, mereka tidak berfikir,
mereka menganggap itu hanya dongengan kuno yang tidak membawa pelajaran
bagi Muslim.
Orang-orang mukmin yang mengimani hari qiyamah, saat ini adalah saat
kebangkitan orang mati (qolbunya), saat mulai mengumpulkan tulang-tulang
yang berserakan, menjadi sesuatu kekuatan yang siap menyongsong jatuhnya
kedzaliman besar yang dipelopori oleh penganjur demokrasi dan
pluralisme.
(2) Akhirat kedua adalah hari kepastian, yaitu tatkala manusia sudah
mati, sudah ditetapkan amalannya dan dosanya, sudah ditetapkan pahala
dan siksanya, yang tidak mungkin dosanya simati dikurangi dengan doa-doa
dan harapan dari orang yang masih hidup (keluarga atau murid-murid atau
pengikutnya).
Makanya kalau mau menyelamatkan dan membebaskan manusia dari dosa,
bacakan dan ajarkan al Quran waktu masih hidup bukan setelah mati sebab
sudah terlambat !!! Hari telah dihisab seluruh dosa dan amalan, apakah
waktu hidup ia beramal sholeh (menjadi penolong Allah untuk menegakkan
syariatNya), atau beramal salah (sekedar berbuat baik, sholat dll tetapi
tidak untuk menegakkan aturan Allah).
Dimana letaknya akhirat ini, tidak lah jelas tetapi pasti ada apakah
disidratul munthaha atau diplanit lain. Mengimani akhirat sebagai hari
kehancuran alam semesta adalah pemikiran yang jahil yang menghinakan
Allah.
(a) Allah sebagai Robbul 'alamin (pencipta,pengatur, pemelihara), adalah
merupakan suatu kesatuan antara Dia dengan CiptaanNya. Kalau ciptaannya
dihancurkan total lalu apakah julukan Allah
bukan Robbul 'Alamin lagi ?
(b) Allah menciptakan hidup dan mati sebagai sunatullah, manusia,
binatang, tumbuhan, planet ada yang dimatikan dan diciptakan. Ini terus
berlangsung, kalau alam semesta dihancurkan, lalu apakah Allah bukan al
Kholiq lagi.
Nah ke'imanan' yang sempit tentang Allah yang justru melenceng, akan
bisa menyesatkan manusia bersikap terhadap ajaran Allah.
Kaum tasawuf dan kebanyakan orang meyakini bahwa qiyamah hanya satu
pengertian, inipun salah, yaitu hancurnya alam semesta. Mereka tidak
mengimani bahwa kiyamat adalah hancurnya systim (diin) manusia yang
mendzalimi hukum, kekuasaan dan ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu
'ibadah' mereka adalah ibadah yang mengada-ada, memperbanyak pensucian
diri melalu dzikir, sholat, puasa, haji dll kemudian menafikan
kekuasaan, hukum, ketaatan sebab mereka pikir itukan sekedar fatamorgana
yang menipu.
Padahal bagaimana Allah akan menjadi Robb manusia, kalau tidak ada
manusia yang menegakkan kekuasaan Allah ? Sungguh sayang mereka telah
tertipu oleh kepemahaman yang salah tentang hari qiyamah.
Bisakah manusia masuk sorga hanya sekedar berbuat baik ? Kalau bisa
tentu Rasulullah itu tidak usah diutus untuk mengganti system manusia
dzalim dengan system (diin) Allah, Rasulullah tidak perlu untuk mengajak
manusia keluar dari kemusyrikan. Kalau benar hanya sekedar berbuat baik
maka rasulullah cukup menerbitkan buku tuntunan sholat, puasa zakat dan
haji tidak perlu al Quran, toh al Quran oleh manusia bukan dijadikan
uswah tetapi sekedar untuk membenarkan keyakinan terhadap ajarannya
sendiri.
QS.3/142 Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum
nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata
orang-orang yang sabarng al Quran sebagai petunjuk hidup manusia.
QS.30/9 Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan
memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang
sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri)
dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari
apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka
rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah
sekali-kali tidak berlaku lalim kepada mereka, akan tetapi merekalah
yang berlaku lalim kepada diri sendiri.
kedatangan Nabi adalah untuk memperingatkan orang-orang yang memakmurkan
bumi (materialist) untuk kembali kepada System Fitrah yaitu hanya
bertaat kepada Allah. Al Haqqoh adalah konsekwensi penolakan daripada
ajakan para Nabi. Al Haqqoh adalah Kiyamatnya penguasa dunia, dan ini
setidaknya telah terjadi selama 25 kali dengan diutusnya para Rasul.
sayang didalam visinya kehidupan dunia tidaklah penting, akhirat dalam
arti akhirnya kekuasaan Syaithan tidak penting. Yang penting hari Hisab.
Apakah Malaikat Subuh sudah faham surat At Taubah, inilah hari hisab
yang sebenarnya bagi kaum musyrik didunia. Didunia dihisab diakhirat
nantipun akan dihisab.
Mungkin sunatullah itu bukan berarti apa-apa, dengan berkata 'alam taro,
Allah tidak dianggep apa-apa, sebab dikira hidup ini yang paling penting
adalah hidup setelah akhir jaman. Padahal Allah telah berapa kali
menganggap Khalif-khalifNya. Untuk apa ?, tentunya bukan untuk
memproduksi buku tuntunan sholat, zakat, puasa dan haji, tetapi untuk
memimpin manusia berkuasa dibumi. Ini yang mungkin tidak pernah terbetik
dalam pikiran Malaikat Subuh, padahal jelas-jelas Allah memberitahukan
kepada kita :
QS.24/55 : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di
antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia
telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh
Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk
mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah
mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap
menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.
Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka
itulah orang-orang yang fasik.
Itulah sunatullah dan sifat sunatullah adalah terus berlangsung dan
selalu berulang.
Zikir atau zakaro artinya mengingat (kan). Jadi aktifitas zikir adalah
aktifitas mengingatkan diri kita dan orang lain dengan alat ingat yaitu
al Quran.
Qs.2/119 : Sesungguhnya Kami telah mengutusmu dengan kebenaran; sebagai
pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan
diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.
Rasulullah diutus untu menyampaikan kabar gembira, yaitu Islam sebagai
sistem hidup manusia, dan kabar peringatan (naziiron) yaitu jangan
sekali-kali melanggar fitrahnya manusia adalah pengabdi Allah
berdasarkan ilmunya Allah tentunya.
Jadi seorang yang berzikir (Muzakkir) adalah orang yang selalu
memberikan peringatan kepada yang lain, agar orang selalu ingat perintah
dan laranan Allah. Seorang Muzakkir bukan hanya sebatas mengingatkan
tetapi juga mengajak manusia untuk menegakkan hukum Allah, sehingga
hukum bisa dilaksanakan sebab ada yang menegakkannya.
Zikir dalam arti ritual melantunkan asmaul husna bukan dzikir, tetapi
orang mengatakan sesuatu tetapi tidak berbuat apa-apa atas yang
dikatakannya :
QS.61/2 2] Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa
yang tidak kamu perbuat?
QS.61/3 Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa
yang tiada kamu kerjakan.
Sungguh orang-orang yang demikian itu sangat dibenci Allah, walaupun
didalam hatinya dengan melantunkan asmaul husna dia merasa tenteram dan
tenang.
Seorang yang sedang berzikir dengan zikir "Subhanallah, Alhamdulillah
dan Allahu Akbar", adalah orang yang selalu mengingatkan orang lain agar
selalu bersabaha (beraktifitas) untuk Allah, dengan cara-cara yang
terpuji hanya dengan cara (ilmu) Allah untuk mengakbarkan Allah sehingga
Allah itu menjadi Robbinaas, Malikinaas dan Ilahinaas.
Apabila zikir dilakukan seperti itu, maka boleh jadi ulama terkenal
dengan konsep zikirnya membawa kemurkaan Allah bagi Aceh tatkala ia
mengajak rakyat Aceh berzikir di Masjid Baitur Rahman dibulan puasa
beberapa tahun yang lalu. Tetapi karena zikirnya adalah zikir sebatas
ucapan mulut bukan tindakan nyata demi Akbarnya Allah maka balasan Allah
kepada mereka adalah ketika Allah menunjukkan bukti dari ayat QS.61/2-3
tadi.
Alhamdulillah.
Monday, August 17, 2009
KELEBIHAN BERPUASA 10 MUHARRAM DAN PERISTIWA-PERISTIWA YANG TERJADI PADA HARI TERSEBUT
KELEBIHAN BERPUASA 10 MUHARRAM DAN PERISTIWA-PERISTIWA YANG TERJADI PADA HARI TERSEBUT
Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah S.A.W bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka Allah S.W.T akan memberi kepadanya pahala 10,000 malaikat dan sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka akan diberi pahala 10,000 orang berhaji dan berumrah, dan 10,000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah S.W.T akan menaikkan dengan setiap rambut satu darjat. Dan sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari Aasyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh ummat Rasulullah S.A.W yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka".
Lalu para sahabat bertanya Rasulullah S.A.W: "Ya Rasulullah S.A.W, adakah Allah telah melebihkan hari Aasyura daripada hari-hari lain?". Maka berkata Rasulullah S.A.W: "Ya, memang benar, Allah Taala menjadikan langit dan bumi pada hari Aasyura, menjadikan laut pada hari Aasyura, menjadikan bukit-bukit pada hari Aasyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari Aasyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari Aasyura, dan Allah S.W.T menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari Aasyura, Allah S.W.T menenggelamkan Fir'aun pada hari Aasyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari Aasyura, Allah S.W.T menerima taubat Nabi Adam pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari Aasyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Aasyura!".
=============================================================
Disyari`atkan Puasa `Asyura`
Berdasarkan hadits-hadits berikut;
1. (Hadits pertama,)
Dahulu Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahklan untuk berpuasa Asyura`, tatkala puasa Romadlon diwajibkan, maka bagi siapa yang ingin berpuasa puasalah, dan siapa yang tidak ingin, tidak usah berpuasa. 8
2. (Hadits kedua,)
Tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari `Asyura` . Mereka mengatakan:
"Hari ini adalah hari yang agung, dimana Allah telah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan pasukan Fir`aun, lalu Musa berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah".
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersaba :"Saya lebih berhak atas Musa dari pada mereka", lalu beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu. 9
Keutamaan Puasa `Asyura`
1. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ditanya tentang puasa As Syura`, jawabnya:
"Saya tidak mengetahui bahwa Rosululah puasa pada hari yang paling dicari keutamaannya selain hari ini (As Syura`) dan bulan Romadlon". 10
2. Puasa `Asyura` mengahapus dosa setahun yang lalu, ber-dasarkan hadits berikut;
Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang puasa `Asyura`, jawabnya; "Puasa `Asyura` menghapus dosa setahun yang lalu. 11
As Syura` adalah hari kesepuluh.
Berdasarkan hadits berikut ;
Dari Ibnu Abbas ; tatkala Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa As Syura` dan memerintahkan untuk dipuasai, para sahabat berkata :"Wahai Rosulullah, ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashoro." Maka beliau bersabda: "Tahun depan-Insya Allah- kita akan berpuasa hari ke sembilan." Ibnu Abbas berkata :"Tahun berikutnya belum datang Rosulullah keburu meninggal." 12
Imam Nawawi berkata:
Jumhur ulama` salaf dan kholaf berpendapat bahwa hari As Syura` adalah hari kesepuluh. Yang berpendapat demikian diantaranya adalah Sa`id bin Musayyib, Al Hasan Al Bashri, Malik bin Anas, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohawaih dan banyak lagi. Pendapat ini sesuai dengan (dhohir) teks hadits dan tuntutan lafadhnya. 13
Hanya saja Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berniat untuk berpuasa hari kesembilan sebagai penyelisihan terhadap ahlul kitab, setelah diinformasikan kepada beliau bahwa hari tersebut diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashoro. Oleh karena itu Imam Nawawi berkata:
"As Syafi`i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya berpendapat; disunahkan untuk berpuasa hari kesembilan dan kesepuluh karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa hari kesembilan serta berniat untuk puasa hari kesepuluh. Ulama` berkata :"Barangkali sebab puasa hari kesembilan bersama hari kesepuluh agar tidak menyerupai orang-orang Yahudi jika hanya berpuasa hari kesepuluh saja. Dan dalam hadits tersebut memang terdapat indikasi ke arah itu". 14
Al Allamah Muhammad Shidiq Hasan Khon berkata:
"Mayoritas ulama` menyunahkan untuk berpuasa hari kesembilan dan kesepuluh." 15.
Imam Syaukani mengatakan:
"Bagi yang ingin berpuasa As Syura` hendaknya berpuasa pada hari sebelumnya." 16
Namun dalam masalah ini ulama berselisih. Selain ada yang berpendapat seperti diatas, sebagian ulama berpendapat hendaknya berpuasa satu hari sebelum dan sesudahnya berdasarkan hadits;
Rosulullah bersabda :"Berpuasalah hari as Syura`, dan berbedalah dengan orang Yahudi, (dengan) berpuasalah hari sebelumnya dan sesudahnya." 17
Seperti dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma`ad 2 hal. 76 dan Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 4 hal. 772. Hanya saja hadits tersebut didho`ifkan oleh beberapa ulama seperti Imam Syaukani dalam Nailul Author 2 hal. 552. Kata beliau:
"Riwayat Ahmad ini dho`if mungkar, diriwayatkan dari jalan Dawud bin Ali dari bapaknya dari kakeknya. Ibnu Abi Laila juga meriwayatkan dari Dawud bin Ali ini".
Al Allamah Mubarokfuri menukil perkataan Imam Syaukani ini dalam Tuhfatul Ahwadzi 3 hal. 383. Imam Al Albani juga mendho`ifkannya dalam ta`liq Shohih Ibnu Khuzaimah yang dinukil oleh Syaikh Muhammad Musthofa Al `A`dhomi dalam tahqiq Shohih Ibnu Khuzaimah juz 3 hal. 290. Syaikh Syu`aib dan Abdul Qodir Al Arnauth dalam tahqiq kitab Zadul Ma`ad 2 hal 69. Maka yang rojih adalah pendapat pertama yaitu disunnahkan untuk berpuasa satu hari sebelumnya.
Kesimpulannya bahwa bulan Muharram atau dikenal dengan Suro merupakan bulan yang mulia. Maka tidak sepantasnya bila kaum muslimin mempunyai anggapan miring terhadapnya, dengan menjadikan sebagai bulan keramat. Sehingga menyeret mereka jatuh ke lembah kesyirikan, dengan menggiatkan acara-acara, cerminan dari keyakinan mereka yang keliru. Akibatnya dosa yang yang disandang semakin banyak karena dilakukan pada bulan yang mulia.
________________________________________
Catatan Kaki
...8
HR. Bukhori 2001.
...9
HR. Bukhori 3397.
....10
HR. Bukhori 1902, Muslim 1132.
...11
HR. Muslim 1162, Tirmidzi 752, Abu Dawud 2425, Ibnu Majah 1738, Ahmad 22031.
...12
HR. Muslim 1134, Abu Dawud 2445, Ahmad 2107.
...13
Syarah Shohih Muslim 9 hal.205.
....14
Syarah Shohih Muslim hal. 205.
...15
Roudhotun Nadiyah, hal. 558.
...16
Sailul Jaror juz 2 hal. 148.
...17
HR. Ahmad 2155.
sumber : vbaitullah.or.id
================================================================
Puasa Sunnah dan Manfaatnya
Setiap kewajiban memiliki nafilah (sunnah) yang dapat mempertahankan keberadaan kewajiban tersebut serta menyempurnakan kekurangannya. Shalat lima waktu misalnya, memiliki shalat-shalat sunnah baik sebelum atau sesudahnya. Demikian juga dengan zakat, yang memiliki shadaqah sunnah. Haji dan umrah merupakan hal yang wajib dikerjakan sekali seumur hidup, sedangkan selebihnya adalah sunnah.
Puasa pun demikian, puasa wajib dikerjakan pada bulan Ramadhan sedangkan puasa yang sunnah banyak sekali, di antaranya: Puasa sunnah yang tidak pasti, seperti puasa bagi orang yang belum mampu menikah. Ada pula puasa sunnah yang ditentukan misalnya puasa enam hari di bulan Syawwal. Keutamaan puasa ini adalah bahwa siapa yang mengerjakan nya setelah puasa Ramadhan, maka seakan-akan dia telah berpuasa sepanjang tahun.
Hal ini berdasarkan pada hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang bersumber dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal maka ia seperti berpuasa ad-dahar (sepanjang tahun)." (HR. Muslim).
Selain puasa enam hari bulan Syawwal, masih ada puasa-puasa sunnah yang lainnya, di antaranya adalah:
Puasa Tiga Hari Setiap Bulan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Tiga hari dalam setiap bulan (hijriyah), serta dari Ramadhan ke Ramadhan, semua itu seolah-olah menjadikan pelakunya berpuasa setahun penuh." (HR. Ahmad dan Muslim)
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa kekasihnya (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) telah mewasiatkan tiga perkara kepadanya, di antaranya adalah puasa selama tiga hari dalam setiap bulan.
Yang paling utama, puasa tiga hari tersebut dilakukan pada ayyamul bidh (hari-hari putih/terang, yakni malam-malam purnama) pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulannya. Dasarnya adalah hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Wahai Abu Dzar, jika engkau berpuasa tiga hari pada setiap bulan, maka berpuasalah pada tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas." (HR. Ahmad dan an-Nasa'i di dalam as-Sunan)
Puasa 'Arafah
Disebutkan dalam shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa Arafah, beliau menjawab, "Dia (puasa Arafah) menghapuskan dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang."
Demikian pula disunnahkan berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Puasa Asyura'
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah ditanya tentang puasa Asyura' (puasa tangggal 10 Muharram), maka beliau menjawab, "Dia menghapuskan dosa tahun yang lalu."
Demikian pula secara umum puasa di bulan Muharrram, sebagaimana terdapat di dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan, maka beliau menjawab,
"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah al-Muharram."
Puasa Bulan Sya'ban
Mengenai puasa bulan Sya'ban ini, telah disebutkan di dalam ash-Shahihain dari Aisyah xberkata, "Aku tidak pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa selama sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa seperti yang dilakukannya pada bulan Sya'ban."
Disebutkan dalam riwayat yang lain, "Beliau banyak berpuasa pada bulan itu, kecuali hanya sedikit hari-hari (beliau berbuka) di dalamnya.
Puasa Senin Kamis
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari Senin maka beliau bersabda,
"Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus sebagai Nabi, atau hari diturunkannya al-Qur'an kepadaku."
Di dalam riwayat yang bersumber dari Aisyah radhiyallahu 'anha dia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa menjaga puasa Senin dan Kamis. (HR. Lima Imam ahli hadits, kecuali Abu Dawud).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Amal-amal itu diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku senang jika amalku ditampakkan pada saat aku sedang berpuasa." (HR at-Tirmidzi)
Puasa Nabi Dawud
Tentang puasa Nabi Dawud ini terdapat dalam riwayat al-Bukhari bahwa Abdullah Ibnu Amr radhiyallahu 'anhu pernah berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Demi Allah aku akan berpuasa pada siang hari dan bangun pada malam hari terus menerus selama hidupku."
Ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka beliau bersabda,
"Sesungguhnya engkau tidak akan mampu melakukan hal tersebut, karena itu berpuasa dan berbukalah, bangun dan tidurlah, berpuasalah engkau tiga hari dalam setiap bulannya, karena satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat, dan itu seperti puasa ad-Dahr (sepanjang tahun).
Tatkala mendengar jawaban dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ini Abdullah Ibnu Amr radhiyallahu 'anhu berkata, "Sesungguhnya aka mampu melakukan yang lebih baik daripada itu. Maka beliau bersabda, "Berpuasalah satu hari dan berbukalah (tidak berpuasa) dua hari." Abdullah Ibnu Amr radhiyallahu 'anhu menjawab, "Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih baik daripada itu." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda, "Berpuasalah satu hari dan berbukalah satu hari, yang demikian itu adalah puasa Dawud, puasa tersebut adalah puasa yang paling baik."
Lalu Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhu berkata, "Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih baik daripada itu." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak ada yang lebih baik daripada puasa tersebut."
PENGARUH PUASA SUNNAH
1. Puasa sunnah dapat dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Rabb-Nya, karena membiasakan diri berpuasa di luar puasa Ramadhan merupakan tanda diterimanya amal perbuatan, insya Allah. Hal ini karena Allah subhanahu wata'ala jika menerima amal seorang muslim maka dia akan memberikan petunjuk kepadanya untuk mengerjakan amal shalih setelahnya.
2. Puasa Ramadhan yang dikerjakan seorang muslim untuk Rabbnya dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala, akan menyebabkan seorang muslim mendapatkan ampunan atas dosa-dosa sebelumnya. Orang yang yang berpuasa akan mendapatkan pahala pada hari Idul Fithri, karena hari itu merupakan hari penerimaan pahala. Maka puasa setelah berlalunya Ramadhan merupakan bentuk rasa syukur terhadap nikmat ini, bagi hubungan seorang muslim dengan Rabbnya.
3. Puasa sunnah merupakan janji seorang muslim untuk Rabbnya bahwa ketaatan itu akan terus berlangsung dan tidak hanya pada bulan Ramadhan saja, bahwa kehidupan ini secara keseluruhannya adalah ibadah. Dengan demikian puasa itu tidak berakhir dengan berakhirnya bulan Ramadhan, tetapi puasa itu terus disyari'atkan sepanjang tahun. Maha benar Allah subhanahu wata'ala yang telah berfirman,
"Katakanlah, "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam." (QS. 6:162)
4. Puasa sunnah menjadi sebab timbulnya kecintaan Allah subhanahu wata'ala kepada hamba-Nya serta sebab terkabulnya doa, terhapusnya kesalahan-kesalahan, berlipatgandanya kebaikan kebaikan, tingginya derajat serta sebab keberuntungan mendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatan.
5. Dari sudut Kesehatan dalam seminar Kesehatan Asia Facific 14-15 Agustus 2004 di bangkok disebutkan salah satu cara untuk mengontrol colestrol dalam darah adalah dengan berpuasa sunnah senin-kamis secara rutin.
Puasa Makruh
Di antara puasa-puasa yang dimakruhkan adalah:
• Puasa Arafah bagi orang yang menunaikan ibadah haji.
• Puasa hari Jum'at saja.
• Puasa hari Sabtu saja.
• Puasa hari terakhir dari bulan Sya'ban, kecuali jika bertepatan dengan puasa yang telah bisa dilakukan seperti puasa Senin Kamis.
• Puasa ad-Dahr, jika berbuka pada hari-hari yang diharamkan berpuasa. Jika tetap berpuassa maka hukumnya adalah haram.
Puasa Yang Diharamkan
Di antara puasa yang dilarang adalah sebagai berikut:
• Puasa dua hari raya.
• Puasa hari-hari tasyriq
• Puasa saat haid dan nifas bagi wanita
• Puasa sunnah bagi wanita jika suami melarangnya.
• Puasa orang sakit yang jika berpuasa membahayakan dirinya
**dari berbagai Sumber##
Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah S.A.W bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka Allah S.W.T akan memberi kepadanya pahala 10,000 malaikat dan sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka akan diberi pahala 10,000 orang berhaji dan berumrah, dan 10,000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah S.W.T akan menaikkan dengan setiap rambut satu darjat. Dan sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari Aasyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh ummat Rasulullah S.A.W yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka".
Lalu para sahabat bertanya Rasulullah S.A.W: "Ya Rasulullah S.A.W, adakah Allah telah melebihkan hari Aasyura daripada hari-hari lain?". Maka berkata Rasulullah S.A.W: "Ya, memang benar, Allah Taala menjadikan langit dan bumi pada hari Aasyura, menjadikan laut pada hari Aasyura, menjadikan bukit-bukit pada hari Aasyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari Aasyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari Aasyura, dan Allah S.W.T menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari Aasyura, Allah S.W.T menenggelamkan Fir'aun pada hari Aasyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari Aasyura, Allah S.W.T menerima taubat Nabi Adam pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari Aasyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Aasyura!".
=============================================================
Disyari`atkan Puasa `Asyura`
Berdasarkan hadits-hadits berikut;
1. (Hadits pertama,)
Dahulu Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahklan untuk berpuasa Asyura`, tatkala puasa Romadlon diwajibkan, maka bagi siapa yang ingin berpuasa puasalah, dan siapa yang tidak ingin, tidak usah berpuasa. 8
2. (Hadits kedua,)
Tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari `Asyura` . Mereka mengatakan:
"Hari ini adalah hari yang agung, dimana Allah telah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan pasukan Fir`aun, lalu Musa berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah".
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersaba :"Saya lebih berhak atas Musa dari pada mereka", lalu beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu. 9
Keutamaan Puasa `Asyura`
1. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ditanya tentang puasa As Syura`, jawabnya:
"Saya tidak mengetahui bahwa Rosululah puasa pada hari yang paling dicari keutamaannya selain hari ini (As Syura`) dan bulan Romadlon". 10
2. Puasa `Asyura` mengahapus dosa setahun yang lalu, ber-dasarkan hadits berikut;
Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang puasa `Asyura`, jawabnya; "Puasa `Asyura` menghapus dosa setahun yang lalu. 11
As Syura` adalah hari kesepuluh.
Berdasarkan hadits berikut ;
Dari Ibnu Abbas ; tatkala Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa As Syura` dan memerintahkan untuk dipuasai, para sahabat berkata :"Wahai Rosulullah, ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashoro." Maka beliau bersabda: "Tahun depan-Insya Allah- kita akan berpuasa hari ke sembilan." Ibnu Abbas berkata :"Tahun berikutnya belum datang Rosulullah keburu meninggal." 12
Imam Nawawi berkata:
Jumhur ulama` salaf dan kholaf berpendapat bahwa hari As Syura` adalah hari kesepuluh. Yang berpendapat demikian diantaranya adalah Sa`id bin Musayyib, Al Hasan Al Bashri, Malik bin Anas, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohawaih dan banyak lagi. Pendapat ini sesuai dengan (dhohir) teks hadits dan tuntutan lafadhnya. 13
Hanya saja Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berniat untuk berpuasa hari kesembilan sebagai penyelisihan terhadap ahlul kitab, setelah diinformasikan kepada beliau bahwa hari tersebut diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashoro. Oleh karena itu Imam Nawawi berkata:
"As Syafi`i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya berpendapat; disunahkan untuk berpuasa hari kesembilan dan kesepuluh karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa hari kesembilan serta berniat untuk puasa hari kesepuluh. Ulama` berkata :"Barangkali sebab puasa hari kesembilan bersama hari kesepuluh agar tidak menyerupai orang-orang Yahudi jika hanya berpuasa hari kesepuluh saja. Dan dalam hadits tersebut memang terdapat indikasi ke arah itu". 14
Al Allamah Muhammad Shidiq Hasan Khon berkata:
"Mayoritas ulama` menyunahkan untuk berpuasa hari kesembilan dan kesepuluh." 15.
Imam Syaukani mengatakan:
"Bagi yang ingin berpuasa As Syura` hendaknya berpuasa pada hari sebelumnya." 16
Namun dalam masalah ini ulama berselisih. Selain ada yang berpendapat seperti diatas, sebagian ulama berpendapat hendaknya berpuasa satu hari sebelum dan sesudahnya berdasarkan hadits;
Rosulullah bersabda :"Berpuasalah hari as Syura`, dan berbedalah dengan orang Yahudi, (dengan) berpuasalah hari sebelumnya dan sesudahnya." 17
Seperti dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma`ad 2 hal. 76 dan Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 4 hal. 772. Hanya saja hadits tersebut didho`ifkan oleh beberapa ulama seperti Imam Syaukani dalam Nailul Author 2 hal. 552. Kata beliau:
"Riwayat Ahmad ini dho`if mungkar, diriwayatkan dari jalan Dawud bin Ali dari bapaknya dari kakeknya. Ibnu Abi Laila juga meriwayatkan dari Dawud bin Ali ini".
Al Allamah Mubarokfuri menukil perkataan Imam Syaukani ini dalam Tuhfatul Ahwadzi 3 hal. 383. Imam Al Albani juga mendho`ifkannya dalam ta`liq Shohih Ibnu Khuzaimah yang dinukil oleh Syaikh Muhammad Musthofa Al `A`dhomi dalam tahqiq Shohih Ibnu Khuzaimah juz 3 hal. 290. Syaikh Syu`aib dan Abdul Qodir Al Arnauth dalam tahqiq kitab Zadul Ma`ad 2 hal 69. Maka yang rojih adalah pendapat pertama yaitu disunnahkan untuk berpuasa satu hari sebelumnya.
Kesimpulannya bahwa bulan Muharram atau dikenal dengan Suro merupakan bulan yang mulia. Maka tidak sepantasnya bila kaum muslimin mempunyai anggapan miring terhadapnya, dengan menjadikan sebagai bulan keramat. Sehingga menyeret mereka jatuh ke lembah kesyirikan, dengan menggiatkan acara-acara, cerminan dari keyakinan mereka yang keliru. Akibatnya dosa yang yang disandang semakin banyak karena dilakukan pada bulan yang mulia.
________________________________________
Catatan Kaki
...8
HR. Bukhori 2001.
...9
HR. Bukhori 3397.
....10
HR. Bukhori 1902, Muslim 1132.
...11
HR. Muslim 1162, Tirmidzi 752, Abu Dawud 2425, Ibnu Majah 1738, Ahmad 22031.
...12
HR. Muslim 1134, Abu Dawud 2445, Ahmad 2107.
...13
Syarah Shohih Muslim 9 hal.205.
....14
Syarah Shohih Muslim hal. 205.
...15
Roudhotun Nadiyah, hal. 558.
...16
Sailul Jaror juz 2 hal. 148.
...17
HR. Ahmad 2155.
sumber : vbaitullah.or.id
================================================================
Puasa Sunnah dan Manfaatnya
Setiap kewajiban memiliki nafilah (sunnah) yang dapat mempertahankan keberadaan kewajiban tersebut serta menyempurnakan kekurangannya. Shalat lima waktu misalnya, memiliki shalat-shalat sunnah baik sebelum atau sesudahnya. Demikian juga dengan zakat, yang memiliki shadaqah sunnah. Haji dan umrah merupakan hal yang wajib dikerjakan sekali seumur hidup, sedangkan selebihnya adalah sunnah.
Puasa pun demikian, puasa wajib dikerjakan pada bulan Ramadhan sedangkan puasa yang sunnah banyak sekali, di antaranya: Puasa sunnah yang tidak pasti, seperti puasa bagi orang yang belum mampu menikah. Ada pula puasa sunnah yang ditentukan misalnya puasa enam hari di bulan Syawwal. Keutamaan puasa ini adalah bahwa siapa yang mengerjakan nya setelah puasa Ramadhan, maka seakan-akan dia telah berpuasa sepanjang tahun.
Hal ini berdasarkan pada hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang bersumber dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal maka ia seperti berpuasa ad-dahar (sepanjang tahun)." (HR. Muslim).
Selain puasa enam hari bulan Syawwal, masih ada puasa-puasa sunnah yang lainnya, di antaranya adalah:
Puasa Tiga Hari Setiap Bulan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Tiga hari dalam setiap bulan (hijriyah), serta dari Ramadhan ke Ramadhan, semua itu seolah-olah menjadikan pelakunya berpuasa setahun penuh." (HR. Ahmad dan Muslim)
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa kekasihnya (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) telah mewasiatkan tiga perkara kepadanya, di antaranya adalah puasa selama tiga hari dalam setiap bulan.
Yang paling utama, puasa tiga hari tersebut dilakukan pada ayyamul bidh (hari-hari putih/terang, yakni malam-malam purnama) pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulannya. Dasarnya adalah hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Wahai Abu Dzar, jika engkau berpuasa tiga hari pada setiap bulan, maka berpuasalah pada tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas." (HR. Ahmad dan an-Nasa'i di dalam as-Sunan)
Puasa 'Arafah
Disebutkan dalam shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa Arafah, beliau menjawab, "Dia (puasa Arafah) menghapuskan dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang."
Demikian pula disunnahkan berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Puasa Asyura'
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah ditanya tentang puasa Asyura' (puasa tangggal 10 Muharram), maka beliau menjawab, "Dia menghapuskan dosa tahun yang lalu."
Demikian pula secara umum puasa di bulan Muharrram, sebagaimana terdapat di dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan, maka beliau menjawab,
"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah al-Muharram."
Puasa Bulan Sya'ban
Mengenai puasa bulan Sya'ban ini, telah disebutkan di dalam ash-Shahihain dari Aisyah xberkata, "Aku tidak pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa selama sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa seperti yang dilakukannya pada bulan Sya'ban."
Disebutkan dalam riwayat yang lain, "Beliau banyak berpuasa pada bulan itu, kecuali hanya sedikit hari-hari (beliau berbuka) di dalamnya.
Puasa Senin Kamis
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari Senin maka beliau bersabda,
"Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus sebagai Nabi, atau hari diturunkannya al-Qur'an kepadaku."
Di dalam riwayat yang bersumber dari Aisyah radhiyallahu 'anha dia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa menjaga puasa Senin dan Kamis. (HR. Lima Imam ahli hadits, kecuali Abu Dawud).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Amal-amal itu diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku senang jika amalku ditampakkan pada saat aku sedang berpuasa." (HR at-Tirmidzi)
Puasa Nabi Dawud
Tentang puasa Nabi Dawud ini terdapat dalam riwayat al-Bukhari bahwa Abdullah Ibnu Amr radhiyallahu 'anhu pernah berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Demi Allah aku akan berpuasa pada siang hari dan bangun pada malam hari terus menerus selama hidupku."
Ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka beliau bersabda,
"Sesungguhnya engkau tidak akan mampu melakukan hal tersebut, karena itu berpuasa dan berbukalah, bangun dan tidurlah, berpuasalah engkau tiga hari dalam setiap bulannya, karena satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat, dan itu seperti puasa ad-Dahr (sepanjang tahun).
Tatkala mendengar jawaban dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ini Abdullah Ibnu Amr radhiyallahu 'anhu berkata, "Sesungguhnya aka mampu melakukan yang lebih baik daripada itu. Maka beliau bersabda, "Berpuasalah satu hari dan berbukalah (tidak berpuasa) dua hari." Abdullah Ibnu Amr radhiyallahu 'anhu menjawab, "Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih baik daripada itu." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda, "Berpuasalah satu hari dan berbukalah satu hari, yang demikian itu adalah puasa Dawud, puasa tersebut adalah puasa yang paling baik."
Lalu Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhu berkata, "Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih baik daripada itu." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak ada yang lebih baik daripada puasa tersebut."
PENGARUH PUASA SUNNAH
1. Puasa sunnah dapat dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Rabb-Nya, karena membiasakan diri berpuasa di luar puasa Ramadhan merupakan tanda diterimanya amal perbuatan, insya Allah. Hal ini karena Allah subhanahu wata'ala jika menerima amal seorang muslim maka dia akan memberikan petunjuk kepadanya untuk mengerjakan amal shalih setelahnya.
2. Puasa Ramadhan yang dikerjakan seorang muslim untuk Rabbnya dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala, akan menyebabkan seorang muslim mendapatkan ampunan atas dosa-dosa sebelumnya. Orang yang yang berpuasa akan mendapatkan pahala pada hari Idul Fithri, karena hari itu merupakan hari penerimaan pahala. Maka puasa setelah berlalunya Ramadhan merupakan bentuk rasa syukur terhadap nikmat ini, bagi hubungan seorang muslim dengan Rabbnya.
3. Puasa sunnah merupakan janji seorang muslim untuk Rabbnya bahwa ketaatan itu akan terus berlangsung dan tidak hanya pada bulan Ramadhan saja, bahwa kehidupan ini secara keseluruhannya adalah ibadah. Dengan demikian puasa itu tidak berakhir dengan berakhirnya bulan Ramadhan, tetapi puasa itu terus disyari'atkan sepanjang tahun. Maha benar Allah subhanahu wata'ala yang telah berfirman,
"Katakanlah, "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam." (QS. 6:162)
4. Puasa sunnah menjadi sebab timbulnya kecintaan Allah subhanahu wata'ala kepada hamba-Nya serta sebab terkabulnya doa, terhapusnya kesalahan-kesalahan, berlipatgandanya kebaikan kebaikan, tingginya derajat serta sebab keberuntungan mendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatan.
5. Dari sudut Kesehatan dalam seminar Kesehatan Asia Facific 14-15 Agustus 2004 di bangkok disebutkan salah satu cara untuk mengontrol colestrol dalam darah adalah dengan berpuasa sunnah senin-kamis secara rutin.
Puasa Makruh
Di antara puasa-puasa yang dimakruhkan adalah:
• Puasa Arafah bagi orang yang menunaikan ibadah haji.
• Puasa hari Jum'at saja.
• Puasa hari Sabtu saja.
• Puasa hari terakhir dari bulan Sya'ban, kecuali jika bertepatan dengan puasa yang telah bisa dilakukan seperti puasa Senin Kamis.
• Puasa ad-Dahr, jika berbuka pada hari-hari yang diharamkan berpuasa. Jika tetap berpuassa maka hukumnya adalah haram.
Puasa Yang Diharamkan
Di antara puasa yang dilarang adalah sebagai berikut:
• Puasa dua hari raya.
• Puasa hari-hari tasyriq
• Puasa saat haid dan nifas bagi wanita
• Puasa sunnah bagi wanita jika suami melarangnya.
• Puasa orang sakit yang jika berpuasa membahayakan dirinya
**dari berbagai Sumber##
Subscribe to:
Comments (Atom)