Mukjizat al-Quran membuat seorang ilmuwan Amerika masuk Islam
Ketika lafad Allah terdengar, getaran di atas suara berubah menjadi gelombang elektrik optik yang dapat ditangkap oleh monitor. Mukjizat ini membuat seorang ilmuwan terkenal Amerika memilih masuk Islam.
Dilaporkan bahwa sebuah tim ilmuwan dari Amerika menemukan bahwa sebagian dari tumbuh-tumbuhan khatulistiwa mengeluarkan frekuensi di atas suara. Dan itu hanya dapat ditangkap oleh perangkat canggih.
Para ilmuwan ini selama tiga tahun melakukan penelitian dan melihat fenomena seperti ini membuat mereka sangat terheran-heran. Mereka menemukan bahwa getaran di atas suara ini dapat diubah menjadi gelombang elektrik optik dan lebih dari seratus kali persekon berulang-ulang.
Tim ini kemudian membuktikan penemuan mereka di hadapan sebuah tim peneliti Inggris. Kebetulan dalam tim itu ada seorang yang beragama Islam. Ia keturunan India.
Setelah melakukan uji coba selama lima hari, ilmuwan Inggris juga menjadi terkagum-kagum dengan apa yang mereka lihat. Namun, ilmuwan muslim ini mengatakan bahwa hal ini sudah diyakini oleh kaum muslimin sejak 1400 tahun yang lalu. Mereka yang mendengar ucapan itu memintanya untuk lebih jauh menjelaskan masalah yang disebutnya. Ia kemudian membaca ayat yang berbunyi: “Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji- Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (Isra’: 44).
Prof. William Brown, pimpinan tim peneliti itu akhirnya mengajak ilmuwan Islam itu untuk berbicara lebih banyak tentang Islam. Setelah dijelaskan tentang Islam dan diberi hadiah sebuah all-Quran yang dilengkapi dengan tafsirnya dalam bahasa Inggris, ia kemudian mengucapkan syahadat.[infosyiah]
Tuesday, September 29, 2009
Manajemen Qolbu
Manajemen Qolbu
Al-Khobir, Yang Maha Mengetahui
Penulis: KH Abdullah Gymnastiar
Bismillahirrahmaanirrahiim
"Wahai anakku, sesungguhnya kalau ada satu butir biji sawi yang tersembunyi di dalam batu atau di langit atau di bumi, maka Allah mengetahuinya. Sungguh Allah itu Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS.31 : 16)
Allah SWT mempunyai nama indah Al-Khobir. "Kho", "ba", dan "ro", itulah huruf-huruf penyusunnya. Kata yang tersusun dari huruf-huruf tersebut berkisar maknanya pada dua hal, yaitu pengetahuan dan kelemahlembutan. Khobir biasanya digunakan untuk menunjukkan pengetahuan yang dalam dan sangat rinci menyangkut hal-hal yang sangat tersembunyi.
Menurut Imam Al-Ghozali, Al-Khobir adalah yang tidak tersembunyi bagi-Nya hal-hal yang sangat dalam dan yang disembunyikan. Tidak terjadi sesuatu pun dalam kerajaan-Nya yang di dunia maupun alam raya kecuali diketahui-Nya. Tidak bergerak atau diam satu butir atom pun dan tidak bergerak atau tenang satu jiwa pun kecuali ada beritanya di sisi Allah.
Allah mengetahui apapun yang dikandung hati atau disimpan oleh pikiran. Bisikan-bisikan nafsu, ajakan-ajakan syetan, khayalan-khayalan pikiran, prasangka-prasangka di hati, rencana-rencana jahat, komentar-komentar dan gumaman hati, semua ada dalam pengetahuan Allah. Ada dua tindakan yang dapat dilakukan untuk meneladani asma Al-Khobir ini. Tindakan pertama menyangkut hubungan keluar dengan makhluk lain. Kita sadar bahwa pengetahuan kita sangat terbatas. Kita tidak tahu isi hati dan kepala orang lain, dan kita pun tidak tahu banyak tentang maksud-maksud di balik penciptaan makhluk disekitar kita. Berangkat dari kesadaran ini, maka akhlak yang patut dikembangkan adalah baik sangka! Selalu berbaik sangka kepada Allah dan sesama. Bila kita melihat orang yang cacat, seperti pincang, buta, atau lumpuh, janganlah mencela tetapi berbaik sangkalah, karena boleh jadi cacat itu pada fisiknya saja sedangkan batinnya penuh kemuliaan dan kesempurnaan karena ridho menerima ketentuan Allah. Bila kita mencela maka kitalah yang sebenarnya cacat. Cacat hati karena tidak mampu melihat hikmah Allah, cacat adab karena merendahkan makhluk Allah, dan cacat Akhlak karena baru bisa mencela dan tidak mampu berbuat untuk menolong. Tindakan kedua menyangkut diri kita sendiri. Pertama, kenalilah jasad ini dan hubungkan dengan kekuasaan Allah. Kedua, kenalilah kekurangan-kekurangan kita dalam segi ilmu, sikap, dan perilaku dan hubungkanlah dengan pengawasan Allah. Ketiga, kenalilah tujuan hidup ini dan selaraskan dengan keinginan Allah. Bila kita perhatikan jasad ini, maka insya Allah kita sadar dari mana asal kita dan siapakah kita. Dari setetes air yang hina, ke mana-mana membawa kotoran dan kalau sudah mati menjadi bangkai, itulah jasad ini. Tidak berdaya bila sudah kena penyakit. Bila sudah tua akan mengeriput dan melemah. Tidak ada yang patut disombongkan. Bila kita perhatikan betapa besar karunia Allah atas tubuh ini, maka insyaAllah kita sadar bahwa keindahan dan kesempurnaan tubuh ini Allah-lah yang membuat. Kekurangan dan kecacatan pun bukan kita yang menghendaki. Ini akan melahirkan rasa terima kasih dan rasa menerima. Sibukkanlah diri melihat kekurangan diri lalu bekerjalah untuk memperbaiki. Kita tahu betapa bodohnya kita dan betapa sedikitnya ibadah kita. Yang sedikit itupun kita rusak dengan tidak khusyuk dan kita hancurkan dengan ketidakikhlasan. Kita seharusnya malu kepada Allah karena kebusukan-kebusukan kita.
Hidup ini untuk akhirat. Awasilah setiap tindakan agar benar-benar diniatkan karena Allah dan selalu berada di jalan Allah. Belajar dari Al-Khobir membuat kita banyak melihat ke dalam diri dengan waspada dan melihat keluar diri dengan berbaik sangka. ***
--------------------------------------------------------------------------------
Rangkuman Tausyiah KH. Abdullah Gymnastiar, Pengajian MMQ Masjid Al-Azhar, 28 Agustus 2002
Tawakal
Sumber: Abdullah Gymnastiar
Bismillahirrahmanirrahiim
Kajian Kitab Al-Hikam
Karya Syekh Ahmad bin Muhammad Atailah
Bab: Tawakal
"Tidak akan terhenti suatu permintaan yang semata-mata engkau minta, engkau sandarkan kepada karunia kekuasaan Rab-Mu, dan tidak mudah tercapai permintaan, pengharapan yang engkau sandarkan kepada kekuatan dan daya upaya serta kepandaian dirimu sendiri."
Tidak akan berhenti permintaan, jikalau kita bersandar kepada karunia Allah, tetapi akan penuh dengan kesulitan, penderitaan, macet, jikalau kita bersandar kepada daya upaya dan kepandaian kita sendiri.
Ini penting sekali dipahami, karena kita akan banyak kecewa ketika kita bersandar kepada diri atau bersandar kepada selain Allah. Semua kejadian itu mutlak hanya bisa terjadi karena ijin Allah. Sekiranya bergabung jin dan manusia seluruhnya akan mendatangkan satu butir pasir pun tidak akan terjadi tanpa ijin Allah. Sekiranya bergabung jin dan manusia bermaksud akan mencelakakan, maka "Ma ashobadhum mim musibatin illa bi'idznillah." Tidak akan menimpa kepada kita satu musibahpun tanpa ijin dari Allah. Tidak jatuh satu helai daun tanpa ijin dari Allah, mutlak semua yang terjadi adalah dengan ijin Allah.
Bergantungnya kita kepada selain Allah itu adalah kesalahan besar, selain membuat kita sengsara dan banyak kecewa, juga bisa mengugurkan amal kita. Apalagi kita bergantung kepada kemusyrikan, dukun, paranormal, hilanglah sudah amal kita. Dalam hal ini, terjadi atau tidak terjadinya keinginan kita, dua-duanya menjadi bencana. Tetapi bagi orang yang bertawakal kepada Allah, terjadi atau tidak terjadi, dua-duanya jadi amal. "Laahaula wala quwwata illa billahil'aliyyil adzim".
Sebelum ikhtiar, kita sempurnakan niat. Kita gunakan perencanaan sesuai dengan sunnatullah. Kita siapkan untuk wujudnya suatu amal, tetapi di awal, tengah dan akhir harus tahu bahwa yang akan terjadi adalah apa yang Allah kehendaki. Jadi kita tidak usah panik. Baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Contohnya, Jika kita ingin punya anak yang terbaik menurut pilihan kita, sempurnakan ikhtiar dengan istikharah, jika belum menikah, mintalah kepada Allah. Terlahirnya anak atau tidak, hanya Allah yang menciptakan. Lima tahun tidak punya anak, walaupun sudah pergi ke dokter, pergi berobat; tidak identik dengan kegagalan karena lima tahun perjuangan semuanya jadi amal. Apakah menikah dan langsung punya anak pertanda kebaikan? Belum tentu. Ada orang yang punya anak, malah tambah penderitaan. Kebaikan adalah kalau niatnya benar. Tidak punya anak, tidak berarti suatu musibah. Siti Aisyah tidak punya anak, tapi tidak berkurang kemuliaannya. Yang penting dari awal kita sudah tahu bahwa yang menciptakan janin adalah Allah, yang membentuk janin adalah Allah, yang memberikan ruh adalah Allah, yang mengeluarkan adalah Allah; dan kita Laahaula Wala quwwata illabillahil 'aliyyil adzim.
Benar, manusia akan punya keinginan, dorongan-dorongan untuk cepat terwujud apa yang diinginkan, tetapi kalau orang sudah yakin hanya Allah yang menguasai・Innalloha 'ala kulli'syaiin Qodir. Sesungguhnya Allah-lah yang menguasai segala kejadian, tidak bergerak walaupun sebesar zahrah, Illa Bi'idnillah. Inilah sebetulnya yang membuat orang akan merasakan nikmat luar biasa ketika hatinya sudah meyakini bahwa setiap kejadian hanya terjadi dengan ijin Allah.
Allah SWT berfirman "Wamayyatawakkal alallahu fahuwa hasbu." Dan barang siapa yang bertawakal, akan dicukupi kebutuhan lahir batinnya. Allah Maha Tahu kebutuhan kita, lebih tahu daripada kita sendiri. Mengandalkan Allah dari awal sampai akhir adalah adab bagi orang-orang yang beriman.
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, selayaknya kita melatih diri untuk bertawakal. Ciri khas orang yang bertawakal adalah sedikit kecewanya terhadap kejadian. Saya katakan sedikit, karena kalau kita kecewa itu menunjukkan kualitas ketawakalan. Apakah kita tidak boleh kecewa? Kita boleh kecewa kalau tidak bisa menyempurnakan amal kita; kecewa karena sedekah masih terasa berat; kecewa karena masih menunda-nunda dalam beramal; kecewa karena sholat belum bisa khusyu; kecewa karena sudah taubat kok terjadi lagi maksiat; kecewa ketika dipuji tapi jadi ujub; dalam hal demikian maka kita boleh kecewa.
Allah mengukur hamba-hambanya karena Dia tahu persis kekuatan iman kita, kadar pengendalian diri kita, emosi kita, nafsu kita, makanya tidak akan dikecewakan bagi orang-orang yang selalu bertawakal. Ciri tawakal diantaranya adalah, kalau memilih sesuatu selalu dengan istikharah. Orang yang bertawakal kepada Allah akan memperbanyak istikharah karena hal ini merupakan etika untuk meminta pertolongan Allah. Orang yang bertawakal kepada Allah, dia tidak akan tergesa-gesa walaupun dia sangat menginginkannya, karena tidak ingin terjebak oleh keinginannya sendiri.
"Ya Allah, tiada Tuhan selain Engkau yang menggengam segala kejadian, jangan pernah biarkan diri kami berharap selain dari-Mu...
Ya Allah, jangan biarkan hati ini tenteram selain hanya bersamaMu, tiada Tuhan selain Engkau karena Engkaulah yang menggenggam segala apapun yang Engkau kehendaki."
--------------------------------------------------------------------------------
Rangkuman Kajian Kitab Al-Hikam TRANS TV, 3 Ramadhan 1423 H/8 November 2002.
Kekayaan Ma'rifat
Sumber: Abdullah Gymnastiar
Bismillahirrahmanirrahiim
Kajian Kitab Al-Hikam
Karya Syekh Ahmad bin Muhammad Atailah
Bab: Kekayaan Ma'rifat
Semoga Allah yang Maha Kaya, memperkaya diri kita dengan perasaan tidak membutuhkan selain kepada Allah, karena ternyata banyak orang kaya yang menjadi miskin, karena kebutuhannya lebih banyak daripada kekayaannya. Sayangnya kebutuhan itu tidak pernah ada ujungnya, seperti minum air laut, makin diminum makin haus. Begitulah, banyak orang yang diberi kekayaan duniawi tapi batinnya miskin, hari-harinya dilalui dengan sengsara karena diperbudak oleh keinginan. Semoga Allah memperkaya kita dengan rasa puas terhadap segala yang ada. Kita akan mengupas hikmah dari Imam Ibnu Atailah dalam kitab Al-Hikam berikut ini.
"Hendaknya membelanjakan tiap orang kaya menurut kekayaannya, ialah mereka yang telah sampai kepada Allah dan orang yang terbatas rezekinya, yaitu orang yang sedang berjalan menuju kepada Allah.
Orang yang telah sampai kepada Allah karena mereka telah terlepas dari kurungan melihat kepada sesuatu selain Allah ke alam tauhiid maka luaslah pandangan mereka, maka mereka berbuat di alam mereka lebih leluasa.
Sebaliknya orang yang masih merangkak-rangkak di dalam ilmu dan paham yang terbatas mereka inipun mengeluarkan sekedarnya."
Orang yang kaya adalah orang yang sedikit kebutuhannya, dan senang menafkahkannya. Orang yang miskin adalah orang yang sibuk menyembunyikan hartanya dalam tabungan; dia miskin karena takut berkurang rezekinya. Makin banyak berkurang, makin merasa miskin. Orang yang kaya tidak pernah takut terhadap kekurangan, orang yang kaya hakiki adalah orang yang yakin kepada jaminan Allah sehingga dia ringan bersedekah karena sedekah itu tidak akan mengurangi harta melainkan akan menambahnya. Jangan melihat kekayaan orang lain dari apa yang dimilikinya, tapi lihatlah kekayaan seseorang dari apa yang bisa dinafkahkannya.
Kekayaan lain adalah ilmu. Orang yang kaya dengan ilmu, leluasa dalam mencari ilmu, dia sampaikan kepada yang lain sesudah dia amalkan. Tapi ada orang yang punya ilmu, kemudian dia kikir tidak mau memberikan kepada yang lain. Ciri keilmuan seseorang adalah kalau dengan ilmunya dia makin lapang; makin dekat dengan Allah dan makin gemar memberikan ilmunya bagaikan cahaya matahari.
Kekayaan yang kita bahas di sini sebenarnya adalah kekayaan yang disebut ahli ma'rifat, yaitu orang yang mengenal Allah dengan baik. Dia kaya dengan pengenalan akan keagungan kebesaran Allah, dia akan sangat leluasa menjelaskan siapa Allah. Tidak semua orang bisa menjelaskan Allah, bahkan ada yang menyebut Allah saja tidak sanggup, paling tinggi 'Tuhan' atau ada yang mengatakan 'Yang di Atas'; 'Dia yang maha kuasa' dan lain sebagainya. Ada yang begitu berat sekali dalam menyebut, karena memang dia miskin dalam keyakinan kepada Allah.
Orang yang miskin keyakinan sulit memberikan ketenangan kepada keluarganya, karena dia sendiri tidak punya ketenangan itu. Sebaliknya, orang yang sudah kenal dan akrab dengan Allah mempunyai ketenangan yang melimpah pada dirinya, akibatnya dia bisa menenangkan kepada banyak orang disekitarnya. Wajahnya membuat tenang orang yang menatap, kata-katanya menenangkan orang banyak. Tidak semua orang menyuruh orang tenang, bisa membuat orang menjadi tenang. Karena yang berkatanya belum tentu tenang.
Orang yang sudah mengenal Allah, akan mendistribusikan hartanya karena dia tidak takut miskin, dia mendistribusikan ilmunya, tenaganya, pikirannya. Itulah kekayaan sejati orang yang kaya, orang yang leluasa sekali mendoakan orang lain, menolong orang lain. Dia tidak pernah berat untuk menyenangkan orang, menghormati orang, itulah orang yang kaya hakiki. Sebaliknya, ada orang yang miskin penghargaan. Kemana-mana ingin dihormati, ingin dihargai, ingin dibedakan, ingin diperlakukan spesial. Kalau tidak dihargai sakit hati. Dia sebetulnya miskin, dia belum berharga karena yang berharga itu adalah jika kita bisa menghargai dan menghormati.
Bagi seorang yang ma'rifat kepada Allah, dia tidak membutuhkan apapun, dari siapapun, kecuali hanya dari Allah. Hidupnya tenang, mantap, tidak menjilat, tidak meminta-minta, tidak menggadaikan dirinya kepada mahluk. Mungkin rumahnya sederhana tapi batinnya megah, mungkin uangnya sedikit tapi batinnya kaya, mungkin tanahnya sempit tapi hatinya lapang, mungkin tubuhnya mungil tapi jiwanya besar, inilah kekayaan hati.
Kemegahan dunia dibagikan kepada siapa saja oleh Allah, termasuk kepada orang yang dholim, ingkar, munafik, tapi kekayaan Ma'rifatullah tidak dibagikan kepada sembarang orang. Inilah keadilan Allah SWT. Oleh karena itu jikalau kita ingin tergolong orang yang kaya, teruslah belajar mengenali Allah, dekati Allah dan jadikanlah diri kita menjadi orang yang senang dan cinta kepada Allah, segalanya Allah. "Innalaha 'ala kulli syai'in qodir." Makin kokoh keyakinan, makin nikmat dalam hidup, makin mulya dan cemerlang dalam kepribadian.
Jangan sampai menganggap melimpahnya kekayaan duniawi sebagai karunia Allah yang memuliakan kita, belum tentu. Adakalanya berbentuk 'istidraj'. Oleh Allah diberi, tapi bisa menambah kerugian dan kesesatan, maka waspadalah. Kekayaan sesungguhnya adalah pada batin kita.
Mudah-mudahan dengan ilmu ini kita tidak menjadi risau dengan apa yang telah Allah janjikan. Allah yang bertanggungjawab terhadap segala kebutuhan kita, tapi kita punya kewajiban untuk menyempurnakan ikhtiar agar selalu berada di jalan Allah. Kalau kita berpegang lurus, Allah tidak mungkin menyia-nyiakan siapapun yang berpegang teguh di jalanNya. ***
--------------------------------------------------------------------------------
Rangkuman Kajian Kitab Al-Hikam TRANS TV, 6 Ramadhan 1423 H/11 November 2002
Menyikapi Waktu
Penulis: KH. Abdullah Gymnastiar
Maha perkasa Allah Azza wa Jalla, Dzat yang memiliki segala keagungan, kemuliaan, keunggulan, dan segala kelebihan lainnya. Dzat yang Mahasempurna sifat-sifat-Nya, tiada satu kejadianpun yang terbebas dari kekuasaan-nya. Allah, Dzat yang Maha adil meningkatkan derajat siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Namun, sesungguhnyalah kemuliaan dan kehinaan yang ada pada diri kita merupakan buah dari segala amal yang telah kita lakukan. Tidak bisa tidak. Karena demi Allah, Allah SWT tidak akan pernah dzhalim terhadap hamba-hamba-Nya.
Sahabat-sahabat, sungguh betapa banyak orang yang cukup potensial, tetapi tidak bisa menjadi unggul. Salah satu sebabnya adalah karena ketidakmampuannya dalam mengelola waktu. Yakinilah bahwa kesuksesan atau kegagalan seseorang dalam urusan dunia maupun akhirat adalah sangat bergantung bagaimana kesungguhannya dalam menyikapi waktu. Kita saksikan, betapa banyak orang yang mengeluh karena merasa tak pernah punya waktu, sedangkan beberapa orang yang lain selalu mencari jalan untuk membunuh waktu.
Padahal, subhanallah, Allah dengan Maha cermat dan Maha adil telah membagikan waktu dengan seadil-adilnya, dengan secermat-cermatnya tanpa akan luput satupun. Setiap orang pastilah akan mendapat jumlah waktu yang sama, yaitu 60 menit setiap jam, dan 24 jam setiap hari di tempat manapun di dunia ini. Di negara maju, negara berkembang, atau negara yang hancur terpuruk sekalipun tetap 24 jam perhari 60 menit per jam.
Singapura 24 jam per hari, Singaparna 24 jam per hari, Chichago 60 menit per jam, Cikaso 60 menit per jam, semuanya sama. Pengusaha sukses, yang jatuh bangun, atau bahkan yang bangkrut sekalipun tetap 24 jam per hari 60 menit per jam. The Best Executive, karyawan asal-asalan,dan pengangguran kelas berat sekalipun jatah waktunya tetap sama 24 jam per hari. Seorang bintang kelas; yang biasa saja, atau yang tidak naik kelas sekalipun tetap 24 jam per hari 60 menit per jam. Maka, nyatalah bahwa yang menjadi masalah bukan jumlah waktunya, tapi isi waktunya.
Sebab, ada yang dalam waktu 24 jam itu mampu mengurus negara, jutaan orang, atau aneka perusahaan raksasa dengan beratus ribu orang, tapi ada yang dalam 24 jam mengurus diri saja tidak mampu! Naudzhubillah, Karakteristik waktu memang sebuah keunikan, bahkan ia suatu misteri kehidupan ini, yang terekam dalam tik-tok jam, tercatat dalam buku harian, terhitung dalam kalender tahunan, terukir dalam prasasti-prasasti kehidupan. Walau, sebenarnya ukuran-ukuran itu akan kurang berarti, sebab ukuran waktu yang nyata adalah kehidupan kita sendiri. Ya, hidup kita adalah waktu itu sendiri, yang menggelinding tiada henti. Sebagai makhluk ciptaan-Nya waktu ternyata memiliki tabiat tersendiri, waktu adalah terpendek karena tak pernah cukup menyelesaikan tugas hidup. Waktu adalah terpanjang karena ia adalah ukuran keabadian. Waktu akan berlalu cepat bagi mereka yang bersuka cita. Waktu berjalan sangat lambat bagi yang dirundung derita. Waktu adalah saksi sejarah yang akan membeberkan segala kehinaan dan kenistaan yang kita lakukan.
Waktu adalah perekam abadi yang akan mengekalkan segala keagungan dan kemuliaan seseorang. Dan yang utama waktu modal kita, kehidupan kita. Tiada yang dapat terjadi tanpa dia. Maka, sungguh suatu kerugian yang sangat besar bila seorang hamba tidak dapat memanfaatkan waktunya dengan sangat baik dan optimal. Allah berfirman, "Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasehat-menasehati dalam menatapi kebenaran dan nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran" [Q.S. AI Ashr: (103): 1-3].
Imam Syafii mengatakan bahwa, "Cukup dengan Surat Al Ashr, Al-Quran sudah terwakili". Subhanallah, demikian pentingnya waktu dalam pandangan Allah. Dikisahkan bahwa suatu waktu Khalifah Umar bin Abdulaziz sesampai di rumah setelah mengurus jenazah Sulaiman bin Abdul Malik kakeknya ia (Umar) sedang istirahat tidur-tiduran di ranjang, kemudian datang anaknya Abdul Malik, dan ia bertanya: "Wahai Amirul Mukminin, gerangan apakah yang membaringkan anda di siang hari bolong ini. Jawab ayahnya; "Aku letih, aku butuh istirahat". Abdul Malik berkata; "Pantaskah anda beristirahat padahal banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, lihat di sana rakyat yang tertindas butuh pertolonganmu." jawab ayahnya, "Semalam suntuk aku menjaga pamanmu dan itu yang mendorong aku istirahat, nanti setelah shalat dhuhur aku akan mengembalikan hak-hak orang-orang yang tertindas dan teraniaya". Anaknya bertanya, "Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang menjamin anda hidup sampai dhuhur. Bagaimana kalau Allah menakdirkan anda mati sekarang?" Kemudian Umar bangun dan pergi membawa satu karung pikulan gandum, lalu mencari orang yang kelaparan.
Dalam kisah ini, nampaklah betapa beratnya tanggung jawab untuk mengelola waktu. Bagaimana pula dengan kita yang telah diberi amanah mengurus bumi ini? Subhanallah, marilah kita berlindung kepada Allah dari kelalaian memanfaatkan waktu seraya memohon agar dikaruniakan kemampuan untuk mengelola waktu dengan optimal, penuh makna, sesuai dengan yang telah dituntunkan Allah dan Rosul-Nya. Ada dua hal yang perlu kita lakukan, agar memiliki keunggulan dalam hidup ini, yaitu:
a. Waktu boleh sama tapi isi harus beda
Ajaran Islam sangat menghargai waktu, Allah SWT sendiri berkali-kali bersumpah dalam Al Quran berkaitan dengan waktu. Wal 'ashri (Demi waktu), Wadh dhuha (Demi waktu dhuha), Wallail (Demi waktu malam), Wannahar (Demi waktu siang). Allah juga sangat menyukai orang yang shalat lima waktu dengan tepat waktu, memuliakan sepertiga malam sebagai waktu mustajabnya doa, dan waktu dhuha sebagai waktu yang disukai-Nya. Maka, sangat beruntunglah orang-orang yang mengisi waktunya efektif hanya dengan mempersembahkan yang terbaik dalam rangka beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi, yang artinya, "Pada setiap fajar ada dua malaikat yang berseru-seru: "Wahai anak Adam aku adalah hari yang baru, dan aku datang untuk menyaksikan amalan kamu. Oleh sebab itu manfaatkanlah aku sebaik-baiknya. Karena aku tidak kembali lagi sehingga hari pengadilan." (H.R. Turmudzi).
Cobalah bayangkan, andaikata dalam suatu perlombaan balap sepeda, dalam satu detik si A berhasil mengayuh satu putaran, si B setengah putaran, dan si C mengayuh dua putaran. Siapa yang jadi juaranya? Maka, dengan meyakinkan si C-lah yang akan berpeluang menjadi juara, mengapa? Karena pada detik yang sama si C dapat berbuat lebih banyak daripada yang lain. Nah, begitupun kita semua semakin banyak dan baik hal positif yang kita lakukan dalam waktu yang sama, insyaAllah kita akan lebih dekat dengan kesuksesan. Persis dengan apa yang anda lakukan saat ini, pada saat yang sama ada yang sedang tidur, sedang di WC, sedang bermain atau mungkin bermaksiat atau apa saja, dan pada saat akhir membaca tulisan ini. Maka, hasilnya pun berbeda-beda tergantung dari apa yang dilakukan, dan anda insyaAllah beruntung karena telah mendapat ilmu yang mahal yaitu bagaimana mengelola modal hidup ini, yakni waktu.
b. Sekarang harus lebih baik daripada tadi
Sahabat-sahabat, sungguh kita merasakan bahwa seringkali kita tidak begitu serius menghargai waktu, sehingga kadang-kadang menghamburkannya tanpa guna. Kadangkala kesia-siaan selalu menjadi bagian dari hidup kita ini; bersantai-santai tanpa merasa rugi waktu, berbicara sia-sia tanpa merasa berdosa, berjalan tanpa tujuan hanya untuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal, sungguh waktu adalah modal kita dalam mengarungi kehidupan ini. Kalau kita mengoptimalkan modal kita, maka beruntunglah kita, tapi kalau kita menyia-nyiakannya.Maka sangat pasti akan rugilah kita. Orang yang bodoh adalah orang yang diberi modal (waktu), kemudian dengan modal itu ia sia-siakan. Naudzhubillah. Padahal, andaikata hari ini sama dengan hari kemarin berarti kecepatan kita sama, tak ada peningkatan. maka tak akan pernah bisa menyusul siapapun, dan andaikata orang lain selalu meningkat, maka kita akan tertinggal dan jadi pecundang. Rasulullah SAW. mengingatkan kita dengan sabdanya, " Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia termasuk orang-orang yang merugi" (H.R. Dailami).
Maka, satu-satunya pilihan adalah hari ini harus lebih baik dari kemarin, bahkan kalau bisa sekarang ini harus lebih baik daripada barusan tadi, dalam hal apapun. Kalau tidak demikian, maka harus diakui bahwa hari ini adalah hari yang gagal dan rugi, dan ingat andaikata hari ini lebih buruk dari hari kemarin berarti kita terkena musibah, kerugian yang sangat besar dan mencelakakan diri. Naudzhubillah, hal ini tak boleh terjadi pada diri kita. Rasulullah SAW sendiri mengingatkan kita untuk selalu memperbaiki waktu kita, sebab setiap waktu memiliki beban persoalan tersendiri, sabdanya, "Carilah yang lima sebelum datang yang lima, yaitu manfaatkanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu (dengan ibadah), gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu (dengan amal saleh), gunakanlah masa kayamu sebelum datang masa miskinmu (dengan sedekah), gunakanlah masa hidupmu sebelum datang masa matimu (mencari bekal untuk hidup setelah mati). gunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sempitmu.' (Al Hadits).
Dari uraian diatas, maka sebenarnya ada tiga kelompok orang yang menggunakan waktu, yaitu:
1. Orang sukses, yaitu orang yang menggunakan waktu dengan optimal, dan ia melakukan sesuatu yang tidak diminati oleh orang yang gagal.
2. Orang malang, yaitu orang yang hari-harinya diisi dengan kekecewaan dan selalu memulai sesuatu dengan esok harinya.
3. Orang hebat, yaitu orang yang bersedia melakukan sesuatu sekarang juga. Bagi orang hebat, tidak ada hari esok. Dia berkata bahwa membuang waktu bukan saja sesuatu kejahatan, tetapi suatu pembunuhan yang kejam.
Maka , mulai sekarang waspadalah terhadap waktu. Setiap detik yang kita lalui harus diperhitungkan dengan secermat-cermatnya, sematang-matangnya, dan seakurat-akuratnya, lalu mengisinya dengan hal-hal yang membuahkan peningkatan kemampuan kita. Kita tidak hanya perlu bekerja keras, tapi kita perlu juga bekerja keras dan cerdas. Lebih jauh kita lagi kita perlu kerja keras, cerdas dan efektif, sehingga waktu yang kita gunakan akan lebih optimal, bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat nanti.***
Empat Rahasia Ahli Syukur
Penulis: Aa Gym
Semoga Allah Yang Maha Menatap, Maha Gagah, Maha Menguasai segala-galanya mengaruniakan kepada kita hati yang bersih sehingga bisa menangkap hikmah di balik kejadian apapun yang kita rasa dan kita saksikan, karena penderitaan dalam hidup bukan karena kejadian yang menimpa tapi karena kita tertutup dari hikmah.
Allah menakdirkan apapun Maha Cermat, tidak pernah mendzolimi makhluk-makhluk-Nya. Kita sengsara adalah karena kita yang mendzolimi diri sendiri.
"Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat Allah, sesungguhnya ia telah membuka jalan hilangnya nikmat dari dirinya. Akan tetapi barangsiapa yang mensyukuri nikmat Allah, maka sungguh ia telah memberi ikatan yang kuat pada kenikmatan Allah itu."
Firman Allah SWT: La in Syakartum la-aziidannakum (jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah rezekimu)(QS.14: 7)
Wa maa bikummin ni'matin faminallohi tsumma idzaa massakumudllurru failaihi tajaruun (Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya, dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan , maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.(QS.16: 53)
Wa ammaa bini'mati rabbika fahaddits (Dan terhadap Nikmat Tuhan-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).(QS.93: 11)*
*(diambil dari kitab Al Hikam; Syekh Ahmad Atailah)
Jadi setiap nikmat itu menjadi pembuka atau penutup pintu nikmat lainnya. Kita sering menginginkan nikmat padahal rahasia yang bisa mengundang nikmat adalah syukur atas nikmat yang ada. Jangan engkau lepaskan nikmat yang besar dengan tidak mensyukuri nikmat yang kecil.
Tidak usah risau terhadap nikmat yang belum ada, justru risaulah kalau nikmat yang ada tidak disyukuri. Allah sudah berjanji kepada kita dengan janji yang pasti ditepati, La in syakartum la-aziidannakum (jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah rezekimu)(QS.14: 7)
Maka, daripada kita sengsara oleh nikmat yang belum ada lebih baik bagaimana yang ada bisa disyukuri. Sayangnya kalau kita mendengar kata syukuran itu yang terbayang hanya makanan, padahal syukuran itu adalah bentuk amal yang dahsyat sekali pengaruhnya.
Syarat yang pertama menjadi ahli syukur adalah hati tidak merasa memiliki, tidak merasa dimiliki kecuali yakin segalanya milik Allah SWT. Makin kita merasa memiliki sesuatu akan makin takut kehilangan, takut kehilangan adalah suatu bentuk kesengsaraan. Tapi kalau kita yakin semuanya milik Allah, maka diambil oleh Allah tidak layak kita merasa kehilangan karena kita merasa tertitipi. Makin merasa rejeki itu milik manusia kita akan merasa berharap kepada manusia dan akan makin sengsara, senikmat-nikmat dalam hidup adalah kalau kita tidak berharap kepada mahluk tetapi berharap hanya kepada Allah SWT.
Rahasia yang kedua ahli syukur adalah "orang yang selalu memuji Allah dalam segala kondisi". Karena apa? Karena kalau dibandingkan antara nikmat dengan musibah tidak akan ada apa-apanya. Musibah yang datang tidak sebanding dengan samudera nikmat yang tiada bertepi. Apa yang harus membuat kita menderita? Adalah menderita karena kita tamak kepada yang belum ada.
Ciri yang ketiga dari ahli syukur adalah manfaatkan nikmat yang ada untuk mendekat kepada Allah. Alkisah ada tiga pengendara kuda masuk kedalam belantara, ketika dia tertidur kemudian saat terjaga dilihat kudanya telah hilang semua. Betapa kagetnya mereka dan pada saat yang sama dalam keadaan kaget, ternyata seorang raja yang bijaksana melihat hal tersebut dan mengirimkan kuda yang baru lengkap dengan perbekalan. Ketika dikirimkan reaksi ketiga pengendara yang hilang kudanya itu berbeda-beda. Si-A kaget dan berkomentar, "Wah ini hebat sekali kuda, bagus ototnya, bekalnya banyak pula!" Dia sibuk dengan kuda tanpa bertanya kuda siapakah ini.
Si-B, gembira dengan kuda yang ada dan berkomentar, "Wah ini kuda hebat," sambil berterima kasih kepada yang memberi. Sikap C beda lagi, ia berkomentar "Lho ini bukan kuda saya, ini kuda milik siapa? Yang ditanya menjawab, "Ini kuda milik raja." Si-C bertanya kembali "Kenapa raja memberikan kuda ini? Dijawab "Sebab raja mengirim kuda agar engkau mudah bertemu dengan sang raja". dia gembira bukan karena bagusnya kuda, dia gembira karena kuda dapat memudahkan dia dekat dengan sang raja.
Nah begitulah, si-A adalah manusia yang kalau mendapatkan mobil, motor, rumah, dan kedudukan sibuk dengan kendaraan itu, tanpa sadar bahwa itu adalah titipan. Orang yang paling bodoh adalah orang yang punya dunia tapi dia tidak sadar bahwa itu titipan Allah. Yang B mungkin adalah model kita yang ketika senang kita mengucap Alhamdulillah, tetapi ahli syukur yang asli adalah yang ketiga yang kalau punya sesuatu dia berpikir bahwa inilah kendaraan yang dapat menjadi pendekat kepada Allah SWT.
Ketika mempunyai uang dia mengucap Alhamdulillah, uang inilah pendekat saya kepada Allah, dia tidak berat untuk membayar zakat, dia ringan untuk bersadaqah, karena tidak akan berkurang harta dengan bersadaqah.
Maka, jika sahabat ingin banyak uang, sederhana saja rumusnya, pakailah uang yang ada untuk berjuang di jalan Allah. Jangan heran jika rejeki datang melimpah. Punya rumah ingin nikmat bukan masalah ada atau tidak ada AC, bukan masalah ukuran, tetapi rumah yang nikmat adalah rumah yang menjadi kendaraan untuk mendekat kepada Allah. Bangunlah rumah yang tidak membuat kita sombong, belilah asesoris rumah yang membuat setiap tamu yang datang menjadi dekat kepada Allah, bukan ingat kepada kekayaan kita. Pasanglah hiasan yang mebuat tamu kita ingat kepada kekuasaan Allah bukan kekuasaan kita. Itulah rumah yang Insya Allah tenang dan barokah. Tapi kalau rumah dipakai untuk pamer dan menginginkan kursi yang amat mewah, potret-potretnya yang tidak membuat ingat kepada Allah, malah ujub, riya takabur, tidak usah heran rumah itu semakin diminati pencuri, dan rumah yang diminati pencuri itu membuat strees bagi yang punya. Dia harus menyewa alarm, menggaji satpam, di depan harus ada anjing. Coba kalau rumahnya ingat kepada Allah dia tidak akan sesibuk itu.
Mohon maaf kepada saudara-saudaraku yang kaya tidak apa-apa memiliki yang bagus, tapi usahakan setiap tamu yang masuk ke rumah bukan ingat kepada kita tetapi ingat kepada kekayaan Allah. Andai kita mempunyai jabatan, lalu bagaimana cara mensyukurinya? Gunakanlah jabatan itu agar karyawan kita dekat kepada Allah.
Kesungguhan kita untuk mendidik anak lebih baik daripada punya anak tetapi tidak tahu agama, lalu bagaimana anak itu akan memuliakan ibu bapaknya? Ketika kita mati mereka hanya berebut harta warisan jangankan mensholatkan ibu bapaknya.
Maka orang yang bersyukur yang adalah orang yang mendidik anaknya supaya dekat dengan Allah. Di dunia nama orang tuanya terbawa harum karena anaknya mulia. Di kubur lapang kuburnya karena doa anaknya. Di akherat Insya Allah akan terbawa karena barokah mendidik anak.
Kunci syukur yang keempat adalah berterima kasih kepada yang telah menjadi jalan nikmat. Seorang anak disebut ahli syukur kalau dia tahu balas budi kepada ibu dan bapaknya. Dimana-mana anak sholeh itu harum namanya. Tapi anak durhaka tidak pernah ada jalan menjadi mulia sebab kenapa? Karena mereka tidak tahu balas budi. Benar orang tua kita tidak seideal yang kita harapkan, tetapi masalah kita bukan bagaimana sikap orang tua kepada kita, tetapi sikap kita kepada orang tua.
Saudara-saudaraku yang budiman negeri kita dikatakan negeri bersyukur kalau sadar bahwa negeri ini adalah titipan dari Allah, bukan milik seseorang, bukan milik pahlawan, bukan milik siapapun yang membangun negeri. Tapi negeri ini tidak ada pemiliknya selain Allah tapi kita episodenya hidup di Indonesia. Maka syukuri, jangan minder jadi orang Indonesia yang disebutkan negara koruptor, tetapi justru kita yang harus bangkit untuk tidak korupsi! Dengan minder tidak akan menyelesaikan masalah. Kita harus bangkit! Negara ini harus jadi ladang untuk mendekat kepada Allah.
Dengan ada perasaan dongkol, sakit hati, itu semuanya tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru akan menambah masalah. Sekarang justru kesempatan kita menjadi bagian dari masalah atau menjadi bagian dari solusi. Daripada sibuk mempermasalahkan masalah lebih baik mari kita sedikit demi sedikit menyelesaikan masalah. Itulah namanya syukur nikmat.
Dan sahabat-sahabat, salah satu tugas kita untuk mensyukuri nikmat adalah kita harus memilih pemimpin kita yang berakhlaq baik yang bisa membimbing kita. Rakyat seluruh negeri ini menjadi orang yang baik-baik. Kita membutuhkan suri tauladan yang baik. Jangan pernah melihat orang dari topeng duniawinya tetapi lihatlah orang dari akhlaqnya karemna akhlaq adalah buah dari keimanan dan keilmuan yang diamalkan. Harta, gelar, pangkat, jabatan dan kedudukan yang tidak menjadikan kemuliaan akhlaq seseorang berarti dia telah terpedaya. Kita tidak membutuhkan topeng. Yang kita butuhkan adalah isi dan isi inilah milik orang-orang yang ahli syukur kepada Allah.
Mudah-mudahan daripada kita memikirkan yang tidak ada lebih baik mensyukuri yang ada. Wallahu a'lam Bishowab. ***
Disampaikan dalam Kajian Hikam Kamis 29 Agustus 2002 di Masjid Daarut Tauhiid dan disiarkan trans TV Ahad 8 Agustus 2002.
.
Zuhud
Penulis: KH. Abdullah Gymnastiar
Ada empat tipe manusia berkaitan dengan harta dan gaya hidupnya :
Pertama, orang berharta dan memperlihatkan hartanya. Orang seperti ini
biasanya mewah gaya hidupnya, untung perilakunya ini masih sesuai
dengan penghasilannya, sehingga secara finansial sebenarnya tidak terlalu bermasalah. Hanya saja, ia akan menjadi hina kalau bersikap sombong dan merendahkan orang lain yang dianggap tak selevel dengan dia. Apalagi kalau bersikap kikir dan tidak mau membayar zakat atau mengeluarkan sedekah. Sebaliknya, ia akan terangkat kemuliaannya dengan kekayaannya itu jikalau ia rendah hati dan dermawan.
Kedua, orang yang tidak berharta banyak, tapi ingin kelihatan berharta. Gaya hidup mewahnya sebenarnya diluar kemampuannya, hal ini karena ia ingin selalu tampil lebih daripada kenyataan. Tidaklah aneh bila keadaan finansialnya lebih besar pasak daripada tiang. Nampaknya, orang seperti ini benar-benar tahu seni menyiksa diri. Hidupnya amat menderita, dan sudah barang tentu ia menjadi hina dan bahkan menjadi bahan tertawaan orang lain yang mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Ketiga, orang tak berharta tapi berhasil hidup bersahaja. Orang seperti ini tidak terlalu pening dalam menjalani hidup karena tak tersiksa oleh keinginan, tak ruwet oleh pujian dan penilaian orang lain, kebutuhan hidupnya pun sederhana saja. Dia akan hina kalau menjadi beban dengan menjadi peminta-minta yang tidak tahu diri. Namun tetap juga berpeluang menjadi mulia jikalau sangat menjaga kehormatan dirinya dengan tidak menunjukan berharap dikasihani, tak menunjukan kemiskinannya, tegar, dan memiliki harga diri.
Keempat, orang yang berharta tapi hidup bersahaja. Inilah orang yang
mulia dan memiliki keutamaan. Dia mampu membeli apapun yang dia inginkan namun berhasil menahan dirinya untuk hidup seperlunya. Dampaknya, hidupnya tidak berbiaya tinggi, tidak menjadi bahan iri dengki orang lain, dan tertutup peluang menjadi sombong, serta takabur plus riya. Dan yang lebih menawan akan menjadi contoh kebaikan yang tidak habis-habisnya untuk menjadi bahan pembicaraan. Memang aneh tapi nyata jika orang yang berkecukupan harta tapi mampu hidup bersahaja (tentu tanpa kikir). Sungguh ia akan punya pesona kemuliaan tersendiri. Pribadinya yang lebih kaya dan lebih berharga dibanding seluruh harta yang dimilikinya, subhanallaah.
Perlu kita pahami bahwa zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak
mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, semacam harta benda dan kekayaan lainnya, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangan makhluk. Bagi orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun harta yang dimiliki, sama sekali tidak akan membuat hatinya merasa tenteram, karena ketenteraman yang hakiki adalah ketika kita yakin dengan janji dan jaminan Allah.
Andaikata kita merasa lebih tenteram dengan sejumlah tabungan di bank, saham di sejumlah perusahaan ternama, real estate investasi di sejumlah kompleks perumahan mewah, atau sejumlah perusahaan multi nasional yang dimiliki, maka ini berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seberapa banyak saham pun yang dimiliki, sebanyak apapun asset yang dikuasai, seharusnya kita tidak lebih merasa tenteram dengan jaminan mereka atau siapapun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali ijin Allah. Dia-lah Maha Pemilik apapun yang ada di dunia ini.
Begitulah. Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang
dimilikinya tidak mejadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita, dan bahkan, lebih tahu dari kita sendiri.
Ada dan tiadanya dunia di sisi kita hendaknya jangan sampai menggoyahkan batin. Karenanya, mulailah melihat dunia ini dengan sangat biasa-biasa saja. Adanya tidak membuat bangga, tiadanya tidak membuat sengsara. Seperti halnya seorang tukang parkir. Ya tukang parkir. Ada hal yang menarik untuk diperhatikan sebagai perumpamaan dari tukang parkir. Mengapa mereka tidak menjadi sombong padahal begitu banyak dan beraneka ragam jenis mobil yang ada di pelataran parkirnya? Bahkan, walaupun berganti-ganti setiap saat dengan yang lebih bagus ataupun dengan yang lebih sederhana sekalipun, tidak mempengaruhi kepribadiannya!? Dia senantiasa bersikap biasa-biasa saja.
Luar biasa tukang parkir ini. Jarang ada tukang parkir yang petantang
petenteng memamerkan mobil-mobil yang ada di lahan parkirnya. Lain
waktu, ketika mobil-mobil itu satu persatu meninggalkan lahan parkirnya, bahkan sampai kosong ludes sama sekali, tidak menjadikan ia stress. Kenapa sampai demikian? Tiada lain, karena tukang parkir ini tidak merasa memiliki, melainkan merasa dititipi. Ini rumusnya.
Seharusnya begitulah sikap kita akan dunia ini. Punya harta melimpah,
deposito jutaan rupiah, mobil keluaran terbaru paling mewah, tidak
menjadi sombong sikap kita karenanya. Begitu juga sebaliknya, ketika harta diambil, jabatan dicopot, mobil dicuri, tidak menjadi stress dan putus asa. Semuanya biasa-biasa saja. Bukankah semuanya hanya titipan saja? Suka-suka yang menitipkan, mau diambil sampai habis tandas sekalipun, silahkan saja, persoalannya kita hanya dititipi.
Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "Melakukan zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah. Dan hendaknya engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang sedang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu." (HR. Ahmad).***
Hikmah Ayat Kursi
Penulis: Aa Gym
Bismillahirrahmanirrahiim,
"Allah. Tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Na. Kursi (pengetahuan/kekuasaan) Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS Al Baqarah: 255).
Maha Agung Allah yang Maha dahsyat dengan ayat-ayat yang Dia sampaikan kepada hamba-hamba-Nya, yang meyakini dan mengamalkan, dan membimbing menuju kemuliaan Ialah Allah Yang Maha Agung dan Maha Perkasa.
Saudaraku, ini adalah ayat Kursi, yang sarat dengan keindahan, keagungan dan kebesaran Allah. Allah yang tiada tuhan selain Dia. Yang kekal serta terus menerus mengurus segala-galanya, Allah tidak tersentuh oleh kantuk, apalagi tertidur. Semuanya dalam kesibukan mengurus hamba-hamba-Nya. Allah selalu dalam kesibukan mengurus hamba-hamba-Nya.
Tiada satupun yang memiliki apapun di langit dan bumi selain Allah dan tidak ada syafaat selain Allah, termasuk siapapun yang diizinkan-Nya memberi syafaat. Tiada yang tersembunyi karena Allah Maha Tahu apa yang ada di depan, di belakang, samping kiri kanan, luar dan dalam Allah Maha Tahu segala-galanya. Dan mahluk tidak pernah tahu apapun kecuali yang Allah kehendaki. Kita tidak pernah tahu apa-apa kecuali sepercik ilmu yang Allah berikan kepada kita.
Kekuasaaan Allah meliputi langit dan bumi, total dan sempurna. Dan Allah tidak berat sama sekali mengurus apapun yang Dia ciptakan, Dia genggam, memelihara segala-galanya. Andaikata kita meyakini, kedahsyatan, kehebatan Allah ini, maka kita akan puas memiliki pelindung Allah SWT. Kita memiliki penjamin, Ialah Allah SWT. Kita memiliki penuntun, Ialah Allah Yang Maha Tahu segala-galanya. Memang orang yang paling puas dan paling bahagia dalam hidup adalah orang yang paling yakin dengan kehebatan, keagungan, kebesaran Allah dan segala janji serta jaminan-Nya.
Semoga kita semua semua termasuk orang yang bisa memahami ayat Kursi dengan baik, mengamalkannya dengan benar dan meyakini hikmah yang tersirat di dalamnya.***
Allah Pelindung Orang yang Beriman
Penulis: Aa Gym
Bismillahirrahmannirrahiim,
"Tidak ada paksaan untuk agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah maka, sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya." (QS: Al Baqarah ayat 256-257)
Alhamdulillahhirrobil alamin...
Mahasuci Allah yang telah mengislamkan kita. Sebuah karunia yang amat besar yang bisa membedakan kesesatan dan kebenaran. Wahai saudaraku, semoga Allah mengaruniakan dirimu Istiqomah dalam Islam, karena ternyata surat Al Baqarah ayat 256 menyiratkah hikmah bahwa Islam begitu jelas: Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam karena jelas yang benar dan yang bathil, tinggal hati memilih kebenaraan atau kebathilan. Ingkar kepada Allah tidak menambah kemudharatan bagi Allah Yang Maha Agung, kecuali mudharat bagi dirinya sendiri.
Surat Al Baqarah ayat 257 menyiratkan Allahlah pelindung orang yang beriman. Allah yang mengeluarkan kita dari kegelapan, kekafiran menuju kepada keimanan. Sedangkan orang-orang yang kufur kepada Allah justru berlindung kepada syaitan yang terkutuk, yang sebaliknya mengeluarkan dari cahaya menuju kegelapan.
Saudaraku, orang-orang yang dibimbing oleh Allah akan mudah melangkah bagai langkah dalam cahaya yang terang benderang dan itulah perlindungan dari Allah. Tapi orang-orang yang ada dalam kegelapan batin was-was tidak bisa membedakan mana nikmat mana mudharat. Kegelisahan, kegalauan akan menghiasi setiap gerak langkah dan waktunya.
Oleh karena itu, bersyukurlah kita jikalau kita termasuk orang yang beriman, karena Allahlah yang akan mencahayai setiap gerak langkah hidup kita. Nikmat sekali hidup bisa menatap lurus apa yang akan kita tempuh. Nikmat yang belum didapat sudah kita rasakan nikmatnya karena jelas ini nikmat dari Allah. Subhanallah.
Semoga Allah mengaruniakan kita istiqamah dalam Islam dan iman dan memberikan hidayah kepada saudara-saudara kita lainnya untuk memasuki agama Islam karena melihat cahaya kebenaran bukan karena paksaan siapapun jua. Laa iqro hafiddin, tiada paksaan untuk memasuki agama Islam. ***
Pribadi Muslim Berprestasi
Penulis: KH. Abdullah Gymnastiar
Sekiranya kita hendak berbicara tentang Islam dan kemuliaannya, ternyata tidaklah cukup hanya berbicara mengenai ibadah ritual belaka. Tidaklah cukup hanya berbicara seputar shaum, shalat, zakat, dan haji. Begitupun jikalau kita berbicara tentang peninggalan Rasulullah SAW, maka tidak cukup hanya mengingat indahnya senyum beliau, tidak hanya sekedar mengenang keramah-tamahan dan kelemah-lembutan tutur katanya, tetapi harus kita lengkapi pula dengan bentuk pribadi lain dari Rasulullah, yaitu : beliau adalah orang yang sangat menyukai dan mencintai prestasi!
Hampir setiap perbuatan yang dilakukan Rasulullah SAW selalu terjaga mutunya. Begitu mempesona kualitasnya. Shalat beliau adalah shalat yang bermutu tinggi, shalat yang prestatif, khusyuk namanya. Amal-amal beliau merupakan amal-amal yang terpelihara kualitasnya, bermutu tinggi, ikhlas namanya. Demikian juga keberaniannya, tafakurnya, dan aneka kiprah hidup keseharian lainnya. Seluruhnya senantiasa dijaga untuk suatu mutu yang tertinggi.
Ya, beliau adalah pribadi yang sangat menjaga prestasi dan mempertahankan kualitas terbaik dari apa yang sanggup dilakukannya. Tidak heran kalau Allah Azza wa Jalla menegaskan, "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah ..." (QS. Al Ahzab [33] : 21)
Kalau ada yang bertanya, mengapa sekarang umat Islam belum ditakdirkan unggul dalam kaitan kedudukannya sebagai khalifah di muka bumi ini? Seandainya kita mau jujur dan sudi merenung, mungkin ada hal yang tertinggal di dalam menyuritauladani pribadi Nabi SAW. Yakni, kita belum terbiasa dengan kata prestasi. Kita masih terasa asing dengan kata kualitas. Dan kita pun kerapkali terperangah manakala mendengar kata unggul. Padahal, itu merupakan bagian yang sangat penting dari peninggalan Rasulullah SAW yang diwariskan untuk umatnya hingga akhir zaman.
Akibat tidak terbiasa dengan istilah-istilah tersebut, kita pun jadinya tidak lagi merasa bersalah andaikata tidak tergolong menjadi orang yang berprestasi. Kita tidak merasa kecewa ketika tidak bisa memberikan yang terbaik dari apa yang bisa kita lakukan. Lihat saja shalat dan shaum kita, yang merupakan amalan yang paling pokok dalam menjalankan syariat Islam. Kita jarang merasa kecewa andaikata shalat kita tidak khusyuk. Kita jarang merasa kecewa manakala bacaan kita kurang indah dan mengena. Kita pun jarang kecewa sekiranya shaum Ramadhan kita berlalu tanpa kita evaluasi mutunya.
Kita memang banyak melakukan hal-hal yang ada dalam aturan agama tetapi kadang-kadang tidak tergerak untuk meningkatkan mutunya atau minimal kecewa dengan mutu yang tidak baik. Tentu saja tidak semua dari kita yang memiliki kebiasaan kurang baik semacam ini. Akan tetapi, kalau berani jujur, mungkin kita termasuk salah satu diantara yang jarang mementingkan kualitas.
Padahal, adalah sudah merupakan sunnatullah bahwa yang mendapatkan predikat terbaik hanyalah orang-orang yang paling berkualitas dalam sisi dan segi apa yang Allah takdirkan ada dalam episode kehidupan dunia ini. Baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, Allah Azza wa Jalla selalu mementingkan penilaian terbaik dari mutu yang bisa dilakukan.
Misalnya saja shalat, "Qadaflahal mu知inuun. Alladziina hum fii shalaatihim" (QS. Al Mu知inuun [23] : 1-2). Amat sangat berbahagia serta beruntung bagi orang yang khusyuk dalam shalatnya. Artinya, shalat yang terpelihara mutunya, yang dilakukan oleh orang yang benar-benar menjaga kualitas shalatnya. Sebaliknya, "Fawailullilmushalliin. Alladziina hum誕n shalatihim saahuun" (QS. Al Maa置un [107] : 4-5). Kecelakaanlah bagi orang-orang yang lalai dalam shalatnya!
Amal baru diterima kalau benar-benar bermutu tinggi ikhlasnya. Allah Azza wa Jalla berfirman, "Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus" (QS. Al Bayyinah [98] : 5). Allah pun tidak memerintahkan kita, kecuali menyempurnakan amal-amal ini semata-mata karena Allah. Ada riya sedikit saja, pahala amalan kita pun tidak akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla. Ini dalam urusan ukhrawi.
Demikian juga dalam urusan duniawi produk-produk yang unggul selalu lebih mendapat tempat di masyarakat. Lebih mendapatkan kedudukan dan penghargaan sesuai dengan tingkat keunggulannya. Para pemuda yang unggul juga bisa bermanfaat lebih banyak daripada orang-orang yang tidak memelihara dan meningkatkan mutu keunggulannya.
Pendek kata, siapapun yang ingin memahami Islam secara lebih cocok dengan apa-apa yang telah dicontohkan Rasul, maka bagian yang harus menjadi pedoman hidup adalah bahwa kita harus tetap tergolong menjadi orang yang menikmati perbuatan dan karya terbaik, yang paling berkulitas. Prestasi dan keunggulan adalah bagian yang harus menjadi lekat menyatu dalam perilaku kita sehari-hari.
Kita harus menikmati karya terbaik kita, ibadah terbaik kita, serta amalan terbaik yang harus kita tingkatkan. Tubuh memberikan karya terbaik sesuai dengan syariat dunia sementara hati memberikan keikhlasan terbaik sesuai dengan syariat agama. Insya Allah, di dunia kita akan memperoleh tempat terbaik dan di akhirat pun mudah-mudahan mendapatkan tempat dan balasan terbaik pula.
Tubuh seratus persen bersimbah peluh berkuah keringat dalam memberikan upaya terbaik, otak seratus persen digunakan untuk mengatur strategi yang paling jitu dan paling mutakhir, dan hati pun seratus persen memberikan tawakal serta ikhlas terbaik, maka kita pun akan puas menjalani hidup yang singkat ini dengan perbuatan yang Insya Allah tertinggi dan bermutu. Inilah justru yang dikhendaki oleh Al Islam, yang telah dicontohkan Rasulullah SAW yang mulia, para sahabatnya yang terhormat, dan orang-orang shaleh sesudahnya.
Oleh sebab itu, bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada setiap diri hamba-hambanya. Kitalah sebenarnya yang paling berhak menjadi manusia terbaik, yang mampu menggenggam dunia ini, daripada mereka yang ingkar, tidak mengakui bahwa segala potensi dan kesuksesan itu adalah anugerah dan karunia Allah SWT, Zat Maha Pencipta dan Maha Penguasa atas jagat raya alam semesta dan segala isinya ini!
Ingat, wahai hamba-hamba Allah, "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma池uf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah ...!・(QS. Ali Imran [3] : 110)
Al-Khobir, Yang Maha Mengetahui
Penulis: KH Abdullah Gymnastiar
Bismillahirrahmaanirrahiim
"Wahai anakku, sesungguhnya kalau ada satu butir biji sawi yang tersembunyi di dalam batu atau di langit atau di bumi, maka Allah mengetahuinya. Sungguh Allah itu Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS.31 : 16)
Allah SWT mempunyai nama indah Al-Khobir. "Kho", "ba", dan "ro", itulah huruf-huruf penyusunnya. Kata yang tersusun dari huruf-huruf tersebut berkisar maknanya pada dua hal, yaitu pengetahuan dan kelemahlembutan. Khobir biasanya digunakan untuk menunjukkan pengetahuan yang dalam dan sangat rinci menyangkut hal-hal yang sangat tersembunyi.
Menurut Imam Al-Ghozali, Al-Khobir adalah yang tidak tersembunyi bagi-Nya hal-hal yang sangat dalam dan yang disembunyikan. Tidak terjadi sesuatu pun dalam kerajaan-Nya yang di dunia maupun alam raya kecuali diketahui-Nya. Tidak bergerak atau diam satu butir atom pun dan tidak bergerak atau tenang satu jiwa pun kecuali ada beritanya di sisi Allah.
Allah mengetahui apapun yang dikandung hati atau disimpan oleh pikiran. Bisikan-bisikan nafsu, ajakan-ajakan syetan, khayalan-khayalan pikiran, prasangka-prasangka di hati, rencana-rencana jahat, komentar-komentar dan gumaman hati, semua ada dalam pengetahuan Allah. Ada dua tindakan yang dapat dilakukan untuk meneladani asma Al-Khobir ini. Tindakan pertama menyangkut hubungan keluar dengan makhluk lain. Kita sadar bahwa pengetahuan kita sangat terbatas. Kita tidak tahu isi hati dan kepala orang lain, dan kita pun tidak tahu banyak tentang maksud-maksud di balik penciptaan makhluk disekitar kita. Berangkat dari kesadaran ini, maka akhlak yang patut dikembangkan adalah baik sangka! Selalu berbaik sangka kepada Allah dan sesama. Bila kita melihat orang yang cacat, seperti pincang, buta, atau lumpuh, janganlah mencela tetapi berbaik sangkalah, karena boleh jadi cacat itu pada fisiknya saja sedangkan batinnya penuh kemuliaan dan kesempurnaan karena ridho menerima ketentuan Allah. Bila kita mencela maka kitalah yang sebenarnya cacat. Cacat hati karena tidak mampu melihat hikmah Allah, cacat adab karena merendahkan makhluk Allah, dan cacat Akhlak karena baru bisa mencela dan tidak mampu berbuat untuk menolong. Tindakan kedua menyangkut diri kita sendiri. Pertama, kenalilah jasad ini dan hubungkan dengan kekuasaan Allah. Kedua, kenalilah kekurangan-kekurangan kita dalam segi ilmu, sikap, dan perilaku dan hubungkanlah dengan pengawasan Allah. Ketiga, kenalilah tujuan hidup ini dan selaraskan dengan keinginan Allah. Bila kita perhatikan jasad ini, maka insya Allah kita sadar dari mana asal kita dan siapakah kita. Dari setetes air yang hina, ke mana-mana membawa kotoran dan kalau sudah mati menjadi bangkai, itulah jasad ini. Tidak berdaya bila sudah kena penyakit. Bila sudah tua akan mengeriput dan melemah. Tidak ada yang patut disombongkan. Bila kita perhatikan betapa besar karunia Allah atas tubuh ini, maka insyaAllah kita sadar bahwa keindahan dan kesempurnaan tubuh ini Allah-lah yang membuat. Kekurangan dan kecacatan pun bukan kita yang menghendaki. Ini akan melahirkan rasa terima kasih dan rasa menerima. Sibukkanlah diri melihat kekurangan diri lalu bekerjalah untuk memperbaiki. Kita tahu betapa bodohnya kita dan betapa sedikitnya ibadah kita. Yang sedikit itupun kita rusak dengan tidak khusyuk dan kita hancurkan dengan ketidakikhlasan. Kita seharusnya malu kepada Allah karena kebusukan-kebusukan kita.
Hidup ini untuk akhirat. Awasilah setiap tindakan agar benar-benar diniatkan karena Allah dan selalu berada di jalan Allah. Belajar dari Al-Khobir membuat kita banyak melihat ke dalam diri dengan waspada dan melihat keluar diri dengan berbaik sangka. ***
--------------------------------------------------------------------------------
Rangkuman Tausyiah KH. Abdullah Gymnastiar, Pengajian MMQ Masjid Al-Azhar, 28 Agustus 2002
Tawakal
Sumber: Abdullah Gymnastiar
Bismillahirrahmanirrahiim
Kajian Kitab Al-Hikam
Karya Syekh Ahmad bin Muhammad Atailah
Bab: Tawakal
"Tidak akan terhenti suatu permintaan yang semata-mata engkau minta, engkau sandarkan kepada karunia kekuasaan Rab-Mu, dan tidak mudah tercapai permintaan, pengharapan yang engkau sandarkan kepada kekuatan dan daya upaya serta kepandaian dirimu sendiri."
Tidak akan berhenti permintaan, jikalau kita bersandar kepada karunia Allah, tetapi akan penuh dengan kesulitan, penderitaan, macet, jikalau kita bersandar kepada daya upaya dan kepandaian kita sendiri.
Ini penting sekali dipahami, karena kita akan banyak kecewa ketika kita bersandar kepada diri atau bersandar kepada selain Allah. Semua kejadian itu mutlak hanya bisa terjadi karena ijin Allah. Sekiranya bergabung jin dan manusia seluruhnya akan mendatangkan satu butir pasir pun tidak akan terjadi tanpa ijin Allah. Sekiranya bergabung jin dan manusia bermaksud akan mencelakakan, maka "Ma ashobadhum mim musibatin illa bi'idznillah." Tidak akan menimpa kepada kita satu musibahpun tanpa ijin dari Allah. Tidak jatuh satu helai daun tanpa ijin dari Allah, mutlak semua yang terjadi adalah dengan ijin Allah.
Bergantungnya kita kepada selain Allah itu adalah kesalahan besar, selain membuat kita sengsara dan banyak kecewa, juga bisa mengugurkan amal kita. Apalagi kita bergantung kepada kemusyrikan, dukun, paranormal, hilanglah sudah amal kita. Dalam hal ini, terjadi atau tidak terjadinya keinginan kita, dua-duanya menjadi bencana. Tetapi bagi orang yang bertawakal kepada Allah, terjadi atau tidak terjadi, dua-duanya jadi amal. "Laahaula wala quwwata illa billahil'aliyyil adzim".
Sebelum ikhtiar, kita sempurnakan niat. Kita gunakan perencanaan sesuai dengan sunnatullah. Kita siapkan untuk wujudnya suatu amal, tetapi di awal, tengah dan akhir harus tahu bahwa yang akan terjadi adalah apa yang Allah kehendaki. Jadi kita tidak usah panik. Baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Contohnya, Jika kita ingin punya anak yang terbaik menurut pilihan kita, sempurnakan ikhtiar dengan istikharah, jika belum menikah, mintalah kepada Allah. Terlahirnya anak atau tidak, hanya Allah yang menciptakan. Lima tahun tidak punya anak, walaupun sudah pergi ke dokter, pergi berobat; tidak identik dengan kegagalan karena lima tahun perjuangan semuanya jadi amal. Apakah menikah dan langsung punya anak pertanda kebaikan? Belum tentu. Ada orang yang punya anak, malah tambah penderitaan. Kebaikan adalah kalau niatnya benar. Tidak punya anak, tidak berarti suatu musibah. Siti Aisyah tidak punya anak, tapi tidak berkurang kemuliaannya. Yang penting dari awal kita sudah tahu bahwa yang menciptakan janin adalah Allah, yang membentuk janin adalah Allah, yang memberikan ruh adalah Allah, yang mengeluarkan adalah Allah; dan kita Laahaula Wala quwwata illabillahil 'aliyyil adzim.
Benar, manusia akan punya keinginan, dorongan-dorongan untuk cepat terwujud apa yang diinginkan, tetapi kalau orang sudah yakin hanya Allah yang menguasai・Innalloha 'ala kulli'syaiin Qodir. Sesungguhnya Allah-lah yang menguasai segala kejadian, tidak bergerak walaupun sebesar zahrah, Illa Bi'idnillah. Inilah sebetulnya yang membuat orang akan merasakan nikmat luar biasa ketika hatinya sudah meyakini bahwa setiap kejadian hanya terjadi dengan ijin Allah.
Allah SWT berfirman "Wamayyatawakkal alallahu fahuwa hasbu." Dan barang siapa yang bertawakal, akan dicukupi kebutuhan lahir batinnya. Allah Maha Tahu kebutuhan kita, lebih tahu daripada kita sendiri. Mengandalkan Allah dari awal sampai akhir adalah adab bagi orang-orang yang beriman.
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, selayaknya kita melatih diri untuk bertawakal. Ciri khas orang yang bertawakal adalah sedikit kecewanya terhadap kejadian. Saya katakan sedikit, karena kalau kita kecewa itu menunjukkan kualitas ketawakalan. Apakah kita tidak boleh kecewa? Kita boleh kecewa kalau tidak bisa menyempurnakan amal kita; kecewa karena sedekah masih terasa berat; kecewa karena masih menunda-nunda dalam beramal; kecewa karena sholat belum bisa khusyu; kecewa karena sudah taubat kok terjadi lagi maksiat; kecewa ketika dipuji tapi jadi ujub; dalam hal demikian maka kita boleh kecewa.
Allah mengukur hamba-hambanya karena Dia tahu persis kekuatan iman kita, kadar pengendalian diri kita, emosi kita, nafsu kita, makanya tidak akan dikecewakan bagi orang-orang yang selalu bertawakal. Ciri tawakal diantaranya adalah, kalau memilih sesuatu selalu dengan istikharah. Orang yang bertawakal kepada Allah akan memperbanyak istikharah karena hal ini merupakan etika untuk meminta pertolongan Allah. Orang yang bertawakal kepada Allah, dia tidak akan tergesa-gesa walaupun dia sangat menginginkannya, karena tidak ingin terjebak oleh keinginannya sendiri.
"Ya Allah, tiada Tuhan selain Engkau yang menggengam segala kejadian, jangan pernah biarkan diri kami berharap selain dari-Mu...
Ya Allah, jangan biarkan hati ini tenteram selain hanya bersamaMu, tiada Tuhan selain Engkau karena Engkaulah yang menggenggam segala apapun yang Engkau kehendaki."
--------------------------------------------------------------------------------
Rangkuman Kajian Kitab Al-Hikam TRANS TV, 3 Ramadhan 1423 H/8 November 2002.
Kekayaan Ma'rifat
Sumber: Abdullah Gymnastiar
Bismillahirrahmanirrahiim
Kajian Kitab Al-Hikam
Karya Syekh Ahmad bin Muhammad Atailah
Bab: Kekayaan Ma'rifat
Semoga Allah yang Maha Kaya, memperkaya diri kita dengan perasaan tidak membutuhkan selain kepada Allah, karena ternyata banyak orang kaya yang menjadi miskin, karena kebutuhannya lebih banyak daripada kekayaannya. Sayangnya kebutuhan itu tidak pernah ada ujungnya, seperti minum air laut, makin diminum makin haus. Begitulah, banyak orang yang diberi kekayaan duniawi tapi batinnya miskin, hari-harinya dilalui dengan sengsara karena diperbudak oleh keinginan. Semoga Allah memperkaya kita dengan rasa puas terhadap segala yang ada. Kita akan mengupas hikmah dari Imam Ibnu Atailah dalam kitab Al-Hikam berikut ini.
"Hendaknya membelanjakan tiap orang kaya menurut kekayaannya, ialah mereka yang telah sampai kepada Allah dan orang yang terbatas rezekinya, yaitu orang yang sedang berjalan menuju kepada Allah.
Orang yang telah sampai kepada Allah karena mereka telah terlepas dari kurungan melihat kepada sesuatu selain Allah ke alam tauhiid maka luaslah pandangan mereka, maka mereka berbuat di alam mereka lebih leluasa.
Sebaliknya orang yang masih merangkak-rangkak di dalam ilmu dan paham yang terbatas mereka inipun mengeluarkan sekedarnya."
Orang yang kaya adalah orang yang sedikit kebutuhannya, dan senang menafkahkannya. Orang yang miskin adalah orang yang sibuk menyembunyikan hartanya dalam tabungan; dia miskin karena takut berkurang rezekinya. Makin banyak berkurang, makin merasa miskin. Orang yang kaya tidak pernah takut terhadap kekurangan, orang yang kaya hakiki adalah orang yang yakin kepada jaminan Allah sehingga dia ringan bersedekah karena sedekah itu tidak akan mengurangi harta melainkan akan menambahnya. Jangan melihat kekayaan orang lain dari apa yang dimilikinya, tapi lihatlah kekayaan seseorang dari apa yang bisa dinafkahkannya.
Kekayaan lain adalah ilmu. Orang yang kaya dengan ilmu, leluasa dalam mencari ilmu, dia sampaikan kepada yang lain sesudah dia amalkan. Tapi ada orang yang punya ilmu, kemudian dia kikir tidak mau memberikan kepada yang lain. Ciri keilmuan seseorang adalah kalau dengan ilmunya dia makin lapang; makin dekat dengan Allah dan makin gemar memberikan ilmunya bagaikan cahaya matahari.
Kekayaan yang kita bahas di sini sebenarnya adalah kekayaan yang disebut ahli ma'rifat, yaitu orang yang mengenal Allah dengan baik. Dia kaya dengan pengenalan akan keagungan kebesaran Allah, dia akan sangat leluasa menjelaskan siapa Allah. Tidak semua orang bisa menjelaskan Allah, bahkan ada yang menyebut Allah saja tidak sanggup, paling tinggi 'Tuhan' atau ada yang mengatakan 'Yang di Atas'; 'Dia yang maha kuasa' dan lain sebagainya. Ada yang begitu berat sekali dalam menyebut, karena memang dia miskin dalam keyakinan kepada Allah.
Orang yang miskin keyakinan sulit memberikan ketenangan kepada keluarganya, karena dia sendiri tidak punya ketenangan itu. Sebaliknya, orang yang sudah kenal dan akrab dengan Allah mempunyai ketenangan yang melimpah pada dirinya, akibatnya dia bisa menenangkan kepada banyak orang disekitarnya. Wajahnya membuat tenang orang yang menatap, kata-katanya menenangkan orang banyak. Tidak semua orang menyuruh orang tenang, bisa membuat orang menjadi tenang. Karena yang berkatanya belum tentu tenang.
Orang yang sudah mengenal Allah, akan mendistribusikan hartanya karena dia tidak takut miskin, dia mendistribusikan ilmunya, tenaganya, pikirannya. Itulah kekayaan sejati orang yang kaya, orang yang leluasa sekali mendoakan orang lain, menolong orang lain. Dia tidak pernah berat untuk menyenangkan orang, menghormati orang, itulah orang yang kaya hakiki. Sebaliknya, ada orang yang miskin penghargaan. Kemana-mana ingin dihormati, ingin dihargai, ingin dibedakan, ingin diperlakukan spesial. Kalau tidak dihargai sakit hati. Dia sebetulnya miskin, dia belum berharga karena yang berharga itu adalah jika kita bisa menghargai dan menghormati.
Bagi seorang yang ma'rifat kepada Allah, dia tidak membutuhkan apapun, dari siapapun, kecuali hanya dari Allah. Hidupnya tenang, mantap, tidak menjilat, tidak meminta-minta, tidak menggadaikan dirinya kepada mahluk. Mungkin rumahnya sederhana tapi batinnya megah, mungkin uangnya sedikit tapi batinnya kaya, mungkin tanahnya sempit tapi hatinya lapang, mungkin tubuhnya mungil tapi jiwanya besar, inilah kekayaan hati.
Kemegahan dunia dibagikan kepada siapa saja oleh Allah, termasuk kepada orang yang dholim, ingkar, munafik, tapi kekayaan Ma'rifatullah tidak dibagikan kepada sembarang orang. Inilah keadilan Allah SWT. Oleh karena itu jikalau kita ingin tergolong orang yang kaya, teruslah belajar mengenali Allah, dekati Allah dan jadikanlah diri kita menjadi orang yang senang dan cinta kepada Allah, segalanya Allah. "Innalaha 'ala kulli syai'in qodir." Makin kokoh keyakinan, makin nikmat dalam hidup, makin mulya dan cemerlang dalam kepribadian.
Jangan sampai menganggap melimpahnya kekayaan duniawi sebagai karunia Allah yang memuliakan kita, belum tentu. Adakalanya berbentuk 'istidraj'. Oleh Allah diberi, tapi bisa menambah kerugian dan kesesatan, maka waspadalah. Kekayaan sesungguhnya adalah pada batin kita.
Mudah-mudahan dengan ilmu ini kita tidak menjadi risau dengan apa yang telah Allah janjikan. Allah yang bertanggungjawab terhadap segala kebutuhan kita, tapi kita punya kewajiban untuk menyempurnakan ikhtiar agar selalu berada di jalan Allah. Kalau kita berpegang lurus, Allah tidak mungkin menyia-nyiakan siapapun yang berpegang teguh di jalanNya. ***
--------------------------------------------------------------------------------
Rangkuman Kajian Kitab Al-Hikam TRANS TV, 6 Ramadhan 1423 H/11 November 2002
Menyikapi Waktu
Penulis: KH. Abdullah Gymnastiar
Maha perkasa Allah Azza wa Jalla, Dzat yang memiliki segala keagungan, kemuliaan, keunggulan, dan segala kelebihan lainnya. Dzat yang Mahasempurna sifat-sifat-Nya, tiada satu kejadianpun yang terbebas dari kekuasaan-nya. Allah, Dzat yang Maha adil meningkatkan derajat siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Namun, sesungguhnyalah kemuliaan dan kehinaan yang ada pada diri kita merupakan buah dari segala amal yang telah kita lakukan. Tidak bisa tidak. Karena demi Allah, Allah SWT tidak akan pernah dzhalim terhadap hamba-hamba-Nya.
Sahabat-sahabat, sungguh betapa banyak orang yang cukup potensial, tetapi tidak bisa menjadi unggul. Salah satu sebabnya adalah karena ketidakmampuannya dalam mengelola waktu. Yakinilah bahwa kesuksesan atau kegagalan seseorang dalam urusan dunia maupun akhirat adalah sangat bergantung bagaimana kesungguhannya dalam menyikapi waktu. Kita saksikan, betapa banyak orang yang mengeluh karena merasa tak pernah punya waktu, sedangkan beberapa orang yang lain selalu mencari jalan untuk membunuh waktu.
Padahal, subhanallah, Allah dengan Maha cermat dan Maha adil telah membagikan waktu dengan seadil-adilnya, dengan secermat-cermatnya tanpa akan luput satupun. Setiap orang pastilah akan mendapat jumlah waktu yang sama, yaitu 60 menit setiap jam, dan 24 jam setiap hari di tempat manapun di dunia ini. Di negara maju, negara berkembang, atau negara yang hancur terpuruk sekalipun tetap 24 jam perhari 60 menit per jam.
Singapura 24 jam per hari, Singaparna 24 jam per hari, Chichago 60 menit per jam, Cikaso 60 menit per jam, semuanya sama. Pengusaha sukses, yang jatuh bangun, atau bahkan yang bangkrut sekalipun tetap 24 jam per hari 60 menit per jam. The Best Executive, karyawan asal-asalan,dan pengangguran kelas berat sekalipun jatah waktunya tetap sama 24 jam per hari. Seorang bintang kelas; yang biasa saja, atau yang tidak naik kelas sekalipun tetap 24 jam per hari 60 menit per jam. Maka, nyatalah bahwa yang menjadi masalah bukan jumlah waktunya, tapi isi waktunya.
Sebab, ada yang dalam waktu 24 jam itu mampu mengurus negara, jutaan orang, atau aneka perusahaan raksasa dengan beratus ribu orang, tapi ada yang dalam 24 jam mengurus diri saja tidak mampu! Naudzhubillah, Karakteristik waktu memang sebuah keunikan, bahkan ia suatu misteri kehidupan ini, yang terekam dalam tik-tok jam, tercatat dalam buku harian, terhitung dalam kalender tahunan, terukir dalam prasasti-prasasti kehidupan. Walau, sebenarnya ukuran-ukuran itu akan kurang berarti, sebab ukuran waktu yang nyata adalah kehidupan kita sendiri. Ya, hidup kita adalah waktu itu sendiri, yang menggelinding tiada henti. Sebagai makhluk ciptaan-Nya waktu ternyata memiliki tabiat tersendiri, waktu adalah terpendek karena tak pernah cukup menyelesaikan tugas hidup. Waktu adalah terpanjang karena ia adalah ukuran keabadian. Waktu akan berlalu cepat bagi mereka yang bersuka cita. Waktu berjalan sangat lambat bagi yang dirundung derita. Waktu adalah saksi sejarah yang akan membeberkan segala kehinaan dan kenistaan yang kita lakukan.
Waktu adalah perekam abadi yang akan mengekalkan segala keagungan dan kemuliaan seseorang. Dan yang utama waktu modal kita, kehidupan kita. Tiada yang dapat terjadi tanpa dia. Maka, sungguh suatu kerugian yang sangat besar bila seorang hamba tidak dapat memanfaatkan waktunya dengan sangat baik dan optimal. Allah berfirman, "Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasehat-menasehati dalam menatapi kebenaran dan nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran" [Q.S. AI Ashr: (103): 1-3].
Imam Syafii mengatakan bahwa, "Cukup dengan Surat Al Ashr, Al-Quran sudah terwakili". Subhanallah, demikian pentingnya waktu dalam pandangan Allah. Dikisahkan bahwa suatu waktu Khalifah Umar bin Abdulaziz sesampai di rumah setelah mengurus jenazah Sulaiman bin Abdul Malik kakeknya ia (Umar) sedang istirahat tidur-tiduran di ranjang, kemudian datang anaknya Abdul Malik, dan ia bertanya: "Wahai Amirul Mukminin, gerangan apakah yang membaringkan anda di siang hari bolong ini. Jawab ayahnya; "Aku letih, aku butuh istirahat". Abdul Malik berkata; "Pantaskah anda beristirahat padahal banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, lihat di sana rakyat yang tertindas butuh pertolonganmu." jawab ayahnya, "Semalam suntuk aku menjaga pamanmu dan itu yang mendorong aku istirahat, nanti setelah shalat dhuhur aku akan mengembalikan hak-hak orang-orang yang tertindas dan teraniaya". Anaknya bertanya, "Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang menjamin anda hidup sampai dhuhur. Bagaimana kalau Allah menakdirkan anda mati sekarang?" Kemudian Umar bangun dan pergi membawa satu karung pikulan gandum, lalu mencari orang yang kelaparan.
Dalam kisah ini, nampaklah betapa beratnya tanggung jawab untuk mengelola waktu. Bagaimana pula dengan kita yang telah diberi amanah mengurus bumi ini? Subhanallah, marilah kita berlindung kepada Allah dari kelalaian memanfaatkan waktu seraya memohon agar dikaruniakan kemampuan untuk mengelola waktu dengan optimal, penuh makna, sesuai dengan yang telah dituntunkan Allah dan Rosul-Nya. Ada dua hal yang perlu kita lakukan, agar memiliki keunggulan dalam hidup ini, yaitu:
a. Waktu boleh sama tapi isi harus beda
Ajaran Islam sangat menghargai waktu, Allah SWT sendiri berkali-kali bersumpah dalam Al Quran berkaitan dengan waktu. Wal 'ashri (Demi waktu), Wadh dhuha (Demi waktu dhuha), Wallail (Demi waktu malam), Wannahar (Demi waktu siang). Allah juga sangat menyukai orang yang shalat lima waktu dengan tepat waktu, memuliakan sepertiga malam sebagai waktu mustajabnya doa, dan waktu dhuha sebagai waktu yang disukai-Nya. Maka, sangat beruntunglah orang-orang yang mengisi waktunya efektif hanya dengan mempersembahkan yang terbaik dalam rangka beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi, yang artinya, "Pada setiap fajar ada dua malaikat yang berseru-seru: "Wahai anak Adam aku adalah hari yang baru, dan aku datang untuk menyaksikan amalan kamu. Oleh sebab itu manfaatkanlah aku sebaik-baiknya. Karena aku tidak kembali lagi sehingga hari pengadilan." (H.R. Turmudzi).
Cobalah bayangkan, andaikata dalam suatu perlombaan balap sepeda, dalam satu detik si A berhasil mengayuh satu putaran, si B setengah putaran, dan si C mengayuh dua putaran. Siapa yang jadi juaranya? Maka, dengan meyakinkan si C-lah yang akan berpeluang menjadi juara, mengapa? Karena pada detik yang sama si C dapat berbuat lebih banyak daripada yang lain. Nah, begitupun kita semua semakin banyak dan baik hal positif yang kita lakukan dalam waktu yang sama, insyaAllah kita akan lebih dekat dengan kesuksesan. Persis dengan apa yang anda lakukan saat ini, pada saat yang sama ada yang sedang tidur, sedang di WC, sedang bermain atau mungkin bermaksiat atau apa saja, dan pada saat akhir membaca tulisan ini. Maka, hasilnya pun berbeda-beda tergantung dari apa yang dilakukan, dan anda insyaAllah beruntung karena telah mendapat ilmu yang mahal yaitu bagaimana mengelola modal hidup ini, yakni waktu.
b. Sekarang harus lebih baik daripada tadi
Sahabat-sahabat, sungguh kita merasakan bahwa seringkali kita tidak begitu serius menghargai waktu, sehingga kadang-kadang menghamburkannya tanpa guna. Kadangkala kesia-siaan selalu menjadi bagian dari hidup kita ini; bersantai-santai tanpa merasa rugi waktu, berbicara sia-sia tanpa merasa berdosa, berjalan tanpa tujuan hanya untuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal, sungguh waktu adalah modal kita dalam mengarungi kehidupan ini. Kalau kita mengoptimalkan modal kita, maka beruntunglah kita, tapi kalau kita menyia-nyiakannya.Maka sangat pasti akan rugilah kita. Orang yang bodoh adalah orang yang diberi modal (waktu), kemudian dengan modal itu ia sia-siakan. Naudzhubillah. Padahal, andaikata hari ini sama dengan hari kemarin berarti kecepatan kita sama, tak ada peningkatan. maka tak akan pernah bisa menyusul siapapun, dan andaikata orang lain selalu meningkat, maka kita akan tertinggal dan jadi pecundang. Rasulullah SAW. mengingatkan kita dengan sabdanya, " Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia termasuk orang-orang yang merugi" (H.R. Dailami).
Maka, satu-satunya pilihan adalah hari ini harus lebih baik dari kemarin, bahkan kalau bisa sekarang ini harus lebih baik daripada barusan tadi, dalam hal apapun. Kalau tidak demikian, maka harus diakui bahwa hari ini adalah hari yang gagal dan rugi, dan ingat andaikata hari ini lebih buruk dari hari kemarin berarti kita terkena musibah, kerugian yang sangat besar dan mencelakakan diri. Naudzhubillah, hal ini tak boleh terjadi pada diri kita. Rasulullah SAW sendiri mengingatkan kita untuk selalu memperbaiki waktu kita, sebab setiap waktu memiliki beban persoalan tersendiri, sabdanya, "Carilah yang lima sebelum datang yang lima, yaitu manfaatkanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu (dengan ibadah), gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu (dengan amal saleh), gunakanlah masa kayamu sebelum datang masa miskinmu (dengan sedekah), gunakanlah masa hidupmu sebelum datang masa matimu (mencari bekal untuk hidup setelah mati). gunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sempitmu.' (Al Hadits).
Dari uraian diatas, maka sebenarnya ada tiga kelompok orang yang menggunakan waktu, yaitu:
1. Orang sukses, yaitu orang yang menggunakan waktu dengan optimal, dan ia melakukan sesuatu yang tidak diminati oleh orang yang gagal.
2. Orang malang, yaitu orang yang hari-harinya diisi dengan kekecewaan dan selalu memulai sesuatu dengan esok harinya.
3. Orang hebat, yaitu orang yang bersedia melakukan sesuatu sekarang juga. Bagi orang hebat, tidak ada hari esok. Dia berkata bahwa membuang waktu bukan saja sesuatu kejahatan, tetapi suatu pembunuhan yang kejam.
Maka , mulai sekarang waspadalah terhadap waktu. Setiap detik yang kita lalui harus diperhitungkan dengan secermat-cermatnya, sematang-matangnya, dan seakurat-akuratnya, lalu mengisinya dengan hal-hal yang membuahkan peningkatan kemampuan kita. Kita tidak hanya perlu bekerja keras, tapi kita perlu juga bekerja keras dan cerdas. Lebih jauh kita lagi kita perlu kerja keras, cerdas dan efektif, sehingga waktu yang kita gunakan akan lebih optimal, bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat nanti.***
Empat Rahasia Ahli Syukur
Penulis: Aa Gym
Semoga Allah Yang Maha Menatap, Maha Gagah, Maha Menguasai segala-galanya mengaruniakan kepada kita hati yang bersih sehingga bisa menangkap hikmah di balik kejadian apapun yang kita rasa dan kita saksikan, karena penderitaan dalam hidup bukan karena kejadian yang menimpa tapi karena kita tertutup dari hikmah.
Allah menakdirkan apapun Maha Cermat, tidak pernah mendzolimi makhluk-makhluk-Nya. Kita sengsara adalah karena kita yang mendzolimi diri sendiri.
"Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat Allah, sesungguhnya ia telah membuka jalan hilangnya nikmat dari dirinya. Akan tetapi barangsiapa yang mensyukuri nikmat Allah, maka sungguh ia telah memberi ikatan yang kuat pada kenikmatan Allah itu."
Firman Allah SWT: La in Syakartum la-aziidannakum (jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah rezekimu)(QS.14: 7)
Wa maa bikummin ni'matin faminallohi tsumma idzaa massakumudllurru failaihi tajaruun (Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya, dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan , maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.(QS.16: 53)
Wa ammaa bini'mati rabbika fahaddits (Dan terhadap Nikmat Tuhan-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).(QS.93: 11)*
*(diambil dari kitab Al Hikam; Syekh Ahmad Atailah)
Jadi setiap nikmat itu menjadi pembuka atau penutup pintu nikmat lainnya. Kita sering menginginkan nikmat padahal rahasia yang bisa mengundang nikmat adalah syukur atas nikmat yang ada. Jangan engkau lepaskan nikmat yang besar dengan tidak mensyukuri nikmat yang kecil.
Tidak usah risau terhadap nikmat yang belum ada, justru risaulah kalau nikmat yang ada tidak disyukuri. Allah sudah berjanji kepada kita dengan janji yang pasti ditepati, La in syakartum la-aziidannakum (jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah rezekimu)(QS.14: 7)
Maka, daripada kita sengsara oleh nikmat yang belum ada lebih baik bagaimana yang ada bisa disyukuri. Sayangnya kalau kita mendengar kata syukuran itu yang terbayang hanya makanan, padahal syukuran itu adalah bentuk amal yang dahsyat sekali pengaruhnya.
Syarat yang pertama menjadi ahli syukur adalah hati tidak merasa memiliki, tidak merasa dimiliki kecuali yakin segalanya milik Allah SWT. Makin kita merasa memiliki sesuatu akan makin takut kehilangan, takut kehilangan adalah suatu bentuk kesengsaraan. Tapi kalau kita yakin semuanya milik Allah, maka diambil oleh Allah tidak layak kita merasa kehilangan karena kita merasa tertitipi. Makin merasa rejeki itu milik manusia kita akan merasa berharap kepada manusia dan akan makin sengsara, senikmat-nikmat dalam hidup adalah kalau kita tidak berharap kepada mahluk tetapi berharap hanya kepada Allah SWT.
Rahasia yang kedua ahli syukur adalah "orang yang selalu memuji Allah dalam segala kondisi". Karena apa? Karena kalau dibandingkan antara nikmat dengan musibah tidak akan ada apa-apanya. Musibah yang datang tidak sebanding dengan samudera nikmat yang tiada bertepi. Apa yang harus membuat kita menderita? Adalah menderita karena kita tamak kepada yang belum ada.
Ciri yang ketiga dari ahli syukur adalah manfaatkan nikmat yang ada untuk mendekat kepada Allah. Alkisah ada tiga pengendara kuda masuk kedalam belantara, ketika dia tertidur kemudian saat terjaga dilihat kudanya telah hilang semua. Betapa kagetnya mereka dan pada saat yang sama dalam keadaan kaget, ternyata seorang raja yang bijaksana melihat hal tersebut dan mengirimkan kuda yang baru lengkap dengan perbekalan. Ketika dikirimkan reaksi ketiga pengendara yang hilang kudanya itu berbeda-beda. Si-A kaget dan berkomentar, "Wah ini hebat sekali kuda, bagus ototnya, bekalnya banyak pula!" Dia sibuk dengan kuda tanpa bertanya kuda siapakah ini.
Si-B, gembira dengan kuda yang ada dan berkomentar, "Wah ini kuda hebat," sambil berterima kasih kepada yang memberi. Sikap C beda lagi, ia berkomentar "Lho ini bukan kuda saya, ini kuda milik siapa? Yang ditanya menjawab, "Ini kuda milik raja." Si-C bertanya kembali "Kenapa raja memberikan kuda ini? Dijawab "Sebab raja mengirim kuda agar engkau mudah bertemu dengan sang raja". dia gembira bukan karena bagusnya kuda, dia gembira karena kuda dapat memudahkan dia dekat dengan sang raja.
Nah begitulah, si-A adalah manusia yang kalau mendapatkan mobil, motor, rumah, dan kedudukan sibuk dengan kendaraan itu, tanpa sadar bahwa itu adalah titipan. Orang yang paling bodoh adalah orang yang punya dunia tapi dia tidak sadar bahwa itu titipan Allah. Yang B mungkin adalah model kita yang ketika senang kita mengucap Alhamdulillah, tetapi ahli syukur yang asli adalah yang ketiga yang kalau punya sesuatu dia berpikir bahwa inilah kendaraan yang dapat menjadi pendekat kepada Allah SWT.
Ketika mempunyai uang dia mengucap Alhamdulillah, uang inilah pendekat saya kepada Allah, dia tidak berat untuk membayar zakat, dia ringan untuk bersadaqah, karena tidak akan berkurang harta dengan bersadaqah.
Maka, jika sahabat ingin banyak uang, sederhana saja rumusnya, pakailah uang yang ada untuk berjuang di jalan Allah. Jangan heran jika rejeki datang melimpah. Punya rumah ingin nikmat bukan masalah ada atau tidak ada AC, bukan masalah ukuran, tetapi rumah yang nikmat adalah rumah yang menjadi kendaraan untuk mendekat kepada Allah. Bangunlah rumah yang tidak membuat kita sombong, belilah asesoris rumah yang membuat setiap tamu yang datang menjadi dekat kepada Allah, bukan ingat kepada kekayaan kita. Pasanglah hiasan yang mebuat tamu kita ingat kepada kekuasaan Allah bukan kekuasaan kita. Itulah rumah yang Insya Allah tenang dan barokah. Tapi kalau rumah dipakai untuk pamer dan menginginkan kursi yang amat mewah, potret-potretnya yang tidak membuat ingat kepada Allah, malah ujub, riya takabur, tidak usah heran rumah itu semakin diminati pencuri, dan rumah yang diminati pencuri itu membuat strees bagi yang punya. Dia harus menyewa alarm, menggaji satpam, di depan harus ada anjing. Coba kalau rumahnya ingat kepada Allah dia tidak akan sesibuk itu.
Mohon maaf kepada saudara-saudaraku yang kaya tidak apa-apa memiliki yang bagus, tapi usahakan setiap tamu yang masuk ke rumah bukan ingat kepada kita tetapi ingat kepada kekayaan Allah. Andai kita mempunyai jabatan, lalu bagaimana cara mensyukurinya? Gunakanlah jabatan itu agar karyawan kita dekat kepada Allah.
Kesungguhan kita untuk mendidik anak lebih baik daripada punya anak tetapi tidak tahu agama, lalu bagaimana anak itu akan memuliakan ibu bapaknya? Ketika kita mati mereka hanya berebut harta warisan jangankan mensholatkan ibu bapaknya.
Maka orang yang bersyukur yang adalah orang yang mendidik anaknya supaya dekat dengan Allah. Di dunia nama orang tuanya terbawa harum karena anaknya mulia. Di kubur lapang kuburnya karena doa anaknya. Di akherat Insya Allah akan terbawa karena barokah mendidik anak.
Kunci syukur yang keempat adalah berterima kasih kepada yang telah menjadi jalan nikmat. Seorang anak disebut ahli syukur kalau dia tahu balas budi kepada ibu dan bapaknya. Dimana-mana anak sholeh itu harum namanya. Tapi anak durhaka tidak pernah ada jalan menjadi mulia sebab kenapa? Karena mereka tidak tahu balas budi. Benar orang tua kita tidak seideal yang kita harapkan, tetapi masalah kita bukan bagaimana sikap orang tua kepada kita, tetapi sikap kita kepada orang tua.
Saudara-saudaraku yang budiman negeri kita dikatakan negeri bersyukur kalau sadar bahwa negeri ini adalah titipan dari Allah, bukan milik seseorang, bukan milik pahlawan, bukan milik siapapun yang membangun negeri. Tapi negeri ini tidak ada pemiliknya selain Allah tapi kita episodenya hidup di Indonesia. Maka syukuri, jangan minder jadi orang Indonesia yang disebutkan negara koruptor, tetapi justru kita yang harus bangkit untuk tidak korupsi! Dengan minder tidak akan menyelesaikan masalah. Kita harus bangkit! Negara ini harus jadi ladang untuk mendekat kepada Allah.
Dengan ada perasaan dongkol, sakit hati, itu semuanya tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru akan menambah masalah. Sekarang justru kesempatan kita menjadi bagian dari masalah atau menjadi bagian dari solusi. Daripada sibuk mempermasalahkan masalah lebih baik mari kita sedikit demi sedikit menyelesaikan masalah. Itulah namanya syukur nikmat.
Dan sahabat-sahabat, salah satu tugas kita untuk mensyukuri nikmat adalah kita harus memilih pemimpin kita yang berakhlaq baik yang bisa membimbing kita. Rakyat seluruh negeri ini menjadi orang yang baik-baik. Kita membutuhkan suri tauladan yang baik. Jangan pernah melihat orang dari topeng duniawinya tetapi lihatlah orang dari akhlaqnya karemna akhlaq adalah buah dari keimanan dan keilmuan yang diamalkan. Harta, gelar, pangkat, jabatan dan kedudukan yang tidak menjadikan kemuliaan akhlaq seseorang berarti dia telah terpedaya. Kita tidak membutuhkan topeng. Yang kita butuhkan adalah isi dan isi inilah milik orang-orang yang ahli syukur kepada Allah.
Mudah-mudahan daripada kita memikirkan yang tidak ada lebih baik mensyukuri yang ada. Wallahu a'lam Bishowab. ***
Disampaikan dalam Kajian Hikam Kamis 29 Agustus 2002 di Masjid Daarut Tauhiid dan disiarkan trans TV Ahad 8 Agustus 2002.
.
Zuhud
Penulis: KH. Abdullah Gymnastiar
Ada empat tipe manusia berkaitan dengan harta dan gaya hidupnya :
Pertama, orang berharta dan memperlihatkan hartanya. Orang seperti ini
biasanya mewah gaya hidupnya, untung perilakunya ini masih sesuai
dengan penghasilannya, sehingga secara finansial sebenarnya tidak terlalu bermasalah. Hanya saja, ia akan menjadi hina kalau bersikap sombong dan merendahkan orang lain yang dianggap tak selevel dengan dia. Apalagi kalau bersikap kikir dan tidak mau membayar zakat atau mengeluarkan sedekah. Sebaliknya, ia akan terangkat kemuliaannya dengan kekayaannya itu jikalau ia rendah hati dan dermawan.
Kedua, orang yang tidak berharta banyak, tapi ingin kelihatan berharta. Gaya hidup mewahnya sebenarnya diluar kemampuannya, hal ini karena ia ingin selalu tampil lebih daripada kenyataan. Tidaklah aneh bila keadaan finansialnya lebih besar pasak daripada tiang. Nampaknya, orang seperti ini benar-benar tahu seni menyiksa diri. Hidupnya amat menderita, dan sudah barang tentu ia menjadi hina dan bahkan menjadi bahan tertawaan orang lain yang mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Ketiga, orang tak berharta tapi berhasil hidup bersahaja. Orang seperti ini tidak terlalu pening dalam menjalani hidup karena tak tersiksa oleh keinginan, tak ruwet oleh pujian dan penilaian orang lain, kebutuhan hidupnya pun sederhana saja. Dia akan hina kalau menjadi beban dengan menjadi peminta-minta yang tidak tahu diri. Namun tetap juga berpeluang menjadi mulia jikalau sangat menjaga kehormatan dirinya dengan tidak menunjukan berharap dikasihani, tak menunjukan kemiskinannya, tegar, dan memiliki harga diri.
Keempat, orang yang berharta tapi hidup bersahaja. Inilah orang yang
mulia dan memiliki keutamaan. Dia mampu membeli apapun yang dia inginkan namun berhasil menahan dirinya untuk hidup seperlunya. Dampaknya, hidupnya tidak berbiaya tinggi, tidak menjadi bahan iri dengki orang lain, dan tertutup peluang menjadi sombong, serta takabur plus riya. Dan yang lebih menawan akan menjadi contoh kebaikan yang tidak habis-habisnya untuk menjadi bahan pembicaraan. Memang aneh tapi nyata jika orang yang berkecukupan harta tapi mampu hidup bersahaja (tentu tanpa kikir). Sungguh ia akan punya pesona kemuliaan tersendiri. Pribadinya yang lebih kaya dan lebih berharga dibanding seluruh harta yang dimilikinya, subhanallaah.
Perlu kita pahami bahwa zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak
mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, semacam harta benda dan kekayaan lainnya, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangan makhluk. Bagi orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun harta yang dimiliki, sama sekali tidak akan membuat hatinya merasa tenteram, karena ketenteraman yang hakiki adalah ketika kita yakin dengan janji dan jaminan Allah.
Andaikata kita merasa lebih tenteram dengan sejumlah tabungan di bank, saham di sejumlah perusahaan ternama, real estate investasi di sejumlah kompleks perumahan mewah, atau sejumlah perusahaan multi nasional yang dimiliki, maka ini berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seberapa banyak saham pun yang dimiliki, sebanyak apapun asset yang dikuasai, seharusnya kita tidak lebih merasa tenteram dengan jaminan mereka atau siapapun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali ijin Allah. Dia-lah Maha Pemilik apapun yang ada di dunia ini.
Begitulah. Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang
dimilikinya tidak mejadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita, dan bahkan, lebih tahu dari kita sendiri.
Ada dan tiadanya dunia di sisi kita hendaknya jangan sampai menggoyahkan batin. Karenanya, mulailah melihat dunia ini dengan sangat biasa-biasa saja. Adanya tidak membuat bangga, tiadanya tidak membuat sengsara. Seperti halnya seorang tukang parkir. Ya tukang parkir. Ada hal yang menarik untuk diperhatikan sebagai perumpamaan dari tukang parkir. Mengapa mereka tidak menjadi sombong padahal begitu banyak dan beraneka ragam jenis mobil yang ada di pelataran parkirnya? Bahkan, walaupun berganti-ganti setiap saat dengan yang lebih bagus ataupun dengan yang lebih sederhana sekalipun, tidak mempengaruhi kepribadiannya!? Dia senantiasa bersikap biasa-biasa saja.
Luar biasa tukang parkir ini. Jarang ada tukang parkir yang petantang
petenteng memamerkan mobil-mobil yang ada di lahan parkirnya. Lain
waktu, ketika mobil-mobil itu satu persatu meninggalkan lahan parkirnya, bahkan sampai kosong ludes sama sekali, tidak menjadikan ia stress. Kenapa sampai demikian? Tiada lain, karena tukang parkir ini tidak merasa memiliki, melainkan merasa dititipi. Ini rumusnya.
Seharusnya begitulah sikap kita akan dunia ini. Punya harta melimpah,
deposito jutaan rupiah, mobil keluaran terbaru paling mewah, tidak
menjadi sombong sikap kita karenanya. Begitu juga sebaliknya, ketika harta diambil, jabatan dicopot, mobil dicuri, tidak menjadi stress dan putus asa. Semuanya biasa-biasa saja. Bukankah semuanya hanya titipan saja? Suka-suka yang menitipkan, mau diambil sampai habis tandas sekalipun, silahkan saja, persoalannya kita hanya dititipi.
Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "Melakukan zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah. Dan hendaknya engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang sedang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu." (HR. Ahmad).***
Hikmah Ayat Kursi
Penulis: Aa Gym
Bismillahirrahmanirrahiim,
"Allah. Tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Na. Kursi (pengetahuan/kekuasaan) Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS Al Baqarah: 255).
Maha Agung Allah yang Maha dahsyat dengan ayat-ayat yang Dia sampaikan kepada hamba-hamba-Nya, yang meyakini dan mengamalkan, dan membimbing menuju kemuliaan Ialah Allah Yang Maha Agung dan Maha Perkasa.
Saudaraku, ini adalah ayat Kursi, yang sarat dengan keindahan, keagungan dan kebesaran Allah. Allah yang tiada tuhan selain Dia. Yang kekal serta terus menerus mengurus segala-galanya, Allah tidak tersentuh oleh kantuk, apalagi tertidur. Semuanya dalam kesibukan mengurus hamba-hamba-Nya. Allah selalu dalam kesibukan mengurus hamba-hamba-Nya.
Tiada satupun yang memiliki apapun di langit dan bumi selain Allah dan tidak ada syafaat selain Allah, termasuk siapapun yang diizinkan-Nya memberi syafaat. Tiada yang tersembunyi karena Allah Maha Tahu apa yang ada di depan, di belakang, samping kiri kanan, luar dan dalam Allah Maha Tahu segala-galanya. Dan mahluk tidak pernah tahu apapun kecuali yang Allah kehendaki. Kita tidak pernah tahu apa-apa kecuali sepercik ilmu yang Allah berikan kepada kita.
Kekuasaaan Allah meliputi langit dan bumi, total dan sempurna. Dan Allah tidak berat sama sekali mengurus apapun yang Dia ciptakan, Dia genggam, memelihara segala-galanya. Andaikata kita meyakini, kedahsyatan, kehebatan Allah ini, maka kita akan puas memiliki pelindung Allah SWT. Kita memiliki penjamin, Ialah Allah SWT. Kita memiliki penuntun, Ialah Allah Yang Maha Tahu segala-galanya. Memang orang yang paling puas dan paling bahagia dalam hidup adalah orang yang paling yakin dengan kehebatan, keagungan, kebesaran Allah dan segala janji serta jaminan-Nya.
Semoga kita semua semua termasuk orang yang bisa memahami ayat Kursi dengan baik, mengamalkannya dengan benar dan meyakini hikmah yang tersirat di dalamnya.***
Allah Pelindung Orang yang Beriman
Penulis: Aa Gym
Bismillahirrahmannirrahiim,
"Tidak ada paksaan untuk agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah maka, sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya." (QS: Al Baqarah ayat 256-257)
Alhamdulillahhirrobil alamin...
Mahasuci Allah yang telah mengislamkan kita. Sebuah karunia yang amat besar yang bisa membedakan kesesatan dan kebenaran. Wahai saudaraku, semoga Allah mengaruniakan dirimu Istiqomah dalam Islam, karena ternyata surat Al Baqarah ayat 256 menyiratkah hikmah bahwa Islam begitu jelas: Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam karena jelas yang benar dan yang bathil, tinggal hati memilih kebenaraan atau kebathilan. Ingkar kepada Allah tidak menambah kemudharatan bagi Allah Yang Maha Agung, kecuali mudharat bagi dirinya sendiri.
Surat Al Baqarah ayat 257 menyiratkan Allahlah pelindung orang yang beriman. Allah yang mengeluarkan kita dari kegelapan, kekafiran menuju kepada keimanan. Sedangkan orang-orang yang kufur kepada Allah justru berlindung kepada syaitan yang terkutuk, yang sebaliknya mengeluarkan dari cahaya menuju kegelapan.
Saudaraku, orang-orang yang dibimbing oleh Allah akan mudah melangkah bagai langkah dalam cahaya yang terang benderang dan itulah perlindungan dari Allah. Tapi orang-orang yang ada dalam kegelapan batin was-was tidak bisa membedakan mana nikmat mana mudharat. Kegelisahan, kegalauan akan menghiasi setiap gerak langkah dan waktunya.
Oleh karena itu, bersyukurlah kita jikalau kita termasuk orang yang beriman, karena Allahlah yang akan mencahayai setiap gerak langkah hidup kita. Nikmat sekali hidup bisa menatap lurus apa yang akan kita tempuh. Nikmat yang belum didapat sudah kita rasakan nikmatnya karena jelas ini nikmat dari Allah. Subhanallah.
Semoga Allah mengaruniakan kita istiqamah dalam Islam dan iman dan memberikan hidayah kepada saudara-saudara kita lainnya untuk memasuki agama Islam karena melihat cahaya kebenaran bukan karena paksaan siapapun jua. Laa iqro hafiddin, tiada paksaan untuk memasuki agama Islam. ***
Pribadi Muslim Berprestasi
Penulis: KH. Abdullah Gymnastiar
Sekiranya kita hendak berbicara tentang Islam dan kemuliaannya, ternyata tidaklah cukup hanya berbicara mengenai ibadah ritual belaka. Tidaklah cukup hanya berbicara seputar shaum, shalat, zakat, dan haji. Begitupun jikalau kita berbicara tentang peninggalan Rasulullah SAW, maka tidak cukup hanya mengingat indahnya senyum beliau, tidak hanya sekedar mengenang keramah-tamahan dan kelemah-lembutan tutur katanya, tetapi harus kita lengkapi pula dengan bentuk pribadi lain dari Rasulullah, yaitu : beliau adalah orang yang sangat menyukai dan mencintai prestasi!
Hampir setiap perbuatan yang dilakukan Rasulullah SAW selalu terjaga mutunya. Begitu mempesona kualitasnya. Shalat beliau adalah shalat yang bermutu tinggi, shalat yang prestatif, khusyuk namanya. Amal-amal beliau merupakan amal-amal yang terpelihara kualitasnya, bermutu tinggi, ikhlas namanya. Demikian juga keberaniannya, tafakurnya, dan aneka kiprah hidup keseharian lainnya. Seluruhnya senantiasa dijaga untuk suatu mutu yang tertinggi.
Ya, beliau adalah pribadi yang sangat menjaga prestasi dan mempertahankan kualitas terbaik dari apa yang sanggup dilakukannya. Tidak heran kalau Allah Azza wa Jalla menegaskan, "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah ..." (QS. Al Ahzab [33] : 21)
Kalau ada yang bertanya, mengapa sekarang umat Islam belum ditakdirkan unggul dalam kaitan kedudukannya sebagai khalifah di muka bumi ini? Seandainya kita mau jujur dan sudi merenung, mungkin ada hal yang tertinggal di dalam menyuritauladani pribadi Nabi SAW. Yakni, kita belum terbiasa dengan kata prestasi. Kita masih terasa asing dengan kata kualitas. Dan kita pun kerapkali terperangah manakala mendengar kata unggul. Padahal, itu merupakan bagian yang sangat penting dari peninggalan Rasulullah SAW yang diwariskan untuk umatnya hingga akhir zaman.
Akibat tidak terbiasa dengan istilah-istilah tersebut, kita pun jadinya tidak lagi merasa bersalah andaikata tidak tergolong menjadi orang yang berprestasi. Kita tidak merasa kecewa ketika tidak bisa memberikan yang terbaik dari apa yang bisa kita lakukan. Lihat saja shalat dan shaum kita, yang merupakan amalan yang paling pokok dalam menjalankan syariat Islam. Kita jarang merasa kecewa andaikata shalat kita tidak khusyuk. Kita jarang merasa kecewa manakala bacaan kita kurang indah dan mengena. Kita pun jarang kecewa sekiranya shaum Ramadhan kita berlalu tanpa kita evaluasi mutunya.
Kita memang banyak melakukan hal-hal yang ada dalam aturan agama tetapi kadang-kadang tidak tergerak untuk meningkatkan mutunya atau minimal kecewa dengan mutu yang tidak baik. Tentu saja tidak semua dari kita yang memiliki kebiasaan kurang baik semacam ini. Akan tetapi, kalau berani jujur, mungkin kita termasuk salah satu diantara yang jarang mementingkan kualitas.
Padahal, adalah sudah merupakan sunnatullah bahwa yang mendapatkan predikat terbaik hanyalah orang-orang yang paling berkualitas dalam sisi dan segi apa yang Allah takdirkan ada dalam episode kehidupan dunia ini. Baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, Allah Azza wa Jalla selalu mementingkan penilaian terbaik dari mutu yang bisa dilakukan.
Misalnya saja shalat, "Qadaflahal mu知inuun. Alladziina hum fii shalaatihim" (QS. Al Mu知inuun [23] : 1-2). Amat sangat berbahagia serta beruntung bagi orang yang khusyuk dalam shalatnya. Artinya, shalat yang terpelihara mutunya, yang dilakukan oleh orang yang benar-benar menjaga kualitas shalatnya. Sebaliknya, "Fawailullilmushalliin. Alladziina hum誕n shalatihim saahuun" (QS. Al Maa置un [107] : 4-5). Kecelakaanlah bagi orang-orang yang lalai dalam shalatnya!
Amal baru diterima kalau benar-benar bermutu tinggi ikhlasnya. Allah Azza wa Jalla berfirman, "Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus" (QS. Al Bayyinah [98] : 5). Allah pun tidak memerintahkan kita, kecuali menyempurnakan amal-amal ini semata-mata karena Allah. Ada riya sedikit saja, pahala amalan kita pun tidak akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla. Ini dalam urusan ukhrawi.
Demikian juga dalam urusan duniawi produk-produk yang unggul selalu lebih mendapat tempat di masyarakat. Lebih mendapatkan kedudukan dan penghargaan sesuai dengan tingkat keunggulannya. Para pemuda yang unggul juga bisa bermanfaat lebih banyak daripada orang-orang yang tidak memelihara dan meningkatkan mutu keunggulannya.
Pendek kata, siapapun yang ingin memahami Islam secara lebih cocok dengan apa-apa yang telah dicontohkan Rasul, maka bagian yang harus menjadi pedoman hidup adalah bahwa kita harus tetap tergolong menjadi orang yang menikmati perbuatan dan karya terbaik, yang paling berkulitas. Prestasi dan keunggulan adalah bagian yang harus menjadi lekat menyatu dalam perilaku kita sehari-hari.
Kita harus menikmati karya terbaik kita, ibadah terbaik kita, serta amalan terbaik yang harus kita tingkatkan. Tubuh memberikan karya terbaik sesuai dengan syariat dunia sementara hati memberikan keikhlasan terbaik sesuai dengan syariat agama. Insya Allah, di dunia kita akan memperoleh tempat terbaik dan di akhirat pun mudah-mudahan mendapatkan tempat dan balasan terbaik pula.
Tubuh seratus persen bersimbah peluh berkuah keringat dalam memberikan upaya terbaik, otak seratus persen digunakan untuk mengatur strategi yang paling jitu dan paling mutakhir, dan hati pun seratus persen memberikan tawakal serta ikhlas terbaik, maka kita pun akan puas menjalani hidup yang singkat ini dengan perbuatan yang Insya Allah tertinggi dan bermutu. Inilah justru yang dikhendaki oleh Al Islam, yang telah dicontohkan Rasulullah SAW yang mulia, para sahabatnya yang terhormat, dan orang-orang shaleh sesudahnya.
Oleh sebab itu, bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada setiap diri hamba-hambanya. Kitalah sebenarnya yang paling berhak menjadi manusia terbaik, yang mampu menggenggam dunia ini, daripada mereka yang ingkar, tidak mengakui bahwa segala potensi dan kesuksesan itu adalah anugerah dan karunia Allah SWT, Zat Maha Pencipta dan Maha Penguasa atas jagat raya alam semesta dan segala isinya ini!
Ingat, wahai hamba-hamba Allah, "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma池uf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah ...!・(QS. Ali Imran [3] : 110)
Saturday, September 26, 2009
mabuk cinta terhadap Allah
Bissmillahhirrohmannirohim
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Åäøó áöáÓøõÌõæúÏö ÍóÞöíúÞóÉð ÅÐóÇ äóÇÒóáóÊú ÇóäúæóÇÑõåóÇ ÞóáúÈó ÇáúÚóÈúÏö Ùóáøó ÇáúÞóáúÈö ÓóÇÌöÏðÇ ÃÈóÏðÇ ÝóáÇó íóÑúÝóÚõ Úóäö ÇáÓøõÌõæúÏö
Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila cahanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya.
ÃÎúÑöÌú ÎóæúÝó ÇáúÎóáúÞö ãöäú ÞóáúÈößó ÊóÓúÊóÑöÍú ÈöÎóæúÝö ÇáúÎóáúÞö
æó ÃÎúÑöÌú ÑóÌóÇÁó ÇáúÎóáúÞö ãöäú ÞóáúÈößó ÊóÓúÊóáöÐøó ÈöÑóÌóÇÁö ÇáúÎóáúÞö
Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan berharap pada Sang Kholiq.
Mabuk cinta terhadap Allah..
Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali bahawa pada suatu hari Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun.
Bila pemuda yang sedang menyiram air itu melihat kepada Nabi Isa a.s
berada di hadapannya maka dia pun berkata,
"Wahai Nabi Isa a.s, kamu mintalah dari Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku seberat semut Jarrah cintaku kepada-Nya."
Berkata Nabi Isa a.s,
"Wahai saudaraku, kamu tidak akan terdaya untuk seberat Jarrah itu."
Berkata pemuda itu lagi,
"Wahai Isa a.s, kalau aku tidak terdaya untuk satu Jarrah,
maka kamu mintalah untukku setengah berat Jarrah."
Oleh kerana keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa a.s pun berdoa,
"Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat Jarrah cintanya kepada-Mu."
Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ.
Selang beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa a.s tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu.
Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang
di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahawa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.
Setelah Nabi Isa a.s mendengar penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah S.W.T,
"Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda itu."
Selesai sahaja Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-ganang dan sedang duduk di atas sebuah batu besar,
matanya memandang ke langit.
Nabi Isa a.s pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab
salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, "Aku ini Isa a.s."
Kemudian Allah S.W.T menurunkan wahyu yang berbunyi, "Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Jarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya
dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya."
Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka
dia adalah orang yang tertipu.
1.Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia.
2.Orang yang mengaku cinta ikhlas di dalam beramal, tetapi dia inginmendapat sanjungan dari manusia.
3.Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani merendahkan dirinya.
Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Akan datang waktunya umatku akan
mencintai lima lupa kepada yang lima :
1. Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.
2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al-Khaliq.
4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur.
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Åäøó áöáÓøõÌõæúÏö ÍóÞöíúÞóÉð ÅÐóÇ äóÇÒóáóÊú ÇóäúæóÇÑõåóÇ ÞóáúÈó ÇáúÚóÈúÏö Ùóáøó ÇáúÞóáúÈö ÓóÇÌöÏðÇ ÃÈóÏðÇ ÝóáÇó íóÑúÝóÚõ Úóäö ÇáÓøõÌõæúÏö
Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila cahanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya.
ÃÎúÑöÌú ÎóæúÝó ÇáúÎóáúÞö ãöäú ÞóáúÈößó ÊóÓúÊóÑöÍú ÈöÎóæúÝö ÇáúÎóáúÞö
æó ÃÎúÑöÌú ÑóÌóÇÁó ÇáúÎóáúÞö ãöäú ÞóáúÈößó ÊóÓúÊóáöÐøó ÈöÑóÌóÇÁö ÇáúÎóáúÞö
Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan berharap pada Sang Kholiq.
Mabuk cinta terhadap Allah..
Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali bahawa pada suatu hari Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun.
Bila pemuda yang sedang menyiram air itu melihat kepada Nabi Isa a.s
berada di hadapannya maka dia pun berkata,
"Wahai Nabi Isa a.s, kamu mintalah dari Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku seberat semut Jarrah cintaku kepada-Nya."
Berkata Nabi Isa a.s,
"Wahai saudaraku, kamu tidak akan terdaya untuk seberat Jarrah itu."
Berkata pemuda itu lagi,
"Wahai Isa a.s, kalau aku tidak terdaya untuk satu Jarrah,
maka kamu mintalah untukku setengah berat Jarrah."
Oleh kerana keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa a.s pun berdoa,
"Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat Jarrah cintanya kepada-Mu."
Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ.
Selang beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa a.s tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu.
Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang
di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahawa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.
Setelah Nabi Isa a.s mendengar penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah S.W.T,
"Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda itu."
Selesai sahaja Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-ganang dan sedang duduk di atas sebuah batu besar,
matanya memandang ke langit.
Nabi Isa a.s pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab
salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, "Aku ini Isa a.s."
Kemudian Allah S.W.T menurunkan wahyu yang berbunyi, "Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Jarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya
dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya."
Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka
dia adalah orang yang tertipu.
1.Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia.
2.Orang yang mengaku cinta ikhlas di dalam beramal, tetapi dia inginmendapat sanjungan dari manusia.
3.Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani merendahkan dirinya.
Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Akan datang waktunya umatku akan
mencintai lima lupa kepada yang lima :
1. Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.
2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al-Khaliq.
4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur.
: Wudlu Aktifkan Titik-titik Biologis ::
: Wudlu Aktifkan Titik-titik Biologis ::
Wudlu adalah ritual penyucian yang mengutamakan unsur kesehatan.
Bagian-bagian yang dibasuh merupakan titik-titik penting peremajaan
tubuh.
Di lain pihak juga merupakan pintu masuk bagi ribuan kuman, virus, dan
bakteri. Bagaimana wudlu menangkalnya?
Stimulasi Titik Biologis
Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Dr. Magomedov, asisten pada
lembaga General Hygiene and Ecology (Kesehatan Umum dan Ekologi) di
Daghestan State Medical Academy' dijelaskan bagaimana wudlu dapat
menstimulasi/merangsang irama tubuh alami. Rangsangan ini muncul pada
seluruh tubuh, khususnya pada area yang disebut Biological Active Spots
(BASes) atau titik-titik aktif biologis. Menurut riset ini, BASes mirip
dengan titik-titik refleksologi Cina.
Bedanya, terang Dr. Magomedov, untuk menguasai titik-titik refleksi Cina
dengan tuntas paling tidak dibutuhkan waktu 15-20 tahun. Bandingkan
dengan praktek wudlu yang sangat sederhana. Keutamaan lainnya,
refleksologi hanya berfungsi menyembuhkan sedangkan wudlu sangat efektif
mencegah masuknya bibit penyakit.
Menurut peneliti yang juga menguasai ilmu refleksologi Cina ini, 61 dari
65 titik refleks Cina adalah bagian tubuh yang dibasuh air wudlu. Lima
lainnya terletak antara tumit dan lutut, di mana bagian ini juga,
merupakan area wudlu yang tidak diwajibkan.
Sistem metabolisme tubuh manusia terhubung dengan jutaan syaraf yang
ujungnya tersebar di sepanjang kulit. Guyuran air wudlu dalam konsep
pengobatan modern adalah hidromassage alias pijat dengan memanfaatkan
air sebagai media penyembuhan.
Membasuh area wajah misalnya, pijatan air akan memberi efek positif pada
usus, ginjal, dan sistem saraf maupun reproduksi. Membasuh kaki kiri
berefek positif pada kelenjar pituitari, otak yang mengatur
fungsi-fungsi kelenjar endokrin (kelenjar yang bertugas mengatur
pengeluaran hormon dan mengendalikan pertumbuhan). Di telinga terdapat
ratusan titik biologis yang akan menurunkan tekanan darah dan mengurangi
sakit.
Hancurkan Penyusup
Dari sudut pandang pengobatan medis, Mokhtar Salem dalam bukunya
Prayers: a Sport for the Body and Soul (Shalat: Olahraga untuk jasmani
dan Rohani) menjelaskan bahwa wudlu bisa mencegah kanker kulit. Jenis
kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap
hari menempel dan terserap oleh kulit. Cara paling efektif mengenyahkan
risiko ini adalah membersihkannya secara rutin. Berwudlu lima kali
sehari adalah antisipasi yang lebih dari cukup.
Menurut Salem, membasuh wajah meremajakan sel-sel kulit muka dan
membantu mencegah munculnya keriput. Selain kulit, wudlu juga
meremajakan selaput lendir yang menjadi gugus depan pertahanan tubuh.
Peremajaan menjadi penting karena salah satu tugas utama lendir ibarat
membawa contoh benda asing yang masuk kepada dua senjata pamungkas yang
sudah dimiliki, manusia secara alami, yaitu limfosit T (sel T) dan
limfosit B (sel B).
Keduanya bersiaga di jaringan limfoid dan sistem getah bening dan mampu
menghancurkan penyusup yang berniat buruk terhadap tubuh. Bayangkan jika
fungsi mereka terganggu. Sebaliknya, wudlu meningkatkan daya kerja
mereka.
Pintu masuk lain yang tak kalah penting adalah lubang hidung. Dalam
wudlu disunatkan menghirup air dari hidung dan dikeluarkan lewat mulut.
Cara ini adalah penangkal efektif ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan
Akut), TBC, dan kanker n. asofaring secara dini.
Seorang muslim disarankan mengambil air wudlu tak hanya ketika akan
salat, tetapi juga di waktu yang lain. Misalnya saat hendak membaca
Alquran, setelah ziarah ke makam, setelah menyentuh jenazah, berangkat
tidur atau akan azan.
Selain fungsi-fungsi fisiologis, wudlu juga efektif mengendalikan emosi.
Setiap kali merasa ingin marah, seorang muslim disarankan untuk
mengambil ambil air wudlu untuk mendinginkan dan menyejukkan hati. Apa
pun yang telah diperintahkan oleh Allah tentu memberi banyak manfaat dan
solusi tanpa meninggalkan resiko.
Wudlu adalah ritual penyucian yang mengutamakan unsur kesehatan.
Bagian-bagian yang dibasuh merupakan titik-titik penting peremajaan
tubuh.
Di lain pihak juga merupakan pintu masuk bagi ribuan kuman, virus, dan
bakteri. Bagaimana wudlu menangkalnya?
Stimulasi Titik Biologis
Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Dr. Magomedov, asisten pada
lembaga General Hygiene and Ecology (Kesehatan Umum dan Ekologi) di
Daghestan State Medical Academy' dijelaskan bagaimana wudlu dapat
menstimulasi/merangsang irama tubuh alami. Rangsangan ini muncul pada
seluruh tubuh, khususnya pada area yang disebut Biological Active Spots
(BASes) atau titik-titik aktif biologis. Menurut riset ini, BASes mirip
dengan titik-titik refleksologi Cina.
Bedanya, terang Dr. Magomedov, untuk menguasai titik-titik refleksi Cina
dengan tuntas paling tidak dibutuhkan waktu 15-20 tahun. Bandingkan
dengan praktek wudlu yang sangat sederhana. Keutamaan lainnya,
refleksologi hanya berfungsi menyembuhkan sedangkan wudlu sangat efektif
mencegah masuknya bibit penyakit.
Menurut peneliti yang juga menguasai ilmu refleksologi Cina ini, 61 dari
65 titik refleks Cina adalah bagian tubuh yang dibasuh air wudlu. Lima
lainnya terletak antara tumit dan lutut, di mana bagian ini juga,
merupakan area wudlu yang tidak diwajibkan.
Sistem metabolisme tubuh manusia terhubung dengan jutaan syaraf yang
ujungnya tersebar di sepanjang kulit. Guyuran air wudlu dalam konsep
pengobatan modern adalah hidromassage alias pijat dengan memanfaatkan
air sebagai media penyembuhan.
Membasuh area wajah misalnya, pijatan air akan memberi efek positif pada
usus, ginjal, dan sistem saraf maupun reproduksi. Membasuh kaki kiri
berefek positif pada kelenjar pituitari, otak yang mengatur
fungsi-fungsi kelenjar endokrin (kelenjar yang bertugas mengatur
pengeluaran hormon dan mengendalikan pertumbuhan). Di telinga terdapat
ratusan titik biologis yang akan menurunkan tekanan darah dan mengurangi
sakit.
Hancurkan Penyusup
Dari sudut pandang pengobatan medis, Mokhtar Salem dalam bukunya
Prayers: a Sport for the Body and Soul (Shalat: Olahraga untuk jasmani
dan Rohani) menjelaskan bahwa wudlu bisa mencegah kanker kulit. Jenis
kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap
hari menempel dan terserap oleh kulit. Cara paling efektif mengenyahkan
risiko ini adalah membersihkannya secara rutin. Berwudlu lima kali
sehari adalah antisipasi yang lebih dari cukup.
Menurut Salem, membasuh wajah meremajakan sel-sel kulit muka dan
membantu mencegah munculnya keriput. Selain kulit, wudlu juga
meremajakan selaput lendir yang menjadi gugus depan pertahanan tubuh.
Peremajaan menjadi penting karena salah satu tugas utama lendir ibarat
membawa contoh benda asing yang masuk kepada dua senjata pamungkas yang
sudah dimiliki, manusia secara alami, yaitu limfosit T (sel T) dan
limfosit B (sel B).
Keduanya bersiaga di jaringan limfoid dan sistem getah bening dan mampu
menghancurkan penyusup yang berniat buruk terhadap tubuh. Bayangkan jika
fungsi mereka terganggu. Sebaliknya, wudlu meningkatkan daya kerja
mereka.
Pintu masuk lain yang tak kalah penting adalah lubang hidung. Dalam
wudlu disunatkan menghirup air dari hidung dan dikeluarkan lewat mulut.
Cara ini adalah penangkal efektif ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan
Akut), TBC, dan kanker n. asofaring secara dini.
Seorang muslim disarankan mengambil air wudlu tak hanya ketika akan
salat, tetapi juga di waktu yang lain. Misalnya saat hendak membaca
Alquran, setelah ziarah ke makam, setelah menyentuh jenazah, berangkat
tidur atau akan azan.
Selain fungsi-fungsi fisiologis, wudlu juga efektif mengendalikan emosi.
Setiap kali merasa ingin marah, seorang muslim disarankan untuk
mengambil ambil air wudlu untuk mendinginkan dan menyejukkan hati. Apa
pun yang telah diperintahkan oleh Allah tentu memberi banyak manfaat dan
solusi tanpa meninggalkan resiko.
: Wudlu Aktifkan Titik-titik Biologis ::
: Wudlu Aktifkan Titik-titik Biologis ::
Wudlu adalah ritual penyucian yang mengutamakan unsur kesehatan.
Bagian-bagian yang dibasuh merupakan titik-titik penting peremajaan
tubuh.
Di lain pihak juga merupakan pintu masuk bagi ribuan kuman, virus, dan
bakteri. Bagaimana wudlu menangkalnya?
Stimulasi Titik Biologis
Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Dr. Magomedov, asisten pada
lembaga General Hygiene and Ecology (Kesehatan Umum dan Ekologi) di
Daghestan State Medical Academy' dijelaskan bagaimana wudlu dapat
menstimulasi/merangsang irama tubuh alami. Rangsangan ini muncul pada
seluruh tubuh, khususnya pada area yang disebut Biological Active Spots
(BASes) atau titik-titik aktif biologis. Menurut riset ini, BASes mirip
dengan titik-titik refleksologi Cina.
Bedanya, terang Dr. Magomedov, untuk menguasai titik-titik refleksi Cina
dengan tuntas paling tidak dibutuhkan waktu 15-20 tahun. Bandingkan
dengan praktek wudlu yang sangat sederhana. Keutamaan lainnya,
refleksologi hanya berfungsi menyembuhkan sedangkan wudlu sangat efektif
mencegah masuknya bibit penyakit.
Menurut peneliti yang juga menguasai ilmu refleksologi Cina ini, 61 dari
65 titik refleks Cina adalah bagian tubuh yang dibasuh air wudlu. Lima
lainnya terletak antara tumit dan lutut, di mana bagian ini juga,
merupakan area wudlu yang tidak diwajibkan.
Sistem metabolisme tubuh manusia terhubung dengan jutaan syaraf yang
ujungnya tersebar di sepanjang kulit. Guyuran air wudlu dalam konsep
pengobatan modern adalah hidromassage alias pijat dengan memanfaatkan
air sebagai media penyembuhan.
Membasuh area wajah misalnya, pijatan air akan memberi efek positif pada
usus, ginjal, dan sistem saraf maupun reproduksi. Membasuh kaki kiri
berefek positif pada kelenjar pituitari, otak yang mengatur
fungsi-fungsi kelenjar endokrin (kelenjar yang bertugas mengatur
pengeluaran hormon dan mengendalikan pertumbuhan). Di telinga terdapat
ratusan titik biologis yang akan menurunkan tekanan darah dan mengurangi
sakit.
Hancurkan Penyusup
Dari sudut pandang pengobatan medis, Mokhtar Salem dalam bukunya
Prayers: a Sport for the Body and Soul (Shalat: Olahraga untuk jasmani
dan Rohani) menjelaskan bahwa wudlu bisa mencegah kanker kulit. Jenis
kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap
hari menempel dan terserap oleh kulit. Cara paling efektif mengenyahkan
risiko ini adalah membersihkannya secara rutin. Berwudlu lima kali
sehari adalah antisipasi yang lebih dari cukup.
Menurut Salem, membasuh wajah meremajakan sel-sel kulit muka dan
membantu mencegah munculnya keriput. Selain kulit, wudlu juga
meremajakan selaput lendir yang menjadi gugus depan pertahanan tubuh.
Peremajaan menjadi penting karena salah satu tugas utama lendir ibarat
membawa contoh benda asing yang masuk kepada dua senjata pamungkas yang
sudah dimiliki, manusia secara alami, yaitu limfosit T (sel T) dan
limfosit B (sel B).
Keduanya bersiaga di jaringan limfoid dan sistem getah bening dan mampu
menghancurkan penyusup yang berniat buruk terhadap tubuh. Bayangkan jika
fungsi mereka terganggu. Sebaliknya, wudlu meningkatkan daya kerja
mereka.
Pintu masuk lain yang tak kalah penting adalah lubang hidung. Dalam
wudlu disunatkan menghirup air dari hidung dan dikeluarkan lewat mulut.
Cara ini adalah penangkal efektif ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan
Akut), TBC, dan kanker n. asofaring secara dini.
Seorang muslim disarankan mengambil air wudlu tak hanya ketika akan
salat, tetapi juga di waktu yang lain. Misalnya saat hendak membaca
Alquran, setelah ziarah ke makam, setelah menyentuh jenazah, berangkat
tidur atau akan azan.
Selain fungsi-fungsi fisiologis, wudlu juga efektif mengendalikan emosi.
Setiap kali merasa ingin marah, seorang muslim disarankan untuk
mengambil ambil air wudlu untuk mendinginkan dan menyejukkan hati. Apa
pun yang telah diperintahkan oleh Allah tentu memberi banyak manfaat dan
solusi tanpa meninggalkan resiko.
Wudlu adalah ritual penyucian yang mengutamakan unsur kesehatan.
Bagian-bagian yang dibasuh merupakan titik-titik penting peremajaan
tubuh.
Di lain pihak juga merupakan pintu masuk bagi ribuan kuman, virus, dan
bakteri. Bagaimana wudlu menangkalnya?
Stimulasi Titik Biologis
Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Dr. Magomedov, asisten pada
lembaga General Hygiene and Ecology (Kesehatan Umum dan Ekologi) di
Daghestan State Medical Academy' dijelaskan bagaimana wudlu dapat
menstimulasi/merangsang irama tubuh alami. Rangsangan ini muncul pada
seluruh tubuh, khususnya pada area yang disebut Biological Active Spots
(BASes) atau titik-titik aktif biologis. Menurut riset ini, BASes mirip
dengan titik-titik refleksologi Cina.
Bedanya, terang Dr. Magomedov, untuk menguasai titik-titik refleksi Cina
dengan tuntas paling tidak dibutuhkan waktu 15-20 tahun. Bandingkan
dengan praktek wudlu yang sangat sederhana. Keutamaan lainnya,
refleksologi hanya berfungsi menyembuhkan sedangkan wudlu sangat efektif
mencegah masuknya bibit penyakit.
Menurut peneliti yang juga menguasai ilmu refleksologi Cina ini, 61 dari
65 titik refleks Cina adalah bagian tubuh yang dibasuh air wudlu. Lima
lainnya terletak antara tumit dan lutut, di mana bagian ini juga,
merupakan area wudlu yang tidak diwajibkan.
Sistem metabolisme tubuh manusia terhubung dengan jutaan syaraf yang
ujungnya tersebar di sepanjang kulit. Guyuran air wudlu dalam konsep
pengobatan modern adalah hidromassage alias pijat dengan memanfaatkan
air sebagai media penyembuhan.
Membasuh area wajah misalnya, pijatan air akan memberi efek positif pada
usus, ginjal, dan sistem saraf maupun reproduksi. Membasuh kaki kiri
berefek positif pada kelenjar pituitari, otak yang mengatur
fungsi-fungsi kelenjar endokrin (kelenjar yang bertugas mengatur
pengeluaran hormon dan mengendalikan pertumbuhan). Di telinga terdapat
ratusan titik biologis yang akan menurunkan tekanan darah dan mengurangi
sakit.
Hancurkan Penyusup
Dari sudut pandang pengobatan medis, Mokhtar Salem dalam bukunya
Prayers: a Sport for the Body and Soul (Shalat: Olahraga untuk jasmani
dan Rohani) menjelaskan bahwa wudlu bisa mencegah kanker kulit. Jenis
kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap
hari menempel dan terserap oleh kulit. Cara paling efektif mengenyahkan
risiko ini adalah membersihkannya secara rutin. Berwudlu lima kali
sehari adalah antisipasi yang lebih dari cukup.
Menurut Salem, membasuh wajah meremajakan sel-sel kulit muka dan
membantu mencegah munculnya keriput. Selain kulit, wudlu juga
meremajakan selaput lendir yang menjadi gugus depan pertahanan tubuh.
Peremajaan menjadi penting karena salah satu tugas utama lendir ibarat
membawa contoh benda asing yang masuk kepada dua senjata pamungkas yang
sudah dimiliki, manusia secara alami, yaitu limfosit T (sel T) dan
limfosit B (sel B).
Keduanya bersiaga di jaringan limfoid dan sistem getah bening dan mampu
menghancurkan penyusup yang berniat buruk terhadap tubuh. Bayangkan jika
fungsi mereka terganggu. Sebaliknya, wudlu meningkatkan daya kerja
mereka.
Pintu masuk lain yang tak kalah penting adalah lubang hidung. Dalam
wudlu disunatkan menghirup air dari hidung dan dikeluarkan lewat mulut.
Cara ini adalah penangkal efektif ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan
Akut), TBC, dan kanker n. asofaring secara dini.
Seorang muslim disarankan mengambil air wudlu tak hanya ketika akan
salat, tetapi juga di waktu yang lain. Misalnya saat hendak membaca
Alquran, setelah ziarah ke makam, setelah menyentuh jenazah, berangkat
tidur atau akan azan.
Selain fungsi-fungsi fisiologis, wudlu juga efektif mengendalikan emosi.
Setiap kali merasa ingin marah, seorang muslim disarankan untuk
mengambil ambil air wudlu untuk mendinginkan dan menyejukkan hati. Apa
pun yang telah diperintahkan oleh Allah tentu memberi banyak manfaat dan
solusi tanpa meninggalkan resiko.
sahabat nabi = sa'ad bi abu waqqash
Allah berfirman:
“Dan Kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan menderita kelemahan di atas kelemahan dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ibu bapakmu. Kepada-Ku tempat kembali. Dan kalau keduanya memaksa engkau supaya menyekutukan-Ku, (dengan) apa yang tiada engkau ketahui, janganlah dituruti; dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan cara yang ma’ruf. Dan turutlah jalan orang yang kembali kepada-Ku, nanti kamu akan kembali kepada-Ku dan akan Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Luqman (31): 14-15)
Ayat-ayat diatas mempunyai latar belakang kisah tersendiri dan mengejutkan, berhubungan dengan pribadi seorang pemuda lemah lembut, dari keturunan terhormat, dan dari ibu-bapak yang mulia. Nama pemuda itu Sa’ad bin Abu Waqqash, seorang muda belia, penuh rasa belas kasih, banyak bakti kepada bapak ibu dan sangat mencintai ibunya.
Tentang keislamannya, Sa’ad bercerita: “Tiga malam sebelum aku masuk Islam, aku bermimpi seolah-olah aku tenggelam dalam kegelapan yang tindih menindih. Ketika aku sedang mengalami puncak kegelapan itu, tiba-tiba kulihat bulan memancarkan cahaya sepenuhnya, lalu kuikuti bulan itu. Aku melihat tiga orang telah lebih dulu berada di hadapanku mengikuti bulan itu. Mereka adalah Zaid bin Haritsah, ‘Ali bin Abu Thalib, dan Abu Bakar Shiddiq. Aku bertanya kepada mereka, “Sejak kapan Anda bertiga di sini?” Jawab mereka, “Belum lama.”
Setelah siang hari, aku mendapat kabar bahwa Rasulullah SAW mengajak orang-orang kepada Islam secara diam-diam. Yakinlah aku sesungguhnya Allah SWT menghendaki kebaikan bagi diriku. Dan dengan Islam Allah akan mengeluarkanku dari kegelapan pada cahaya terang.
Aku segera mencari beliau, sehingga bertemu dengannya di suatu tempat ketika dia sedang shalat ‘Ashar. Aku mneyatakan masuk Islam di hadapan beliau. Belumada orang mendahuluiku masuk Islam ,selain mereka bertiga, seperti yang terlihat dalam mimpiku.
Sa’ad melanjutkan kisahnya masuk Islam: “Ketika ibuku mengetahui aku masuk Islam, dia marah bukan kepalang, padahal aku anak yang berbakti dan mencintainya. Ibu memanggilku dan berkata, “Hai Sa’ad! Agama apa yang engkau anut, sehingga engkau meninggalkan agama ibu bapakmu? Demi Tuhan! Engkau harus meninggalkan agama barumu itu, atau aku mogok makan minum sampai mati…! Biar pecah jantungmu melihatku, dan penuh penyesalan karena tindakanmu sendiri, sehingga semua orang menyalahkan dan mencelamu selama-lamanya. Jawabku, “ Jangan lakukan itu Ibu! Aku tidak akan meninggalkan agamaku biar bagaimanapun juga.”
Ibu tegas dan keras melaksanakan ucapannya. Beliau benar-benar mogok makan minum, sehingga tubuh dan tulang-tulangnya lemah, menjadi tidak berdaya sama sekali. Terakhir, aku mendatangi ibu untuk membujuknya supaya dia mau makan dan minum walaupun hanya sedikit. Akan tetapi, ibu memang keras hati. Beliau tetap tidak mau dan menolak serta bersumpah akan mogok makan sampai mati, atau aku meninggalkan agamaku Islam!
Aku berkata kepada ibu, “Ibu sesungguhnya aku sangat mencintai Ibu, tetapi aku lebih cinta kepada Allah dan RasulNya. Demi Allah! Seandainya Ibu mempunyai seribu jiwa, lalu jiwa itu keluar dari tubuh Ibu satu persatu (untuk memaksaku keluar dari agamaku) sungguh aku tidak akan meninggalkan agamaku karenanya.”
Tatkala ibu melihatku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, dia pun mengalah. Lalu dia menghentikan mogok makan sekalipun dengan perasaan terpaksa. Maka Allah SWT menurunkan firmannya kepada nabi Muhammad SAW: “Dan kalau keduanya memaksa engkau menyekutukanKu, (dengan) apa yang tiada engkau ketahui, janganlah diturut, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan cara yang patut…”
Setelah Sa’ad masuk Islam, dia lantas berjasa terhadap Islam dan kaum muslimin dengan prestasi baik dan tinggi. Dalam peperangan Badar, Sa’ad ikut berperang bersama-sama adiknya, ‘Umair. Kedua saudara ini berperang, berjuang bersama fii sabilillah.
Ketika tentara muslimin lari kucar-kacir dalam perang Uhud, Rasulullah SAW tinggal di medan tempur dengan kelompok kecil tentara muslimin, tidak lebih dari sepuluh orang dan satu diantaranya adalah Sa’ad bin Abu Waqqash. Sa’ad berdiri melindungi Rasulullah SAW dengan panahnya. Anak panah yang dilepas Sa’ad dari busur semuanya mengenai sasaran dengan jitu dan orang musyrik yang terkena tewas seketika.
Tatkala Rasulullahg SAW menyaksikan bahwa Sa’ad seorang pemanah jitu, beliau berkata memberinya semangat,” Panahlah, hai Sa’ad! Panahlah!...Bapak Ibuku menjadi tebusanmu!” Sa’ad sangat bangga sepanjang hidupnya dengan ucapan Rasulullah itu, sehingga Sa’ad pernah berkata, “Tidak pernah Rasulullah berucap kepada seorang jua pun mempertaruhkan kedua ibu bapaknya sekaligus sebagai tebusan, melainkan hanya kepadaku.”
Puncak kejayaan Sa’ad adalah ketika khalifah Umar bertekad menyerang kerajaan Persia untuk menggulingkan pusat pemerintahannya. Dan mencabut agama berhala itu sampai ke akar-akarnya di permukaan bumi. Sebagai panglima angkatan perang ditunjuklah Sa’ad bin Abu Waqqash. Setelah angkatan perang itu hendak berangkat, Umar berpidato memberi amanah dan perintah harian kepada Sa’ad. Katanya, “Hai Sa’ad! Janganlah engkau terpesona sekalipun engkau paman Rasulullah dan sahabat beliau. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapus suatu kejahatan dengan kejahatan, namun Allah akan menghapus kejahatan engan kebaikan. Hai Sa’ad! Sesungguhnya tidak ada hubungan kekeluargaan antara Allah dengan seseorang melainkan deengan mentaatiNya. Segenap manusia sama di sisi Allah baik bangsawan atau rakyat jelata, Allah adalah Tuhan mereka dan mereka semuanya adalah hamba-hambaNya. Mereka berlebih berkurang karena taqwa, dan memperoleh karunia dari Allah karena taat. Perhatikanlah cara Rasulullah yang engkau telah mengetahuinya, maka tetaplah ikuti cara beliau itu!”
Maka berangkatlah pasukan yang diberkati Allah itu menuju sasaran. Didalamnya terdapat 99 orang para para pahlawan perang Badar, lebih kurang 319 orang sahabat yang tergolong dalam Bai’at Ridhwan, 300 orang orang pahlawan yang ikut dalam penakhlukan Makkah bersama-sama Rasulullah SAW, 700 orang putra-putra para sahabat, dan pejuang-pejuang muslim lainnya (yang keseluruhannya berjumlah 30.000 orang).
Sampai di Qadisiyah Sa’ad menyiagakan seluruh pasukannya dan bertempur hebat. Dalam pertempuran itu Rustam, panglima tentara Persia, meninggal dunia. Maka menyelinaplah rasa takut dan gentar ke dalam hati musuh-musuh Allah sehingga dengan mudah kaum muslimin mengahdapi para prajurit Persia dan membunuh mereka.
Sa’ad bin Abu Waqqash dikaruniai Allah usia lanjut. Dia dicukupi kekayaan yang lumayan. Akan tetapi, ketika ajal telah mendekatinya dia hanya meminta sehelai kain usang. Katanya, “Kafani aku dengan jubah ini. Dia kudapati dari seorang musyrik dalam perang Badar. Aku ingin menemui Allah ‘azza wa jalla dengan jubah ini.”
(Diambil dari Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW, oleh DR Abdurrahman Ra’fat Basya, jilid 3)
Semoga kisah ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Amin
“Dan Kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan menderita kelemahan di atas kelemahan dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ibu bapakmu. Kepada-Ku tempat kembali. Dan kalau keduanya memaksa engkau supaya menyekutukan-Ku, (dengan) apa yang tiada engkau ketahui, janganlah dituruti; dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan cara yang ma’ruf. Dan turutlah jalan orang yang kembali kepada-Ku, nanti kamu akan kembali kepada-Ku dan akan Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Luqman (31): 14-15)
Ayat-ayat diatas mempunyai latar belakang kisah tersendiri dan mengejutkan, berhubungan dengan pribadi seorang pemuda lemah lembut, dari keturunan terhormat, dan dari ibu-bapak yang mulia. Nama pemuda itu Sa’ad bin Abu Waqqash, seorang muda belia, penuh rasa belas kasih, banyak bakti kepada bapak ibu dan sangat mencintai ibunya.
Tentang keislamannya, Sa’ad bercerita: “Tiga malam sebelum aku masuk Islam, aku bermimpi seolah-olah aku tenggelam dalam kegelapan yang tindih menindih. Ketika aku sedang mengalami puncak kegelapan itu, tiba-tiba kulihat bulan memancarkan cahaya sepenuhnya, lalu kuikuti bulan itu. Aku melihat tiga orang telah lebih dulu berada di hadapanku mengikuti bulan itu. Mereka adalah Zaid bin Haritsah, ‘Ali bin Abu Thalib, dan Abu Bakar Shiddiq. Aku bertanya kepada mereka, “Sejak kapan Anda bertiga di sini?” Jawab mereka, “Belum lama.”
Setelah siang hari, aku mendapat kabar bahwa Rasulullah SAW mengajak orang-orang kepada Islam secara diam-diam. Yakinlah aku sesungguhnya Allah SWT menghendaki kebaikan bagi diriku. Dan dengan Islam Allah akan mengeluarkanku dari kegelapan pada cahaya terang.
Aku segera mencari beliau, sehingga bertemu dengannya di suatu tempat ketika dia sedang shalat ‘Ashar. Aku mneyatakan masuk Islam di hadapan beliau. Belumada orang mendahuluiku masuk Islam ,selain mereka bertiga, seperti yang terlihat dalam mimpiku.
Sa’ad melanjutkan kisahnya masuk Islam: “Ketika ibuku mengetahui aku masuk Islam, dia marah bukan kepalang, padahal aku anak yang berbakti dan mencintainya. Ibu memanggilku dan berkata, “Hai Sa’ad! Agama apa yang engkau anut, sehingga engkau meninggalkan agama ibu bapakmu? Demi Tuhan! Engkau harus meninggalkan agama barumu itu, atau aku mogok makan minum sampai mati…! Biar pecah jantungmu melihatku, dan penuh penyesalan karena tindakanmu sendiri, sehingga semua orang menyalahkan dan mencelamu selama-lamanya. Jawabku, “ Jangan lakukan itu Ibu! Aku tidak akan meninggalkan agamaku biar bagaimanapun juga.”
Ibu tegas dan keras melaksanakan ucapannya. Beliau benar-benar mogok makan minum, sehingga tubuh dan tulang-tulangnya lemah, menjadi tidak berdaya sama sekali. Terakhir, aku mendatangi ibu untuk membujuknya supaya dia mau makan dan minum walaupun hanya sedikit. Akan tetapi, ibu memang keras hati. Beliau tetap tidak mau dan menolak serta bersumpah akan mogok makan sampai mati, atau aku meninggalkan agamaku Islam!
Aku berkata kepada ibu, “Ibu sesungguhnya aku sangat mencintai Ibu, tetapi aku lebih cinta kepada Allah dan RasulNya. Demi Allah! Seandainya Ibu mempunyai seribu jiwa, lalu jiwa itu keluar dari tubuh Ibu satu persatu (untuk memaksaku keluar dari agamaku) sungguh aku tidak akan meninggalkan agamaku karenanya.”
Tatkala ibu melihatku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, dia pun mengalah. Lalu dia menghentikan mogok makan sekalipun dengan perasaan terpaksa. Maka Allah SWT menurunkan firmannya kepada nabi Muhammad SAW: “Dan kalau keduanya memaksa engkau menyekutukanKu, (dengan) apa yang tiada engkau ketahui, janganlah diturut, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan cara yang patut…”
Setelah Sa’ad masuk Islam, dia lantas berjasa terhadap Islam dan kaum muslimin dengan prestasi baik dan tinggi. Dalam peperangan Badar, Sa’ad ikut berperang bersama-sama adiknya, ‘Umair. Kedua saudara ini berperang, berjuang bersama fii sabilillah.
Ketika tentara muslimin lari kucar-kacir dalam perang Uhud, Rasulullah SAW tinggal di medan tempur dengan kelompok kecil tentara muslimin, tidak lebih dari sepuluh orang dan satu diantaranya adalah Sa’ad bin Abu Waqqash. Sa’ad berdiri melindungi Rasulullah SAW dengan panahnya. Anak panah yang dilepas Sa’ad dari busur semuanya mengenai sasaran dengan jitu dan orang musyrik yang terkena tewas seketika.
Tatkala Rasulullahg SAW menyaksikan bahwa Sa’ad seorang pemanah jitu, beliau berkata memberinya semangat,” Panahlah, hai Sa’ad! Panahlah!...Bapak Ibuku menjadi tebusanmu!” Sa’ad sangat bangga sepanjang hidupnya dengan ucapan Rasulullah itu, sehingga Sa’ad pernah berkata, “Tidak pernah Rasulullah berucap kepada seorang jua pun mempertaruhkan kedua ibu bapaknya sekaligus sebagai tebusan, melainkan hanya kepadaku.”
Puncak kejayaan Sa’ad adalah ketika khalifah Umar bertekad menyerang kerajaan Persia untuk menggulingkan pusat pemerintahannya. Dan mencabut agama berhala itu sampai ke akar-akarnya di permukaan bumi. Sebagai panglima angkatan perang ditunjuklah Sa’ad bin Abu Waqqash. Setelah angkatan perang itu hendak berangkat, Umar berpidato memberi amanah dan perintah harian kepada Sa’ad. Katanya, “Hai Sa’ad! Janganlah engkau terpesona sekalipun engkau paman Rasulullah dan sahabat beliau. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapus suatu kejahatan dengan kejahatan, namun Allah akan menghapus kejahatan engan kebaikan. Hai Sa’ad! Sesungguhnya tidak ada hubungan kekeluargaan antara Allah dengan seseorang melainkan deengan mentaatiNya. Segenap manusia sama di sisi Allah baik bangsawan atau rakyat jelata, Allah adalah Tuhan mereka dan mereka semuanya adalah hamba-hambaNya. Mereka berlebih berkurang karena taqwa, dan memperoleh karunia dari Allah karena taat. Perhatikanlah cara Rasulullah yang engkau telah mengetahuinya, maka tetaplah ikuti cara beliau itu!”
Maka berangkatlah pasukan yang diberkati Allah itu menuju sasaran. Didalamnya terdapat 99 orang para para pahlawan perang Badar, lebih kurang 319 orang sahabat yang tergolong dalam Bai’at Ridhwan, 300 orang orang pahlawan yang ikut dalam penakhlukan Makkah bersama-sama Rasulullah SAW, 700 orang putra-putra para sahabat, dan pejuang-pejuang muslim lainnya (yang keseluruhannya berjumlah 30.000 orang).
Sampai di Qadisiyah Sa’ad menyiagakan seluruh pasukannya dan bertempur hebat. Dalam pertempuran itu Rustam, panglima tentara Persia, meninggal dunia. Maka menyelinaplah rasa takut dan gentar ke dalam hati musuh-musuh Allah sehingga dengan mudah kaum muslimin mengahdapi para prajurit Persia dan membunuh mereka.
Sa’ad bin Abu Waqqash dikaruniai Allah usia lanjut. Dia dicukupi kekayaan yang lumayan. Akan tetapi, ketika ajal telah mendekatinya dia hanya meminta sehelai kain usang. Katanya, “Kafani aku dengan jubah ini. Dia kudapati dari seorang musyrik dalam perang Badar. Aku ingin menemui Allah ‘azza wa jalla dengan jubah ini.”
(Diambil dari Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW, oleh DR Abdurrahman Ra’fat Basya, jilid 3)
Semoga kisah ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Amin
mengapa kita harus bershalawat
'alaykumsalam Wr. Wb.,
Sebagai sharing untuk rekan-rekan lainnya ...
Sholawat adalah ungkapan rasa terimakasih seorang Muslim kepada Nabi karena berkat perjuangannya maka manusia (umat Islam) mampu mengenal Allah yang sebenarnya dan mengetahui mana yang batil dan mana yang haq.
Saya rasa ini wajar-wajar saja ...
Didalam Islam, Sholawat tidak hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad saja ... setiap kali nama seorang Nabi disebut seyogyanya kita mengatakan alaihissalam sesudahnya, tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lainnya.
Setiap Nabi dan Rasul Allah memang memiliki kelebihannya tersendiri didalam menjalankan misi mereka kepada umatnya, tapi walau demikian, al-Qur'an justru melarang manusia untuk membeda-bedakan mereka, sebab kesemuanya adalah utusan Allah yang Maha Agung. Dan hanya Allah sajalah yang berhak untuk menilai derajat dari masing-masing Nabi-Nya itu, aturan tersebut berlaku kepada siapa saja tanpa terkecuali kepada Nabi Muhammad Saw selaku Nabi terakhir.
Masing-masing Nabi dan Rasul Allah itu memiliki misi yang sama, mengajarkan kepada umatnya mengenai Tauhid, bahwa Tidak ada sesuatu apapun yang wajib untuk disembah melainkan Allah yang Esa, berdiri dengan sendirinya, tanpa beranak dan tanpa diperanakkan alias Esa dengan pengertian yang sebenar-benarnya, bukan Esa yang Tiga alias Tritunggal.
Masing-masing utusan Allah itu diberi kelebihan tersendiri yang lebih dikenal dengan nama "Mukjizat", dimana tiap-tiap mukjizat ini diberikan sesuai dengan konteks jaman, kebudayaan dan cara berpikir manusia kala itu, meskipun ada juga beberapa mukjizat yang sama yang dimiliki antar Nabi dan Rasul Allah tersebut.
"Ucapkanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa dan para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri". (Qs. Ali Imran 3:84)
"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya dan tidak membedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. An-Nisa' 4:152)
Disisi lainnya istilah Sholawat sebagaimana yang terdapat didalam surah al-Ahzab 56 bisa juga dimaknai sebagai sebuah cara atau metode dalam memegang ataupun mensugesti diri terhadap prinsip ajaran Allah melalui Nabi.
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. - Qs. al-Ahzab 33: 56
Kata "Yusolluna'alannabi" berasal dari kata "Wasala" yang nounnya berupa Wasl yang berarti menjaga frekwensi hubungan, membantu serta selalu bersama dengan Nabi. Artinya ini berupa sebuah perintah kepada umat Islam agar selalu menjaga komitmen syahadat ke-Islamannya dan membantu mensyiarkan apa yang sudah diajarkan oleh Nabi sebagaimana pesannya sendiri : sampaikan meski satu ayat.
Apakah semua Nabi didoakan oleh Islam padahal Kristen tidak pernah melakukannya ...
Jawaban atas pertanyaan anda ini sudah terjawabkan pada jawaban saya diatas.
Mengenai orang Kristen tidak pernah melakukannya itu kembali lagi dari bagaimana cara pemahaman mereka atas ayat-ayat alkitab itu sendiri ...
Saya kasih bukti :
Aku akan membuat engkau (Ibrahim) menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." - Kitab Kejadian: 12 : 2-3
Jelas sekali, bahwa ayat-ayat alkitab di atas bercerita tentang "keharusan" melakukan Sholawat Nabi dalam hal ini Alkitab jelas menuliskan bahwa Ibrahim dan keturunannya (yaitu baik dari Ismail yang nantinya menurunkan Muhammad maupun Ishaq yang menurunkan Yesus (Isa) mendapatkan berkat dari Tuhan dan akan memasyurkan nama Ibrahim diantara manusia (ingat salah satu syahadat kita dalam Sholat ? Kama sholaita 'ala Ibrahim wa'ala ali Ibrahim ...), dan juga Allah akan memberkati siapa yang ikut memberkati mereka dalam artian selalu menghormatinya, sebaliknya Allah akan mengutuk siapapun yang mengutuk atau tidak menghormatinya.
Umat Islam konsisten menjalankan penghormatan sebagai bentuk rasa terimakasihnya kepada Nabi Ibrahim as dengan selalu menyandingkan nama beliau didalam sholat, meskipun rasa hormat dan syukur itu tidak selalu diwujudkan dalam bentuk ucapan akan tetapi paling tidak kita sudah ikut melaksanakan apa yang sudah diajarkan oleh Kitab Kejadian 12 ayat 2 dan 3 tadi, memberkati Ibrahim as.
Memang tidak mungkin kita menyebut satu persatu nama Nabi dan Rasul yang jumlahnya sangat banyak itu didalam ritual sholat kita, oleh sebab Ibrahim as merupakan bapak Iman atau bapak semua Nabi maka ya cukup kita sebutkan saja nama beliau dan dibarengi kata-kata : wa'ala ali Ibrohim ... (juga atas keluarga Ibrahim) ... keluarga Ibrahim ya semua Nabi-nabi itu, baik dari jalur Ishaq maupun Ismail.
Allahhumma Sholli'ala Muhammad
Wa'ala ali Muhammad
Kama Sholaita 'ala Ibrohim
Wa'ala ali Ibrohim ..
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian -Qs. 37 ash-Shafaat 108
Wassalam,
Armansyah
http://armansyah.swaramuslim.net
Sebagai sharing untuk rekan-rekan lainnya ...
Sholawat adalah ungkapan rasa terimakasih seorang Muslim kepada Nabi karena berkat perjuangannya maka manusia (umat Islam) mampu mengenal Allah yang sebenarnya dan mengetahui mana yang batil dan mana yang haq.
Saya rasa ini wajar-wajar saja ...
Didalam Islam, Sholawat tidak hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad saja ... setiap kali nama seorang Nabi disebut seyogyanya kita mengatakan alaihissalam sesudahnya, tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lainnya.
Setiap Nabi dan Rasul Allah memang memiliki kelebihannya tersendiri didalam menjalankan misi mereka kepada umatnya, tapi walau demikian, al-Qur'an justru melarang manusia untuk membeda-bedakan mereka, sebab kesemuanya adalah utusan Allah yang Maha Agung. Dan hanya Allah sajalah yang berhak untuk menilai derajat dari masing-masing Nabi-Nya itu, aturan tersebut berlaku kepada siapa saja tanpa terkecuali kepada Nabi Muhammad Saw selaku Nabi terakhir.
Masing-masing Nabi dan Rasul Allah itu memiliki misi yang sama, mengajarkan kepada umatnya mengenai Tauhid, bahwa Tidak ada sesuatu apapun yang wajib untuk disembah melainkan Allah yang Esa, berdiri dengan sendirinya, tanpa beranak dan tanpa diperanakkan alias Esa dengan pengertian yang sebenar-benarnya, bukan Esa yang Tiga alias Tritunggal.
Masing-masing utusan Allah itu diberi kelebihan tersendiri yang lebih dikenal dengan nama "Mukjizat", dimana tiap-tiap mukjizat ini diberikan sesuai dengan konteks jaman, kebudayaan dan cara berpikir manusia kala itu, meskipun ada juga beberapa mukjizat yang sama yang dimiliki antar Nabi dan Rasul Allah tersebut.
"Ucapkanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa dan para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri". (Qs. Ali Imran 3:84)
"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya dan tidak membedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. An-Nisa' 4:152)
Disisi lainnya istilah Sholawat sebagaimana yang terdapat didalam surah al-Ahzab 56 bisa juga dimaknai sebagai sebuah cara atau metode dalam memegang ataupun mensugesti diri terhadap prinsip ajaran Allah melalui Nabi.
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. - Qs. al-Ahzab 33: 56
Kata "Yusolluna'alannabi" berasal dari kata "Wasala" yang nounnya berupa Wasl yang berarti menjaga frekwensi hubungan, membantu serta selalu bersama dengan Nabi. Artinya ini berupa sebuah perintah kepada umat Islam agar selalu menjaga komitmen syahadat ke-Islamannya dan membantu mensyiarkan apa yang sudah diajarkan oleh Nabi sebagaimana pesannya sendiri : sampaikan meski satu ayat.
Apakah semua Nabi didoakan oleh Islam padahal Kristen tidak pernah melakukannya ...
Jawaban atas pertanyaan anda ini sudah terjawabkan pada jawaban saya diatas.
Mengenai orang Kristen tidak pernah melakukannya itu kembali lagi dari bagaimana cara pemahaman mereka atas ayat-ayat alkitab itu sendiri ...
Saya kasih bukti :
Aku akan membuat engkau (Ibrahim) menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." - Kitab Kejadian: 12 : 2-3
Jelas sekali, bahwa ayat-ayat alkitab di atas bercerita tentang "keharusan" melakukan Sholawat Nabi dalam hal ini Alkitab jelas menuliskan bahwa Ibrahim dan keturunannya (yaitu baik dari Ismail yang nantinya menurunkan Muhammad maupun Ishaq yang menurunkan Yesus (Isa) mendapatkan berkat dari Tuhan dan akan memasyurkan nama Ibrahim diantara manusia (ingat salah satu syahadat kita dalam Sholat ? Kama sholaita 'ala Ibrahim wa'ala ali Ibrahim ...), dan juga Allah akan memberkati siapa yang ikut memberkati mereka dalam artian selalu menghormatinya, sebaliknya Allah akan mengutuk siapapun yang mengutuk atau tidak menghormatinya.
Umat Islam konsisten menjalankan penghormatan sebagai bentuk rasa terimakasihnya kepada Nabi Ibrahim as dengan selalu menyandingkan nama beliau didalam sholat, meskipun rasa hormat dan syukur itu tidak selalu diwujudkan dalam bentuk ucapan akan tetapi paling tidak kita sudah ikut melaksanakan apa yang sudah diajarkan oleh Kitab Kejadian 12 ayat 2 dan 3 tadi, memberkati Ibrahim as.
Memang tidak mungkin kita menyebut satu persatu nama Nabi dan Rasul yang jumlahnya sangat banyak itu didalam ritual sholat kita, oleh sebab Ibrahim as merupakan bapak Iman atau bapak semua Nabi maka ya cukup kita sebutkan saja nama beliau dan dibarengi kata-kata : wa'ala ali Ibrohim ... (juga atas keluarga Ibrahim) ... keluarga Ibrahim ya semua Nabi-nabi itu, baik dari jalur Ishaq maupun Ismail.
Allahhumma Sholli'ala Muhammad
Wa'ala ali Muhammad
Kama Sholaita 'ala Ibrohim
Wa'ala ali Ibrohim ..
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian -Qs. 37 ash-Shafaat 108
Wassalam,
Armansyah
http://armansyah.swaramuslim.net
kehidupan dunia itu hanya permainan
Assalamu’alaikum wr. wb.
Bissmillahirrahmaanirrohiim.
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhisan; dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak seperti hujan yang tanam tanamannya mengagumkan para petani., kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. “
(QS Al-Hadiid (57): 20)
Kita berpagi hari sebagai orang-orang yang bermain-main jika kita tidak berpegang pada agama. Kita berpetang hari sebagai orang-orang yang bermain-main jika kita tidak berpegang pada agama. Kita hidup dalam keadaan bermain-main jika kita tidak berpegang pada agama. Kita mati dalam keadaan bermain-main jika kita mati dalam keadaan tidak berpegang pada agama.
Kehidupan yang hakiki hanya di akhirat dan kekekalan hanya da di akhirat karena kehidupan di dunia hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan yakni hanya merupakan polesan yang terlihat mengkilap saja.
“Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada disisi Allah adalah kekal..”
(QS An-Nahl (16) : 96)
Bagaimanapun Rasulullah lapar dunia, sedang kisra raja Persia dan kaisar Romawi mati kekenyangan karena banyak makan dan banyak minum.
Bagaimana beliau tinggal di rumah yang terbuat dari tanah liat, sedang kisra dan kaisar tinggal di gedung-gedung yang berhiaskan emas, perak dan bertaburan intan permata.
Bagaimana beliau berpakaian, yang tiada yang dikenakannya selain hanya kain biasa yang tidak pernah digantinya selama masa yang cukup lama, sedang kisra dan kaisar menghiasi dirinya dengan pakaian terbuat dari sutra tebal dan sutra tipis.
Umar ra. Masuk menemui Rasul SAW di dalam kamarnya. Saat itu beliau sedang merebahkan badan dan dalam keadaan memisahkan diri dari istri-istrinya.
Umar melihar Rasul SAW berbaring diatas tikar, sedang anyaman tikar dan kain spreinya yang kasar membekas pada lambungnya. Umar melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan rumah, maka ia melihat sesuatu dari bulir gandum yang tergantung di dinding.
Melihat keadaan itu air mata Umar bercucuran, Rasulullah SAW pun bertanya kepadanya, “Mengapa kamu menangis, hai Umar?”. Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, kisra dan kaisar adalah musuh-musuh Allah sebagaimana yang telah engkau ketahui dan engkau adalah utusan Allah serta kekasih-Nya, sedang engkau dalam keadaan seperti ini.”
Rasululllah bersabda: “Apakah engkau masih ragu hai Ibnul Khaththab? Tidakkah engkau merasa puas jika bagi mereka hanya dunia ini dan bagi kita di akhirat?”
(HR Bukhari , Muslim, Ahmad dan Tirmidzi)
Tidakkah engkau puas bila mereka di dunia ini makan dengan enak, tinggal di gedung-gedung, dapat menguasai apa yang mereka inginkan., bersenang-senang dengan apa yang mereka inginkan, tetapi akhirat dan surga-surga, sungai-sungai dan gedung-gedungnya hanya bagi orang-orang yang bertaqwa.
Allah telah berfirman,
“Sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak untuk rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) untuk rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan diatasnya, dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”
(QS Az-Zukhruf (43): 33-35)
Tujuan mengemukakan hakikat-hakikat yang disebutkan oleh Allah SWT ini adalah agar manusia mengetahui hakikat yang sebenarnya dari dunia dan akhirat serta siapa saja dari mereka yang menjadi ahli surga dan siapa saja dari mereka yang menjadi ahli neraka.
Ketahuilah jika Anda mempunyai pengetahuan!
Dengarlah jika Anda mempunyai pendengaran!
Pahamilah jika Anda mempunyai pemahaman!
Imam Syafi’I mengatakan dalam bait syair gubahannya:
Singa mati di hutan belantara karena kelaparan,
Sedang daging kambing hutan,
Dimakan oleh anjing-anjing liar
Demikianlah hikmah Allah Tuhan yang Maha Pencipta. Dia tidak memberikan agama ini, kecuali kepada orang yang disukai-Nya. Adapun mengenai duniawi maka Dia memberikannya, baik kepada orang yang disukai-Nya maupun orang yang tidak disukai-Nya. Bahkan Dia memberikannya sekalipun kepada orang atheis, orang munafiq atau orang fasiq.
“Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya dunia ini di sisi Allah senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir darinya barang seteguk air pun”
(HR Tirmidzi dan Ibnu Majjah. Lihat Misykaatul Anwar no. 5177)
“Ketahuilah , bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak…” (QS Al Hadiid (57): 20)
Abu Hurairah menceritakan pengalamannya : “aku pernah mengalami lapar yang hanya Allah sajalah yang mengetahui keparahannya, sehingga demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, aku pernah pigsan di antara mimbar dan rumah Rasulullah.”
Abu Hurairah melanjutkan: “selanjutnya datanglah seorang sahabat mendekatiku, Dia mengira bahwa diriku kerasukan jin.”
“Pada suatu malam aku shalat bermakmum kepada Rasul, sedang aku dalam keadaan sangat lapar. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa rasa lapar yang dialaminya sampai pada tahap yang membuatnya tidak tahan lagi mengetahui apa yang dibaca oleh Rasulullah dalam shalatnya bersama mereka.”
“Setelah beliau selesai dari shalatnya, aku keluar untuk menghadang orang-orang dengan harapan semoga ada di antara mereka yang mau membawaku ke rumahnya, lalu memberiku makan.”
Akan tetapi apakah dia menghadang orang lain untuk mengatakan kepadanya, “Berilah aku makan!” Atau apakah dia mengatakan, “Kenyangkanlah diriku dan berilah aku minum!” “Tidak, bahkan dia menghalangi orang lain., lalu menanyakan kepada mereka makna sebagian dari ayat-ayat Al Qur’an barangkali saja mereka memahami maksudnya, lalu mau mengajaknya makan. Ia pun menghadang Abu Bakar, tetapi ternyata Abu Bakar tidak memahami maksud yang sebenarnya. Bahkan ia menjawab pertanyaannya, lalu pergi; demikian pula Umar.
Abu Hurairah melanjutkan, “Selanjutnya Rasul SAW keluar dan aku menghadangnya. Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya beliaulah yang mulai menyapaku sebelum aku memulainya. Beliau tersenyum, lalu bersabda: ‘Kemarilah bersamaku!’ Rasulullah SAW memahami bahwa sesungguhnya Abu Hurairah tidak membawa pertanyaan, melainkan membawa rasa lapar dan haus.
Abu Hurairah melanjutkan, “Beliau lalu memasukkanku kedlam rumahnya dan tiada yang terdapat di dalam rumahnya, kecuali hanya sepotong roti tanpa ada sebutir kurma pun dan juga tanpa ada anggur kering sedikitpun. Tiada suatu makanan yang lain pun di dalm rumahnya, kecuali hanya semangkuk laban (yogurt). Ketika aku melihat laban, aku berkata kepada diriku sendiri, ‘Beliau pasti akan memberiku minum sekarang dan dengan izin Allah rasa laparku nanti akan hilang.’
Rasulullah memanggil, “Hai Abu Hurairah!” Aku menjawab, “Labbaika wasa ‘daika, ya Rasulullah.” Rasulullah bersabda: “Temuilah orang-orang yang fakir miskin ahli shuffah yang ada di emper masjid itu dan undanglah mereka semua.”
“aku berkata kepada diriku sendiri: “Hanya Allah yang dimintai pertolongan. Aku lebih utama untuk mendapatkan laban ini, karena apabila ahli shuffah yang jumlahnya kurang lebih antara tujuh puluh sampai delapan puluh orang itu datang semuanya, tentulah mereka tidak akan menyisakan laban barang setetes pun, lalu apakah yang tersisa untukku? Akn tetapi perintah Rasul tetap harus aku laksanakan.”
Abu Hurairah pergi menemui ahli shuffah dan mengundang mereka, lalu mereka datang dengan bergegas-gegas hingga mereka minum dan kenyang semuanya, Abu Hurairah hanya dapat memperhtikan adengan itu dengan aras penuh kekesalan. Rasukullah bersabda, “Hai Abu Hurairah! Aku menjawab “Labbaika wasa’daika, ya Rasulullah.” Rasul bersabda: “Ambillah wadah itu dan minumlah!” Aku pun minum, demi Allah, hinmgga kenyang. “Wahai Rasulullah, demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan benar sebagai seorang nabi, aku tidak menemukan tempat lagi untuknya (sudah kenyang).” Selanjutnya Rasul mengambil sisanya yang masih ada dalam wadah itu, kemudian membaca bissmillah dan meminumnya.
(HR Bukhari, Ahmad dan Tirmidzi)
Sesungguhnya Nabi SAW mengalami kelelahan dan kelaparan, tetapi imbalan pahala yang diharapkannya bukanlah di dunia ini karena dunia adalah kehidupan yang fana bagaikan bayangan pohon. Bahkan karunia dan kepuasan yang akan diperolehnya adalah
kelak di akhirat sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
“Dan kelak Tuhanmu pasti akan memberikan karunia Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.”
(QS Adh-Dhuhaa (93) : 5)
Ya Allah, semoga dengan karuniaMu yang besar mampu menjadikan kami, bapak-bapak kami dan kaum muslim semuanya termasuk orang-orang yang mewarisi surgamu yang indah. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada junjungan kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Amin
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Bissmillahirrahmaanirrohiim.
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhisan; dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak seperti hujan yang tanam tanamannya mengagumkan para petani., kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. “
(QS Al-Hadiid (57): 20)
Kita berpagi hari sebagai orang-orang yang bermain-main jika kita tidak berpegang pada agama. Kita berpetang hari sebagai orang-orang yang bermain-main jika kita tidak berpegang pada agama. Kita hidup dalam keadaan bermain-main jika kita tidak berpegang pada agama. Kita mati dalam keadaan bermain-main jika kita mati dalam keadaan tidak berpegang pada agama.
Kehidupan yang hakiki hanya di akhirat dan kekekalan hanya da di akhirat karena kehidupan di dunia hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan yakni hanya merupakan polesan yang terlihat mengkilap saja.
“Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada disisi Allah adalah kekal..”
(QS An-Nahl (16) : 96)
Bagaimanapun Rasulullah lapar dunia, sedang kisra raja Persia dan kaisar Romawi mati kekenyangan karena banyak makan dan banyak minum.
Bagaimana beliau tinggal di rumah yang terbuat dari tanah liat, sedang kisra dan kaisar tinggal di gedung-gedung yang berhiaskan emas, perak dan bertaburan intan permata.
Bagaimana beliau berpakaian, yang tiada yang dikenakannya selain hanya kain biasa yang tidak pernah digantinya selama masa yang cukup lama, sedang kisra dan kaisar menghiasi dirinya dengan pakaian terbuat dari sutra tebal dan sutra tipis.
Umar ra. Masuk menemui Rasul SAW di dalam kamarnya. Saat itu beliau sedang merebahkan badan dan dalam keadaan memisahkan diri dari istri-istrinya.
Umar melihar Rasul SAW berbaring diatas tikar, sedang anyaman tikar dan kain spreinya yang kasar membekas pada lambungnya. Umar melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan rumah, maka ia melihat sesuatu dari bulir gandum yang tergantung di dinding.
Melihat keadaan itu air mata Umar bercucuran, Rasulullah SAW pun bertanya kepadanya, “Mengapa kamu menangis, hai Umar?”. Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, kisra dan kaisar adalah musuh-musuh Allah sebagaimana yang telah engkau ketahui dan engkau adalah utusan Allah serta kekasih-Nya, sedang engkau dalam keadaan seperti ini.”
Rasululllah bersabda: “Apakah engkau masih ragu hai Ibnul Khaththab? Tidakkah engkau merasa puas jika bagi mereka hanya dunia ini dan bagi kita di akhirat?”
(HR Bukhari , Muslim, Ahmad dan Tirmidzi)
Tidakkah engkau puas bila mereka di dunia ini makan dengan enak, tinggal di gedung-gedung, dapat menguasai apa yang mereka inginkan., bersenang-senang dengan apa yang mereka inginkan, tetapi akhirat dan surga-surga, sungai-sungai dan gedung-gedungnya hanya bagi orang-orang yang bertaqwa.
Allah telah berfirman,
“Sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak untuk rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) untuk rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan diatasnya, dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”
(QS Az-Zukhruf (43): 33-35)
Tujuan mengemukakan hakikat-hakikat yang disebutkan oleh Allah SWT ini adalah agar manusia mengetahui hakikat yang sebenarnya dari dunia dan akhirat serta siapa saja dari mereka yang menjadi ahli surga dan siapa saja dari mereka yang menjadi ahli neraka.
Ketahuilah jika Anda mempunyai pengetahuan!
Dengarlah jika Anda mempunyai pendengaran!
Pahamilah jika Anda mempunyai pemahaman!
Imam Syafi’I mengatakan dalam bait syair gubahannya:
Singa mati di hutan belantara karena kelaparan,
Sedang daging kambing hutan,
Dimakan oleh anjing-anjing liar
Demikianlah hikmah Allah Tuhan yang Maha Pencipta. Dia tidak memberikan agama ini, kecuali kepada orang yang disukai-Nya. Adapun mengenai duniawi maka Dia memberikannya, baik kepada orang yang disukai-Nya maupun orang yang tidak disukai-Nya. Bahkan Dia memberikannya sekalipun kepada orang atheis, orang munafiq atau orang fasiq.
“Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya dunia ini di sisi Allah senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir darinya barang seteguk air pun”
(HR Tirmidzi dan Ibnu Majjah. Lihat Misykaatul Anwar no. 5177)
“Ketahuilah , bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak…” (QS Al Hadiid (57): 20)
Abu Hurairah menceritakan pengalamannya : “aku pernah mengalami lapar yang hanya Allah sajalah yang mengetahui keparahannya, sehingga demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, aku pernah pigsan di antara mimbar dan rumah Rasulullah.”
Abu Hurairah melanjutkan: “selanjutnya datanglah seorang sahabat mendekatiku, Dia mengira bahwa diriku kerasukan jin.”
“Pada suatu malam aku shalat bermakmum kepada Rasul, sedang aku dalam keadaan sangat lapar. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa rasa lapar yang dialaminya sampai pada tahap yang membuatnya tidak tahan lagi mengetahui apa yang dibaca oleh Rasulullah dalam shalatnya bersama mereka.”
“Setelah beliau selesai dari shalatnya, aku keluar untuk menghadang orang-orang dengan harapan semoga ada di antara mereka yang mau membawaku ke rumahnya, lalu memberiku makan.”
Akan tetapi apakah dia menghadang orang lain untuk mengatakan kepadanya, “Berilah aku makan!” Atau apakah dia mengatakan, “Kenyangkanlah diriku dan berilah aku minum!” “Tidak, bahkan dia menghalangi orang lain., lalu menanyakan kepada mereka makna sebagian dari ayat-ayat Al Qur’an barangkali saja mereka memahami maksudnya, lalu mau mengajaknya makan. Ia pun menghadang Abu Bakar, tetapi ternyata Abu Bakar tidak memahami maksud yang sebenarnya. Bahkan ia menjawab pertanyaannya, lalu pergi; demikian pula Umar.
Abu Hurairah melanjutkan, “Selanjutnya Rasul SAW keluar dan aku menghadangnya. Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya beliaulah yang mulai menyapaku sebelum aku memulainya. Beliau tersenyum, lalu bersabda: ‘Kemarilah bersamaku!’ Rasulullah SAW memahami bahwa sesungguhnya Abu Hurairah tidak membawa pertanyaan, melainkan membawa rasa lapar dan haus.
Abu Hurairah melanjutkan, “Beliau lalu memasukkanku kedlam rumahnya dan tiada yang terdapat di dalam rumahnya, kecuali hanya sepotong roti tanpa ada sebutir kurma pun dan juga tanpa ada anggur kering sedikitpun. Tiada suatu makanan yang lain pun di dalm rumahnya, kecuali hanya semangkuk laban (yogurt). Ketika aku melihat laban, aku berkata kepada diriku sendiri, ‘Beliau pasti akan memberiku minum sekarang dan dengan izin Allah rasa laparku nanti akan hilang.’
Rasulullah memanggil, “Hai Abu Hurairah!” Aku menjawab, “Labbaika wasa ‘daika, ya Rasulullah.” Rasulullah bersabda: “Temuilah orang-orang yang fakir miskin ahli shuffah yang ada di emper masjid itu dan undanglah mereka semua.”
“aku berkata kepada diriku sendiri: “Hanya Allah yang dimintai pertolongan. Aku lebih utama untuk mendapatkan laban ini, karena apabila ahli shuffah yang jumlahnya kurang lebih antara tujuh puluh sampai delapan puluh orang itu datang semuanya, tentulah mereka tidak akan menyisakan laban barang setetes pun, lalu apakah yang tersisa untukku? Akn tetapi perintah Rasul tetap harus aku laksanakan.”
Abu Hurairah pergi menemui ahli shuffah dan mengundang mereka, lalu mereka datang dengan bergegas-gegas hingga mereka minum dan kenyang semuanya, Abu Hurairah hanya dapat memperhtikan adengan itu dengan aras penuh kekesalan. Rasukullah bersabda, “Hai Abu Hurairah! Aku menjawab “Labbaika wasa’daika, ya Rasulullah.” Rasul bersabda: “Ambillah wadah itu dan minumlah!” Aku pun minum, demi Allah, hinmgga kenyang. “Wahai Rasulullah, demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan benar sebagai seorang nabi, aku tidak menemukan tempat lagi untuknya (sudah kenyang).” Selanjutnya Rasul mengambil sisanya yang masih ada dalam wadah itu, kemudian membaca bissmillah dan meminumnya.
(HR Bukhari, Ahmad dan Tirmidzi)
Sesungguhnya Nabi SAW mengalami kelelahan dan kelaparan, tetapi imbalan pahala yang diharapkannya bukanlah di dunia ini karena dunia adalah kehidupan yang fana bagaikan bayangan pohon. Bahkan karunia dan kepuasan yang akan diperolehnya adalah
kelak di akhirat sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
“Dan kelak Tuhanmu pasti akan memberikan karunia Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.”
(QS Adh-Dhuhaa (93) : 5)
Ya Allah, semoga dengan karuniaMu yang besar mampu menjadikan kami, bapak-bapak kami dan kaum muslim semuanya termasuk orang-orang yang mewarisi surgamu yang indah. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada junjungan kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Amin
Wassalamu’alaikum wr.wb.
semut
Ass. Wr. Wb
Ustadz yg saya hormati, saya mau tanya apa hukumnya makan :
1. Semut (mengingat sering makanan kita tercampur oleh semut)
2. Lalat
3. Jangkrik
4. Lebah
Di forum tanya jawab sudah dijelaskan ada beberapa serangga yang boleh
dibunuh & yang tidak boleh dibunuh. Tapi di situ tdk dijelaskan
kehalalannya jika dimakan. Jadi saya minta penjelasannya lagi tentang
serangga-serangga yg saya sebutkan di atas apakah halal dimakan?
Terima kasih atas jawabannya
Wass.Wr.Wb
M Syahril M - Mojokerto
Jabab:
Sdr. Sharil
Assalamualaikum war. wab
Mayoritas ulama mengatakan bahwa hewan yang dilarang membunuhnya, maka
dilarang juga mengkonsumsi atau memakannya. Seperti hadist yang
melarang
membunuh katak ditafsirkan bahwa itu juga mengindikasikan larangan
memakannya. Maka para ulama sepakat melarang makan katak.
Semut:
Dalam hadist riwayat Ibnu Abbas Rasulullah s.a.w. melarang membunuh
empat
jenis hewan melata, yaitu semut, lebah, burung hud-hud dan burung
sejenis
jalak. (h.r. Abu Dawud sahih sesuai syarat sahihain). Khatabi dan
Baghawi
menegaskan bahwa semut di sini bukan semua jenis semut, tapi semut
Sulaimaniyah, yaitu semut besar yang tidak membahayakan dan tidak
menyerang manusia. Adapun semut-semut kecil yang kadang termasuk wabah
dan
mengganggu serta menyerang manusia, maka boleh dibunuh. Imam Malik
mengatakan makruh hukumnya membunuh semut yang tidak membahayakan.
Namun
meskipun boleh membunuh semut, tapi sebaiknya mebunuh semut dengan cara
tidak membakarnya, karena ada hadist yang menegaskan bahwa yang berhak
menyiksa dengan api adalah Tuhan api. (h.r. Abu Dawud dari Ibnu
Mas’ud).
Bagaimana dengan semut yang kadang masuk di makanan kita? Dalam kitab
Tuhfatul Muhtaj, Syah Minhaj (40/403) karangan Imam Zakariya al-Anshori
dijelaskan bahwa apabila semut jatuh ke madu kemudian madu itu dimasak,
maka boleh memakan semut tadi bersama madu, tetapi kalau jatuh di
daging
yang memungkinkan memisahkan bangkai semut tadi, maka tidak boleh
memakannya dan harus dipisahkan dari daging yang dimasak. Sangat jelas,
alasan diperbolehkan makan bangkai semut bersama makanan yang tercampur
adalah karena sulit memisahkannya, sejauh bisa dipisahkan dan mungkin
untuk mengeluarkannya dari makanan, maka harus dilakukan dan tidak
boleh
memakannya. Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumuddin (1/438) juga
menegaskan bahwa apabila semut atau lalat terjatuh ke dalam periuk
makanan, maka tidak harus menumpahkan dan membuang semua makanan yang
ada
dalam periuk makanan tadi, karena yang dianggap menjijikkan adalah
fisik
bangkai semut atau lalat tadi, sejauh keduanya tidak mempunyai darah
maka
tidak najis, ini juga menunjukkan bahwa larangan makan keduanya karena
dianggap menjijikkan.
Lebah
Kebanyakan ulama mengatakan hukum lebah sama dengan semut dengan
landasan
hadist di atas, yaitu larangan membunuhnya dan larangan memakannya.
Namun
para ulama menerangkan bahwa larangan membunuh lebah karena
menghasilkan
madu yang berguna bagi manusia. Meskipun demikian ada beberapa pendapat
lemah yang mengatakan boleh memakan lebah karena disamakan dengan
belalang
dan begitu juga boleh membunuh lebah karena bisa menyengat, apalagi
lebah
yang membahayakan dan tidak memproduksi madu.
Lalat
Melihat keterangan di atas, sangat jelas bahwa lalat haram dikonsumsi
meskipun bangkainya tidak najis karena tidak mempunyai darah. Saat ini
banyak ilmu kesehatan menjelaskan bahwa lalat membawa penyakit, ini
semakin memperkuat keharaman lalat. Hadist Bukhari yang mengatakan
bahwa
apabila ada lalat jatuh di makanan kita maka benamkanlah lalu buanglah,
oleh para ulama dianggal tidak menunjukkan kehalalan lalat.
Jangkrik
Hewan jenis ini yang halal adalah belalang. Dalam satu hadist
Rasulullah
menegaskan, ada dua bangkai yang halal yaitu bangkai ikan dan bangkai
belalang. Selain belalang, maka dikembalikan kapada apakah hewan
membahayakan atau menjijikkan, bila itu membahayakan dan menjijikkan,
maka
jelas diharamkan.
Wallahu a’lam bissowab
Semoga membantu
Wassalam
Muhammad Niam
*Sumber Jawaban ini dikumpulkan menggunakan Software Maktabah Syamilah
Ustadz yg saya hormati, saya mau tanya apa hukumnya makan :
1. Semut (mengingat sering makanan kita tercampur oleh semut)
2. Lalat
3. Jangkrik
4. Lebah
Di forum tanya jawab sudah dijelaskan ada beberapa serangga yang boleh
dibunuh & yang tidak boleh dibunuh. Tapi di situ tdk dijelaskan
kehalalannya jika dimakan. Jadi saya minta penjelasannya lagi tentang
serangga-serangga yg saya sebutkan di atas apakah halal dimakan?
Terima kasih atas jawabannya
Wass.Wr.Wb
M Syahril M - Mojokerto
Jabab:
Sdr. Sharil
Assalamualaikum war. wab
Mayoritas ulama mengatakan bahwa hewan yang dilarang membunuhnya, maka
dilarang juga mengkonsumsi atau memakannya. Seperti hadist yang
melarang
membunuh katak ditafsirkan bahwa itu juga mengindikasikan larangan
memakannya. Maka para ulama sepakat melarang makan katak.
Semut:
Dalam hadist riwayat Ibnu Abbas Rasulullah s.a.w. melarang membunuh
empat
jenis hewan melata, yaitu semut, lebah, burung hud-hud dan burung
sejenis
jalak. (h.r. Abu Dawud sahih sesuai syarat sahihain). Khatabi dan
Baghawi
menegaskan bahwa semut di sini bukan semua jenis semut, tapi semut
Sulaimaniyah, yaitu semut besar yang tidak membahayakan dan tidak
menyerang manusia. Adapun semut-semut kecil yang kadang termasuk wabah
dan
mengganggu serta menyerang manusia, maka boleh dibunuh. Imam Malik
mengatakan makruh hukumnya membunuh semut yang tidak membahayakan.
Namun
meskipun boleh membunuh semut, tapi sebaiknya mebunuh semut dengan cara
tidak membakarnya, karena ada hadist yang menegaskan bahwa yang berhak
menyiksa dengan api adalah Tuhan api. (h.r. Abu Dawud dari Ibnu
Mas’ud).
Bagaimana dengan semut yang kadang masuk di makanan kita? Dalam kitab
Tuhfatul Muhtaj, Syah Minhaj (40/403) karangan Imam Zakariya al-Anshori
dijelaskan bahwa apabila semut jatuh ke madu kemudian madu itu dimasak,
maka boleh memakan semut tadi bersama madu, tetapi kalau jatuh di
daging
yang memungkinkan memisahkan bangkai semut tadi, maka tidak boleh
memakannya dan harus dipisahkan dari daging yang dimasak. Sangat jelas,
alasan diperbolehkan makan bangkai semut bersama makanan yang tercampur
adalah karena sulit memisahkannya, sejauh bisa dipisahkan dan mungkin
untuk mengeluarkannya dari makanan, maka harus dilakukan dan tidak
boleh
memakannya. Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumuddin (1/438) juga
menegaskan bahwa apabila semut atau lalat terjatuh ke dalam periuk
makanan, maka tidak harus menumpahkan dan membuang semua makanan yang
ada
dalam periuk makanan tadi, karena yang dianggap menjijikkan adalah
fisik
bangkai semut atau lalat tadi, sejauh keduanya tidak mempunyai darah
maka
tidak najis, ini juga menunjukkan bahwa larangan makan keduanya karena
dianggap menjijikkan.
Lebah
Kebanyakan ulama mengatakan hukum lebah sama dengan semut dengan
landasan
hadist di atas, yaitu larangan membunuhnya dan larangan memakannya.
Namun
para ulama menerangkan bahwa larangan membunuh lebah karena
menghasilkan
madu yang berguna bagi manusia. Meskipun demikian ada beberapa pendapat
lemah yang mengatakan boleh memakan lebah karena disamakan dengan
belalang
dan begitu juga boleh membunuh lebah karena bisa menyengat, apalagi
lebah
yang membahayakan dan tidak memproduksi madu.
Lalat
Melihat keterangan di atas, sangat jelas bahwa lalat haram dikonsumsi
meskipun bangkainya tidak najis karena tidak mempunyai darah. Saat ini
banyak ilmu kesehatan menjelaskan bahwa lalat membawa penyakit, ini
semakin memperkuat keharaman lalat. Hadist Bukhari yang mengatakan
bahwa
apabila ada lalat jatuh di makanan kita maka benamkanlah lalu buanglah,
oleh para ulama dianggal tidak menunjukkan kehalalan lalat.
Jangkrik
Hewan jenis ini yang halal adalah belalang. Dalam satu hadist
Rasulullah
menegaskan, ada dua bangkai yang halal yaitu bangkai ikan dan bangkai
belalang. Selain belalang, maka dikembalikan kapada apakah hewan
membahayakan atau menjijikkan, bila itu membahayakan dan menjijikkan,
maka
jelas diharamkan.
Wallahu a’lam bissowab
Semoga membantu
Wassalam
Muhammad Niam
*Sumber Jawaban ini dikumpulkan menggunakan Software Maktabah Syamilah
KEUTAMAAN HARI JUM'AT
KEUTAMAAN HARI JUM'AT
Segala puji bagi Allah Rab semesta alam, shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah , beserta para keluarga, sahabat, dan orang-orang yang tetap istiqomah menegakkan risalah yang dibawanya hingga akhir zaman..
Wahai kaum muslimin ….Allah l telah menganugerahkan bermacam-macam keistimewaan dan keutamaan kepada umat ini. Diantara keistimewaan itu adalah hari Jum'at, setelah kaum Yahudi dan Nasrani dipalingkan darinya.
Abu Hurairah zmeriwayatkan, Rasulullah bersabda:
"Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jum'at sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jum'at sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jum'at, Sabtu dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk". (HR. Muslim)
Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: "Hari ini dinamakan Jum'at, karena artinya merupakan turunan dari kata al-jam'u yang berarti perkumpulan, karena umat Islam berkumpul pada hari itu setiap pekan di balai-balai pertemuan yang luas. Allah l memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin berkumpul untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya. Allah l berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui". (QS. 62:9)
Maksudnya, pergilah untuk melaksanakan shalat Jum'at dengan penuh ketenangan, konsentrasi dan sepenuh hasrat, bukan berjalan dengan cepat-cepat, karena berjalan dengan cepat untuk shalat itu dilarang. Al-Hasan Al-Bashri berkata: Demi Allah, sungguh maksudnya bukanlah berjalan kaki dengan cepat, karena hal itu jelas terlarang. Tapi yang diperintahkan adalah berjalan dengan penuh kekhusyukan dan sepenuh hasrat dalam hati. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir : 4/385-386).
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: Hari Jum'at adalah hari ibadah. Hari ini dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan, laksana bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Waktu mustajab pada hari Jum'at seperti waktu mustajab pada malam lailatul qodar di bulan Ramadhan. (Zadul Ma'ad: 1/398).
KEUTAMAAN HARI JUM'AT
1. Hari Terbaik
Abu Hurairah z meriwayatkan bahwa Rasulullah y bersabada:
"Hari terbaik dimana pada hari itu matahari terbit adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan surga serta dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada
2. Terdapat Waktu Mustajab untuk Berdo'a.
Abu Hurairah z berkata Rasulullah y bersabda:
" Sesungguhnya pada hari Jum'at terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasululllah y mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu (H. Muttafaqun Alaih)
Ibnu Qayyim Al Jauziah - setelah menjabarkan perbedaan pendapat tentang kapan waktu itu - mengatakan: "Diantara sekian banyak pendapat ada dua yang paling kuat, sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadits yang sahih, pertama saat duduknya khatib sampai selesainya shalat. Kedua, sesudah Ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua pendapat tadi (Zadul Ma'ad Jilid I/389-390).
3. Sedekah pada hari itu lebih utama dibanding sedekah pada hari-hari lainnya.
Ibnu Qayyim berkata: "Sedekah pada hari itu dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya laksana sedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya". Hadits dari Ka'ab z menjelaskan:
"Dan sedekah pada hari itu lebih mulia dibanding hari-hari selainnya".(Mauquf Shahih)
4. Hari tatkala Allah l menampakkan diri kepada hamba-Nya yang beriman di Surga.
Sahabat Anas bin Malik z dalam mengomentari ayat: "Dan Kami memiliki pertambahannya" (QS.50 :35) mengatakan: "Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jum'at".
5. Hari besar yang berulang setiap pekan.
Ibnu Abbas z berkata : Rasulullah y bersabda:
"Hari ini adalah hari besar yang Allah tetapkan bagi ummat Islam, maka siapa yang hendak menghadiri shalat Jum'at hendaklah mandi terlebih dahulu ……". (HR. Ibnu Majah)
6. Hari dihapuskannya dosa-dosa
Salman Al Farisi z berkata : Rasulullah y bersabda:
"Siapa yang mandi pada hari Jum'at, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi diantara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum'at". (HR. Bukhari).
7. Orang yang berjalan untuk shalat Jum'at akan mendapat pahala untuk tiap langkahnya, setara dengan pahala ibadah satu tahun shalat dan puasa.
Aus bin Aus z berkata: Rasulullah y bersabda:
"Siapa yang mandi pada hari Jum'at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah".
(HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah).
8. Wafat pada malam hari Jum'at atau siangnya adalah tanda husnul khatimah, yaitu dibebaskan dari fitnah (azab) kubur.
Diriwayatkan oleh Ibnu Amru , bahwa Rasulullah y bersabda:
"Setiap muslim yang mati pada siang hari Jum'at atau malamnya, niscaya Allah akan menyelamatkannya dari fitnah kubur". (HR. Ahmad dan Tirmizi, dinilai shahih oleh Al-Bani) .
Subscribe to:
Comments (Atom)