Assalamu’alaikum wr. wb.
Bissmillahirrahmaanirrohiim.
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhisan; dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak seperti hujan yang tanam tanamannya mengagumkan para petani., kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. “
(QS Al-Hadiid (57): 20)
Kita berpagi hari sebagai orang-orang yang bermain-main jika kita tidak berpegang pada agama. Kita berpetang hari sebagai orang-orang yang bermain-main jika kita tidak berpegang pada agama. Kita hidup dalam keadaan bermain-main jika kita tidak berpegang pada agama. Kita mati dalam keadaan bermain-main jika kita mati dalam keadaan tidak berpegang pada agama.
Kehidupan yang hakiki hanya di akhirat dan kekekalan hanya da di akhirat karena kehidupan di dunia hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan yakni hanya merupakan polesan yang terlihat mengkilap saja.
“Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada disisi Allah adalah kekal..”
(QS An-Nahl (16) : 96)
Bagaimanapun Rasulullah lapar dunia, sedang kisra raja Persia dan kaisar Romawi mati kekenyangan karena banyak makan dan banyak minum.
Bagaimana beliau tinggal di rumah yang terbuat dari tanah liat, sedang kisra dan kaisar tinggal di gedung-gedung yang berhiaskan emas, perak dan bertaburan intan permata.
Bagaimana beliau berpakaian, yang tiada yang dikenakannya selain hanya kain biasa yang tidak pernah digantinya selama masa yang cukup lama, sedang kisra dan kaisar menghiasi dirinya dengan pakaian terbuat dari sutra tebal dan sutra tipis.
Umar ra. Masuk menemui Rasul SAW di dalam kamarnya. Saat itu beliau sedang merebahkan badan dan dalam keadaan memisahkan diri dari istri-istrinya.
Umar melihar Rasul SAW berbaring diatas tikar, sedang anyaman tikar dan kain spreinya yang kasar membekas pada lambungnya. Umar melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan rumah, maka ia melihat sesuatu dari bulir gandum yang tergantung di dinding.
Melihat keadaan itu air mata Umar bercucuran, Rasulullah SAW pun bertanya kepadanya, “Mengapa kamu menangis, hai Umar?”. Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, kisra dan kaisar adalah musuh-musuh Allah sebagaimana yang telah engkau ketahui dan engkau adalah utusan Allah serta kekasih-Nya, sedang engkau dalam keadaan seperti ini.”
Rasululllah bersabda: “Apakah engkau masih ragu hai Ibnul Khaththab? Tidakkah engkau merasa puas jika bagi mereka hanya dunia ini dan bagi kita di akhirat?”
(HR Bukhari , Muslim, Ahmad dan Tirmidzi)
Tidakkah engkau puas bila mereka di dunia ini makan dengan enak, tinggal di gedung-gedung, dapat menguasai apa yang mereka inginkan., bersenang-senang dengan apa yang mereka inginkan, tetapi akhirat dan surga-surga, sungai-sungai dan gedung-gedungnya hanya bagi orang-orang yang bertaqwa.
Allah telah berfirman,
“Sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak untuk rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) untuk rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan diatasnya, dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”
(QS Az-Zukhruf (43): 33-35)
Tujuan mengemukakan hakikat-hakikat yang disebutkan oleh Allah SWT ini adalah agar manusia mengetahui hakikat yang sebenarnya dari dunia dan akhirat serta siapa saja dari mereka yang menjadi ahli surga dan siapa saja dari mereka yang menjadi ahli neraka.
Ketahuilah jika Anda mempunyai pengetahuan!
Dengarlah jika Anda mempunyai pendengaran!
Pahamilah jika Anda mempunyai pemahaman!
Imam Syafi’I mengatakan dalam bait syair gubahannya:
Singa mati di hutan belantara karena kelaparan,
Sedang daging kambing hutan,
Dimakan oleh anjing-anjing liar
Demikianlah hikmah Allah Tuhan yang Maha Pencipta. Dia tidak memberikan agama ini, kecuali kepada orang yang disukai-Nya. Adapun mengenai duniawi maka Dia memberikannya, baik kepada orang yang disukai-Nya maupun orang yang tidak disukai-Nya. Bahkan Dia memberikannya sekalipun kepada orang atheis, orang munafiq atau orang fasiq.
“Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya dunia ini di sisi Allah senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir darinya barang seteguk air pun”
(HR Tirmidzi dan Ibnu Majjah. Lihat Misykaatul Anwar no. 5177)
“Ketahuilah , bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak…” (QS Al Hadiid (57): 20)
Abu Hurairah menceritakan pengalamannya : “aku pernah mengalami lapar yang hanya Allah sajalah yang mengetahui keparahannya, sehingga demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, aku pernah pigsan di antara mimbar dan rumah Rasulullah.”
Abu Hurairah melanjutkan: “selanjutnya datanglah seorang sahabat mendekatiku, Dia mengira bahwa diriku kerasukan jin.”
“Pada suatu malam aku shalat bermakmum kepada Rasul, sedang aku dalam keadaan sangat lapar. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa rasa lapar yang dialaminya sampai pada tahap yang membuatnya tidak tahan lagi mengetahui apa yang dibaca oleh Rasulullah dalam shalatnya bersama mereka.”
“Setelah beliau selesai dari shalatnya, aku keluar untuk menghadang orang-orang dengan harapan semoga ada di antara mereka yang mau membawaku ke rumahnya, lalu memberiku makan.”
Akan tetapi apakah dia menghadang orang lain untuk mengatakan kepadanya, “Berilah aku makan!” Atau apakah dia mengatakan, “Kenyangkanlah diriku dan berilah aku minum!” “Tidak, bahkan dia menghalangi orang lain., lalu menanyakan kepada mereka makna sebagian dari ayat-ayat Al Qur’an barangkali saja mereka memahami maksudnya, lalu mau mengajaknya makan. Ia pun menghadang Abu Bakar, tetapi ternyata Abu Bakar tidak memahami maksud yang sebenarnya. Bahkan ia menjawab pertanyaannya, lalu pergi; demikian pula Umar.
Abu Hurairah melanjutkan, “Selanjutnya Rasul SAW keluar dan aku menghadangnya. Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya beliaulah yang mulai menyapaku sebelum aku memulainya. Beliau tersenyum, lalu bersabda: ‘Kemarilah bersamaku!’ Rasulullah SAW memahami bahwa sesungguhnya Abu Hurairah tidak membawa pertanyaan, melainkan membawa rasa lapar dan haus.
Abu Hurairah melanjutkan, “Beliau lalu memasukkanku kedlam rumahnya dan tiada yang terdapat di dalam rumahnya, kecuali hanya sepotong roti tanpa ada sebutir kurma pun dan juga tanpa ada anggur kering sedikitpun. Tiada suatu makanan yang lain pun di dalm rumahnya, kecuali hanya semangkuk laban (yogurt). Ketika aku melihat laban, aku berkata kepada diriku sendiri, ‘Beliau pasti akan memberiku minum sekarang dan dengan izin Allah rasa laparku nanti akan hilang.’
Rasulullah memanggil, “Hai Abu Hurairah!” Aku menjawab, “Labbaika wasa ‘daika, ya Rasulullah.” Rasulullah bersabda: “Temuilah orang-orang yang fakir miskin ahli shuffah yang ada di emper masjid itu dan undanglah mereka semua.”
“aku berkata kepada diriku sendiri: “Hanya Allah yang dimintai pertolongan. Aku lebih utama untuk mendapatkan laban ini, karena apabila ahli shuffah yang jumlahnya kurang lebih antara tujuh puluh sampai delapan puluh orang itu datang semuanya, tentulah mereka tidak akan menyisakan laban barang setetes pun, lalu apakah yang tersisa untukku? Akn tetapi perintah Rasul tetap harus aku laksanakan.”
Abu Hurairah pergi menemui ahli shuffah dan mengundang mereka, lalu mereka datang dengan bergegas-gegas hingga mereka minum dan kenyang semuanya, Abu Hurairah hanya dapat memperhtikan adengan itu dengan aras penuh kekesalan. Rasukullah bersabda, “Hai Abu Hurairah! Aku menjawab “Labbaika wasa’daika, ya Rasulullah.” Rasul bersabda: “Ambillah wadah itu dan minumlah!” Aku pun minum, demi Allah, hinmgga kenyang. “Wahai Rasulullah, demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan benar sebagai seorang nabi, aku tidak menemukan tempat lagi untuknya (sudah kenyang).” Selanjutnya Rasul mengambil sisanya yang masih ada dalam wadah itu, kemudian membaca bissmillah dan meminumnya.
(HR Bukhari, Ahmad dan Tirmidzi)
Sesungguhnya Nabi SAW mengalami kelelahan dan kelaparan, tetapi imbalan pahala yang diharapkannya bukanlah di dunia ini karena dunia adalah kehidupan yang fana bagaikan bayangan pohon. Bahkan karunia dan kepuasan yang akan diperolehnya adalah
kelak di akhirat sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
“Dan kelak Tuhanmu pasti akan memberikan karunia Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.”
(QS Adh-Dhuhaa (93) : 5)
Ya Allah, semoga dengan karuniaMu yang besar mampu menjadikan kami, bapak-bapak kami dan kaum muslim semuanya termasuk orang-orang yang mewarisi surgamu yang indah. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada junjungan kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Amin
Wassalamu’alaikum wr.wb.
No comments:
Post a Comment