Allah berfirman:
“Dan Kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan menderita kelemahan di atas kelemahan dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ibu bapakmu. Kepada-Ku tempat kembali. Dan kalau keduanya memaksa engkau supaya menyekutukan-Ku, (dengan) apa yang tiada engkau ketahui, janganlah dituruti; dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan cara yang ma’ruf. Dan turutlah jalan orang yang kembali kepada-Ku, nanti kamu akan kembali kepada-Ku dan akan Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Luqman (31): 14-15)
Ayat-ayat diatas mempunyai latar belakang kisah tersendiri dan mengejutkan, berhubungan dengan pribadi seorang pemuda lemah lembut, dari keturunan terhormat, dan dari ibu-bapak yang mulia. Nama pemuda itu Sa’ad bin Abu Waqqash, seorang muda belia, penuh rasa belas kasih, banyak bakti kepada bapak ibu dan sangat mencintai ibunya.
Tentang keislamannya, Sa’ad bercerita: “Tiga malam sebelum aku masuk Islam, aku bermimpi seolah-olah aku tenggelam dalam kegelapan yang tindih menindih. Ketika aku sedang mengalami puncak kegelapan itu, tiba-tiba kulihat bulan memancarkan cahaya sepenuhnya, lalu kuikuti bulan itu. Aku melihat tiga orang telah lebih dulu berada di hadapanku mengikuti bulan itu. Mereka adalah Zaid bin Haritsah, ‘Ali bin Abu Thalib, dan Abu Bakar Shiddiq. Aku bertanya kepada mereka, “Sejak kapan Anda bertiga di sini?” Jawab mereka, “Belum lama.”
Setelah siang hari, aku mendapat kabar bahwa Rasulullah SAW mengajak orang-orang kepada Islam secara diam-diam. Yakinlah aku sesungguhnya Allah SWT menghendaki kebaikan bagi diriku. Dan dengan Islam Allah akan mengeluarkanku dari kegelapan pada cahaya terang.
Aku segera mencari beliau, sehingga bertemu dengannya di suatu tempat ketika dia sedang shalat ‘Ashar. Aku mneyatakan masuk Islam di hadapan beliau. Belumada orang mendahuluiku masuk Islam ,selain mereka bertiga, seperti yang terlihat dalam mimpiku.
Sa’ad melanjutkan kisahnya masuk Islam: “Ketika ibuku mengetahui aku masuk Islam, dia marah bukan kepalang, padahal aku anak yang berbakti dan mencintainya. Ibu memanggilku dan berkata, “Hai Sa’ad! Agama apa yang engkau anut, sehingga engkau meninggalkan agama ibu bapakmu? Demi Tuhan! Engkau harus meninggalkan agama barumu itu, atau aku mogok makan minum sampai mati…! Biar pecah jantungmu melihatku, dan penuh penyesalan karena tindakanmu sendiri, sehingga semua orang menyalahkan dan mencelamu selama-lamanya. Jawabku, “ Jangan lakukan itu Ibu! Aku tidak akan meninggalkan agamaku biar bagaimanapun juga.”
Ibu tegas dan keras melaksanakan ucapannya. Beliau benar-benar mogok makan minum, sehingga tubuh dan tulang-tulangnya lemah, menjadi tidak berdaya sama sekali. Terakhir, aku mendatangi ibu untuk membujuknya supaya dia mau makan dan minum walaupun hanya sedikit. Akan tetapi, ibu memang keras hati. Beliau tetap tidak mau dan menolak serta bersumpah akan mogok makan sampai mati, atau aku meninggalkan agamaku Islam!
Aku berkata kepada ibu, “Ibu sesungguhnya aku sangat mencintai Ibu, tetapi aku lebih cinta kepada Allah dan RasulNya. Demi Allah! Seandainya Ibu mempunyai seribu jiwa, lalu jiwa itu keluar dari tubuh Ibu satu persatu (untuk memaksaku keluar dari agamaku) sungguh aku tidak akan meninggalkan agamaku karenanya.”
Tatkala ibu melihatku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, dia pun mengalah. Lalu dia menghentikan mogok makan sekalipun dengan perasaan terpaksa. Maka Allah SWT menurunkan firmannya kepada nabi Muhammad SAW: “Dan kalau keduanya memaksa engkau menyekutukanKu, (dengan) apa yang tiada engkau ketahui, janganlah diturut, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan cara yang patut…”
Setelah Sa’ad masuk Islam, dia lantas berjasa terhadap Islam dan kaum muslimin dengan prestasi baik dan tinggi. Dalam peperangan Badar, Sa’ad ikut berperang bersama-sama adiknya, ‘Umair. Kedua saudara ini berperang, berjuang bersama fii sabilillah.
Ketika tentara muslimin lari kucar-kacir dalam perang Uhud, Rasulullah SAW tinggal di medan tempur dengan kelompok kecil tentara muslimin, tidak lebih dari sepuluh orang dan satu diantaranya adalah Sa’ad bin Abu Waqqash. Sa’ad berdiri melindungi Rasulullah SAW dengan panahnya. Anak panah yang dilepas Sa’ad dari busur semuanya mengenai sasaran dengan jitu dan orang musyrik yang terkena tewas seketika.
Tatkala Rasulullahg SAW menyaksikan bahwa Sa’ad seorang pemanah jitu, beliau berkata memberinya semangat,” Panahlah, hai Sa’ad! Panahlah!...Bapak Ibuku menjadi tebusanmu!” Sa’ad sangat bangga sepanjang hidupnya dengan ucapan Rasulullah itu, sehingga Sa’ad pernah berkata, “Tidak pernah Rasulullah berucap kepada seorang jua pun mempertaruhkan kedua ibu bapaknya sekaligus sebagai tebusan, melainkan hanya kepadaku.”
Puncak kejayaan Sa’ad adalah ketika khalifah Umar bertekad menyerang kerajaan Persia untuk menggulingkan pusat pemerintahannya. Dan mencabut agama berhala itu sampai ke akar-akarnya di permukaan bumi. Sebagai panglima angkatan perang ditunjuklah Sa’ad bin Abu Waqqash. Setelah angkatan perang itu hendak berangkat, Umar berpidato memberi amanah dan perintah harian kepada Sa’ad. Katanya, “Hai Sa’ad! Janganlah engkau terpesona sekalipun engkau paman Rasulullah dan sahabat beliau. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapus suatu kejahatan dengan kejahatan, namun Allah akan menghapus kejahatan engan kebaikan. Hai Sa’ad! Sesungguhnya tidak ada hubungan kekeluargaan antara Allah dengan seseorang melainkan deengan mentaatiNya. Segenap manusia sama di sisi Allah baik bangsawan atau rakyat jelata, Allah adalah Tuhan mereka dan mereka semuanya adalah hamba-hambaNya. Mereka berlebih berkurang karena taqwa, dan memperoleh karunia dari Allah karena taat. Perhatikanlah cara Rasulullah yang engkau telah mengetahuinya, maka tetaplah ikuti cara beliau itu!”
Maka berangkatlah pasukan yang diberkati Allah itu menuju sasaran. Didalamnya terdapat 99 orang para para pahlawan perang Badar, lebih kurang 319 orang sahabat yang tergolong dalam Bai’at Ridhwan, 300 orang orang pahlawan yang ikut dalam penakhlukan Makkah bersama-sama Rasulullah SAW, 700 orang putra-putra para sahabat, dan pejuang-pejuang muslim lainnya (yang keseluruhannya berjumlah 30.000 orang).
Sampai di Qadisiyah Sa’ad menyiagakan seluruh pasukannya dan bertempur hebat. Dalam pertempuran itu Rustam, panglima tentara Persia, meninggal dunia. Maka menyelinaplah rasa takut dan gentar ke dalam hati musuh-musuh Allah sehingga dengan mudah kaum muslimin mengahdapi para prajurit Persia dan membunuh mereka.
Sa’ad bin Abu Waqqash dikaruniai Allah usia lanjut. Dia dicukupi kekayaan yang lumayan. Akan tetapi, ketika ajal telah mendekatinya dia hanya meminta sehelai kain usang. Katanya, “Kafani aku dengan jubah ini. Dia kudapati dari seorang musyrik dalam perang Badar. Aku ingin menemui Allah ‘azza wa jalla dengan jubah ini.”
(Diambil dari Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW, oleh DR Abdurrahman Ra’fat Basya, jilid 3)
Semoga kisah ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Amin
No comments:
Post a Comment