Pengajian: Bertaubatlah hingga syetan putus asa
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Anas RA disebutkan bahwa telah
datang
seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW. Dia lalu berkata, ''Ya,
Rasulullah, sesungguhnya aku telah berbuat dosa.'' Nabi menjawab,
''Mintalah ampun kepada Allah.'' Lelaki itu kembali berkata, ''Aku
bertobat, kemudian kembali berbuat dosa.
'' Nabi bersabda, ''Setiap kali engkau berbuat dosa, maka bertobatlah,
hingga setan putus asa.'' Lelaki itu berkata lagi, ''Ya, Nabi Allah,
kalau
begitu dosa-dosaku menjadi banyak.'' Maka, Nabi bersabda lagi,
''Ampunan
Allah SWT lebih banyak daripada dosa-dosamu.''
Hadis Nabi Muhammad SAW ini mengisyaratkan bahwa meminta ampunan kepada
Allah SWT selalu berkaitan dengan dosa dan salah. Meminta ampun sering
kali dihubungkan dengan bertobat kepada Allah SWT.
Keduanya merupakan aktivitas keagamaan yang harus dilakukan setiap
manusia. Sebab, manusia adalah ciptaan Allah SWT yang secara fitrah
dibekali dengan sikap salah dan lupa. Permintaan ampun tidak akan
menuai
hasil bila tidak disertai dengan bertobat kepada-Nya, dan meminta maaf
kepada orang yang dizalimi.
Tobat merupakan salah satu maqam di dalam dunia tasawuf. Bagi kalangan
sufi, bertobat berarti meninggalkan sesuatu yang tercela dan terlarang
yang ditetapkan di dalam ajaran agama (Islam) demi mencapai sesuatu
yang
terhormat, mulia, dan terpuji di sisi Allah SWT. Bertobat adalah
pengakuan
dan penyesalan terhadap perbuatan alpa dan dosa. Ketika ditanya tentang
tobat, sufi Sahl Ibn 'Abd Allah dan Al Junaid menjawab, ''Tobat ialah
engkau tidak mengingat dosamu.'' Al-Junaid menjelaskan bahwa melupakan
dosa berarti tidak lagi mengingat dosa-dosa yang telah diperbuat yang
melekat dalam hati.
Ada tiga syarat yang harus dipenuhi seseorang bila tobatnya ingin
diterima
Allah. Pertama, menyesali diri, karena telah telanjur melakukan maksiat
dan melanggar ketentuan-ketentuan agama.
Kedua, menjauhkan dan meninggalkan diri dari semua maksiat kapan dan di
mana saja berada.
Ketiga, berkemauan dan berjanji pada diri sendiri secara
sungguh-sungguh
untuk tidak mengulangi kemaksiatan, karena menyadari bahwa perbuatan
maksiat menghalangi hubungan dia dengan Tuhannya dan dapat memutus
hubungan dengan sesamanya.
Terakhir, orang yang telah berbuat salah dan mau bertobat, harus
meminta
maaf kepada orang yang dizalimi. Meminta dan memberi maaf merupakan
dasar
bagi terwujudnya ishlah. Dalam konteks kehidupan sosial-politik
masyarakat
kita kini, pemaafan masih tetap relevan. Dalam pengertian umum,
pemaafan
berarti 'mengingat' dan sekaligus memaafkan.
Dalam Islam, proses ini disebut sebagai muhasabah (introspeksi), yakni
saling 'menghitung' atau 'menimbang' peristiwa-peristiwa pahit yang
telah
melukai pihak-pihak tertentu. Melalui muhasabah, berbagai pihak
melakukan
perhitungan dan sekaligus penilaian moral terhadap kejadian-kejadian
yang
pernah berlaku yang mungkin merugikan perorangan maupun masyarakat
luas.
Muhasabah(intropeksi) sangat dianjurkan oleh Islam, sebagaimana yang
disebutkan dalam alqur’an Surat al-Hasyr ayat 18 :
íóÇÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇ Çááøóåó æóáúÊóäúÙõÑú äóÝúÓñ ãóÇ
ÞóÏøóãóÊú áöÛóÏò æóÇÊøóÞõæÇ Çááøóåó Åöäøó Çááøóåó ÎóÈöíÑñ ÈöãóÇ
ÊóÚúãóáõæäó (ÇáÍÔÑ18
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (alhasyr 18)
pelaksanaannya tidak perlu menunggu akhir tahun, namun hendaknya
dilakukan
setiap saat dan setiap detik agar kita mawas diri tentang apa yang
telah
kita lakukan. Paling tidak ada dua hal yang yang patut kita
berintropeksi, pertama : perihal hubungan kita kepada Allah SWT
(hablumminallah), bagaimanakah hubungan kita dengan Sang Khalik, apakah
kita sudah benar-benar melaksanakan apa yang menjad perintah-NYA dan
meniggalkan larangan-NYA?apakah kita telah menjadi hamba yang bersyukur
akan segala ni’mat-NYA?
Kedua : Hubungan kita antar sesama makhluk (hablumminannas), Apakah
kita
sudah benar-benar bergaul antar sesama dengan baik, saling menyangangi
dan
menghormati? Apakah kita sudah membantu dan menolong saudara-saudara
kita
yang tertimpa musibah? Dan seterusnya, Tentunya masing-masing kita tahu
akan jawabannya, jadi hendaknya kita selalu menghidupkan ruh muhasabah
(intropeksi) dalam diri kita masing-masing agar kita selalu berada
dijalan
yang di ridhoi Allah SWT.
Marilah kita sama-sama selalu meminta ampunan kepada sang pencipta
semesta alam ini agar segala dosa-dosa kita yang telah kita perbuat di
ampuni Nya. Dan meninggal kan apa-apa yang di larang Allah SWT kepada
ummat nya.
No comments:
Post a Comment