Al Quran itu adalah dari kata qoroa atau artinya bacaan, perintah
membaca adalah iqro. Al Quran itu secara tekstual sudah sempurna
demikian juga secara konseptual al Quran selalu up to date. Al Quran
adalah ilmu yang diturunkan Allah untuk memanajemeni manusia dan alam.
Oleh karena itu isi al Quran adalah 75 % berbicara mengenai alam.
Yang disebut bacaan itu bukan sekedar rangkaian huruf yang dibunyikan
tetapi mengandung suatu pelajaran yang applicable sepanjang jaman.
Adapun ceritera-ceritera mengenai nabi-nabi, sejarah dan mengenai Nabi
Muhammad sendiri adalah sebenarnya merupakan fakta-fakta (bayyinat) yang
pernah terjadi dan ramalan peristiwa yang akan terjadi jika manusia
mentaati atau mendustainya. Ceritera-ceritera itu sama sekali tidak ada
hubungannya dengan penokohan para nabi apalagi menceriterakan hal-hal
yang diluar nalar seperti mua?Tjizat dll tetapi suatu ceritera alegoris
yang menggambarkan betapa ayat-ayat Allah itu akan menjadi mu'jiz
(menguatkan) bagi setiap mu'min apabila mu'min konsekwen
melaksanakannya.
Al Quran adalah sebuah petunjuk hidup, idiologi, sebuah ajaran, sebuah
konsep sekaligus rinciannya dan contoh-contoh serta paparan faktanya.
QS.61/9 : Dialah yang mengutus rasulNya dengan petunjuk dan diin yang
haq agar dimenangkannya diin-diin itu diatas diiin-diin yang lain.
Walapun kaum musyrik itu membencinya.
Nabi-nabi itu diutus Allah dengan dua modal utama yaitu petunjuk (Al
Quran dan kitab-kitab sebelumnya) dan diin yang haq, yaitu system
kehidupan yang haq seperti yang telah ditegakkan oleh para Rasul-Rasul
terdahulu, untuk apa ?, tentu saja untuk dimenangkan atas system-system
hidup yang lain. Bumi ini milik Allah maka Allahlah yang paling berhak
mengatur segala isinya. Aturan itulah yang disebut diinul Islam atau
system ketaatan. Pengaturan oleh Allah itu baru bisa dijalankan apabila
diin Allah sudah dhohir, sudah menjadi sistem yang menguasai kehidupan
manusia dimuka bumi. Oleh karena itu semua Rasul adalah penguasa bumi,
Muhammad sebagai rahmatan Lil Alamin adalah ketika Muhammad sudah
menjadikan Madinatul Munawarah sebagai pusat kekuasaan manusia dimuka
bumi. Pada saat itulah Muhammad telah memperoleh mandat (ridlo) dari
Allah sebagai penguasa bumi yang kemudian dilanjutkan oleh para amirul
mu'minin. Dengan kekuasaan yang dilandasi dengan diin Islam dimana
manusia beraktifitas sesuai dengan fitrahnya (al Quran) yaitu saling
merahmati, maka pada saat itulah Islam menjadi rahmatan lil alamin.
Apa yang telah dicapai oleh Muhammad adalah sebuah estafet tugas yang
telah dibebankan kepada nabi-nabi sebelumnya dan system serta methode
untuk mencapainyapun sama itulah yang disebut sunnah. Sunnah-sunnah yang
telah sukses dilaksanakan oleh nabi-nabi terdahulu ini diperankan ulang
oleh Nabi Muhammad dengan sukses . Ada jaminan Allah mengenai
keberhasilan didalam pelaksanaan Al Quran sebagai wujud pengemban amanat
Allah yang dibebankan kepada manusia mu'min.
Karena al Quran ini adalah suatu hudan atau idiologi, maka idiologi ini
akan berbenturan dengan penantang-penentang idiologi Al Quran, didalam
QS.61/9 penentang tegaknya diin Al;lah adalah orang musyrik. Musyrik
adalah bersifat universal tidak dibatasi oleh idiologi, kegiatan ritual,
kepercayaan dan 'agama', musyrik berasal dari kata syirik artinya
membuat tandingan (andad) terhadap apa yang sudah baku.
Diin Allah adalah sudah baku dan merupakan diin fitrah, diin Allah tidak
pernah berubah dan bisa dirubah oleh siapapun. Jadi tidak benar Muhammad
dengan al Qurannya diutus untuk menyempurnakan ajaran manusia terdahuylu
tetapi menegakkan kembali diinul Islam sebagaimana nabi-nabi terdahulu
menegakkannya. Diin Allah mempunyai penentang yang latent yaitu diin
bathil. Pengikut diin bathil itulah disebut musyrikin. Adapun ciri-ciri
musyrikin yang diterangkan Allah didalam al Quran adalah :
1. Orang yang membuat hukum sendiri untuk bangsanya padahal Allah sedah
menyediakan hukum yang fitrah buat manusia.
2. Orang yang membuat kekuasaan sendiri, padahal kekuasaan itu adalah
hak Allah, tiada manusia yang boleh berkuasa kecuali atas ijin Allah.
3. Orang menerapkan ketaatan manusia atas manusia, padahal Allah
melarang manusia berhamba kepada manusia, manusia hanya boleh berhamba
kepada Allah.
4. Orang-orang yang menjadikan kecintaan dunia (sex, anak-anak, harta,
emas, perhiasan, kendaraan mewah, sawah ladang, binatang peliharaana)
sebagai ilah-ilahnya, tujuan hidup hanya untuk mencapai kenikmatan
duniawi ini, padahal kehidupan akhirat yaitu kehidupan yang seluruhnya
diatur dengan hukum Allah adalah jauh lebih baik.
Pendustaan terhadap al Quran :
Manusia begitu disayangi dan dicintai oleh Allah, untuk itu mereka
diberikan petunjuk hidup, agar dengan petunjuk hidup itu bisa memikirkan
bagaimana upaya-upayanya agar kehidupan seluruh manusia dan alam yang
sejahtera, adil, damai dan seimbang. Tetapi manusia telah menutup
dirinya (covered/kafir) untuk menerima al Quran sebagai panduan hidupnya
dan hanya mau menerima Islam dari 5 perkaranya saja (syahadat, sholat,
zakat, puasa dan haji), diluar ibadah itu mereka fikir bisa mengatur
dirinya dengan hukum, kekuasaan dan pengabdiannya kepada selain Allah.
Mereka mempunyai bacaan-bacaan lain yaitu berupa isme-isme yang justru
semakin menjauhkan dirinya dari Allah. Mereka enggan mengiqro kondisi
manusia dijamannya dengan al Quran, tetapi memakai isme-isme lain
(kapitalisme, yahudiisme, demokrasiisme dll)
Apa yang dirasakan damai dihati, hidup tenang, konaah, ma'rifat hanyalah
sebuah manifestasi dari perasaan pribadinya saja.Padahal tidak sekalipun
Allah menyuruh mereka untuk hidup dengan cara mereka sendiri berdasarkan
ajaran-ajaran diluar al Quran, walaupun mereka itu mengatakan
berdasarkan persangkaannya dan mempengaruhi orang lain bahwa yang mereka
yakini itu benar adalah benar.
Al Quran diterima sebatas sebagai bacaan-bacaan yang memberikan
'pahala', sebagai sarana untuk memohon kepada Allah, sebagai pembenar
keyakinannya atau ajaran-ajarannya yang dipikirkan merupakan paling baik
buat manusia, sebagai mantera-mantera, sebagai sarana mita ampun kepada
arwah-arwah, sebagai sarana istighfar, sebagai hiasan-hiasan mulut dan
rumah. Padahal al Quran adalah sebuah karunia besar bagi manusia sebagai
sarana yang paling pas bagi manusia agar dengan al Quran itu manusia
memiliki kehidupan ilahiyah berdasarkan system yang sudah dibakukan oleh
Allah.
Pendusta-pendusta al Quran menganggap al Quran tidak berkaitan dengan
sebuah proses untuk memfurqonkan manusia, untuk memisahkan mana
masyarakat yang diatur dengan system haq dan mana masyarakat yang diatur
dengan system jahil. Padahal ayat alam berkata bahwa air yang kotor
apabila dicampur dengan air yang jernih yang berlaku adalah yang kotor.
Mereka menentang ayat alam, mereka tidak berfikir bahwa untuk
mendapatkan air yang jernih harus dikeluarkan dari air itu
kotoran-kotoran yang ada didalamnya, mereka tidak memikirkan bahwa untuk
membentuk masyarakat yang ber al Quran, maka orang-orang yang mau
kembali kepadaNya, kepada ajaran fitrahNya, harus dikeluarkan dari
masyarakat yang kotor yaitu dari masyarakat yang terlanjur percaya bahwa
ibadah itu urusan masing-masing dan yang penting mereka berbudi baik
tidak perduli apakah tempat mereka itu kotor atau bersih.
Nabi-nabi mengajarkan bagaimana memproses manusia kepada fitrahnya,
proses itu dalam garis besarnya adalah melalui kondisi Makiyyah dan
Madaniyah. Kondisi Makiiyah adalah kondisi dimana masyarakat 'menyembah'
Allah tetapi mengingkari hukum Allah (masyaralat plural dan sekular),
kondisi Madaniyah adalah kondisi dimana masyarakat mengabdi kepada Allah
pada seluruh waktu hidupnya mereka menjalankan ibadah mahdiyah tetapi
juga menjalankan apa-apa yang diundangkan Allah kepada mereka
(masyarakat yang kaffah).
Al Quran selalu berceritera kondisi Makiyyah (malam/dzulumat/gelap dalam
kondisi ini diutuslah seorang Nabi untuk menerangkan nubuwah/prediksi
mengenai nasib manusia yang menolak ayat-ayat Allah dan ajron berupa
kekuasaan didunia bagi yang mengimani) dan Madaniyah (siang/nur/terang
dalam kondisi ini seorang nabi disuruh meninggalklan tugas kenabiannya
(khataman nabiy) kemudian mengemban tugas baru sebagai Rasulullah yaitu
penegak-penegak raisalah Allah). Untuk merubah kondisi Makiyyah ke
Madaniyah hanya bisa dilakukan dengan mengaplikasikan ulang ajaran Al
Quran dengan konsekwen mengikuti wahyu-wahyu yang diturunkan Allah
sesuai dengan urutan instruksional menuirut turunnya al Quran.
Pendusta-penduta al Quran tidak yakin al Quran wahyu itu akan diturunkan
lagi kepada manusia, dan tidak yakin bahwa al Quran bisa dilaksanakan
ulang, sebab mereka tidak menganggap al Quran itu sebagai sunnah para
Rasul, mereka tidak yakin bahwa mereka bisa faham al Quran karena Rasul
sudah wafat, merera tidak yakin bahwa al Quran itu berbicara mengenai
masalah pergantian kekuasaan manusia, mereka tidak yakin bahwa Nabi dan
rasul itu hanyalah sebuah jabatan yang tentu saja sifatnya sebagai
sunatullah yang tidak akan berubah sepanjang sejarah manusia dibumi dan
akan diberikan kepada siapa yang mau kembali kepada Allah, yaitu kembali
melakukan ulaAl Haqqoh sering ditafsirkan dengan hari kiyamat, hari
akhirat, padahal dalam al Haqqoh diceriterakan kehancuran bangsa-bangsa
besar dibumi karena mendustai hukum-hukum Allah, puncaknya ketika Firaun
mengatakan Ana Robbukumul 'Ala (Saya penguasa hukum tertinggi). Jelas
ini bertentangan dengan ajaran yang berlaku saat ini yang diyakini
sebagian besar manusia bahwa hari kiyamat hanya satu pengertian yaitu
hancurnya alam semesta.
Akhirat itu sebenarnya punya dua makna
(1) Hari Penghukuman kaum musyrikin, munafikun dan kafirun, dengan
memberi tenggat waktu 4 bulan (Baca QS.9/2), dimana setelah itu manusia
menerima hukumannya. Akhirat disini adalah akhir kekuasaan orang-orang
yang berhamba kepada manusia, berhamba kepada hukum konsensus manusia,
berhamba kepada penguasa yang tidak berdasarkan hukum Allah. Dalam al
Quran dikisahkan hancurnya bangsa-bangsa besar yaitu Kaum Add, Tsamud,
Firaun, Roma dan Parsi.
Manusia selepas dari kekuasaan Rasul, kemudian sudah menjadi
kebiasaannya menolak hukum Allah karena menganggap pengabdian itu hanya
masalah orang-per-orang masalah pribadi, sedang negara adalah urusan
suatu bangsa. Itulah sekedar ilustrasi kehidupan berfirqoh menurut al
Quran, yaitu kehidupan yang pluralis atau kehidupan musyrik.
Kehidupan ini disandarkan oleh kemauan orang-orang bodoh yang tidak
berilmu (yaitu menyandarkan pada suara terbanyak). Sedang kehidupan
Rasul adalah disandarkan pada kehidupan yang dipimpin oleh orang-orang
yang terpilih, orang-orang yang dicintai Allah.
Akhirat sering diartikan dengan qiyamah, yaitu kebangkitan orang mati
(qolbu) menjadi hidup (menerima kehidupan wahyu). Mereka adalah
orang-orang muqorrobun yaitu orang-orang yang dekat dan dicintai Allah,
yang mengabdikan dirinya hanya untuk 'lillah' untuk li'ilai kalimatillah
(menjunjung tinggi prinsip Lailahaillallah. Mereka itulah orang-orang
yang mampu untuk IQRO, yaitu membaca situasi bangsanya apakah dalam
kemusyrikan atau keimanan kepada Allah yang ukurannya bukan banyaknya
mesjid dan banyaknya orang sholat tetapi adalah hukum apa yang diikuti
manusia saat itu, apakah hukum Jahiliyah atau hukum Allah.
Tentu saja hari akhirat disini adalah hari hancurnya kekuasaan bangsa
besar, yang musyrik. Manusia tidak yakin bahwa Amerika Serikat akan bisa
hancur. tetapi ketika Uni Sovyet hancur, mereka sedikit berfikir. Ketika
al Quran menceriterakan Firaun dan Roma hancur, mereka tidak berfikir,
mereka menganggap itu hanya dongengan kuno yang tidak membawa pelajaran
bagi Muslim.
Orang-orang mukmin yang mengimani hari qiyamah, saat ini adalah saat
kebangkitan orang mati (qolbunya), saat mulai mengumpulkan tulang-tulang
yang berserakan, menjadi sesuatu kekuatan yang siap menyongsong jatuhnya
kedzaliman besar yang dipelopori oleh penganjur demokrasi dan
pluralisme.
(2) Akhirat kedua adalah hari kepastian, yaitu tatkala manusia sudah
mati, sudah ditetapkan amalannya dan dosanya, sudah ditetapkan pahala
dan siksanya, yang tidak mungkin dosanya simati dikurangi dengan doa-doa
dan harapan dari orang yang masih hidup (keluarga atau murid-murid atau
pengikutnya).
Makanya kalau mau menyelamatkan dan membebaskan manusia dari dosa,
bacakan dan ajarkan al Quran waktu masih hidup bukan setelah mati sebab
sudah terlambat !!! Hari telah dihisab seluruh dosa dan amalan, apakah
waktu hidup ia beramal sholeh (menjadi penolong Allah untuk menegakkan
syariatNya), atau beramal salah (sekedar berbuat baik, sholat dll tetapi
tidak untuk menegakkan aturan Allah).
Dimana letaknya akhirat ini, tidak lah jelas tetapi pasti ada apakah
disidratul munthaha atau diplanit lain. Mengimani akhirat sebagai hari
kehancuran alam semesta adalah pemikiran yang jahil yang menghinakan
Allah.
(a) Allah sebagai Robbul 'alamin (pencipta,pengatur, pemelihara), adalah
merupakan suatu kesatuan antara Dia dengan CiptaanNya. Kalau ciptaannya
dihancurkan total lalu apakah julukan Allah
bukan Robbul 'Alamin lagi ?
(b) Allah menciptakan hidup dan mati sebagai sunatullah, manusia,
binatang, tumbuhan, planet ada yang dimatikan dan diciptakan. Ini terus
berlangsung, kalau alam semesta dihancurkan, lalu apakah Allah bukan al
Kholiq lagi.
Nah ke'imanan' yang sempit tentang Allah yang justru melenceng, akan
bisa menyesatkan manusia bersikap terhadap ajaran Allah.
Kaum tasawuf dan kebanyakan orang meyakini bahwa qiyamah hanya satu
pengertian, inipun salah, yaitu hancurnya alam semesta. Mereka tidak
mengimani bahwa kiyamat adalah hancurnya systim (diin) manusia yang
mendzalimi hukum, kekuasaan dan ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu
'ibadah' mereka adalah ibadah yang mengada-ada, memperbanyak pensucian
diri melalu dzikir, sholat, puasa, haji dll kemudian menafikan
kekuasaan, hukum, ketaatan sebab mereka pikir itukan sekedar fatamorgana
yang menipu.
Padahal bagaimana Allah akan menjadi Robb manusia, kalau tidak ada
manusia yang menegakkan kekuasaan Allah ? Sungguh sayang mereka telah
tertipu oleh kepemahaman yang salah tentang hari qiyamah.
Bisakah manusia masuk sorga hanya sekedar berbuat baik ? Kalau bisa
tentu Rasulullah itu tidak usah diutus untuk mengganti system manusia
dzalim dengan system (diin) Allah, Rasulullah tidak perlu untuk mengajak
manusia keluar dari kemusyrikan. Kalau benar hanya sekedar berbuat baik
maka rasulullah cukup menerbitkan buku tuntunan sholat, puasa zakat dan
haji tidak perlu al Quran, toh al Quran oleh manusia bukan dijadikan
uswah tetapi sekedar untuk membenarkan keyakinan terhadap ajarannya
sendiri.
QS.3/142 Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum
nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata
orang-orang yang sabarng al Quran sebagai petunjuk hidup manusia.
QS.30/9 Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan
memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang
sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri)
dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari
apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka
rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah
sekali-kali tidak berlaku lalim kepada mereka, akan tetapi merekalah
yang berlaku lalim kepada diri sendiri.
kedatangan Nabi adalah untuk memperingatkan orang-orang yang memakmurkan
bumi (materialist) untuk kembali kepada System Fitrah yaitu hanya
bertaat kepada Allah. Al Haqqoh adalah konsekwensi penolakan daripada
ajakan para Nabi. Al Haqqoh adalah Kiyamatnya penguasa dunia, dan ini
setidaknya telah terjadi selama 25 kali dengan diutusnya para Rasul.
sayang didalam visinya kehidupan dunia tidaklah penting, akhirat dalam
arti akhirnya kekuasaan Syaithan tidak penting. Yang penting hari Hisab.
Apakah Malaikat Subuh sudah faham surat At Taubah, inilah hari hisab
yang sebenarnya bagi kaum musyrik didunia. Didunia dihisab diakhirat
nantipun akan dihisab.
Mungkin sunatullah itu bukan berarti apa-apa, dengan berkata 'alam taro,
Allah tidak dianggep apa-apa, sebab dikira hidup ini yang paling penting
adalah hidup setelah akhir jaman. Padahal Allah telah berapa kali
menganggap Khalif-khalifNya. Untuk apa ?, tentunya bukan untuk
memproduksi buku tuntunan sholat, zakat, puasa dan haji, tetapi untuk
memimpin manusia berkuasa dibumi. Ini yang mungkin tidak pernah terbetik
dalam pikiran Malaikat Subuh, padahal jelas-jelas Allah memberitahukan
kepada kita :
QS.24/55 : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di
antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia
telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh
Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk
mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah
mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap
menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.
Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka
itulah orang-orang yang fasik.
Itulah sunatullah dan sifat sunatullah adalah terus berlangsung dan
selalu berulang.
Zikir atau zakaro artinya mengingat (kan). Jadi aktifitas zikir adalah
aktifitas mengingatkan diri kita dan orang lain dengan alat ingat yaitu
al Quran.
Qs.2/119 : Sesungguhnya Kami telah mengutusmu dengan kebenaran; sebagai
pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan
diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.
Rasulullah diutus untu menyampaikan kabar gembira, yaitu Islam sebagai
sistem hidup manusia, dan kabar peringatan (naziiron) yaitu jangan
sekali-kali melanggar fitrahnya manusia adalah pengabdi Allah
berdasarkan ilmunya Allah tentunya.
Jadi seorang yang berzikir (Muzakkir) adalah orang yang selalu
memberikan peringatan kepada yang lain, agar orang selalu ingat perintah
dan laranan Allah. Seorang Muzakkir bukan hanya sebatas mengingatkan
tetapi juga mengajak manusia untuk menegakkan hukum Allah, sehingga
hukum bisa dilaksanakan sebab ada yang menegakkannya.
Zikir dalam arti ritual melantunkan asmaul husna bukan dzikir, tetapi
orang mengatakan sesuatu tetapi tidak berbuat apa-apa atas yang
dikatakannya :
QS.61/2 2] Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa
yang tidak kamu perbuat?
QS.61/3 Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa
yang tiada kamu kerjakan.
Sungguh orang-orang yang demikian itu sangat dibenci Allah, walaupun
didalam hatinya dengan melantunkan asmaul husna dia merasa tenteram dan
tenang.
Seorang yang sedang berzikir dengan zikir "Subhanallah, Alhamdulillah
dan Allahu Akbar", adalah orang yang selalu mengingatkan orang lain agar
selalu bersabaha (beraktifitas) untuk Allah, dengan cara-cara yang
terpuji hanya dengan cara (ilmu) Allah untuk mengakbarkan Allah sehingga
Allah itu menjadi Robbinaas, Malikinaas dan Ilahinaas.
Apabila zikir dilakukan seperti itu, maka boleh jadi ulama terkenal
dengan konsep zikirnya membawa kemurkaan Allah bagi Aceh tatkala ia
mengajak rakyat Aceh berzikir di Masjid Baitur Rahman dibulan puasa
beberapa tahun yang lalu. Tetapi karena zikirnya adalah zikir sebatas
ucapan mulut bukan tindakan nyata demi Akbarnya Allah maka balasan Allah
kepada mereka adalah ketika Allah menunjukkan bukti dari ayat QS.61/2-3
tadi.
Alhamdulillah.
No comments:
Post a Comment